• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. OBLIGASI SYARIAH ( SUKUK )

4. Metode Pengeluaran Sukuk

Wahid dan Solihin pada Afif (2014) mengatakan bahwa metode pengeluaran sukuk di Indonesia adalah sebagai berikut:

a. Dalam pembentukan sukuk diharuskan ada beberapa pihak yang terlibat yaitu originator atau ahli waris pemilik sah aset, Special Purpose Vehicle (SPV) yaitu lembaga yang dipercaya untuk mengeluarkan sukuk, sukuk holder atau investor.

b. Dalam tahap selanjutnya, originator memilih aset untuk dijual kepada SPV dengan nilai yang sudah disepakati dan dalam jangka waktu yang sudah di tentukan.

c. Selanjutnya SPV mengamankan aset dengan cara menggunakan akad sukuk ijarah kepada investor. Sehingga aset menjadi milik bersama bagi para investor dan para investor sepakat untuk tidak membagikan aset tetapi dipercayakan kepada SPV untuk disewakan.

d. Hasil dari penyewaan tersebut akan dibagikan kepada investor. Jumlah pembagiannnya yaitu sesuai dengan jumlah modal yang ditanam investor di awal investasi.

e. Pada masa ketika sukuk telah matang, flow of rents dihentikan. Setelah itu aset bersama yang dimilik investor dijual kembali oleh SPV kepada originator.

Sedangkan menurut Anggadini (2016) tidak semua emiten dapat menerbitkan sukuk. Diperlukan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh emiten jika ingin menerbitkan sukuk yakni:

a. Aktivitas utama perusahaan yang halal. Fatwa No: 20/DSN- MUI/IV/2001 menjelaskan beberapa jenis usaha yang bertentangan dengan syariat islam diantaranya adalah usaha perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan barang dan jasa yang dilarang, usaha lembaga keuangan konvensional (mengandung unsur ribawi) termasuk perbankan konvensional dan asuransi konvensional, usaha yang dari awal produksi hingga penjualan memperdagangkan makanan dan minuman haram, usaha yang menyediakan barang atau jasa yang menimbulkan mudarat dan merusak moral.

b. Memiliki komponen peringkat investment grade yaitu perusahaan harus memiliki fundamental usaha yang kuat, perusahaan harus memiliki fundamental keuangan yang kuat, perusahaan memiliki citra yang baik bagi publik. Yang dimaksud dengan peringkat

investment gradeadalah sebuah peringkat yang menunjukkan bahwa suatu perusahaan atau pemerintah tersebut memiliki resiko yang relative rendah dari peluang gagal bayar. Sehingga perusahaan atau pemerintah tersebut memiliki tingkat kepercayaan yang dapat berkelanjutan dalam jangka waktu yang panjang.

c. Perusahaan memiliki keuntungan tambahan apabila perusahaan tersebut termasuk kedalam Jakarta Islamic Index (JII). Karena indeks tersebut menjadi tolak ukur saham-saham berbasis syariah.

B. PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD)

1. Pengertian Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Pengertian Pendapatan Asli Daerah (PAD) menurut UU Nomor 33 Tahun 2004 adalah pendapatan yang diperoleh suatu daerah yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Dan menurut Mardiasmo dalam Sularno (2013) mengatakan bahwa Pendapatan Asli Daerah adalah penerimaan daerah yang berasal dari sumber ekonomi daerah.Sumber tersebut dapat berasal dari pajak daerah, retribusi hasil perusahaan milik daerah, hasil pengelolan kekayaan daerah, dan pendapatan asli daerah yang sah lainnya.

