BAB 4 METODE PENELITIAN
4.5 Metode Pengolahan dan Analisa Data
Pengolahan data penelitian menggunakan IBM SPSS, yaitu melakukan pemeriksaan seluruh data yang terkumpul (editing), memberi angka-angka atau kode-kode tertentu terhadap data yang terkumpul (coding), memasukkan data yang terkumpul untuk masing-masing variabel sehingga menjadi suatu dasar (entry). Data digolongkan, diurutkan, serta disederhanakan sehingga mudah dibaca dan diinterpretasi (cleaning) (Dahlan, 2009)
Populasi
Sampel
Pasien Diabetes Melitus Tipe 2
Yang menggunakan insulin
Yang menggunakan obat hipoglikemik oral
Kualitas Hidup Kualitas Hidup
SF-36 SF-36
Analisis data dengan :
Uji t tidak berpasangan (jika data berdistribusi normal) Uji Mann Whitney (jika data tidak berdistribusi normal)
Consecutive Sampling
Dengan memperhatikan kriteria inklusi
dan eksklusi Anamnesis
56
4.5.2 Analisa Data
Penelitian ini menggunakan teknik analisis data univariat dan analisa data bivariat. Analisis data univariat meliputi distribusi proporsi umur, pendidikan, status pekerjaan, pendapatan, kadar HbA1c, lama menderita DMT2, dan komplikasi DM. Analisa data bivariat dengan menggunakan uji t tidak berpasangan untuk menganalisis perbandingan kualitas hidup pasien DM tipe 2 yang menggunakan terapi insulin dengan yang menggunakan obat hipoglikemik oral serta untuk menganalisis perbandingan kualitas hidup pasien DM tipe 2 berdasarkan faktor karakteristik pasien (umur, pendidikan, status pekerjaan, pendapatan), kadar HbA1c, lama menderita DM, dan komplikasi DM.
Syarat penggunaan uji t jika sebaran data berdistribusi normal. Oleh karena itu sebelum dilakukan uji hipotesis dilakukan uji normalitas data dengan uji Kolmogorov-Smirnov. Jika sebaran data tidak berdistribusi normal, maka akan digunakan uji alternatifnya (non parametrik) yaitu uji Mann Whitney (Dahlan, 2008).
57
BAB 5
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian
5.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di RSUP Haji Adam Malik Medan yang berlokasi di Jalan Bunga Lau No. 17, Kelurahan Kemenangan Tani, Kecamatan Medan Tuntungan. Rumah Sakit ini merupakan rumah sakit tipe A sesuai dengan SK Menkes No. 335/Menkes/SK/VIII/1990. Disamping itu, rumah sakit ini adalah rumah sakit rujukan untuk wilayah pembangunan A yang meliputi Provinsi Sumatera Utara, Aceh, Sumatera Barat, dan Riau. Rumah sakit ini telah ditetapkan sebagai rumah sakit pendidikan berdasarkan keputusan menteri kesehatan RI No. 502/Menkes/IX/1991 pada tanggal 6 September 1991 dan secara resmi pusat pendidikan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dipindahkan ke RSUP H.Adam Malik pada tanggal 11 Januari 1993. Dengan ditetapkannya RSUP H.Adam Malik sebagai rumah sakit pendidikan, maka Fakultas Kedokteran USU dapat menggunakannya sebagai pusat pendidikan klinik calon dokter dan pendidikan keahlian calon dokter spesialis.
RSUP H.Adam Malik Medan memiliki fasilitas pelayanan yang terdiri dari instalasi rawat jalan, rawat inap terpadu, rawat darurat, rawat intensif, bedah pusat, radiologi, rehabilitasi medis, farmasi,gizi, patologi klinik, patologi anatomi, dan instalasi lainnya. Adapun tempat peneliti mengambil sampel penelitian adalah di instalasi rawat jalan Poliklinik Endokrinologi Departemen Penyakit Dalam yang berlokasi di lantai 2 gedung B RSUP H.Adam Malik Medan. Berdasarkan estimasi besar sampel serta kriteria inklusi dan eksklusi maka sampel pada penelitian ini berjumlah 80 orang
58
5.1.2 Analisa Univariat
5.1.2.1Distribusi Proporsi Pasien DM Tipe 2 Berdasarkan Umur
Distribusi proporsi sampel pasien diabetes melitus tipe 2 berdasarkan umur di poliklinik endokrinologi RSUP H. Adam Malik Medan dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 5.1 Distribusi Proporsi Pasien DM Tipe 2 Berdasarkan Umur
Umur N Persentase (%)
≤40 2 2,5
>40 78 97,5
Berdasarkan tabel 5.1 diperoleh bahwa kelompok umur sampel pasien diabetes melitus tipe 2 pada penelitian ini lebih banyak pada kelompok umur diatas 40 tahun.
