• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Skenario Konservatif-Pesimistik

Peningkatan status keberlanjutan wilayah berbasis industri di pesisir Kabupaten Lampung Selatan dapat dilakukan melalui perbaikan atribut-atribut sensitif pada tiap-tiap dimensi keberlanjutan. Pada skenario konservatif- pesimistik, perbaikan atribut sensitif sebagai faktor kunci dilakukan melalui perbaikan satu atribut sensitif pada setiap dimensi dengan memilih atribut yang paling prioritas berdasarkan pada hasil AHP. Faktor-faktor kunci yang diperbaiki pada skenario ini adalah (1) ketersediaan bahan baku, (2) tingkat kemiskinan, (3) aksesibilitas, dan (4) biaya informal. Perbaikan dilakukan dengan melakukan perubahan nilai skor pada keempat atribut tersebut, dimana setiap satu atribut mewakili satu dimensi keberlanjutan. Perbaikan yang dilakukan pada empat atribut tersebut merubah ordinasi hasil analis MDS Rap-Wilindustri pada tiap-tiap dimensi keberlanjutan. Perubahan nilai indeks keberlanjutan pada keempat dimensi setelah dilakukan perbaikan melalui skenario konservatif-optimistik dapat dilihat pada Lampiran 9.

Tabel 19 Keadaan masing-masing atribut sensitif dalam pengembangan wilayah berbasis industri

No. Faktor Keadaan (State)

A B C

1 Ketersediaan bahan baku Sebagian bahan baku berasal dari luar daerah

Mengupayakan agar bahan baku dapat dipenuhi dari dalam daerah

2 Modal Usaha Sebagian besar industri saat ini menggunakan modal sendiri

Bantuan modal melalui subsidi pemerintah

Penambahan modal usaha melalui kerjasama dengan lembaga keuangan 3 Permintaan pasar Tetap seperti saat ini (permintaan

pasar cukup tinggi)

Permintaan pasar lebih tinggi 4 Kebutuhan lahan Tetap seperti saat ini Menetapkan beberapa daerah menjadi lokasi kluster-kluster industri

Menetapkan lokasi

peruntukkan industri sebagai kawasan industri

5 Tingkat kemiskinan Tetap seperti saat ini (cenderung masih agak tinggi)

Tingkat kemiskinan menjadi lebih berkurang

6 CSR Tetap seperti saat ini (sudah ada

tetapi belum terlalu efektif dan tepat sasaran)

Menghimbau industri skala menengah dan besar untuk mengalokasikan dana CSR

Pengelolaan dana CSR yang lebih terkoordinasi, melalui pembentukan lembaga/badan dan adanya regulasi sebagai dasar yang mengatur pengelolaan dana CSR 7 Kesenjangan sosial Tetap seperti saat ini (gap

kesenjangan sosial antar

masyarakat yang bekerja dan yang menganggur agak lebar)

Gap kesenjangan sosial antara masyarakat yang bekerja dan menganggur semakin diperkecil

61

Tabel 19 (Lanjutan)

8 Jarak tempuh ke lokasi industri Tetap seperti saat ini (sebagian pekerja berasal dari luar daerah, sehingga jarak tempuh antara 15- 50 km

Mengupayakan perekrutan pekerja dari dalam daerah sehingga jarak tempuh ke lokasi industri lebih dekat 9 Aksesibilitas Tetap seperti saat ini

(sudah cukup baik dan mudah)

Peningkatan aksesibilitas dengan penambahan sarana dan prasarana

10 Penggunaan bahan kimia Tetap seperti saat ini (sebagian industri menggunakan dengan kadar dan jenis yang berbeda)

Meminimalisir penggunaan bahan kimia pada proses produksi

11 Pengelolaan limbah Tetap seperti ini

Industri pengolahan sudah melakukan pengelolaan limbah, tetapi industri yang berbasis perikanan sebagian besar belum melakukan pengelolaan limbah

Melakukan pengelolaan limbah sederhana pada industri yang berbasis perikanan (hatchery dan tambak) sehingga limbah yang dihasilkan tidak mencemari perairan umum (sungai/pantai)

