• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

4.3 Penelitian Kapasitas Ruang Parkir (Model

4.3.2 Metode Pengolahan Data

A. Pengolahan Data Hasil Survei Inventarisasi Karakteristik Terminal

Data hasil survei inventarisasi karakteristik Terminal disajikan dalam bentuk tabel berupa karakteristik fisik fasilitas Terminal dan luasan Terminal (m2) untuk dievaluasi dengan melihat standarisasi dari Direktorat Jenderal Perhubunga n Darat.

B. Metode Uji Kecukupan Data

Metode ini digunakan untuk menguji kecukupan data sampel yang diambil dari standar eror harga rata-rata (standart error of the mean) sebelum dilakukan analisa. Rumus yang digunakan untuk menguji kecukupan data sampel yang dinyatakan dengan penurunan rumus sebagai berikut :

Secara definisi hal ini dinyatakan sebagai “the root mean square deviation of the observed reading from their average” dengan rumus :

Guna menetapkan berapa jumlah N dari sampel yang diambil (N’) maka diputuskan terlebih dahulu tingkat kepercayaan (confidence level) dan derajat ketelitian (degree of accuracy) pada pengukuran ini. Untuk hal tersebut maka ditentukan bahwa untuk pengukuran banyaknya data sampel yang diobservasi menggunakan tingkat kepercayaan 95 % dan derajat ketelitian 10 %. Yang berarti bahwa sekurang-kurangnya 95 % dari 100 % data sampel yang diobservasi tidak akan mempunyai penyimpangan 10 %. Dengan demikian maka rumus diatas tersebut dapat ditulis sebagai berikut :

E. Pengolahan Data Kedatangan dan Waktu Pelayanan Kenderaan 1. Tingkat kedatangan kenderaan di Terminal

Tingkat kedatangan adalah jumlah kenderaan yang sampai pada jalur menuju Terminal pada waktu tertentu, dimana kenderaan tersebut mulai bergabung dengan kenderaan lain yang antri pada Terminal. Kedatangan yang dihitung adalah jumlah kedatangan kenderaan sewaktu survai persatuan waktu tertentu.

Data kedatangan yang diperoleh akan dibuat suatu bentuk distribusi kedatangan kenderaan dengan interval kelas dan jumlah kelas tertentu. Jika kenderaan-kenderaan yang datang pada fasilitas pelayanan mempunyai kemungkinan random atau acak, maka pada n kedatangan kenderaan

memberikan suatu waktu interval t. Untuk jumlah kelas n ditentukan oleh periode waktu kedatangan yang direncanakan dengan pertimbangan arus lalu-lintas pada jam sibuk.

2. Tingkat keberangkatan kenderaan di Terminal

Tingkat keberangkatan kenderaan adalah jumlah kenderaan yang keluar dari lokasi menuju lokasi tujuan pada periode waktu tertentu, yang dihitung adalah jumlah keberangkatan kenderaan selama selama waktu survai persatuan waktu tertentu.

Data keberangkatan yang diperoleh akan dibuat suatu bentuk distribusi keberangkatan kenderaan dengan interval kelas dan jumlah kelas tertentu. Jika kenderaan-kenderaan yang berangkat pada fasilitas pelayanan mempunyai kemungkinan random atau acak, maka pada n keberangkatan kenderaan memberikan suatu waktu interval t. Untuk jumlah kelas n ditentukan oleh periode waktu keberangkatan yang direncanakan dengan pertimbangan arus lalu-lintas pada jam sibuk.

3. Tingkat pelayanan kenderaan dari Terminal

Distribusi frekwensi waktu pelayanan merupakan distribusi frekwensi lama pelayanan terhadap kenderaan pada saat menunggu penumpang. Lama pelayanan ini diketahui dari selisih waktu keberangkatan kenderaan yang sebelumnya. Tentunya lama pelayanan ini akan berbeda untuk tiap- tiap kenderaan, atau barangkali lama pelayanan sama dengan antara kenderaan yang satu dengan yang lain. Untuk itu pada tabel distribusi frekwensi waktu pelayanan akan disajikan jumlah kenderaan yang dilayani dalam interval waktu tertentu.

Untuk mengetahui suatu data pelayanan mempunyai pola distribusi tertentu, maka diperlukan suatu metode pendekat dalam penyusunan tabel distribusi. Pendekatan-pendekatan untuk menyusun tabel distrinusi waktu pelayanan yang dimaksud adalah sebagai berikut :

a. Penentuan jumlah kelas, dalam penentuan jumlah kelas tidak boleh terlalu banyak atau terlalu sedikit.

b. Penentuan rentang, rentang kelas adalah data yang bernilai terbesar dikurangi dengan data yang bernilai terkecil.

c. Penentuan panjang kelas, panjang kelas kira-kira ditentukan dengan membagi rentang dengan jumlah kelas.

Harga P diambil sesuai dengan ketelitian satuan data yang digunakan. Jika data berbentuk satuan, diambil harga P teliti sampai satuan. Data yang telah terkumpul selanjutnya dilakukan rekapitulasi pada tabel distribusi frekwensi waktu pelayanan dan dengan demikian jumlah kenderaan yang akan dilayani dalam interval waktu tertentu akan diketahui.

