• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.5 Metode Penelitian

Jenis data yang digunakan pada penelitian ini yaitu menggunakan data primer dan sekunder.

a. Data Primer adalah data-data yang diperoleh melalui wawancara terhadap orang-orang yang dianggap mampu memberikan informasi tentang objek penelitian.

b. Data Sekunder adalah data yang diperoleh dari referensi atau data- data terdahulu yang sudah ada seperti jurnal, laporan, dokumentasi.

1.5.2 Sumber Data

Dalam tahap ini penulis menyediakan persiapan kegiatan studi mencari data dan dan informasi dengan membaca landasan teori , buku-buku perpajakan, internet, Undang-undang Perpajakan yang berhubungan dengan objek pembahasan dan melakukan pengamatan sesuai dengan data pada Dinas Perhubungan Kota Binjai

1.5.3 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode dokumentasi dan wawancara :

a. Metode Dokumenasi merupakan pengumpulan data dengan cara

mencatat data penelitian dan mempelajari dokumen-dokumen yang sudah ada dan memiliki bukti akurat agar dapat memakai data atau informasi yang ada dan berhubungan dengan masalah yang diteliti.

Bahan dokumentasi dalam penelitian ini dapat berupa sumber tertulis, gambar,dan karya-karya monumental yang semuanya memberikan informasi bagi proses penulisan laporan Tugas Akhir.

b. Metode wawancara yaitu penulis melakukan wawancara dengan cara daring dengan informan di kantor Dinas Perhubungan Kota Binjai yang dianggap mampu memberikan data informasi yang bermanfaat

dalam menyusun Laporan Tugas Akhir.

1.5.4 Alat Pengumpulan Data

Dalam hal ini penulis melakukan pengumpulan data dengan menggunakan gadget secara daring untuk mengambil data-data yang sudah ada sebelumnya baik di jurnal, artikel, sumber-sumber pustaka yang berhubungan dengan objek Tugas Akhir.

1.5.5 Informan Penelitian

Informan dalam penelitian ini adalah Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah yang mengurus penerimaan pajak parkir sebagai informan kunci yang dapat memberikan informasi dan menjelaskan kondisi yang ada mengenai pajak parkir dan penerimaannya. Penulis juga memilih wajib pajak yaitu orang pribadi atau badan penyelenggara tempat parkir untuk menjadi informan kunci untuk menjelaskan mengenai penerimaan dan kontribusinya terhadap pajak parkir.

BAB II

GAMBARAN UMUM LOKASI TUGAS AKHIR

2.1 Sejarah Singkat Kota Binjai

2.1. Logo Kota Medan

Kota Binjai adalah salah satu kota di provinsi Sumatera utara, Indonesia.

Binjai terletak 22 km di sebelah barat ibukota provinsi Sumatera Utara atau Medan. Sebelum berstatus kotamadya, Binjai adalah Ibukota Kabupaten Langkat yang kemudian dipindahkan ke Stabat. Binjai berbatasan langsung dengan Kabupaten Langkat di sebelah barat dan utara serta Kabupaten Deli Serdang di sebelah timur dan selatan. Binjai merupakan salah satu daerah dalam proyek pembangunan Mebidang yang meliputi kawasan Medan, Binjai dan Deli Serdang.

Saat ini, Binjai dan Medan dihubungkan oleh jalan raya Lintas Sumatera yang menghubungkan antara Medan dan Banda Aceh. Pada masa silam kota Binjai disebut sebagai sebuah kota yang terletak di antara Sungai Mencirim di sebelah timur dan Sungai Bingai di sebelah barat, terletak di antara dua kerajaan

Melayu yaitu Kesultanan Deli dan Kerajaan Langkat. Berdasarkan penuturan para leluhur, baik yang dikisahkan atau yang diriwayatkan dalam berbagai tulisan yang pernah dijumpai, kota Binjai itu berasal dari sebuah kampung yang kecil terletak di pinggir Sungai Bingai, kira-kira di Kelurahan Pekan Binjai yang sekarang.

