INSTITUT PERTANIAN BOGOR
METODE PENELITIAN
3.4 Metode Pengambilan Data 1 Penentuan lokasi penelitian
Lokasi penelitian ditentukan dengan mempertimbangkan kriteria seperti berikut:
1. Kerapatan vegetasi yang berbeda
Perbedaan ini digunakan untuk melihat pengaruh keberadaan vegetasi terhadap kesehatan masyarakat karena vegetasi dapat menjerap partikel debu yang ada di lingkungan (Dahlan 2004).
2. Arah angin yang sama dari sumber pencemar
Arah angin menjadi faktor penting dalam analisis daerah penerima pencemaran udara (Sofiati 2006). Arah angin dapat berpengaruh terhadap kadar pencemaran yang diterima oleh setiap tempat. Arah dan kecepatan angin akan menyebarkan zat pencemar secara konveksi (Satriyo 2008). 3. Jarak yang sama dari sumber pencemaran
Debu dari sumber pencemar akan menyebar di daerah sekitar. Jarak antara lokasi dengan sumber pencemars akan mempengaruhi kadar pencemaran yang akan diterima oleh lokasi tersebut.
Ketiga kriteria di atas dapat digambarkan dengan sketsa pada Gambar 3.
Desa Gunung Putri, Kecamatan Gunung Putri dipilih karena lokasi ini merupakan kawasan padat perindustrian, pemukiman dan transportasi. Desa ini juga berbatasan dengan pabrik industri semen dengan kapasitas produksi 3,1 ton pertahun yaitu PT. Indocement Tunggal Perkasa, Tbk (PT. Indocement 2010). Penggunaan Desa Gunung Putri sebagai lokasi penelitian diharapkan dapat mewakili kawasan industri. Pemilihan sampel lokasi penelitian RW 06 diharapkan dapat mewakili lokasi dengan kerapatan vegetasi tinggi dan RW 03 diharapkan apat mewakili lokasi dengan kerapatan vegetasi rendah.
Pemilihan sampel pekarangan menggunakan SPPT-PBB (Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang - Pajak Bumi Bangunan) 2012 Desa Gunung Putri kemudian dari SPPT dikelompokkan menjadi tipe pekarangan dengan luas 1-500 m2, 501-1000 m2, 1001-2000 m2 dan >2000 m2 (Prasetyo 2006).
Gambar 3 Sketsa kriteria lokasi penelitian.
Sumber pencemar Lokasi kerapatan vegetasi rendah RW 03 Lokasi kerapatan vegetasi tinggi RW 06 1 km 1 km
Pengambilan sampel akan dilakukan sebanyak 10% dari jumlah masing- masing kelompok luasan pekarangan pengambilan sampel ini sesuai dengan panelitian yang dilaksanakan Prasetyo (2007). Pada penelitian ini analisis vegetasi dilakukan pada sepuluh pekarangan RW 03 dengan luasan 0-500 m2 dan lima pekarangan dengan luasan 501-1000 m2 sedangkan di atas 1000 m2 tidak terdapat di RW 03. Pekarangan yang digunakan di RW 06 berjumlah 19 sampel pekarangan dengan luas 0-500 m2, tiga sampel pekarangan dengan luasan 501- 1000 m2, tiga sampel pekarangan dengan luasan 1001-2000 m2 serta satu sampel pekarangan dengan luasan lebih dari 2001 m2 untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Lampiran 5.
3.4.2 Pengukuran parameter vegetasi
Pengukuran parameter vegetasi dilakukan pada pekarangan yang sudah terpilih sebagai sampel. Pengukuran parameter vegetasi dilakukan untuk pohon dengan diameter diatas 10 cm hal ini sesuai dengan Wyatt- Smith (1963) yang diacu dalam Soerianegara dan Indrawan (2002). Parameter vegetasi yang diukur berupa luas proyeksi tajuk, leaf area index (LAI) dan tinggi pohon. Kerapatan daun berhubungan erat dengan kemampuan pekarangan dalam mereduksi zat pencemar terutama partikel debu (Sitompul 1995 diacu dalam Septiyani 2010). Kerapatan daun yang semakin tinggi akan menyebabkan total luas daun juga akan semakin tinggi.
