Penelitian dilaksanakan selama empat bulan dari Oktober 2011 hingga Januari 2012 di Waduk Ir. H. Djuanda, Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat (Gambar 3). Pengambilan contoh dilakukan di enam stasiun yang ditentukan berdasarkan karakteristik lokasinya (Tabel 2).
Tabel 2. Karakteristik stasiun penelitian
No Stasiun Koordinat Karakteristik
1 Cilalawi BT : 107o 23,870’
LS : 06o 33.818’ Daerah inlet
Sumber air dari Sungai Cilalawi Zona litoral
Di sekitar lokasi terdapat tumbuhan air Perairan dipengaruhi aliran air dari
Sungai Cilalawi 2 DAM BT : 107o 23,478’
LS : 06o 31,908’ Daerah genangan utama Zona litoral
Dekat dengan bendungan Perairan relatif tenang 3 Baras Barat BT : 107o 21,786’
LS : 06o 32,157’ Daerah transisi
Sumber air adalah gabungan dari Sungai Citarum dengan genangan utama Di sekitar lokasi terdapat banyak KJA Zona limnetik. Kedalaman mencapai
>50 m
Perairan relatif tenang 4 Pasir Astana BT : 107o 19,732’
LS : 06o 30,428’ Daerah terlindung dan endapan Pernah ditetapkan sebagai daerah
reservat Nutrien kecil Zona litoral
Perairan relatif tenang 5 Kerenceng BT : 107o 18,385’
LS : 06o 32,639’ Daerah inlet-transisi
Sumber air berasal dari Sungai Citarum Berarus sedang
Di sekitar lokasi terdapat tempat pemancingan
Zona litoral 6 Jamaras BT : 107o 18,211’
LS : 06o 35.563’ Daerah inlet
Sumber air berasal dari Sungai Citarum Di sekitar lokasi terdapat banyak KJA Berarus sedang sampai besar
10
Gambar 3. Waduk Ir. H. Djuanda
Bahan dan Alat Penelitian
Obyek yang diamati pada penelitian ini adalah seluruh ikan asli dan asing yang tertangkap dan beberapa parameter fisik dan kimiawi perairan (warna, kecerahan, kedalaman, suhu, dan pH) di Waduk Ir. H. Djuanda. Bahan yang digunakan adalah formalin 4% untuk mengawetkan gonad dan saluran pencernaan.
Alat yang digunakan adalah jaring insang eksperimental berbahan senar monofilamen dengan ukuran mata jaring 1, 1,5, 2, 2,5, 3, 3,5, dan 4 inci, termometer, keping Secchi, pH indicator solution, depth meter, mikroskop (stereo dan okuler), alat bedah, papan pengukur dengan ketelitian 1 mm, timbangan digital dengan ketelitian 0,01 dan 0,0001 gram, hand tally counter serta mikrometer okuler.
Metode Pengambilan Contoh
Pengumpulan data ikan dan parameter lingkungan dilakukan dalam tiga hari untuk setiap bulan pengamatan. Hari pertama adalah pemasangan jaring di stasiun 1–3; hari kedua adalah pengambilan contoh ikan dan contoh air di stasiun 1–3
Cilalawi (1) DAM (2) Baras Barat (3) Pasir Astana (4) Kerenceng (5) Jamaras (6)
11 serta pemasangan jaring di stasiun 4–6; dan hari ketiga adalah pengambilan contoh ikan dan contoh air di stasiun 4–6.
Ikan ditangkap menggunakan jaring insang eksperimental berukuran 1, 1,5, 2, 2,5, 3, 3,5, dan 4 inci. Alat tangkap dipasang pada sore hari (mulai pukul 16.00) dan diangkat mulai pukul 06.00 keesokan harinya. Ikan contoh yang tertangkap dipisahkan sesuai dengan ukuran mata jaring dan stasiun penangkapannya lalu dibawa ke Laboratorium Biologi, Balai Penelitian Pemulihan dan Konservasi Sumber Daya Ikan, Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk dikelompokkan, diukur, ditimbang, dan dibedah.
