• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Penelitian

Dalam dokumen TESIS. Oleh. ISABELLA BANGUN /M.Kn (Halaman 37-0)

BAB I PENDAHULUAN

G. Metode Penelitian

1. Jenis dan Sifat Penelitian

Jenis penelitian ini adalah yuridis normatif dan empiris, yaitu penelitian yang dititikberatkan untuk mengkaji penerapan kaidah-kaidah atau norma-norma hukum positif dan didukung dari wawancara terhadap narasumber. “Penelitian hukum yuridis normatif dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau sekunder”.32 Dalam penelitian ini, penelitian hukum yuridis normatif bertujuan untuk menganalisis peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang jaminan debitur yang pada saat akan di eksekusi ternyata bersertipikat tumpang tindih.

“Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu suatu penelitian yang dimaksudkan untuk memberikan data yang seteliti mungkin tentang manusia, keadaan atau gejala-gejala lainnya”.33 Oleh karena tipe penelitian yang akan digunakan adalah tipe penelitian yuridis normatif, maka pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan terhadap perundang-undangan (statute approach). Pendekatan perundang-undangan dilakukan untuk meneliti aturan-aturan yang penormaannya berlaku sertifikat ganda terutama dalam masalah jaminan kepada bank.

2. Sumber Data

“Data adalah gejala-gejala yang dihadapi, yang ingin diungkapkan kebenarannya. Gejala-gejala ini merupakan data yang diteliti sedangkan hasilnya juga

31Undang-Undang tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda Yang Berkaitan Dengan Tanah, UU Nomor 4 tahun 1996, pasal 1 angka 3.

32Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Op.cit, hal.13.

33Soerjono Soekanto, Op.cit, hal.10.

dinamakan data”.34 Data dalam penelitian ini diperoleh melalui data sekunder yaitu data yang dikumpulkan melalui studi dokumen terhadap bahan kepustakaan dan didukung data dari narasumber. Di dalam penelitian hukum, data sekunder mencakup:

a. Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat dari sudut norma dasar peraturan dasar dan peraturan perundang-undangan. Adapun peraturan perundang-undangan yang dimaksud yaitu:

1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria.

2. Peraturan Pemerintah nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.

3. Peraturan Menteri Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 9 tahun 1999 tentang Tata Cara Pemberian danPembatalan Hak Atas Tanah dan Hak Pengelolaan.

b. Bahan hukum sekunder, yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer seperti rancangan undang-undang, hasil-hasil penelitian, hasil karya dari kalangan hukum tentang hukum agraria.

c. Bahan hukum tersier, yakni bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder misalnya kamus, ensiklopedia, dan seterusnya.

d. Data pendukung dari narasumber yakni wawancara dengan Bapak Agus Setiawan, SH, MH., Hakim di Pengadilan Negeri Medan pada tanggal 12 Juli

34Ibid, hal.7.

2013 pukul 09.00 WIB dan wawancara dengan Bapak Kaharuddin, SH., Kepala Tata Usaha Kantor Pertanahan Medan pada tanggal 23 Juli 2013 pukul 13.00 WIB

3. Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dlakukan dengan cara penelitian kepustakaan (library research). Alat pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan studi dokumen. Untuk memperoleh data sekunder dengan membaca, mempelajari, meneliti, mengidentifikasi dan menganalisa data sekunder yang berkaitan dengan penelitian, studi dokumen yang dimaksud dalam penelitian ini.

4. Analisis Data

“Analisis data merupakan suatu proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satu uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan suatu hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data”.35

Sebelum analisis dilakukan, terlebih dahulu diadakan pemeriksaan dan evaluasi terhadap semua data yang telah dikumpulkan (primer, sekunder maupun tersier), untuk mengetahui validitasnya. Setelah itu keseluruhan data tersebut akan disitematisasikan sehingga menghasilkan klasifikasi yang selaras dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini dengan tujuan untuk memperoleh jawaban yang baik pula.36

Adapun sumber data yang berupa bahan hukum yang diperoleh dari studi kepustakaan, aturan perundang-undangan dan artikel dimaksud diuraikan dan dihubungkan sedemikian rupa, sehingga disajikan dalam penulisan yang lebih sistematis. “Analisis data akan dilakukan dengan pendekatan kualitatif karena

35 Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kumulatif, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2002, hal.101.