Sehingga menurut kesimpulan diatas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa pengertian pendapatan asli daerah (PAD) adalah sumber pendapatan asli daerah yang digali atau didapatkan dari daerah tersebut dan dapat digunakan oleh pemerintah untuk modal dasar dalam

membiayai pembangunan sarana publik dan usaha-usaha di daerah tersebut. Hal itu dilakukan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap dana dari pemerintah pusat. Rumus Pendapatan Asli Daerah adalah:

PAD = Pajak daerah+Retribusi daerah+Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan+Lain-lain PAD yang sah

2. Jenis-Jenis Kelompok Pendapatan Daerah a. Pajak Daerah.

Menurut UU 28 Tahun 2009 yang dinamakan pajak daerah adalah iuran yang dilakukan oleh perorangan atau badan kepala daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang dan iuran tersebut dapar dipaksakan berdasarkan dengan peraturan UU yang berlaku.

Jenis-jenis pajak daerah meliputi: 1. Pajak Hotel.

Pajak hotel merupakan pajak yang dikenakan atas pelayanan suatu hotel.

2. Pajak Restoran dan Rumah Makan.

Pajak restoran dan rumah makan adalah pajak yang dikenakan atas pelayanan restoran, tidak termasuk catering atau jasa boga. 3. Pajak Hiburan.

Pajak hiburan merupakan pajak atas setiap penyelenggaraan hiburan.Yang termasuk dalam pajak hiburan adalah

penyelenggaraan acara apapun baik jenis pertunjukan atau permainan yang dinikmati banyak orang dan dipungut biaya. 4. Pajak Reklame.

Pajak reklame adalah pajak atas penyelenggara reklame yaitu barang atau media yang memiliki tujuan komersil.

5. Pajak Penerangan Jalan.

Pajak penerangan jalan adalah pajak yang dikenakan atas listrik yang terdapat dijalanan disuatu daerah dan dibayarkan oleh pemerintah.

6. Pajak Bahan Galian Golongan C.

Pajak bahan galian golongan C adalah pajak atas pengambilan bahan galian golongan C. Yang termasuk bahan galian golongan C adalah asbes,batu tulis,batu kapur,batu setengah permata,gips dan lain-lain.

7. Pajak Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Pemukiman. Pajak pemanfaatan air bawah tanah dan air pemukiman merupakan pajak yang dikenakan atas pengambilan ari baik berasal dari bawah tanah maupun air permukaan untuk digunakan pribadi atau suatu badan kecuali untuk keperluan rumah tangga dan pertanian rakyat.

Menurut UU No 28 Tahun2009, retribusi daerah merupakan pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau izin yang telah diberikan untuk kepentingann pribadi atau suatu badan tertentu. c. Pengelolaan Kekayaan Yang Dipisahkan

Salah satu alasan diberlakukan nya sistem otonomi daerah adalah tingginya campur tangan pemerintah pusat dalam mengelola kepemerintahan daerah, termasuk mengelola kekayaan daerah, mengelola segala sumber daya baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia, serta industri. Pemerintah pun mengizinkan adanya Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) agar setiap daerah dapat memanfaatkan potensi dan sumber daya yang dimiliki untuk meningkatkan pendapatan asli daerah.

d. Lain-Lain Pendapatan Yang Sah.

Menurut Sularno (2013) lain-lain pendapatan yang sah dapat diupayakan oleh setiap daerah dengan cara yang baik dan wajar. Alternatif memiliki pendapatan ini dapat melalui pinjaman bank atau non bank, melalui pinjaman ke daerah lain, dan melalui investasi masyarakat pada daerah tersebut.

C. PEMBIAYAAN DAERAH

1. Pengertian Pembiayaan Daerah

Menurut Faud (2017) pembiayaan daerah adalah setiap pengeluaran daerah yang akan diterima kembali oleh daerah tersebut dan setiap pendapatan atau penerimaan daerah yang harus dibayarkan

kembali yang memiliki tujuan untuk memanfaatkan surplus anggaran dan menutup defisit anggaran. Defisit dan surplus anggaran tersebut terjadi apabila terdapat selisih diantara belanja daerah dan anggaran pendapatan daerah.

