TINJAUAN PUSTAKA 2.1Padi gogo
3.3 Metode Penelitian
Metode penelitian yang dilakukan pada penelitian sebagai berikut:
3.3.1Variabilitas Iklim
Penentuan tahun kejadian variabilitas iklim ditentukan dengan melihat nilai SOI pada tahun-tahun pengamatan. Adapun nilai SOI diperoleh dari hasil kajian Australia
atau website
http://reg.bom.gov.au/climate/current/soihtm 1.shtml (Anonim 2011).
Tahun La-Nina dapat diidentifikasi dengan nilai SOI >= 7 dan tahun El-Nino dapat diidentifikasi dengan nilai SOI < -7 (Anonim 2005). Hasil kajian tahun variabilitas iklim kemudian disesuaikan dengan hasil analisis tahun-tahun kejadian variabilitas iklim (El-Nino, La-Nina, serta tahun normal) diperoleh dari hasil kajian australia atau website http://reg.bom.gov.au/climate/enso/enlist/ind ex.shtml (Anonim 2011).
3.3.2Klasifikasi Iklim
Klasifikasi iklim dilakukan pada setiap stasiun di wilayah Konawe Selatan dengan menggunakan sistem klasifikasi Oldeman.
antara Tahiti dan Darwin, yang mencerminkan perubahan dalam pola sirkulasi atmosfer di daerah yang luas dan dapat berfluktuatif dari bulan ke bulan.
Istilah El-Nino mengacu pada suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tengah ke timur, dimana suhu permukaan lautnya lebih hangat. Kejadian ini terulang setiap tiga sampai delapan tahun dan umumnya dikaitkan dengan SOI bernilai negatif. Selama peristiwa atau fenomena El-Nino, nilai SOI memperlihatkan nilai yang negatif atau nilai SOI < -7. Kejadian EL-Nino biasanya muncul dalam bulan Maret hingga bulan Juni, dimana pada kondisi tersebut, Indonesia akan mengalami musim kering (intensitas hujan yang rendah).
Ketika samudera Pasifik timur jauh lebih dingin dari normal, biasanya nilai SOI terus menerus akan bernilai positif (nilai SOI berkisar 7). Peristiwa ini sering membawa hujan dan banjir yang disebut dengan peristiwa La-Nina. Selama fenomena tersebut, suhu cenderung di bawah normal, khususnya di wilayah bagian utara dan timur Australia. Pendinginan relatif terkuat pada bulan Oktober hingga Maret (Anonim 2005).
2.6 Musim dan Kalender Tanam
Mengantisipasi perubahan iklim yang tidak menentu dan sulit untuk diprediksi, kalender tanam disusun berdasarkan kondisi periode tanam yang dilakukan oleh petani saat ini, tetapi juga mengaju untuk tiga kejadian iklim, yaitu tahun basah, tahun kering, serta tahun normal.
Stasus dan pola ketersediaan air merupakan faktor utama penentuan pola tanam di Indonesia. Penetapan pola tanam sangat identik atau harus didahului dengan pendugaan lamanya musim tanam, dimana musim tersebut sangat erat kaitannya dengan ketersediaan air bagi tanam harus didahului berdasarkan potensi dan kadar air tanah. Penetapan musim tanam padi gogo dapat ditentukan berdasarkan klasifikasi Oldeman, dimana musim tanam dikategorikan dengan periode curah hujan rata-rata > 100 mm/bulan. Namun, penetapan pola tanam yang lebih tepat didasarkan pada kadar air tanah melalui analisis neraca air yang mempertimbangkan fisik lahan. Secara teoritis batas air tersedia bagi air tanaman adalah jika kadar air tanah berada diatas titik layu permanen (TLP) dengan pf < 2,54 atau dengan tegangan air tanah < 15,2 mbar (Suharsono et al. 1996).
BAB III METODOLOGI 3.1Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai bulan Mei 2011 di Laboratorium Agrometeorologi, Laboratorium Ilmu Tanah, serta Lahan Pertanian Wilayah Konawe Selatan.
