BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
6. Metode Penentuan Harga Pokok Persediaan
penjualan FOB shipping point.)
9. Transaksi Penjualan Tunai Kas xxx Penjualan xxx (periodik : penjualan BD) Kas xxx Penjualan xxx Kos barang terjual xxx
Persediaan barang dagangan xxx (Penjualan BD) 10. Transaksi Pelunasan Piutang Kas xxx Potongan penjualan xxx Piutang dagang xxx (periodik : pelunasan piutang diperiode potongan penjualan) Kas xxx Potongan Penjualan xxx Piutang dagang xxx
(Pelunasan piutang di periode potongan penjualan) 11. Transaksi Retur Penjualan Retur penjualan xxx Utang dagang xxx (periodik : retur penjualan HP,pengembalian kas diakui sebagai utang.
Retur penjualan xxx
Utang dagang xxx Persedian brg dagangan xxx
Kos barang terjual xxx (Retur penjualan HP, pengambilan kas diakui sebagai utang)
12. Transaksi Pengurangan Harga Penjualan Tunai Pengurangan penj xxx Kas xxx (periodik :pengurangan harga penjualan,tunai) Pengurangan penj xxx Kas xxx (Pengurangan harga penjualan, tunai)
Sumber : Warsono, (2013 : 194 – 218)
5. Jurnal
Pencatatan akuntansi yang pertama kali dilakukan adalah dalam jurnal. Dibanding dengan catatan akuntansi yang lain, pencatatan di dalam jurnal ini biasanya lebih lengkap dan lebih terinci, serta menurut urutan tanggal kejadiaan transaksi. Jurnal merupakan catatan akuntansi permanen yang pertama, yang digunakan untuk mencatatan transaksi keuangan perusahaan. Mulyadi (2008:101)
6. Metode Penentuan Harga Pokok Persediaan
Metode penentuan harga pokok persediaan adalah metode yang digunakan untuk dapat menghitung harga pokok penjualan
17
dan harga persediaan akhir, Zaki Baridwan menggunakan beberapa metode yang dimaksud antara lain;
a. Identifikasi Khusus
Metode identifikasi khusus didasarkan pada anggapan bahwa arus barang harus sama dengan arus biaya. Untuk itu perlu dipisahkan tiap-tiap jenis barang-barang berdasarkan harga pokoknya dan masing-masing kelompok dibuatkan kartu persediaan sendiri, sehingga masing-masing harga pokok dapat diketahui. Harga pokok penjualan terdiri dari harga pokok barang-barang yang dijual dan sisanya merupakan persediaan akhir. Metode ini dapat digunakan dalam perusahaan-perusahaan yang menggunakan prosedur pencatatan persediaan dengan cara fisik maupun cara buku. Tetapi karena cara ini banyak pekerjaan tambahan maupun gudang yang luas maka jarang digunakan.
b. Rata-rata Tertimbang
Dalam metode rata-rata tertimbang barang-barang yang dipakai untuk produksi atau dijual akan dibebani harga pokok rata-rata. Perhitungan harga pokok rata-rata dilakukan degan cara membagi jumlah perolehan dengan kuantitasnya. Metode rata-rata didasarkan pada asumsi bahwa barang yang dijual harus dibebani dengan biaya rata-rata dimana rata-rata itu dipengaruhi atau ditimbang menurut jumlah unit yang
18
diperoleh pada masing-masing harga. Penggunaan metode fisik dan rata-rata tertimbang akan menghasilkan nilai persediaan berbeda dengan sistem persediaan perpetual dan penggunaan metode rata-rata bergerak.