Melakukan pengelolaan limbah secara terpadu

12 Teknologi yang digunakan Industri besar telah menggunakan teknologi yang baik, namun kurang ramah lingkungan, industri kecil belum menggunakan teknologi

Melakukan inovasi teknologi yang lebih baik dan ramah lingkungan

13 Greenbelt/RTH Sebagian besar industri belum

memiliki greenbelt/RTH disekitar lokasi industri

Menghimbau industri untuk memiliki greenbelt/RTH disekitar lokasi industri

Menghimbau industri untuk memiliki greenbelt/RTH minimal 5% dari luas lahan

Tabel 19 (Lanjutan)

14 Kerjasama dengan lembaga keuangan Tetap seperti saat ini

(hanya sebagian kecil industri yang bekerja sama dengan lembaga keuangan berupa kredit modal usaha)

Mempermudah pemberian kredit modal usaha untuk mendukung pertumbuhan sektor industri

15 Pengawasan Tetap seperti saat ini

(dilakukan oleh dinas-dinas yang terkait tanpa koordinasi dan kurang menyeluruh, pengawasan hanya fokus pada industri menengah- besar)

Pengawasan dilakukan lebih intens dan menyeluruh skala industri baik kecil, menengah dan besar

Kegiatan pengawasan

dilakukan secara terkoordinasi dengan beberapa dinas/instansi terkait sehingga seluruh kegiatan industri dapat diawasi dengan lebih baik

16 Biaya informal Ada, biaya informal dari sisi sosial dan sisi birokrasi

Menekan biaya informal dari segi sosial

Menerapkan good governance

dalam pelayanan pemerintahan 17 Kelengkapan perizinan Industri menengah dan besar telah

memiliki izin yang lengkap.industri kecil sebagian besar tidak memiliki izin

Mempermudah prosedur pengurusan perizinan dengan menyederhanakan birokrasi

a. Dimensi Ekonomi

Pada keadaan eksisting ordinasi dimensi ekonomi Rap-Wilindustri berada pada status cukup berkelanjutan, posisi ordinasi berada ditengah-tengah titik bad dan good dengan kisaran nilai indeks berada pada 50-75%. Setelah dilakukan perbaikan skor pada atribut ketersediaan bahan baku terjadi pergeseran ordinasi menjadi lebih baik kearah titik good, dan ordinasi dimensi ekonomi pada skenario konservatif-pesimistik terlihat lebih terpusat dibandingkan dengan ordinasi dimensi ekonomi pada keadaan eksisting yang lebih tersebar. Ordinasi dimensi ekonomi masih berada pada skenario konservatif-pesimistik berada pada kisaran 50-76%, upaya perbaikan yang telah dilakukan meningkatkan nilai indeks keberlanjutan pada beberapa unit analisis. Perubahan ordinasi dimensi ekonomi pada keadaan eksisting dan setelah dilakukan upaya perbaikan disajikan pada Gambar 18 dan 19.

Saat ini sebagian bahan baku industri yang berada di pesisir Kabupaten Lampung Selatan masih berasal dari luar daerah. Demikian pula industri hatchery yang berada di Kecamatan Kalianda dan Rajabasa sebagian bahan baku yaitu berupa indukan vanname didatangakan dari Amerika. Skenario koservatif- optimistik memperlihatkan prospek keadaan dimasa yang akan datang apabila sebagian besar bahan baku tersedia di dalam daerah maka status keberlanjuta dimensi ekonomi untuk pengembangan wilayah berbasis industri bisa menjadi lebih baik. Upaya yang harus dilakukan untuk menuju skenario ini antara lain dengan cara meningkatkan produktivitas dari komoditas yang digunakan sebagai bahan baku industri, menambah luasan komoditas (sawit dan kelapa) dan meningkatkan mutu indukan udang vanname lokal.

Gambar 19 memperlihatkan peningkatan nilai ordinasi yang terjadi dari setiap unit analisis. Ordinasi E merupakan ordinasi industri pengolahan biji sawit merupakan indeks tertinggi industri di Kecamatan Katibung yaitu sebesar 76%. Pada Kecamatan Kalianda, indeks keberlanjutan tertinggi ditunjukkan dengan titik G dengan nilai 80%, yang menggambarkan ordinasi dari hatchery skala besar. Untuk industri hatchery di Kecamatan Rajabasa terbilang cukup stabil, yang ditunjukkan oleh titik P dengan nilai sebesar 60% .

