• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV . HASIL DAN PEMBAHASAN

D. Pengujian Daya Analgesik

Daya analgetik atau kemampuan jus umbi wortel untuk mengurangi rasa nyeri dapat diukur setelah semua data orientasi diperoleh. Dari hasil orientasi diperoleh bahwa zat perangsang nyeri yang digunakan adalah asam asetat 1% dengan dosis 75 mg/kgBB, kontrol negatif adalah aquades dan kontrol positifnya adalah parasetamol dosis 113,75 mg/kgBB.

Dengan menggunakan hasil orientasi, diperoleh rata-rata kumulatif pada kelompok perlakuan dengan jus umbi wortel beserta kelompok kontrol negatif dan kontrol positif. Hasilnya dapat dilihat dari table XII.

Tabel XII. Rata-rata jumlah kumulatif geliat pada kelompok perlakuan

Kelompok uji Jumlah

subjek uji

Jumlah geliat (X ± SE)

Aquades 6 85,67 ± 2,108

Parasetamol 6 45,17 ± 1,701

Jus umbi wortel dosis 0,5 g/kgBB 6 70,50 ± 1,176 Jus umbi wortel dosis 1 g/kgBB 6 62,50 ± 1,544 Jus umbi wortel dosis 2 g/kgBB 6 54,17 ± 0,601 Jus umbi wortel dosis 4 g/kgBB 6 37,67 ± 1,856 Jus umbi wortel dosis 8 g/kgBB 6 50,33 ± 1,961

Keterangan :

X = Mean (Rata-rata)

49 85.67 45.17 70.5 62.5 54.17 37.67 50.33 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 R a ta -ra ta juml ah gel iat I II III IV V VI VII Kelompok

Jumlah Geliat Kelompok Perlakuan

Gambar 11. Gambar rata-rata kumulatif jumlah geliat kelompok perlakuan Keterangan :

I = kelompok kontrol negatif aquades

II = kelompok kontrol positif parasetamol 113,75 mg/kgBB III = kelompok dosis jus umbi wortel 0,5 g/kgBB

IV = kelompok dosis jus umbi wortel 1 g/kgBB V = kelompok dosis jus umbi wortel 2 g/kgBB VI = kelompok dosis jus umbi wortel 4 g/kgBB VII = kelompok dosis jus umbi wortel 8 g/kgBB

Setelah didapatkan jumlah kumulatif geliat kelompok perlakuan, maka data tersebut diolah secara statistik, dan didapatkan persen proteksi terhadap nyeri yang dibandingkan dengan kontrol negatif, dan perudahan persen daya analgesik terhadap kontrol positif.

Hasilnya dapat dilihat pada tabel XIII.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Tabel XIII. Persen penghambatan nyeri pada kelompok uji

Kelompok uji Jumlah

subjek uji Persen penghambatan nyeri (X ± SE) Aquades 6 00,00 ± 2,46 Parasetamol 6 47,28 ± 1,99

Jus umbi wortel dosis 0,5 g/kgBB 6 17,70 ± 1,37 Jus umbi wortel dosis 1 g/kgBB 6 27,04 ± 1,80 Jus umbi wortel dosis 2 g/kgBB 6 36,77 ± 0,70 Jus umbi wortel dosis 4 g/kgBB 6 56,03 ± 2,17 Jus umbi wortel dosis 8 g/kgBB 6 41,25 ± 2,29 Keterangan : X = Mean (Rata-rata) SE = Standard Error (SD/√n) 0 47.28 17.71 27.04 36.77 56.03 41.25 0 10 20 30 40 50 60 Persen I II III IV V VI VII Kelompok uji

Persen Proteksi Rangsang Nyeri

Gambar 12. Diagram batang proteksi rangsang nyeri kelompok uji Keterangan :

I = kelompok kontrol negatif aquades

II = kelompok kontrol positif parasetamol 113,75 mg/kgBB III = kelompok dosis jus umbi wortel 0,5 g/kgBB

IV = kelompok dosis jus umbi wortel 1 g/kgBB V = kelompok dosis jus umbi wortel 2 g/kgBB VI = kelompok dosis jus umbi wortel 4 g/kgBB VII = kelompok dosis jus umbi wortel 8 g/kgBB

51

Persen proteksi nyeri pada masing-masing kelompok uji kemudian dianalisis menggunakan analisis variansi satu arah dengan taraf kepercayaan 95%, dan dilanjutkan dengan uji Scheffe. Hasil analisis dapat dilihat pada tabel XIV.