Data kondisi air diambil pada setiap bulan pengamatan. Karakteristik fisik dan kimiawi perairan pada setiap stasiun dan bulan pengamatan diperlukan sebagai data pendukung penelitian. Parameter fisik dan kimiawi yang diukur selama penelitian adalah suhu dengan menggunakan termometer; kecerahan menggunakan keping Secchi; kedalaman menggunakan depth meter; warna perairan secara visual, dan pH dengan pH indicator solution.
Analisis Laboratorium
Setiap contoh ikan ditimbang bobot tubuhnya menggunakan timbangan berketelitian 0,01 gram dan diukur panjang total dan bakunya menggunakan papan pengukur berketelitian 1 mm. Selanjutnya, ikan dibedah untuk mengeluarkan gonad dan saluran pencernaannya. Penentuan jenis kelamin dan tingkat kematangan gonad dilakukan melalui pengamatan morfologis gonad (Tabel 3). Gonad dan saluran pencernaan ikan kemudian dibawa ke Laboratorium Bio Makro I, Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB untuk dianalisis lebih lanjut.
Tabel 3. Penentuan TKG ikan secara morfologi berdasarkan modifikasi Cassie (Effendie 1979)
TKG Morfologi Gonad Jantan Morfologi Gonad Betina I Testes seperti benang, lebih pendek
dan terlihat ujungnya di rongga tubuh. Warna jernih.
Ovari seperti benang, panjang sampai ke depan rongga tubuh. Warna jernih. Permukaan licin.
II Ukuran testes lebih besar. Pewarnaan putih susu. Bentuk lebih jelas dari TKG I
Ukuran ovari lebih besar. Pewarnaan gelap kekuning-kuningan. Telur belum terlihat jelas dengan mata.
III Permukaan testes nampak bergerigi. Warna makin putih, testes makin besar dan dalam keadaan diawetkan mudah putus.
Ovari bewarna kuning. Secara morfologi telur sudah kelihatan butirnya dengan mata.
IV Seperti TKG III tampak lebih jelas.
Testes makin pejal. Ovari makin besar, telur berwarna kuning, mudah dipisahkan. Butir minyak tidak tampak, mengisi ½–⅔ rongga
tubuh. Usus terdesak. V Testes bagian belakang kempis dan di
bagian dekat pelepasan masih berisi Ovari berkerut, dinding tebal, butir telur sisa terdapat di dekat pelepasan. Banyak telur seperti pada tingkat II.
12
Ikan betina yang telah mencapai tingkat kematangan gonad III dan IV kemudian dihitung fekunditasnya. Penentuan fekunditas dilakukan dengan cara gravimetrik. Cara ini dilakukan dengan mengambil bagian gonad ikan betina sebagai gonad contoh. Gonad dan gonad contoh ditimbang menggunakan timbangan berketelitian 0,0001 gram, kemudian dihitung jumlah telur yang ada pada gonad contoh tersebut (Effendie 1979). Persamaan yang digunakan untuk menghitung fekunditas tersebut adalah:
X :x = W :w
Keterangan : X = Jumlah telur di dalam gonad yang akan dicari
x = Jumlah telur dari gonad contoh
W = Bobot seluruh gonad
w = Bobot gonad contoh
Selain dihitung, oosit ikan TKG III dan IV juga diukur diameternya. Oosit diambil dari bagian anterior, tengah dan posterior masing-masing 100 butir. Masing-masing oosit diletakkan di atas gelas objek. Selanjutnya diamati dengan metode penyapuan menggunakan mikroskop yang dilengkapi dengan mikrometer okuler yang sebelumnya sudah ditera dengan mikrometer objektif.
Makanan dari lambung dan usus dikeluarkan dan organisme yang terdapat di dalamnya diidentifikasi. Identifikasi plankton dan mikroavertebrata dilakukan dengan menggunakan mikroskop mengikuti petunjuk Needham & Needham (1962) sampai tingkatan taksa terdekat.