Upacara adat dalam rangka pembukaan Kampung tersebut diadakan di bawah sebatang pohon Binjai (Mangifera caesia) yang rindang yang batangnya amat besar, tumbuh kokoh di pinggir Sungai Bingai yang bermuara ke Sungai Wampu, sungai yang cukup besar dan dapat dilayari sampan-sampan besar yang berkayuh sampai jauh ke udik.

Di sekitar pohon Binjai yang besar itulah kemudian dibangun beberapa rumah yang lama-kelamaan menjadi besar dan luas yang akhirnya berkembang menjadi bandar atau pelabuhan yang ramai didatangi oleh tongkang-tongkang yang datang dari Stabat, Tanjung Pura dan juga dari Selat Malaka. Kemudian nama pohon Binjai itulah yang akhirnya melekat menjadi nama kota Binjai.

Konon pohon Binjai ini adalah sebangsa pohon embacang dan istilahnya berasal dari bahasa Karo.

Dalam versi lain yang merujuk dari beberapa referensi, asal-muasal kata

"Binjai" merupakan kata baku dari istilah "Binjéi" yang merupakan makna dari kata "ben" dan "i-jéi" yang dalam bahasa Karo artinya "bermalam di sini".

Pengertian ini dipercaya oleh masyarakat asli kota Binjai, khususnya etnis Karo merupakan cikal-bakal kota Binjai pada masa kini. Hal ini berdasarkan fakta sejarah, bahwa pada masa dahulu kala, kota Binjai merupakan perkampungan yang berada di jalur yang digunakan oleh "Perlanja Sira" yang dalam istilah Karo

merupakan pedagang yang membawa barang dagangan dari dataran tinggi Karo dan menukarnya (barter) dengan pedagang garam di daerah pesisir Langkat.

Perjalanan yang ditempuh Perlanja Sira ini hanya dengan berjalan kaki menembus hutan belantara menyusuri jalur tepi sungai dari dataran tinggi Karo ke pesisir Langkat dan tidak dapat ditempuh dalam waktu satu atau dua hari, sehingga selalu bermalam di tempat yang sama, begitu juga sebaliknya, kembali dari dataran rendah Karo yaitu pesisir Langkat, Para perlanja sira ini kembali bermalam di tempat yang sama pula, selanjutnya seiring waktu menjadi sebuah perkampungan yang mereka namai dengan "Kuta Benjéi".

Pada tahun 1823 Gubernur Inggris yang berkedudukan di Pulau Penang mengutus John Anderson ke pesisir Sumatera timur dan dalam catatannya disebutkan sebuah kampung yang bernama “Ba Bingai” sejak tahun 1822, Binjai dijadikan bandar atau pelabuhan dimana hasil pertanian lada yang diekspor adalah berasal dari perkebunan lada di sekitar ketapangi (pungai) atau kelurahan kebun lada atau kampung damai.

Selanjutnya pada tahun 1864 di daerah deli telah dicoba ditanami tembakau oleh pioner belanda bernama j.nienkyis yang mendorong didirikannya deli maatschappij pada tahun 1866. Orang orang belanda berusahan untuk menguasai tanah deli dengan menggunakan politik pecah belah melalui pengangkutan datuk- datuk. Usaha ini ditentang oleh datuk kocik, datuk jalil dan suling barat, sementara datuk sunggal tidak menyutujui pemberian konsensi tanah kepada perusahaan Rotterdenmy oleh sultan deli karena tanpa persetujuan. Di bawah kepemimpinan datuk sunggal bersama rakyatnya di timbang langkat (binjai) dibuat benteng pertahanan untuk menghadapi belanda. Belanda terasa terhina

atas tindakan ini dan memerintahkan kapten koops untuk menumpas para datuk yang menentang belanda. Pada 17 Mei 1872 terjadilah pertempuran sengit antara datuk dan masyrakat menghadapi belanda. Peristiwa perlawanan inilah yang menjadi tonggak sejarah dan ditetapkan sebagai hari terbentuknya kota binjai.