3.2 Alat dan Bahan
Data Suhu Wilayah Konawe Selatan Tahun 1998-2008.
Data Curah Hujan Stasiun Iklim Wilayah Konawe Selatan Tahun 1985-2010
Perangkat Komputer, Micrososft Excel, Microsoft Word, dan Arc View
Faktor koreksi berdasarkan letak geografis wilayah Konawe Selatan. Sifat dan Kondisi Tanah wilayah
Konawe Selatan.
Peta pembagian lahan pertanian dan Administrasi Konawe Selatan. Pisau, Parang, dan Pacul. Ring Sampel
Papan, Plastik, dan Spidol. Buku dan pensil
Air
3.3 Metode Penelitian
Metode penelitian yang dilakukan pada penelitian sebagai berikut:
3.3.1Variabilitas Iklim
Penentuan tahun kejadian variabilitas iklim ditentukan dengan melihat nilai SOI pada tahun-tahun pengamatan. Adapun nilai SOI diperoleh dari hasil kajian Australia
atau website
http://reg.bom.gov.au/climate/current/soihtm 1.shtml (Anonim 2011).
Tahun La-Nina dapat diidentifikasi dengan nilai SOI >= 7 dan tahun El-Nino dapat diidentifikasi dengan nilai SOI < -7 (Anonim 2005). Hasil kajian tahun variabilitas iklim kemudian disesuaikan dengan hasil analisis tahun-tahun kejadian variabilitas iklim (El-Nino, La-Nina, serta tahun normal) diperoleh dari hasil kajian australia atau website http://reg.bom.gov.au/climate/enso/enlist/ind ex.shtml (Anonim 2011).
3.3.2Klasifikasi Iklim
Klasifikasi iklim dilakukan pada setiap stasiun di wilayah Konawe Selatan dengan menggunakan sistem klasifikasi Oldeman.
Berikut merupakan karakteristik sistem klasifikasi Oldeman ( Handoko, 1993)
1. Bulan Basah (BB) yaitu bulan dengan rata – rata curah hujan > 200 mm.
2. Bulan Lembab (BL) yaitu bulan dengan rata-rata curah hujan 100 – 200 mm.
3. Bulan kering (BK) yaitu bulan dengan rata-rata curah hujan < 100 mm.
Adapun pembagian tipe iklim utama dan subdivisinya sebagai berikut:
Tabel 1 Tipe pembagian iklim menurut Oldeman
(Sumber: Handoko 1993)
3.3.3 Peta Wilayah Penyebaran Stasiun
Pembuatan peta wilayah sebaran stasiun dapat digambarkan dengan menggunakan software Arcview dan peta Sulawesi Tenggara dalam bentuk file .shp.
3.3.4 Pengambilan Sampel Tanah
Sampel tanah diambil disejumlah lokasi wilayah kajian dengan prosedur kerja sebagai berikut:
o Mencari tanah yang baik (tanah tidak berpasir dan kondisi tanah cukup lembab).
o Membersihkan tanah tersebut dengan menggunakan parang dari rumput atau batu-batuan.
o Pada tanah-tanah yang cukup tandus, dapat diberikan air sebelum pengambilan sampel dilakukan. Hal ini untuk memudahkan dalam pengambilan tanah.
o Meletakkan ring sampel kedalam tanah. Adapun kedalaman tanah berkisar antara 0–20 cm (area perakaran). Jika situasi dan kondisi tanah cukup keras, maka menggunakan alat bantu berupa parang atau papan dengan memukul
alat-alat tersebut kebagian ring sampel yang telah terbenam didalam tanah hingga rata dengan tanah.
o Membuat lingkaran atau menggali tanah disekitar ring sampel hingga kedalaman tertentu dengan tujuan memudahkan dalam mengambil sampel tanah dalam ring tersebut.
o Menggunakan pisau untuk meratakan tanah dengan ring sampel.
o Membungkus ring dengan plastik yang telah diikat dengan sangat erat. Hal ini bertujuan untuk menjaga kestabilan kondisi tanah.
o Menyimpan ring sampel ditempat yang tidak terkena langsung radiasi matahari.