Pengukuran luas proyeksi tajuk dilakukan dengan cara mengukur diameter tajuk terpanjang dan 900 dari pusat pohon sebagai tajuk terpendek. Pengukuran tajuk ini menggunakan rool meter dan kompas. Hal ini dilakukan untuk mengetahui luas tajuk pohon di kedua lokasi penelitian. Sedangkan pengukuran LAI dilakukan dengan menggunakan alat Hemispharical canopy Analyzer (HemiView). Hemispharical canopy merupakan teknik untuk mempelajari tajuk pohon dengan menggunakan kamera dan meletakkan kamera dibawah tajuk pohon atau di lokasi yang lebih rendah (Jonkheere et al. 2000). Cara kerja alat ini menyerupai kamera digital yang dilengkapi dengan program khusus untuk memotret tajuk pohon. Pengukuran tinggi pohon menggunakan alat hagahysometer. Diamater pohon merupakan parameter vegetasi tambahan yang diukur menggunakan pita ukur.
3.4.3 Dampak pencemaran udara terhadap masyarakat
Pencemaran udara yang terjadi di lingkungan akan mempengaruhi kualitas udara dan kesehatan masyarakat sehingga pengambilan data ini bertujuan untuk mengetahui dampak pencemaran udara bagi kesehatan masyarakat. Pengambilan data ini berupa biaya pengobatan yang dilakukan masyarakat, pencegahan dari sakit yang serta pendapatan yang hilang karena sakit yang diduga karena pencemaran udara. Metode pengambilan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner kepada 30 orang setiap RW sehingga jumlah total responden berjumlah 60 orang. Selain itu pengambilan data juga dilakukan dengan penelusuran data di Puskesmas Kecamatan Gunung Putri dan di Kantor Desa Gunung Putri. Kriteria responden yang digunakan adalah responden tersebut tidak bekerja sehari-hari di sumber pencemar yaitu pabrik semen. Hal ini disebabkan karena orang yang sudah bekerja sehari-hari di sumber pencemar (pabrik semen) akan terpapar zat pencemar terlebih dahulu sebelum berada di rumah.
3.4.4 Persepsi masyarakat terhadap permasalahan lingkungan dan pekarangan
Pengambilan data ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran persepsi masyarakat tentang masalah lingkungan dan keberadaan pekarangan. Metode pangambilan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner kepada masyarakat yang bertempat tinggal di RW 03 dan RW 06. Jumlah responden yang digunakan yaitu 60 responden dari kedua lokasi penelitian. Responden diminta memberikan tanggapan terkait dengan permasalahan lingkungan dan keberadaan pekarangan yang merupakan salah satu bentuk RTH.
3.5 Pengolahan dan Analisis Data
3.5.1 Potensi pencemaran yang terdapat di lokasi penelitian
Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif untuk dapat menjelaskan pencemaran yang terjadi di lokasi penelitian. Hal ini akan mempermudah dalam menjelaskan tentang potensi pencemaran yang terjadi di lokasi penelitian.
3.5.2 Potensi kemampuan pekarangan dalam mereduksi zat pencemar
Potensi kemampuan pekarangan mereduksi pencemaran dapat dilakukan dengan pendugaan data. Data yang diambil berupa parameter vegetasi yang diduga mempengaruhi konsentrasi zat pencemar. Parameter vegetasi tersebut antara lain Luas proyeksi tajuk, LAI dan tinggi pohon. Analisis data yang digunakan untuk parameter vegetasi yaitu:
a. Luas proyeksi tajuk
Penghitungan luas proyeksi tajuk menggunakan Ms excel. Menurut Loveless (1989) diacu dalam Septiyani (2010) rumus yang digunakan untuk analisis luas proyeksi tajuk yaitu
Luas Proyeksi Tajuk (m2) = Dengan pengertian:
: Konstanta hitung (3,14 atau ) D1 : Tajuk terpanjang (m)
D2 : Tajuk terpendek (m) b. Leaf Area Index (LAI)
LAI merupakan perbandingan luas penampang daun dengan luas tanah yang ditutupi Campbell (1986),Wood (2001) diacu dalam Septiyani (2010). Analisis data ini menggunakan Hemiview 2.1 Canopy Analysis Software. Hemiview ditempatkan di bawah tajuk pohon dengan mencakup seluruh tajuk pohon kemudian memotret tajuk pohon tersebut.