36 Bambang Sunggono, Metode Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002, hal.106.

penelitian ini akan berupaya untuk memaparkan sekaligus melakukan analisis tehadap permasalahan yang ada dengan kalimat yang sistematis untuk memperoleh kesimpulan jawaban yang jelas dan benar”.37

Analisis data yang digunakan dalam penelitian tesis ini adalah analisis data kualitatif yaitu analisis data yang tidak mempergunakan angka-angka tetapi berdasarkan atas peraturan perundang-undangan, pandangan-pandangan para ahli hukum hingga dapat menjawab permasalahan dari penulisan tesis ini. Semua data yang diperoleh disusun secara sistematis, diolah dan diteliti serta dievaluasi. Oleh karena itu, data yang telah dikumpulkan kemudian diolah, dianalisis secara kualitatif dan diterjemahkan secara logis sistematis untuk selanjutnya ditarik kesimpulan dengan menggunakan metode pendekatan deduktif yaitu pemikiran yang dimulai dari hal-hal yang umum untuk selanjutnya mengambil hal-hal yang khusus sebagai kesimpulan dari permasalahan dan tujuan penelitian ini. Kesimpulan merupakan jawaban khusus atas permasalahan yang diteliti, sehingga diharapkan akan memberikan solusi atas permasalahan dalam penelitian ini.

37Soerjono Soekanto, Op.cit, hal.69.

BAB II

FAKTOR-FAKTOR TERJADINYA SERTIPIKAT TUMPANG TINDIH

A. Pendaftaran Tanah

1. Pengertian Pendaftaran Tanah

Pendaftaran berasal dari kata Cadastre (bahasa Belanda Kadaster) yaitu suatu istilah teknis untuk suatu record (rekaman), yang menunjukan kepada luas, nilai dan kepemilikan (atau lain-lain alas hak) terhadap suatu bidang tanah. Dengan demikian cadastre merupakan alat yang tepat untuk memberikan uraian dan identifikasi dari lahan dan juga sebagai continuous recording (rekaman yang berkesinambungan) daripada hak atas tanah.38Pendaftaran tanah itu adalah merupakan rekaman data fisik dan data yuridis yang dibuat dalam bentuk peta dan daftar bidang-bidang tanah tertentu, yang dilaksanakan secara objektif dan itikad baik oleh pelaksana daministrasi Negara.39

Pengertian pendaftaran tanah menurut Boedi Harsono adalah

Pendaftaran tanah merupakan suatu rangkaian kegiatan, yang dilakukan oleh Negara/Pemerintah secara terus menerus dan teratur, berupa pengumpulan keterangan atau data tertentu mengenai tanah-tanah tertentu yang ada di wilayah-wilayah tertentu, pengolahan, penyimpanan dan penyajiannya bagi kepentingan rakyat, dalam rangka memberikan jaminan kepastian hukum di bidang pertanahan, termasuk penerbitan tanda buktinya dan pemeliharaannya.40

38 A.P. Parlindungan, Pendaftaran Tanah di Indonesia, CV. Mandar Maju, Bandung, 1996, hal 18-19.

39 Syafruddin Kalo, Kebijakan Kriminalisasi Dalam Pendaftaran Hak-Hak Atas Tanah di Indonesia Suatu Pemikiran, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Dalam Bidang Ilmu Hukum Agraria Pada Fakultas Hukum, Diucapkan Di Hadapan Rapat Terbuka Universitas Sumatera Utara, Gelanggang Mahasiswa Kampus USU, 2 September 2006, Medan, hal 8.

40Boedi Harsono, Op.cit., hal 72.

Pendaftaran tanah merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah yang meliputi pengumpulan data fisik dan data yuridis tanah yang bersangkutan dan dibuat dalam bentuk peta dan daftar mengenai bidang-bidang tanah dan pemberian surat tanda bukti hak atas tanah kepada pemilik tanah tersebut.

Ketentuan pendaftaran tanah di Indonesia diatur dalam UUPA Pasal 19, yang dilaksanakan dengan Peraturan Pemerintah No.10 Tahun 1961 dan kemudian diganti dengan Peraturan Pemerintah No.24 Tahun 1997 yang berlaku efektif sejak tanggal 8 Oktober 1997.

