STRATEGI PEMASARAN BAMBU BUTAR (Gigantochloa Sp) DAN BAMBU BETUNG (Dendrocalamus Asper) OLEH MASYARAKAT SEKITAR KAWASAN HUTAN LINDUNG HPHTI
PT. TOBA PULP LESTARI
SKRIPSI
ARGY VAGERY HEMMY 151201127
DEPARTEMEN TEKNOLOGI HASIL HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2020
STRATEGI PEMASARAN BAMBU BUTAR (Gigantochloa Sp) DAN BAMBU BETUNG (Dendrocalamus Asper) OLEH MASYARAKAT SEKITAR KAWASAN HUTAN LINDUNG
HPHTI PT. TOBA PULP LESTARI
SKRIPSI
ARGY VAGERY HEMMY 151201127
Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Kehutanan
Universitas Sumatera Utara
DEPARTEMEN TEKNOLOGI HASIL HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2020
PENGESAHAN SKRIPSI
Judul : Strategi Pemasaran Bambu Butar (Gigantochloa Sp) dan Bambu Betung (Dendrocalamus Asper) Oleh Masyarakat Sekitar Kawasan Hutan Lindung HPHTI PT. Toba Pulp Lestari
Nama : Argy Vagery Hemmy
NIM : 151201127
Departemen : Teknologi Hasil Hutan
Fakultas : Kehutanan
Disetujui, Pembimbing
Irawati Azhar, S.Hut., M.Si Ketua
Mengetahui,
Arif Nuryawan, S. Hut., M.Si., Ph.D Ketua Departemen Teknologi Hasil Hutan
Tanggal lulus: 31 Januari 2020
PERNYATAAN ORISINALITAS
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Argy Vagery Hemmy NIM : 151201127
Judul Skripsi : Strategi Pemasaran Bambu Butar (Gigantochloa Sp) dan Bambu Betung (Dendrocalamus Asper) Oleh Masyarakat Sekitar Kawasan Hutan Lindung HPHTI PT. Toba Pulp Lestari
menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil karya sendiri. Pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan skripsi ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.
Medan, Mei 2020
Argy Vagery Hemmy 151201127
iii ABSTRACT
ARGY VAGERY HEMMY: Marketing Strategy of Butar Bamboo (Gigantochloa Sp) and Betung Bamboo (Dendrocalamus Asper) by the Community Around HPHTI Protected Forest Areas PT. Toba Pulp Lestari, Supervised by IRAWATI AZHAR
Bamboo is a non-wood forest product that has the potential to replace wood.
Bamboo is easy to plant and does not need special care. Good quality bamboo can be obtained at the age of 3-5 years. The purpose of this research is to analyze the marketing strategies of the communities around the PT. Toba Pulp Lestari. Data analysis performed in this research is marketing channel analysis, farmer share, marketing margin analysis and SWOT analysis. The superior products of bamboo are handicrafts, furniture, pulp raw materials and home building components. The conclusion that can be drawn based on data analysis is that there are two marketing channels. The highest marketing margin is in the bamboo marketing channel I, which is Rp. 2000 with a farmer share of 71%, while the lowest marketing margin was in the bamboo marketing channel, Rp. 1000 with a profit value received by farmers (farmer share) of 87.5%. For the SWOT analysis, the priority strategy for marketing bamboo around the PT. Toba Pulp Lestari for the Aeknauli sector is forming farmer groups and cooperatives at the village level, providing market information to farmers, increasing access/roads to and from villages, and increasing the human resources of bamboo farmers.
Keywords: Analysis, Bamboo, Marketing, Strategy, SWOT
ABSTRAK
ARGY VAGERY HEMMY: Strategi Pemasaran Bambu Butar (Gigantochloa Sp) dan Bambu Betung (Dendrocalamus Asper) Oleh Masyarakat Sekitar Kawasan Hutan Lindung HPHTI PT. Toba Pulp Lestari, Dibimbing oleh IRAWATI AZHAR Bambu adalah produk hutan bukan kayu yang berpotensi menggantikan penggunaan kayu. Bambu mudah ditanam dan tidak perlu perawatan khusus.
Bambu berkualitas baik dapat diperoleh pada usia 3-5 tahun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis strategi pemasaran masyarakat di sekitar wilayah PT.
Toba Pulp Lestari. Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis saluran pemasaran, farmer share, analisis margin pemasaran dan analisis SWOT.
Produk unggulan bambu adalah kerajinan tangan, furnitur, bahan baku pulp dan komponen bangunan rumah. Kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan analisis data adalah terdapat dua saluran pemasaran. Margin pemasaran tertinggi terdapat pada saluran pemasaran bambu I yaitu Rp. 2000 dengan nilai keuntungan yang diterima pertani (farmer share) sebesar 71%, sedangkan margin pemasaran terendah terdapat pada saluran pemasaran bambu yaitu Rp. 1000 dengan nilai keuntungan yang diterima petani (farmer share) sebesar 87,5%. Untuk analisis SWOT, strategi prioritas pemasaran bambu di sekitar area PT. Toba Pulp Lestari untuk sektor Aeknauli adalah membentuk kelompok tani dan koperasi di tingkat desa, memberikan informasi pasar kepada petani, meningkatkan akses/jalan ke dan dari desa, dan meningkatkan sumber daya manusia petani bambu.
Kata kunci: Analisis, Bambu, Pemasaran, Strategi, SWOT
v
RIWAYAT HIDUP
ARGY VAGERY HEMMY dilahirkan di Medan pada tanggal 17 Januari 1998. Argy Vagery Hemmy merupakan anak ke-3 dari 4 bersaudara oleh pasangan Hela Bela Syarbini dan Mimi Maryani Harun.
Pendidikan di SD Muhammadiyah 03 Medan pada tahun 2003 - 2009, pendidikan tingkat Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 30 Medan pada tahun 2009 - 2012, pendidikan tingkat Sekolah Menengah Atas di SMA Muhammadiyah 02 Medan pada tahun 2012 - 2015. Pada tahun 2015, penulis diterima di Fakultas Kehutanan USU melalui jalur ujian masuk Mandiri. Penulis memilih minat Departemen Teknologi Hasil Hutan. Selama kuliah penulis merupakan anggota organisasi Himas. Penulis telah mengikuti Praktik Pengenalan Ekosistem Hutan di Balai Diklat Kehutanan Pondok Buluh pada tahun 2017. Pada tahun 2018 penulis juga telah menyelesaikan Praktik Kerja Lapang (PKL) di Taman Nasional Kerinci Seblat Jambi. Pada pertengahan tahun 2019 penulis melaksanakan penelitian dengan judul “Strategi Pemasaran Bambu Butar (Gigantochloa Sp) dan Bambu Betung (Dendrocalamus Asper) Oleh Masyarakat Sekitar Kawasan Hutan Lindung HPHTI PT. Toba Pulp Lestari” di bawah bimbingan Irawati Azhar, S.Hut, M.Si.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan kasih-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini. Skripsi ini berjudul “Strategi Pemasaran Bambu Butar (Gigantochloa Sp) dan Bambu Betung (Dendrocalamus Asper) Oleh Masyarakat Sekitar Kawasan Hutan Lindung HPHTI PT. Toba Pulp Lestari”. Penelitian ini merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Kehutanan (S.Hut) di Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.
Penulisan skripsi ini juga tidak lepas dari bantuan, dukungan dan bimbingan berbagai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Ibu Irawati Azhar S.Hut.,M.Si selaku ketua komisi pembimbing yang telah memberikan pelajaran dan bimbingannya dalam penulisan skripsi ini.
2. Bapak Dr. Bejo Slamet., S.Hut., M.Si. Pindi Patana., S.Hut., M.Sc. dan Dr. Budi Utomo SP., MP. selaku dosen penguji.
3. Kedua orang tua dan keluarga, Bapak Hela Bela Syarbini dan Ibu Mimi Maryani Harun, Acta Damera Hemmy, Aviq Varega Hemmy, Arya Xaviqa Hemmy dan Desi Afrianti Rangkuti atas dukungan dari segi moril dan materil serta doa dan kasih sayang yang telah diberikan
4. Rekan tim penelitian Ridho candra, Fathiatul Rizkia Aulin, Dedi Kurniawan dan Muhammad Ridho Sembiring yang telah memberikan dukungan dan bantuan selama penelitian.
