PERANAN PAJAK PARKIR DALAM PENERIMAAN PENDAPTAN ASLI DAERAH KOTA BINJAI
NAMA : CICI ARSISKA NIM : 172600083
Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Menyelesaikan Program Studi Diploma III Administrasi Perpajakan
PROGRAM STUDI DIPLPMA III ADMINISTRASI PERPAJAKAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2020
Alhamdulillah, Segala Puji dan Syukur saya ucapkan atas kehadiran Allah SWT Karena berkat Rahmat dan Hidayah-Nya yang telah memberikan kesehatan dan keselamatan serta pengetahuan,keterampilan ,kemampuan dan senantiasa memberikan petunjuk kepada saya dalam menyelesaikan laporan tugas akhir dengan judul “PERANAN PAJAK PARKIR DALAM PENERIMAAN PENAPATAN ASLI DAERAH KOTA BINJAI”.
Laporan Tugas Akhir ini dibuat dan disusun dengan baik untuk memenuhi syarat kelulusan untuk menyelesaikan program studi Diploma III Administrasi Perpajakan di Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
Pada kesempatan ini,penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan bantuan dan motivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir ini. Untuk semua itu,penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Drs. Muryanto Amin, S.Sos, M. Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Drs. Rasudyn Ginting, M.Si selaku Ketua Program Studi Diploma III Administrasi Perpajakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Drs. Kariono, M. Si selaku Sekretaris Program Studi Diploma III Administrasi Perpajakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
5. Bang Firman dan Kak Indah selaku Staff Pegawai Program Studi Diploma III Administrasi Perpajakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Sumatera Utara .
6. Seluruh Dosen Pengajar Studi Diploma III Administrasi Perpajakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik dan memberikan ilmunya selama dibangku perkuliahan 7. Kepada Kassubag dan segenap Staff Pegawai Badan Pengelolaan
Keuangan Pendapatan dan Aset Daerah BPKPAD Kota Binjai yang telah memberikan informasi serta data yang penulis butuhkan dalam melakukan penelitian
8. Teristimewa untuk keluarga tercinta Ayah dan Mama yang selalu mencintai, membimbing,dan mendo’akan sepenuh hatinya. Semoga Ayah dan Mama selalu sehat dan selalu berada di lindungan Allah SWT. Amin 9. Kepada Kakak Saya Eca Eie Lianza yang selalu membantu saya dalam
mengerjakan Tugas Akhir saya dan selalu meluangkan waktunya untuj saya.
10. Kepada seluruh Keluarga yang telah memberikan dukungan dan dorongannya agar terselesaikannya Tugas Akhir saya
11. Kepada sahabat seperjuangan kuliah yang selalu memberikan dukungannya satu sama lain yaitu Claudya Christine Sitompul dan Rohaya Margareth Hasugian, Love u guys ..
rasa hormat dan teima kasih penulis
Dalam penulisan tugas akhir ini,penulis menyadari kekurangan dan kelemahan baik dari segi isi dan penulisa, untuk itu dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan Tugas Akhir ini.
Akhir kata penulis berharap semoga Tugas Akhir ini bermanfaat bagi kita yang membutuhkan.
Medan,13 Septemmber 2020 Penulis
Cici Arsiska 172600083
PERANAN PAJAK PARKIR DALAM PENERIMAAN PENDAPATAN ASLI DAERAH KOTA BINJAI
(Studi Kasus : Badan Pengelolaan Keuangan Pendapatan Dan Aset Daerah Kota Binjai)
Cici Arsiska, 172600083
Program Studi Diploma III Administrasi Perpajakan Pembimbing Drs. Kariono. M,Si
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Uniersitas Sumatera Utara
Pajak Parkir adalah pajak atas penyelenggaraan tempat parkir diluar Badan jalan, baik yang disediakan yang berkaitkan dengan pokok usaha maupun sebagai suatu usaha, termasuk penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Bagaimana Peranan Pajak Parkir dalam Penerimaan Pendapatan Asli Daerah Kota Binjai dan juga untuk mengetahui berapa besaar target dan realisasi pajak parkir di Badan Pengelolaan Keuangan Pendapatan dan Aset Daerah (BPKPAD) Kota Binjai. Objek penelitian ini dilakukan di Pengelolaan Keuangan Pendapatan dan Aset Daerah (BPKPAD) Kota Binjai.
Penelitian ini merupakan penlitian deskriptif dan kualitatif yang merupakan pengumpulan data menggunakan pengamatan,wawancara,dan dokumentasi kepada staff pegawai Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah .
Dari hasil penelitian Presentase Realisasi penerimaan Pajak Parkir di BPKPAD Kota Binjai Tahun 2016-2018 berturut-turut adalah 218,34% , 195,63
% , 98,23%. Pajak parkir mengalami peningkatan yang cukup pesat pada 2 tahun tetapi pada tahun ketiga realisasi penerimaan pajak parkir tidak tercapai, oleh karena itu BPKPAD Kota Binjai melakukan pengawasan secara langsung para wajib pajak yang belum menjalankan kewajiban perpajakannya
Kata Kunci : Pajak Parkir,Pendapatan Aset Daerah
THE ROLE OF PARKING TAX IN REGIONAL ORIGINAL INCOME REVENUE OF BINJAI CITY
( Case Study : Regional Income and Asset Financial Management Board
of Binjai City )
Cici Arsiska, 172600083
Diploma III Study Program Tax Administration Supervisor Drs. Kariono. M ,Si
Faculty of Social and Political Science, Universitas Sumatera Utara
Parking Tax is a tax on the operation of parking spaces outside the road agency, whether provided in connection with the principal of the business or as a business, including the provision of storage for motorized vehicles.
This study aims to determine how the role of parking tax in the local revenue of Binjai City and also to find out how much is the target and realization of parking tax in the Regional Income and Asset Financial Management Board (BPKPAD) of Binjai City. The object of this research was conducted in the Regional Income and Asset Financial Management board (BPKPAD) of Binjai City.
This research is a descriptive and qualitative research which is the collection of data using observations, interviews, and documentation to staff employees of the Regional Financial and Asset Management Board.
From the results of the research, the percentage of Realization of Parking Tax revenue at BPKPAD Binjai City in 2016-2018 was 218.34%, 195.63%, 98.23%, respectively. Parking tax has increased quite rapidly in 2 years but in the third year the realization of parking tax revenue has not been achieved, therefore the Binjai City BPKPAD directly supervises taxpayers who have not carried out their tax obligations.
Keywords: parking tax,Regional original income
KATA PENGANTAR ... i
ABSTRAK ... iv
ABSTACT ... v
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR TABEL... ix
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 4
1.3 Tujuan dan Manfaat... 4
1.3.1 Tujan... 4
1.3.2 Manfaat... 5
1.4 Uraian Teoritis ... 5
1.4.1 Pajak ... 5
1.4.2 Fungsi pajak ... 6
1.4.3 Jenis Pajak ... 7
1.4.4 Menurut Lembaga Pemungutnya ... 8
1.4.5 Sistem Pemungutan pajak ... 9
1.4.6 Pendapatan Asli Daerah ... 11
1.4.6.1 Pengertian Pendapatan Asli Daerah ... 11
1.4.6.2 Sumber-Sumber Pendapatan Asli Daerah... 12
1.4.7 Pajak Daerah ... 13
1.4.7.1 Pengertian Pajak Daerah ... 13
1.4.7.2 Ciri-Ciri Pajak Daerah ... 13
1.4.7.3 Jenis Pajak Daerah ... 13
1.4.8 Pajak Parkir ... 14
1.4.8.1 Pengertian Pajak Parkir ... 14
1.4.8.2 Pengertian Restribusi Parkir ... 14
1.4.8.3 Objek pajak Parkir Dan Pengecualian Objek Pajak Parkir ... 14
1.4.9 Dasar Pengenaan Pajak Parkir... 15
1.4.10 Tarif Pajak Parkir ... 15
1.5 Metode Penelitian ... 16
1.5.4 Alat Pengumpulan Data ... 17 1.5.5 Informan Penelitian ... 17 BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
2.1 Sejarah Singkat Kota Binjai ... 15 2.2 Sejarah Singkat Badan Pengengelolaan Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah ... 18 2.3 Gambaran Umum dan Struktur BPKPAD Kota Binjai ... 19 2.4 Tugas Pokok dan Fungsi Badan Pengelolaan Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah ... 22 2.5 Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah KotaBinjai ... 42 BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil Pembahasan ... 45 3.2.1 Bagaimana Peranan Pajak Parkir dalam Penerimaan Pendapatan Asli Daerah Kota Binjai ... 56 3.2.2 Target dan Realisasi Pajak Parkir di BPKPAD Tahun 206-2018 ..