Dalam PP No.24 Tahun 1997, yang dimaksud dengan Pendaftaran tanah adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah secara terus-menerus, berkesinambungan dan teratur, meliputi pengumpulan, pengolahan, pembukuan, dan penyajian serta pemeliharaan data fisik dan data yuridis, dalam bentuk peta dan daftar, mengenai bidang-bidang tanah dan satuan-satuan rumah susun, termasuk pemberian surat tanda bukti haknya bagi bidang-bidang tanah yang sudah ada haknya dan Hak Milik atas satuan rumah susun serta hak-hak tertentu yang membebaninya.41 2. Obyek Pendaftaran Tanah

Yang menjadi obyek pandaftaran tanah adalah : 1. Obyek pendaftaran tanah meliputi:

a. Bidang-bidang tanah yang dipunyai dengan hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan dan hak pakai;

b. Tanah hak pengelolaan;

c. Tanah wakaf;

d. Hak milik atas satuan rumah susun;

e. Hak tanggungan;

f. Tanah Negara;

2. Dalam hal tanah Negara sebagai objek pendaftaran tanah, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f, pendaftarannya dilakukan dengan cara membukukan bidang tanah yang merupakan tanah Negara dalam daftar tanah.42

41Pasal 1 angka 1 PP No.24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.

42Pasal 9 PP No.24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.

Semua hak-hak atas tanah yang tercantum pada ayat (1) di atas dengan membukukan tanah tersebut di Kantor Pertanahan akan diterbitkan sertipikat hak atas tanahnya yang merupakan salinan dari buku tanah. Sertipikat yang diterbitkan tersebut diserahkan kepada yang berhak sebagai alat bukti haknya. Sedangkan tanah Negara tidak diterbitkan sertipikat.

3. Tujuan Pendaftaran Tanah

Ketentuan pendaftaran tanah di Indonesia diatur dalam UUPA Pasal 19, yang dilaksanakan dengan Peraturan Pemerintah No.10 Tahun 1961 kemudian diganti dengan Peraturan Pemerintah No.24 Tahun 1997 yang berlaku efektif sejak tanggal 8 Oktober 1997. Kedua Peraturan Pemerintah ini merupakan bentuk pelaksanaan pendaftaran tanah yang bertujuan memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum kepada pemegang hak atas tanah, dengan alat bukti yang dihasilkan pada akhir proses pendaftaran tanah tersebut yang berupa Buku Tanah dan Sertipikat Tanah yang terdiri dari Salinan Buku Tanah dan Surat Ukur. Sertipikat merupakan alat pembuktian yang kuat dan bukan merupakan tanda bukti yang mutlak. Hal ini berarti keterangan-keterangan yang tercantum di dalamnya mempunyai kekuatan hukum dan harus diterima sebagai keterangan yang benar selama dan sepanjang tidak ada alat pembuktian yang membuktikan sebaliknya.43

Tujuan pendaftaran tanah dalam PP No.24 Tahun 1997 tetap mempertahankan tujuan diselenggarakan pendaftaran tanah seperti yang sudah ditetapkan dalam Pasal

43Arie S.Hutagalung, “Penerapan Lembaga Rechtsverweking untuk Mengatasi Kelemahan Sistem Publikasi Negatif Dalam Pendaftaran Tanah”, Hukum dan Pembangunan No.4 (Oktober-Desember 2000), hal 328.

19 UUPA, yaitu bahwa pendaftaran tanah diselenggarakan dalam rangka menjamin kepastian hukum di bidang pertanahan (suatu recht kadaster atau legal cadaster).44 Sedangkan menurut Menurut Djoko Prakoso dan Budiman Adi Purwanto tujuan daripada pendaftaran tanah itu adalah sebagai berikut:

1. Memberikan Kepastian Obyek

Kepastian mengenai bidang teknis, yaitu kepastian mengenai letak, luas dan batas-batas tanah yang bersangkutan, hal ini diperlukan untuk menghindari sengketa di kemudian hari baik dengan pihak yang menyerahkan maupun dengan pihak-pihak yang siapa yang berhak atasnya/siapa yang mempunyai dan ada atau tidaknya hak-hak dan kepentingan pihak lain (pihak ketiga).

Kepastian mengenai status hukum dari tanah yang bersangkutan diperlukan karena dikenal tanah-tanah dengan berbagai status hukum yang masing-masing memberikan wewenang dan meletakkan kewajiban-kewajiban yang berlainan kepada pihak-pihak yang mempunyai hal mana akan berpengaruh pada harga tanah.

2. Memberikan Kepastian Hak

Ditinjau dari segi yuridis mengenai status hukumnya, siapa yang berhak atasnya (siapa yang mempunyai) dan ada atau tidaknya hak-hak dan kepentingan pihak lain (pihak ketiga). Kepastian mengenai status hukum dari tanah yang bersangkutan diperlukan karena dikenal tanah dengan berbagai status hukum yang masing-masing memberikan wewenang dan meletakkan kewajiban-kewajiban yang berlainan kepada hak-hak yang mempunyai, hal mana akan berpengaruh pada harga tanah.