5. Pegawai dan laboran Laboratorium Budidaya Hutan, Teknologi Hasil Hutan, Konservasi Hasil Hutan dan Menejemen Hasil Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera utara.
6. Teman-teman yang memotivasi serta memberi dukungan penuh kepada saya.
Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyelesaian hasil penelitian ini. Semoga hasil penelitian ini dapat menjadi sumber informasi bagi pihak yang membutuhkan.
Medan, Mei 2020
Argy Vagery Hemmy
vii
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ... i
PERNYATAAN ORIGINALITAS ... ii
ABSTRACT ... iii
ABSTRAK ... iv
RIWAYAT HIDUP ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1
Tujuan Penelitian ... 3
Manfaat Penelitian ... 3
TINJAUAN PUSTAKA Bambu (Bambusa sp) ... 4
Taksonomi Tanaman Bambu ... 4
Morfologi Tanaman Bambu ... 4
Penyebaran dan Tempat Tumbuh Bambu ... 5
Keunggulan Bambu ... 6
Manfaat Bambu ... 7
Strategi Pemasaran ... 8
Analisis Pemasaran ... 9
METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu ...10
Alat dan Bahan ...10
Kondisi Umum dan Letak Geografis PT. Pupl Toba Lestari ...10
Prosedur Penelitian ...11
HASIL DAN PEMBAHASAN Pemasaran ...18
Saluran Pemasaran Bambu (bambusa sp) ...19
Analisis Margin Pemasaran bambu I ...19
Analisis Margin Pemasaran bambu II ...20
Analisis SWOT ...21
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ...28
Saran ...28
DAFTAR PUSTAKA ... 29 LAMPIRAN ... 31
ix
DAFTAR TABEL
No Teks Halaman
1. Matriks Faktor Strategi Internal dan Eksternal ... 14
2. Peringkat (Ranting) Faktor Internal dan Eksternal ... 15
3. Matriks SWOT... 16
4. Analisis Margin Pemasaran pada Saluran Pemasaran I ... 20
5. Analisi Margin Pemasaran pada Saluran Pemasaran II ... 20
6. Matriks Evaluasi Faktor Strategi Internal (IFAS)... 22
7. Matriks Evaluasi Faktor Strategi Eksternal (EFAS) ... 24
8. Matriks Stratergi SWOT ... 26
DAFTAR GAMBAR
No Teks Halaman
1. Peta Lokasi Penelitian ... 10
2. Matriks posisi strategi pemasaran bambu ... 17
3. Bambu butar ... 18
4. Bambu betung ... 18
5. Alat parang dan tali ... 19
6. Saluran pemasaran bambu I... 19
7. Saluran pemasaran bambu II ... 20
8. Matriks posisi strategi pemasaran bambu ... 25
xi
DAFTAR LAMPIRAN
No Teks Halaman
1. Kuisioner Untuk Petani ... 31
2. Kuisioner Untuk Pedagang ... 34
3. Wawancara Responden ... 37
4. Alat yang digunakan untuk memanen bambu ... 37
5. Bambu yang siap dipanen... 37
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Menurut Peraturan Menteri Kehutanan No P.35/Menhut-II/2007, hasil hutan bukan kayu adalah hasil hutan hayati baik nabati maupun hewani beserta produk turunan dan budidaya kecuali kayu yang berasal dari hutan. Hasil hutan bukan kayu terbagi menjadi 2, hasil hutan bukan kayu hayati dan hewani. Hasil hutan bukan kayu nabati dan hewani terdiri atas 9 kelompok: (1) kelompok resin, (2) kelompok minyak atsiri, (3) minyak lemak, pati dan buah-buahan, (4) kelompok tanin, bahan pewarna dan getah, (5) kelompok tumbuhan obatobatan dan tanaman hias, (6) kelompok palma dan bambu, (7) kelompok alkaloid, (8) kelompok lain, (9) kelompok hewani.
Di Negara berkembang Hasil Hutan bukan Kayu memiliki nilai sosial dan ekonomi yang penting bagi mereka yang memanfaatkan HHBK sebagai mata pencaharian utama. Hasil Hutan bukan kayu awalnya disebut hasil hutan ikutan yaitu hasil hutan yang berasal dari bagian pohon atau tumbuhan yang dapat dimanfaatkan atau diolah oleh masyarakat menjadi suatu barang yang diperlukan, dijual atau sebagai bahan baku untuk suatu industri. Contoh upaya pemanfaatan HHBK yang dilakukan oleh masyarakat diantaranya adalah pengambilan getah, buah, kulit kayu atau berupa tumbuhan yang memiliki sifat khusus seperti rotan, bambu, tanaman obat dan lain-lain (Salaka dkk, 2012).
Bambu tergolong keluarga rumput-rumputan disebut juga Giant Grass (rumput raksasa), berumpun dan terdiri dari sejumlah batang (buluh) yang tumbuh secara bertahap, dari mulai rebung, batang muda dan sudah dewasa pada umur 4-5 tahun. Batang bambu berbentuk silindris, berbuku-buku, beruas-ruas berongga kadang-kadang masif, berdinding keras, pada setiap buku terdapat mata tunas atau cabang (Sonjaya dkk, 2012).
Menurut PP Nomor 7 Tahun 1990, yakni tentang Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri (HPHTI) adalah hutan tanaman yang dibangun dalam rangka meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi dengan menerapkan silvikultur intensif untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri hasil hutan. Selain itu, dalam PP tersebut dinyatakan bahwa HPHTI adalah hak untuk mengusahakan hutan
2
di dalam suatu kawasan hutan yang kegiatannya terdiri dari penanaman, pemeliharaan, pemungutan, pengelolaan hingga pemasaran.
Dari aspek sosial dan ekonomi, tanaman bambu yang telah merata di daerah daerah pedesan dan dapat dikatakan merupakan tanaman yang merakyat telah mampu mengangkat perekonomian masyarakat sebagai penghasilan yang utama atau tambahan. Sebagai tanaman yang merakyat, bambu memiliki status dan nilai sosial yang mendalam maknanya. Beberapa saat yang lalu masyarakat pedesaan dari kalangan rendah harus membeli bambu untuk membuat dinding atau perabotan rumah tangga. Namun di lain pihak masyarakat kalangan menengah ke atas lebih menyukai bambu sebagai suatu produk yang dekat pada alam dan memiliki nilai seni yang tinggi, misalnya meja kursi dan perabotan rumah tangga dari bahan bambu (Batubara, 2002).
Bambu merupakan kelompok hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang potensial dapat mensubstitusi penggunaan kayu. Bambu menjadi salah satu komoditas yang memiliki prospek cukup menjanjikan bila dikembangkan dalam skala luas di sektor kehutanan. Tanaman bambu merupakan tanaman yang mudah untuk dibudidayakan dan memiliki potensi ekonomi yang cukup tinggi. Akan tetapi masyarakat masih menganggap bambu sebagai tananam yang kurang komersil sehingga pengusahaan bambu kurang diminati (Alamsyah dkk, 2013).
Minimnya informasi dan data tentang pola pemasaran bambu didaerah tersebut dan strategi pemasaran yang digunakan, maka perlu dilakukan penelitian mengenai analisis pemasaran bambu di daerah toba pulp lestari sektor Aeknauli, Tele, dan Habinsaran dengan tujuan untuk mengetahui peningkatan kualitas pemasaran di daerah tersebut. Diharapkan informasi yang terkumpul dapat menunjang upaya pengembangan pengelolaan pemasaran sebagai bahan pertimbangan dalam pengelolaan pemasaran bambu.