... 56 BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Peranan Pajak Parkir Dalam Penerimaan Pendapatan Asli Daerah Kota Binjai ... 50 4.2 Target dan Realisasi Pajak Parkir di BPKAD Kota Binjai ... 61 BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ... 63 5.2 Saran ... 64
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
Gambar 2.1 Logo Kota Binjai ... 18
Tabel 3.1 Wajib Pajak Parkir Pada Tahun 2016 ... 53 Tabel 3.2 Wajib Pajak Parkir Pada Tahun 2017 ... 54 Tabel 3.3 Wajib Pajak Parkir Pada Tahun 2018 ... 54 Tabel 3.4 Target Realisasi dan Penerimaan Pajak Parkir Kota Binjai 2016-2018
... 56 Tabel 4.1 Realisasi Pajak Parkir dan Realisasi Pendapatan Asli Daerah Kota Binjai Tahun 2016-2018 ... 58 Tabel 4.2 Kontribusi Pajak Parkir Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Binjai Tahun 2016-2018 ... 59 Tabel 4.3Target Realisasi dan Penerimaan Pajak Parkir di Kota Binjai 2016-2018
... 61
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pajak memiliki peran yang sangat penting bagi penerimaan pendapatan Negara. Pelaksanaan otonomi daerah menganut prinsip bahwa sumber keuangan perolehan yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) lebih penting dbandingkan sumber-sumber diluar Pendapatan Asli Daerah (PAD), Karena Pendapatan Asli Daerah (PAD) dikelola sendiri oleh pemerintah daerah.
Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah pendapatan yang diperoleh daerah dan dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang- undangan. Pendapatan Asli Daerah (PAD) bersumber dari hasil Pajak Daerah, Retribusi Daerah, pengelolaan kekayaaan daerah dan lain-lain. Penyediaan pembiayaan dari pendapatan asli daerah dilakukan melalui peningkatan kinerja pemungutan, penyempurnaan, dan penambahan jenis retribusi, pajak daerah dan sumber pendapatan lainnya. Sehingga Pendapatan Asli Daerah (PAD) menjadi sangat penting karena berperan sebagai sumber pembiayaan dan sebagai tolak ukur dalam pelaksanaan otonomi daerah.
- Pelaksaan pemungutan pajak parkir di kota Binjai tidaklah berjalan seperti yang diharapkan. Ada beberapa faktor yang menjadi penghambat diantaranya sebagai berikut kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pajak. Hal ini dikarenakan dikarenakan tidak semua subjek pajak memahami bahwa dirinya adalah Wajib Pajak yang harus melaksanakan kewajiban perpajakannya. Kurangnya kesadaran masyarakat merupakan suatu indikasi bahwa kepatuhan terhadap pajak kurang baik. Kepatuhan
pajak seharusnya dilaksanakan ketika syarat terutang pajak terpenuhi.
Ketika subjek pajak (pengelola usaha) secara sadar memanfaatkan lahan parkir yang diketahui milik pemerintah, diharapkan subjek pajak tersebut secara sukarela dapat memenuhi kewajiban untuk membayar pajak, dimulai dengan mendaftarkan diri sampai melakukan pembayaran pajak terutang.
- Masih banyak lahan parkir yang dikuasai oleh pihak ketiga diluar sistem yang berlaku seperti oleh preman yang mengelola lahan parkir sehingga wajib pajak tidak tahu dengan jelas pemotongannya, serta sering terjadi pemotongan diluar system
- Keberatan Tarif Pajak Parkir yaitu 30%. Selain dikarenakan tarifnya memang tergolong besar, untuk Wajib Pajak yang pendapatan parkirnya tergolong kecil juga terkadang tidak cukup untuk membiayai gaji karyawan yang mengurus serta menjaga di tempat parkir. Tentu ini akan memberatkan bagi wajib pajak.
Dalam peraturan daerah kota Binjai No 3 Tahun 2011 pasal 3, adapun tata cara pembayaran dan penagihan yaitu :
a) Walikota menentukan tanggal jatuh tempo pembayaran dan penyetoran pajak yang terutang paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja setelah saat terutangnya pajak dan paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal diterimanya SPPT oleh Wajib Pajak.
b) (SPPT, SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, STPD, Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, dan Putusan Banding, yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah merupakan
dasar penagihan pajak dan harus dilunasi dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak tanggal diterbitkan.
c) Walikota atas permohonan Wajib Pajak setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan dapat memberikan persetujuan kepada Wajib Pajak untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak, dengan dikenakan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan.
d) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembayaran, penyetoran, tempat pembayaran, angsuran, dan penundaan pembayaran pajak diatur dengan Peraturan Walikota.
Pajak bermanfaat sekali bagi pambangunan nasional dan pembangunan daerah. Hasil pungutan pajak tidak saja berfungsi sebagai sumber dana dari pemerintah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran Negara melainkan juga sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi. Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menempatkan perpajakan sebagai salah satu perwujudan kenegaraan, ditegaskan bahwa penempatan beban kepada rakyat, seperti pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa diatur dengan Undang- Undang.
Pajak parkir diharapkan dapat memiliki peranan yang berarti dalam pembiayaan pembangunan daerah. Pemungutan pajak parkir pada saat ini sangatlah berperan penting khususnya di Kota Binjai. Sistem pemungutan pajak parkir terhadap pendapatan daerah di Kota Binjai yaitu melalui tahapan perencanaan (pendataan), pelaksanaan (penyetoran) dan pengawasan yang didalamnya dianut Self Assessment System yang memberikan kepercayaan
kepada Wajib Pajak untuk menghitung, membayar dan melaporkan sendiri utang pajaknya,
Upaya dalam peningkatan penerimaan pajak parkir dalam setiap tahunnya pasti mengalami kendala tertentu,oleh karena itu Badan Pengelolaan Keuangan Pendapatan dan Aset Daerah kota Binjai harus benar-benar mengatasi permasalahan-permasalahan yang terjadi khususnya pajak parkir dan retribusi parkir. Dari latar belakang diatas maka penulis mengambil judul ”PERANAN PAJAK PARKIR DALAM PENERIMAAN PENDAPATAN ASLI DAERAH KOTA BINJAI”
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana peranan pajak parkir dalam penerimaan pendapatan asli daerah Kota Binjai ?
2. Berapa besar target dan realisasi pajak parkir Kota Binjai Tahun 2016 s/d 2018 ?
1.3 Tujuan dan Manfaat 1.3.1 Tujuan
Adapun tujuan penulisan Proposal Tugas Akhir ini adalah :
1. Untuk mengetahui bagaiamana peranan pajak parkir dalam penerimaan Pendapatan Asli Daerah Kota Binjai
2. Untuk mengetahui besarnya target dan realisasi pajak parkir Kota Binjai Tahun 2016 s/d 2018
1.3.2 Manfaat
Hasil penelitian yang diharapkan memberikan manfaat,baik akademis maupun praktis. Adapun manfaat yang diharapkan antara lain:
1. Manfaat Akademis
Bagi penulis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan serta dapat memberikan informasi yang berguna bagi penulis dengan cara penulis bisa mengaplikasikan teori-teori yang telah didapat selama perkuliahan berlangsung dan Diharapkan dari penelitian ini hanya dapat menambah wawasan dan perkembangan ilmu bagi penulis mengenai Peranan Pajak Parkir dalam Peningkatan Pendapatan Asli Daerah Kota Binjai.
2. Manfaat Bagi Praktis
Untuk Dinas Pendapatan Kota Binjai Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan dalam menentukan kebijaksanaan dalam upaya meningkatkan pendapatan pajak parkir.
1.4 Uraian Teoritis 1.4.1 Pajak
1. Pengertian Pajak
Pengertian Pajak menurut undang-undang No. 16 Tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang telah oleh pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Berikut pengertian pajak menurut beberapa para ahli:
2. Prof. Dr. Rochmat Soemitro,S.H(2014 : 1) Pajak ialah iuran rakyat kepada negara berdasarkan undang-undang yang dapat dipaksakan dengan tidak mendapat jasa timbal balik yang lasung dapat ditunjukan dan digunakan untuk mebayar pengluaran umum.