3. Memberikan Kepastian subyek

Kepastian mengenai siapa yang mempunyai, diperlukan untuk mengetahui dengan siapa kita harus berhubungan untuk dapat melakukan perbuatan-perbuatan hukum secara sah mengenai ada atau tidaknya hak-hak dan kepentingan pihak ketiga. Diperlukan untuk mengetahui perlu atau tidaknya diadakan tindakan-tindakan tertentu untuk menjamin penguasaan dan penggunaan tanah yang bersangkutan secara efektif dan aman.45

Tujuan pendaftaran tanah menurut Boedi Harsono adalah agar kegiatan pendaftaran itu dapat diciptakan suatu keadaan, dimana:

44Boedi Harsono, Op.cit., hal 425.

45Djoko Prakoso dan Budiman Adi Purwanto, Eksistensi Prona sebagai Pelaksanaan Mekanisme Fungsi Agraria, Ghalia Indonesia, Jakarta,1985, hal 21.

a. Orang-orang dan badan-badan hukum yang mempunyai tanah dengan mudah dapat membuktikan, bahwa merekalah yang berhak atas tanah itu, hak apa yang dipunyai dan tanah manakah yang dihaki. Tujuan ini dicapai dengan memberikan surat tanda bukti hak kepada pemegang hak yang bersangkutan.

b. Siapapun yang memerlukan dapat dengan mudah memperoleh keterangan yang dapat dipercaya mengenai tanah-tanah yang terletak di wilayah pendaftaran yang bersangkutan (baik calon pembeli atau calon kreditor) yang ingin memperoleh kepastian, apakah keterangan yang diberikan kepadanya oleh calon penjual atau debitor itu benar. Tujuan ini dicapai dengan memberikan sifat terbuka bagi umum pada data yang disimpan.46

Adapun secara rinci tujuan pendaftaran tanah yaitu:

a. Untuk memberikan kepastian hokum dan perlindungan hokum kepada pemegang hak atas suatu bidang tanah, satuan rumah susun dan hak-hak lain yang terdaftar agar dengan mudah dapat membuktikan dirinya sebagai pemegang hak yang bersangkutan.

b. Untuk menyediakan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan termasuk pemerintah agar dengan mudah dapat memperoleh data yang diperlukan dalam mengadakan perbuatan hukum mengenai bidang-bidang tanah dan satuan-satuan rumah susun yang sudah terdaftar.

c. Untuk terselenggaranya tertib administrasi pertanahan.47

Pemerintah dalam menyelenggarakan kegiatan pendaftaran tanah dilakukan khusus untuk keperluan administrasi. Data-data yang dibuat bertujuan untuk membantu instansi yang bersangkutan dalam melaksanakan fungsi administrasinya.

Instansi yang berhak melakukan kegiatan pendaftaran tanah hanyalah Badan Pertanahan Nasional atau Kantor Pertanahan. Kegiatan pendaftaran tanah ini selain untuk kepentingan administrasi juga untuk menjamin kepastian hukum yang berkenaan dengan hak atas tanah. Sehingga masyarakat tidak perlu khawatir akan kebenaran data tanah yang dimilikinya terhadap gangguan dari pihak lain sepanjang

46Boedi Harsono, Op.Cit., hal 80-81.

47Pasal 3 PP No.24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.

data tanah tersebut memang sudah sesuai dengan data tanah yang ada pada kantor pertanahan dimana tanah tersebut berada. Dengan demikian, kemajuan pranata hokum bidang pendaftaran tanah ini antara lain terletak pada perluasan tujuan pendaftaran tanah yaitu bukan hanya untuk kepastian hukum, tetapi juga untuk perlindungan hukum bagi para pemiliknya.48 Dan bagi Hak Tanggungan dengan terdaftarnya perikatan tersebut sebagai jaminan Hak Tanggungan akan diperoleh Hak preferen bagi si kreditur dan asas publisitas yang melindungi eksistensi jaminan dari adanya gugatan pihak ketiga.49

Adapun syarat yang dipenuhi agar pendaftaran tanah dapat menjamin kepastian hukum adalah:

a. Tersedianya peta bidang tanah yang merupakan hasil pengukuran secara kadasteral yang dapat dipakai untuk rekonstruksi batas di lapangan dan batas-batasnya merupakan batas yang sah menurut hukum.

b. Tersedianya daftar umum bidang-bidang tanah yang dapat membuktikan pemegang hak yang terdaftar sebagai pemegang hak yang sah menurut hukum.

c. Terpeliharanya daftar umum pendaftaran tanah yang selalu mutakhir, yakni setiap perubahan data mengenai hak atas tanah seperti peralihan hak tercatat dalam daftar umum.50

4. Sistem Pendaftaran Tanah

Dalam sistem pendaftaran tanah dikenal adanya sistem publikasi, yaitu sistem publikasi negatif dan sistem publikasi positif.

