Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2019. Penelitian ini dilakukan di sekitar Kawasan Hutan Lindung Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri (HPHTI) PT. Toba Pulp Lestari sektor Aeknauli Kecamatan Dolok Panribuan dan Pematang Sidamanik Kabupaten Simalungun.
Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kamera digital, alat tulis dan laptop. Bahan yang digunaan adalah kuisioner untuk mengumpulkan data primer maupun data sekunder berupa laporan penelitian yang terdahulu dan pustaka penunjang untuk melengkapi pengamatan langsung dilapangan.
Kondisis Umum Dan Letak Geografis PT. Toba Pulp Lestari
Jenis HHBK (Hasil Hutan Bukan Kayu) yang ada di Kawasan lindung PT. Toba Pulp Lestari yaitu kemenyan, aren, mobe, kayu manis, andaliman, antarasa, bambu, rotan, pandan dan salak hutan. Luas areal konsesi PT Toba Pulp Lestari adalah 185.016 ha dengan kawasan lindung seluas 45.590 ha atau 24% dari total luas areal konsesi. Areal konsesi PT. Toba Pulp Lestari Tbk terdiri dari 6 sektor yang masing-masing sektor berada pada wilayah geografis yang terpisah, yaitu:
11
1. Sektor Tele berada pada Kabupaten Samosir yang meliputi Kecamatan Harian Boho, Sumbul, Parbuluan, Kerajaan, Sidikalang dan Salak pada 2° 15’ 00” - 2°
50’ 00” LU dan 98° 20’ 00” BT - 98° 50’ 00” BT.
2. Sektor Padang Sidempuan berada pada Kabupaten Tapanuli Selatan yang meliputi Kecamatan Padang Bolak, Sosopan, Padang Sidempuan, dan Sipirok pada 1° 15’ 00” LU - 1° 50’ 00” LU dan 99° 13’ 00” BT - 99° 33’00” BT.
3. Sektor Aek Nauli berada pada Kabupaten Simalungun yang meliputi Kecamatan Dolok Panribuan, Tanah Jawa, Sidamanik dan Jorlang pada 2° 40’ 00” LU - 2°
50’ 00” LU dan 98° 50’ 00” BT - 99° 10’ 00” BT.
4. Sektor Habinsaran berada di Kabupaten Toba Samosir yang meliputi kecamatan Siborong-borong, Sipahutar, Habinsaran, Silaen dan Laguboti pada 2° 7’ 00” LU - 2° 2’ 00” dan 99° 05’ 00” BT - 99° 18’ 00” BT.
5. Sektor Tarutung berada di Kabupaten Tapanuli Utara yang meliputi Kecamatan Dolok Sanggul, Sipaholon, Onan Gajang, Parmonangan, Adian Koting, Gaya Baru, Tarutung, Lintong Nihuta dan Sorkam pada 1° 54’ 00” LU - 2° 15’ 00”
LU dan 98° 42’ 00” - 98° 58’ 00” BT.
6. Sektor Sarulia berada di Kabupaten Tapanuli Utara yang meliputi Kecamatan Pahae Julu, Pahae Jae, Lumut, Batang Toru pada 1° 30’ 00” LU - 1° 55’ 00” LU dan 98° 20’ 00” BT - 99° 10’ 00” BT (Wijaya, 2008)
Prosedur Penelitian Persiapan
Kegiatan yang dilakukan dalam tahapan ini mencakup:
Survei Lapangan
Kegiatan ini merupakan kegiatan pengumpulan data yang dilakukan dengan cara pengamatan langsung di lapangan melalui wawancara dengan penjual bambu, pengumpul dan masyarakat sehingga diperoleh gambaran keadaan lapangan dan kegiatan masyarakat di tempat pelaksanaan kegiatan.
Penentuan Lokasi
Sebelum menentukan lokasi penelitian, terlebih dahulu dilakukan survei lokasi dan selanjutnya dipilih lokasi penelitian. Dasar pemilihan lokasi yang dijadikan sampel adalah daerah petani bambu.