3. S. I. Djajadiningrat(2014 : 1) Pajak sebagai suatu kewajiban menyerahkan sebagian kekayaan ke kas negara yang disebabkan suatu keadaan,kejadian, dan perbuatan yang memberikan kedudukan tertentu, tetapi bukan sebagai hukuman, menurut peraturan yang ditetapkan pemerintah serta dapat dipaksakan, tetapi tidak ada jasa timbal balik dari negara secara langsung untuk memelihara kesejahteraan secara umum.
4. Dr. N. J. Feldmann(2014 : 2) Pajak adalah prestasi yang dipaksakan sepihak oleh dan terutang kepada penguasa (menurut norma-norma yang ditetapkan secara umum), tanpa adanya kontraprestasi, dan semata-mata digunakan untuk menutup pengeluaran-pengeluaran umum.
Dari beberapa pengertian pajak yang telah diuraikan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pajak adalah iuran wajib rakyat kepada negara yang bersifat memaksa dan tidak mendapat jasa imbalan yang langsung digunakan untuk membiayai pengeluaran –pengeluaran umum.
1.4.2 Fungsi Pajak
Terdapat dua fungsi pajak menurut bukunya Siti Resmi ( 2014 : 3) yaitu sebagai berikut :
1. Fungsi Budgetair(Sumber Keuangan Negara)Pajak mempunyai fungsi budgetairartinya pajak merupakan salah satu sumber penerimaan
pemerintah untuk membiayai pengeluaran baik rutin maupun pembangunan. Sebagai sumber keuangan negara , pemerintah berupaya memasukan uang sebanyak –banyaknya untuk kas negara . Upaya tersebut ditempuh dengan cara ekstensifikasi maupun intensifikasi pemungutan pajak melalui penyempurnaan peraturan berbagai jenis pajak seperti Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), dan Lain –lain.
2. Fungsi Regular ( Pengatur )Pajak mempunyai fungsi pengatur artinya pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksakan kebijakan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi, serta mencapai tujuan –tujuan tertentu di luar bidang keuangan.
1.4.3 Jenis Pajak
Menurut bukunya Siti Resmi (2014), Jenis Pajak berdasarkan Lembaga Pemungutnya digolongkan menjadi dua, yaitu :
1. Pajak Negara (Pajak Pusat) adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan digunakan untuk membiayai rumah tangga negara pada umumnya, seperti PPh, PPN dan PPnBM.
2. Pajak Daerah adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah baik daerah provinsi (pajak provinsi) maupun daerah kabupaten/kota (pajak kabupaten /kota) dan digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah masing –masing. Pajak Provinsi meliputi : Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air, Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, Pajak
Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan, serta Pajak Rokok.
Pajak Kabupaten/Kota meliputi: Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak Hiburan, Pajak Reklame, Pajak Penerangan Jalan, Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan, Pajak Parkir, Pajak Air Tanah, Pajak Sarang Burung Walet, Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan, serta Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.
1.4.4 Menurut Lembaga Pemungutnya
1) Pajak Pusat, adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan digunakan untuk membiayai rumah tangga Negara.
2) Pajak Daerah, adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah dan digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah.Pajak daerah menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah adalah kontribusi wajib kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar- besarnya kemakmuran rakyat. Pajak daerah terdiri dari pajak provinsi dan pajak kabupaten/kota.Pajak provinsi terdiri dari :
a. Pajak Kendaraan Bermotor
b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor d. Pajak Air Permukaan
e. Pajak Rokok
Pajak Kabupaten/Kota terdiri dari : a. Pajak Restoran
b. Pajak Hotel c. Pajak Hiburan d. Pajak Reklame
e. Pajak Penerangan Jalan
f. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan g. Pajak Parkir
h. Pajak Air Tanah
i. Pajak Sarang Burung Walet
j. Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perdesaan Perkotaan k. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan1
1.4.5 Sistem Pemungutan Pajak
Menurut bukunya Siti Resmi(2014 : 11) dalam memungut pajak dikenal tiga sistem pemungutan pajak, yaitu :
a. Official Assessment System:Sistem pemungutan pajak yang memberi kewenangan aparatur perpajakan untuk menentukan sendiri jumlah pajak yang terutang setiap tahunnya sesuai dengan peraturan perundang –undangan perpajakan yang berlaku. Dalam system pemungutan ini, inisiatif kegiatan menghitung dan memungut pajak sepenuhnya berada di tangan para aparatur perpajakan. Dengan demikian, berhasil atau tidaknya pelaksanaan pemungutan pajak banyak tergantung pada aparatur perpajakan (aparatur perpajakan
memiliki peran yang dominan).
b. Self Assessment:pemungutan pajak yang memberi wewenang Wajib Pajak dalam menentukan sendiri jumlah pajak yang terutang setiap tahunnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku. Dalam sistem pemungutan ini, inisiatifkegiatan menghitung dan memungut pajak sepenuhnya berada ditangan wajib pajak. Wajib Pajak dianggap mampu menghitung pajak, mampu memahami undang–undangperpajakan yang berlaku,mempunyai rasa kejujuran yang tinggi, serta menyadari pentingnya membayar pajak.
Oleh karena itu, Wajib Pajak diberikan kepercayaan untuk : 1. Menghitung sendiri pajak yang terutang
2. Memperhitungkan sendiri pajak yang terutang 3. Membayar sendiri jumlah pajak yang terutang 4. Melaporkan sendiri jumlah pajak yang terutang 5. Mempertanggungjawabkan pajak yang terutang
Dengan demikian, berhasil atau tidak pelaksanaan pemungutan pajak tergantung pada Wajib Pajak sendiri (wajib pajak berperan dominan).
c. With Holding System:Sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga yang ditunjuk untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak sesuai dengan peraturan perundang perpajakan yang berlaku. Penunjukan pihak ketiga ini dilakukan sesuai peraturan perundang –undangan perpajakan, keputusan presiden, dan peraturan lainnya untuk memotong dan memungut pajak, menyetor, dan
mempertanggungjawabkan memlalui sarana perpajakan yang tersedia.
Berhasil atau tidak pelaksanaan pemungutan pajak tergantung pada pihak ketiga yang ditunjuk.
1.4.6 Pendapatan Asli Daerah
1.4.6.1 Pengertian Pendapatan Asli Daerah
Berikut pengertian Pendapatan Asli Daerah menurut beberapa para ahli :
a. Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah segenap pemasukan atau penerimaan yang masuk ke dalam kas daerah, diperoleh dari sumber- sumber dalam wilayahnya sendiri, dipungut berdasarkan Peraturan Daerah sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dipergunakan untuk keperluam daerah. Oleh karena itu, tiap-tiap daerah harus mengupayakan agar dapat dipungut seintensif mungkin. (Fauzi dan Iskandar, 1984:44).
b. Menurut Halim (2004:67), Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah
“semua penerimaan daerah yang t6yberasal dari sumber ekonomi asli daerah”. Menurut Halim dan Nasir (2006:44), Pendapatan Asli Daerah adalah pendapatan yang diperoleh daerah dan dipungut berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
c. Menurut Mardiasmo (2002), Pendapatan Asli Daerah adalah penerimaan yang diperoleh dari sektor pajak daerah, retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah.
Dari beberapa pengertian Pendapatan Asli Daerah (PAD) diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa Pendapatan Asli Daerah merupakan penerimaan dari
sumber-sumber yang ada di dalam suatu wilayah tertentu yang dipungut berdasrkan undang-undang yang berlaku yang bertujuan untuk mendanai pelaksanaan otonomi daerah sesuai dengan potensi daerah tersebut.
1.4.6.2 Sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah
Dari pengertian Pendapatan Asli Daerah (PAD) di atas, berikut penjelasan masing- masing sumber pendapatan asli daerah tersebut:
1. Pajak Daerah
Pajak Daerah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh daerah kepada orang pribadi atau badan tanpa imbalan langsung dan seimbang serta dapat dipaksakan berdasarkan peraturan undang-undang yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan kegiatan pemerintah daerah dan pembangunan daerah.
