Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan selama tiga bulan dari bulan April sampai Juli 2005, di Balai Penelitian dan Pengembangan Ikan Laut, Udang dan Payau (BPPILAPU) Pangandaran, Kabupaten Ciamis. Analisis enzim dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi dan Biokimia Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi IPB.
Materi Penelitian Hewan Uji
Hewan uji yang digunakan dalam percobaan ini adalah larva rajungan (Portunus pelagicus) stadia Zoea-1. Larva tersebut diperoleh dari hasil penetasan induk di BPPILAPU. Sumber induk berasal dari hasil tangkapan nelayan di sekitar perairan Pantai Pangandaran dengan bobot induk 250 gram.
Pakan
Pakan yang digunakan pada percobaan ini terdiri dari pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami yang digunakan adalah Brachionus sp dan nauplius Artemia sp yang diperkaya dengan asam lemak n-3 dan n-6 Brachionus sp sebagai pakan uji diperoleh dari hasil kultur massal di BPPILAPU, sedangkan nauplius Artemia sp berasal dari hasil penetasan kista jenis Inve no. 2. Pakan buatan adalah Lanzy-Shrimp ZM produksi INVE (Thailand) dengan komposisi protein 48%, lipid 13%, serat kasar 2,5% dan kadar air 8%.
Wadah dan Media
Wadah percobaan yang digunakan adalah toples plastik berbentuk bulat dengan volume 2 liter sebanyak 54 buah, diisi dengan air laut 1 liter. Air media yang digunakan adalah air laut bersalinitas 30 ppt. Sebelum digunakan air laut disaring dengan kapas kemudian diberi perlakuan secara kimiawi dengan kaporit pada dosis 15 ppm. Kemudian air ditampung pada bak penampungan bervolume 1 ton dan dialirkan secara sirkulasi dengan pompa celup melalui UV 30 Watt (Lampiran 1). Air yang telah steril digunakan sebagai air media dan dimasukkan dalam wadah penelitian. Untuk mempertahankan suhu media agar dapat tetap stabil, semua wadah percobaan ditempatkan dalam “water bath“ yang dikontrol
oksigen media penelitian, setiap toples diberi aerasi lemah dengan menggunakan selang yang dihubungkan dengan pipet Pasteur. Sumber aerasi berasal dari “root blower”. Wadah percobaan diperlihatkan pada Gambar 1.
Gambar 1. Wadah percobaan.
Pengamatan kualitas air yang meliputi oksigen terlarut, suhu, pH dan salinitas. Oksigen terlarut dan pH dilakukan pengukuran dua hari sekali masing-masing dengan menggunakan alat ukur DO meter dan pH meter. Suhu dan salinitas dilakukan pengukuran setiap hari dengan menggunakan alat ukur hand refraktometer salinity (ketelitian 0,1 ppt) dan thermometer batang (ketelitian 0,1
o
C).
Selama penelitian hasil pengamatan kandungan oksigen terlarut dan suhu
air media berkisar masing-masing 5,86 – 6,01 mg/l dan 29,5 – 300C. pH air media
berkisar 7,72 – 7,84, sedangkan salinitas adalah 30 ppt. (Lampiran 2).
Pemeliharaan Induk
Induk sebanyak 10 ekor (9 betina dan 1 jantan) ditempatkan dalam bak pemeliharaan induk yang terbuat dari beton berukuran panjang, lebar dan tinggi masing-masing 3,2 x 1,8 x 1,2 m yang diisi air laut dengan salinitas berkisar 33 –
34 ppt dan suhu berkisar 30 – 31oC. Bak pemeliharaan tersebut dilengkapi sistem
sirkulasi dan diberi aerasi (Lampiran 3). Selama pemeliharaan, induk rajungan diberi pakan berupa cumi-cumi 2 kali sehari. Pergantian air dilakukan sebanyak
50% volume setiap 2 minggu sekali dan dilakukan penyiponan sisa pakan dan kotoran setiap 2 atau 3 hari sekali, bergantung sisa pakan yang ada.