Pengertian pembiayaan daerah menurut Malik (2016) adalah anggaran daerah meliputi semua pengeluaran dan penerimaan daerah yang akan keluar dan kembali lagi ke daerah tersebut atau sebaliknya pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun tahun anggaran berikutnya. Komponen dalam pembiayaan daerah tersebut terbagi menjadi dua bagian. Bagian tersebut adalah:

1. Penerimaan pembiayaan mencangkup:

a. Silpa tahun anggaran sebelumnya. Silpa merupakan penerimaan daerah yang berasal dari sisa kas daerah pada penerimaan tahun lalu untuk menutupi defisit anggaran jika realisasi pendapatan daerah lebih kecil daripada realisasi belanja daerah.

b. Pencairan dana cadangan.

c. Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan. d. Penerimaan pinjaman.

e. Penerimaan kembali pemberian pinjaman. 2. Pengeluaran pembiayaan mencangkup:

a. Pembentukan dana cadangan.

b. Penyertaan modal dari pemerintah daerah. c. Pemberian pinjaman.

d. Pembayaran pokok utang daerah.

Anggaran pembiayaan daerah yang tercantum dalam APBD harus sesuai dengan ketentuan Undang-Undang yang telah ditetapkan dan dianggarkan secara bruto dalam APBD.

21

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Objek dan Subjek Penelitian

Objek penelitian adalah hal yang menjadi titik perhatian suatu penelitian sedangkan subjek penelitian adalah tempat dimana variabel penelitian berada.

Sehingga objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah peluang penerapan jenis sukuk ijarah sebagai sumber pembiayaan. Kemudian subjek dalam penelitian ini adalah kabupaten/kota di wilayah Jawa Barat.

B. Jenis Data

Jenis data dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik dan Bank Indonesia yang kemudian diolah menggunakan rumus yang tercantum.

C. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan suatu cara untuk mendapatkan suatu keterangan yang digunakan dalam penelitian baik secara lisan maupun tulisan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik dokumentasi, dimana pengumpulan data dilakukan secara tidak langsung yaitu melalui perantara dan diambil melalui Badan Pusat Statistik Jawa Barat (BPS JABAR), Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Jawa Barat (BAPPEDA JABAR), Bank Indonesia (BI) serta surat kabar.

D. Definisi Operasional Variabel Penelitian

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah: a. Obligasi Syariah atau Sukuk

Sukuk adalah obligasi berbasis sistem syariat islam yang berupa surat berharga jangka panjang yang dikeluarkan emiten kepada investor pemegang obligasi syariah yang mewajibkan emiten untuk membayar pendapatan kepada investor berupa bagi hasil, margin/fee, dan membayar kembali dana obligasi saat jatuh tempo.

b. Pendapatan Asli Daerah (PAD)

PAD merupakan pendapatan yang diperoleh suatu daerah yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

c. Pembiayaan Daerah

Pembiayaan daerah adalah setiap pengeluaran daerah yang akan diterima kembali oleh daerah tersebut dan setiap pendapatan atau penerimaan daerah yang harus dibayarkan kembali yang memiliki tujuan untuk memanfaatkan surplus anggaran dan menutup defisit anggaran. E. Metode Analisis Data

Dalam analisis ini digunakan parameter Perhitungan dan Analisis Statistik Deskriptif untuk mengetahui jumlah permintaan dan penawaran akan investasi sukuk daerah tersebut.

Menurut Walidi (2009) cara untuk mengetahui seberapa besar penawaran sukuk di daerah tersebut adalah mengetahui angka Indeks Pinjaman Daerah dan mengetahui Indeks Kemampuan Keuangan pada tahun terkait.