2. Retribusi Daerah
Retribusi Daerah adalah pembayaran wajib dari penduduk kepada negara karena adanya jasa yang diberikan oleh negara bagi penduduknya secara perorangan.
3. Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan
Kekayaan negara yang dapat dipisahkan adalah komponen kekayaan negara yang pengelolaannya diserahkan kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan ini adalah bagian dari subbidang keuangan negara yang khusus pada negara-negara nonpublik.
1.4.7 Pajak Daerah
1.4.7.1 Pengertian Pajak Daerah
Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang dimaksud dengan pajak daerah adalah kontribusi wajib kepada daerah yang terhutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
1.4.7.2 Ciri-ciri pajak daerah
1. Pajak daerah dapat berasal dari pajak asli atau pajak pusat yang diserahkan ke daerah sebagai pajak daerah.
2. Pajak daerah hanya bisa dipungut didalam wilayah administrasi yang dikuasainya.
3. Pajak daerah dipungut berdasarkan Peraturan Daerah dan Undang- Undang sehingga pajaknya bersifat memaksa kepada subjek pajaknya.
1.4.7.3 Jenis Pajak Daerah
Berdasarkan pasal 22 Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak. Daerah dan Retribusi daerah terdapat lima jenis pajak provinsi dan sebelas jenis pajak kabupaten/ kota :
1. Pajak Provinsi, yang terdiri dari pajak kendaraan bermotor, pajak bea balik nama kendaraan, pajak bahan bakar kendaraan bermotor, pajak air permukaan serta pajak rokok.
2. Pajak Kabupaten/Kota yang terdiri dari pajak hotel, pajak restoran pajak hiburan, pajak reklame, pajak penerangan jalan, pajak mineral bukan
logam dan batuan, pajak parkir, pajak air tanah, pajak sarang burung wallet, pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan serta Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan atau BPHTB.
1.4.8 Pajak Parkir
1.4.8.1 Pengertian Pajak Parkir
Menurut Undang-undang Nomor 10 Tahun 2011 dinyatakan bahwa Pajak Parkir adalah pajak atas penyelenggaraan tempat parkir diluar Badan jalan, baik yang disediakan yang berkaitkan dengan pokok usaha maupun sebagai suatu usaha, termasuk penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor.
1.4.8.2 Pengertian Reribusi Parkir
retribusi parkir adalah pembayaran atas penggunaan jasa pelayanan tempat parkir yang ditentukan oleh Pemerintah Daerah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
1.4.8.3 Objek Pajak Parkir dan Pengecualian Objek Pajak Parkir Berdasarkan ketentuan dalam Peraturan Daerah Kota Binjai Nomor 3 Tahun 2011 dalam Pasal 40 mengenai Objek Pajak Parkir dan Pengecualian Objek Pajak Parkir, Objek Pajak Parkir adalah penyelenggaraan tempat parkir diluar badan jalan, baik yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha maupun sebagai suatu usaha, termasuk penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor.
Klasifikasi tempat parkir di luar badan jalan yang dikenakan Pajak Parkir adalah:
a. Gedung parkir;
b. Pelataran parker
c. Garasi kendaraan bermotor yang memungut bayaran; dan d. Tempat penitipan kendaraan bermotor.
Tidak termasuk objek pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah:
a penyelenggaraan tempat Parkir oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah;
b.Penyelenggaraan tempat Parkir oleh perkantoran yang hanya digunakan untuk karyawannya sendiri; dan penyelenggaraan tempat Parkir oleh kedutaan, konsulat, dan perwakilan negara asing dengan asas timbal balik.
1.4.9 Dasar Pengenaan Pajak Parkir
Dasar pengenaan Pajak Parkir adalah jumlah pembayaran atau yang seharusnya dibayar kepada penyelenggara tempat Parkir yang diperoleh dari sewa/tarif parkir yang dikumpulkan. Dasar pengenaan Pajak Parkir dapat ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Jumlah yang seharusnya dibayar termasuk potongan harga Parkir dan Parkir cuma-cuma yang diberikan kepada penerima jasa Parkir. Tarif Pajak Parkir ditetapkan paling tinggi sebesar 30% (tiga puluh persen). Tarif Pajak Parkir ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Pajak Parkir yang terutang dipungut di wilayah daerah tempat Parkir berlokasi
1.4.10 Tarif Pajak Parkir
Berdasarkan ketentuan dalam Peraturan Daerah Kota Binjai Nomor 3 Tahun 2011 Tarif Pajak Parkir ditetapkan sebesar 30% (tiga puluh persen).
1.5 Metode Penelitian 1.5.1 Jenis Data
Jenis data yang digunakan pada penelitian ini yaitu menggunakan data primer dan sekunder.
a. Data Primer adalah data-data yang diperoleh melalui wawancara terhadap orang-orang yang dianggap mampu memberikan informasi tentang objek penelitian.
b. Data Sekunder adalah data yang diperoleh dari referensi atau data- data terdahulu yang sudah ada seperti jurnal, laporan, dokumentasi.
1.5.2 Sumber Data
Dalam tahap ini penulis menyediakan persiapan kegiatan studi mencari data dan dan informasi dengan membaca landasan teori , buku-buku perpajakan, internet, Undang-undang Perpajakan yang berhubungan dengan objek pembahasan dan melakukan pengamatan sesuai dengan data pada Dinas Perhubungan Kota Binjai
1.5.3 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode dokumentasi dan wawancara :
a. Metode Dokumenasi merupakan pengumpulan data dengan cara
mencatat data penelitian dan mempelajari dokumen-dokumen yang sudah ada dan memiliki bukti akurat agar dapat memakai data atau informasi yang ada dan berhubungan dengan masalah yang diteliti.
Bahan dokumentasi dalam penelitian ini dapat berupa sumber tertulis, gambar,dan karya-karya monumental yang semuanya memberikan informasi bagi proses penulisan laporan Tugas Akhir.
b. Metode wawancara yaitu penulis melakukan wawancara dengan cara daring dengan informan di kantor Dinas Perhubungan Kota Binjai yang dianggap mampu memberikan data informasi yang bermanfaat
dalam menyusun Laporan Tugas Akhir.
1.5.4 Alat Pengumpulan Data
Dalam hal ini penulis melakukan pengumpulan data dengan menggunakan gadget secara daring untuk mengambil data-data yang sudah ada sebelumnya baik di jurnal, artikel, sumber-sumber pustaka yang berhubungan dengan objek Tugas Akhir.
1.5.5 Informan Penelitian
Informan dalam penelitian ini adalah Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah yang mengurus penerimaan pajak parkir sebagai informan kunci yang dapat memberikan informasi dan menjelaskan kondisi yang ada mengenai pajak parkir dan penerimaannya. Penulis juga memilih wajib pajak yaitu orang pribadi atau badan penyelenggara tempat parkir untuk menjadi informan kunci untuk menjelaskan mengenai penerimaan dan kontribusinya terhadap pajak parkir.
BAB II
GAMBARAN UMUM LOKASI TUGAS AKHIR
2.1 Sejarah Singkat Kota Binjai
2.1. Logo Kota Medan
Kota Binjai adalah salah satu kota di provinsi Sumatera utara, Indonesia.
Binjai terletak 22 km di sebelah barat ibukota provinsi Sumatera Utara atau Medan. Sebelum berstatus kotamadya, Binjai adalah Ibukota Kabupaten Langkat yang kemudian dipindahkan ke Stabat. Binjai berbatasan langsung dengan Kabupaten Langkat di sebelah barat dan utara serta Kabupaten Deli Serdang di sebelah timur dan selatan. Binjai merupakan salah satu daerah dalam proyek pembangunan Mebidang yang meliputi kawasan Medan, Binjai dan Deli Serdang.
Saat ini, Binjai dan Medan dihubungkan oleh jalan raya Lintas Sumatera yang menghubungkan antara Medan dan Banda Aceh. Pada masa silam kota Binjai disebut sebagai sebuah kota yang terletak di antara Sungai Mencirim di sebelah timur dan Sungai Bingai di sebelah barat, terletak di antara dua kerajaan
Melayu yaitu Kesultanan Deli dan Kerajaan Langkat. Berdasarkan penuturan para leluhur, baik yang dikisahkan atau yang diriwayatkan dalam berbagai tulisan yang pernah dijumpai, kota Binjai itu berasal dari sebuah kampung yang kecil terletak di pinggir Sungai Bingai, kira-kira di Kelurahan Pekan Binjai yang sekarang.