Untuk mengetahui induk yang mengandung telur maka dilakukan pengamatan setiap pagi hari. Bila induk telah mengandung telur berwarna kuning, maka induk tersebut dibiarkan dahulu selama 3 hari dalam bak pemeliharaan induk. Setelah itu dipindahkan dalam bak akuarium volume 150 l yang diberi lapisan pasir, dan sirkulasi air dengan sistem "double bottom" dan diberi aerasi (Lampiran 4). Pengamatan telur dilakukan secara intensif setiap pagi hari untuk melihat perubahan warna telur tersebut. Bila warna telur telah berubah dari kuning, ke coklat dan hitam seluruhnya dan secara mikroskopik dilihat pada pinggiran telur tersebut telah berwarna jingga, maka induk tersebut dipindahkan ke dalam wadah penetasan pada sore hari.
Penetasan Telur
Wadah penetasan telur terbuat dari fiber glass yang berbentuk bulat, volume 500 l, yang dimasukkan air laut steril ± 450 l dengan sanilitas 30 ppt. Pagi hari berikutnya induk rajungan menetaskan telurnya dalam wadah tersebut. Induk yang telah menetaskan telurnya dipindahkan kembali ke bak pemeliharaan dan dipelihara seperti semula. Larva pada wadah penetasan dibersihkan dari kotoran-kotoran yaitu dengan menggunakan saringan. Pengambilan larva sebagai hewan uji dilakukan dengan mematikan aerasi terlebih dahulu lebih kurang 5 menit. Larva yang sehat adalah larva yang berenang aktif pada permukaan air. Larva yang sehat tersebut digunakan sebagai hewan uji.
Penyediaan Brachionus sp
Brachionus sp diperoleh dari hasil kultur masal dengan menggunakan bak bervolume 1 ton (Lampiran 5). Pakan yang digunakan untuk Brachionus sp tersebut adalah Nannochloropsis sp dari hasil kultur masal pada bak beton bervolume 14 ton (Lampiran 6).
Penetasan Kista Artemia sp
Untuk mendapatkan nauplius Artemia sp, maka kista diinkubasi dalam wadah penetasan yang berisi air laut bersalinitas 30-33 ppt. Kepadatan kista yang ditetaskan adalah 5 gram/liter air laut. Wadah yang digunakan untuk penetasan kista Artemia sp terbuat dari fiber glass dengan dasar berbentuk kerucut, kapasitas 20 liter yang dilengkapi dengan aerasi (Lampiran 7). Kista yang
menetas menjadi nauplius dipisahkan dari cangkangnya yaitu dengan mendiamkan air lebih kurang 10 menit, kemudian dipanen dengan cara membuka kran pada bagian bawah wadah dan ditampung dalam saringan dengan mesh size no. 120. Selanjutnya nauplius Artemia sp tersebut diperkaya dengan minyak ikan dan minyak jagung.
Pengkayaan Brachionus sp dan Nauplius Artemia sp
Pengkayaan Brachionus sp
Mula-mula Brachionus sp dimasukkan ke dalam 10 liter air laut pada wadah pengkayaan dengan salinitas berkisar 33-34 ppt kepadatan lebih kurang 1000 ind/ml dan air diaerasi. Total minyak ikan dan minyak jagung sebanyak 1 ml dengan dosis masing-masing 15% dan 85%, ditambahkan kuning telur 0,1 g, dimasukkan ke dalam 200 ml air dan diemulsikan selama 2 menit (Suprayudi et al. 2002). Setelah diemulsikan, media tersebut dimasukkan ke dalam wadah pengkayaan yang telah berisi Brachionus sp. Pengkayaan dilakukan selama 8 jam (Karim, 1998).