Gambar 18 Ordinasi dimensi ekonomi pada keadaan eksisting

GOOD BAD UP DOWN -60 -40 -20 0 20 40 60 0 25 50 75 100 O th er D ist in g ish in g Fe a tu res Wilindustri Sustainability RAP-Wilindustri Ordination A B C D E G H I J K L M O P

Gambar 19 Ordinasi dimensi ekonomi pada skenario konservatif-pesimistik

a. Dimensi Sosial

Atribut yang diprioritaskan untuk diperbaiki pada dimensi ini adalah atribut tingkat kemiskinan, upaya perbaikan pada atribut ini adalah dengan memberikan bantuan-bantuan kepada masyarakat melalui program-program pemerintah, selain itu diperlukan perubahan mind set dari masyarakat agar memiliki pola pikir yang lebih maju. Banyaknya program-program pemerintah sebagai usaha untuk mengentaskan kemiskinan tetapi bila tidak didukung oleh masyarakat itu sendiri maka akan menjadi sia-sia belaka. Dibutuhkan program-program yang bersifat kontinu dalam upaya perbaikan tingkat kemiskinan, tentunya program ini membutuhkan waktu yang lama, dan anggaran dana yang tidak sedikit. Untuk program-program yang mendukung perubahan tingkat kemiskinan secara lebih cepat yaitu dengan pemberian dana pinjaman, Simpan Pinjam Perempuan (SPP). Program ini memberikan bantuan permodalan bagi para wanita untuk dapat mengusahan kegiatan perekonomian, misalnya dengan membuka warung-warung makanan/toko. Sayangnya program ini dibeberapa daerah kurang tepat sasaran, diperlukan manajemen pengelolaan yang baik agar program ini dapat berjalan dengan baik dan berkelanjutan.

Perubahan ordinasi pada dimensi sosial setelah dilakukan perbaikan dengan cara merubah skoring pada atribut tingkat kemiskinan melalui skenario konservatif-pesimistik dapat dilihat pada Gambar 21. Pada keadaan eksisting (Gambar 20) ordinasi dimensi sosial berada pada status cukup berlanjut, dengan nilai indeks berada pada kisaran 50-72%, setelah dilakukan upaya perbaikan terjadi peningkatan nilai indeks dari kisaran 53-74%, namun status keberlanjutan tidak mengalami perubahan. Secara keseluruhan ordinasi dimensi sosial pada keadaan eksisting dan skenario konservatif-optimistik tidak terlalu banyak mengalami perubahan. GOOD BAD UP DOWN -60 -40 -20 0 20 40 60 0 25 50 75 100 Oth er Distin g ish in g Fea tu re s Wilindustri Sustainability RAP-Wilindustri Ordination A B C D E G H I J K L M N O P

Pada skenario ini, nilai indeks tertinggi untuk Kecamatan Katibung digambarkan oleh ordinasi B sebesar 58%, merupakan ordinasi yang menunjukkan industri yang bergerak pada bidang manufaktur pembuatan mesin- mesin untuk perkebunan sawit. Untuk Kecamatan Kalianda, nilai indeks terbesar pada skenario konservatif-pesimistik yaitu ditunjukkan oleh titik L dengan nilai 64% yang menggambarkan industri pengolahan sabut, sedangkan pada Kecamatan Rajabasa ordinasi tertinggi ditunjukkan oleh titik Q, dengan nilai indeks 74% yaitu hatchery skala kecil.

Gambar 20 Ordinasi dimensi sosial pada keadaan eksisting

Gambar 21 Ordinasi dimensi sosial pada skenario konservatif-pesimistik

GOOD BAD UP DOWN -60 -40 -20 0 20 40 60 0 25 50 75 100 Ot h er Di st in g ishi n g F ea tu re s Wilindustri Sustainability RAP-Wilindustri Ordination A C B D EF G H I J K L O P Q GOOD BAD UP DOWN -60 -40 -20 0 20 40 60 0 25 50 75 100 O th er D ist in g ish in g Fe a tu res Wilindustri Sustainability RAP-Wilindustri Ordination Q P L B