Upacara adat dalam rangka pembukaan Kampung tersebut diadakan di bawah sebatang pohon Binjai (Mangifera caesia) yang rindang yang batangnya amat besar, tumbuh kokoh di pinggir Sungai Bingai yang bermuara ke Sungai Wampu, sungai yang cukup besar dan dapat dilayari sampan-sampan besar yang berkayuh sampai jauh ke udik.
Di sekitar pohon Binjai yang besar itulah kemudian dibangun beberapa rumah yang lama-kelamaan menjadi besar dan luas yang akhirnya berkembang menjadi bandar atau pelabuhan yang ramai didatangi oleh tongkang-tongkang yang datang dari Stabat, Tanjung Pura dan juga dari Selat Malaka. Kemudian nama pohon Binjai itulah yang akhirnya melekat menjadi nama kota Binjai.
Konon pohon Binjai ini adalah sebangsa pohon embacang dan istilahnya berasal dari bahasa Karo.
Dalam versi lain yang merujuk dari beberapa referensi, asal-muasal kata
"Binjai" merupakan kata baku dari istilah "Binjéi" yang merupakan makna dari kata "ben" dan "i-jéi" yang dalam bahasa Karo artinya "bermalam di sini".
Pengertian ini dipercaya oleh masyarakat asli kota Binjai, khususnya etnis Karo merupakan cikal-bakal kota Binjai pada masa kini. Hal ini berdasarkan fakta sejarah, bahwa pada masa dahulu kala, kota Binjai merupakan perkampungan yang berada di jalur yang digunakan oleh "Perlanja Sira" yang dalam istilah Karo
merupakan pedagang yang membawa barang dagangan dari dataran tinggi Karo dan menukarnya (barter) dengan pedagang garam di daerah pesisir Langkat.
Perjalanan yang ditempuh Perlanja Sira ini hanya dengan berjalan kaki menembus hutan belantara menyusuri jalur tepi sungai dari dataran tinggi Karo ke pesisir Langkat dan tidak dapat ditempuh dalam waktu satu atau dua hari, sehingga selalu bermalam di tempat yang sama, begitu juga sebaliknya, kembali dari dataran rendah Karo yaitu pesisir Langkat, Para perlanja sira ini kembali bermalam di tempat yang sama pula, selanjutnya seiring waktu menjadi sebuah perkampungan yang mereka namai dengan "Kuta Benjéi".
Pada tahun 1823 Gubernur Inggris yang berkedudukan di Pulau Penang mengutus John Anderson ke pesisir Sumatera timur dan dalam catatannya disebutkan sebuah kampung yang bernama “Ba Bingai” sejak tahun 1822, Binjai dijadikan bandar atau pelabuhan dimana hasil pertanian lada yang diekspor adalah berasal dari perkebunan lada di sekitar ketapangi (pungai) atau kelurahan kebun lada atau kampung damai.
Selanjutnya pada tahun 1864 di daerah deli telah dicoba ditanami tembakau oleh pioner belanda bernama j.nienkyis yang mendorong didirikannya deli maatschappij pada tahun 1866. Orang orang belanda berusahan untuk menguasai tanah deli dengan menggunakan politik pecah belah melalui pengangkutan datuk- datuk. Usaha ini ditentang oleh datuk kocik, datuk jalil dan suling barat, sementara datuk sunggal tidak menyutujui pemberian konsensi tanah kepada perusahaan Rotterdenmy oleh sultan deli karena tanpa persetujuan. Di bawah kepemimpinan datuk sunggal bersama rakyatnya di timbang langkat (binjai) dibuat benteng pertahanan untuk menghadapi belanda. Belanda terasa terhina
atas tindakan ini dan memerintahkan kapten koops untuk menumpas para datuk yang menentang belanda. Pada 17 Mei 1872 terjadilah pertempuran sengit antara datuk dan masyrakat menghadapi belanda. Peristiwa perlawanan inilah yang menjadi tonggak sejarah dan ditetapkan sebagai hari terbentuknya kota binjai.
Perjuangan para datuk dan para rakyat terus berkobar dan pada akhirnya pada 24 oktober 1872 datuk kocik, suling barat dan datuk jalil tertangkap oleh pasukan belanda dan kemudian pada tahun 1873 mereka dibuang di cilacap. Pada tahun 1917 oleh pemerintah belanda dikeluarkan instelling ordonantie No. 12 dimana binjai dijadikan Gemeente dengan luas 267 Ha.
Pada tahun 1942 sampai dengan 1945 binjai dikuasai oleh jepang dengan kepala pemerintahan kagujawa (dengan sebutan Guserbu) dan tahun 1944/1945 pemerintahan kota dipimpin oleh ketua dewan eksekutif j. Runnanbi dengan beranggotakan Dr.RM Djulham, Natangsa sembiring dan Tan Hong Poh. Pada tahun 1945 (saat revolusi) sebagai kepala pemerintahan kota binjai adalah RM.
Ibnu dan pada tanggal 29 oktober 1945 T.Amir Hamzah diangkat menjadi residen langkat oleh komite nasional. Pada saat masa kependudukan belanda tahun 1947 binjai berada dibawah asisten residen J.Bunger dan RM. Ibnu sebagai Wakil wali kota binjai. Pada tahun 1948 sampai dengan 1950 pemerintahan kota binjai dipegang oleh ASC More. Pada tahun 1950 sampai dengan 1956 binjai menjadi kota administratif kabupaten langkat dan walikotanya adalah OK salamuddin kemudian T.ubaidullah Tahun 1953 sampai dengan 1956. Berdasarkan Undang Undang darurat no.9 Tahun 1956 Kota binjai menjadi wilayah otonom dengan walikota pertama yaitu SS Parumahan.
Dalam perkembangan nya kota binjai sebagai salah satu daerah dengan
tingkat II di provinsi Sumatera Utara telah membenahi dirinya dengan melakukan pemekaran wilayahnya. Semenjak ditetapkan peraturan pemerintah No. 10 Tahun 1986 wilayah kota binjai telah diperluas menjadi seluas 90,23 Km persegi dengan 5 wilayah kecamatan yang terdiri dari 11 desa dan 11 kelurahan.
Setelah diadakan pemecahan desa dan kelurahan pada tahun 1993 maka jumlah desa meningkat menjadi 17 desa dan 20 kelurahan. Perubahan ini berdasarkan keputusan Gubernur Sumatera Utara No.140 – 1395/SK/1993 tanggal 3 juni 1993 tentang pembentukan 6 desa persiapan dan kelurahan persiapan di kota binjai.
Berdasarkan SK Gubernur Sumatera Utara No. 146 – 2624/SK 1996 tanggal 7 agustus 1996, 17 desa menjadi kelurahan.
2.2 Sejarah Singkat Badan Pengengelolaan Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah
Binjai adalah salah satu Kota (dahulu daerah tingkat II berstatus Kotamadya) dalam wilayah provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Binjai terletak 22 km di sebelah barat ibukota Provinsi Sumatera Utara, Medan. Dinas Pendapatan Daerah Kota Binjai atau yang sekarang berganti nama menjadi Badan Pengelolaan Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah. Badan Pengelolaan Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah merupakan Badan mengurus tentang keuangan pajak daerah di Kota Binjai. Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Binjai adalah Badan yang mengurus tentang keuangan pajak daerah di Kota Binjai. Mengingat bahwa Kantor Badan Pengelolaan Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah Kota Binjai ini baru berpindah lokasi sekitar 2 (dua) tahun yang lalu dan diresmikan langsung oleh walikota Binjai. Kantor baru berlokasi di jalan Jambi kelurahan
Rambung Barat Kecamatan Binjai Selatan. Sebelumnya Badan Pengelolaan Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah dan sebelumnya berkantor di jalan Teuku Amir Hamzah kecamatan Binjai Utara yang merupakan gedung milik Pemprovsu.
Badan Pengelolaan Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah mempunyai tugas sebagaimana yang telah dimaksud. Dinas Pendapatan Daerah Kota Binjai menyelenggarakan fungsi :
a. Perumusan kebijakan teknis sesuai dengan lingkup tugasnya
b. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum sesuai dengan lingkup tugasnya.
c. Pembinaan dan pelaksaan tugas sesuai dengan lingkup tugasnya, dan d. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh walikota sesuai dengan
tugasdan fungsinya.