c. Masuk Pertama Keluar Pertama (MPKP)
Harga pokok persediaan akan digunakan sesuai urutan terjadinya. Apabila ada penjualan dan pemakaian barang dibebankan adalah harga pokok yang lebih terdahulu, disusul yang masuk berikutnya. Persediaan akhir dibebani harga pokok terakhir. Metode ini didasarkan pada asumsi bahwa harus dibebankan kependapatan sesuai dengan urutan terjadinya. Dengan demikian, persediaan akan dinyatakan berdasarkan biaya terbaru. MPKP dapat dianggap sebagai suatu pendekatan yang logis dan realistis mengenai arus biaya. Metode ini juga mengasumsikan suatu arus biaya yang dianggap parallel dengan arus fisik barang sehari-hari. Pendapatan dibebani dengan biaya yang dianggap berkaitan dengan barang yang benar-benar terjual, persediaan akhir dilaporkan menurut biaya terbaru, biaya yang paling mendekati nilai berjalan persediaan pada tanggal neraca
1) Metode MPKP-Perpetual
Dengan metode MPKP yang diterapkan dalam metode perpetual, maka harga barang yang dijual dengan anggapan
19
bahwa barang yang lebih dulu masuk adalah barang yang lebih dulu dijual. Kekurangannya baru diambil dari barang yang masuk berikutnya.
Adapun contoh pengerjaan dengan menggunakan metode MPKP Perpetual sebagai berikut:
1 Februari, persediaan 200 unit @ Rp.100.00 = Rp. 20.000.00
9 Februari, pembelian 300 unit @ Rp.110.00 = Rp. 33.000.00
10 Februari, penjualan 400 unit
15 Februari, pembelian 400 unit @ Rp. 116.00 = Rp. 46.400.00
18 Februari , penjualan 300 unit
24 Februari, pembelian 100 unit @ Rp. 1260.00 = Rp. 12.600.00
Jadi 200 unit x Rp. 100.00 = Rp. 20.000.00
Kekurangan sebanyak 100 unit, diambil dari yang masuk tanggal
9 Februari
Jadi 200 unit x Rp.110.00 = Rp. 22.000.00
Jumlah = Rp. 44.000.00
20
Tabel 2
Kartu Persediaan MPKP Perpetual XYZ Per Desember 2005
Tanggal
Pembelian Penjualan Saldo
Unit Harga Jumlah Unit Harga Jumlah Unit Harga Jumlah
1 Feb 2005 200 Rp. 100.00 Rp. 20.000.00 9 Feb 2005 300 Rp. 110.00 Rp. 33.000.00 200 Rp. 100.00 Rp. 20.000.00 300 Rp. 110.00 Rp. 33.000.00 10 Feb 2005 200 Rp. 100.00 Rp. 20.000.00 200 Rp. 110.00 Rp. 22.000.00 100 Rp. 110.00 Rp. 11.000.00 15 Feb 2005 400 Rp. 116.00 Rp. 46.400.00 100 Rp. 110.00 Rp. 11.000.00 500 Rp 27.500 Rp13.750.000 400 400 Rp. 116.00 Rp. 46.400.00 18 Feb 2005 100 Rp. 110.00 Rp.11.000.00 200 Rp. 116.00 Rp. 22.000.00 200 Rp. 116.00 Rp. 23.200.00 24 Feb 2005 100 Rp. 126.00 Rp. 12.600.00 200 Rp. 116.00 Rp. 23.200.00 100 Rp. 126.00 Rp. 12.600.00
Jumlah HPP Persediaan Akhir 300
Rp. 35.800.00
Sumber : Zaki Baridwan ( 2011: 159)
Metode MPKP Perpetual mempunyai banyak kelebihan, yaitu :
4) Kelebihan metode MPKP adalah kemungkinan dapat diikuti secara fisik, pencatatan harga pokok persediaan yang dijual lebih masuk akal dan memperkecil adanya manipulasi laba. Persediaan akhir mendekati harga pokok berjalan karena barang yang pertama
21
masuk merupakan barang yang pertama keluar dari persediaan akhir akan terdiri dari harga pokok pembelian baru.
5) Persediaan barang tidak terlalu lama disimpan dalam gudang karena barang yang pertama dibeli akan dijual terlebih dahulu sehingga tidak menimbulkan resiko seperti kerusakan atau kadaluarsa yang dapat menurunkan kualitas barang.