Perjuangan para datuk dan para rakyat terus berkobar dan pada akhirnya pada 24 oktober 1872 datuk kocik, suling barat dan datuk jalil tertangkap oleh pasukan belanda dan kemudian pada tahun 1873 mereka dibuang di cilacap. Pada tahun 1917 oleh pemerintah belanda dikeluarkan instelling ordonantie No. 12 dimana binjai dijadikan Gemeente dengan luas 267 Ha.

Pada tahun 1942 sampai dengan 1945 binjai dikuasai oleh jepang dengan kepala pemerintahan kagujawa (dengan sebutan Guserbu) dan tahun 1944/1945 pemerintahan kota dipimpin oleh ketua dewan eksekutif j. Runnanbi dengan beranggotakan Dr.RM Djulham, Natangsa sembiring dan Tan Hong Poh. Pada tahun 1945 (saat revolusi) sebagai kepala pemerintahan kota binjai adalah RM.

Ibnu dan pada tanggal 29 oktober 1945 T.Amir Hamzah diangkat menjadi residen langkat oleh komite nasional. Pada saat masa kependudukan belanda tahun 1947 binjai berada dibawah asisten residen J.Bunger dan RM. Ibnu sebagai Wakil wali kota binjai. Pada tahun 1948 sampai dengan 1950 pemerintahan kota binjai dipegang oleh ASC More. Pada tahun 1950 sampai dengan 1956 binjai menjadi kota administratif kabupaten langkat dan walikotanya adalah OK salamuddin kemudian T.ubaidullah Tahun 1953 sampai dengan 1956. Berdasarkan Undang Undang darurat no.9 Tahun 1956 Kota binjai menjadi wilayah otonom dengan walikota pertama yaitu SS Parumahan.

Dalam perkembangan nya kota binjai sebagai salah satu daerah dengan

tingkat II di provinsi Sumatera Utara telah membenahi dirinya dengan melakukan pemekaran wilayahnya. Semenjak ditetapkan peraturan pemerintah No. 10 Tahun 1986 wilayah kota binjai telah diperluas menjadi seluas 90,23 Km persegi dengan 5 wilayah kecamatan yang terdiri dari 11 desa dan 11 kelurahan.

Setelah diadakan pemecahan desa dan kelurahan pada tahun 1993 maka jumlah desa meningkat menjadi 17 desa dan 20 kelurahan. Perubahan ini berdasarkan keputusan Gubernur Sumatera Utara No.140 – 1395/SK/1993 tanggal 3 juni 1993 tentang pembentukan 6 desa persiapan dan kelurahan persiapan di kota binjai.

Berdasarkan SK Gubernur Sumatera Utara No. 146 – 2624/SK 1996 tanggal 7 agustus 1996, 17 desa menjadi kelurahan.

2.2 Sejarah Singkat Badan Pengengelolaan Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah

Binjai adalah salah satu Kota (dahulu daerah tingkat II berstatus Kotamadya) dalam wilayah provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Binjai terletak 22 km di sebelah barat ibukota Provinsi Sumatera Utara, Medan. Dinas Pendapatan Daerah Kota Binjai atau yang sekarang berganti nama menjadi Badan Pengelolaan Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah. Badan Pengelolaan Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah merupakan Badan mengurus tentang keuangan pajak daerah di Kota Binjai. Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Binjai adalah Badan yang mengurus tentang keuangan pajak daerah di Kota Binjai. Mengingat bahwa Kantor Badan Pengelolaan Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah Kota Binjai ini baru berpindah lokasi sekitar 2 (dua) tahun yang lalu dan diresmikan langsung oleh walikota Binjai. Kantor baru berlokasi di jalan Jambi kelurahan

Rambung Barat Kecamatan Binjai Selatan. Sebelumnya Badan Pengelolaan Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah dan sebelumnya berkantor di jalan Teuku Amir Hamzah kecamatan Binjai Utara yang merupakan gedung milik Pemprovsu.