12
Penentuan Sampel Responden
Adapun penelitian ini menggunakan rumus Slovin, pengumpulan data primer berupa data yang diperoleh melalui wawancara dengan responden yang terpilih mewakili masyarakat desa. Wawancara dilakukan secara terstruktur, jumlah sampel responden yang diambil yaitu sebanyak 52 orang dengan menggunakan rumus dari Slovin (Riduwan dan Kuncoro, 2007).
n = 𝑁
𝑁.d2+1 Keterangan:
n = jumlah sampel
N = jumlah individu yang memanfaatkan bambu
d2 = presisi (ditetapkan 5% dengan tingkat kepercayaan 95%)
Sedangkan pengambilan sampel responden kunci untuk indikator SWOT menggunakan metode Purposive Sampling yaitu Sampling yang dilakukan berdasarkan keputusan peneliti, yang menurut pendapat responden dapat mewakili populasi (Budijanto dan Pusdati, 2015). Tujuan dari metode purposive sampling yaitu untuk mendapatkan informasi mengenai alur pemasaran dan harga jual bambu di beberapa tingkatan penjualan, Sedangkan penentuan responden kunci di atas dikarenakan responden tersebut dianggap sangat paham mengenai lingkungan internal dan eksternal Petani bambu.
Pengumpulan Data
Teknik dan Tahapan Pengambilan data dilakukan dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut:
a. Melakukan observasi dan analisis perkembangan pengolahan produk tanaman Bambu yang ada di lapangan untuk memperoleh informasi mengenai proses pengelolaan dan perkembangannya
b. Identifikasi tanaman bambu yang dimiliki masyarakat di wilayah studi.
Keseluruhan data, baik primer maupun sekunder selanjutnya diolah dan ditabulasikan sesuai dengan kebutuhan setelah dilakukan pengolahan dan analisis data
13
c. Wawancara dan diskusi dengan menggunakan kuesioner kepada para pelaku (aktor utama) yang mewakili dan para pihak pemangku kepentingan dalam pengelolaan tanaman bambu terhadap pendapatan masyarakat
Analisis Data
a. Analisis Perkembangan Pengolahan Tanaman Bambu
Data yang dikumpulkan ialah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari observasi dengan narasumber yang terlibat langsung serta pengamatan di lapangan. Data sekunder diperoleh dari studi pustaka. Analisis data yang digunakan ialah analisis deskriptif. Analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui perkembangan pengolahan produk tanaman bambu secara ekologis, ekonomi, sosial budaya.
b. Farmer Share
Untuk mengetahui bagian harga yang diterima petani (farmer’s share) menggunakan rumus : (Handayani, 2011).
FS= 𝑝𝑓
𝑝𝑟 𝑥 100%
Keterangan :
FS : bagian harga yang diterima produsen (Farmer’s Share) Pf : harga di tingkat petani (Rp/Batang)
Pr : harga di tingkat lembaga pemasaran (Rp/Batang) c. Marjin Pemasaran
Marjin pemasaran adalah selisih harga tingkat produsen dan tingkat konsumen akhir (Handayani, 2011).
M = Pr – Pf Keterangan :
Pr : Harga di tingkat konsumen Pf : Harga di tingkat produsen
14
d. Analisis Swot
Analisis swot adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strength) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman (threats).
Proses pengambilan keputuan strategi selalu berkaitan dengan misi, tujuan, strategi, dan kebijakan perusahaan. Dengan demikian perencanaan strategi (strategic planner) harus menganalisis faktor – faktor strategi perusahaan(kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini (Rangkuti, 1997)
Proses yang harus dilakukan dalam pembuatan analisis SWOT agar keputusan yang diperoleh lebih tepat perlu melalui berbagai tahapan sebagai berikut:
1. Tahap pengambilan data yaitu evaluasi faktor eksternal dan internal.
2. Tahap analisis yaitu pembuatan matrik internal, eksternal, dan matrik SWOT.
3. Tahap pengambilan keputusan.
Tahap pengambilan data ini digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman bagi perusahaan dapat dilakukan dengan wawancara terhadap ahli perusahaan yang bersangkutan. Setelah mengetahui berbagai faktor dalam perusahaan maka tahap selanjutnya adalah membuat matrik internal eksternal. Matrik faktor strategi internal dan eksternal disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Matrik Faktor Strategi Internal dan Eksternal
Faktor Strategi Internal Rating Bobot Skor
(Rating x Bobot) Kekuatan/Kelemahan
1.
