BAB II. PENELAHAAN PUSTAKA
F. Metode Pengujian Daya Analgesik
Secara umum pengujian daya analgesik dilakukan secara invitro dan
invivo. Uji invivo lebih banyak dilakukan untuk menguji aktivitas analgesik sentral, yaitu dengan menguji kemampuan suatu zat uji dalam menduduki/ berikatan dengan reseptor (Vogel, 2002)
Uji invitro yang digunakan untuk menguji aktivitas analgesik sentral antara lain : survei, ikatan 3H-Naloxone dengan jaringan, 3H-Dihydromorphine
yang terikat reseptor μ opiat otak tikus, 3H-Bremazocine yang terikat reseptor κ
opiat pada otak kecil babi Guinea, penghambatan enkephalinase, reseptor yang terikat nociceptin, vasoactive intestinal polypeptid (VIP), reseptor yang terikat
cannabinoid, reseptor yang terikat vanilloid. (Vogel, 2002). Senyawa-senyawa tersebut mengandung suatu molekul Hidrogen yang bersifat radioaktif 3H (tritium). Dengan adanya senyawa tersebut akan mempermudah dalam monitoring.
Pengujian daya analgesik oleh Turner (1965), dikelompokkan berdasarkan golongan analgesik narkotik dan non narkotik.
1. Golongan analgetika narkotik
a. Metode Jepit Ekor
Sekelompok tikus diinjeksi dengan senyawa uji dengan dosis tertentu
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
secara subkutan atau intra vena. Setelah beberapa menit penjepit langsung dipasang pada pangkal ekor yang telah dilapisi karet tipis selama 30 menit. Tikus yang diberi analgetik tidak akan berusaha untuk melepaskan jepitan, sedangkan yang tidak diberi analgetik akan berusaha untuk melepaskan jepitan. Sehingga respon yang dicatat adalah ada atau tidaknya usaha untuk melepaskan diri dari jepitan tersebut.
b. Metode rangsang panas
Pada metode ini alat yang digunakan adalah lempeng panas (hot plate) yang terdapat silindernya untuk mengendalikan panas. Lempeng panas diatur suhunya antara 50-55ºC, dilengkapi dengan penangas yang berisi campuran aseton dan etil formiat dengan perbandingan 1 : 1. Hewan uji yang telah diberi larutan uji secara subkutan atau peroral diletakkan pada hot plate, kemudian diamati reaksinya ketika hewan uji mulai menjilat kaki belakang dan kemudian melompat.
c. Metode pengukuran tekanan
Alat yang digunakan pada metode ini menggunakan dua buah syringe
yang dihubungkan pada kedua ujungnya, bersifat elastis, fleksibel, serta terdapat pipa plastik yang diisi dengan cairan. Sisi dari pipa dihubungkan dengan manometer. Syringe yang pertama diletakkan dengan posisi vertikal dengan ujungnya menghadap ke atas. Ekor tikus diletakkan di bawah penghisap syringe, ketika tekanan diberikan pada syringe kedua, maka tekanan akan terhubung pada sistem hidrolik pada syringe pertama lalu pada ekor tikus. Tekanan yang sama pada syringe kedua akan meningkatkan tekanan pada ekor tikus, sehingga akan
23
menimbulkan respon dan akan terbaca pada manometer. Respon tikus yang pertama adalah meronta-ronta kemudian akan mengeluarkan suara (mencicit) sebagai tanda kesakitan.
d. Metode antagonis nalorfin.