3
Tujuan
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah:
1. Menganalisis pola pemasaran bambu oleh masyarakat sekitar dikawasan hutan lindung PT.Toba Pulp Lestari.
2. Menganalisis margin pemasaran bambu yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar dikawasan hutan lindung PT.Toba Pulp Lestari.
3. Menganalisis strategi pemasaran bambu oleh masyarakat sekitar dikawasan hutan lindung PT.Toba Pulp Lestari.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai pola, analisis margin dan strategi pemasaran bambu di Kawasan Toba Pulp Lestari dan diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan usaha pemasaran bambu di Kawasan Toba Pulp Lestari.
4
TINJAUAN PUSTAKA
Bambu (Bambusa sp)
Bambu adalah tanaman yang termasuk famili Poaceae yang merupakan famili dari rumput. Bambu merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu yang banyak tumbuh dikebun masyarakat pedesaan. Bambu banyak dimanfaatkan oleh masyarakat baik di pedesaan dan di kota. Pemanfaatan bambu secara terus menerus berpengaruh terhadap keberadaan bambu dihabitatnya. Bambu banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk kebutuhan sehari-hari seperti bahan
bangunan, alat pertanian, jembatan, sayuran dan kerajinan (Murdoto dan Dwi, 2015).
Taksonomi Tanaman Bambu (Bambusa sp) Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta Divisi : Magnoliophyta Super Divisi : Spermatophyta Kelas : Liliopsida Sub kelas : Commelinidae Ordo : Poales
Famili : Poaceae
Genus : Bambusa
Spesies : Bambusa sp
Morfologi Tanaman Bambu
Bambu mempunyai ruas dan buku, pada ruasnya tumbuh cabang- cabang yang ukurannya jauh lebih kecil dibandingkan dengan buluhnya sendiri.
Pada ruas-ruas ini pula dapat tumbuh akar sehingga pada bambu dimungkinkan untuk memperbanyak diri dengan potongan-potongan batangnya. Selain dengan potongan batang, bambu memperbanyak diri dengan tunas-tunas akar rimpangnya.
Tunas inilah yang disebut rebung dan biasa dikonsumsi oleh masyarakat sebelum berserat (Batubara, 2002). Banyak jenis bambu yang terdapat di Indonesia, kurang
5
lebih ada 75 jenis bambu namun yang mempunyai nilai ekonomis hanya sekitar 10 jenis saja. Bambu banyak digunakan untuk berbagai bentuk konstruksi bangunan, khususnya untuk perumahan di daerah pedesaan. Bambu merupakan sumber daya terbarukan dan serbaguna, ditandai dengan kekuatan tinggi dan berat volume rendah, dan mudah dikerjakan dengan menggunakan alat sederhana. Dengan demikian, konstruksi bambu mudah untuk dibangun, sifat yang ringan dan elastis membuat konstruksi bambu tahan terhadap gaya gempa dan mudah diperbaiki jika terjadi kerusakan. Produk terkait (panel berbasis bambu dan beton bertulang bambu, misalnya) juga menemukan aplikasi dalam proses konstruksi (Artiningsih, 2012).
Bambu juga dikenal sebagai hasil hutan bukan kayu yang pemanfaatannya sudah berlangsung lama. Pemanfaatan bambu secara konvensional antara lain untuk pertanian, peternakan, perikanan, peralatan rumah tangga, konstruksi rumah sederhana, jembatan di pedesaan, sampai kerajinan tangan. Sementara itu pemanfaatan yang lebih modern antara lain untuk bahan baku kertas, tusuk gigi,
tusuk sate, sumpit, bambu lamina, papan partikel, dan arang (Khotimah dan Sutiono, 2014).
Penyebaran dan Tempat Tumbuh Bambu
Tanaman bambu banyak ditemukan di daerah tropik di Benua Asia, Afrika, dan Amerika. Namun, beberapa spesies ditemukan pula di Australia. Benua Asia merupakan daerah penyebaran bambu terbesar. Penyebarannya meliputi wilayah Indonesia, Burma, India, Cina, dan Jepang. Selain di daerah tropik, bambu juga menyebar ke daerah subtropik dan daerah beriklim sedang di dataran rendah sampai di dataran tinggi. Di wilayah Indonesia diperkirakan terdapat 157 jenis
bambu. Jumlah jenis bambu tersebut kira-kira 10% dari jenis bambu di dunia (Hakiki, 2016).
Hutan bambu di Indonesia semakin berkurang akibat adanya fragmentasi hutan/lahan dan alih fungsi lahan menjadi perkebunan/pertanian, sehingga
mengakibatkan hilangnya habitat alami maupun keragaman jenisnya (Hakim dkk, 2002).
6
Fase pertumbuhan bambu meliputi fase bambu muda, sedang dan fase dewasa. Secara teoritis dikenal tiga struktur populasi yang dapat ditemukan dalam setiap organisme tumbuhan. Pemisahan ini umumnya didasarkan pada tingkatan
umur organisme, yaitu struktur populasi menurun, stabil dan muda (Sofiah dkk, 2013).
Keunggulan Bambu
Bambu merupakan produk hasil hutan bukan kayu yang telah dikenal dan sangat dekat dengan kehidupan masyarakat umum karena pertumbuhannya ada di sekeliling kehidupan masyarakat. Bambu termasuk dalam tanaman Bamboidae anggota subfamilia rumput yang memiliki keanekaragam jenis (Setiawan, 2010).
Bambu mudah ditanam dan tidak memerlukan pemeliharaan secara khusus, Artiningsih (2012) menemukan bahwa bambu pada masa pertumbuhan, bambu tertentu dapat tumbuh vertikal 5 cm per jam, atau 120 cm per hari. Bambu dapat dimanfaatkan dalam banyak hal. Bambu dengan kualitas baik dapat diperoleh pada umur 3 - 5 tahun. Rumpun bambu yang telah dibakar, masih dapat tumbuh lagi.
Bambu mempunyai kekuatan cukup tinggi, kuat tariknya dapat disejajarkan dengan baja. Ditambah dengan sifat bambu yang elastis, struktur bambu mempunyai ketahan yang tinggi baik terhadap angin maupun gempa.
Pada umur 3- 5 tahun, bambu memiliki mutu dan kekuatan yang paling tinggi. Bambu yang telah dipanen akan segera tergantikan oleh batang bambu yang baru. Hal ini berlangsung secara terus menerus secara cepat sehingga tidak perlu dikhawatirkan bambu ini akan mengalami kepunahan karena dipanen. Berbeda dengan kayu, setelah ditebang akan memerlukan waktu yang cukup lama untuk menggantinya dengan pohon yang baru (Raka dkk, 2011).
Penjualan bambu dalam bentuk barang kerajinan memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi dibandingkan cara penjualan bambu secara langsung berupa batangan bambu. Hal ini dikarenakan bambu yang dibuat dalam berbagai bentuk barang kerajinan seperti bangku, meja, tirai dan lain sebagainya, dapat dijual dengan nilai margin yang jauh lebih besar dibandingkan tanpa dibentuk dalam barang kerajinan (Setiawan, 2010).
7
Manfaat Bambu
Bambu sampai saat ini sudah dimanfaatkan sangat luas di masyarakat mulai dari penggunaan teknologi yang paling sederhana sampai pemanfaatan teknologi tinggi pada skala industri. Pemanfaatan di masyarakat umumnya untuk kebutuhan rumah tangga dan dengan teknologi sederhana, sedangkan untuk industri biasanya ditujukan untuk orientasi eksport (Batubara, 2002) yaitu :
1. Pulp
Pabrik kertas sangat potensial dalam memanfaatkan bambu sebagai bahan kertas. Bambu memiliki kandungan selulosa yang sangat cocok untuk dijadikan bahan kertas dan rayon. Pemanfaatan bambu sebagai bahan kertas di Indonesia telah diterapkan pada industri di Gowa dan Banyuwangi.
