METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dimulai pada bulan November 2011 sampai Maret 2012. Pada awal pengambilan sampel bersamaan pada musim kering (bulan November 2011 sampai dengan awal Januari 2012) dan bulan Januari akhir sampai Maret memasuki musim penghujan. Penelitian dilakukan di tiga hutan kota di wilayah DKI Jakarta, yaitu hutan kota Universitas Indonesia, Arboretum Cibubur dan hutan kota PT JIEP Pulogadung (Gambar 2).
Hutan Kota Universitas Indonesia
Hutan kota UI ditetapkan berdasarkan SK Rektor UI Nomor 84/SK/12/1988, tanggal 31 Oktober 1988, diperbaharui dengan SK Gubernur Nomor 3487/1999 dengan nama Mahkota Hijau, yang difungsikan sebagai wilayah resapan air, wahana koleksi pelestarian plasma nutfah, wahana penelitian dan sarana rekreasi alam. Hutan kota UI dengan luas sekitar 45 ha secara geografis terletak pada 6˚20’ 45” LS dan 106˚ 49’ 15” BT. Hutan kota UI berbatasan langsung dengan pusat kegiatan atau aktivitas yang terletak di kota Depok. Wilayah hutan kota UI sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Jagakarsa, sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Beji Timur dan sebelah Timur dengan Kelurahan Pondok Cina.
Konfigurasi lapang kawasan kampus UI beserta hutan kotanya merupakan hamparan landai dengan kisaran 3 – 8 % dan bergelombang ringan, dengan kemiringan lereng 8 – 25 %. Ketinggian tempat 74 m dari permukaan laut (dpl).
8
Gambar 2 Peta lokasi penelitian : Hutan kota PT JIEP Pulogadung (A); Arboretum Cibubur (B) dan Universitas Indonesia (C)
Habitat kawasan hutan kota UI terdiri dari dua bentuk ekosistem yaitu a) ekosistem perairan yang merupakan wahana tandon air (situ atau danau), dan b) kawasan hutan kota yang direncanakan sebagai wahana koleksi pelestarian plasma nutfah. Sebelum ditetapkan sebagai hutan kota kawasan ini merupakan kawasan perkebunan karet, milik masyarakat setempat, sehingga pada awal pembentukan dan penetapan menjadi hutan kota masih tersisa tumbuhan karet (Gambar 3).
Gambar 3 Lokasi penelitian hutan kota UI
A B C Jakarta Barat Jakarta Utara Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Selatan
9
Hutan Kota Arboretum Cibubur
Hutan kota Arboretum Cibubur dikenal dengan nama “Arboretum Wanawisata Pramuka Cibubur”, penetapan lokasinya didasarkan atas Surat Departemen Kehutanan No. 2570/89, tanggal 25 September 1989 dengan pembaharuan SK Gubernur DKI Jakarta 872/2004, merupakan ruang terbuka hijau di lingkungan Bumi Perkemahan Cibubur. Secara geografis terletak pada 6˚20’ 01” Lintang Selatan dan 106˚70’31” Bujur Timur,dengan luas kurang lebih 40 Ha. Berdasarkan administrasi pemerintahan, kawasan ini termasuk ke dalam wilayah Jakarta Timur, Kecamatan Cipayung dan Kelurahan Cibubur dan terletak tidak jauh dari jalan tol Jagorawi.
Konfigurasi lapang kawasan ini merupakan hamparan dataran hingga bergelombang ringan, dengan ketinggian kurang lebih 43 m dpl. Kawasan Arboretum Cibubur merupakan suatu kesatuan kompak dengan berbagai jenis pepohonan yang merupakan koleksi dari beberapa jenis sebagai pusat pelestarian plasma nutfah. Jenis yang dikembangkan merupakan koleksi dari berbagai jenis tumbuhan yang dianggap dapat berfungsi sebagai penyangga kehidupan. Kawasan ini merupakan daerah resapan air untuk kepentingan tata air tanah serta tempat tinggal satwa liar (Gambar 4) (Pemprov DKI 2009).