Tabel XIV. Analisis variansi 1 arah persen penghambatan nyeri pada kelompok uji Sumber variansi Jumlah kuadrat Derajat bebas Rata-rata

kuadrat Fhit Probabilitas Antar

kelompok 13028,331 6 2171,389 99,128 0,000

Dalam

kelompok 766,669 35 21,905

Dari tabel XIV dapat dilihat bahwa probabilitasnya adalah 0,000 yang berarti lebih kecil daripada 0,05, sehingga menunjukkan bahwa pada seluruh kelompok uji terdapat perbedaan. Oleh karena itu, untuk melihat perbedaan tersebut bermakna atau tidak bermakna, maka dilanjutkan dengan uji Scheffe. Hasil uji Scheffe dapat dilihat pada tabel XIV.

Tabel XV. Hasil uji Scheffe persen penghambatan rangsang nyeri pada kelompok uji

Kelompok I II III IV V VI VII

I - B B B B B B II B - B B B TB TB III B B - TB B B B IV B B TB - TB B B V B B B TB - B TB VI B TB B B B - B VII B TB B B TB B - Keterangan : B = Berbeda bermakna ( P≤ 0,05)

TB = Berbeda tidak bermakna ( P > 0,05)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Dari tabel XV dapat dilihat bahwa antara kontrol negatif yaitu aquades berbeda bermakna dengan kontrol positif yaitu parasetamol dan berbeda bermakna juga dengan kelompok perlakuan dengan jus umbi wortel dalam berbagai tingkatan dosis. Hal ini dikarenakan perbedaan jumlah geliat yang cukup besar dengan semua kelompok perlakuan, dikarenakan tidak adanya daya analgesik sebagai penghambat nyeri pada kontrol negatif. Jadi dengan demikian dapat diartikan bahwa dengan perlakuan dengan parasetamol dan jus umbi wortel dalam berbagai tingkatan dosis dapat menghasilkan daya analgesik. Daya analgesik ini berupa penghambatan terhadap nyeri yang ditimbulkan oleh asam asetat, dengan ditandai menurunnya jumlah geliat dibandingkan perlakuan dengan kontrol negatif.

Kelompok kontrol positif yaitu parasetamol dosis 113,75 mg/kgBB memang secara teoritis mempunyai efek analgesik dengan penghambatannya terhadap sintesis prostaglandin. Dimana, dilihat dari tabel ada dua kelompok perlakuan dengan jus umbi wortel yang mempunyai perbedaan tidak bermakna dengan parasetamol yaitu: kelompok VI (dosis 4 g/kgBB), dan kelompok VII (dosis 8 g/kgBB). Dari data tersebut dapat diartikan bahwa kedua kelompok tersebut mempunyai kemampuan menghambat nyeri yang hampir sama dengan parasetamol. Pada kontrol positif persen penghambatan nyeri sebesar 47,28 % sedangkan pada kelompok jus umbi wortel dosis 4 g/kgBB sebesar 56,03 %, dan pada dosis 8 g/kgBB sebesar 41,25 %.

Persen penghambatan terhadap nyeri mengalami peningkatan pada saat terjadi penambahan dosis jus umbi wortel, dari dosis jus umbi wortel 0,5 g/kgBB

53

sampai pada puncaknya yaitu dosis 4 g/kgBB, dan kemudian terjadi penurunan pada dosis 8 g/kgBB. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dosis 4 g/kgBB mempunyai kemampuan penghambatan terhadap nyeri yang paling besar dibanding dengan dosis lainnya. Penurunan persen proteksi ini terjadi dikarenakan telah melewati dosis optimun. Sehingga dapat disimpulkan dosis optimum perlakuan dengan jus umbi wortel ini berkisar dari dosis 4 g/kgBB sampai pada dosis 8 g/kgBB

Pada dosis 4 g/kgBB dapat dikatakan mempunyai efek analgesik, dikarenakan dengan besarnya persen penghambatannya yang lebih besar dari 50 %. Hal ini berdasarkan ketentuan bahwa adanya aktivitas analgetika dinyatakan lebih sedikit terjadi jumlah geliat mencit sebesar ≥ 50 % dari kelompok kontrol (Anonim,1991). Dari semua dosis kelompok perlakuan, yang memenuhi persyaratan hanyalah pada dosis 4 g/kgBB. Sehingga peneliti menyarankan untuk menggunakan dosis jus umbi wortel 4 g/kgBB sebagai pengurang rasa nyeri.