Selanjutnya Indeks Kemampuan Keuangan (IKK) adalah hasil dari hitungan rata-rata indeks growth, indeks elastisity dan indeks share. Nilai maksimum dan minimun dalam indeks ini ditetapkan sesuai dengan hasil perhitungan yang digunakan. Dan untuk menyusun ketiga komponen indeks tersebut digunakan persamaan umum seperti berikut:

Sehingga Indeks Kemampuan Keuangan (IKK) dapat dirumuskan sebagai berikut:

Dimana XG merupakan indeks pertumbuhan (PAD), XE merupakan indeks elastistas(PAD terhadap belanja pembangunan daerah), dan XS merupakan indeks share( PAD terhadap APBD)

Selanjutnya setelah menghitung IKK maka kita dapat menggolongkan kabupaten/kota dengan ukuran skala interval kemampuan keuangan daerah yang dapat dilihat seperti berikut:

TABEL 3.1

SKALA INTERVAL KEMAMPUAN KEUANGAN DAERAH Presentase PAD Kemampuan Keuangan Daerah

0,00 – 10,00 Sangat Kurang 10,01 – 20,00 Kurang 20,01 – 30,00 Sedang 30,01 – 40,00 Cukup 40,01 – 50,00 Baik >50,00 Sangat Baik

Sumber: Zakik dan Kurniasari (2016)

Setelah itu dilakukan perhitungan permintaan sukuk daerah dengan menggunakan metode indeks yang didalamnya memperhitungkan tiga

parameter yakni Jumlah Dana Likuid, Jumlah Komposisi Keluarga Sejahtera, dan Jumlah Penduduk Muslim. Kemudian hasil dari kedua metode tersebut dijumlahkan agar dapat mengetahui Indeks Kemampuan dan Potensi Penerbitan Sukuk Daerah (Walidi, 2009).

25

BAB IV

GAMBARAN UMUM

A. Deskripsi Ekonomi Kabupaten/Kota wilayah Jawa Barat 1. Deskripsi Ekonomi Kabupaten Bogor

Kabupaten Bogor merupakan daerah yang memiliki jumlah kecamatan yang cukup banyak yakni berjumlah 40 kecamatan. Menurut Badan Perencanaan Pembangunan Daerah kabupaten Bogor (BAPPEDA BOGORKAB), semenjak tahun 2015 kabupaten Bogor mulai melakukan penguatan aspek mencangkup infrastruktur, pelayanan publik, dan penguatan infastruktur Situ front city.

Menurut Mujani (2015) yang dimaksud dengan situ front city

adalah sistem membangun sebuah kota modern yang sekelilingnya adalah danau. Kabupaten Bogor sendiri memiliki situ sebanyak 95 situ dan 17 diantaranya berada di kawasan Cibinong Raya. Melihat fenomena tersebut, pemerintah kabupaten Bogor memiliki sebuah gagasan konsep pembangunan dengan memadukan antara potensi alam dengan semangat modernisasi. Hal ini tentu saja menjadi potensi tumbuhnya sumber ekonomi yang baru dikarenakan disekitar situ tersebut akan tumbuh kawasan pemukiman terintegrasi dengan pusat bermacam-macam bisnis baru dan akan memunculkan banyak objek wisata yang indah dan menyatu dengan alam. Namun tentu saja persiapan ini membutuhkan waktu yang panjang agar Situ front city tersebut dapat terlaksana dengan baik.

Kemudian menurut Sofiah (2015) semenjak tahun 2015 pula, kabupaten Bogor baru mulai menerapkan sistem Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) secara online dengan tujuan untuk membantu kelancaran proses dan penyusunan RKPD untuk tahun 2017 dikarenakan sistem tersebut membuat seluruh usulan tentang program dan kegiatan terangkum dalam sistem yang dikelompokkan sesuai prioritas dan fokus pembangunannya. Fokus pembangunan tersebut meliputi peningkatan aksebilitas sarana dan prasarana wilayah, peningkatan daya saing perekonomian, serta peningkatan terhadap kualitas dan kuantitas aspek pelayanan pendidikan dan kesehatan.