2. Kerajinan dan Handicraft
Berbagai kerajinan dan handycraft dibuat dari bambu antara lain : tempat pulpen, gantungan kunci, cup lampu, keranjang, tas, topi dan lain-lain. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah keterampilan dan kreativitas dalam memanfaatkan bambu.
3. Furniture dan Perkakas Rumah Tangga
Bambu yang dipergunakan untuk mebel harus memenuhi beberapa syarat.
Selain warna yang menarik juga dapat dibentuk secara istimewa dengan nilai seni yang tinggi tetap memenuhi kekokohannya. Olesan pengawet dan penghias, seperti pernis meningkatkan keawetan dan penampilan dengan tetap berkesan alami.
Bambu hitam dan bambu betung banyak digunakan untuk furniture antara lain : meja, kursi, tempat tidur, meja makan lemari pakaian dan lemari hias.
Disamping itu bambu juga banyak dipakai menjadi peralatan rumah tangga dan aksesoris penghias rumah.
4. Komponen Bangunan dan Rumah
Bambu bersama dengan kayu dan bahan organik lainnya banyak digunakan pada pembangunan rumah rakyat di pedesaan. Dengan perkembangan harga bahan dasar dan kebutuhan perumahan rakyat yang sederhana, maka pengembangan rumah berbahan kayu dan bambu sesuai untuk membantu rakyat yang berpenghasilan rendah, terutama di daerah yang mempunyai ketersediaan bambu.
8
Penggunaan bambu oleh masyarakat sebagai bahan bangunan perumahan selain mudah didapat, bahan bambu dipercaya oleh masyarakat sebagi bahan yang kuat dan awet dengan catataan penggunaan terhindar untuk berhubungan langsung dengan air.
5. Bahan Alat Musik Tradisional
Sesuai dengan ketebalan dinding, diameter dan panjang buluh, bambu dapat dibuat alat musik tradisional yang menghasilkan nada dan alunan suara yang khas.
Bambu dapat dibuat alat musik tiup, alat musik gesek maupun alat musik pukul.
Contoh yang terkenal adalah seruling, angklung, gambang, calung, kentongan, dll.
Bahan bambu memiliki sifat-sifat yang baik untuk dimanfaatkan, antara lain batangnya kuat, ulet, lurus, rata, keras, mudah dibelah, mudah dibentuk dan ringan.
Selain itu harga perolehan bambu juga relatif murah dibandingkan dengan bahan bangunan lain karena banyak ditemukan di sekitar pemukiman pedesaan (Setiawan, 2010).
Strategi Pemasaran
Pemasaran adalah proses aliran barang yang terjadi dalam pasar, di mana barang mengalir dari produsen kepada konsumen akhir yang disertai dengan penambahan guna bentuk melalui proses pengolahan, guna tempat melalui proses pengangkutan, dan guna waktu melalui proses penyimpanan. Semakin kompleks sistem pemasaran, maka semakin banyak pihak yang terlibat dalam aktivitas
pemasaran tersebut yang akhirnya membentuk lembaga pemasaran (Kotler dan Amstrong, 1997).
Tujuan pemasaran adalah mengetahui dan memahami pelangggan sebaik mungkin, sehingga produk atau jasa itu sesuai dengan keinginan pelanggan.
Pemasaran adalah suatu proses sosial antara individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain.
Marjin pemasaran merupakan perbedaan harga di tingkat pengecer (konsumen akhir) dengan harga di tingkat petani. Komponen marjin pemasaran ini terdiri dari biaya yang diperlukan lembaga-lembaga pemasaran untuk melakukan fungsi-fungsi pemasaran yang disebut biaya pemasaran atau biaya fungsional dan
9
Keuntungan lembaga pemasaran. Marjin pemasaran akan terlihat jelas melalui penelitian terhadap lembaga-lembaga yang terlibat dalam pemasaran suatu komoditi untuk mengetahui alur pemasaran yang ada dan perhitungan distribusi keuntungan antar pelaku pemasaran (Widyaningsih dan Diniyati, 2010).
Analisis Pemasaran
Dengan melakukan analisis yang cermat terhadap berbagai perubahan, usaha-usaha berkelanjutan akan memberikan pemahaman yang lengkap bagi marketer yang berguna dalam menggerakkan arah bisnis dengan benar dan tepat.
Analisis terhdap perubahan akan mampu melihat dengan jelas kekuatan-kekuatan perubahan berdampak secara signifikan terhadap kegiatan perusahaan. Pemasaran sebagai ilmu pengetahuan yang berupaya meletakkan asumsi-asumsi yang dapat digunakan dalam menciptakan nilai optimal bagi pemangku kepentingan dari waktu ke waktu. Ketika perubahan nilai terjadi maka konsep pemasaran pun akan terus berubah, sesuai dengan perubahan tuntutan stakeholder dan perkembangan pasar (Hasan, 2008).
Perencanaan strategi untuk proses mengembangkan dan menjaga suatu kecocokan strategi diantara tujuan dan kemampuan organisasi dengan peluang pemasaran yang selalu berubah (Kotler dan Amstrong, 1997).
10
METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2019. Penelitian ini dilakukan di sekitar Kawasan Hutan Lindung Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri (HPHTI) PT. Toba Pulp Lestari sektor Aeknauli Kecamatan Dolok Panribuan dan Pematang Sidamanik Kabupaten Simalungun.
Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kamera digital, alat tulis dan laptop. Bahan yang digunaan adalah kuisioner untuk mengumpulkan data primer maupun data sekunder berupa laporan penelitian yang terdahulu dan pustaka penunjang untuk melengkapi pengamatan langsung dilapangan.
Kondisis Umum Dan Letak Geografis PT. Toba Pulp Lestari
Jenis HHBK (Hasil Hutan Bukan Kayu) yang ada di Kawasan lindung PT. Toba Pulp Lestari yaitu kemenyan, aren, mobe, kayu manis, andaliman, antarasa, bambu, rotan, pandan dan salak hutan. Luas areal konsesi PT Toba Pulp Lestari adalah 185.016 ha dengan kawasan lindung seluas 45.590 ha atau 24% dari total luas areal konsesi. Areal konsesi PT. Toba Pulp Lestari Tbk terdiri dari 6 sektor yang masing- masing sektor berada pada wilayah geografis yang terpisah, yaitu:
11
1. Sektor Tele berada pada Kabupaten Samosir yang meliputi Kecamatan Harian Boho, Sumbul, Parbuluan, Kerajaan, Sidikalang dan Salak pada 2° 15’ 00” - 2°
50’ 00” LU dan 98° 20’ 00” BT - 98° 50’ 00” BT.
2. Sektor Padang Sidempuan berada pada Kabupaten Tapanuli Selatan yang meliputi Kecamatan Padang Bolak, Sosopan, Padang Sidempuan, dan Sipirok pada 1° 15’ 00” LU - 1° 50’ 00” LU dan 99° 13’ 00” BT - 99° 33’00” BT.
3. Sektor Aek Nauli berada pada Kabupaten Simalungun yang meliputi Kecamatan Dolok Panribuan, Tanah Jawa, Sidamanik dan Jorlang pada 2° 40’ 00” LU - 2°
50’ 00” LU dan 98° 50’ 00” BT - 99° 10’ 00” BT.
4. Sektor Habinsaran berada di Kabupaten Toba Samosir yang meliputi kecamatan Siborong-borong, Sipahutar, Habinsaran, Silaen dan Laguboti pada 2° 7’ 00” LU - 2° 2’ 00” dan 99° 05’ 00” BT - 99° 18’ 00” BT.
5. Sektor Tarutung berada di Kabupaten Tapanuli Utara yang meliputi Kecamatan Dolok Sanggul, Sipaholon, Onan Gajang, Parmonangan, Adian Koting, Gaya Baru, Tarutung, Lintong Nihuta dan Sorkam pada 1° 54’ 00” LU - 2° 15’ 00”
LU dan 98° 42’ 00” - 98° 58’ 00” BT.