Analisis Data Kelimpahan relatif ikan
Kelimpahan relatif ikan akan memberikan gambaran mengenai komposisi jenis dan dominasi suatu jenis ikan yang tertangkap. Kelimpahan relatif ikan dikaji berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan dengan menggunakan persamaan berikut:
Kr= Ni N ×100
Keterangan: Kr = Kelimpahan relatif
Ni = Jumlah total individu spesies ke-i (ekor)
N = Jumlah total individu semua spesies (ekor) Pertumbuhan
Hubungan panjang bobot
Pola pertumbuhan ikan dapat diketahui dengan menghubungkan panjang dan bobot ikan. Hubungan panjang-bobot (HPB) dihitung menggunakan persamaan:
13 Keterangan: W = bobot ikan (gram)
L = panjang ikan (mm) a dan b = konstanta
Pola pertumbuhan ikan ditentukan berdasarkan nilai b yang diuji menggunakan uji t (p<0,05). Apabila nilai b=3, maka pola pertumbuhan adalah isometrik; sedangkan bila b≠3 adalah allometrik (Effendie 1979).
Penghitungan uji t dilakukan dengan hipotesis dan persamaan sebagai berikut:
Hipotesis: H0 : b = 3 H1 : b ≠ 3
= | − |
Keterangan: β = Koefisien b pada H0
β = Koefisien b yang diperoleh dari HPB Sβ = Simpangan koefisien b
Pengambilan keputusan terhadap hipotesis dilakukan dengan membandingkan t hitung dan t tabel pada selang kepercayaan 95 %. Jika nilai t hitung > t tabel, maka keputusannya adalah menolak hipotesis nol. Jika t hitung < t tabel, maka keputusannya adalah terima hipotesis nol (Walpole 1995).
Faktor kondisi
Faktor kondisi relatif (Kn) dihitung dengan menggunakan persamaan berikut (Le Cren 1951 dalam Rahardjo & Simanjuntak 2008).
= ∗
Keterangan: W = bobot tubuh tertimbang (gram)
W* = bobot tubuh terhitung (gram) dari persamaan HPB
Reproduksi Nisbah kelamin
Nisbah kelamin dianalisis dengan membandingkan antara jumlah ikan jantan dengan jumlah ikan betina pada spesies yang sama yang ditemukan pada setiap stasiun dan waktu pengamatan selama empat bulan. Nisbah kelamin ini dihitung melalui persamaan:
X= J B
Keterangan: X = Nisbah kelamin
J = Jumlah ikan jantan (ekor) B = Jumlah ikan betina (ekor)
14
Waktu dan lokasi pemijahan
Waktu dan lokasi pemijahan ditentukan berdasarkan tertangkapnya ikan yang telah matang gonad selama penelitian. Ikan yang matang gonad tidak hanya ditemukan sekali pada waktu dan lokasi dugaan, namun berulang-ulang.
Potensireproduksi dan tipe pemijahan
Potensi reproduksi diduga berdasarkan fekunditas yang diperoleh selama penelitian. Potensi reproduksi menggambarkan seberapa besar suatu induk ikan dapat menghasilkan keturunan dan mempertahankan kelestarian spesiesnya.
Tipe pemijahan diduga berdasarkan jumlah modus yang diperoleh pada distribusi sebaran diameter telur. Tipe pemijahan menggambarkan strategi suatu spesies ikan dalam memijahkan telurnya.
Kebiasaan makanan
Kebiasaan makanan ikan adalah jenis makanan yang dimakan berdasarkan tingkat kesukaannya. Kebiasaan makanan ditentukan dengan menggunakan Indeks Bagian Terbesar mengikuti persamaan Natarajan & Jhingran (1961):
I
i=
∑( )
x 100
Keterangan: Ii = Indeks bagian terbesar
Vi = Persentase volume satu kelompok makanan
Oi = Persentase frekuensi kejadian satu kelompok makanan Kesamaan pemanfaatan sumber daya pakan ikan
Kesamaan pemanfaatan sumber daya pakan ikan dianalisis menggunakan metode similarity percentage. Pengelompokan disusun berdasarkan kemiripan sumber daya makanan yang dimanfaatkan oleh tiap spesies ikan yang disajikan dalam bentuk dendogram. Dendogram diolah menggunakan perangkat lunak MVSP (Multi Variate Statistical Package).