5.1.2.2Distribusi Proporsi Pasien DM Tipe 2 Berdasarkan Jenis Kelamin Distribusi proporsi sampel pasien diabetes melitus tipe 2 berdasarkan jenis kelamin di poliklinik endokrinologi RSUP H. Adam Malik Medan dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 5.2 Distribusi Proporsi Pasien DM Tipe 2 Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin N Persentase (%)
Laki-laki 42 52,5
Perempuan 38 47,5
Berdasarkan tabel 5.2 diperoleh bahwa sampel pasien diabetes melitus tipe 2 pada penelitian ini lebih banyak yang berjenis kelamin laki-laki daripada perempuan.
59
5.1.2.3Distribusi Proporsi Pasien DM Tipe 2 Berdasarkan Pendidikan Distribusi proporsi sampel pasien diabetes melitus tipe 2 berdasarkan pendidikan di poliklinik endokrinologi RSUP H. Adam Malik Medan dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 5.3 Distribusi Proporsi Pasien DM Tipe 2 Berdasarkan Pendidikan
Pendidikan N Persentase (%)
≤ SMA 43 53,8
> SMA 37 46,3
Berdasarkan tabel 5.3 diperoleh bahwa jenjang pendidikan sampel pasien diabetes melitus tipe 2 pada penelitian ini lebih banyak yang berpendidikan sampai dengan tingkat SMA.
5.1.2.4Distribusi Proporsi Pasien DM Tipe 2 Berdasarkan Status Pekerjaan Distribusi proporsi sampel pasien diabetes melitus tipe 2 berdasarkan status pekerjaan di poliklinik endokrinologi RSUP H. Adam Malik Medan dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 5.4 Distribusi Proporsi Pasien DM Tipe 2 Berdasarkan Status Pekerjaan
Status Pekerjaan N Persentase (%)
Bekerja 33 41,3
Tidak Bekerja 47 58,8
Berdasarkan tabel 5.4 diperoleh bahwa status pekerjaan sampel pasien diabetes melitus tipe 2 pada penelitian ini lebih banyak yang berstatus tidak bekerja.
60
5.1.2.5Distribusi Proporsi Pasien DM Tipe 2 Berdasarkan Pendapatan
Distribusi proporsi sampel pasien diabetes melitus tipe 2 berdasarkan pendapatan di poliklinik endokrinologi RSUP H. Adam Malik Medan dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 5.5 Distribusi Proporsi Pasien DM Tipe 2 Berdasarkan Pendapatan
Pendapatan N Persentase (%)
< Rp 1.625.000,00 32 40
≥ Rp 1.625.000,00 48 60
Berdasarkan tabel 5.5 diperoleh bahwa pendapatan sampel pasien diabetes melitus tipe 2 pada penelitian ini lebih banyak yang memiliki pendapatan diatas Rp 1.625.000,00.
5.1.2.6Distribusi Proporsi Pasien DM Tipe 2 Berdasarkan Lama Menderita Diabetes Melitus
Distribusi proporsi sampel pasien diabetes melitus tipe 2 berdasarkan lama menderita DM di poliklinik endokrinologi RSUP H. Adam Malik Medan dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 5.6 Distribusi Proporsi Pasien DM Tipe 2 Berdasarkan Lama Menderita DM
Lama Menderita DM N Persentase (%)
< 5 tahun 32 40
≥ 5 tahun 48 60
Berdasarkan tabel 5.6 diperoleh bahwa sampel pasien diabetes melitus tipe 2 pada penelitian ini lebih banyak yang telah menderita DM diatas 5 tahun.
61
5.1.2.7Distribusi Proporsi Pasien DM Tipe 2 Berdasarkan Kadar HbA1c Distribusi Proporsi Sampel Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Berdasarkan Kadar HbA1c Di Poliklinik Endokrinologi RSUP H. Adam Malik Medan dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 5.7 Distribusi Proporsi Pasien DM Tipe 2 Berdasarkan Kadar HbA1c
Kadar HbA1c N Persentase (%)
< 7 gr/dL 25 31,3
≥ 7 gr/dL 55 68,8
Berdasarkan tabel 5.7 diperoleh bahwa kadar HbA1c sampel pasien diabetes melitus tipe 2 pada penelitian ini lebih banyak yang memiliki kadar di atas 7 gr/dL.
5.1.2.8Distribusi Proporsi Pasien DM Tipe 2 Berdasarkan Komplikasi Distribusi proporsi sampel pasien diabetes melitus tipe 2 berdasarkan komplikasi di poliklinik endokrinologi RSUP H. Adam Malik Medan dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 5.8 Distribusi Proporsi Pasien DM Tipe 2 Berdasarkan Komplikasi
Komplikasi N Persentase (%)
Ada 65 81,3
Tidak ada 15 18,8
Berdasarkan tabel 5.8 diperoleh bahwa sampel pasien diabetes melitus tipe 2 pada penelitian ini lebih banyak yang telah memiliki komplikasi.
62
5.1.3 Analisa Bivariat
5.1.3.1Perbandingan Kualitas Hidup Pasien DM Tipe 2 Berdasarkan Umur Perbandingan kualitas hidup sampel pasien diabetes melitus tipe 2 berdasarkan umur di poliklinik endokrinologi RSUP H. Adam Malik Medan dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 5.9 Perbandingan Kualitas Hidup Pasien DM Tipe 2 Berdasarkan Umur
Umur Rata-Rata Total Skor Kualitas Hidup ± SD
Nilai p
≤40 63,8 ± 8,9
>40 70,2 ± 16,0
Hasil analisis data pada tabel 5.9 dengan uji t tidak berpasangan menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna antara kualitas hidup kelompok umur sampai dengan 40 tahun dan kualitas hidup kelompok umur di atas 40 tahun (p > 0,05).
5.1.3.2 Perbandingan Kualitas Hidup Pasien DM Tipe 2 Berdasarkan Jenis Kelamin
Perbandingan kualitas hidup sampel pasien diabetes melitus tipe 2 berdasarkan jenis kelamin di poliklinik endokrinologi RSUP H. Adam Malik Medan dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
63
Tabel 5.10 Perbandingan Kualitas Hidup Sampel Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Rata-Rata Total Skor Kualitas Hidup ± SD
Nilai p
Laki-laki 72,6 ± 16,2 Perempuan 67,2 ± 15,1
Hasil analisis data pada tabel 5.10 dengan uji t tidak berpasangan menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kualitas hidup kelompok pasien yang berjenis kelamin laki-laki dan kualitas hidup kelompok pasien yang berjenis kelamin perempuan (p > 0,05).
5.1.3.3 Perbandingan Kualitas Hidup Pasien DM Tipe 2 Berdasarkan Pendidikan
Perbandingan kualitas hidup sampel pasien diabetes melitus tipe 2 berdasarkan pendidikan di poliklinik endokrinologi RSUP H. Adam Malik Medan dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 5.11 Perbandingan Kualitas Hidup Sampel Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Berdasarkan Pendidikan
Pendidikan Rata-Rata Total Skor Kualitas Hidup ± SD
Nilai p ≤ SMA 65,5 ± 17,0
> SMA 75,3 ± 12,6
Hasil analisis data pada tabel 5.11 dengan uji t tidak berpasangan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara kualitas hidup kelompok pasien yang memiliki tingkat pendidikan sampai dengan
0,005* 0,127
64
SMA dan kualitas hidup kelompok pasien yang memiliki tingkat pendidikan di atas SMA (p < 0,05).
5.1.3.4 Perbandingan Kualitas Hidup Pasien DM Tipe 2 Berdasarkan Status Pekerjaan
Perbandingan kualitas hidup sampel pasien diabetes melitus tipe 2 berdasarkan status pekerjaan di poliklinik endokrinologi RSUP H. Adam Malik Medan dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 5.12 Perbandingan Kualitas Hidup Sampel Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Berdasarkan Status Pekerjaan
Status Pekerjaan Rata-Rata Total Skor Kualitas Hidup ± SD
Nilai p Bekerja 76,8 ± 12,1
Tidak Bekerja 65.3 ± 16,5
Hasil analisis data pada tabel 5.12 dengan uji t tidak berpasangan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat bermakna antara kualitas hidup kelompok pasien yang bekerja dan kualitas hidup kelompok pasien yang tidak bekerja (p < 0,05).