b. Dimensi Ekologi

Perubahan ordinasi hasil analis MDS setelah dilakukan perbaikan atribut aksesibilitas pada dimensi ekologi disajikan pada Gambar 23. Peningkatan nilai indeks pada dimensi ekologi terjadi pada sebagian besar unit analisis, khususnya pada industri kecil-menengah, sebelumnya aksesibilitas sudah baik tetapi hanya dilakukan melalui jalur darat, bila kemudahan aksesibilas di tingkatkan ternyata berpengaruh terhadap peningkatan nilai indeks keberlanjutan. Perubahan nilai indeks keberlanjutan dimensi ekologi setelah perbaikan dapat dilihat pada Lampiran 9.

Ordinasi hasil analisis MDS Rap-Wilindustri sebelum dilakukan perbaikan (Gambar 22) atribut aksesibilitas dan setelah dilakukan perbaikan tetap berada diantara posisi bad dan good, namun sebagian besar cenderung berada pada area bad dengan nilai indeks kurang dri 50%. Ordinasi yang cenderung pada posisi bad merupakan nilai indeks untuk industri berbasis perikanan dengan skala kecil, dan industri skala besar yang tidak menggunakan bahan kimia. Setelah dilakukan perbaikan atribut aksesibilitas terjadi pergeseran ordinasi yang semula cenderung pada daerah bad sudah mulai bergeser kearah tengah menuju titik good, walaupun status indeks keberlanjutan masih berada pada status kurang berlanjut. Beberapa industri dengan skala menengah-besar setelah dilakukan perbaikan pada atribut aksesibilitas, terlihat bahwa terjadi pergeseran ordinasi menuju titik good yaitu pada industri serabut dan hatchery skala besar yang berada di Kecamatan Kalianda. Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa perbaikan melalui skenario konservatif-pesimistik secara keseluruhan menaikkan nilai indeks keberlanjutan namun tidak terlalu merubah status keberlanjutan dimensi ekologi, secara umum tetap pada kategori kurang berkelanjutan.

Penerapan skenario konservatif-pesimistik pada industri-industri yang berada di Kecamatan Katibung dengan cara memperbaiki atribut aksesibilitas memberikan dampak positif terhadap kenaikan nilai indeks keberlanjutan. Titik ordinasi A-F merupakan titik-titik yang menggambarkan industri-industri yang berada di Kecamatan Katibung, dengan nilai indeks tertinggi ditunjukkan oleh titik D yaitu sebesar 59%, walaupun masih termasuk dalam katagori kurang berlanjut merupakan ordinasi yang menggambarkan industri yang bergerak pada bidang jasa pembuatan dermaga.

Pada Kecamatan Kalianda ordinasi ditunjukkan oleh titik G-N, dengan nilai indeks tertinggi digambarkan oleh titik L, merupakan ordinasi yang menunjukkan industri pengolahan sabut kelapa. Industri pengolahan sabut kelapa merupakan industri dengan status PMA dengan tujuan ekspor ke Tiongkok. Semakin mudah aksesibilitas maka akan memberikan keuntungan pada industri ini, karena akan memakin memeperlancar proses distribusi.

Ordinasi indeks keberlanjutan pada Kecamatan Rajabasa ditunjukkan oleh titik O-Q, dimana pada Kecamatan Rajabasa nilai ordinasi tidak terlalu terpaut jauh. Titik P merupakan nilai ordinasi tertinggi pada Kecamatan Rabasa yaitu sebesar 45% masih dalam katagori kurang berkelanjutan.

Gambar 22 Ordinasi dimensi ekologi pada keadaan eksisting

Gambar 23 Ordinasi dimensi ekologi pada skenario konservatif-pesimistik c. Dimensi Kelembagaan

Pada dimensi kelembagaan atribut yang diprioritaskan untuk pertama kali diperbaiki berdasarkan hasil AHP melalui skenario konservatif-pesimistik adalah atribut biaya informal. Perbedaan ordinasi sebelum dan setelah dilakukan perbaikan melalui skenario konservatif-pesimistik disajikan pada Gambar 24 dan 25. Setelah dilakukan perbaikan skoring atribut biaya informal, seluruh unit analisis mengalami peningkatan nilai indeks. Perubahan nilai indeks keberlanjutan setelah dilakukan perbaikan (skenario konsevatif-pesimistik) dapat dilihat pada Lampiran 9.