2.3 Gambaran Umum dan Struktur BPKPAD Kota Binjai
Badan Pengelolaan Keuangan Pendapatan dan Aset Daerah Kota Binjai Merupakan Salah Satu instansi pemerintah dilingkungan pemerintah Kota Binjai yang Mempunyai tugas dan kewajiban membantu kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah di bidang pengelolaan keuangan dan asset daerah kota binjai.
Sesuai dengan peraturan daerah kota Binjai nomor 16 Tahun 2012 Tentang organisasi dan tata kerja lembaga teknis daerah (LPD) sebagai dasar pembentukan badan pengelolaan keuangan dan asset daerah sebagai unsur penunjang kota binjai di bidang pengelolaan keuangan dan aset, berada dibawah dan bertanggung jawab terhadap wali kota Binjai melalui sekretaris Daerah kota binjai.
Badan pengelolaan keuangan pendapatan dan aset daerah (BPKPAD) kota binjai sebagai salah satu instansi pemerintah di lingkungan Pemerintah kota binjai dituntut untuk mewujudkan suatu instansi pemerintah yang bersih, transparansi akuntabilitas dan berwibawa (Good Govermence).
Badan pengelolaan keuangan pendapatan dan aset daerah kota binjai mempunyai tugas pokok membantu kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahaan daerah di bidang pengelolaan keuangan dan aset daerah Kota Binjai. Selanjutnya untuk menyelenggarakan tugas Pokok Tersebut, Badan Pengelolaan Keuangan Pendapatan dan Aset daerah kota binjai mempunyai fungsi sebagai berikut:
a. Melaksanaan Penyusunan dan Pelaksanaan kebijakan Pengelolaan APBD.
b. Melaksanakan Penyusunan Rancangan APBD dan rancangan perubahan APBD.
c. Melaksanakan Fungsi Bendahara Umum daerah
d. Melaksanakan Laporan keuangan yang merupakan pertanggung jawaban pelaksanaan APBD
e. Melaksanakan pengelolaan administrasi umum yang meliputi pekerjaan ketatausahaan, keuangan, kepegawaian, perlengkapan, organisasi dan tata laksana kantor;
f. Melakukan koordinasi dengan instansi terkait dalam rangka penagihan PBB, BPHTB, retribusi dan pajak daerah lainnya;
g. Melakukan koordinasi penyusunan rencana pendapatan asli daerah (PAD) dan pengembangannya (eksistensi/intensifikasi)
h. Menyiapkan rencana kebijakan dan atau strategi dalam rangka peningkatan pelayanan kepada masyarakat di bidang pembayaran tagihan PBB, BPHTB, Retribusi dan pajak daerah lainnya;
i. Melaksanakan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta penghapusan barang milik daerah;
j. Melaksanakan anggaran badan pengelolaan keuangan, pendapatan dan aset daerah;
k. Melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran belanja sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
l. Melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran;
m. Melakukan pengendalian pelaksanaan APBD
n. Menyiapkan pelaksanaan pinjaman dan pemberian pinjaman atas nama o. pemerintah daerah;
p. Melaksanakan penilaian atas kinerja/prestasi kerja bawahan; dan q. Melaksanakan tugas – tugas lain yang diberikan oleh walikota sesuai r. dengan tugas dan fungsinya.
Berdasarkan Peraturan walikota Binjai nomor 48 Tahun 2016 tentang rincian tugas pokok dan fungsi badan pengelolaan keuangan pendapatan dan asset daerah kota Binjai, dimana susunan organisasi badan pengelolaan keuangan pendapatan dan aset daerah terdiri dari:
a. Kepala badan;
b. Sekretariat, terdiri dari:
1) Sub bagian umum dan kepegawaian;
2) Sub bagian keuangan;
3) Sub bagian Program;
c. Bidang perbendaharaan, teridiri dari:
1) Sub bidang perbendaharaan belanja tak langsung;
2) Sub bidang perbendaharaan belanja langsung 3) Sub Administrasi dan pelaporan perbendaharaan;
d. Bidang anggaran, Terdiri dari:
1) Sub bidang belanja langsung;
2) Sub bidang belanja tidak langsung;
3) Sub bidang verifikasi Anggaran belanja dan pendapatan;
e. Bidang Akuntansi, Terdiri dari:
1) Sub bidang Akuntansi Pendapatan dan belanja daerah;
2) Sub bidang Pelaporan Pendapatan dan Belanja;
3) Sub bidang sistem informasi keuangan daerah;
f. Bidang PBB dan BPHTB Terdiri dari:
1) Sub bidang Pelayanan PBB dan BPHTB;
2) Sub Bidang Penetapan PBB dan BPHTB 3) Sub bidang pengendalian PBB dan BPHTB;
g. Bidang Retribusi dan Pajak Daerah Lainnya terdiri dari:
1) Sub bidang pelayanan Retribusi dan Pajak daerah lainnya;
2) Sub bidang penetapan retribusi dan Pajak daerah lainnya;
3) Sub bidang pengendalian retribusi dan pajak daerah lainnya;
h. Pengelolaan Aset Daerah, terdiri:
1) Sub bidang pendapatan aset daerah;
2) Sub bidang optimalisasi Aset;
3) Sub bidang pengendalian Aset Daerah;
i. Unit pelaksana teknis Badan (UPTB) j. Kelompok Jabatan Fungsional
2.4 Tugas Pokok dan Fungsi Badan Pengelolaan Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah
BADAN Pasal 3
(1) Badan Pengelolaan Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah merupakan Unsur Pelaksanaan Otonomi Daerah, yang dipimpin oleh seorang Kepala Badan berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Walikota melalui Sekretaris Daerah.
(2) Kepala Badan Pendapatan Daerah mempuyai tugas pokok membantu Walikota dalam melaksanakan urusan pemerintahan daerah di bidang Pendapatan Daerah berdasarkan azas Otonomi dan Tugas Pembantuan.
(3) Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat 2 Badan Pengelolaan Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah mempunyai fungsi :
a. Melaksanakan perumusan dan kebijakan teknis Pemerintah Daerah di bidang pendapatan.
b. Menyelenggarakan urusan pemerintahan dan pelayanan umum di bidang pendapatan.
c. Melaksanakan pembinaan dan pelaksanaan tugas di bidang pendapatan.
d. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Walikota sesuai tugas dan fungsinya.
SEKRETARIAT Pasal 4
(1) Sekretariat dipimpin oleh Sekretaris yang dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Badan.
(2) Sekretaris mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Kepala Badan lingkup Kesekretariatan meliputi pengelolaan administrasi umum, keuangan dan penyusunan program.
(3) Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat 2, Sekretaris menyelenggarakan fungsi :
a. Menyusun program dan rencana kerja.
b. Melaksanakan pengelolaan urusan ketatausahaan.
c. Melaksanakan pengelolaan urusan administrasi kepegawaian.
d. Melaksanakan pengelolaan urusan keuangan perbendaharaan.
e. Melaksanakan pengelolaan urusan perlengkapan, kerumahtanggan, pengadaan barang dinas, inventarisasi barang serta melakukan perawatan dan pemeliharaan.
f. Mempersiapkan rencana anggaran, pembukuan,pertanggung jawaban, mengelola urusan keuangan dan perbendaharaan serta membuat laporan keuangan dinas.
g. Menyusun Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (RENSTRA-SKPD).
h. Menyusun Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP).
i. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Badan sesuai dengan bidang tugasnya.
SUB BAGIAN UMUM Pasal 6
(1) Sub Bagian keuangan dipimpin oleh Kepala Sub Bagian yang dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Sekretaris.
(2) Kepala Sub Bagian Keuangan mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Sekretariat linkup pengelolaan administrasi keuangan.
(3) Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat 2.
a. Kepala Sub Bagian Keuangan menyelenggarakan fungsi : b. Menyusun dan melaksanakan rencana kegiatan.
c. Melaksanakan urusan keuangan, pembukuan keuangan, keperluan keuangan dan pertanggungjawaban keuangan daerah.
d. Menyusun dan mengusulkan anggaran belanja pegawai, anggaran belanja rutin dan anggaran belanja lainnya.
e. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Sekretaris sesuai dengan bidang tugasnya.