Gambar 4 Lokasi penelitian hutan kota Arboretum Cibubur
Hutan Kota Jakarta Industrial Estat Pulogadung
Hutan kota di kawasan industri Pulau Gadung dikelola oleh PT JIEP, ditetapkan berdasarkan surat persetujuan pengelolanya pada tahun 1988, yang merupakan ruang terbuka hijau penyangga kawasan industri dan merupakan daerah resapan air. Wilayah hutan kota ini diperbaharui dengan SK Gubernur Nomor 870/2004 (Pemprov DKI 2009).
Secara geografis hutan kota ini terletak pada 6˚51’23” LS dan 106˚49’ 32” BT, secara administrasi pemerintahan wilayah ini termasuk Jakarta Timur, Kecamatan Cakung, Kelurahan Rawa Terate. Konfigurasi lapang kawasan ini terdiri dari hamparan dataran rendah dengan ketinggian tempat kurang lebih 7,4 meter dpl. Kawasan hutan ini dibangun pada bagian tengah kawasan industri, yang merupakan satu kesatuan ekosistem daratan dengan situ-situ yang ada disekitarnya. Pada kawasan ini terdapat situ yang mampu menampung air kurang
10
lebih 235 juta m2dengan kedalaman rata-rata 4,5 m. Kawasan hutan ini memiliki fungsi utama sebagai daerah penampung air limpahan dari wilayah sekitarnya, selain itu berfungsi juga sebagai kawasan penyangga lingkungan fisik kawasan industri (Gambar 5). Industri yang ada di sekitar hutan kota PT JIEP antara lain industri cat tembok, lem, otomotif, kimia, makanan, minumn dan, keramik.
Gambar 5 Lokasi penelitian hutan kota PT JIEP Bahan dan Alat
Peralatan yang digunakan berupa peralatan lapangan untuk kegiatan analisis vegetasi, pengukuran data lingkungan dan koleksi spesimen herbarium. Bahan yang digunakan berupa spesimen segar dan herbarium dari vegetasi di dalam plot dan di sekitar plot penelitian.
Prosedur Analisis Vegetasi
Survey pendahuluan dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai keberadaan tumbuhan paku di lokasi penelitian. Analisis vegetasi dilakukan dengan cara purposive samplingdengan metode kuadrat (Partomihardjo dan Rahayoe 2004). Pada masing-masing areal penelitian dibuat jalur transek sepanjang kurang lebih 200 m, secara acak, sebanyak tiga jalur pada tiap-tiap hutan kota. Pada masing-masing jalur dibuat plot cuplikan ukuran (3 x 3) m² pada setiap interval 10 m secara berseling sehingga setiap transek mempunyai 15 plot pengamatan (Gambar 6). Data yang dicatat pada setiap plot adalah jumlah jenis, persentase tutupan secara visual, dan frekuensi ditemukan suatu jenis, demikian juga untuk tumbuhan bukan paku. Data-data pendukung lain yang dicatat adalah habitat, habitus, warna daun sewaktu masih segar, dan letak spora.
11 3 m 3m 10 m Jalur transek 20 m Jalur transek
Gambar 6 Desain plot analisis vegetasi ukuran (3 x 3) m²
Pada setiap plot analisis vegetasi dilakukan pengukuran faktor lingkungan berupa persentase tutupan kanopi dengan menggunakan concave densiometer, intensitas cahaya pada lantai hutan yang di ukur dengan menggunakan light meter, suhu dan kelembaban diukur dengan menggunakan thermohigrometer. Pengukuran suhu dilakukan pagi dan siang hari. Posisi dan ketinggian tempat dari permukaan laut tertera pada global positioning system (GPS). Data suhu dan curah hujan rata-rata, secara umum yang digunakan berdasarkan data dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) DKI Jakarta. pH tanah diukur menggunakan pH meter dan analisis struktur dan kimia tanah dilakukan di Laboratorium Kimia Tanah, Balai Penelitian Tanah, Bogor.
Tumbuhan paku yang ada di dalam plot diidentifikasi berdasarkan beberapa buku untuk identifikasi tumbuhan paku (Sastrapraja et al. 1979; Sastrapraja dan Afriastini 1985; Piggot 1988; Andrews 1990 serta Winter dan Amoroso 2003). Spesimen herbarium yang belum teridentifikasi diidentifikasi di Herbarium Bogoriense (BO), Cibinong, Bogor. Ciri-ciri morfologi lain juga diamati seperti bentuk, struktur dan ukuran daun; penyebaran dan bentuk sori. Dari pengamatan ini dibuat kunci identifikasi untuk marga dan jenis.