a b
Gambar 4 (a) HemiView ditempatkan dibawah tajuk pohon; (b) Hasil photo tajuk pohon
c. Luas tajuk
Luas tajuk merupakan salah satu parameter vegetasi yang diduga akan mempengaruhi konsetrasi zat pencemar di udara. Perhitungan luas tajuk menggunakan Ms excel. Rumus yang digunakan yaitu:
Luas tajuk = Luas proyeksi tajuk x LAI d. Kerapatan vegetasi
Perhitungan kerapatan pohon digunakan untuk mengetahui perbedaan kerapatan pohon di kedua lokasi penelitian. Perhitungan ini menggunakan Ms excel dengan rumus:
Kerapatan pohon = Dengan pengertian: N: jumlah pohon L : luas area (hektar)
e. Potensi penyerapan pekarangan
Perhitungan ini menggunakan data sekunder hasil penelitian sebelumnya. Rumus yang digunakan menurut Dahlan (2004) yaitu
B = luas tajuk pohon di lokasi penelitian x serapan zat pencemar oleh tajuk pohon.
Data penyerapan zat pencemar oleh tajuk yang dimaksud menggunakan data sekunder hasil penelitian Smith (1981) diacu dalam Dahlan (2004).
3.5.5 Dampak pencemaran udara terhadap kesehatan manusia
Pendugaan nilai dampak pencemaran udara dapat dianalisis menggunakan pendugaan jumlah penderita dan hilangnya pendapatan karena sakit. Nilai ini menurut Fuady (2003) dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
Biaya pengobatan = Jumlah warga penyakit a x biaya pengobatan penyakit a Biaya Pencegahan = Tindakan pencegahan x jumlah warga yang melakukan x
biaya yang dikeluarkan
Hilangnya pendapatan = jumlah warga x rata-rata jumlah hari kerja yang ditinggalkan pada pekerjaan b x gaji per hari
Perhitungan di atas akan dihitung per kapita per tahun. Nilai di atas akan dibandingkan antara RW 06 dan RW 03. Pengobatan dilakukan 3 kali karena
dengan asumsi ini pasien sudah sembuh (Asrafy 2008). Standar pengobatan yang digunakan merupakan standar pengobatan di rumah sakit swasta dengan menggunakan obat generik. Biaya pencegahan merupakan kesediaan membayar oleh masyarakat untuk tetap menjaga kesehatan. Perhitungan biaya ini dilakukan dengan menggunakan harga standar vitamin yang sering digunakan oleh masyarakat.
Perhitungan pendapatan yang hilang dihitung berdasarkan pada hari kerja yang ditinggalkan. Jenis penyakit yang berbeda membutuhkan waktu penyembuhan yang berbeda selain itu kecepatan sembuh juga dipengaruhi oleh kondisi masing-masing penderita. Melihat kondisi ini maka hari kerja yang ditinggalkan dihitung 1 hari yaitu hari yang ditinggalkan untuk berobat (Fuady 2003). Standar gaji yang digunakan untuk karyawan adalah UMR (Upah minimum regional) Kabupaten Bogor sedangkan wiraswasta diasumsikan sama dengan pendapatan pedagang kelontong karena rata-rata penduduk di kedua RW ini adalah pedagang kelontong.