3.3.5 Analisis Sifat Fisika Tanah
Pengambilan sampel dilakukan di beberapa titik lahan wilayah Konawe Selatan dengan menggunakan alat Ring Sampel lalu dianalisis sifat fisikanya di laboratorium Ilmu Tanah.
3.3.6 Evapotranspirasi
Nilai evapotranspirasi dapat diketahui dengan menggunakan metode Thornhtwaite dengan input data suhu :
ETp∗= ET × Faktor Terkoreksi ET = 1,6 × 10 ×T I a , dimana suhu (T) < 26,5 0C. ETP= -0,0433×t2 +3,2244×t-41,54, dimana suhu (T) >= 26.5 0C. I = T 5 1,514 a= 0,000000675 ×I3 - 0,0000771 + 0,179×I +0.49239
3.3. 7 Neraca Air Lahan
Neraca air lahan dapat diketahui menggunakan tahapan berikut ini:
1. Menghitung selisih antara curah hujan dan nilai evapotranspirasi. Selisih antara kedua parameter tersebut merupakan hasil Accumulation of Potensial Water Loss (APWL).
2. Pada kondisi CH < ETp terjadi akumulasi kehilangan air secara potensial (APWL), maka kandungan air tanah dapat dihitung sebagai berikut:
KAT = KL x eAPWL /KL
3. Pada kondisi CH > ETp, kandungan air tanah dapat dihitung tanpa APWL, sebagai berikut: Tipe Utama Bulan Basah berturut-turut A >9 B 7 – 9 C 5 – 6 D 3 – 4 E < 3 Sub divisi Bulan Kering berturut-turut 1 < 2 2 2 - 3 3 4 – 6 4 >6
KATi= KAT i-1+ (CH-ETp)
Hingga kandungan air tanah sama dengan kapasitas lapang yang berarti kondisi air tanah terus mencapai kondisi kapasitas lapang.
Dengan keterangan : I = indeks bahang KL =Kapasitas lapang (mm)
KAT =Kadar (kandungan) air tanah aktual (mm).
APWL = akumulasi air yang hilang secara potensial (mm).
e = 2,718281828
Adapun menghitung nilai ∆KAT berdasarkan selisih antara KAT satu yang lain menggunakan persamaan:
∆KAT = KATi-KATi-1
Nilai ∆KAT (+) menunjukkan penambahan terhadap kadar air tanah, sebaliknya jika nilai ∆KAT (-) menunjukkan penggurangan terhadap kadar air tanah.
4. Menghitung nilai evapotranspirasi aktual, dengan menggunakan konsep sebagai berikut:
Jika CH > ETp, ETA = ETp Jika CH<ETp, ETA = CH + ∆KAT 5. Menghitung nilai defisit yang
merupakan jumlah air yang berkurang untuk keperluan tanaman:
Defisit = ETp−ETA
6. Menghitung surplus yang merupakan kelebihan curah hujan setelah simpanan air mencapai kapasitas lapang dengan menggunakan persamaan:
S=CH-ETp-∆KAT
7. Menghitung nilai limpasan surplus air sebesar 50% dengan persamaan sebagai berikut:
Ro1= Si-Ri-1 ×kRo Keterangan:
Ron = runoff periode ke –n dihitung sejak awal periode surplus. Si = Surplus ke-i
kRo =koefisien runoff (50%).
3.3.8 Kalender Tanam
Potensi masa tanam untuk tanaman dapat juga ditentukan berdasarkan ketersediaan lengas tanah yang diperoleh dari hasil perhitungan neraca air lahan. Ditetapkan bahwa periode masa tanam adalah periode-periode dimana kandungan lengas tanah > 50 % air tersedia (Pramudia et al 1998). Penyataan ini mengacu pada pendapat Richard dan Richard dalam Buckman dan
Brady (1969) bahwa untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman yang baik, air harus ditambahkan bila 50-85% dari air tersedia telah habis terpakai.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN