3.1. Desain
Penelitian ini merupakan suatu uji klinis acak ganda tidak tersamar (open label, Randomized Controlled Trial) untuk menilai perbedaan pemberian glucomannan dengan agar-agar dalam pengobatan konstipasi fungsional pada anak.
3.2.Tempat dan Waktu
Penelitian dilakukan pada Yayasan amal / sosial Al Washliyah yang bertempat di Jalan Pinang Baris / TB. Simatupang no. 67, kecamatan Sunggal - Medan, Sumatera Utara selama empat minggu pada bulan April sampai Mei 2014 setelah mendapat persetujuan dari Komisi Etik Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara atau dari Rumah Sakit H. Adam Malik Medan.
3.3.Populasi dan Sampel
Populasi target adalah penderita konstipasi fungsional usia 7 sampai 16 tahun.
Populasi terjangkau adalah penderita konstipasi fungsional usia 7 sampai 16 tahun yang sedang menjalani pendidikan di Yayasan amal / sosial Al Washliyah di kota Medan selama empat minggu pada bulan April sampai Mei 2014 dan memenuhi kriteria.
Sampel adalah populasi terjangkau yang memenuhi kriteria inklusi.
3.4. Perkiraan besar sampel
Perkiraan besar sampel ditentukan dengan rumus uji hipotesis terhadap 2 proporsi dengan dua kelompok independen dengan rumus : 36
n1 = n2 = (π§π§π§π§οΏ½2ππππ + π§π§π§π§οΏ½ππ1ππ1+ππ2ππ2)2 (P1βP2)2
n : Jumlah subjek
Ξ± : Tingkat kemaknaan , Ξ± = 0,05 ο zΞ± = 1,960 1-Ξ² : Power, Ξ² = 0,2 ο zΞ² = 0,842
P1 : Proporsi efek standar ( dari pustaka )14ο 28 % Q1 : 1 β P1 ο 0,72
P2 : Proporsi efek yang diteliti ( clinical judgement )ο 60 % Q2 : 1 β P2 ο 0,4
P : Β½ (P1 + P2) = Β½ (0,28 + 0,6) = 0,44 Q : 1 β P ο 0,56
Pada penelitian ini didapatkan proporsi efek standar pada kelompok yang mendapat glucomannan 28% (0,28) dan proporsi efek pada kelompok yang diteliti mendapat glucomannan dan agar-agar 60% (0,6), dikehendaki interval kepercayaan 95% dan power sebesar 80% maka jumlah subjek dapat dihitung sebagai berikut :
n1 = n2 = (1,96β2.0,44.0,56 + 0,842οΏ½0,28.0,72+0,6.0,4)2 (0,28β0,6)2
= 36,4 = 36
Dengan menggunakan rumus diatas didapat jumlah sampel untuk tiap-tiap kelompok adalah 36 orang.
3.5. Kriteria Inklusi dan Ekslusi Kriteria Inklusi
1. Penderita konstipasi fungsional berusia 7 sampai 16 tahun yang berada di Yayasan amal / sosial Al Washliyah di Kota Medan, Sumatera Utara.
2. Tidak mempunyai kelainan organik berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Kriteria Ekslusi
1. Mengunakan obat-obatan neurally actings agents seperti clonidine, phenytoin, diphenhydramine, diuretics, Ξ²-blockers, loperamid, dan efedrine yang efek sampingnya dapat menyebabkan konstipasi.
2. Sedang minum obat pencahar seperti golongan osmotik (laktulosa, sorbitol, ekstrak barley, magnesium hidroksida, magnesium sitrat dan Polyethylen glycol 3350 / PEG 3350, golongan stimulant (Senna, bisacodyl), golongan enema (enema fosfat), dan golongan lubrikan (minyak mineral).
3.6. Persetujuan Setelah Penjelasan ( Informed Consent )
Semua subyek penelitian diminta persetujuan dari orang tua atau wali masing-masing setelah dilakukan penjelasan terlebih dahulu untuk pemberian glucomannan dengan dan tanpa agar-agar.
