• Tidak ada hasil yang ditemukan

to realize waste-free agroindustry)

2. METODE PENELITIAN

2.1 Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kawat Kebun Percobaan dan Laboratorium Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang dari bulan Maret hingga Juli 2018.

2.2 Bahan Dan Alat

Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah Blotong dan Pupuk Kandang Sapi. Blotong diambil dari Pabrik Gula Kwala Madu Kabupaten Langkat dan Pupuk Kandang Sapi di UPT Fakultas Peternakan Universitas Andalas. Media Tanam yang digunakan adalah Ultisol yang diambil dari UPT Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Andalas dan tanaman yang digunakan sebagai bahan uji pupuk adalah bibit kelapa sawit main nursery dari pembibitan kelapa sawit Lubuk Minturun, Padang. Alat yang digunakan adalah cangkul,

gembor, spektrofotometer, Atomic

Absorbance Spectrofotometer (AAS), alat destruksi, alat destilasi, buret, dan timbangan analitik.

2.3 Rancangan Percobaan

Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 5 perlakuan dan 3 kelompok sehingga diperoleh 15 satuan percobaan. Pupuk organik blotong dan pupuk kandang sapi dengan formula 75:25 yaitu, A = 0 ton/Ha, B = 4,25 ton/Ha, C = 8,5 ton/Ha, D = 12,75 ton/Ha, E = 17 ton/Ha.

2.4 Analisis Data

Analisis pupuk organik blotong (POB) Plus di laboratorium meliputi pH (1:5), C-total dengan metode pengabuan kering pada suhu 500oC selama 4 jam, N-total dengan metode Kjeldhal, P-total, K-Total, Ca-total, Mg-total, Na-total dengan metode pengabuan basah, dan KTK dengan metode pencucian Amonium Asetat. Hasil analisis POB Plus dibandingkan dengan nilai minimum Kompos Standar Nasional Indonesia (SNI 19-7030-2004).

Seminar Nasional IV PAGI 2018 - UMI 450 Analisis tanah berupa pH, Al-dd (metode

volumetri), N-total (metode K-Jeldhal), C-Organik (metode Walkley and Black), P-tersedia (Bray I), kapasitas tukar kation dan basa-basa (pencucian dengan Amonium Asetat pH 7).Hasil analisis tanah dibandingkan dengan tabel kriteria sifat kimia tanah dari Balai Penelitian Tanah. Hasil pengamatan tanaman di dianalisis secara statistik dengan analisis ragam menurut Rancangan Acak Kelompok (RAK) dan untuk perlakuan yang berpengaruh nyata dilanjutkan dengan uji lanjut Duncans Multiple Range Test (DNMRT) pada taraf 5%.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Analisis Kimia POB Plus

POB Plus merupakan pupuk yang memiliki nilai hara lebih tinggi dari batas minimum pupuk kompos Standar Nasional Indonesia (SNI-19-7030-2004 yang berasal dari Badan Standar Nasional, 2004). Hasil analisis POB Plus dapat diaplikasikan untuk dijadikan bahan pembenah tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman, sifat kimia POB Plus disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil Analisis Kimia POB Plus

Parameter Nilai Minimum SNI Nilai

pH H2O (1 : 5) 6,80 7,34 C-total (%) 9,80 31,84 N-total (%) 0,40 2,17 C/N 10,0 14,67 P-total (%) 0,10 0,28 K-total (%) 0,20 0,96 Ca-total (%) - 8,94 Mg-total (%) - 0,80 Na-total (%) - 0,57 KTK (me/100g) - 54,49

Nilai C/N pada POB bernilai 14,67 menunjukkan POB Plus telah mengalami proses mineralisasi nitrogen sehingga mampu menyediakan hara ke tanah dan tanaman terutama unsur hara N,P, dan K. Hal ini dikarenakan mikroba dalam POB Plus aktif mengurai material organik akibat adanya sumber energi yang berasal dari karbon (Sutanto, 2005). Hasil analisis kompos sesuai dengan standar antara lain nilai P sebesar 0,10% dan K sebesar 0,20%.

3.2 Analisis Kimia Tanah setelah Perlakuan POB Plus

Perlakuan POB Plus mampu

memperbaiki sifat kimia Ultisol disajikan dari beberapa parameter pada Tabel 2. Hal ini dikarenakan adanya bahan organik mampu menekan keracunan alumunium. Dekomposisi POB Plus yang diaplikasikan ke dalam tanah menghasilkan asam-asam organik dan

menghasilkan anion organik serta

meningkatkan pH tanah. Tan (1998) juga mengemukakan bahwa asam-asam organik yang dihasilkan dalam proses dekomposisi kompos bersifat asam lemah yang berfungsi

membantu dalam meningkatkan pH tanah, hal ini dikarenakan bahan organik yang terdekomposisi menghasilkan asam organik sehingga mampu mengurangi konsentrasi ion positif dalam tanah terutama H+ dan Al3+.