6. Sektor Sarulia berada di Kabupaten Tapanuli Utara yang meliputi Kecamatan Pahae Julu, Pahae Jae, Lumut, Batang Toru pada 1° 30’ 00” LU - 1° 55’ 00” LU dan 98° 20’ 00” BT - 99° 10’ 00” BT (Wijaya, 2008)
Prosedur Penelitian Persiapan
Kegiatan yang dilakukan dalam tahapan ini mencakup:
Survei Lapangan
Kegiatan ini merupakan kegiatan pengumpulan data yang dilakukan dengan cara pengamatan langsung di lapangan melalui wawancara dengan penjual bambu, pengumpul dan masyarakat sehingga diperoleh gambaran keadaan lapangan dan kegiatan masyarakat di tempat pelaksanaan kegiatan.
Penentuan Lokasi
Sebelum menentukan lokasi penelitian, terlebih dahulu dilakukan survei lokasi dan selanjutnya dipilih lokasi penelitian. Dasar pemilihan lokasi yang dijadikan sampel adalah daerah petani bambu.
12
Penentuan Sampel Responden
Adapun penelitian ini menggunakan rumus Slovin, pengumpulan data primer berupa data yang diperoleh melalui wawancara dengan responden yang terpilih mewakili masyarakat desa. Wawancara dilakukan secara terstruktur, jumlah sampel responden yang diambil yaitu sebanyak 52 orang dengan menggunakan rumus dari Slovin (Riduwan dan Kuncoro, 2007).
n = 𝑁
𝑁.d2+1 Keterangan:
n = jumlah sampel
N = jumlah individu yang memanfaatkan bambu
d2 = presisi (ditetapkan 5% dengan tingkat kepercayaan 95%)
Sedangkan pengambilan sampel responden kunci untuk indikator SWOT menggunakan metode Purposive Sampling yaitu Sampling yang dilakukan berdasarkan keputusan peneliti, yang menurut pendapat responden dapat mewakili populasi (Budijanto dan Pusdati, 2015). Tujuan dari metode purposive sampling yaitu untuk mendapatkan informasi mengenai alur pemasaran dan harga jual bambu di beberapa tingkatan penjualan, Sedangkan penentuan responden kunci di atas dikarenakan responden tersebut dianggap sangat paham mengenai lingkungan internal dan eksternal Petani bambu.
Pengumpulan Data
Teknik dan Tahapan Pengambilan data dilakukan dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut:
a. Melakukan observasi dan analisis perkembangan pengolahan produk tanaman Bambu yang ada di lapangan untuk memperoleh informasi mengenai proses pengelolaan dan perkembangannya
b. Identifikasi tanaman bambu yang dimiliki masyarakat di wilayah studi.
Keseluruhan data, baik primer maupun sekunder selanjutnya diolah dan ditabulasikan sesuai dengan kebutuhan setelah dilakukan pengolahan dan analisis data
13
c. Wawancara dan diskusi dengan menggunakan kuesioner kepada para pelaku (aktor utama) yang mewakili dan para pihak pemangku kepentingan dalam pengelolaan tanaman bambu terhadap pendapatan masyarakat
Analisis Data
a. Analisis Perkembangan Pengolahan Tanaman Bambu
Data yang dikumpulkan ialah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari observasi dengan narasumber yang terlibat langsung serta pengamatan di lapangan. Data sekunder diperoleh dari studi pustaka. Analisis data yang digunakan ialah analisis deskriptif. Analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui perkembangan pengolahan produk tanaman bambu secara ekologis, ekonomi, sosial budaya.
b. Farmer Share
Untuk mengetahui bagian harga yang diterima petani (farmer’s share) menggunakan rumus : (Handayani, 2011).
FS= 𝑝𝑓
𝑝𝑟 𝑥 100%
Keterangan :
FS : bagian harga yang diterima produsen (Farmer’s Share) Pf : harga di tingkat petani (Rp/Batang)
Pr : harga di tingkat lembaga pemasaran (Rp/Batang) c. Marjin Pemasaran
Marjin pemasaran adalah selisih harga tingkat produsen dan tingkat konsumen akhir (Handayani, 2011).
M = Pr – Pf Keterangan :
Pr : Harga di tingkat konsumen Pf : Harga di tingkat produsen
14
d. Analisis Swot
Analisis swot adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strength) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman (threats).
Proses pengambilan keputuan strategi selalu berkaitan dengan misi, tujuan, strategi, dan kebijakan perusahaan. Dengan demikian perencanaan strategi (strategic planner) harus menganalisis faktor – faktor strategi perusahaan(kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini (Rangkuti, 1997)
Proses yang harus dilakukan dalam pembuatan analisis SWOT agar keputusan yang diperoleh lebih tepat perlu melalui berbagai tahapan sebagai berikut:
1. Tahap pengambilan data yaitu evaluasi faktor eksternal dan internal.
2. Tahap analisis yaitu pembuatan matrik internal, eksternal, dan matrik SWOT.
3. Tahap pengambilan keputusan.
Tahap pengambilan data ini digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman bagi perusahaan dapat dilakukan dengan wawancara terhadap ahli perusahaan yang bersangkutan. Setelah mengetahui berbagai faktor dalam perusahaan maka tahap selanjutnya adalah membuat matrik internal eksternal. Matrik faktor strategi internal dan eksternal disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Matrik Faktor Strategi Internal dan Eksternal
Faktor Strategi Internal Rating Bobot Skor
(Rating x Bobot) Kekuatan/Kelemahan
1.
2.
3.
Total Skor Kekuatan/kelemahan 1
Faktor Strategi Eksternal Peluang/Ancaman 1.
2.
3.
Total Skor Peluang/Ancaman 1
Sumber : Rangkuti (1997)
15
Berdasarkan Tabel tersebut, tahapan yang dilakukan dalam menentukan faktor strategi adalah menentukan faktor-faktor yang menjadi kekuatan/kelemahan serta peluang/ancaman dalam kolom 1, lalu beri peringkat (rating) untuk setiap faktor pada kolom 2 berdasarkan respon sampel penelitian terhadap faktor-faktor tersebut. Peringkat (rating) faktor internal dan eksternal disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Peringkat (Rating) Faktor Internal dan Eksternal
Rating Kategori Faktor Internal Faktor Eksternal 4.
3.
2.
1.
Sangat Besar Besar Kecil Sangat Kecil
Kekuatan Kekuatan Kekuatan Kekuatan
Peluang Peluang Peluang Peluang 1.
2.
3.
4.
Sangat Besar Besar Kecil Sangat Kecil
Kelemahan Kelemahan Kelemahan Kelemahan
Ancaman Ancaman Ancaman Ancaman Sumber : Rangkuti (1997)
Kemudian beri bobot masing-masing faktor tersebut yang jumlahnya tidak boleh melebihi skor total 1 pada kolom 3 dengan rumus seperti berikut:
Bobot = Rating
Total Rating
Kemudian yang terakhir, kali kan setiap bobot faktor dengan rating untuk mendapatkan skoring dalam kolom 4 (Rangkuti, 1997).
Matrik SWOT menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi oleh perusahaan dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. Dari matrik ini akan terbentuk empat kemungkinan alternatif strategi.
16
Tabel 3. Matrik SWOT Internal Eksternal
Strenghts (S)
Weaknesses (W)
Tentukan 5-10 faktor- faktor kekuatan internal
Tentukan 5-10 faktor- faktor kekuatan internal
Opportunities (O) Tentukan 5-10 faktor
peluang eksternal
STRATEGI S-O Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan
untuk memanfaatkan peluang
STRATEGI W-O Ciptakan strategi yang Meminimalkan kelemahan
untuk memanfaatkan peluang Treaths (T)
Tentukan 5-10 faktor ancaman eksternal
STRATEGI S-T Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman
STRATEGI W-T Ciptakan strategi yang Meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman Sumber : Rangkuti (1997)
Keterangan :
• Strategi SO ( Strength-Opportunities)
Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran perusahaan, yaitu dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan
peluang sebesar-besarnya.