SUB BAGIAN PROGRAM Pasal 7
(1) Sub Bagian Program dipimpin oleh Kepala Sub Bagian yang dalam melaksanakan tugasnya berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Sekretaris.
(2) Kepala Sub Bagian Program mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Sekretariat lingkup penyusunan program dan pelaporan.
(3) Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat 2, Kepala Sub Bagian Program menyelenggarakan fungsi :
a. dan melaksanakan program kerja.
b. Membantu Sekretaris dalam rangka mengumpulkan data, bahan penyusunan RENSTRA dan LAKIP.
c. Mengadakan evaluasi dan monitoring program kerja.
d. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Sekretaris sesuai dengan bidang tugasnya.
BIDANG MONITORING DAN EVALUASI Pasal 8
(1) Bidang Monitoring dan Evaluasi dipimpin oleh seorang Kepala Bidang yang dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Badan.
(2) Kepala Bidang Monitoring dan Evaluasi mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Kepala Badan dalam menghimpun data pajak daerah serta penerimaan lain-lain, melakukan monitoring dan
evaluasi terhadap seluruh penerimaan pajak daerah dan retribusi daerah serta penerimaan lainnya, mengadakan penelitian dan pengolahan data pajak daerah baru, retribusi daerah dan penerimaan lainnya.
(3) Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat 2, a. Kepala Bidang Monitoring dan Evaluasi mempunyai funsi :
b. Menyusun program rencana kerja.
c. Melakukan monitoring, evaluasi, merencanakan, pembinaan teknis pemungutan.
a. Melaksanakan pembinaan teknis operasional kepada setiap Unit Kerja Instansi di lingkungan Pemerintah Kota Binjai.
b. Membuat laporan realisasi penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan pendapatan lainnya yang sah.
c. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Badan sesuai dengan bidang tugsnya.
SEKSI PENDATAAN DAN PENDAFTARAN Pasal 9
(1) Seksi Pendataan dan Pendaftaran dipimpin oleh Kepala Seksi yang dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang.
(2) Kepala Seksi Pendataan dan Pendaftaran mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Bidang Monitoring dan Evaluasi lingkup pendataan dan pendaftaran.
(3) Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat 2,
Kepala Seksi Pendataan dan Pendaftaran menyelenggarakan fungsi : a. Menyusun dan melaksanakan rencana kegiatan.
b. Menyusun bahan petunjuk teknis lingkup pendataan dan pendaftaran.
c. Melaksnakan pendaftaran wajib pajak/ retribusi daerah melalui formulir pendaftaran.
d. Menyimpan, mendistribusikan, memberikan/ menerbitkan Nomor Pokok Wajib Pajak Daerah (NPWPD) dan Nomor Retribusi Daerah (NPWRD) serta menyimpan surat perpajakan daerah lainnya.
e. Membuat bahan monitoring, evaluasi, pembukuan dan pelaporan pelaksanaan tugas.
f. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang sesuai dengan bidang tugasnya.
SEKSI PENELITIAN Pasal 10
(1) Seksi Penelitian dipimpin oleh Kepala Seksi yang dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang.
(2) Kepala Seksi Penelitian mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Bidang Monitoring dan Evaluasi lingkup penelitian.
(3) Dalam melaksnakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat 2, Kepala Seksi Penelitian mempunyai fungsi :
a. Menyusun dan melaksanakan rencana kegiatan.
b. Menyusun bahan petunjuk teknis lingkup penelitian.
c. Meneliti/ memeriksa daftar tunggakan pajak daerah dan retribusi daerah berdasarkan ketetapan yang diterbitkan.
d. Menerima laporan hasil penelitian/ pemeriksaan dan unit penelitian/
pemeriksaan, timpenelitian/ pemeriksaan.
e. Menatausahakan hasil penelitian/ pemeriksaan lapangan atas objek dan subjek pajak.
f. Meneliti/ memeriksa pembukuan penerimaan dan pengeluaran benda berharga serta pencatatan uang dari hasil pungutan benda berharga secara berkala.
g. Membuat bahan monitoring, evaluasi, pembukuan dan pelaporan pelaksanaan tugas.
h. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang sesuai dengan bidang tugasnya.
SEKSI PENGOLAHAN DATA Pasal 11
(1) Seksi Pengolahan Data dipimpin oleh Kepala Seksi yang dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan betanggung jawab kepada Kepala Bidang.
(2) Kepala Seksi Pengolahan Data mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Bidang Monitoring dan Evaluasi lingkup pengolahan data.
(3) Dala melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat 2,
Kepala Seksi Pengolahan Data mempunyai fungsi : a. menyusun dan melaksanakan rencana kegiatan.
b. Menyusun bahan petunjuk teknis lingkup pendataan.
c. Mengumpulkan dan mengolah data penerimaan objek pajak daerah/
retribusi daerah dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta pendapatan daerah lainnya yang sah.
d. Melaksanakan koordinasi dengan instansi vertikal dan dinas lainnya tentang Pendapatan Asli Daerah (PAD).
e. Menyusun target penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan pendapatan daerah lainnya yang sah.
f. Melakukan pembinaan teknis pemungutan, pemantauan, evaluasi terhadap pungutan pajak dan retribusi daerah serta pungutan pendapatan daerah lainnya yang sah.
g. Melaksanakan bimbingan dan petunjuk kepada setiap unit kerja yang mengelola pungutan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan pendapatan daerah lainnya yang sah.
h. Mempersiapkan bahan monitoring, evaluasi, pembukuan dan pelaporan
1) pelaksanaan tugas.
i. Melaksanakan tugas lain yang diberikan Kepala Bidang sesuai dengan bidang tugasnya.
BIDANG PENDAPATAN DAN BAGI HASIL Pasal 12
(1) Bidang Pendapatan dan Bagi Hasil dipimpin oleh seorang Kepala Bidang yang dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Badan.
(2) Kepala Bidang Pendapatan dan Bagi Hasil mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Kepala Dinas dalam bidang pendapatan dan bagi hasil yang meliputi perencanaan dan pengembangan, pajak daerah, retribusi daerah, bagi hasil pajak dan bukan pajak, penataushaan dan bagi hasil.
(3) Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat 2, Kepala Bidang Pendapatan dan Bagi Hasil mempunyai fungsi :
a. Menyusun program dan rencana kerja
b. Menyusun rencana dan program peningkatan pendapatan asli daerah, serta pengembangan, pemantauan dan pengendalian operasional pendapatan pajak daerah.
c. Melaksanakan bimbingan serta penyuluhan terhadap masyarakat wajib pajak dan wajib retribusi daerah.
d. Melaksanakan penatausahaan bagi hasil pajak dan bukan pajak.
e. Melaksanakan koordinasi dengan instansi pemberi bagi hasil pajak dan bukan pajak.
f. Melaksanakan perhitungan penerimaan dari dana bagi hasil pajak dan bukan pajak propinsi dan dana bagi hasil pajak dan bukan pajak pusat dan lain-lain pendapatan yang sah.
g. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Badan sesuai dengan bidang tugasnya.
SEKSI PAJAK DAERAH Pasal 13
(1) Seksi Pajak Daerah dipimpin oleh Kepala Seksi yang dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Bidang.
(2) Kepala Seksi Pajak Daerah mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Bidang Pendapatan dan bagi Hasil lingkup pajak daerah.
(3) Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat 2, Kepala Seksi Pajak Daerah mempunyai fungsi :
a. Menyusun dan melaksanakan rencana kegiatan.
b. Mempersiapkan rencana, program dan kegiatan seksi pajak daerah.
c. Menyusun bahan petunjuk teknis lingkup pajak daerah.
d. Mempersiapkan bahan dan data penyusunan rencana potensi pendapatan daerah di bidang pajak daerah.
e. Mempersiapkan bahan dan pengkajian pengembangan potensi daerah.
f. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang sesuai dengan bidang tugasnya.
SEKSI RETRIBUSI Pasal 14
(1) Seksi Retribusi dipimpin oleh Kepala Seksi yang dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang.
(2) Kepala Seksi Retribusi mempunyai tugas poko melaksanakan sebagian tugas Bidang Pendapatan dan Bidang Hasil lingkup retribusi.