5.1.3.5 Perbandingan Kualitas Hidup Pasien DM Tipe 2 Berdasarkan Pendapatan
Perbandingan kualitas hidup sampel pasien diabetes melitus tipe 2 berdasarkan pendapatan di poliklinik endokrinologi RSUP H. Adam Malik Medan dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
65
Tabel 5.13 Perbandingan Kualitas Hidup Sampel Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Berdasarkan Pendapatan
Pendapatan Rata-Rata Total Skor Kualitas Hidup ± SD
Nilai p
< Rp 1.625.000,00 68,3 ± 15,8 ≥ Rp 1.625.000,00 71,2 ± 15,9
Hasil analisis data pada tabel 5.13 dengan uji t tidak berpasangan menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna antara kualitas hidup kelompok pasien yang memiliki pendapatan di bawah Rp 1.625.000,00 dan kualitas hidup kelompok pasien yang memiliki pendapatan di atas Rp 1.625.000,00 (p > 0,05).
5.1.3.6Perbandingan Kualitas Hidup Pasien DM Tipe 2 Berdasarkan Lama Menderita DM
Perbandingan kualitas hidup sampel pasien diabetes melitus tipe 2 berdasarkan lama menderita DM di poliklinik endokrinologi RSUP H. Adam Malik Medan dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 5.14 Perbandingan Kualitas Hidup Sampel Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Berdasarkan Lama Menderita DM
Lama Menderita DM Rata-Rata Total Skor Kualitas Hidup ± SD
Nilai p
< 5 tahun 69,8 ± 15,8
≥ 5 tahun 70,2 ± 15,9
Hasil analisis data pada tabel 5.14 dengan uji t tidak berpasangan menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna antara kualitas
0,430
66
hidup kelompok pasien yang menderita DM di bawah 5 tahun dan kualitas hidup kelompok pasien yang menderita DM di atas 5 tahun (p > 0,05).
5.1.3.7Perbandingan Kualitas Hidup Pasien DM Tipe 2 Berdasarkan Kadar HbA1c
Perbandingan kualitas hidup sampel pasien diabetes melitus tipe 2 berdasarkan kadar HbA1c di poliklinik endokrinologi RSUP H. Adam Malik Medan dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 5.15 Perbandingan Kualitas Hidup Sampel Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Berdasarkan Kadar Hb1Ac
Kadar HbA1c Rata-Rata Total Skor Kualitas Hidup ± SD
Nilai p
< 7 gr/dL 71,4 ± 19,0
≥ 7 gr/dL 61,4 ± 14,3
Hasil analisis data pada tabel 5.15 dengan uji t tidak berpasangan menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna antara kualitas hidup kelompok pasien yang memiliki kadar HbA1c di bawah 7 gr/dL dan kualitas hidup kelompok pasien yang memiliki kadar HbA1c di atas 7 gr/dL (p > 0,05).
5.1.3.8Perbandingan Kualitas Hidup Pasien DM Tipe 2 Berdasarkan Komplikasi
Perbandingan kualitas hidup sampel pasien diabetes melitus tipe 2 berdasarkan komplikasi di poliklinik endokrinologi RSUP H. Adam Malik Medan dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
67
Tabel 5.16 Perbandingan Kualitas Hidup Sampel Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Berdasarkan Komplikasi
Komplikasi Rata-Rata Total Skor Kualitas Hidup ± SD
Nilai p
Ada 69,7 ± 15,6
Tidak ada 71,5 ± 17,3
Hasil analisis data pada tabel 5.16 dengan uji t tidak berpasangan menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna kualitas hidup kelompok pasien yang memiliki komplikasi dan kualitas hidup kelompok pasien yang tidak memiliki komplikasi (p > 0,05).