• Strategi ST ( Strength-Threat)
Strategi yang menggunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk mengatasi ancaman.
• Strategi WO ( Weakness-Opportunities)
Strategi ini diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada.
• Strategi WT (Weakness-Threat)
Strategi ini didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensive dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman (Rangkuti, 1997).
Hasil analisis Tabel IFAS dan EFAS dipetakan pada matrik posisi untuk menentukan strategi prioritas pemasaran bambu. Gambar matrik posisi strategi pemasaran bambu disajikan pada gambar 1.
17
Gambar 2. Matrik posisi strategi pemasaran bambu Sumber: Rangkuti (1997)
a. Kuadran I = Strategi SO ( Strength-Opportunities)
Situasi yang sangat menguntungkan bagi perusahaan karena memiliki peluang dan kekuatan sehingga dapat memanfaatkan peluang yang ada. Strategi yang diterapkan adalah mendukung kebijakan yang agresif.
b. Kuadran II = Strategi ST ( Strength-threat )
Terdapat berbagai ancaman, namun masih memiliki kekuatan dari segi internal.
Strategi yang harus diterapkan adalah menggunakan kekuatan untik memanfaatkan peluang dengan cara strategi diversifikasi.
c. Kuadran III = Strategi WO ( Weakness-opportunities)
Mempunyai peluang yang sangat besar, disisi lain terdapat berbagai kelemahan internal. Strategi yang diterapkan adalah meminimalkan masalah-masalah internal dalam perusahaan.
d. Kuadran IV = Strategi WT ( Weakness-threat)
Situasi yang tidak menguntungkan bagi perusahaan. Perusahaan tersebut menghadapi berbagai ancaman dan kelemahan internal. Strategi yang digunakan adalah strategi difensif (Rangkuti, 1997).
-5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5
-5 -4 -3 -2 -1 1 2 3 4 5
Kuadran IV Kuadran III
Kuadran II Kuadran I
Mendukung strategi diversifikasi
Mendukung strategi defensif
Mendukung strategi agresif
Mendukung strategi turn around
Peluang
Kekuatan Kelemahan
Ancaman
18
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di sekitar kawasan hutan lindung PT.Toba Pulp Lestari yaitu Sektor Aek Nauli Terdapat tujuh jenis bambu yang telah teridentifikasi diwilayah tersebut diantaranya adalah Bambu Hitam (Gigantochloa atroviolacea), Bambu kuning (Bambusa Vulgaris var striata), Bambu Suraton (Gigantochloa Pseudoarundinacea), Bambu Butar (Gigantochloa Sp), Bambu cina (Bambusa multiplex), Bambu Betung (Dendrocalamus Asper), dan Bambu Duri (Bambusa blumeana). Dari berbagai jenis bambu tersebut Masyarakat hanya memanfaatkan dua jenis bambu untuk di komersilkan diantaranya Bambu Betung dan Bambu Butar. Jenis bambu butar dan bambu betung yang siap dipanen akan disajikan pada Gambar 3 dan Gambar 4.
Gambar 3. Bambu Butar Gambar 4. Bambu Betung
Masyarakat yang memanfaatkan bambu langsung memasarkan kedua jenis produk bambu tesebut dikarenakan kebanyakan masyarakat petani bambu hanya menjadikan usaha tersebut sebagai usaha tambahan saja. sedangkan untuk pekerjaan utama masyarakat lebih memilih menjadi petani aren karena upah yang didapat lebih banyak tetapi ada juga yang menjadikan usaha petani bambu menjadi pekerjaan utama mereka namun upah yang mereka dapat lebih sedikit. Adapun alat- alat yang digunakan petani untuk memanen serta melakukan pengolahan bambu diantaranya Parang dan tali. Alat-alat yang digunakan untuk pemanenan bambu akan disajikan pada Gambar 5.
19
Gambar 5. Parang (a) Tali (b)
Pemanenan bambu yang dilakukan oleh masyarakat sekitar kawasan lindung HPHTI PT.Toba Pulp Lestari sektor Aek Nauli masih menggunakan alat- alat yang sangat tradisional. Minimnya pengetahuan para petani tentang pemasaran produk olahan bambu secara luas mengakibatkan kurangnya minat para petani untuk meningkatkan pengolahan bambu secara maksimal. Kedua jenis tersebut memilki persamaan diantaranya dapat tumbuh hingga 20-30 m, batangnya yang kuat dan penggunaannya yang sangat cocok untuk bahan konstruksi bangunan serta industri furniture.
Saluran Pemasaran Bambu (Bambusa sp)
Menurut Kotler dan Amstrong (1997) pemasaran dapat diartikan sebagai segala kegiatan yang dilakukan oleh berbagai perantara dengan berbagai macam cara untuk menyampaikan hasil produksi. Saluran pemasaran adalah rute yang dilalui oleh produk pertanian ketika produk bergerak dari petani produsen ke pengguna atau pemakai terakhir. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, saluran pemasaran Bambu oleh masyarakat di sekitar kawasan PT. Toba Pulp Lestari sektor Aek Nauli memiliki 2 saluran distribusi. Saluran pemasaran bambu I dan II disajikan pada Gambar 6 dan Gambar 7.
1. Saluran Pemasaran I
Gambar 6. Saluran Pemasaran Bambu I
Produsen Agen konsumen
a. b.
20
Pada saluran pemasaran I produsen (petani) menjual komoditi bambu ke agen kemudian agen langsung menjual kepada konsumen sesuai permintaan yang diinginkan. Di sini petani hanya melayani pembelian dalam jumlah yang besar saja dan tidak menjual pada pengecer.
2. Saluran Pemasaran II
Gambar 7. Saluran pemasaran Bambu II.
Pada saluran pemasaran II produsen (petani) menjual komoditi bambu yang diambil dari hutan ke pengecer dalam jumlah yang tidak besar, kemudian pengecer memasarkan kembali bersama dengan komoditi lainnya kepada konsumen.
Analisis Margin Pemasaran Bambu I
Tabel 4. Analisis margin pemasaran pada saluran pemasaran I Pelaku pasar Jenis harga Harga/Batang
(Rp)
Nilai keuntungan pemasaran (Rp)
Farmer Share (%)
Petani Harga jual 5000 2000 71%
Agen Harga jual 7000
Margin pemasaran 2000
Berdasarkan Tabel 4, dapat diketahui besarnya margin pemasaran pada saluran I sebesar Rp. 2000 dan bagian yang diterima petani (farmer share) sebesar 71%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa saluran pemasaran I pada pemasaran bambu efisisen, hal ini sesuai dengan pernyataan (Triyanti dan Nensyana 2012), bila bagian yang diterima produsen (farmer share) > 50% maka pemasaran dikatakan efisien, dan bila bagian yang diterima produsen (farmer share) < 50%
berarti pemasaran belum efisien.
Analisis Margin Pemasaran Bambu II
Tabel 5 . Analisis margin pemasaran pada saluran pemasaran II Pelaku pasar Jenis harga Harga/Batang
(Rp)
Nilai keuntungan pemasaran (Rp)
Farmer Share (%)
Petani Harga jual 7000 1000 87,5%
Pengecer Harga jual 8000
Margin pemasaran 1000
Konsumen Pengecer
Produsen
21
Berdasarkan Tabel 5. menunjukkan adanya peningkatan harga jual produk dari petani ke pengecer dan pengecer ke konsumen. Hal ini disebabkan pada saat pemasaran para petani mengantarkan produk bambu mereka kepada pengecer, sedangkan apabila petani menjual ke agen, agen lah yang menjemput produk bambu kedalam desa. nilai margin pemasaran pada saluran pemasaran 2 yaitu Rp.1000 dan bagian yang diterima petani (farmer share) 87,5%. Hasil margin pemasaran 2 yang diperoleh lebih rendah daripada margin pemasaran 1, namun bagian yang diterima oleh petani (farmer share) lebih tinggi.