15
4 HASIL
Kondisi Perairan Waduk Ir. H. Djuanda
Pengamatan kondisi perairan Waduk Ir. H. Djuanda dilakukan pada setiap bulan pengamatan di enam stasiun pengambilan contoh. Parameter fisik dan kimiawi air waduk, meliputi warna air, suhu, kedalaman, kecerahan, dan pH pada setiap stasiun pengamatan disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Kisaran nilai parameter fisik dan kimiawi contoh air Parameter Satuan Stasiun
1 2 3 4 5 6
Warna H.K. Hijau Hijau Hijau Hijau H.K. Kecerahan Cm 70–105 75–115 85–110 85–110 75–105 60–95 Suhu oC 29–30 28 –29 29–30 29–30 28–30 29–30 pH Unit 7,0–7,5 7,0–7,5 7,5–8,0 7,0–7,5 7,0–7,5 7,0–8,0 Kedalaman Meter 3,7–13,1 3,5–6,3 26,3–55,8 3,5–14,9 3,5–12,1 4,2–16,3 Keterangan: 1= Cilalawi; 2= DAM; 3= Baras Barat; 4= Pasir Astana; 5= Kerenceng; 6= Jamaras
H.K. = Hijau kecoklatan
Warna air di Waduk Ir. H. Djuanda pada saat penelitian adalah hijau dan hijau kecoklatan. Warna air yang hijau ditemukan di DAM, Baras Barat, Pasir Astana, dan Kerenceng; sedangkan hijau kecoklatan di Cilalawi dan Jamaras.
Kecerahan perairan berkisar antara 70–115 cm. Perairan yang paling jernih berturut-turut hingga yang paling keruh adalah DAM, Baras Barat, Pasir Astana, Kerenceng, Cilalawi, dan Jamaras.
Suhu perairan dan pH di Waduk Ir. H. Djuanda berkisar antara 28–30oC dan 7–8 unit. Suhu dan derajat keasaman relatif sama pada seluruh stasiun pengamatan. Tidak terdapat perbedaan yang besar antar stasiun pengamatan selama penelitian.
Kedalaman perairan pada penelitian ini berkisar antara 3,5–55,8 m. DAM merupakan stasiun yang paling dangkal (3,5–6,3 m), sedangkan Baras Barat merupakan stasiun yang paling dalam (26,3–55,8 m).
Komposisi Tangkapan dan Kelimpahan Relatif Ikan
Jumlah ikan yang tertangkap selama penelitian berjumlah 657 ekor ikan yang terdiri atas enam jenis spesies asli dan 12 jenis spesies asing (Tabel 5). Jenis ikan paling banyak tertangkap di DAM (sepuluh jenis) dan yang paling sedikit tertangkap di Baras Barat (lima jenis) (Lampiran 1). Dua belas dari 18 jenis tersebut ditemukan telah siap untuk memijah (TKG IV) (Tabel 6).
Ikan paling banyak tertangkap pada bulan November (197 ekor) dan paling sedikit pada bulan Desember dan Januari (147 ekor). Jenis ikan yang paling banyak tertangkap selama penelitian adalah oskar (70,02), kapiat (8,52), nila (6,24), dan golsom (5,02). Hasil tangkapan didominasi oleh ikan oskar.