Analisis Data
Data tumbuhan paku yang diperoleh dari hasil pengamatan dianalisis untuk memperoleh nilai kerapatan relatif (KR), frekuensi relatif (FR) dan dominansi relatif (DR). Indeks nilai penting (INP) merupakan penjumlahan dari nilai KR, FR, dan DR dari suatu jenis tumbuhan paku yang dihitung menggunakan formulasi sebagai berikut (Soerianegara dan Indrawan 1988): Kerapatan relatif (KR) = Kerapatan suatu jenis x 100%
Kerapatan seluruh jenis Frekuensi relatif (FR) = Frekuensi suatu jenis x 100%
12
Dominansi relatif (DR) = Dominasi suatu jenis x 100% Dominasi seluruh jenis
Kerapatan, frekuensi dan dominansi relatif merupakan hasil perhitungan kerapatan, kehadiran dan penutupan tumbuhan paku terestrial di dalam plot pengamatan. Kesamaan komposisi jenis tumbuhan paku antara tiga hutan kota digambarkan dengan perhitungan indeks kesamaan jenis (IS) dengan rumus sebagai berikut (Cox 1996):
Dimana :
IS= Indeks kesamaan komposisi jenis
A = Jumlah jenis pada masing-masing lokasi A B = Jumlah jenih pada masing-masing lokasi B
C = Jumlah jenis yang sama pada lokasi penelitian yang dibandingkan
Tingkat keanekaragaman jenis tumbuhan paku digambarkan dengan indeks keanekaragaman dan indeks kemerataan. Keanekaragaman jenis dihitung berdasarkan indeks Shannon (H') dengan rumus sebagai berikut (Ludwig dan Reynolds 1988):
H' = -∑ [ ni/N] ln [ni/N] H' : indeks keanekaragaman Shannon
ni : jumlah individu jenis ke-i
N : total jumlah individu semua jenis yang ditemukan.
Magurran (1988) menyatakan jika indeks keanekaragaman (H’) <1.5 menunjukkan keanekaragaman rendah; 1.5<H’<3.5 menunjukkan keanekaragaman yang sedang dan, jika H’ > 3.5 menunjukkan keanekaragaman yang tinggi. Untuk melihat apakah terdapat dominasi jenis pada lokasi penelitian maka dilakukan perhitungan nilai ekuitabilitas atau indeks kemerataan (Evenness Index/E) dengan rumus:
E = H’/Hmax = H’/Ln S. S : jumlah jenis.
Nilai E berkisar antara 0 – 1, jika nilai E mendekati nol (0) menunjukkan kemerataan yang rendah sebaliknya jika nilai E mendekati satu (1) menunjukkan kemerataan yang tinggi.
13
Pengaruh faktor-faktor lingkungan terhadap keberadaan tumbuhan paku dianalisis dengan menggunakan metode Canonical correspondence analysis
(CCA), menggunakan Software PAST 2.16 (Hammer et al. 2001). Analisis dilakukan untuk melihat korelasi hubungan antara jenis-jenis tumbuhan paku dengan faktor-faktor abiotik yang meliputi suhu, pH tanah, kelembaban dan intensitas cahaya, dengan keluaran berupa ordinasi. Jarak antara titik-titik yang melambangkan jenis tumbuhan paku pada ordinasi menunjukan jarak kesamaan atau ketidaksamaan antar jenis (Braak 1986; Legendre dan Legendre 1998; Kurniawan dan Parikesit 2008).
HASIL
Karakteristik Tumbuhan Paku Variasi habitus dan rhizoma
Berdasarkan habitat tumbuhan paku di hutan kota yang diteliti, ditemukan dua macam tumbuhan paku yaitu paku epifit dan terestrial (Gambar 7). Paku epifit terdiri dari 4 marga yaitu Pyrrosia, Drynaria, Asplenium dan Vittaria sedangkan 18 paku lainnya adalah paku terestrial.