3.5.6 Valuasi pekarangan
Penghitungan valuasi pekarangan dapat dilakukan dengan mencari selisih nilai dari dua lokasi penelitian yang berbeda (Santosa 2005). Perbedaan ini dilihat dari dampak pencemaran yang terdapat di lokasi penelitian dengan vegetasi rapat dan vegetasi yang tidak rapat. Nilai berupa biaya dampak pencemaran udara yang meliputi biaya pengobatan, biaya pencegahan terhadap penyakit serta pendapatan yang hilang akibat penyakit. Nilai yang dihasilkan berupa nilai relatif vegetasi dimana nilai ini akan terus berubah sesuai dengan manfaat ekologi yang diberikan oleh vegetasi tersebut. Nilai ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
VP= Z1 - Z Dengan pengertian :
VP = Nilai ekonomi pekarangan
Z = Biaya dampak pencemaran udara di kerapatan vegetasi tinggi Z1 = Biaya dampak pencemaran udara di kerapatan vegetasi rendah
BAB IV
KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
4.1 Letak dan Luas 4.1.1 Desa Gunung Putri
Desa Gunung Putri merupakan salah satu desa yang termasuk dalam Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Kecamatan Gunung Putri dibagi menjadi 10 desa yaitu Desa Cicadas, Desa Tanjung Udik, Desa Bojong Nangka, Desa Gunung Putri, Desa Wanaherang, Desa Bojong Kulur, Desa Ciangsana, Desa Nagrak, Desa Cikeas Udik dan Desa Keranggan. Desa Gunung putri mempunyai luas wilayah 244 ha. Secara administrasi desa ini terdiri dari 46 RT, 14 RW dan 4 Kadus. Desa Gunung Putri berjarak 15 km dari ibu kota Kecamatan Wanaherang, 27 Km dari ibukota Kabupaten Cibinong serta 16 km dari ibu kota negara Jakarta (Kantor Desa Gunung Putri 2012). Secara geografi batas Desa Gunung Putri ini yaitu
Utara : Desa Tlajung Udik Selatan : Desa Citereup Barat : Desa Kranggan Timur : Desa Klapa Nunggal.
4.1.2 Letak dan luas RW 03 dan RW 06.
RW 03 dan RW 06 merupakan wilayah di Desa Gunung Putri. Luas RW 03 mencapai 2,934 ha sedangkan untuk RW 06 luas mencapai 16 ha (SPPT 2012). Letak kedua lokasi ini tidak jauh dari kantor desa hanya berjarak kurang lebih 1 km dari kantor desa. Kedua RW ini dipisahkan oleh Jalan Raya Mayor Oking yang menghubungkan kecamatan Citeureup dan Kecamatan Gunung Putri. Kedua RW berbatasan langsung dengan Desa Citereup dan berjarak 1 km dari pabrik semen.
4.2 Kondisi Fisik
4.2.1 Desa Gunung Putri
Desa Gunung Putri merupakan daerah dengan topografi daratan. Kawasan ini terletak pada 295 meter dari permukaan laut. Suhu rata-rata desa ini berkisar
pada 34,0 0C dan kelembapan udara sebesar 42,70% serta curah hujan 231,7 mm per bulan dengan arah angin dominan pada saat penelitian ke arah barat daya. Lahan di desa ini sebagian besar digunakan untuk perumahan. Berdasarkan data BPS Kabupaten Bogor penggunaan lahan untuk lahan non pertanian (pemukiman, kantor, industri dll) adalah sebesar 217 ha dan untuk pekarangan 27 (Septiyani 2010).
Desa ini membangun berbagai fasilitas untuk kemajuan desa. Fasilitas umum yang terdapat di desa ini yaitu sarana pendidikan, kesehatan, sarana ibadah. Fasilitas umum yang ada di desa ini dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 Fasilitas umum Desa Gunung Putri tahun 2011
Jenis Pelayanan Pendidikan Jumlah Pendidikan TK/ Sederajat 1
SD/ Sederajat 6
SMP/ Sederjat 2
SMA/Sederjat 1
Madrasah Diniyah 1
Kesehatan Rumah Sakit 1
Rumah Bersalin 1 Puskesmas Pembantu 1 Poliklinik/ Balai Pengobatan 4
Posyandu 14
Apotik 1
Sarana Ibadah Masjid 11
Mushola 14
Sumber: Kantor Desa Gunung Putri (2012)
4.2.2 Rukun Warga 03 dan Rukun Warga 06
Topografi kedua lokasi penelitian berupa dataran. Kondisi vegetasi dan kepadatan penduduk yang membedakan kedua lokasi penelitian ini. Berdasarkan pengukuran yang dilakukan kerapatan vegetasi di RW 03 hanya berkisar 9 pohon per ha dengan luas bidang dasar 99,87 m2 per ha. RW 06 mempunyai kerapatan vegetasi yang lebih tinggi yaitu 88 pohon per ha dengan luas bidang dasar 1140,63 m2 per ha.
RW 03 merupakan pemukiman dengan kepadatan penduduk lebih rendah dibanding dengan RW 06. Kondisi RW 03 sebagian besar penduduk masih mempunyai pekarangan yang ditanami berbagai macam tumbuhan untuk penghias pekarangan, penghasil buah sebagai bahan pangan. Kondisi umum RW 03 dan RW 06 dapat dilihat pada Gambar 5.
a b
Gambar 5 Kondisi umum lokasi penelitian (a) RW 06; (b) RW 03.