Badan Pengelolaan Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah mempunyai tugas sebagaimana yang telah dimaksud. Dinas Pendapatan Daerah Kota Binjai menyelenggarakan fungsi :

a. Perumusan kebijakan teknis sesuai dengan lingkup tugasnya

b. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum sesuai dengan lingkup tugasnya.

c. Pembinaan dan pelaksaan tugas sesuai dengan lingkup tugasnya, dan d. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh walikota sesuai dengan

tugasdan fungsinya.

2.3 Gambaran Umum dan Struktur BPKPAD Kota Binjai

Badan Pengelolaan Keuangan Pendapatan dan Aset Daerah Kota Binjai Merupakan Salah Satu instansi pemerintah dilingkungan pemerintah Kota Binjai yang Mempunyai tugas dan kewajiban membantu kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah di bidang pengelolaan keuangan dan asset daerah kota binjai.

Sesuai dengan peraturan daerah kota Binjai nomor 16 Tahun 2012 Tentang organisasi dan tata kerja lembaga teknis daerah (LPD) sebagai dasar pembentukan badan pengelolaan keuangan dan asset daerah sebagai unsur penunjang kota binjai di bidang pengelolaan keuangan dan aset, berada dibawah dan bertanggung jawab terhadap wali kota Binjai melalui sekretaris Daerah kota binjai.

Badan pengelolaan keuangan pendapatan dan aset daerah (BPKPAD) kota binjai sebagai salah satu instansi pemerintah di lingkungan Pemerintah kota binjai dituntut untuk mewujudkan suatu instansi pemerintah yang bersih, transparansi akuntabilitas dan berwibawa (Good Govermence).

Badan pengelolaan keuangan pendapatan dan aset daerah kota binjai mempunyai tugas pokok membantu kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahaan daerah di bidang pengelolaan keuangan dan aset daerah Kota Binjai. Selanjutnya untuk menyelenggarakan tugas Pokok Tersebut, Badan Pengelolaan Keuangan Pendapatan dan Aset daerah kota binjai mempunyai fungsi sebagai berikut:

a. Melaksanaan Penyusunan dan Pelaksanaan kebijakan Pengelolaan APBD.

b. Melaksanakan Penyusunan Rancangan APBD dan rancangan perubahan APBD.

c. Melaksanakan Fungsi Bendahara Umum daerah

d. Melaksanakan Laporan keuangan yang merupakan pertanggung jawaban pelaksanaan APBD

e. Melaksanakan pengelolaan administrasi umum yang meliputi pekerjaan ketatausahaan, keuangan, kepegawaian, perlengkapan, organisasi dan tata laksana kantor;

f. Melakukan koordinasi dengan instansi terkait dalam rangka penagihan PBB, BPHTB, retribusi dan pajak daerah lainnya;

g. Melakukan koordinasi penyusunan rencana pendapatan asli daerah (PAD) dan pengembangannya (eksistensi/intensifikasi)

h. Menyiapkan rencana kebijakan dan atau strategi dalam rangka peningkatan pelayanan kepada masyarakat di bidang pembayaran tagihan PBB, BPHTB, Retribusi dan pajak daerah lainnya;

i. Melaksanakan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta penghapusan barang milik daerah;

j. Melaksanakan anggaran badan pengelolaan keuangan, pendapatan dan aset daerah;

k. Melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran belanja sesuai dengan ketentuan yang berlaku;

l. Melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran;

m. Melakukan pengendalian pelaksanaan APBD

n. Menyiapkan pelaksanaan pinjaman dan pemberian pinjaman atas nama o. pemerintah daerah;

p. Melaksanakan penilaian atas kinerja/prestasi kerja bawahan; dan q. Melaksanakan tugas – tugas lain yang diberikan oleh walikota sesuai r. dengan tugas dan fungsinya.