48A.P. Parlindungan, Op.ci.t, hal 79.

49 M.Yamin dan Abdul Rahim, Hukum Pendaftaran Tanah, CV. Mandar Maju, Bandung, 2010, hal 167.

50Badan Pertanahan Nasional, Himpunan Karya Tulis Pendaftaran Tanah, Jakarta, 1999, hal 27.

a. Sistem Publikasi Negatif

Maksudnya adalah Negara tidak menjamin kebenaran data yang tercantum dalam dalam sertipikat, sehingga seseorang yang telah tertulis namanya pada sertipikat tersebut belum tentu sebagai pemilik yang mutlak. Data yang disajikan dalam pendaftaran dengan sistem publikasi negatif tidak boleh begitu saja dipercaya kebenarannya. Negara tidak menjamin kebenaran data yang disajikan karena sertipikat sebagai alat bukti yang kuat yang artinya masih dimungkinkan adanya perubahan kalau terjadi kekeliruan. Biarpun sudah melakukan pendaftaran, pembeli selalu masih menghadapi kemungkinan gugatan dari orang yang dapat membuktikan bahwa dialah pemegang hak sebenarnya. Sistem publikasi negatif menggunakan sistem pendaftaran akta (registration of deeds) dimana dalam sistem pendaftaran akta yang didaftar adalah aktanya. Setiap terjadi perubahan atau peralihan seperti jual beli, hibah, warisan dan lain-lain yang didaftarkan hanyalah aktanya dan tidak melihat dan meneliti isi dari akta tersebut. Sedangkan untuk penyajian datanya juga dalam bentuk akta. Akta tersebut disimpan dan disajikan di Kantor Pertanahan. Bentuk penyimpanan dan penyajiannya adalah buku tanah dan sebagai tanda bukti dibuatlah salinan.

b. Sistem Publikasi Positif

Bahwa suatu negara menjamin kebenaran data yang ada dalam alat bukti.

Dengan adanya jaminan tersebut tanda bukti hak merupakan alat bukti yang mutlak. Mutlak dalam hal ini diartikan bahwa alat bukti tersebut tidak bisa

diganggu gugat atau dilakukan perubahan meskipun ada kekeliruan. Setelah alat bukti dikeluarkan atas nama seseorang maka alat bukti tersebut tidak bisa diubah meskipun ada kekeliruan. Disini pemilik sebenarnya dapat kehilangan tanahnya meskipun ia dapat membuktikan bahwa ia benar-benar orang yang berhak atas tanah tersebut. Pemilik tanah yang sebenarnya hanya bisa menggugat ke Kantor Pertanahan untuk minta kompensasi atau ganti rugi atas hilangnya tanah miliknya. Sistem publikasi positif menggunakan sistem pendaftaran hak (registration of titles) dimana dalam sistem pendaftaran hak:

Setiap penciptaan hak baru dan perbuatan-perbuatan hukum yang menimbulkan perubahan kemudian, juga harus dibuktikan dengan suatu akta.

Tetapi dalam penyelenggaraan pendaftarannya, bukan aktanya yang didaftar melainkan haknya yang diciptakan dan perubahan-perubahannya yang terjadi tersebut disediakan suatu daftar isian yang disebut register atau buku tanah.51

Dengan menggunakan sistem publikasi positif ini negara menjamin kebenaran data yang disajikan. Orang boleh mempercayai penuh data yang disajikan dalam register. Orang yang akan membeli tanah atau kreditur yang akan menerima tanah sebagai agunan kredit yang akan diberikan tidak perlu ragu-ragu mengadakan perbuatan hukum dengan pihak yang namanya terdaftar dalam register sebagai pemegang hak. Menurut sistem ini, orang yang namanya terdaftar sebagai pemegang hak dalam register, memperoleh hak yang tidak dapat diganggu gugat, meskipun kemudian terbukti bahwa yang

51Pasal 10 PP Nomor 10 Tahun 1961

terdaftar sebagai pemegang hak tersebut bukan pemegang hak yang sebenarnya.