(3) Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat 2, Kepala Seksi Retribusi mempunyai fungsi :
a. Menyusun dan melaksanakan rencana kegiatan.
b. Menyusun bahan oetunjuk teknis lingkup retribusi.
c. Menyiapkan bahan dan data penyususnan rencana potensi pendapatan daerah di bidang retribusi.
d. Menyiapkan bahan dan data pengkajian pengembangan potensi retribusi daerah.
e. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang sesuai dengan bidang tugsnya.
SEKSI PENAGIHAN DAN BAGI HASIL Pasal 15
(1) Seksi Penagihan dan Bagi Hasil dipimpin oleh Kepala Seksi yang dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang.
(2) Kepala Seksi Penagihan dan Bagi Hasil mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Bidang Pendapatan dan Bagi Hasil lingkup penagihan dan bagi hasil.
(3) Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat 2, Kepala Seksi Penagihan dan Bagi Hasil mempunyai fungsi :
a. Menyusun dan melaksanakan rencana kegiatan.
b. Menyusun bahan petunjuk teknis lingkup penagihan dan bagi hasil.
c. Menyiapkan bahan dan data pelaksanaan penagihan atas tunggakan pajak daerah dan retribusi daerah daerah.
b. Melaksanakan perhitungan dan penerimaan dana bagi hasil pajak, dana bagi hasil bukan pajak dan lain-lain pendapatan tang sah.
c. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang sesuai dengan bidang tugasnya.
BIDANG PBB DAN BPHTB Pasal 16
(1) Bidang PBB dan BPHTB dipimpin oleh seorang Kepala Bidang yang dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas.
(2) Kepala Bidang PBB dan BPHTB mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Kepala Dinas dalam bidang bagi hasil dan penerimaan lain-lain meliputi penatausahaan penerimaan bagi hasil Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan
(PBB) serta memfasilitasi pemungutan PBB dan BPHTB sesuai dengan Standard Operating Procedure (SOP).
(3) Dalam melaksanakan tugas pokok sebagiamana dimaksud pada ayat 2, Kepala Bidang PBB dan BPHTB mempunyai fungsi :
a. Menyusun program dan rencana kerja.
b. Memberikn pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakan dengan pelayanan terpadu antara lain dengan memberikan pelayanan yang cepat dan tepat kepada wajib pajak. Meningkatkan koordinasi dan pengawasan atas pemberian pelayanan kepada wajib pajak, secara terus menerus mengupayakan perbaikan data dalam rangka perbaikan data untuk peningkatan PBB P2 dan BPHTB.
c. Menerima, meneliti, memproses dokumen-dokumen yang berkaitan dengan pelayanan BPHTB.
d. Melakukan prosedur penelitian SSPD BPHTB dan memvalidasi SSPD BPHTB.
e. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Badan sesuai dengan bidang tugasnya.
SEKSI PENETAPAN Pasal 17
(1) Seksi Penetapan dipimpin oleh Kepala Seksi yang dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang.
(2) Kepala Seksi Penetapan mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Bidang PBB dan BPHTB linngkup penetapan.
(3) Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat 2, Kepala Seksi Penetapan mempunyai fungsi :
a. Menyusun dan melaksanakan rencana kegiatan.
b. Menetapkan PBB dan BPHTB sesuai standar operasional PBB danBPHTB dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang yang berkaitan dengan hal-hal penetapan PBB dan BPHTB.
c. Melaksanakan pendataan wajib pajak.
d. Menerbitkan SPPT Tahunan.
e. Menerbitkan Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP).
f. Melaksanakan penilaian dan penetapan.
g. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang sesuai h. dengan bidang tugasnya.
SEKSI KEBERATAN Pasal 18
(1) Seksi Keberatan dipimpin oleh Kepala Seksi yang dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang.
(2) Kepala Seksi Keberatan mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Bidang PBB dan BPHTB lingkup keberatan.
(3) Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Kepala Seksi Keberatan mempunyai fungsi :
a. Menyusun dan melaksanakan rencana kegiatan.
b. Memebantu tugas Kepala Bidang PBB dan BPHTB sesuai dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang yang berkaitan dengan hal-hal keberatan PBB dan BPHTB.
c. Memproses permohonan atas keberatan wajib pajak PBB dan BPHTB.
d. Melakukan konfirmasi data pengajuan keberatan dan melakukan penelitian permohonan wajib pajak.
e. Menerbitkan surat keputusan permohonan keberatan diterima atau ditolak.
f. Melakukan invetarisasi surat-surat keberatan dan permohonan.
g. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang sesuai dengan bidang tugasnya.
SEKSI VERIFIKASI Pasal 19
(1) Seksi Verifikasi dipimpin oleh Kepala Seksi yang dalam melaksanakan tugasnya berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang.
(2) Kepala Seksi Verifikasi mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Bidang PBB dan BPHTB lingkup verifikasi.
(3) Dalam melaksanakan tuga spokok sebagimana dimaksud pada ayat (2), Kepala Seksi Verifikasi mempunyai fungsi :
a. Menyusun dan melaksanakan rencana kegiatan.
b. Menyusun bahan petunjuk teknis lingkup verifikasi.
c. Mengumpulkan data dan mengolah objek PBB dan BPHTB.
d. Menuangkan hasil pengolahan data.
e. Mempersiapkan bahan monitoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan tugas.
f. Penatausahaan PBB Perkotaan dan Pedesaan (P2) dan BPHTB.
g. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang sesuai dengan bidang tugasnya.
BIDANG PENAGIHAN Pasal 20
(1) Bidang Penagihan dipimpin oleh seorang Kepala Bidang yang dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Badan.
(2) Kepala Bidang Penagihan mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Kepala Badan dalam bidang penagihan.
(3) Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Kepala Bidang Penagihan mempunyai fungsi :
a. Menyusun program dan rencana kerja.
b. Melaksanakan penagihan pajak daerah dan retribusi daerah yang telah melampaui batas waktu jatuh tempo, melayani keberatan, permohonan pengurangan, pengolahan penerimaan sumber pendapatan lainnya.
c. Melakukan pencatatan (dokumentasi) terhadap semua jenis oungutan pajak daerah maupun retribusi daerah.
d. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Badan sesuai dengan bidang tugasnya.
SEKSI PENAGIHAN DAN KEBERATAN Pasal 21
(1) Seksi Penagihan dan Keberatan dipimpin oleh Kepala Seksi dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang.
(2) Kepala Seksi Penagihan dan Keberatan mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas tugas Bidang Penagihan lingkup penagihan dan keberatan.
(3) Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Kepala Seksi Penagihan dan Keberatan mempunyai fungsi :
a. Menyusun dan melaksanakan rencana kegiatan.
b. Melaksanakan kegiatan penagihan terhadap pajak daerah dan retribusi daerah.
c. Menerbitkan surat tagihan pajak daerah dan retribusi daerah.
d. Melaksanakan penghitungan hasil penagihan dan pemeriksaan dilapangan terhadap wajib pajak.
e. Menyusun sistem dan prosedur penagihan pajak daerah dan retribusi daerah.
f. Melaksanakan klasifikasi dan penentuan skala prioritas pajak daerah dan retribusi daerah.
g. Menerima dan melayani surat keberatan dan surat permohonan banding atas materi penetapan pajak daerah.
h. Melaksanakan analisa terhadap keberatan yang dilakukan wajib pajak.
i. Melakukan pemeriksaan dan membuat laporan pemeriksaan.
j. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang sesuai dengan bidang tugasnya.
SEKSI PENGOLAHAN DAN PENERIMAAN SUMBER PENDAPATAN LAIN Pasal 22
(1) Seksi Pengolahan dan Penerimaan Sumber Pendapatan Lain dipimpin oleh Kepala Seksi yang dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang.
(2) Kepala Seksi Pengolahan dan Penerimaan Sumber Pendapatan Lain mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Bidang Penagihan lingkup pengolahan dan penerimaan sumber pendapatan lain.
(3) Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaiman dimaksud pada ayat (20, Kepala Seksi Pengolahan dan Penerimaan Sumber Pendapatan Lain mempunyai fungsi :
a. Menyusun dan melaksanakan rencana kegiatan.
b. Melaksanakan penatausahaan penerimaan retribusi dan pendapatan lain-lain.
c. Melaksanakan koordinasi dan konsultasi serta menatausahakan penerimaan yang bersumber dari Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi