• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan selama 1 bulan 14 hari yaitu pada bulan April 2018 sampai dengan bulan Mei 2018 di Perairan Tanjungbalai Asahan, Sumatera Utara. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan alat tangkap berupa garuk. Pengambilan sampel ini dilakukan pada tiga stasiun pengamatan dimana setiap stasiun memiliki 3 titik sampling dan dilakukan pengambilan substrat serta pengukuran parameter kualitas air pada masing masing stasiun. Pengukuran parameter fisika dan kimia perairan dilakukan langsung di lapangan. Analisis nitrat, dan fosfat dilakukan di Balai Riset dan Standarisasi Industri Medan serta analisis substrat dan bahan organik dilakukan di Laboratorium Riset dan Teknologi.

Gambar 2. Peta Lokasi Penelitian

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah garuk, Global Position System (GPS), refraktometer, DO meter, pH meter, secchi disk, tali rafia, meteran, pisau, gunting, kamera digital, kantong plastik, karet, tool box, ember, kayu berskala, botol gelap 300 ml, alat tulis, nampan, cool box, termometer dan buku penuntun identifikasi moluska (Lampiran 3).

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini moluska sebagai sampel, aquadest, alkohol 96%, tissue, serbet dan software XLStat 2018 (Lampiran 3).

Penentuan Lokasi Penelitian

Metode yang digunakan dalam penentuan lokasi penelitian adalah purposive sampling yaitu penentuan lokasi berdasarkan atas pertimbangan sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian (Fahrul, 2007). Stasiun pengambilan sampel sebanyak 3 (tiga) stasiun dengan pengulangan setiap stasiun sebanyak 3 (tiga) kali.

Stasiun pertama terletak di daerah berdekatan dengan mangrove, stasiun kedua merupakan wilayah perairan yang berdekatan dengan pemukiman penduduk dan stasiun ketiga merupakan perairan yang berdekatan dengan aktifitas penangkapan nelayan/panton.

Deskripsi Area Stasiun 1

Stasiun I berada di lokasi yang berdekatan dengan kawasan hutan mangrove. Daerah ini cukup jauh dari kawasan penduduk dan aktivitas sosial masyarakat. Kondisi hutan mangrove pada daerah ini masih cukup baik terlihat dari

tingkat kerapatannya masih tinggi. Secara geografis, stasiun I terletak pada 03o01’35.06 LU dan 099o51’43.46 BT. Lokasi dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Lokasi Stasiun I

Stasiun II

Stasiun II berada di lokasi yang berdekatan dengan pemukiman penduduk sekitar Desa Bagan Asahan. Secara geografis, stasiun II terletak pada 03o01’46.29LU dan 099o51’46.49BT. Jarak antara stasiun I ke stasiun II sejauh 1 km. Lokasi dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Lokasi Stasiun II

Stasiun III

Stasiun III memiliki jarak 2 km dari stasiun II. Lokasi ini masih berada pada Perairan Selat Malaka dimana terdapat banyak aktivitas nelayan yang sedang menangkap moluska. Lokasi ini berada di dekat laut lepas, dengan titik koordinat koordinat 03˚07' 12,47'' LU dan 099˚48' 09,67'' BT. Lokasi dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Lokasi Stasiun III

Pengambilan Sampel

Sampel moluska diambil menggunakan alat penangkap berupa garuk dengan berukuran 0,45 m x 0,20 m x 0,50 m. Setiap stasiun dilakukan pengambilan sampel dengan pengulangan sebanyak 3 (tiga) kali. Alat garuk dimasukkan ke dasar perairan, garuk yang telah berisi moluska diangkat ke atas perairan kemudian diayak agar sampel terpisah dari substrat perairan. Alat garuk kemudian diletakkan diatas kapal lalu dibersihkan dan disortir dari sampah lalu sampel dimasukkan dalam kantong plastik berisi alkohol 96% sebagai pengawet dan diberi label penanda. Sampel dibawa ke laboratorium untuk diidentifikasi dengan menggunakan buku acuan Dharma (2005) “Recent and Fossil Indonesian Shells”

Gambar 6. Alat Tangkap Garuk

Pengambilan Data Parameter Lingkungan

Parameter data lingkungan diambil sebelum pengambian sampel moluska.