Berdasarkan Peraturan walikota Binjai nomor 48 Tahun 2016 tentang rincian tugas pokok dan fungsi badan pengelolaan keuangan pendapatan dan asset daerah kota Binjai, dimana susunan organisasi badan pengelolaan keuangan pendapatan dan aset daerah terdiri dari:

a. Kepala badan;

b. Sekretariat, terdiri dari:

1) Sub bagian umum dan kepegawaian;

2) Sub bagian keuangan;

3) Sub bagian Program;

c. Bidang perbendaharaan, teridiri dari:

1) Sub bidang perbendaharaan belanja tak langsung;

2) Sub bidang perbendaharaan belanja langsung 3) Sub Administrasi dan pelaporan perbendaharaan;

d. Bidang anggaran, Terdiri dari:

1) Sub bidang belanja langsung;

2) Sub bidang belanja tidak langsung;

3) Sub bidang verifikasi Anggaran belanja dan pendapatan;

e. Bidang Akuntansi, Terdiri dari:

1) Sub bidang Akuntansi Pendapatan dan belanja daerah;

2) Sub bidang Pelaporan Pendapatan dan Belanja;

3) Sub bidang sistem informasi keuangan daerah;

f. Bidang PBB dan BPHTB Terdiri dari:

1) Sub bidang Pelayanan PBB dan BPHTB;

2) Sub Bidang Penetapan PBB dan BPHTB 3) Sub bidang pengendalian PBB dan BPHTB;

g. Bidang Retribusi dan Pajak Daerah Lainnya terdiri dari:

1) Sub bidang pelayanan Retribusi dan Pajak daerah lainnya;

2) Sub bidang penetapan retribusi dan Pajak daerah lainnya;

3) Sub bidang pengendalian retribusi dan pajak daerah lainnya;

h. Pengelolaan Aset Daerah, terdiri:

1) Sub bidang pendapatan aset daerah;

2) Sub bidang optimalisasi Aset;

3) Sub bidang pengendalian Aset Daerah;

i. Unit pelaksana teknis Badan (UPTB) j. Kelompok Jabatan Fungsional

2.4 Tugas Pokok dan Fungsi Badan Pengelolaan Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah

BADAN Pasal 3

(1) Badan Pengelolaan Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah merupakan Unsur Pelaksanaan Otonomi Daerah, yang dipimpin oleh seorang Kepala Badan berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Walikota melalui Sekretaris Daerah.

(2) Kepala Badan Pendapatan Daerah mempuyai tugas pokok membantu Walikota dalam melaksanakan urusan pemerintahan daerah di bidang Pendapatan Daerah berdasarkan azas Otonomi dan Tugas Pembantuan.

(3) Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat 2 Badan Pengelolaan Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah mempunyai fungsi :

a. Melaksanakan perumusan dan kebijakan teknis Pemerintah Daerah di bidang pendapatan.

b. Menyelenggarakan urusan pemerintahan dan pelayanan umum di bidang pendapatan.

c. Melaksanakan pembinaan dan pelaksanaan tugas di bidang pendapatan.

d. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Walikota sesuai tugas dan fungsinya.

SEKRETARIAT Pasal 4

(1) Sekretariat dipimpin oleh Sekretaris yang dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Badan.

(2) Sekretaris mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Kepala Badan lingkup Kesekretariatan meliputi pengelolaan administrasi umum, keuangan dan penyusunan program.