16
Tabel 5. Ikan yang tertangkap di Waduk Ir. H. Djuanda berdasarkan bulan pengamatan
No Nama lokal Nama Ilmiah Bulan pengamatan Total Frekuensi relatif Okt Nov Des Jan
1 Bandeng Chanos chanos 0 1 0 0 1 0,15 2 Betutu Oxyeleotris marmorata 3 6 1 0 10 1,52 3 Beunteur* Puntius binotatus 0 0 1 0 1 0,15 4 Golsom Hemichromis elongatus 15 12 4 2 33 5,02 5 Hampal* Hampala macrolepidota 3 6 0 3 12 1,83 6 Kaca Parambassis siamensis 0 1 1 0 2 0,30 7 Kapiat Cyclocheilichthys enoplus 2 46 4 4 56 8,52 8 Kebogerang* Mystus nigriceps 0 0 1 1 2 0,30 9 Lalawak* Barbonymus balleroides 4 8 6 7 25 3,81 10 Lele Clarias gariepinus 0 1 0 0 1 0,15 11 Lempuk* Ompok bimaculatus 0 1 1 0 2 0,30 12 Marinir Parachromis managuensis 0 1 1 0 2 0,30 13 Mas Cyprinus carpio 1 2 0 1 4 0,61 14 Nilem Osteochillus vittatus 0 0 2 0 2 0,30 15 Nila Oreochromis niloticus 10 16 8 7 41 6,24 16 Oskar Amphilophus citrinellus 127 96 116 121 460 70,02 17 Patin Pangasionodon hypophthalmus 0 0 1 1 2 0,30 18 Tagih* Hemibagrus nemurus 1 0 0 0 1 0,15 Total 166 197 147 147 657 100 Keterangan: Ikan dengan tanda asteriks (*) merupakan ikan asli Sungai Citarum
Tabel 6. Jenis ikan yang tertangkap dalam keadaan siap memijah Nama lokal Nama ilmiah
Stasiun
I II III IV V VI J B J B J B J B J B J B Betutu Oxyeleotris marmorata √ √
Beunteur Puntius binotatus √
Golsom Hemichromis elongatus √ √ √ √
Hampal Hampala macrolepidota √ √
Kapiat Cyclocheilichthys enoplus √ √ √ √ √ √ √
Lalawak Barbonymus balleroides √ √ √ √
Lempuk Ompok bimaculatus √
Marinir Parachromis managuensis √
Mas Cyprinus carpio √ √
Nila Oreochromis niloticus √ √ √ √
Oskar Amphilophus citrinellus √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Tagih Hemibagrus nemurus √
Keterangan= I: Cilalawi; II: DAM; III: Baras Barat; IV: Pasir Astana;V: Kerenceng; VI: Jamaras J: Jantan; B: Betina
17 Berdasarkan stasiun pengamatan, ikan paling banyak tertangkap di DAM (354 ekor) dan paling sedikit tertangkap di Baras Barat (43 ekor) (Lampiran 1). Selain di Kerenceng dan Jamaras, ikan oskar adalah jenis ikan yang paling banyak tertangkap dan ikan ini mendominasi hasil tangkapan di DAM (86,44), Baras Barat (83,72) dan Pasir Astana (86,42).
Distribusi Frekuensi Ikan Oskar
Ikan oskar yang tertangkap selama penelitian berjumlah 460 ekor. Panjang total dan bobot tubuh ikan berkisar antara 62–210 mm dan 4,56–187,18 gram. Berdasarkan panjangnya, ikan didistribusikan ke dalam 15 kelas dengan interval 10 mm (Gambar 4). Frekuensi ikan paling banyak (120 ekor) ditemukan pada selang kelas 101–110 mm; sedangkan yang paling sedikit (2 ekor) adalah pada selang kelas 201–210 mm. Ikan oskar jantan ditemukan dengan ukuran maksimal yang lebih besar daripada ikan betina.
Keterangan: a= 61–70; b=71–80; c= 81–90; d= 91–100; e= 101–110; f= 111–120; g= 121–130;
h= 131–140; i= 141–150; j= 151–160; k= 161–170; l= 171–180; m= 181–190;
n= 191–200; o= 201–210.
Gambar 4. Distribusi frekuensi ikan oskar yang tertangkap selama penelitian Berdasarkan bulan pengamatan (Tabel 7), ikan oskar paling banyak tertangkap pada bulan Oktober (127 ekor) dan paling sedikit tertangkap pada bulan November (96 ekor). Ikan oskar paling banyak tertangkap di DAM (306 ekor) dan paling sedikit di Jamaras (10 ekor).