Parameter yang diambil merupakan parameter yang mencakup faktor fisika perairan, faktor kimia perairan dan jenis substrat perairan. Data suhu, kedalaman, kecerahan, pH, DO, salinitas dilakukan langsung dengan pengukuran pada permukaan perairan. Sedangkan data nitrat dan fosfat dilakukan dengan mengambil sampel air perairan untuk kemudian dianalisis di Balai Riset dan Standarisasi Industri Medan. Untuk data bahan organik dan jenis substrat dilakukan dengan mengambil sampel sedimen dari dasar perairan untuk kemudian dianalisis di Laboratorium Riset dan Teknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Parameter lingkungan diambil sebanyak 3 kali sesuai dengan pengambilan sampel moluska dan dilakukan pada setiap pengulangan di masing-masing stasiun penelitian.

24 cm

39 cm

45 cm

50 cm

20 cm

Tabel 2. Parameter Lingkungan dan Metode Analisis

Parameter Satuan Metode Analisis/Alat Lokasi

Suhu oC Termometer In situ

Kedalaman Meter Kayu berskala In situ

Kecerahan meter Secchi disk In situ

pH - pH meter In situ

Oksigen

Terlarut (DO) mg/l DO meter In situ

Salinitas Ppt Refraktometer In Situ

Nitrat

Kelimpahan adalah jumlah individu persatuan luas yang dapat dihitung dnegan rumus Shannon-Wiener (Dwirastina, 2013)

K= a b Keterangan :

K = Indeks Kelimpahan Jenis a = Jumlah Individu yang didapat b = Volume cakar (m3) x ulangan

Kelimpahan Relatif

Kelimpahan Relatif adalah nilai perbandingan antara individu jenis dan jumlah total individu seluruh jenis, dihitung dengan rumus Odum (1971),

KR= ni

∑n

Keterangan :

KR : Kelimpahan Relatif

ni : Jumlah total jenis i (individu)

∑n : Jumlah total individu seluruh jenis Keanekaragaman

Keanekaragaman jenis disebut juga keheteregonenan jenis. Indeks keanekaragaman menunjukkan kekayaan spesies dalam suatu komunitas dan juga memperlihatkan keseimbangan dalam pembagian jumlah per individu per spesies.

Indeks keanekaragaman dapat dihitung dengan indeks Shannon Wiener (Krebs, 1989) dengan persamaan :

H'=- ∑ Pi ln Pi

n

i=1

Keterangan :

H' = indeks keanekaragaman Pi = ni/N

Ni = jumlah individu spesies ke-i N = jumlah individu total

Menurut Syamsurisal dalam Asry (2016), kriteria indeks keanekaragaman dibagi dalam 3 kategori yaitu:

H'< 1 : Keanekaragaman jenis rendah 1 < H' < 3 : Keanekaragaman jenis sedang H' > 3 : Keanekaragaman jenis tinggi

Indeks Keseragaman

Untuk mengetahui keseimbangan komunitas digunakan indeks keseragaman, yaitu ukuran kesamaan jumlah individu antar spesies dalam suatu komunitas. Semakin mirip jumlah individu antar spesies (semakin merata penyebarannya) maka semakin besar derajat keseimbangan. Indeks keseragaman adalah komposisi individu tiap spesies yang terdapat dalam suatu komunitas (Krebs, 1989) dengan perhitungan sebagai berikut :

E = H' H maks Keterangan :

E = indeks keseragaman H' = indeks keanekaragaman Hmaks = ln S

S = jumlah spesies

Nilai indeks keseragaman ini berkisar antara 0-1. Indeks keseragaman mendekati nilai nol berarti penyebaran jumlah individu tiap spesies tidak sama dan indeks keseragaman yang mendekati nilai satu maka ekosistem tersebut dalam kondisi yang stabil, yaitu tiap spesies relatif sama. Menurut Krebs (1989) besarnya indeks keseragaman jenis berkisar antara 0 sampai dengan 1.