5.1.3.9Perbandingan Kualitas Hidup Pasien DM Tipe 2 yang Menggunakan Terapi Insulin Dengan yang Menggunakan Obat Hipoglikemik Oral Perbandingan 8 domain kualitas hidup kuesioner SF-36 pada sampel pasien diabetes melitus tipe 2 berdasarkan terapi di poliklinik endokrinologi RSUP H. Adam Malik Medan dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 5.17 Perbandingan 8 Domain Kualitas Hidup Berdasarkan Terapi Domain Kualitas
Hidup
Terapi N Rata-Rata Skor ± SD
Nilai p
Fungsi Fisik OHO
Insulin 40 40 72,0 ± 30,9 79,0 ± 22,0 0,537 Keterbatasan akibat masalah fisik OHO Insulin 40 40 45,6 ± 41,2 72,2 ± 34,4 0,005* Rasa sakit / nyeri OHO
Insulin 40 40 66,1 ± 33,0 61,3 ± 34,1 0,538 0,698
68 Persepsi kesehatan umum OHO Insulin 40 40 62,5 ± 14,5 57,7 ± 19,5 0,221 Energi / vitalitas OHO
Insulin
40 40
58,1 ± 16,7
62,2 ± 18,3 0,219
Fungsi sosial OHO
Insulin 40 40 80,6 ± 27,3 80,9 ± 27,3 0,936 Keterbatasan akibat masalah emosional OHO Insulin 40 40 64,2 ± 41,6 82,5 ± 31,1 0,038* Kesehatan mental OHO
Insulin
40 40
82,8 ± 17,5
83,5 ± 20,0 0,394
Pada tabel 5.17 hasil analisis kualitas hidup pada domain fungsi fisik, rasa sakit / nyeri, energi / vitalitas, fungsi sosial, kesehatan mental dengan uji Mann-Whitney serta domain persepsi kesehatan umum dengan uji t tidak berpasangan menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna antara rata-rata skor kelompok pasien yang menggunakan insulin dan rata-rata skor kelompok pasien yang menggunakan OHO (p > 0,05).
Namun hasil analisis kualitas hidup pada domain keterbatasan akibat masalah fisik dan keterbatasan akibat masalah emosional dengan uji Mann-Whitney menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara rata skor kelompok pasien yang menggunakan insulin dan rata-rata skor kelompok pasien yang menggunakan OHO (p < 0,05).
Perbandingan dimensi kualitas hidup kuesioner SF-36 pada sampel pasien diabetes melitus tipe 2 berdasarkan terapi di poliklinik endokrinologi RSUP H. Adam Malik Medan dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
69
Tabel 5.18 Perbandingan Dimensi Kesehatan Berdasarkan Terapi Dimensi Kesehatan Terapi N Rata-Rata
Skor ± SD Nilai p Dimensi Kesehatan Fisik OHO Insulin 40 40 64,1 ± 21,7 70,7 ± 18,0 0,146 Dimensi Kesehatan Mental OHO Insulin 40 40 71,8 ± 17,0 76,6 ± 17,2 0,206
Hasil analisis data pada tabel 5.18 dimensi kesehatan fisik dan dimensi kesehatan mental dengan uji t tidak berpasangan menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna antara rata-rata skor kelompok pasien yang menggunakan insulin dan rata-rata skor kelompok pasien yang menggunakan OHO (p > 0,05).
Perbandingan total skor kualitas hidup dengan kuesioner SF-36 pada sampel pasien diabetes melitus tipe 2 berdasarkan terapi di poliklinik endokrinologi RSUP H. Adam Malik Medan dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 5.19 Perbandingan Total Skor Kualitas Hidup Berdasarkan Terapi Skor Kualitas Hidup Terapi N Rata-Rata
Skor ± SD Nilai p TOTAL OHO Insulin 40 40 67,0 ± 16,9 73,0 ± 14,3 0,096
Pada tabel 5.19 hasil analisis data dengan uji t tidak berpasangan menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna antara kualitas hidup kelompok pasien yang menggunakan insulin dan rata-rata kualitas hidup kelompok pasien yang menggunakan OHO (p > 0,05).