Semua habitus tumbuhan paku yang epifit maupun terestrial adalah herba, namun bervariasi, dalam tipe pertumbuhannya. Tumbuhan paku terestrial mempunyai rhizoma yang tegak, menjalar atau memanjat. Rhizoma yang menjalar tumbuh di permukaan tanah atau membentuk belukar seperti pada suku
Gleicheniaceae. Pada tumbuhan paku yang mempunyai bentuk rhizoma yang menjalar dan memanjat, daun akan tumbuh pada bagian atas dari rhizoma sedang akarnya akan tumbuh di bagian bawahnya. Stipe dan rachis memanjat ke tajuk pohon kecil seperti pada Schizeaceae. Rhizoma yang tegak umumnya bercabang, kokoh dan berkayu dengan daun membentuk roset di bagian terminal seperti pada suku Thelypteridaceaedan Adiantaceae.
Gambar 7 Habitat tumbuhan paku: terestrial (a) dan epifit (b)
b a
14
Variasi daun
Daun tumbuhan paku di hutan kota bervariasi dalam ukuran, bentuk daun fertil dan steril, bentuk daun pertama dan seterusnya, dan bentuk daun steril. Berdasarkan ukuran daun spesimen hasil penelitian ditemukan dua macam daun tumbuhan paku yaitu microphyl (Selaginella) (Gambar 8) dan yang lain
megaphyl. Berdasarkan perbedaan bentuk daun steril dan fertil ditemukan daun yang monomorphic dan dimorphic(Gambar 9). Daun yangdimorphic ditemukan hanya satu jenis yaitu Pteris ensiformis, sedang jenis yang lain memiliki daun
monomorphic, namun bentuk daun bervariasi dari bentuk tunggal, majemuk menyirip dan majemuk menyirip ganda (Gambar 10). Selain itu anak daunnya juga bervariasi pada bentuk dan tepi lamina. Bentuk anak daun bervariasi dari linier, elips, dan lanset. Tepi anak daun bervariasi mulai dari satu lekukan atau beberapa lekukan .
Gambar 8 Microphylpada Selaginella
Gambar 9 Variasi daun: monomorphyc(a); dimorphyc(b): 1. daun fertil, 2. daun steril
b a
1
15
Gambar 10 Variasi daunmonomorphyc: pinnate (a); tri-pinnate (b); pinnae (tanda panah)
Variasi kumpulan sporangium
Letak dan susunan sori atau sporangium pada daun sangat penting untuk identifikasi marga tumbuhan paku. Dari hasil pengamatan spesimen hasil penelitian diketahui ada 6 perbedaan letak dan susunan sori (Gambar 11) yaitu:
1. Sporangium terletak pada ujung daun, membentuk organ yang disebut strobilus, seperti pada marga Selaginella.
2. Sori beralur longitudinal (membujur) pada bagian tepi seolah-olah menutupi tepi misalnya pada Vittaria, Pteris.
3. Sori terletak disepanjang peruratan daun diantara costa dan tepi daun. Contohnya marga Taenitis, Asplenium, dan Pyrrosia.
4. Sori membulat atau lonjong menyebar pada peruratan daun dengan atau tanpa indusium. Marga yang termasuk disini adalah: Christella, Dicranopteris, Pleocnomia danSphaerostephanos.
5. Sori membulat atau lonjong, terletak dibagian ujung pada peruratan bebas dekat tepi daun. Marga yang termasuk di dalam ini yaitu Nephrolepis, Microlepiadan Adiantum.
6. Anak daun fertil menghasilkan sporangia yang menyebar dari tepi daun pada ujung pertulangan. Sporangia pada dua baris dilindungi oleh indusia contohnya Lygodium.
16
Gambar 11 Variasi sori : strobili (a); seolah-olah menutupi tepi daun (b); di sepanjang urat daun diantara costa dan tepi daun (c); membulat atau memanjang pada peruratan daun (d); membulat atau memanjang di tepi daun (e); menyebar dari tepi daun pada ujung pertulangan (f).