Pengkayaan Nauplius Artemia sp
Mula-mula Nauplius Artemia sp dimasukkan ke dalam 10 liter air laut pada wadah pengkayaan dengan salinitas berkisar 33-34 ppt, kepadatan lebih kurang 200 ind/l (Karim, 1998) dan air diaerasi. Total minyak ikan dan minyak jagung sebanyak 1 ml dengan dosis masing-masing 15% dan 85%, ditambahkan kuning telur 0,1 g, dimasukkan ke dalam 200 ml air dan diemulsikan selama 2 menit (Suprayudi et al. 2002). Setelah diemulsikan, media tersebut dimasukkan ke dalam wadah pengkayaan yang telah berisi nauplius Artemia sp. Pengkayaan dilakukan selama 12 jam (Karim, 1998).
Sampel Enzim
Sampel untuk menganalisa enzim pencernaan (protease, amilase dan lipase) pada larva rajungan dilakukan dengan memelihara larva yang terpisah dari pemeliharaan larva untuk uji pakan. Wadah yang digunakan adalah bak beton berbentuk persegi panjang bervolume 6 ton sebanyak 1 buah. Wadah tersebut diisi dengan air sebanyak 6 ton dan ditebari dengan larva stadia Zoea 1 sebanyak 50 ind/l serta air diaerasi. Selama pemeliharaan larva rajungan (Zoea 1 – Megalopa) hanya diberi pakan alami yaitu Brachionus sp dan nauplius Artemia sp
yang diperkaya. Pengambilan sampel dilakukan pada setiap stadia. Sebelum pengambilan sampel dilakukan, larva dipuasakan selama 4 jam yaitu dengan mengambil larva dari bak dan dipelihara dalam toples volume 2 l, setelah itu larva diambil untuk sampel enzim. Setiap stadia larva diambil sebanyak 0,5 – 1,0 g dengan saringan dan dibilas dengan air tawar kemudian dimasukkan dalam plastik dan disimpan di freezer (-20oC).
Rancangan Percobaan dan Analisa Data Rancangan Pecobaan
Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dengan masing-masing 3 ulangan (Steel dan Torrie, 1991). Perlakuan yang digunakan pada penelitian ini adalah :
Perlakuan A : Pemberian pakan alami dimulai dari stadia Zoea 1 sampai stadia Megalopa, sedangkan pakan buatan tidak diberikan ; Perlakuan B : Pakan alami tidak diberikan, sedangkan pakan buatan diberikan mulai dari stadia Zoea 1 sampai mengalopa ; Perlakuan C : Pemberian pakan alami pada Zoea 1, sedangkan pakan buatan dimulai dari stadia Zoea 2 sampai stadia Megalopa ; Perlakuan D: Pemberian pakan alami mulai diberikan dari stadia Zoea 1 sampai stadia Zoea 2, sedangkan pakan buatan diberikan mulai dari stadia Zoea 3 sampai stadia Megalopa; Perlakuan E : Pemberian pakan alami mulai Zoea 1 sampai Zoea 3, sedangkan pakan buatan diberikan mulai stadia Zoea 4 sampai Megalopa. Untuk jelasnya diperlihatkan pada skema berikut ini :
Perlakuan A Stadia Z1 Z2 Z3 Z4 Megalopa Pakan Alami Pakan Buatan Perlakuan B Stadia Z1 Z2 Z3 Z4 megalopa Pakan Alami Pakan Buatan Perlakuan C Stadia Z1 Z2 Z3 Z4 megalopa Pakan Alami Pakan Buatan Perlakuan D Stadia Z1 Z2 Z3 Z4 megalopa Pakan Alami Pakan Buatan Perlakuan E Stadia Z1 Z2 Z3 Z4 megalopa Pakan Alami Pakan Buatan
Keterangan : = Pemberian pakan Alami Pemberian pakan Buatan
Gambar 2 Skema pemberian pakan alami dan pakan buatan pada larva rajungan.