Jumlah ikan oskar yang tertangkap pada masing-masing ukuran mata jaring bervariasi. Ikan oskar paling banyak tertangkap menggunakan jaring bermata 1,5 inci (268 ekor) dan paling sedikit tertangkap menggunakan jaring bermata 3,5 inci (11 ekor) (Tabel 8). 0 10 20 30 40 50 60 70 80 a b c d e f g h i j k l m n o TD Jantan Betina Selang kelas (mm) F re k u en si ( ek or ) Tidak diketahui
18
Tabel 7. Distribusi frekuensi ikan oskar yang tertangkap berdasarkan bulan dan stasiun pengamatan
Stasiun Bulan pengamatan Total (ekor) Oktober November Desember Januari
Cilalawi 14 3 1 4 22 DAM 98 55 65 88 306 Baras Barat 3 10 9 14 36 Pasir Astana 5 23 34 8 70 Kerenceng 7 2 0 7 16 Jamaras 0 3 7 0 10 Total 127 96 116 121 460
Tabel 8. Distribusi frekuensi ikan oskar yang tertangkap berdasarkan ukuran mata jaring
Panjang ikan Mata jaring Total 1 1,5 2 2,5 3 3,5 61–70 11 0 0 0 0 0 11 71–80 3 0 0 0 0 0 3 81–90 0 4 0 0 0 0 4 91–100 0 105 1 0 0 0 106 101–110 0 114 1 3 1 1 120 111–120 0 38 3 1 0 1 43 121–130 0 4 26 3 0 1 34 131–140 0 3 34 5 2 1 45 141–150 0 0 10 7 2 1 20 151–160 0 0 4 21 1 2 28 161–170 0 0 2 20 0 0 22 171–180 0 0 0 8 3 1 12 181–190 0 0 0 2 1 1 4 191–200 0 0 0 2 3 1 6 201–210 0 0 0 0 1 1 2 Total 14 268 81 72 14 11 460 Catatan: Ikan pertama kali matang gonad ditemukan pada ukuran >121 mm untuk ikan betina
dan >125 mm untuk ikan jantan.
Pertumbuhan Ikan Oskar
Pada penelitian ini, aspek pertumbuhan ikan oskar yang dikaji meliputi HPB dan faktor kondisi. Berdasarkan HPB-nya, diperoleh koefisien regresi (b) ikan oskar jantan dan betina senilai 3,15 dan 3,17 (Gambar 5).
Setelah dilakukan uji-t, diketahui bahwa pola pertumbuhan ikan oskar jantan dan betina adalah allometrik positif yang berarti pertambahan bobot lebih cepat dibandingkan pertambahan panjang ikan. Nilai koefisien korelasi (r) antara panjang dan bobot pada ikan jantan dan betina bernilai 0,99 yang menandakan bahwa terdapat hubungan yang sangat erat antara panjang dan bobot ikan oskar pada penelitian ini.
19
Gambar 5. Hubungan panjang-bobot ikan oskar jantan (a) dan betina (b) Berdasarkan uji kehomogenan dua regresi bebas (Effendie, 1979) HPB ikan oskar jantan dan betina, didapatkan nilai Fhitung >Ftabel (Lampiran 2). Sudut b yang dibentuk HPB ikan jantan berbeda nyata dengan ikan betina.
Rerata faktor kondisi berdasarkan bulan pengamatan dan stasiun pengamatan berkisar antara 1,00–1,01 (Tabel 9). Faktor kondisi ikan relatif stabil. Simpangan baku yang kecil juga menandakan bahwa tidak ada perbedaan yang besar pada nilai faktor kondisi tiap bulan dan stasiun pengamatan.
Tabel 9. Faktor kondisi ikan oskar
Faktor Kondisi Jantan Betina
N Kisaran Rerata Sb n Kisaran Rerata Sb
Bulan Oktober 3 0,76–1,25 1,00 0,08 52 0,88–1,33 1,01 0,08 November 5 0,87–1,46 1,01 0,10 39 0,83–1,30 1,01 0,08 Desember 8 0,64–1,45 1,01 0,10 58 0,85–1,28 1,00 0,09 Januari 71 0,82–1,27 1,01 0,08 50 0,87–1,29 1,00 0,10 Stasiun Cilalawi 4 0,82–1,32 1,01 0,13 9 0,88–1,12 1,00 0,09 DAM 61 0,64–1,49 1,00 0,09 132 0,84–1,33 1,01 0,08 Baras Barat 8 0,89–1,45 1,01 0,13 18 0,89–1,30 1,00 0,09 Pasir Astana 6 0,82–1,17 1,00 0,07 32 0,84–1,30 1,01 0,11 Kerenceng 0 0,90–1,13 1,00 0,06 6 0,93–1,08 1,00 0,05 Jamaras 8 0,94–1,06 1,00 0,04 2 1,00–1,00 1,00 0,00 Keterangan: n= jumlah ikan; Sb= Simpangan baku
Reproduksi Ikan Oskar
Nisbah kelamin total ikan oskar dan ikan oskar yang siap berpijah (TKG IV) disajikan pada Tabel 10. Nisbah kelamin ikan oskar total adalah 1,24; sedangkan ikan yang siap berpijah adalah 1,08. Setelah dilakukan pengujian proporsi menggunakan uji Khi Kuadrat, diketahui bahwa ikan oskar yang tertangkap memiliki perbandingan jumlah jantan dan betina yang seimbang.