Peningkatan farmer share dan rendahnya margin pemasaran dikarenakan nilai jual bambu dari petani ke agen tidak terlalu tinggi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Septiani dkk (2016), nilai margin pemasaran dipengaruhi oleh biaya pemasaran yang dikeluarkan dan keuntungan yang diambil oleh masing-masing lembaga pemasaran.
Analisis SWOT
Wawancara dapat dirumuskan beberapa pokok aspek baik internal maupun eksternal sebagai berikut:
Aspek internal
Aspek internal merupakan kekuatan (strength) yang memiliki pengaruh terhadap pengembangan dan pemasaran bambu adalah:
1. Ketersediaan komoditi bambu banyak
2. Modal yang dibutuhkan untuk memulai usaha petani bambu sedikit
3. Kualitas bambu yang bagus
4. Pemasaran tidak melalui banyak perantara
5. Pemanenan mudah dilakukan.
Sementara aspek internal berupa kelemahan (weakness) yang memiliki pengaruh terhadap pengembangan dan pemasaran bambu adalah:
1. Belum ada kelompok tani bambu.
2. Kurangnya informasi pasar yang diterima petani bambu.
3. Harga yang berbeda-beda di tingkat petani.
4. Peralatan yang digunakan masih tradisional.
5. Akses jalan dari dan menuju desa kurang mendukung (kondisi relatif buruk).
22
6. Kurangnya pengolahan yang dilakukan pada produk bambu.
Aspek Eksternal
Aspek eksternal berupa peluang (opportunity) yang memiliki pengaruh terhadap pengembangan dan pemasaran bambu adalah:
1. Image daerah sebagai penghasil bambu yang berkualitas.
2. Permintaan terhadap komoditi bambu cukup tinggi.
3. Perluasan tanaman kehidupan oleh pihak TPL dikawasan HTI.
Sementara aspek eksternal berupa ancaman (threath) yang memiliki pengaruh terhadap pengembangan dan pemasaran bambu adalah:
1. Status lahan dan batas yang tidak jelas 2. Tidak adanya izin dan jaminan berusaha.
3. Kebutuhan terhadap lahan sebagai peruntukan yang lain semakin meningkat.
Setelah diketahui faktor-faktor internal dan eksternal pada pemasaran bambu di daerah penelitian, tahap selanjutnya adalah tahap pengumpulan data. Model yang digunakan adalah Matrik Faktor Strategi Internal/Internal Strategic Factors Analysis Summary (IFAS) dan Matrik Faktor Strategi Eksternal/Eksternal Strategic Factors Analysis Summary (EFAS).
Hasil analisis faktor-faktor internal yang merupakan kekuatan dan kelemahan, rating, dan pembobotan dipindahkan ke Tabel matrik IFAS dan EFAS untuk diberi skoring (rating x bobot) seperti pada Tabel 6:
Tabel 6. Matrik Internal Factor Analysis Summary (IFAS)
No Kekuatan (Strength) Rating Rataan
Rating
Bobot Skor P1 P2 P3 P4 P5
1 Ketersediaan komoditi bambu banyak
3 3 3 2 3 2,8 0,225 0,63
2 Modal yang dibutuhkan untuk memulai usaha petani bambu sedikit
2 1 2 2 2 1,8 0,145 0,26
3 Kualitas bambu yang bagus
3 3 3 3 2 2,8 0,225 0,63
4 Pemasaran tidak melalui banyak perantara
3 2 3 2 2 2,4 0,193 0,46
5 Pemanenan mudah dilakukan
3 3 2 2 3 2,6 0,209 0,54
Total 12,4 1 2,52
23
Keterangan:
P1: Responden 1 P2: Responden 2 P3: Responden 3 P4: Responden 4 P5: Responden 5
Hasil pembobotan faktor internal manunjukkan nilai yang paling tinggi pada kekuatan adalah ketersediaan komoditi bambu banyak dan kualitas bambu yang bagus, sedangkan hasil yang paling tinggi pada kelemahan adalah belum adanya kelompok tani bambu.
Selisih faktor internal (kekuatan-kelemahan) adalah -0,37 yang artinya pengaruh kelemahan lebih tinggi daripada pengaruh kekuatan terhadap pemasaran bambu di sekitar kawasan Lindung PT. Toba Pulp Lestari.
Hasil analisis faktor eksternal dipindahkan ke Tabel matrik EFAS untuk diberi skoring (rating x bobot).
No Kelemahan (Weakness) 1 Belum ada kelompok
tani bambu
1 1 2 1 1 1,2 0,007 0,092
2 Kurangnya informasi pasar yang diterima petani bambu
1 2 1 2 1 1,4 0,090 0,128
3 Harga yang berbeda- beda di tingakat petani
3 3 2 3 3 2,8 0,181 0,506
4 Peralatan yang digunakan masih tradisional
4 3 4 4 3 3,6 0,233 0,838
5 Akses/jalan dari dan menuju desa kurang mendukung (kondisi relatif buruk)
2 3 3 4 3 3 0,194 0,582
6 Kurangnya pengolahan yang dilakukan pada produk bambu
3 4 3 4 3 3,4 0,220 0,784
Total 15,4 1 2,89
Selisih total kekuatan – total kelemahan= S – W= 2,52 – 2,89 = -0,37
24
Tabel 7. Matrik Eksternal Factor Analysis Summary (EFAS)
No Peluang (Opportunity) Rating Rataan
Rating
Bobot Skor P1 P2 P3 P4 P5
1 Image daerah sebagai pengahasil bambu yang berkualitas
3 3 4 4 3 3,4 0,361 1,22
2 Permintaan terhadap komoditi bambu cukup tinggi
3 2 3 3 3 2,8 0,297 0,831
3 Perluasan tanaman kehidupan oleh pihak TPL di kawasan HTI
3 3 3 4 3 3,2 0,340 1,08
Total skor Peluang 9,4 1 3,13
No Ancaman (Treath) 1 Status lahan dan batas
yang tidak jelas
2 1 1 2 2 1,6 0,235 0,367
2 Tidak adanya izin dan jaminan berusaha
3 2 2 3 3 2,6 0,382 0,993
3 Kebutuhan terhadap lahan sebagai peruntukan yang lain semakin meningkat
3 2 2 3 3 2,6 0,382 0,993
Total skor Tantangan 6,8 1 2,35
Selisih Total Peluang – Total Ancaman= O – T = 3,13 – 2,35 = 0,78
Hasil pembobotan faktor eksternal menunjukkan nilai yang paling tinggi pada peluang adalah image daerah sebagai penghasil bambu yang berkualitas, sedangkan nilai yang paling tinggi pada ancaman adalah status lahan dan batas yang tidak jelas.
Selisih faktor strategi eksternal (peluang-ancaman) adalah 0,78 yang artinya pengaruh peluang lebih tinggi daripada pengaruh ancaman terhadap pemasaran bambu di sekitar kawasan lindung PT. Toba Pulp Lestari.
Berdasarkan analisis matrik evaluasi faktor internal dan eksternal tersebut, maka dapat diketahui posisi strategi pemasaran bambu di sekitar kawasan PT. Toba Pulp Lestari. Posisi strategi pemasaran dianalisis menggunakan matrik posisi, sehingga akan menghasilkan titik koordinat (x,y). Nilai x diperoleh dari selisih faktor internal (kekuatan-kelemahan) dan nilai y diperoleh dari selisih faktor eksternal (peluang-ancaman). Matrik posisi strategi pemasaran disajikan pada gambar 8.
25
Matrik posisi strategi pemasaran bambu.
Gambar 8. Matrik Posisi Strategi Pemasaran bambu
Posisi pemasaran bambu di sekitar kawasan PT. Toba Pulp Lestari berada di kuadran III, Posisi ini menandakan sebuah organisasi yang lemah namun sangat berpeluang. Rekomendasi strategi yang diberikan adalah Ubah Strategi, artinya pelaku pemasaran disarankan untuk mengubah strategi sebelumnya. Sebab, strategi yang lama dikhawatirkan sulit untuk dapat memanfaatkan peluang yang ada sekaligus memperbaiki kinerja pelaku pemasaran bambu di kawasan PT. Toba Pulp Lestari sektor Aeknauli.