(3) Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat 2, Sekretaris menyelenggarakan fungsi :

a. Menyusun program dan rencana kerja.

b. Melaksanakan pengelolaan urusan ketatausahaan.

c. Melaksanakan pengelolaan urusan administrasi kepegawaian.

d. Melaksanakan pengelolaan urusan keuangan perbendaharaan.

e. Melaksanakan pengelolaan urusan perlengkapan, kerumahtanggan, pengadaan barang dinas, inventarisasi barang serta melakukan perawatan dan pemeliharaan.

f. Mempersiapkan rencana anggaran, pembukuan,pertanggung jawaban, mengelola urusan keuangan dan perbendaharaan serta membuat laporan keuangan dinas.

g. Menyusun Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (RENSTRA-SKPD).

h. Menyusun Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP).

i. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Badan sesuai dengan bidang tugasnya.

SUB BAGIAN UMUM Pasal 6

(1) Sub Bagian keuangan dipimpin oleh Kepala Sub Bagian yang dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Sekretaris.

(2) Kepala Sub Bagian Keuangan mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Sekretariat linkup pengelolaan administrasi keuangan.

(3) Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat 2.

a. Kepala Sub Bagian Keuangan menyelenggarakan fungsi : b. Menyusun dan melaksanakan rencana kegiatan.

c. Melaksanakan urusan keuangan, pembukuan keuangan, keperluan keuangan dan pertanggungjawaban keuangan daerah.

d. Menyusun dan mengusulkan anggaran belanja pegawai, anggaran belanja rutin dan anggaran belanja lainnya.

e. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Sekretaris sesuai dengan bidang tugasnya.

SUB BAGIAN PROGRAM Pasal 7

(1) Sub Bagian Program dipimpin oleh Kepala Sub Bagian yang dalam melaksanakan tugasnya berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Sekretaris.

(2) Kepala Sub Bagian Program mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Sekretariat lingkup penyusunan program dan pelaporan.

(3) Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat 2, Kepala Sub Bagian Program menyelenggarakan fungsi :

a. dan melaksanakan program kerja.

b. Membantu Sekretaris dalam rangka mengumpulkan data, bahan penyusunan RENSTRA dan LAKIP.

c. Mengadakan evaluasi dan monitoring program kerja.

d. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Sekretaris sesuai dengan bidang tugasnya.

BIDANG MONITORING DAN EVALUASI Pasal 8

(1) Bidang Monitoring dan Evaluasi dipimpin oleh seorang Kepala Bidang yang dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Badan.

(2) Kepala Bidang Monitoring dan Evaluasi mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Kepala Badan dalam menghimpun data pajak daerah serta penerimaan lain-lain, melakukan monitoring dan

evaluasi terhadap seluruh penerimaan pajak daerah dan retribusi daerah serta penerimaan lainnya, mengadakan penelitian dan pengolahan data pajak daerah baru, retribusi daerah dan penerimaan lainnya.

(3) Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat 2, a. Kepala Bidang Monitoring dan Evaluasi mempunyai funsi :

b. Menyusun program rencana kerja.

c. Melakukan monitoring, evaluasi, merencanakan, pembinaan teknis pemungutan.

a. Melaksanakan pembinaan teknis operasional kepada setiap Unit Kerja Instansi di lingkungan Pemerintah Kota Binjai.

b. Membuat laporan realisasi penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan pendapatan lainnya yang sah.

c. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Badan sesuai dengan bidang tugsnya.

SEKSI PENDATAAN DAN PENDAFTARAN Pasal 9

(1) Seksi Pendataan dan Pendaftaran dipimpin oleh Kepala Seksi yang dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang.

(2) Kepala Seksi Pendataan dan Pendaftaran mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Bidang Monitoring dan Evaluasi lingkup pendataan dan pendaftaran.

(3) Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat 2,

Kepala Seksi Pendataan dan Pendaftaran menyelenggarakan fungsi : a. Menyusun dan melaksanakan rencana kegiatan.

b. Menyusun bahan petunjuk teknis lingkup pendataan dan pendaftaran.

c. Melaksnakan pendaftaran wajib pajak/ retribusi daerah melalui formulir pendaftaran.

d. Menyimpan, mendistribusikan, memberikan/ menerbitkan Nomor Pokok Wajib Pajak Daerah (NPWPD) dan Nomor Retribusi Daerah (NPWRD) serta menyimpan surat perpajakan daerah lainnya.

e. Membuat bahan monitoring, evaluasi, pembukuan dan pelaporan pelaksanaan tugas.

f. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang sesuai dengan bidang tugasnya.