70
5.2 Pembahasan 5.2.1 Analisa Univariat
5.2.1.1 Distribusi Proporsi Pasien DM Tipe 2 Berdasarkan Umur
Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh bahwa distribusi umur sampel pasien DM tipe 2 lebih banyak yang berumur di atas 40 tahun (98,8%) daripada yang berumur di bawah 40 tahun (2,5%). Hasil ini sesuai dengan beberapa penelitian sebelumnya yang mengkaji karakteristik pasien diabetes melitus tipe 2, yakni penelitian oleh Midhet, Al-Mohaimeed dan Sharaf (2010), Ningtyas (2013), Safitri, Kadrianti dan Ismail (2013), Murad et al. di Jeddah (2014), Zyoud (2015) yang juga menunjukkan bahwa umur yang terbanyak menderita diabetes melitus adalah umur > 40 tahun. Menurut peneliti hal ini disebabkan karena semakin bertambah usia, maka semakin besar resiko untuk terkena penyakit diabetes melitus akibat perubahan fungsi-fungsi fisiologis tubuh yang menurun, dalam hal ini berkaitan dengan sistem metabolisme yang terganggu, disamping adanya riwayat obesitas dan faktor keturunan. Menurut Cantrill dan Wood (2003), insidensi diabetes melitus tipe 2 meningkat seiring bertambahnya usia dan meningkatnya kejadiaan obesitas. Penuaan mempengaruhi banyak hormon yang mengatur metabolisme, reproduksi dan fungsi tubuh lain. Menurut WHO setelah usia 30 tahun, maka kadar glukosa darah akan naik 1-2 mg/dL/tahun pada saat puasa dan akan naik 5,6-13 mg/dL pada 2 jam setelah makan (Sudoyo, 2006 dalam Yusra, 2010). Menurut Triplitt et al. (2005) penuaan mempengaruhi sensitifitas sel beta pankreas terhadap glukosa dan menunda pengambilan glukosa yang dimediasi oleh insulin. Resistensi insulin pada penuaaan terkait dengan kerusakan pada post reseptor.
5.2.1.2 Distribusi Proporsi Pasien DM Tipe 2 Berdasarkan Jenis Kelamin Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh bahwa distribusi sampel pasien DM tipe 2 lebih banyak yang berjenis kelamin laki-laki (52,5%) daripada perempuan (47,5%). Hasil ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Midhet, Al-Mohaimeed dan Sharaf (2010), Ramadona di Indonesia (2011), Yusra
71
(2010), Sari, Thobari dan Andayani (2011), Ekpenyong et al. (2011), Trisnawati dan Setyorogo (2012), data Riskesdas 2013, Lestari (2014), Murad et a.l di Jeddah (2014), Nyanzi, Wamala dan Atuhaire (2014), Adikusuma, Perwitasari dan Supadmi (2014), dan Zyoud et al. di Palestina (2015) yang menyimpulkan angka kejadian diabetes melitus lebih banyak terjadi pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini disebabkan karena distribusi lemak pada wanita berbeda dari laki-laki karena efek dari estrogen pada metabolisme lemak, perubahan fisika dan biokimia selama kehamilan yang meningkatkan berat badan wanita dan meningkatkan resiko diabetes kehamilan (Jovanovic dan Biermann, 1996; Prasanna, 1996; Grant, 2009 dalam Ekpenyong et al., 2011).
Namun hasil ini sesuai dengan hasil penelitian di Indonesia oleh Safitri, Kadrianti dan Ismail (2013), Dewi (2014) dan Sepulveda et al. di Portugal (2015) yang menunjukkan angka kejadian diabetes melitus tipe 2 lebih banyak pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Hal ini disebabkan pada wanita Waist To Hip Ratio (WHR) dan Waist Circumference (WC) lebih berhubungan signifikan kepada DMT2, sementara pada laki-laki BMI lebih berhubungan dengan DMT2 (Wang et al., 2005 dalam Ekpenyong et al., 2011). Perbedaan ini dapat dipengaruhi oleh perbedaan etnis, seperti pola makan dan gaya hidup (Deurenberg, 2003 dalam Ekpenyong et al., 2011). Hasil yang bervariasi pada distribusi jenis kelamin ini menunjukkan bahwa faktor jenis kelamin saja tidak mempengaruhi terhadap kejadian diabetes melitus, sehingga baik laki-laki maupun perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk menderita diabetes melitus tipe 2.
5.2.1.3 Distribusi Proporsi Pasien DM Tipe 2 Berdasarkan Pendidikan Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh bahwa distribusi sampel pasien DM tipe 2 lebih banyak yang berpendidikan sampai dengan SMA (53,8%) daripada yang berpendidikan di atas SMA atau perguruan tinggi (46,3%). Hasil ini sesuai dengan penelitian oleh Murad et al. di Jeddah (2014) yang menunjukkan prevalensi sampel yang berpendidikan sampai dengan SMA lebih banyak (82,2%)
72
daripada yang berpendidikan diatas SMA (17, 8%). Penelitian lainnya oleh Midhet, Al-Mohaimeed dan Sharaf (2010), Yusra (2010), Sari, Thobari dan Andayani (2011), Trisnawati dan Setyorogo (2012), Ningtyas (2013), Lestari (2014), Adikusuma, Perwitasari dan Supadmi (2014), dan Zyoud et al. di Palestina (2015) seluruhnya juga menunjukkan distribusi sampel yang berpendidikan sampai dengan SMA lebih banyak daripada yang berpendidikan diatas SMA. Hasil ini juga sesuai dengan data Riskesdas 2013 yang menunjukkan proporsi penderita diabetes melitus lebih tinggi pada kelompok dengan pendidikan lebih rendah. Hal ini disebabkan masyarakat yang berpendidikan rendah memiliki tingkat pengetahuan dan kesadaran yang lebih rendah terhadap penyakit dan penyebabnya (Midhet, Al-Mohaimeed dan Sharaf, 2010) serta akses ke teknologi yang terbatas.