Analisa Data
Data tingkat kelangsungan hidup larva rajungan antara stadia dan waktu perkembangan larva setiap stadia diplotkan dalam suatu tabel dan dilakukan analisa sidik ragam antar perlakuan. Bila hasil analisa sidik ragam menunjukkan perbedaan nyata kemudian dilakukan dengan uji Duncan (Program SPSS 10.0 for Windows). Sedangkan data aktivitas enzim protease, amilase dan lipase diplotkan dalam suatu tabel dan grafik perkembangan enzim terhadap setiap stadia larva, kemudian dianalisis secara deskriptif.
Pelaksanaan Percobaan
Sebelum memasukan hewan uji dalam wadah percobaan terlebih dahulu wadah percobaan ditempatkan secara acak dalam “water bath” dan diisi dengan media air sebanyak 1 liter serta diberi aerasi lemah (Gambar 1). Setelah itu hewan uji dimasukkan dalam wadah percobaan sebanyak 30 individu, kemudian diberikan pakan sesuai dengan perlakuan. Jumlah pakan alami yang diberikan
ditunjukkan pada Tabel 1. Jumlah pakan buatan yang diberikan seperti ditunjukkan pada Tabel 2.
Tabel 1 Jumlah pakan alami yang diberikan berdasarkan stadia
Stadia Brachionus sp (ind/ml) Nauplius Artemia (ind/ml)
Z1 40 * TD
Z2 40 * TD
Z3 40 * 0.5*
Z4 40 * 1.0*
Megalopa TD 4.0*
* Suprayudi et al. (2002) ; TD= Tidak Diberikan.
Tabel 2 Jumlah pakan buatan yang diberikan berdasarkan stadia
Stadia Pakan buatan (mg/l/hari)*
Z1 0,5 Z2 2,0 Z3 4,0 Z4 6,0 Megalopa 8,0 * Susanto et al. (2003).
Pakan buatan ditimbang dengan menggunakan timbangan analitik dengan skala terkecil 0,0001 g. Frekwensi pemberian pakan buatan dilakukan 4 kali sehari yaitu jam 8.00, 11.00, 14.00 dan 17.00. Untuk menghindari pakan yang tersisa serta memisahkan stadia larva maka dilakukan pergantian media setiap pagi.
Metode Pengukuran dan Pengamatan Peubah Tingkat Kelangsungan Hidup
Tingkat kelangsungan hidup larva rajungan dihitung dengan menggunakan rumus :
SR = Nt/No x 100 %
Dimana : SR = Tingkat kelangsungan hidup larva rajungan
Nt = Jumlah larva rajungan yang hidup sampai akhir percobaan No = Jumlah larva rajungan pada awal percobaan
Intermolt Period
Intermolt periode larva diperoleh dengan menggunakan rumus (Suprayudi et al. 2004), yaitu :
Dt = Development time (intermolt period)
N = Jumlah larva dengan stadia pada waktu tertentu t = Waktu
Enzim Pencernaan Larva
Pengamatan enzim pencernaan dilakukan pada setiap stadia, yaitu Zoea 1, Zoea 2, Zoea 3, Zoea 4 dan Megalopa. Enzim yang diamati meliputi protease, amilase dan lipase. Metode analisa ke tiga enzim tersebut diuraikan secara detail pada Lampiran 8.
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil
Tingkat Kelangsungan Hidup Larva
Hasil pengamatan tingkat kelangsungan hidup larva rajungan setiap stadia diperlihatkan pada Lampiran 9 dan Gambar 3.