4.3 Kependudukan
Penduduk Desa Gunung Putri pada bulan April tahun 2012 mencapai 15.010 jiwa yang terdiri dari warga negara asli sebanyak 14.951 jiwa serta 59 jiwa warga keturunan. Struktur umur penduduk di Desa Gunung Putri sebagian besar pada usia produktif yaitu 15-54 sebanyak 10.611 jiwa untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4 Jumlah penduduk berdasar kelas umur dan jenis kelamin Desa Gunung Putri April 2012
Kelompok Umur (tahun)
Laki-laki Perempuan Jumlah % n (jiwa) % n (jiwa) % n (Jiwa) 0-14 21,2 1.587 25,81 1.942 23,51 3.529 15-54 73,11 5.472 68,28 5.139 70,69 10.611 >55 5,69 426 5,9 444 5,8 870 Jumlah 100 7.,485 99.99 7.525 100 15.010 Sumber : Kantor Desa Gunung Putri (2012).
Tabel 4 menunjukkan penduduk usia produktif di Desa Gunung Putri mencapai 70,69 % dari total penduduk yang ada. Hal ini akan mendukung pertumbuhan ekonomi di Desa Gunung Putri tersebut karena sebagian besar penduduknya merupakan usia produktif.
Sebagian besar matapencaharian penduduk Desa Gunung Putri adalah karyawan pabrik yang berada disekitar Kecamatan Gunung Putri (Kantor Desa Gunung Putri 2012). Hal ini disebabkan oleh lahan pertanian di desa ini sudah sempit. Berdasarakan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Bogor menunjukkan penduduk Desa Gunung Putri Bekerja pada sektor karyawan. Tingkat pendidikan penduduk Desa Gunung Putri sebagian besar menamatkan pendidikan formal
pada tingkat SMA. Jumlah Kepala Keluarga (KK) di wilayah RW 03 adalah 235 KK dan RW 06 mencapai 466 KK. Jumlah penduduk dapat dihitung dengan menggunakan rata-rata kepemilikan anggota rumah tangga berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2010) Jawa Barat yaitu sebesar 4,3 orang per KK. Berdasarkan perhitungan ini diperoleh 1011 jiwa untuk RW 03 dan 2004 jiwa untuk RW 06.
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Pencemaran Udara yang Terjadi di Lokasi Penelitian 5.1.1 Potensi pencemaran yang terjadi di lokasi penelitian
Kualitas udara dapat diketahui dengan membandingkan hasil pengukuran dengan kualitas udara baku yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang. Pencemaran udara yang terjadi di lokasi penelitian dapat dilihat dari hasil pemantauan dan pengujian kualitas udara yang dilakukan oleh Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kabupaten Bogor. Lokasi penelitian terletak di antara dua lokasi pemantaun yang dilakukan oleh BLHD yaitu di depan pintu Tol Gunung Putri serta kawasan CCIE Citeureup. Potensi pencemaran yang terbesar adalah pencemaran udara karena partikel debu atau total suspended particle (TSP) yang melebihi batas baku mutu udara yaitu sebesar 158,10 µg/Nm2 hingga 879.10
µg/Nm2. Hasil pemantauan udara oleh BLHD Kabupaten Bogor dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5 Hasil pemantauan udara BLHD Kabupaten Bogor semester 1 tahun 2012
Parameter Unit Baku mutu Pengukuran PPRI No. 41/1999 KEP. MENLH No.48/1988 Pertigaan Depan Pintu Tol Gunung Putri CCIE Citereup TSP g/Nm2 230 260 879.10 158,10 SO2 g/Nm2 900 260 10,00 5,96 CO2 Ppm - - 778,50 749,00 NO2 µg/Nm2 400 92,5 <10 <10 H2S µg/Nm2 - 42 21,0 22,6 NH3 µg/Nm2 - 360 790,4 <20,00 O3 µg/Nm2 235 - <19,60 <19,60
Sumber : BLHD Kabupaten Bogor (2012)
Potensi pencemaran yang terjadi pada RW 03 dan RW 06 tidak jauh berbeda karena kedua lokasi penelitian ini hanya berjarak 1 km dan berjarak 1 km dari sumber pencemar. Partikel debu merupakan parameter pencemar yang melebihi baku mutu udara di lokasi penelitian karena lokasi penelitian ini berdekatan dengan pabrik semen dengan kapasitas produksi 3,1 juta ton per tahun (PT. Indocement 2010) dan pada akhir tahun 2012 akan dinaikkan menjadi 4,4 juta ton per tahun (Syafputri 2012). Pabrik semen ini akan mengeluarkan polutan ke udara berupa partikel halus karena aktivitas produksi.