Menurut laporan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Bogor (BAPPEDA BOGORKAB), untuk meningkatkan perekonomian daerah, pemerintah pun sudah mulai menggali potensi daerah tersebut melalui sektor pariwisata. Sektor pariwisata tersebut dibuat dengan lima destinasi yakni wisata perkotaan, wisata ekowisata, wisata warisan budaya dan pendidikan, destinasi wisata kreatif, dan destinasi MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) dan rekreasi.

2. Deskripsi Ekonomi Kota Bogor

Kota Bogor merupakan kota yang memiliki 6 kecamatan dan 68 kelurahan dengan jarak dari Ibu Kota kurang lebih 60 Km dan dikelilingi oleh gunung Salak, gunung Pangrango, dan gunung Gede. Kemudian menurut laporan pemerintahan kota Bogor, kota tersebut dinyatakan

sebagai penyangga Ibu Kota karena memiliki wisata ilmiah yang bersifat internasional yakni Kebun Raya Bogor. Letak topografis kota Bogor yang berada di tengah-tengah kabupaten Bogor dan dekat dengan Ibu Kota Negara merupakan letak yang sangat strategis untuk perkembangan dan pertumbuhan ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi yang sedang digali oleh pemerintah kota Bogor berasal dari bisnis perhotelan dan sejenisnya yang hingga saat ini terus berkembang sehingga banyak mengundang perhatian para investor untuk menanamkan investasi dengan jumlah resapan tenaga kerja yang tidak sedikit (jabarprov.go.id).

Kemudian menurut pemerintah kota Bogor pada tahun sebelumnya, sektor lapangan usaha yang memberikan kontribusi terhadap Pertumbuhan Domestik Regional Bruto kota Bogor yang dijelaskan dalam bentuk persen adalah sektor keuangan,persewaan dan jasa perusahaan sebesar 12.35 persen, sektor pertanian menyumbang sebesar 0.40 persen, sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 10.62 persen, sektor industri pengolahan sebesar 26.44 persen, sektor listrik, gas, dan air bersih menyumbang sebesar 3.06 persen, sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 31.27 persen, sektor jasa-jasa sebesar 7.37 persen, dan terakhir sektor bangunan sebesar 8.5 persen.

Selain itu laporan Pendapatan Asli Daerah kota Bogor menurut redaksi metropolitan.id (2016) menyatakan bahwa kota Bogor mengalami share PAD yang tinggi dikarenakan terdapat banyak

kebutuhan daerah yang dibiayai oleh PAD, sedangkan pertumbuhan PAD di tahun 2015 dinyatakan kurang maksimal karena pemerintah kota kurang melakukan optimalisasi mengenai pajak dan retribusi daerah. Sehingga untuk menangani masalah tersebut kota Bogor akan melakukan beberapa langkah yakni:

a. Memperluas basis penerimaan. b. Memperluas proses pemungutan. c. Meningkatkan pengawasan.

d. Meningkatkan efisiensi administrasi. e. Menekankan biaya pemungutan.

f. Melakukan perencanaan yang lebih baik untuk meningkatkan kapasistas penerimaan.

g. Menggali pajak hotel dan restoran. 3. Deskripsi Ekonomi Kabupaten Bekasi

Menurut Badan Pusat Statistik kabupaten Bekasi, letak wilayah kabupaten bekasi berada di sebelah timur Ibu Kota dan berbatasan dengan kota bekasi yang memiliki 23 kecamatan didalamnya.

Menurut Aji (2015) kabupaten Bekasi telah menerapkan sistem Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) secara online sejak tahun 2013 dan telah dijadikan percontohan oleh Badan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) kepada seluruh kabupaten/kota di Indonesia pada tahun tersebut.