3.7. Etika Penelitian
Penelitian ini disetujui oleh Komite Etika Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
3.8. Cara Kerja dan Alur Penelitian 3.8.1. Cara Kerja
β’ Setelah mendapat persetujuan dari orang tua masing-masing, penderita yang telah memenuhi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi dimasukkan dalam penelitian.
β’ Dilakukan anamnesis berupa keluhan utama, keluhan penyerta, perjalanan penyakit dan pengobatan yang telah diberikan, dilakukan penimbangan berat badan dengan menggunakan timbangan anak dan pengukuran tinggi badan menggunakan mikrotois yang dicatat dalam formulir penelitian.
β’ Dilakukan pemeriksaan fisik untuk menilai tidak dijumpai kelainan organik.
β’ Sampel dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok yang mendapat glucommanan saja dan kelompok yang mendapat glucomannan dan agar-agar, kemudian dilakukan randomisasi sederhana dengan menggunakan tabel angka random. (tabel terlampir).
β’ Kelompok pertama (A) mendapat glucomannan (menggunakan produk dari Swanson, United State of America (USA). Tiap kapsul berisi 700mg serat glucomannan dari 100% akar konjak) diberikan dengan dosis 100 mg/kg beratbadan/hari (maksimum 5 gram/hari) setiap hari selama empat minggu, kapsul berisi glucomannan dapat diminum atau dibuka dan bubuk (sprinkle) ditabur dalam 50 cc cairan tiap 500 mg glucomannan.
β’ Kelompok kedua (B) mendapat glucomannan dan agar-agar.
Glucomannan (menggunakan produk dari Swanson, USA. Tiap
kapsul berisi 700mg serat glucomannan dari 100% akar konjak) diberikan 100 mg/kgberatbadan/hari (maksimum 5 gram/hari), kapsul berisi glucomannan dapat diminum atau dibuka dan bubuk (sprinkle) di tabur dalam 50 cc cairan tiap 500 mg glucomannan. Agar-agar (menggunakan produk dari PT. Bola Dunia Walet, Double Swallow Sun, tiap bungkus berisi agar agar powder 7gram dan mengandung fiber (serat) 6gram tiap bungkus) diberikan dengan formula usia dalam tahun ditambah 5 gram/hari dengan maksimum usia dalam tahun ditambah 10 gram/hari yang diberikan setiap hari selama empat minggu.
β’ Glucomannan diberikan dengan cara diminum dalam bentuk kapsul atau kapsul dibuka kemudian bubuk (sprinkle) dicampur dengan 50 cc cairan tiap 500 mg glucomannan dengan rasa yang disukai anak.
Agar-agar diberikan dalam bentuk makanan yang sudah dimasak yang dikemas dalam wadah plastik. Pasien dan peneliti mengetahui obat yang diberikan.
β’ Dipantau setiap hari untuk menilai adanya konstipasi berulang baik dari frekuensi dan konsistensi tinja.
β’ Masing-masing sampel dibantu menulis catatan harian yang telah diberikan untuk mencatat frekuensi dan konsistensi tinja tiap hari pada minggu kedua dan keempat, konsistensi tinja dinilai berdasarkan gambar bristol stool chart (gambar terlampir).22
β’ Evaluasi dilakukan pada minggu kedua dan keempat untuk melihat frekuensi dan konsistensi tinja, serta evaluasi efek samping yang timbul dengan catatan harian.