Ket : Z = Zoea, M = Megalopa, FC (first crab) Perlakuan B larva mati pada hari ke 7 Perlakuan C larva mati pada hari ke 11 Perlakuan D larva mati pada hari ke 16
Gambar 3. Tingkat kelangsungan hidup (%) pada setiap stadia larva rajungan
Tingkat kelangsungan hidup setiap stadia (Lampiran 9 dan Gambar 3) menunjukkan bahwa terjadi penurunan yang tajam dari stadia Z1 ke Z2 pada semua perlakuan. Pada perlakuan A, D dan E mengalami penurunan yang cenderung merata dari stadia Z2 hingga Z4, sedangkan pada perlakuan A dan E setelah Z4 mengalami penurunan yang drastis pada stadia megalopa dan kembali cenderung merata hingga stadia FC. Pada perlakuan B larva mati pada saat mencapai stadia Z2, sedangkan pada perlakuan C larva mati pada saat stadia Z4.
Tingkat kelangsungan hidup antar stadia Z1-Z2 (Lampiran 10) menunjukkan bahwa pemberian pakan alami awal pada stadia Z1 (perlakuan A, C, D dan E) memberikan tingkat kelangsungan hidup lebih tinggi (P<0.05) dibandingkan pemberian pakan buatan pada awal stadia Z1 (perlakuan B).
0 20 40 60 80 100 120 Z1 Z2 Z3 Z4 M FC Stadia S u rv iv a l R a te ( % ) A B C D E
Tingkat kelangsungan hidup antar stadia Z1-Z3 dan Z1-Z4 tidak berbeda (P>0.05), sedangkan tingkat kelangsungan hidup dari Z1–M dan Z1-FC menunjukkan bahwa pemberian pakan alami pada awal stadia Z1 lebih baik dibandingkan dengan pemberian pakan buatan pada awal stadia Z4 (P<0.05). Lebar karapaks FC tidak berbeda (P>0.05) antara perlakuan pemberian pakan alami pada awal stadia Z1 dibandingkan dengan perlakuan pemberian awal pakan buatan pada stadia Z4 (Lampiran 10).
Intermolt Period
Intermolt period (waktu antar molting) larva pada setiap stadia selama penelitian ditunjukkan pada Lampiran 11 dan Tabel 3.
Tabel 3 Intermolt period (hari) setiap stadia larva rajungan Stadia Perlakuan Z1 Z2 Z3 Z4 M FC A 1,5a 3,9a 7,2a 10,9a 14,1a 16,6a B 1,8b 4,5b * - - - C 1,8b 5,8c ** - - - D 1,6a 4,4ab 7,9b 13,3b *** - E 1,6a 4,4ab 7,5c 11,9c 16,4b 17,0a
Ket : Z = Zoea, M = Megalopa, FC (first crab) * = Larva mati pada hari ke 7
** = Larva mati pada hari ke 11 *** = Larva mati pada hari ke 16
Huruf yang sama dalam satu kolom tidak berbeda nyata (P<0.05)
Waktu perkembangan stadia Z1 belum menunjukkan adanya perbedaan (P>0.05) antara perlakuan A, D dan E dibandingkan dengan perlakuan B dan C, sedangkan lama waktu perkembangan Z2 menunjukkan bahwa perlakuan C memerlukan waktu perkembangan yang lebih lama (P<0.05) dibandingkan dengan perlakuan lainnya, sedangkan pada perlakuan A tidak menunjukkan lama perkembangan yang berbeda (P>0.05) dibandingkan dengan perlakuan D dan E. Lama waktu perkembangan perlakuan B pada stadia Z2 tidak berbeda (P>0.05) dengan perlakuan D dan E, sedangkan lama waktu yang dibutuhkan oleh larva untuk mencapai Z3 dan Z4 berbeda (P<0.05) antara perlakuan pemberian pakan alami pada stadia awal Z1 (perlakuan A), dengan perlakuan pemberian pakan buatan pada awal stadia Z3 (perlakuan D) dan Z4 (perlakuan E). Untuk mencapai Megalopa lama waktu yang dibutuhkan larva berbeda (P<0.05) antara perlakuan A dan perlakuan E, sedangkan lama waktu perkembangan larva untuk mencapai FC tidak berbeda (P>0.05).