Setelah mengetahui hasil pada gambar di atas, maka perlu dilakukan analisis dengan menyusun faktor-faktor strategis dalam matrik SWOT. Matrik ini menghasilkan empat kemungkinan alternatif strategis yaitu Strategi SO (Strengths-Opportunities), Strategi ST (Strengths-Threats), Strategi WO (Weakness-Opportunities), dan Strategi WT (Weakness-Threats).
-5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5
-5 -4 -3 -2 -1 1 2 3 4 5
Kuadran IV Kuadran III
KuadranII Kuadran I
Mendukung strategi diversifikasi
Mendukung strategi defensif
Mendukung strategi agresif
Mendukung strategi turn around
(-0,37;0,78)
Kekuatan Peluang
Kelemahan
Ancaman
26
Tabel 8. Matrik Strategi SWOT
Strenghts (S) Weaknesses (W)
Faktor Internal
Faktor Eksternal
1. Masih banyak komoditi bambu yang berada di area kawasan
2. Modal yang dibutuhkan untuk memulai usaha pertain bambu sedikit 3. Kualitas bambu tergolong
bagus
4. Pemasaran tidak melalu banyak perantara
5. Pemanenan mudah dilakukan
1. Belum ada kelompok tani bambu
2. Kurangnya informasi pasar yang diterima petani bambu 3. Harga yang berbeda-beda di
tingakat petani
4. Peralatan yang digunakan masih tradisional
5. Akses/jalan dari dan menuju desa kurang mendukung (kondisi relatif buruk) 6. Kurangnya pengolahan yang
dilakukan pada produk bambu.
Opportunities (O) Strategi S-O Strategi W-O
1. Image daerah sebagai
pengahasil bambu yang berkualitas 2. Permintaan
terhadap komoditi bambu secara terus menerus 3. Perluasan
tanaman
kehidupan oleh pihak TPL di kawasan HTI
1. Memepertahankan dan meningkatkan kualitas bambu yang dihasilkan.
2. Membangun dan
meningkatkan kemitraan usaha
3. Memperluas jaringan pemasaran dengan memanfaatkan
perkembangan teknologi
1. Membentuk kelompok tani dan koperasi di tingkat desa
2. Memberikan informasi pasar kepada petani 3. Memperbaiki akses/jalan
dari dan menuju desa 4. Meningkatan pengetahuan
petani dalam mengolah produk bambu
Threats (T) Strategi S-T Strategi W-T
1. Status lahan dan batas yang tidak jelas
2. Tidak adanya izin dan jaminan berusaha
3. Kebutuhan terhadap lahan untuk sarana yang lain semakin meningkat
1. Memberikan dan menetapkan batas-batas antara kawasan hutan negara dan hutan masyarakat melalui kegiatan penataan batas 2. Pemberian izin dan
jaminan usaha dari pemerintah
1. Membina hubungan baik antar petani , pengumpul dan pihak PT. TPL
Empat kemungkinan strategi diatas tidak digunakan seluruhnya dalam pemasaran bambu di lokasi penelitian, tetapi di sesuaikan dengan posisi yang telah
27
diketahui dalam matrik poisi SWOT. Didaerah penelitian posisi pelaku pemasaran/organisasi bambu berada pada kuadran III, sehingga strategi yang tepat digunakan dalam posisi tersebut adalah ubah strategi (turn around).
Strategi turn around adalah strategi yang fokus pada strategi W – O (weakness – opportunity) yaitu memanfaatkan peluang untuk meminimalisir
kelemahan yang ada.
Sehingga strategi – strategi yang tepat digunakan oleh pelaku pemasaran bambu di lokasi penelitian yaitu:
1. Membentuk kelompok tani dan koperasi di tingkat desa yang difasilitasi oleh pemerintah daerah untuk menghindari spekulasi harga yang dilakukan oleh para pengumpul.
2. Memberikan informasi pasar kepada petani agar petani mengetahui harga disetiap melakukan kegiatan jual beli.
3. Memperbaiki akses/jalan dari dan menuju desa oleh pihak PT. TPL maupun pemerintah agar mempermudah proses pemasaran bambu.
4. Peningkatan SDM, pemberian penyuluhan dan bimbingan kepada petani yang dicampurtangani oleh pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas petani dalam mengolah produk bambu.
28
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Terdapat 2 saluran pemasaran bambu pada lokasi penelitian sektor Aek Nauli, yaitu saluran pemasaran bambu I: petani – agen – konsumen dan saluran pemasaran bambu II: petani – pengecer – konsumen.
2. Margin pemasaran Bambu di sekitar kawasan PT. Toba pulp Lestari sektor Aek Nauli berbeda beda. Margin pemasaran tertinggi terdapat pada saluran pemasaran Bambu I yaitu Rp 2000 dengan nilai keuntungan yang di terima petani (farmer share) sebesar 71%, sedangkan margin pemasaran terendah terdapat pada saluran pemasaran bambu II yaitu Rp. 1000 dengan nilai keuntungan yang di terima petani (farmer share) sebesar 87,5%. Margin pemasaran yang paling efisien terdapat pada saluran pemasaran bambu II.
3. Strategi prioritas pemasaran bambu di sekitar kawasan PT. Toba pulp Lestari sektor Aek Nauli adalah strategi W-O.
Saran
Sebaiknya dilakukan pembentukan kelompok tani dan koperasi, peningkatan pengetahuan petani dalam memasarkan bambu dan perbaikan jalan desa.
29
DAFTAR PUSTAKA
Alamsyah, R., Afandi, O., & Batubara, R. (2013). Analisis potensi ketersediaan dan pemasaran bambu belangke (Gigantochloa pruriens Widjaja) di hutan rakyat bambu desa timbang lawan Kecamatan Bahorok Kabupaten Langkat dalam industri dupa bambu. Peronema Forestry Science Journal, 2(2): 137-142.
Artiningsih, N.K.A. (2012). Pemanfaatan Bambu Pada Konstruksi Bangunan Berdampak Positip Bagi Lingkungan. Metana, 8(01): 1-2
Batubara, R. (2002). Pemanfaatan Bambu di Indonesia. Program Ilmu Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
Budijanto, D., & Pusdatin–Kemkes, R. I. (2015). Populasi, Sampling Dan Besar Sampel. Pusat Data dan Informasi. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
Hakiki, D.R.O.B. (2016). Identifikasi Dan Inventarisasi Bambu Di Blok Pendidikan Dan Penelitian Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman.Skripsi.
Universiitas Lampung. Bandar Lampung.
Hakim, L., Nakagoshi, N., & Isagi, Y. (2002). Conservation ecology of Gigantochloa manggong: an endemic bamboo at Java, Indonesia. Journal of International Development and Cooperation, 9(1): 1-16.
Handayani, S. M., & Nurlaila, I. (2011). Analisis pemasaran susu segar di Kabupaten Klaten.Sains Peternakan, 9 (1): 41-52.
Hasan A. 2008. Marketing. Media Pressindo, Yogyakara.
Indonesia, P. R. (1990). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Tentang Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri. No. 7/1990.
Indonesia, R. (2007). Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P. 35/Menhut-II/2007 tentang Hasil Hutan Bukan Kayu. Jakarta (ID): Kementerian Kehutanan.
Khotimah, H., & Sutiono, S. (2015). Analisis Kelayakan Finansial Usaha Budidaya Bambu. Jurnal ilmu kehutanan, 8(1):14-24.
Kotler, P., & Amstrong, G. (1997). Prinsip-Prinsip Pemasaran, Erlangga, Jakarta.
Murtodo, A., dan D. Setyati. 2015. Inventarisasi Bambu di Kelurahan Antirogo Kecamatan Subersari Kabupaten Jember. Jurnal Ilmu Dasar, 15(2): 115- 121.