2.
3.
Total Skor Kekuatan/kelemahan 1
Faktor Strategi Eksternal Peluang/Ancaman 1.
2.
3.
Total Skor Peluang/Ancaman 1
Sumber : Rangkuti (1997)
15
Berdasarkan Tabel tersebut, tahapan yang dilakukan dalam menentukan faktor strategi adalah menentukan faktor-faktor yang menjadi kekuatan/kelemahan serta peluang/ancaman dalam kolom 1, lalu beri peringkat (rating) untuk setiap faktor pada kolom 2 berdasarkan respon sampel penelitian terhadap faktor-faktor tersebut. Peringkat (rating) faktor internal dan eksternal disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Peringkat (Rating) Faktor Internal dan Eksternal
Rating Kategori Faktor Internal Faktor Eksternal 4. Sumber : Rangkuti (1997)
Kemudian beri bobot masing-masing faktor tersebut yang jumlahnya tidak boleh melebihi skor total 1 pada kolom 3 dengan rumus seperti berikut:
Bobot = Rating
Total Rating
Kemudian yang terakhir, kali kan setiap bobot faktor dengan rating untuk mendapatkan skoring dalam kolom 4 (Rangkuti, 1997).
Matrik SWOT menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi oleh perusahaan dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. Dari matrik ini akan terbentuk empat kemungkinan alternatif strategi.
16
Tabel 3. Matrik SWOT Tentukan 5-10 faktor
peluang eksternal Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman
STRATEGI W-T Ciptakan strategi yang Meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman Sumber : Rangkuti (1997)
Keterangan :
• Strategi SO ( Strength-Opportunities)
Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran perusahaan, yaitu dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan
peluang sebesar-besarnya.
• Strategi ST ( Strength-Threat)
Strategi yang menggunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk mengatasi ancaman.
• Strategi WO ( Weakness-Opportunities)
Strategi ini diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada.
• Strategi WT (Weakness-Threat)
Strategi ini didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensive dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman (Rangkuti, 1997).
Hasil analisis Tabel IFAS dan EFAS dipetakan pada matrik posisi untuk menentukan strategi prioritas pemasaran bambu. Gambar matrik posisi strategi pemasaran bambu disajikan pada gambar 1.
17
Gambar 2. Matrik posisi strategi pemasaran bambu Sumber: Rangkuti (1997)
a. Kuadran I = Strategi SO ( Strength-Opportunities)
Situasi yang sangat menguntungkan bagi perusahaan karena memiliki peluang dan kekuatan sehingga dapat memanfaatkan peluang yang ada. Strategi yang diterapkan adalah mendukung kebijakan yang agresif.
b. Kuadran II = Strategi ST ( Strength-threat )
Terdapat berbagai ancaman, namun masih memiliki kekuatan dari segi internal.
Strategi yang harus diterapkan adalah menggunakan kekuatan untik memanfaatkan peluang dengan cara strategi diversifikasi.
c. Kuadran III = Strategi WO ( Weakness-opportunities)
Mempunyai peluang yang sangat besar, disisi lain terdapat berbagai kelemahan internal. Strategi yang diterapkan adalah meminimalkan masalah-masalah internal dalam perusahaan.
d. Kuadran IV = Strategi WT ( Weakness-threat)
Situasi yang tidak menguntungkan bagi perusahaan. Perusahaan tersebut menghadapi berbagai ancaman dan kelemahan internal. Strategi yang digunakan adalah strategi difensif (Rangkuti, 1997).
-5
18