Ordinasi hasil MSD Rap-Wilindustri pada dimensi kelembagaan terbilang sangat tersebar. Pada kondisi eksisting telihat bahwa ordinasi tersebar menjadi dua, yaitu : (1) ordinasi dengan indeks yang berada dibawah nilai 50% dengan status kurang berkelanjutan merupakan indeks yang dimiliki oleh industri kecil,

GOOD BAD UP DOWN -60 -40 -20 0 20 40 60 0 25 50 75 100 O th er D ist in g ish in g Fe a tu res Wilindustri Sustainability RAP-Wilindusrti Ordination A B C D E F G H I J L M N O P Q GOOD BAD UP DOWN -60 -40 -20 0 20 40 60 0 25 50 75 100 O th er D ist in g ish in g Fe a tu res Wilindustri Sustainability RAP-Wilindustri Ordination A B C D E F G H I J L M N O P Q

dan (2) ordinasi diatas nilai 75% merupakan indeks yang dimiliki oleh industri dengan skala menengah-besar.

Setelah dilakukan perbaikan atribut biaya informal dapat dilihat bahwa indeks keberlanjutan dimensi kelembagaan untuk industri kecil mengalami perubahan. Dapat dilihat pada Gambar 26, beberapa ordinasi bergeser kekanan dan untuk industri skala besar ordinasi terlihat lebih terpusat. Perbaikan faktor kunci melalui skenario konservatif-pesimistik dapat meningkatnya nilai indeks d merubah ordinasi pada seluruh unit analisis, tetapi tidak merubah status keberlajutan secara keseluruhan.

Pada dimensi kelembagaan, perbaikan melalui skenario konservatif- pesimistik, nilai indeks tertinggi untuk unit analisis yang berada di Kecamatan Katibung ditunjukkan dengan titik E sebesar 83% merupakan ordinasi dari industri pengelolaan biji sawit skala besar. Titik L merupakan ordinasi tertinggi untuk unit analisis yang berada di Kecamatan Kalianda yaitu industri pengolahan sabut kelapa skala sedang dengan nilai indeks sebesar 82%, sedangkan untuk unit analisis yang berada di Kecamatan Rajabasa nilai indeks tertinggi yaitu sebesar 58% merupakan hatchery skala kecil namun dengan teknologi maju.

Bila dilihat secara keseluruhan perbaikan atribut melalui skenario konservatif-pesimistik nilai indeks tertinggi untuk dimensi ekonomi yaitu sebesar 80% merupakan nilai indeks untuk hatchery skala besar yang berada di Kecamatan Kalianda. Hatchery skala kecil di Kecamatan Rajabasa memiliki nilai indeks tertinggi yaitu sebesar 74% untuk dimensi sosial. Nilai indeks sebesar 70% merupakan nilai indeks tertinggi untuk dimensi ekologi yang menggambarkan keberlanjutan industri pengolahan sabut di Kecamatan Katibung. Industri pengolahan sawit skala besar yang berada di Kecamatan Katibung merupakan industri yang berkelanjutan dalam dimensi kelembagaan dengan nilai 83,8%

Dari beberapa penjelasan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa perbaikan melalui skenario konservatif-pesimistik yang dilakukan dengan memperbaiki satu atribut sensitif prioritas pada setiap dimensi keberlanjutan (ekonomi, sosial, ekologi dan kelembagaan) dapat meningkatkan nilai indeks keberlanjutan pada setiap dimensi, namun secara keseluruhan tidak merubah status keberlanjutan dari setiap dimensi keberlanjutan. Besarnya nilai R2 dan stress sebagai ukuran tingkat keakuratan model pada skenario konservatif-pesimistik dapat dilihat pada Lampiran 10, dan scatter plot yang memperlihatkan adatidaknya gangguan hasil analisis monte carlo disajikan pada Lampiran 11.

Gambar 24 Ordinasi dimensi kelembagaan pada keadaan eksisting

Gambar 25 Ordinasi dimensi kelembagaan skenario konservatif-pesimistik

Dokumen terkait