Menurut Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah kabupaten Bekasi (BAPPEDA BekasiKab), kabupaten Bekasi pun adalah salah satu kabupaten di Jawa Barat yang memiliki banyak sektor industri di dalam wilayah tersebut.Luas industri yang terdapat di kabupaten Bekasi adalah 23,000 ha. Sedangkan potensi perekonomian yang masih bisa digali lebih jauh oleh pemerintah yang terdapat di kabupaten Bekasi adalah sebagai berikut:

a. Potensi perekonomian bekasi yang pertama yakni terdapat pada sektor Sumber Daya Alam. Wilayah bekasi yang sebagian besar adalah dataran rendah dengan bagian selatan berbukit telah beruntung karena memiliki salah satu potensi daerah terbesar berupa Sumber Daya Alam untuk pertambangan, dua diantaranya adalah minyak dan gas bumi.

b. Potensi yang kedua adalah potensi menyangkut ketenagakerjaan. Menurut sensus penduduk di kabupaten Bekasi terdapat sekitar tujuh puluh dua persen penduduk dengan usia produktif. Hal tersebut tentu saja menjadi peluang bagi para pengusaha untuk membuka usahanya di kabupaten Bekasi melihat begitu banyak tenaga kerja di wilayah tersebut dengan tingkat pendidikan terbesar adalah lulusan SMU. Dan berdasarkan hasil survey sementara, penyerapan tenaga kerja tertinggi berada pada industri pengolahan dan industri pertanian. c. Potensi yang ketiga yaitu mengenai sektor pengolahan. Potensi ini

diatas. Hal tersebut dikarenakan kemajuan sektor pengolahan yang begitu pesat sehingga menempatkan nya sebagai salah satu wilayah industri terbesar di Indonesia.

d. Potensi lain yang tengah dikembangkan oleh pemerintah kabupaten Bekasi adalah sektor pertanian, industri pemukiman/properti, dan sektor perdagangan barang dan jasa.

4. Deskripsi Ekonomi Kota Bekasi

Berdasarkan laporan pemerintah kota Bekasi, kota tersebut berada di sebelah barat Ibu Kota Jakarta dan sebelah utara dan timur adalah kabupaten Bekasi dengan 12 keluarahan dan 26 desa.

Menurut redaksi marketing.co.id kota bekasi merupakan kota yang banyak diminati oleh para investor karena kota Bekasi telah menjadi basis dari industri nasional dan telah berkontribusi untuk perekonomian di level nasional. Dalam lingkup dunia bisnis, kota Bekasi memiliki potensi yang baik dengan contoh tingkat penjualan residensial tinggi yakni sebesar 93.2 persen. Hal tersebut membuat permintaan properti residensial di kota Bekasi semakin banyak. Kemudian harga tanah di kota Bekasi diprediksi akan selalu naik setiap tahun nya sehingga cocok untuk investasi masa depan dan kota Bekasi mempunyai tingkat hunian terbesar yakni 85.8 persen di Jabodetabek. Namun di kota Bekasi, nilai pajak bumi dan bangunan nya tinggi sehingga pajak menjadi faktor utama dalam meningkatkan pendapatan daerah kota tersebut.

Selain itu, potensi kota Bekasi terdapat juga pada sektor hiburan. Di kota Bekasi tersebut terdapat banyak hiburan yang tersedia yang terbesar diantaranya adalah Taman Budaya Indonesia Jaya dan Lippo Waterboom yang dibangun oleh Lippo Group. Kemudian Transcorp pun akan berinvestasi di sektor hiburan tersebut dengan membangun Trans Studio terbesar (bekasikota.go.id).

5. Deskripsi Ekonomi Kabupaten Cianjur

Menurut Badan Pusat Statistik Jawa Barat, kabupaten Cianjur terdapat di tengah provinsi Jawa Barat dengan batas sebelah barat adalah kabupaten Sukabumi. Terdapat 32 kecamatan dan 348 desa/keluarahan di kabupaten Cianjur tersebut. Secara geografis, wilayah kabupaten Cianjur dibagi menjadi tiga bagian yakni wilayah Cianjur utara, wilayah Cianjur tengah, dan wilayah Cianjur selatan.Cianjur utara terdapat di dataran tinggi dan meliputi kawasan puncak.Wilayah Ciajur tengah merupakan wilayah perbukitan namun terdapat juga beberapa wilayah dataran rendah persawahan, perkebunan, dll. Wilayah Cianjur selatan berada di dataran rendah dengan dikelilingi bukit-bukit kecil dan juga pesawahan.