SEKSI PENELITIAN Pasal 10

(1) Seksi Penelitian dipimpin oleh Kepala Seksi yang dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang.

(2) Kepala Seksi Penelitian mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Bidang Monitoring dan Evaluasi lingkup penelitian.

(3) Dalam melaksnakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat 2, Kepala Seksi Penelitian mempunyai fungsi :

a. Menyusun dan melaksanakan rencana kegiatan.

b. Menyusun bahan petunjuk teknis lingkup penelitian.

c. Meneliti/ memeriksa daftar tunggakan pajak daerah dan retribusi daerah berdasarkan ketetapan yang diterbitkan.

d. Menerima laporan hasil penelitian/ pemeriksaan dan unit penelitian/

pemeriksaan, timpenelitian/ pemeriksaan.

e. Menatausahakan hasil penelitian/ pemeriksaan lapangan atas objek dan subjek pajak.

f. Meneliti/ memeriksa pembukuan penerimaan dan pengeluaran benda berharga serta pencatatan uang dari hasil pungutan benda berharga secara berkala.

g. Membuat bahan monitoring, evaluasi, pembukuan dan pelaporan pelaksanaan tugas.

h. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang sesuai dengan bidang tugasnya.

SEKSI PENGOLAHAN DATA Pasal 11

(1) Seksi Pengolahan Data dipimpin oleh Kepala Seksi yang dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan betanggung jawab kepada Kepala Bidang.

(2) Kepala Seksi Pengolahan Data mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Bidang Monitoring dan Evaluasi lingkup pengolahan data.

(3) Dala melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat 2,

Kepala Seksi Pengolahan Data mempunyai fungsi : a. menyusun dan melaksanakan rencana kegiatan.

b. Menyusun bahan petunjuk teknis lingkup pendataan.

c. Mengumpulkan dan mengolah data penerimaan objek pajak daerah/

retribusi daerah dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta pendapatan daerah lainnya yang sah.

d. Melaksanakan koordinasi dengan instansi vertikal dan dinas lainnya tentang Pendapatan Asli Daerah (PAD).

e. Menyusun target penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan pendapatan daerah lainnya yang sah.

f. Melakukan pembinaan teknis pemungutan, pemantauan, evaluasi terhadap pungutan pajak dan retribusi daerah serta pungutan pendapatan daerah lainnya yang sah.

g. Melaksanakan bimbingan dan petunjuk kepada setiap unit kerja yang mengelola pungutan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan pendapatan daerah lainnya yang sah.

h. Mempersiapkan bahan monitoring, evaluasi, pembukuan dan pelaporan

1) pelaksanaan tugas.

i. Melaksanakan tugas lain yang diberikan Kepala Bidang sesuai dengan bidang tugasnya.

BIDANG PENDAPATAN DAN BAGI HASIL Pasal 12

(1) Bidang Pendapatan dan Bagi Hasil dipimpin oleh seorang Kepala Bidang yang dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Badan.

(2) Kepala Bidang Pendapatan dan Bagi Hasil mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Kepala Dinas dalam bidang pendapatan dan bagi hasil yang meliputi perencanaan dan pengembangan, pajak daerah, retribusi daerah, bagi hasil pajak dan bukan pajak, penataushaan

(2) Kepala Bidang Pendapatan dan Bagi Hasil mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Kepala Dinas dalam bidang pendapatan dan bagi hasil yang meliputi perencanaan dan pengembangan, pajak daerah, retribusi daerah, bagi hasil pajak dan bukan pajak, penataushaan

Dokumen terkait