Enzim Pencernaan Larva
Aktivitas enzim pencernaan protease, amilase dan lipase larva rajungan pada setiap stadia, rotifer dan nauplius Artemia sp disajikan dalam Lampiran 12. Aktivitas enzim protease menunjukkan penurunan pada setiap stadia yaitu dari stadia Z1 sampai Megalopa (Gambar 4). Sedangkan enzim protease pada rotifer (0,006 unit/menit/gram) dan nauplius Artemia sp (0,080 unit/menit/gram) berada dibawah nilai aktivitas enzim protease pada stadia Z1 dan Z3 (Gambar 4).
Gambar 4. Aktivitas enzim protease pada setiap stadia larva rajungan,
rotifer dan nauplius Artemia sp
Kebalikan dari aktivitas enzim protease, amilase cenderung meningkat pada setiap stadia larva rajungan (Gambar 4). Aktivitas enzim amilase pada rotifer sama dengan aktivitas enzim amilase pada stadia Z1 (0,0011 unit/menit/gram), tetapi aktivitas enzim amilase pada nauplius Artemia (0,0080 unit/menit/gram) lebih rendah dari aktivitas enzim amilase pada stadia Z3 (Gambar 5).
Rotifer Artemia y = -0,0365x + 0,2557 R2 = 0,9245 0.00 0.05 0.10 0.15 0.20 0.25 Z1 Z2 Z3 Z4 Megalopa Stadia A k ti v it a s e n z im p ro te a s e (u n it /m e n it /g ra m ) Larva Rotifer Artemia
Rotifer Artemia y = 0,0002x + 0,0009 R2 = 0,7691 0.0000 0.0005 0.0010 0.0015 0.0020 0.0025 Z1 Z2 Z3 Z4 Megalopa Stadia A k ti v it a s e n z im a m il a s e (u n it /m e n it /g ra m ) Larva Rotifer Artemia
Gambar 5. Aktivitas enzim amilase pada setiap stadia larva rajungan, rotifer dan nauplius Artemia sp.
Aktivitas enzim lipase cenderung meningkat pada setiap stadia (Gambar 6), dimana aktivitas enzim lipase pada rotifer (0,4974 unit/menit/gram) hampir sama dengan aktivitas enzim lipase pada larva stadia Z1. Sedangkan aktivitas enzim lipase pada nauplius Artemia sp (3,3957 unit/menit/gram) lebih tinggi dibandingkan aktivitas enzim lipase pada larva stadia Z3 (Gambar 6).
Rotifer Artemia y = 0,6936x - 0,6839 R2 = 0,8131 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 Z1 Z2 Z3 Z4 Megalopa Stadia A k ti v it a s e n z im l ip a s e ( u n it /me n it /g ra m) Larva Rotifer Artemia
Gambar 6. Aktivitas enzim lipase pada setiap stadia larva rajungan, rotifer dan nauplius Artemia sp
Pembahasan
Dari data penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbedaan perlakuan pemberian pakan buatan yang signifikan terhadap tingkat kelangsungan hidup dan perkembangan stadia larva rajungan. Pada perlakuan A dan E larva rajungan
dapat berkembang mencapai stadia first crab (FC) sedangkan perlakuan lainnya mati. Pada perlakuan B larva mati pada hari ke 7 (stadia Z2), perlakuan C larva mati pada hari ke 11 (memasuki stadia Z3) sedangkan pada perlakuan D larva mati pada hari ke 16 (stadia Z4). Kematian larva pada perlakuan B, C dan D disebabkan oleh belum berkembangnya enzim pencernaan sehingga belum dapat mencerna pakan buatan. Quinitio et al. (1999) menyatakan bahwa larva kepiting bakau (Scylla serrata) yang diberi pakan buatan pada awal stadia hanya mampu hidup sampai stadia Z2, hal ini disebabkan larva belum mampu mencerna pakan buatan.