Menurut Badan Perencanaan Pembangunan Daerah kabupaten Cianjur (BAPPEDA Cianjurkab), wilayah Cianjur memiliki potensi Sumber Daya Alam yang melimpah namun kondisi tersebut mengalami permasalahan yang dibatasi oleh kerentanan dan kelabilan tanah sehingga untuk pengelolaan dibutuhkan strategi yang tepat. Diantara ketiga

wilayah yang terdapat di kabupaten Cianjur, wilayah utara berkembang dengan cepat dan letaknya sangat strategis karena berada di jalur wisata puncak dan dilewati oleh jalur regional antara Bandung dan Jakarta. Hal tersebut telah menciptakan efek perekonomian yang baik bagi masyarakat kabupaten Cianjur yang ditunjukkan dengan munculnya mata pencaharian bagi masyarakat sekitar. Keadaan tersebut membuat perekonomian Cianjur menjadi tumbuh dengan baik. Kemudian di jalur regional terdapat sektor perdagangan, perhotelan dan jasa yang membantu meningkatkan struktur perekonomian secara keseluruhan. 6. Deksripsi Ekonomi Kota Bandung

Menurut Badan Pusat Statistik, kota Bandung merupakan ibukota Jawa Barat yang memiliki 31 kecamatan dan 151 kelurahan dan secara administratif berbatasan dengan:

a. Sebelah utara, timur, dan selatan berbatasan dengan kabupaten Bandung .

b. Sebelah barat berbatasan dengan kota Cimahi dan kabupaten Bandung Barat.

c. Sebelah timur pula berbatasan dengan kabupaten Bandung Barat. Berdasarkan batasan tersebut maka kota Bandung berada di pertemuan poros jalur utama pulau Jawa sehingga kota Bandung menjadi kota yang strategis apabila dilihat dari segi komunikasi dan potensi perekonomiannya. Kota Bandung pun memiliki Pendapatan Asli Daerah

tertinggi ke dua di Jawa Barat di tahun 2015. Hal tersebut paling banyak didapatkan melalui pajak daerah kota tersebut.

Ibukota Jawa Barat tersebut tidak memiliki Sumber Daya Alam dan Energi melainkan hanya memiliki Sumber Daya Manusia sehingga potensi perekonomian pada kota tersebut bersifat ekonomi kreatif seperti fashion, kuliner, dan desain dengan skala menengah (redaksi swa.co.id). 7. Deskripsi ekonomi Kabupaten Bandung

Kabupaten Bandung terletak di antara kota Bandung, kabupaten Bandung Barat, kabupaten Cianjur, kabupaten Sumedang, dan kabupaten Garut yang memiliki 31 kecamatan, 270 desa, dan 10 kelurahan (BPS, 2016).

Menurut pemerintah kabupaten Bandung, wilayah kabupaten tersebut memiliki Sumber Daya Alam yang variatif sehingga dapat menunjang pertumbuhan perekonomian daerah. Selain itu, letak kabupaten bandung pun strategis karena dekat dengan ibukota Jawa Barat. Sedangkan potensi daerah tersebut terletak pada sektor budi daya pertanian karena kawasan kabupaten tersebut digunakan lebih dari 50 persen untuk sektor pertanian. Tidak hanya itu, peluang menanam investasi di kabupaten tersebut terlihat menjanjikan dan terbuka lebar untuk investasi pada pembangunan sarana olah raga, pengembangan

Dokumen terkait