Uji analgetik dengan menggunakan metode ini untuk mengetahui aksi dari obat-obat seperti morfin, karena mempunyai kemampuan untuk meniadakan aksi dari morfin. Hewan uji yang bisa digunakan pada metode ini adalah tikus, mencit dan anjing. Hewan tersebut diberi obat dengan dosis toksik kemudian segera diberi nalorfin (0,5-10,0 mg/kg BB) secara intravena. Teori menyebutkan bahwa nalorfin dapat menggantikan ikatan morfin dengan reseptornya, sehingga ikatan antara morfin dengan reseptornya terlepas.
e. Metode potensiasi petidin
Metode ini kurang baik karena hewan uji yang cukup banyak, tiap kelompok terdiri dari tikus sebanyak 20 ekor, setengah kelompok dibagi menjadi 3 bagian yang diberi petidin dengan dosis 2, 4, dan 8 mg/kg. Setengah kelompok yang lainnya diberi senyawa uji dengan dosis 20% dari LD50. Persen daya analgesik dihitung dengan metode rangsang panas.
f. Metode kejang oksitosin
Oksitosin merupakan hormon yang dihasilkan oleh kelenjar pituari posterior, yang dapat menyebabkan konstraksi uterus sehingga menimbulkan kejang pada tikus. Responnya berupa kontraksi abdominal, sehingga menarik pinggang dan kaki ke belakang. Penurunan jumlah kejang diamati dan ED50 dapat diperkirakan. Selain morfin senyawa analgetik yang dapat diuji dengan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
menggunakan metode ini adalah heroina, metadon, kodein, dan meperidina. g. Metode pencelupan pada air panas
Tikus disuntik secara intra peritonial dengan senyawa uji, kemudian ekor tikus dicelupkan pada air panas (suhu 58º C). Respon tikus terlihat dari hentakan ekornya menghindari panas.
2. Golongan analgetika non narkotika
a. Metode rangsang kimia
Metode ini menggunakan zat kimia yang diinjeksikan pada hewan uji secara intraperitoneal, sehingga akan menimbulkan nyeri. Beberapa zat kimia yang biasanya digunakan antara lain asam asetat dan fenil kuinon. Metode ini sederhana, reproducible (dapat diulang-ulang hasilnya), dan cukup peka untuk menguji senyawa analgetik dengan daya analgetik lemah, namun mempunyai kekurangan yaitu masalah kespesifikasinya. Oleh karena itu metode ini sering digunakan untuk penapisan (screening). Daya analgetik dapat dievaluasi menggunakan persen penghambatan terhadap geliat menggunakan persamaan menurut Handershot dan Forsaith.
% proteksi rangsang nyeri = 100 100 ⎥%
⎦ ⎤ ⎢ ⎣ ⎡ ⎭ ⎬ ⎫ ⎩ ⎨ ⎧ × ⎟ ⎠ ⎞ ⎜ ⎝ ⎛ − K P
P : jumlah kumulatif geliat mencit yang diberi perlakuan. K: jumlah kumulatif geliat mencit kelompok kontrol.
Hewan uji yang digunakan pada metode ini dapat bermacam-macam, antara lain : anjing, marmot, tikus, merpati, dan mencit.. Untuk mencit, yang sering digunakan adalah mencit betina, dikarenakan kepekaan terhadap rangsang lebih besar daripada yang jantan. Respon mencit yang biasa diamati adalah
25
lompatan dan konstraksi perut dengan disertai tarikan kaki belakang (rentangan) yang disebut geliat (Soerjandari, 1991 cit Putra, 2003).
b. Metode pedodolometri
Hewan uji diletakkan pada kandang yang bagian atasnya terbuat dari kepingan metal sehingga bisa dialiri arus listrik. Respon yang timbul yaitu ketika hewan uji mengeluarkan teriakan dengan pengukuran dilakukan tiap 10 menit selama 1 jam.
c. Metode rektodolometri
Tikus diletakkan di sebuah kandang yang dibuat dengan alas tembaga yang dihubungkan dengan sebuah penginduksi berupa sebuah gulungan. Ujung lain dari gulungan tersebut dihubungkan dengan silinder elektrode tembaga. Sebuah voltmeter yang sensitif untuk mengubah 0,1 volt dihubungkan dengan konduktor pada gulungan di bagian atas. Pada penggunaan tegangan 1 sampai 2 volt akan menimbulkan teriakan pada tikus.