Keterangan:

E < 0,4 : Keseragaman jenis rendah 0,4 < E < 0,6 : Keseragaman jenis sedang E > 0,6 : Keseragaman jenis tinggi

Dominansi

Indeks dominansi dihitung untuk mengetahui dominansi suatu spesies dalam suatu komunitas (Krebs, 1989) dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

C = ∑ (Pi)2

n

i=1

Keterangan :

C = indeks dominansi

Pi = jumlah spesies ke-i per jumlah total (ni/N) Kriteria indeks dominansi menurut Odum (1993) : C < 0,4 : Dominansi Rendah

0,4 < C < 0,6 : Dominansi Sedang C > 0,6 : Dominansi Tinggi

Jenis Substrat

Sampel substrat dasar perairan diambil satu kali pada setiap stasiun dengan menggunakan eckman grab yang kemudian dimasukkan dalam kantong plastik hitam berlabel. Contoh substrat tersebut dianalisa di Laboratorium Riset dan Teknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Penentuan tekstur substrat dilakukan dengan mencocokkan persentase pasir, debu dan liat dengan gambar segitiga USDA (LPT, 1979).

Berikut ini adalah langkah-langkah penentuan tekstur substrat yaitu : 1. Menentukan komposisi dari masing-masing fraksi substrat, misalnya fraksi

pasir 45%, debu 30% dan liat 25%.

2. Menarik garis lurus pada sisi presentase pasir dititik 45% sejajar dengan sisi presentase debu, kemudian ditarik garis lurus pada sisi persentase debut di titik 30% sejajar dengan presentase liat, dan tarik garis lurus pada sisi presentase liat 25% sejajar dengan sisi presentase pasir.

3. Titik perpotongan ketiga garis tersebut akan menentukan tipe substrat yang dianalisis, misalnya hal ini adalah lempung. Untuk analisis substrat menggunakan Segitiga The United States Departemen of Agriculture (USDA) dapat dilihat pada gambar 7.

Gambar 7. Segitiga USDA (LPT, 1979)

Analisis Korelasi Antara Kelimpahan Dengan Parameter Lingkungan

Analisis data pada pendekatan statistik dilakukan untuk melihat korelasi antar parameter kualitas perairan yaitu dengan analisis komponen utama (principal component analysis / PCA) adalah teknik yang digunakan untuk menyederhanakan suatu data, dengan cara mentransformasi linier sehingga terbentuk sistem koordinat baru dengan varians maksimum. PCA dapat digunakan untuk mereduksi dimensi suatu data tanpa mengurangi karakteristik pada data tersebut secara signifikan.

Keuntungan menggunakan PCA diantaranya dapat menghilangkan korelasi secara

bersih (korelasi = 0) sehingga masalah multikolinearitas dapat benar-benar teratasi secara bersih, dapat digunakan untuk segala kondisi data/penelitian, dapat dipergunakan tanpa mengurangi jumlah variabel asal, walaupun metode Reresi dengan PCA ini memiliki tingkat kesulitan yang tinggi akan tetapi kesimpulan yang akan diberikan lebih akurat dibandingkan dengan penggunaan metode lain (Soemartini, 2008).

Interpretasi lingkaran korelasi antar variabel dapat dilihat dari pembentukan sudut yang terbentuk antar bentukan variabel. Posisi 180o terlihat pada gambar terbentuk antara variabel CE dan LI, juga antara variabel AR dan DE, PA. Posiis pertemuan antara berhimpit diperlihatkan antara variabel Dedan PA. Korelasi pembentukan sudut 90o terlihat pada variabel AR dan CE, juga variabel PA dan LI.

Hal tersebut dapat dideskripsikan bahwa variabel yang membentuk sudut 180o menggambarkan hubungan korelasi negatif kecil. Sudut yang membentuk 90o menunjukkan tidak adanya hubungan dan variabel yang berhimpit menunjukkan bawha variabel berkorelasi positif (Bengen, 2000).

Gambar 8. Simulasi hasil analisis PCA dalam bentuk lingkaran korelasi.

Dokumen terkait