Berdasarkan penelitian yang sudah dilaksanakan oleh Septiyani pada tahun 2010 sebelumnya potensi pencemaran yang terjadi di Desa Gunung Putri pada jarak 1000 meter dengan pengujian di beberapa titik vegetasi dapat dilihat pada Tabel 6. Jarak ini sesuai dengan kondisi RW 03 dan RW 06 yang berjarak 1000 m dari sumber pencemar yang dijadikan sebagai titik acuan. Pengukuran pada titik yang tidak ada vegetasi dan tidak rindang menggambarkan kondisi RW 03 dengan kondisi vegetasi yang mempunyai kerapatan pohon 9 pohon per hektar. Pengukuran pada titik rindang dan sangat rindang menggambarkan kondisi RW 06 yang mempunyai kerapatan vegetasi 88 pohon per hektar.
Tabel 6 Konsentrasi partikel debu Desa Gunung Putri tahun 2009 pada jarak 1000 m dari pabrik semen.
Titik pengukuran Baku mutu (TSP) (g/Nm2)* Konsentrasi debu di bawah tegakan (g/Nm2) 24 jam 1 jam
Tidak ada vegetasi
230,00 3194,74 Tidak rindang 337,57 Rindang 230,24 Sangan rindang 124,93 Sumber : Septiyani (2010).
Keterangan : *) Peraturan Pemerintah No. 41 tahun 1999.
Besarnya konsentrasi debu di Desa Gunung Putri disebabkan oleh beberapa faktor. Aktivitas produksi pabrik semen merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya pencemaran udara. Selain itu aktivitas distribusi hasil produksi mengakibatkan arus lalu lintas transportasi cukup padat menyebabkan konsentrasi zat pencemar terutama debu akan semakin meningkat (Yusad 2003).
5.1.2 Potensi kemampuan pekarangan dalam mereduksi zat pencemar 5.1.2.1 Pengaruh parameter vegetasi dalam mereduksi zat pencemar
Keberadaan pohon di pekarangan rumah akan menjadi filter udara bebas. Berdasarkan analisis vegetasi yang dilakukan di lokasi penelitian dengan mengambil beberapa contoh pekarangan berdasarkan SPPT Desa Gunung Putri 2012 jenis yang banyak ditanam di pekarangan warga RW 03 dan RW 06 merupakan jenis tanaman buah. Jenis yang ditemukan di RW 03 terdapat 5 jenis spesies pohon dari 5 famili. Pohon yang ditemukan di RW 06 terdapat 27 jenis dari 17 famili. Berdasarkan pengukuran yang dilakukan kerapatan vegetasi di
RW 03 dapat dikatakan rendah karena hanya berkisar 9 pohon per ha. RW 06 mempunyai kerapatan vegetasi yang lebih tinggi yaitu 88 pohon per ha.
Jenis pohon mempunyai kemampuan yang berbeda dalam menjerap dan menyerap zat pencemar. Berdasarkan Iwan (2011) diacu dalam Santoso (in press) tanaman yang mempunyai kemampuan tinggi dalam menyerap polutan secara umum mempunyai ciri yang serupa. Ciri tersebut antara lain tanaman memiliki tajuk yang rimbun, tidak gugur daun, tanaman tinggi. Pohon yang terdapat di pekarangan mempunyai kemampuan dalam mereduksi zat pencemar.
Parameter vegetasi seperti luas proyeksi tsajuk, leaf area index dan tinggi pohon yang terdapat di pekarangan diduga dapat mempengaruhi kemampuan vegetasi dalam mereduksi zat pencemar (Septiyani 2010). Hasil pengukuran parameter vegetasi dikedua lokasi penelitian ditunjukkan dengan Tabel 7.