4. Pengujian kecocokan distribusi sampel dengan distribusi teoritis (test of goodness of fit) Pada uraian sebelumnya diketahui bahwa ada dua jenis distribusi frekwensi, yakni, distribusi frekwensi hasil pengamatan dan distribusi hasil pemodelan yang secara teoritis dapat diterima akal. Kedua distribusi frekwensi tersebut mempunyai hubungan dimana distribusi teoritis dapat dijadikan sebagai dasar untuk menyatakan dapat atau tidak diterimanya suatu distribusi dari hasil pengamatan secara ilmiah. Kedua distribusi tersebut berbeda-

beda antara yang satu dengan yang lain. Untuk mengetahui besarnya perbedaan tersebut diperlukan suatu pengujian apakah perbedaan tersebut masih dapat diterima atau

ditolak pada taraf tingkat keyakinan tertentu. Uji sebagaimana yang dimaksud sering disebut dengan uji kecocokan (test of goodnees of fit). Untuk mengetahui cocok tidaknya antara distribusi frekwensi hasil pengamatan dengan hasil model-model yang telah dikembangkan, K. Pearson memperkirakan kecocokan tersebut dengan pendekatan Chi-Kuadrat. Selanjutnya jumlah Chi-Kuadrat digunakan

untuk mengetahui apakah distribusi frekwensi hasil pengamatan dan distribusi frekwensi teoritis cocok atau tidak.

5. Pengujian distribusi kedatangan

Dengan menggunakan metode chi-kuadrat test (Chi-square goodness of fit test) langkah- langkah yang dilakukan dalam uji Chi-squqre goodness of fit test sebagai berikut ;

1. Ho = distribusi kedatangan/keberangkatan kenderaan mengikuti distribusi poisson.

Ho = distribusi kedatangan/keberangkatan kenderaan tidak mengikuti distribusi poisson.

2. Menentukan taraf signifikansi (α) sebesar 95 %, derajat kebebasan (dk) = k-2, dimana k adalah jumlah kelas interval.

3. Menentukan Probabilitas Poisson p(n) kemungkinan terjadinya kedatangan 0, 1, 2 dan seterusnya.

F. Analisis Kinerja Terminal

Kinerja Terminal ditentukan oleh tingkat kedatangan dan jenis pelayanan yang diberikan. Sesuai dengan tingkat kecocokan analisis digunakan metode antrian model M/M/S/1/1. Dengan model ini dua atau lebih individu dapat dilayani pada waktu bersamaan oleh fasilitas-fasilitas pelayanan yang berlainan.

BAB V

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

5.1 Gambaran Umum

5.1.1 Kondisi Geografis

Kota Pematangsiantar yang secara geografis terletak pada garis antara 030 01’ 09” – 020 54’ 40” LU dan 990 6’ 22” – 990 01’ 10” BT, berada di tengah-tengah wilayah Kabupaten Simalungun dan berada dijalur tengah Propinsi Sumatera Utara dengan ketinggian 400 meter di atas permukaan laut. Memiliki luas 79,971 Km2 dengan pembagian wilayah terdiri dari 6 kecamatan dan 43 kelurahan. Hal tersebut memberikan peluang untuk menjadi kota dengan tingkat pelayanan kota efektif bagi wilayah sekitar dalam mengumpulkan komoditas dan menyebarkan barang untuk wilayah tengah Sumatera Utara.

5.1.2 Kondisi Topograpi

Jika dilihat topograpinya, Kota Pematang Siantar relatif landai dan bergelombang. Kondisi ini sangat sesuai untuk pengembangan berbagai jenis kegiatan budidaya, baik budidaya pertanian maupun kegiatan perkotaan (industri, perdagangan, jasa-jasa serta perumahan.

5.2 Kondisi Transportasi

Sistem jaringan pergerakan merupakan elemen yang turut membentuk struktur tata ruang kota karena berperan dalam menghubungkan pusat-pusat pelayanan dan satuan kegiatan kota. Berdasarkan data Dinas Perhubungan Kota Pematang Siantar menyebutkan sistem jaringan menurut fungsi jalan di Kota Pematang Siantar sebagai berikut :

1. Jalan arteri primer, meliputi jalan Medan, jalan lingkar luar Martoba (melewati lahan Eks- HGU), jalan lingkar luar Marihat dan jalan Parapat.

2. Jalan arteri sekunder, meliputi jalan Medan sebagian, jalan Merdeka, jalan Sutomo, jalan Gereja dan jalan Parapat (sebagian).

3. Jalan kolektor, meliputi seluruh ruas jalan yang menghubungkan jalan arteri dengan pusat- pusat kegiatan.

4. Jalan lokal, mencakup ruas jalan di zona permukiman.

5.2.2 Simpul Transportasi

Berdasarkan data Dinas Perhubungan Kota Pematang Siantar menyebutkan simpul transportasi di Kota Pematang Siantar sebagai berikut :

a. Terminal angkutan umum antar kota dan internal kota/ Terminal Sarantama berlokasi di Tanjung Pinggir (yang melayani pergerakan regional).

b. Terminal angkutan kota direncanakan di lokasi Pasar Dwikora dan Siantar Marihat. c. Penyediaan sub Terminal di area Stasiun Kereta Api.

Dokumen terkait