5.2.1.4 Distribusi Proporsi Pasien DM Tipe 2 Berdasarkan Status Pekerjaan
Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh bahwa distribusi sampel pasien DM tipe 2 lebih banyak yang tidak memiliki pekerjaan (58,8%) daripada yang memiliki pekerjaan (41,3%). Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian oleh Sari, Thobari dan Andayani (2011), Primanda, Kritpracha, Thaniwattananon (2011), Trisnawati dan Setyorogo (2012), data riskesdas 2013, Murad et al. (2014), dan Zyoud et al. di Palestina (2015) yang menunjukkan distribusi penderita DM tipe 2 lebih banyak pada kelompok yang tidak bekerja dibandingkan penderita DM tipe 2 yang bekerja. Namun hasil yang berbeda didapatkan dari penelitian oleh Adikusuma, Perwitasari dan Supadmi (2014) yang menunjukkan distribusi sampel pasien DM tipe 2 lebih banyak yang bekerja (69,7%) dibandingkan sampel pasien DM tipe 2 yang tidak bekerja (30,3%). Variabel status pekerjaan ini dikaitkan dengan aktivitas fisik pasien yang mungkin lebih rendah pada pasien yang tidak bekerja. Namun kelompok yang tidak bekerja belum tentu memiliki aktivitas fisik yang rendah, contohnya ibu rumah tangga yang justru melakukan berbagai aktivitas seperti menyapu, memasak, dan mencuci.
73
5.2.1.5 Distribusi Proporsi Pasien DM Tipe 2 Berdasarkan Pendapatan Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh bahwa distribusi sampel pasien DM tipe 2 lebih banyak yang memiliki pendapatan ≥ Rp 1.625.000,00 (UMR Provinsi Sumatera Utara 2015) yaitu sebanyak 60% daripada yang memiliki pendapatan < Rp 1.625.000 (40%). Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian oleh Primanda, Kritpracha, Thaniwattananon (2011) dan Ningtyas (2013) yang menunjukkan distribusi sampel lebih banyak yang berpenghasilan tinggi daripada yang berpenghasilan rendah. Namun hasil ini berbeda dengan penelitian oleh Yusra (2010), Lestari (2014), dan Zyoud et al. di Palestina (2015) yang menunjukkan distribusi penderita DM tipe 2 lebih banyak yang memiliki tingkat pendapatan rendah dibandingkan dengan penderita DM tipe 2 yang memiliki tingkat pendapatan sedang hingga tinggi. Hal ini disebabkan masyarakat yang memiliki tingkat sosioekonomi lebih rendah memiliki faktor-faktor seperti ketersediaan makanan yang sehat, ketersediaan tempat atau fasilitas untuk berolahraga, perilaku hidup yang sehat akses ke fasilitas kesehatan serta proses perawatan diabetes (Ekpenyong et al., 2012).
5.2.1.6 Distribusi Proporsi Pasien DM Tipe 2 Berdasarkan Lama Menderita DM
Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh bahwa distribusi sampel yang sudah menderita diabetes melitus ≥ 5 tahun lebih banyak (60%) daripada sampel yang menderita diabetes melitus di bawah 5 tahun (40%). Hal ini disebabkan sebagian besar pasien yang datang berobat ke instalasi rawat jalan poli endokrinologi RSUP H.Adam Malik adalah pasien lama yang datang untuk kontrol. Distribusi lama menderita diabetes pada penelitian ini juga sesuai dengan hasil penelitian oleh Ramadona di Indonesia (2011), Murad et al. (2014), dan Zyoud et al. di Palestina (2015) yang menunjukkan sampel yang sudah menderita diabetes melitus di atas 5 tahun lebih banyak daripada sampel yang menderita
74
diabetes melitus di bawah 5 tahun. Namun hasil yang berbeda didapatkan dari