Aktivitas enzim protease pada awal stadia tinggi dan menurun sejalan dengan perkembangan larva (Gambar 4). Sebaliknya aktivitas enzim lipase dan amilase meningkat sejalan dengan perkembangan stadia. Fakta ini menunjukkan bahwa pada saat stadia awal larva hanya mampu mencerna protein dibandingkan lemak dan karbohidrat. Pada umumnya kandungan nutrisi pakan alami didominasi oleh protein (60-75 %) diikuti lemak dan karbohidrat dalam jumlah yang kecil (Dhont and Lavens, 1996). Oleh karena itu dapat dijelaskan bahwa larva yang diberi pakan alami mulai stadia Z1 dapat mencapai stadia megalopa dan FC, dibandingkan dengan perlakuan B, C dan D yang diberi pakan buatan mulai stadia Z1, Z2 dan Z3.
Dari data aktivitas enzim pencernaan terlihat bahwa peran eksogenous enzim khususnya lipase sangat dominan (Gambar 6) dimana aktivitas enzim lipase tersebut lebih tinggi didapatkan pada rotifer dan Artemia. Oleh karena itu pada stadia awal walaupun endogenous enzim khususnya lipase rendah akan tetapi dengan bantuan endogenous enzim, lemak dari pakan alami dapat dicerna. Sebaliknya pada larva yang diberi pakan buatan mulai stadia Z1, Z2 dan Z3 diduga kurang mampu mencerna lemak dari pakan buatan (perlakuan B, C dan D) yang kandungannya mencapai 13 %. Kamaruddin et al. (1994) menyatakan bahwa ada kontribusi eksogen enzim pada larva stadia III Macrobranchium rosenbergii yang diberi pakan nauplius Artemia sp untuk enzim trypsin, esterase dan amilase yaitu masing-masing sebesar 0,91%, 0,93% dan 6,73%. Munilla-Moran et al. (1990) dalam Kolkovski (2001) menyatakan bahwa ada kontribusi enzim pencernaan oleh rotifer, Artemia sp pada ikan Turbot (Scophtalmus maximus) untuk protease sebesar 43-60%, esterase 89-94% dan amylase 15-27%.
Dari data aktivitas enzim amilase terlihat bahwa peran eksogenous enzim tidak begitu dominan (Gambar 5), namun demikian resultante dari aktivitas enzim endogenous dan eksogenous diduga belum mampu mencerna karbohidrat dari pakan buatan yang kadarnya mencapai 28,5 %. Hal ini didukung oleh fakta bahwa larva yang diberi pakan buatan dari stadia Z1, Z2 dan Z3 (perlakuan B, C dan D) tidak dapat berkembang mencapai stadia yang lebih tinggi.
Pada perlakuan A didapatkan tingkat kelangsungan hidup tertinggi dan waktu perkembangan larva tercepat dari perlakuan lainnya yaitu 15,55 % (Lampiran 10 dan Tabel 3), hal ini disebabkan karena pakan alami mudah dicerna dan mempunyai lysozim. Sebaliknya perlakuan B, C dan D, aktivitas enzim pencernaan larva belum mampu mencerna pakan buatan terutama lemak dan karbohidratnya. Berdasarkan data aktivitas enzim protease, lipase dan amilase (Gambar 4, 5 dan 6) maka dapat dikatakan bahwa pemberian pakan buatan pada stadia awal kurang tepat dan dapat menyebabkan kematian larva karena pada stadia ini larva tidak cukup mendapatkan nutrien. Hal tersebut di atas dapat menjelaskan rendahnya tingkat kelangsungan hidup larva pada perlakuan B, C dan D yang hanya dapat menghasilkan 14,45%, 35,56 % dan 16,66 % pada stadia Z2 dan Z4.