Deskripsi dan kunci identifikasi
AdiantumLinnaeus
Rhizoma pendek, tegak atau menjalar pendek dengan sisik berwarna coklat tua atau gelap. Tangkai daun berwarna hitam, berbulu atau mengkilap dan langsing. Daun majemuk menyirip ganjil, percabangan dikhotom, bentuk jajaran genjang, dengan tepi berlekuk. Sori di bawah permukaan daun terletak pada lekukan tepi daun berbentuk setengah lingkaran atau ginjal, dengan indusia palsu. Kunci identifikasi jenis:
a. Anak daun jajaran genjang, majemuk menyirip ganjil ……... A. diaphanum
b. Anak daun bulat telur, majemuk menyirip genap …………... A. aethiopicum Amphineuron Holttum
Rhizoma ramping, merayap, bercabang, bersisik, berwarna coklat kehitaman. Tangkai daun berambut halus, bersisik pada pangkalnya. Daun majemuk menyirip, anak daun berlekuk, anak daun bagian bawah tereduksi, seringkali berukuran sangat kecil. Sori bulat dengan indusia berbentuk ginjal, terletak pada ujung tulang daun bagian, seringkali dengan rambut-rambut
pendek, spora berwarna gelap ….……….A. terminans
a c
d e f
17
ChristellaLeveille
Rhizoma pendek menjalar, hampir selalu ditutupi oleh sisik tipis. Daun majemuk menyirip, anak daun jorong, berlekuk dangkal sepertiga urat daun, seluruh permukaan bawah daun tertutup oleh rambut. Sori bulat, indusia berambut, bentuk ginjal, menyebar pada peruratan daun …..…..C. subpubescens
Dicranopteris Bernhardi
Rhizoma panjang, menjalar, tertutup sisik berwarna coklat. Tangkai daun dikhotom, bagian pangkal tertutup sisik, warna kehitaman. Anak daun bentuk lanset, menyirip. Sori terletak pada peruratan daun, tersusun 10 - 14 sporangia tanpa indusia. Stipula panjang 1 cm terletak pada dasar cabang pertama
………. …… ………...D. linearis
LygodiumSwartz
Rhizoma panjang, bercabang, diameter 2 mm, bagian ujung bersisik. Anak daun terbagi dalam hampir mencapai pangkal. Daun steril secara teratur berlekuk atau bergerigi, daun fertil sering kali sempit atau lebih kecil dari pada yang steril, tepi berlekuk. Setiap lekukan akan muncul dua deret sporangia, tertutup dengan indusia. Sori keluar di sepanjang tepi daun.
Kunci identifikasi jenis
a. Anak daun bagian basal tidak menyatu dengan tangkai daun membengkak …
……… ……….. L. flexuosum
b. Anak daun again basal menyatu bentuk segitiga dengan tangkai ramping …..
……….. …..………... L. microphylum
Microlepia Presl
Rhizoma menjalar, daun tripinatus anak daun dengan tepi berlekuk. Sori melingkar pada urat daun dengan indusium. Sori masing-masing satu pada setiap
lekukan anak daun ……… M. speluncae
Nephrolepis Schott
Rhizoma lurus pendek, padat, bercabang. Daun linearis, majemuk menyirip letak anak daun berseling pada rachis utama, tepi berlekuk, ujung meruncing. Daun steril berukuran lebih besar dari yang fertil. Sori dengan indusia, agak membulat, berderet, terletak di atas peruratan tepi daun …………
……….………..………N. falcata
PterisLinnaeus
Rhizoma lurus, ramping, menjalar atau tegak. Tangkai daun bagian pangkal tertutup oleh sisik atau rambut. Helaian daun menyirip. Daun yang steril berukuran lebih pendek terletak di bagian bawah. Helaian daun fertil lebih sempit dari pada yang steril. Anak daun berhadapan atau 5 -8 pasang dengan suatu anak daun pada bagian pucuk, anak daun paling bawah bercabang atau tidak bercabang. Sori linier tersusun sepanjang tepi daun,pada waktu muda dengan indusium palsu.