Sistem pendaftaran tanah yang dianut di Indonesia sistem negatif yang bertendensi positif. Artinya bahwa Negara tidak menjamin mutlak kebenaran data yang disajikan dalam sertipikat, namun selama tidak ada orang lain yang mengajukan gugatan ke pengadilan yang merasa lebih berhak atas tanah tersebut, maka data yang tercantum dalam sertipikat adalah tanda bukti hak yang kuat bagi pemilik tanah.

Dalam sistem pendaftaran tanah juga dilakukan penelitian atas alas hak dan obyek bidang tanah yang diajukan permohonan pendaftaran tanah untuk pertama kali yang bersifat sporadis. Tujuan ditelitinya alas hak ini ternyata akan memperkokoh keabsahan formalitas data yuridis dan data teknis. Indikator ini berarti atau bermakna mendukung asas publisitas dan asas spesialitas dari pelaksanaan pendaftaran tanah yang dilakukan di Indonesia.52

B. Sertipikat Hak Atas Tanah

1. Pengertian Sertipikat Hak Atas Tanah

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997, maka yang dimaksudkan dengan sertipikat adalah surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat mengenai data fisik dan data yuridis yang termuat di dalamnya, sepanjang data fisik dan data yuridis tersebut sesuai dengan data yang ada dalam surat ukur dan buku tanah hak yang bersangkutan.53 Menurut Boedi Harsono

52Suardi, Hukum Agraria, Badan Penerbit Iblam, Jakarta, 2005 , hal 17.

53Pasal 32 ayat 1 PP No.24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.

sebagai tanda bukti hak, diterbitkan sertipikat yang merupakan salinan register (Certificate of title).54 Menurut Wantjik Saleh sertipikat adalah salinan buku tanah dan surat ukur, yang setelah dijilid menjadi satu bersama-sama dengan satu kertas sampul yang bentuknya ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.55

Sertipikat ini diberikan bagi tanah-tanah yang sudah ada surat ukurannya ataupun tanah-tanah yang sudah diselenggarakan pengukuran, karena sertipikat ini merupakan pembuktian yang kuat baik subyek maupun obyek. Selain sertipikat, ada juga yang disebut sebagai Sertipikat Sementara. Sertipikat Sementara adalah Surat Tanda Bukti Hak, yang terdiri dari salinan Buku Tanah dan Gambar Situasi, yang diberi sampul dan dijilid menjadi satu yang bentuknya ditetapkan oleh Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional.56Sertipikat Sementara diberikan untuk tanah-tanah yang belum ada Surat Ukur, yakni tanah-tanah di desa-desa yang belum diselenggarakan pengukuran, sehingga Sertipikat Sementara ini hanya merupakan alat pembuktian sementara yang merupakan alat pembuktian mengenai macam-macam hak dan siapa yang memiliki tanah tersebut tapi tidak membuktikan mengenai luas dan batas-batas tanah karena tidak adanya pengukuran. Namun baik Sertipikat maupun Sertipikat Sementara dapat berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat sepanjang tanah yang dimaksud dalam keadaan tidak sengketa.

2. Fungsi Sertipikat Hak Atas Tanah

Fungsi utama dari sertipikat hak atas tanah adalah sebagai bukti hak atas tanah. Fungsi utama sertipikat menurut Effendi Perangin-angin yaitu sebagai alat

54Boedi Harsono, Op. Cit, Hal 78

55Wantjik Saleh, Op.cit., hal 64

56Ali Achmad Chomzah, Op.cit., hal 123-124.

bukti hak atas tanah dan Hak Tanggungan.57Kekuatan pembuktian sertipikat hak atas tanah dapat ketahui dalam Pasal 32 Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 yaitu setipikat merupakan surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang terkuat mengenai data fisik dan data yuridis yang termuat didalamnya, sepanjang data fisik data yuridis tersebut sesuai dengan data yang ada dalam surat ukur dan buku

bukti hak atas tanah dan Hak Tanggungan.57Kekuatan pembuktian sertipikat hak atas tanah dapat ketahui dalam Pasal 32 Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 yaitu setipikat merupakan surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang terkuat mengenai data fisik dan data yuridis yang termuat didalamnya, sepanjang data fisik data yuridis tersebut sesuai dengan data yang ada dalam surat ukur dan buku

Dalam dokumen TESIS. Oleh. ISABELLA BANGUN /M.Kn (Halaman 37-0)

Dokumen terkait