W = 7,8x10-6L3,17 r = 0,99 n = 199 0 50 100 150 200 250 0 50 100 150 200 250 W = 9,9x10-6L3,15 r = 0,99 n = 247 0 50 100 150 200 250 0 50 100 150 200 250 a b
20
Tabel 10. Nisbah kelamin ikan oskar
Bulan Total Siap memijah
J B NK J B NK Oktober 73 52 1,40 7 5 1,40 November 45 39 1,15 5 2 2,50 Desember 58 58 1,00 7 12 0,58 Januari 71 50 1,42 9 7 1,29 Total 247 199 1,24 28 26 1,08
Perkembangan gonad ikan oskar diamati secara morfologi. Ikan oskar yang siap berpijah (TKG IV) ditemukan pada pada setiap bulan pengamatan (Gambar 6). Persentase ikan oskar yang telah matang gonad paling besar ditemukan pada bulan Januari untuk ikan jantan (21,13) dan bulan Desember untuk ikan betina (39,66); sedangkan yang paling kecil pada bulan Oktober untuk ikan jantan (15,07) dan betina (15,39).
= TKG I; = TKG II; = TKG III; = TKG IV; dan = TKG V
Gambar 6. Persentase TKG ikan oskar jantan (a) dan betina (b) pada setiap bulan pengamatan
Ikan oskar jantan TKG I sampai TKG IV ditemukan di seluruh stasiun pengamatan (Gambar 7), namun ikan jantan yang ber-TKG V tidak ditemukan sama sekali. Tidak demikian halnya dengan ikan betina. Ikan betina TKG II tidak ditemukan di Kerenceng dan Jamaras; TKG III tidak ditemukan di Cilalawi; dan TKG IV tidak ditemukan di Jamaras. Ikan betina TKG V ditemukan di Baras Barat dan Pasir Astana.
Ikan oskar yang pertama kali matang gonad ditemukan pada selang kelas 121–130 mm (Gambar 8). Ikan jantan yang telah matang gonad paling kecil ditemukan pada ukuran 125 mm (TKG III dan TKG IV); sedangkan ikan betina berukuran 121 mm (TKG III) dan 123 mm (TKG IV).
T K G b 0% 20% 40% 60% 80% 100%
Oktober November Desember Januari 0% 20% 40% 60% 80% 100%
Oktober November Desember Januari
Bulan pengamatan a
21
= TKG I; = TKG II; = TKG III; = TKG IV; dan = TKG V
Keterangan : I=Cilalawi; II=DAM; III=Baras Barat; IV=Pasir Astana;V=Kerenceng; VI=Jamaras Gambar 7.Persentase TKG ikan oskar jantan (a) dan betina (b) pada setiap stasiun
pengamatan
Keterangan: a=81–90; b=91–100; c=101–110; d=111–120; e=121–130; f=131–140; g=141–150;
h=151–160; i=161–170; j=171–180; k=181–190; l=191–200; m=201–210.
Gambar 8. Persentase TKG ikan oskar jantan (a) dan betina (b) berdasarkan kisaran ukuran panjang
Fekunditas dihitung pada ikan oskar betina yang sudah mencapai TKG III (23 ekor) dan TKG IV (26 ekor). Fekunditas total berkisar antara 545–3.299 butir dengan rerata 1.647 butir. Fekunditas berkorelasi positif terhadap panjang dan bobot tubuh (Gambar 9). Koefisien determinasi hubungan fekunditas dengan bobot tubuh lebih besar daripada fekunditas dengan panjang tubuh.