Perlakuan E, mulai pada stadia Z4 yang aktivitas enzim lipase dan amilase mulai meningkat tajam dan enzim proteasenya masih cukup tinggi (Gambar 4, 5 dan 6), menunjukkan bahwa pada stadia ini larva sudah mampu mencerna pakan buatan yang ditunjukkan oleh data perkembangan larva, dimana pada perlakuan E larva dapat mencapai stadia megalopa dan first crab.
Data intermolt period menunjukkan bahwa nampak adanya perbedaan waktu perkembangan larva antara perlakuan A dan E, dimana pada perlakuan E waktu yang dibutuhkan untuk mencapai megalopa yaitu 16,4 hari sedangkan perlakuan A hanya membutuhkan waktu 14,1 hari mulai dari Z1, tetapi waktu yang dibutuhkan untuk mencapai FC tidak berbeda (P>0,05). Hal ini menunjukkan bahwa larva pada stadia Z4 sudah mampu mencerna pakan buatan yang diberikan, terutama kemampuan enzim pencernaan amilase dan lipase dalam mencerna karbohidrat dan lipid yang dikandung dalam pakan buatan yang diberikan. Peningkatan aktivitas enzim amilase dan lipase disebabkan alat pencernaan larva rajungan mulai berkembang seperti gastric mill, gland filter dan hepatopancreas. Menurut Li (1990); Li dan Li (1995) dalam Li et al. (1997),
peningkatan sistem pencernaan pada larva kepiting bakau ditunjukkan dengan peningkatan perkembangan gastric mill, gland filter dan hepatopancreas. Bentuk dasar gastric mill nampak pada stadia Z3 dan mendekati kesempurnaan pada stadia Z5. Ceccaldi (1989) menyatakan bahwa pada crustacea, perkembangan gastric mill terjadi selama proses metamorfosa. Lebih lanjut dinyatakan bahwa fungsi salah satu dari hepatopancreas pada krustase adalah mensintesa dan mensekresi enzim-enzim pencernaan.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan :
1. Aktivitas enzim protease cenderung menurun pada setiap stadia sedangkan amilase dan lipase cenderung naik sejalan dengan perkembangan larva. Kenaikan tajam untuk aktivitas enzim amilase dan lipase mulai terlihat pada stadia Z4-Megalopa
2. Waktu yang tepat untuk pemberian pakan buatan pada larva rajungan adalah pada stadia Zoea 4 (Z4)
Saran
Pemberian pakan buatan pakan pemeliharaan larva rajungan sebaiknya dilakukan mulai pada stadia Zoea 4.
DAFTAR PUSTAKA
Affandi R, I Mokoginta, A Suprayudi. 1994. Perkembangan enzim pencernaan benih ikan gurame, Osphronemus gouramy Lacepede. Jurnal Ilmu-ilmu perairan dan perikanan Indonesia, 2 (2) : 63-71
Affandi R, DS Sjafei, MF Rahardjo, Sulistiono. 2004. Fisiologi ikan pencernaan dan penyerapan makanan. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor. Bogor. 215 hlm.
Bages M, L Sloane. 1981. Effect of dietary protein and starch levels on growth and survival of Penaeus monodon (Fabricius) postlarvae. Aquaculture, 25 : 117-128
Baylon JC, AN Failaman. 1999. Larval rearing of the mud crab Scylla serrata in the Philippines. p: 141-146, In Keenan CP and A Blackshaw (Eds.). Mud crab aquaculture and biology. Proceedings of an International Scientific Forum held in Darwin, Australia, 21-24 April 1997. ACIAR Proceedings. Bergmeyer HU, M Goβl, HE Walter. 1983. Biochemical reagents for general use.
p:126-328. In HU Bergmeyer (Ed.) Methods of enzymatic analysis, 3rd Ed. Vol. II. Verlag Chemie, Weinheim.
Ceccaldi HJ. 1989. Anatomy and physiology of digetistive tract of crustaceans decapods reared in aquaculture, In Advances in tropical aquaculture, workshop at Tahity, Franch Polynesia, Feb. 20 March 4. Ifremer. Actes de