18
Kunci untuk jenis:
a. Daun dimorphic, anak daun semakin ke ujung memanjang …… P. ensiformis
b. Daun monomorphic, anakdaun semakin keujung memendek ... P. biaurita Pleocnemia(C.Presl)Holttum
Rhizoma pendek, tegak, tertutup sisik yang tipis. Berukuran besar, dapat mencapai 75 cm, helaian anak daun bentuk lanset. Sori bulat, kecil, terletak di bawah permukaan daun, menyebar tidak beraturan tanpa indusium.
Kunci untuk jenis:
a. Daun bagian ujung bertoreh dalam dengan anak daun bagian basal membesar
……… P. conyugata
b. Daun bertoreh dangkal………. P. irregularis
Taenitis Willd.ex Sprengel
Rhizoma menjalar pendek, ujung bersisik rapat, berwarna coklat gelap. Tangkai daun berdekatan. Daun menyirip, helaian daun lanset, ujung runcing, hijau gelap, tekstur kaku. Sori bentuk garis terletak diantara tepi daun dan tulang tengah daun, berwarna coklat kehitaman ………. T. blechnoides
SphaerosthephanosJ.Smith
Caudex(bonggol) tegak dengan sisik tipis. Daun majemuk menyirip, anak daun berlekuk, beberapa anak daun tereduksi di bagian basal, berambut. Sori bulat, berwarna gelap, dengan indusium berwarna coklat, terletak di antar lekukan dancosta.………Sphaerosthephanos sp.
Vegetasi hutan kota
Pada awalnya hutan kota UI ditanami dengan karet dan akasia (komunikasi pribadi). Tanaman karet tersebut ditanam dan dikelola oleh masyarakat yang hasilnya sebagai tambahan penghasilan. Tetapi setelah dikelola oleh Universitas Indonesia sebagian lahan digunakan sebagai tempat pendidikan serta prasarananya dan sisanya digunakan untuk hutan kota. Saat ini tanaman karet yang ada sebagian besar digantikan oleh tumbuhan lain yang sengaja ditanam dalam rangka pembentukan hutan kota. Walaupun demikian semai-semai tumbuhan karet masih ada dan tumbuh bersama dengan tumbuhan jenis baru. Selain karet dan akasia, tumbuhan bawah berupa semai dan anakan pohon yang ditemukan di hutan kota UI berjumlah 89 jenis antara lain saga, microcos, bungur, gadung, daun moreto, suweg dan beringin-beringinan.
Dari seluruh tumbuhan bawah yang diamati di hutan UI terlihat bahwa tumbuhan yang mempunyai INP tertinggi berturut-turut adalah saga pohon) dengan nilai 28.44 %, bunga pagoda (25.89%), bungur (24.76%) dan daun moreto (20.36%). Hutan kota UI juga ditanami dengan pohon jati yang sudah berumur sekitar 4 tahun dengan diameter kurang lebih 5 cm. Pada hutan jati tidak ditemukan tumbuhan paku tetapi lebih banyak dijumpai tumbuhan bawah seperti keladi hias dan rumput-rumputan (Gambar 12). Di hutan kota UI juga ditemukan tumbuhan bawah yang merupakan tanaman hias seperti difenbahagia, singonium, kembang sepatu, keladi hias, aglonema dan hanjuang walaupun dengan INP
19
rendah (Lampiran 4). Pohon akasia yang ada di hutan kota UI ini terlihat batangnya mulai keropos dimakan usia karena tidak ada peremajaan sehingga menyebabkan penutupan tajuk menjadi berkurang.
Gambar 12 Lokasi hutan jati di hutan kota UI
Hutan kota Arboretum Cibubur terbagi menjadi beberapa blok dengan masing-masing blok mewakili tumbuhan hutan alami, seperti tumbuhan hutan hujan tropis, hutan pantai, hutan pegunungan dan hutan dataran rendah dengan jumlah tumbuhan bawah yang ditemukan ada 42 jenis. Tumbuhan yang ditemukan di blok hutan hujan tropis dan hutan dataran rendah antara lain matoa,
saga pohon, meranti, pengarawang, flamboyan. Di blok hutan pegunungan ditemukan pinus, pule, sempur, sedang di blok hutan pantai ditemukan baringtonia, dan pandan. Pada plot yang dibuat melewati hutan
Dipterocarpaceae, seperti meranti dan merawan terdapat serasah yang lebih tebal dibandingkan dengan serasah plot yang lain. Bentuk daun dari anggota suku
Dipterocarpaceaeini umumnya lebar, tebal dengan peruratan yang menonjol, dan lebih sulit terdekomposisi hal ini yang mungkin menyebabkan tidak ditemukan tumbuhan paku. Tumbuhan dengan INP tertinggi yaitu saga pohon (75.62%), drewak (49%) dan pule (36.52%) (Lampiran 5).
Hutan PT JIEP sengaja dibangun di sekitar kawasan industri. Dari hasil pengamatan vegetasi yang ada di hutan kota PT JIEP, dijumpai 53 jenis diantaranya tumbuhan tahunan seperti tanjung, saga pohon, bungur, buni, lamtoro, asam landi, keciat, pohon biola, kordia dan, bintaro. Dalam rangka perluasan dan penambahan jenis-jenis vegetasi hutan PT JIEP, pada tahun 2009 telah ditanam kembali jenis-jenis pohon seperti kenari, mahoni dan jati sehingga terlihat banyak hewan ternak terutama kambing yang sengaja dilepas oleh masyarakat. Hewan ini akan memakan daun tumbuhan yang baru ditanam sehingga mengganggu pertumbuhannya. Di samping itu di tengah hutan kota ada sebuah danau penampungan yang disekitarnya banyak tumbuh semak-semak dan gulma antara lain kangkung-kangkungan, talas, gewor, gamet, sisik betok,
pletekan, dan ilalang. Tumbuhan yang mempunyai INP tinggi adalah pletekan
20
yang lain adalah alang-alang dan jakut pahit dengan INP 12.595% dan 12.559% (Lampiran 6).
Keanekaragaman Tumbuhan Paku
Hasil penelitian yang dilakukan di hutan kota UI dan, Arboretum Cibubur, diketahui ada 18 jenis tumbuhan paku yang termasuk dalam 11 marga dan 8 suku (Lampiran 7). Di Hutan kota UI ditemukan ada 10 marga dengan 14 jenis, sedangkan di Arboretum Cibubur ditemukan 8 marga dengan 11 jenis. Kelompok tumbuhan paku yang paling banyak anggotanya adalah
Thelypteridaceae, terdiri dari 4 marga dengan 6 jenis sedangkan suku yang paling sedikit anggotanya adalah Oleandraceae dan Gleicheniaceae, masing-masing dengan satu jenis. Ada 7 jenis tumbuhan paku yang dijumpai di hutan kota UI dan Arboretum Cibubur yaitu Microlepia speluncae, Microlepia sp., Lygodium microphyllum, L. flexuosum, Pteris ensiformis, Sphaerostephanos sp. dan
Cristella subpubescens. Tumbuhan paku yang hanya dijumpai di hutan kota UI ada 7 jenis yaitu Adiantum ethiopicum, A. diapharum, Taenitis blechnoides, Pteris biaurita, Nephrolepis falcata, Arcypteris irregularis dan Pleocnemia conyugata. Jenis paku yang hanya dijumpai di hutan kota Arboretum Cibubur ada 4 jenis yaitu Taenitis sp., Dicranopteris linearis, Cristella sp. dan
Amphineuron terminans (Tabel 1).
Berbeda dengan hutan kota UI dan Arboretum Cibubur, di hutan kota PT JIEP tidak ditemukan tumbuhan paku dalam plot penelitian tetapi ada satu jenis paku ditemukan di luar plot penelitian yaitu Pteris vittata. Tumbuhan ini tumbuh berasosiasi dengan tumbuhan lain seperti pletekan, lumut dan gendong anak di sepanjang dinding parit yang pecah di sekitar hutan kota PT JIEP. Di hutan kota UI dan Arboretum Cibubur ditemukan juga tumbuhan paku yang dijumpai di luar plot penelitian yaitu Selaginella willdenowii dan Polypodium trilobum(Gambar 13). Dengan demikian jumlah total jenis paku terestrial di kedua hutan ini
Gambar 13 Jenis tumbuhan paku yang ada di luar plot pengamatan UI, Arboretum Cibubur dan PT JIEP : Pteris vittata(a);Polypodium