6) Tidak memperkenankan manipulasi laba karena perusahaan tidak bebas untuk mengambil pos harga pokok tertentu untuk dibebankan kepada unit yang dijual.
7) Memperbesar laba yang diperoleh perusahaan. Dengan laba yang lebih besar maka laba yang akan diterima anggota lebih besar.
d. Masuk Terakhir Keluar Pertama (MTKP)
Metode MTKP didasarkan pada asumsi bahwa biaya terbaru/terakhir dari suatu unsur barang tertentu harus dibebankan ke harga pokok penjualan. Barang-barang yang dikeluarkan dari gudang akan dibebankan dengan harga pokok yang terakhir disusul dengan yang masuk sebelumnya. Persediaan akhir akan dihargai dengan harga pokok pembelian yang pertama dan berikutnya.
Apabila digunakan sistem persediaan perpetual, kiranya perlu untuk mengetahui basis MTKP dengan menggunakan data biaya pada tanggal setiap pengeluarannya. Apabila dicatat
22
bahwa nilai MTKP yang dihasilkan berdasarkan sistem priodik biasanya akan berbeda dari yang dihasilkan berdasarkan sistem perpetual.
Kelemahan MTKP diantaranya memperkecil laba, dimana penerapan harga terbaru terhadap pendapatan periode berjalan yang akan menghasilkan penurunan laba bersih dalam suatu periode inflasi, jika tujuan manajemen adalah untuk memaksimalkan laba yang dilaporkan, maka LIFO berlawanan dengan tujuan manajemen. Saldo persediaan yang tidak direalistis pada neraca dan kelemahan lainnya asumsi arus yang tidak realistis.
e. Harga beli terakhir (latest purchase price)
“Metode ini persediaan barang yang ada pada akhir periode dinilai dengan harga pokok pembelian terakhir tanpa mempertimbangkan apakah jumlah persediaan yang ada melebihi jumlah yang dibeli terakhir”. Baridwan (2011:156-158)
a. Metode penilaian persediaan
Penilaian persediaan barang dagangan adalah nilai persediaan yang dicantumkan dalam neraca. Persediaan akhir dapat dihitung harga pokoknya dengan menggunakan beberapa cara penentuan harga pokok persediaan akhir, tetapi nilai ini tidak selalu
23
nampak dalam neraca, jumlah yang dicantumkan dalam neraca tergantung pada metode penilaian yang
Ada 3 (tiga) metode penilaian persediaan menurut Baridwan (2011:182-195) yaitu sebagai berikut :
a. Metode harga pokok
Pengertian metode harga pokok adalah jumlah pengeluaran untuk memperoleh barang tersebut hingga barang tersebut siap untuk dijual atau dipakai. Dalam harga pokok ini termasuk di dalamnya harga faktur dikurangi potongan pembelian, ditambah dengan biaya angkut, biaya asuransi, biaya penyimpanan dan biaya lain-lain yang berhubungan dengan persediaan tersebut siap untuk dipakai atau dijual kembali. b. Metode harga pokok atau nilai realisasi bersih yang lebih
rendah
Metode harga pokok atau nilai realisasi bersih yang lebih rendah adalah taksiran harga penjualan dalam usaha normal dikurangi taksiran biaya penyelesaian dan taksiran biaya yang diperlukan untuk melaksanakan penjualan. Dalam kondisi tertentu, nilai realisasi bersih diukur dengan nilai pengganti atau biaya produksi persediaan.
c. Metode harga jual
Penyimpanan dari prinsip harga pokok untuk penilaian persediaan yaitu dengan mencantumkan persediaan dengan
24
harga jual bersihnya dapat diterima asalkan dipenuhi syarat-syarat berikut:
1) Ada kepastian bahwa barang-barang itu akan dapat segera dijual dengan harga yang telah ditetapkan
2) Merupakan produk standar, yang pasarnya mampu menampung serta sulit untuk menentukan harga pokoknya.
25