Tabel 7 Hasil pengukuran parameter vegetasi di kedua lokasi penelitian
Lokasi penelitian Luas Proyeksi tajuk (m2) Rata-rata Leaf Area Index (LAI) Luas tajuk (m2) Rata-rata tinggi pohon (m) RW 03 387,05 0,82 318,54 5,40 RW 06 3.731,12 1,12 4.171,39 6,09
Vegetasi dapat mereduksi dengan baik zat pencemar apabila terdapat pohon dengan tajuk yang rindang hal ini sesuai dengan pernyataan Irwan (1994) fungsi hutan kota akan lebih efektif apabila banyak vegetasi yang membangun hutan kota. Hal ini dapat diterjemahkan ketika banyak pohon di pekarangan maka fungsi pekarangan akan lebih efektif dalam menyerap dan menjerap zat pencemar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan LAI yang ditunjukkan oleh pohon di RW 03 dengan LAI 0,82 dan RW 06 1,12 cukup kecil hal ini disebabkan karena perhitungan jenis pohon yang berada di kedua lokasi hampir sama yaitu jambu air, mangga dan rambutan. Pengambilan data LAI di kedua lokasi penelitian dilakukan per pohon sehingga memperlihatkan rata-rata LAI masing-masing pohon. Luas tajuk mempunyai hubungan yang erat dengan LAI dimana LAI merupakan perbandingan antara luas proyeksi tajuk dan LAI.
Berdasarkan penelitian Septiyani (2010) luas proyeksi tajuk tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap konsentrasi debu. Hal ini disebabkan oleh parameter yang digunakan hanya strata bawah sehingga memerlukan parameter lain yaitu luas tajuk. Perhitungan luas tajuk diperoleh
dengan mengalikan LAI dengan luas proyeksi tajuk, sehingga diperoleh luas tajuk untuk masing-masing lokasi penelitian. Berdasarkan Wood (2001) diacu dalam Wawo (2010) menyebutkan LAI merupakan perbandingan luas daun total dengan luas tanah yang ditutupi. Penelitian Wawo (2010) menunjukkan bahwa pohon dengan LAI yang lebih besar akan mampu menurunkan konsentrasi zat pencemar yang lebih besar sehingga dapat dijelaskan bahwa dengan semakin besar luas tajuk maka kemampuan pohon dalam mereduksi zat pencemar juga akan semakin tinggi.
Berdasarkan Septiyani (2010) menjelaskan bahwa korelasi antara parameter vegetasi dengan partikel di udara mempunyai korelasi yang negatif. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai dari parameter vegetasi maka konsentrasi zat pencemar terutama partikel debu akan semakin rendah. Penelitian Septiyani menunjukkan bahwa parameter vegetasi berupa LAI dan tinggi pohon sangat mempengaruhi penurunan konsentrasi zat pencemar di udara. Hal ini menunjukkan bahwa dengan luas tajuk yang luas maka konsentrasi zat pencemar juga akan semakin berkurang.
5.1.2.2 Kemampuan pekarangan dalam mereduksi zat pencemar
Kemampuan daun pohon dalam mereduksi zat pencemar bervariasi hal ini dipengaruhi oleh beberapa hal. Menurut Smith (1981) diacu dalam Dahlan (2004) faktor tersebut antara lain daya kelarutan polutan di dalam air atau cairan sel, kelembaban lingkungan di sekitar daun, intensitas cahaya matahari, kedudukan daun, SO2 dan NO2 mampu diserap dalam keadaan gelap sedangkan laju
penyerapan akan berkurang jika dalam keadaan terang. Kemampuan vegetasi di lokasi penelitian dalam mereduksi zat pencemar dapat dilihat dalam Tabel 8. Tabel 8 Kemampuan serapan zat pencemar oleh pekarangan
No. Jenis Polutan
Luas Tajuk (m2) Serapan Oleh Tajuk Pohon (g/m2/jam)*
Kemampuan Serapan Oleh Tajuk (g/jam) RW 03 RW 06 RW 03 RW 06 1 CO2 318,54 4171,39 2.600 828.209,59 10.845.619,62 2 NO 2.300 732.646,95 9.594.201,97 3 SO2 4.100 1.306.022,82 17.102.707,86 Total serapan 2.866.879,35 37.542.529,44