Asam organik dalam bahan organik

menimbulkan muatan negatif yaitu gugus karboksilat dan fenolat. Tan (1998) menyatakan bahwa KTK tanah meningkat akibat pemberian kompos disebabkan oleh meningkatknya muatan negatif dalam tanah. Muatan negatif tersebut berasaldari gugus karboksil (COOH) yang mengalami disosiasi H+. Asam organik juga dapat meningkatkan C-Organik, sehingga dapat meningkatkan aktivitas mikroorganisme dalam tanah, mikroorganisme ini yang merombak bahan organik dalam tanah (Tan, 1998). Pemberian POB Plus ke tanah juga meningkatkan ketersediaan hara nitrogen dalam tanah.

Wahyudi (2009) menyatakan bahwa

peningkatan N-total tanah diperoleh langsung dari hasil dekomposisi bahan organik yang menghasilkan ammonium (NH4+) atau nitrat (NO3

-). Selanjutnya Brady dan Weil (2002) menyatakan bahwa bahan organik merupakan sumber unsur N, P, dan S.

Seminar Nasional IV PAGI 2018 - UMI 451

Tabel 2. Analisis Kimia Tanah Ultisol yang diberi POB Plus. Perlakuan A (Kontrol) B (4,25 ton/Ha) C (8,50 ton/Ha) D (12,75 ton/Ha) E (17 ton/Ha) Parameter pH (1:1) 5,38 m 5,74 am 6,07 am 6,34 am 6,48 am Al-dd Tu tu Tu tu tu N-total (%) 0,18 r 0,42 s 0,49 s 0,58 t 0,63 t C-Organik (%) 1,85 r 2,18 s 3,11 s 3,66 t 4,04 t P-tersedia (%) 5,81 r 12,7 r 21,0 st 32,8 st 42,9 st KTK (cmol/kg) 6,32 r 10,7 r 17,1 s 21,1 s 28,3 t Ca-dd (cmol/kg) 0,75 sr 0,91 sr 0,94 sr 0,99 sr 1,12 sr Mg-dd(cmol/kg) 1,47 s 1,47 s 1,53 s 1,66 s 1,87 s Na-dd(cmol/kg) 0,19 r 0,24 r 0,30 r 0,35 r 0,36 r K-dd (cmol/kg) 0,27 r 0,28 r 0,31 r 0,39 r 0,44 s

*Ket : m: masam, am: agak masam, tu: tidak terukur, t: tinggi, st: sangat tinggi, s: sedang, r: rendah, sr: sangat rendah

Pengaplikasian limbah blotong menjadi POB Plus mampu mengurangi volume limbah hingga 7,2 % atau sekitar 9,86 ton untuk penggunaan tiap hektar POB Plus. Penurunan limbah hingga 100% dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan blotong menjadi POB Plus ke lahan dengan luasan ±15 Ha. Dengan pengaplikasian ini maka dapat menjaga lingkungan dan menjaga kesehatan tanah.

3.3 Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit yang Diaplikasikan POB Plus

Pemberian Pupuk Organik Blotong dapat mendukung pertumbuhan tanaman, khususnya pembibitan kelapa sawit. Peningkatan Pertumbuhan dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Pertumbuhan Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq)pada Tahap Main Nursery Umur 3 bulan Setelah Tanam (MST) dengan Pemberian POB Plus.

Berdasarkan Gambar 1 dapat dilihat

bahwa penggunaan POB Plus dapat

meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit, hal ini dikarenakan hara yang tersedia di tanah akibat pemberian POB Plus dapat diserap oleh tanaman dengan baik. Penyerapan hara yang baik disebabkan nilai C/N POB Plus pada Tabel 1 yang mendekati nilai C/N tanah <20. Maka unsur hara yang terkandung dalam kompos menyebabkan hara mudah terserap oleh tanaman, sehingga dapat memperbaiki dan mempertahankan kesuburan tanah (Effi, 2003).

Secara statistik, penggunaan POB Plus

juga memberikan pengaruh dalam

peningkatan pertumbuhan bibit kelapa sawit. Tabel peningkatan bibit kelapa sawit disajikan pada Tabel 3.

Setelah dilakukan uji statistik, pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa pemberian POB

Plus hingga 12,75 ton/Ha mampu

meningkatkan pertumbuhan pembibitan tanaman kelapa sawit. pengaplikasian POB Plus sebanyak 12,75 ton/Ha merupakan dosis anjuran yang digunakan untuk memperbaiki sifat kimia tanah dan pertumbuhan pembibitan kelapa sawit dan tanaman perkebunan lainnya.

Seminar Nasional IV PAGI 2018 - UMI 452

Tabel 3. Pengaruh Pemberian POB Plus terhadap Pertumbuhan Tinggi Tanaman, Jumlah Daun dan Diameter Batang Bibit Kelapa Sawit.

Perlakuan Tinggi (cm) Diameter (mm) Jumlah Daun (helai)

A (Kontrol) 32,33 c 20,20 c 8,67 c B (4,25 ton /Ha) 40,67 b 28,60 b 10,00 b C (8,5 ton /Ha) 45,67 a 30,30 a 12,67 a D (12,75 ton /Ha) 49,00 a 31,00 a 12,80 a E (17 ton /Ha) 45,33 a 30,30 a 11, 67 a KK 4,75 % 5,12 % 9,80 %

Keterangan : Angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf kecil yang sama adalah berbeda tidak nyata pada taraf nyata 5% menurut DNMRT.

4. KESIMPULAN