0% 20% 40% 60% 80% 100% I II III IV V VI Stasiun pengamatan T K G 0% 20% 40% 60% 80% 100%
Cilalawi DAM Baras Barat Pas ir Astana Kerenceng Jamaras
Kisaran panjang ikan
T K G a b 0% 20% 40% 60% 80% 100% a b c d e f g h i j k l m 0% 20% 40% 60% 80% 100% a b c d e f g h i j k l m a I II III IV V VI b
22 0 5 10 15 20 25 a b c d e f g h i j k l m n o Gambar 9. Fekunditas ikan oskar berdasarkan panjang dan bobot tubuh
Hasil pengukuran diameter telur menunjukkan bahwa diameter telur bervariasi antara 0,42–1,27 mm untuk TKG III dan 0,63–1,73 mm untuk TKG IV. Pola penyebaran diameter telur ikan oskar membentuk lebih dari satu modus penyebaran (Gambar 10).
Keterangan: a= 0,40–0,49; b: 0,50–0,59; c= 0,60–0,69; d= 0,70–0,79; e= 0,80–0,89; f= 0,90–0,99; g= 1,00–1,09; h= 1,10–1,19; i= 1,20–1,29; j= 1,30–1,39; k= 1,40–1,49; l= 1,50–1,59; m= 1,60–1,69; n= 1,70–1,79; o= 1,80–1,89
Gambar 10. Sebaran diameter telur ikan oskar
Makanan dan Kemiripan Makanan Ikan
Organisme yang teridentifikasi sebagai makanan pada saluran pencernaan ikan selama penelitian berasal dari jenis fitoplankton, zooplankton, tumbuhan, ikan, serangga, cacing, moluska, pelet, dan detritus (Gambar 11). Sebagai ikan dominan, ukuran ikan oskar dibagi menjadi tiga kelompok yaitu berukuran kecil (61–110 mm), sedang (111–170 mm) dan besar (171–210 mm).
Berdasarkan kemiripan sumber daya makanan yang dimanfaatkan, terdapat lima kelompok ikan pada tingkat kemiripan 60%, yaitu: 1) kebogerang, hampal, golsom, tagih, lele, marinir, lempuk, dan betutu; 2) beunteur; 3) oskar kecil,
0 5 10 15 20 25 a b c d e f g h i j k l m n o F = 14,31W + 642,8 R² = 0,306 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 0 50 100 150 200 F = 0,364L1,669 R² = 0,205 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 0 50 100 150 200 250 F ek u n d it as ( b u ti r) Diameter telur TKG III TKG IV F re k u en si ( %)
23 sedang dan besar, lalawak dan kapiat; 4) nilem; 5) nila, kaca, mas, patin, dan bandeng (Gambar 12). Ikan asli yang paling mirip makanannya dengan ikan oskar adalah lalawak.
Keterangan: = Fitoplankton; = Zooplankton; = Tumbuhan; = Ikan; = Serangga; = Cacing;
= Moluska; = Pelet; = Detritus
Gambar 11.Indeks bagian terbesar makanan ikan di Waduk Ir. H. Djuanda
Gambar 12.Dendrogram kemiripan sumber daya makanan yang dimanfaatkan oleh ikan-ikan di Waduk Ir. H. Djuanda
0,00 0,10 0,20 0,30 0,40 0,50 0,60 0,70 0,80 0,90 1,00 B an de ng B et ut u B eun te ur G ol so m H am pa l K ac a K api at K eb oge ra ng L al aw ak L el e L em puk M ar in ir M as N il a N il em O ska r (ke ci l) O ska r (s eda ng) O ska r (b es ar ) Pa ti n T agi h In d ek s B agi an T er b es ar Jenis ikan Kemiripan (%) Kebogerang Hampal Golsom Tagih Lele Marinir Lempuk Betutu Beunteur Oskar (besar) Oskar (sedang) Oskar (kecil) Lalawak Kapiat Nilem Nila Kaca Mas Patin Bandeng 4 20 36 52 68 84 100