3.8.2. Alur Penelitian
Sampel terpilih yang memenuhi kriteria inklusi dan setuju mengikuti penelitian
Peranan obat setelah 4 minggu
β’ Minggu kedua :
Peranan obat setelah 4 minggu
β’ Minggu kedua :
Variabel Tergantung Skala
Frekuensi Numerik
Konsistensi Ordinal
3.10. Definisi Operasional
1. Konstipasi fungsional merupakan kesulitan defekasi lebih dari Dua minggu dimana tidak dijumpai kelainan organik atau anatomi, tidak dipengaruhi obat-obatan sebelumnya dan sesuai kriteria ROME III.1,4,7,24,25
2. Kelainan organik adalah kelainan yang diakibatkan penyebab organik pada bayi dan anak seperti penyakit Hirschprungβs, pseudo-obstruksi, kelainan medulla spinalis (tethetred cord, tumor medulla spinalis, myelomeningocele), hipotiroidisme, diabetes insipidus, kista fibrosis, gluten enteropati dan malformasi kongenital anorektal (anus imperforate, stenosis anal, anteriorly displaced anus).3,9
3. Golongan obat neurally actings agents yaitu golongan obat-obatan yang kerjanya mempengaruhi persarafan seperti obat clonidine, phenytoin, diphenhydramine, diuretics, Ξ²-blockers, loperamid, dan efedrine yang efek sampingnya dapat menyebabkan konstipasi.6
4. Laksatif atau pencahar adalah obat yang diberikan untuk evakuasi feses (disimpaction), seperti golongan osmotik (laktulosa, sorbitol, ekstrak barley, magnesium hidroksida, magnesium sitrat dan Polyethylen glycol 3350 / PEG 3350, golongan stimulant (Senna, bisacodyl), golongan enema (enema fosfat), dan golongan lubrikan (minyak mineral).5,22
5. Glucomannan merupakan suplemen serat dalam bentuk kapsul dan telah diakui oleh The Food and Drug Administration (FDA) dan pemberian
kapsul glucomannan dosis 100 mg/kgberatbadan/hari (maksimum 5 gram/hari) setiap hari selama empat minggu.14,26,33 Dosis glucomannan untuk laksatif adalah 3000 mg sampai 4000 mg (3 gram sampai 4 gram) setiap hari.17 Glucomannan yang diberikan menggunakan produk dari Swanson, USA. Tiap kapsul berisi 700mg serat glucomannan dari 100%
akar konjak.
6. Agar-agar dikenal dengan berbagai sebutan seperti agar, gum agar, bacto-agar, bengal gelatin, japan agar, kanten dan caragennan.Agar-agar merupakan serat alamiah berwarna putih dan sedikit translucent yang berasal dari rumput laut (seaweed) jenis alga merah (red algae) golongan Rhodophyta.19,20 Agar agar yang diberikan menggunakan produk dari PT.
Bola Dunia Walet, Double Swallow Sun, tiap bungkus berisi agar agar powder 7gram dan mengandung fiber (serat) 6gram tiap bungkusnya.
7. Dosis kebutuhan agar-agar disesuaikan dengan rekomendasi asupan serat menurut American Academy of Pediatric Committee on Nutrition (AAPCN), diet serat yang direkomendasikan pada anak-anak sekitar 0.5 gram/kgberatbadan setiap hari, sedangkan menurut American Health Foundation (AHF) merekomendasikan untuk anak usia di atas 2 tahun minimal diberi diet serat dengan formula usia dalam tahun ditambah 5 gram/hari dan maksimal usia dalam tahun ditambah 10 gram/hari.1,26 8. Frekuensi konstipasi dicatat sesuai dengan jumlah konstipasi yang
dialami.
9. Konsistensi tinja dicatat sesuai dengan bentuk tinja yang dialami dinilai berdasarkan gambar Bristol stool chart (gambar terlampir).24
10. Evaluasi dilakukan penilaian terhadap frekuensi dan konsistensi tinja sebelum pengobatan dan sesudah pengobatan pada minggu kedua dan keempat.
3.11. Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan data dilakukan dengan perangkat lunak komputer dengan tingkat kemaknaan P < 0.05 dan interval kepercayaan 95%. Uji-t independen digunakan untuk menganalisa frekuensi tinja (skala numerik) dan uji Chi Square (X2)digunakan untuk menganalisa konsistensi tinja (skala nominal) pada anak dengan konstipasi fungsional.
BAB 4