Rasa nyeri timbul bersamaan dengan terjadinya peradangan, karena mediator yang memperantarai peradangan (prostaglandin, leukotrien, dll.) akan mengaktivasi reseptor nyeri. Pada penelitian, dimungkinkan bahwa mekanisme kerja daripada jus umbi wortel sama dengan kontrol positif, yang disini adalah parasetamol. Kerja dari parasetamol yaitu menghambat enzim siklooksigenase, sehingga perubahan asam arakhidonat menjadi endoperoksida tidak terbentuk dan mediator perantara peradangan dan radikal bebas oksigen tidak terjadi. Radikal bebas oksigen ini akan menyebabkan kerusakan pada jaringan, yang nantinya akan terbentuk kembali asam arakhidonat yang akan diubah menjadi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

endoperoksida yang bertanggungjawab terhadap terjadinya peradangan.

Dalam penelitian menggunakan jus umbi wortel, diduga β-karoten yang terkandung dalam wortel dapat mengurangi rasa nyeri, dengan penghambatannya terhadap oksidasi asam arakhidonat. Penghambatan oksidasi tersebut mengakibatkan terhambatnya terbentuknya oksigen reaktif dan prostaglandin yang ditandai dengan penghambatan rasa nyeri seperti pada kelompok perlakuan. Jadi, dapat dikatakan jus umbi wortel yang mempunyai kandungan beta-karoten memiliki aktivitas analgesik (penghambatan terhadap rasa nyeri). Dibuktikan juga dengan penelitian dari Esvandiary (2006) tentang efek analgesik beta-karoten pada mencit putih betina dengan menghasilkan persen proteksi geliat pada dosis 0,6523; 0,9225; 1,3046; 1,8450 mg/KgBB berturut-turut sebesar 41,04; 78,01; 66,11; 59,95 %.

Perubahan persen penghambatan rangsang nyeri terhadap kontrol positif dapat dilihat pada tabel XIV.

Tabel XVI. Perubahan persen penghambatan nyeri

Kelompok uji Jumlah

subjek uji Persen penghambatan nyeri (X ± SE) Aquades 6 99,99 ± 5,21 Parasetamol 6 0,20 ± 0.38

Jus umbi wortel dosis 0,5 g/kgBB 6 62,55 ± 2,90 Jus umbi wortel dosis 1 g/kgBB 6 42,80 ± 3,81 Jus umbi wortel dosis 2 g/kgBB 6 22,22 ± 1,48 Jus umbi wortel dosis 4 g/kgBB 6 - 18,52 ± 4,58 Jus umbi wortel dosis 8 g/kgBB 6 12,76 ± 4,84 Keterangan :

X = Mean (Rata-rata)

55 99.99 0.2 62.55 42.8 22.22 -18.52 12.76 -20 0 20 40 60 80 100 Pe rsen I II III IV V VI VII Kelompok Uji

Perubahan Persen Penghambatan Rangsang Nyeri

Gambar 13. Diagram batang perubahan persen penghambatan rangsang nyeri kelompok uji

Keterangan :

I = kelompok kontrol negatif aquades

II = kelompok kontrol positif parasetamol 113,75 mg/kgBB III = kelompok dosis jus umbi wortel 0,5 g/kgBB

IV = kelompok dosis jus umbi wortel 1 g/kgBB V = kelompok dosis jus umbi wortel 2 g/kgBB VI = kelompok dosis jus umbi wortel 4 g/kgBB VII = kelompok dosis jus umbi wortel 8 g/kgBB

Berdasarkan tabel XVI, kontrol negatif dengan perubahan persen penghambatan sebesar 99,99 ± 5,21 mempunyai perbedaan 100 % dengan kontrol positif. Hal tersebut dikarenakan dalam kontrol negatif tidak terjadi panghambatan rangsang nyeri, sehingga dapat dikatakan tidak mempunyai efek analgesik. Nilai terendah perubahan persen proteksi ditunjukkan oleh kelompok perlakuan dosis 4 g/kgBB, yaitu sebesar ( - 18,52) ± 4,58 %, yang diartikan pada dosis ini dapat menyebabkan penurunan jumlah geliat yang lebih banyak daripada pada kontrol positif. Sedangkan pada dosis 8 g/kgBB, persen penghambatannya mendekati

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

kontrol positif yaitu sebesar 12,76 ± 4,84 %. Hal ini berarti, pada dosis ini mampu menghambat nyeri dengan kemampuan yang mendekati kontrol positif. Sedangkan pada ketiga dosis yang lainnya, ketiganya mempunyai kemampuan untuk menghambat nyeri namun tidak terlalu kuat.

Berdasarkan data-data dari tabel XVI dan gambar 13, maka dosis yang dipilih oleh peneliti adalah dosis 4 g/kgBB. Dikarenakan mempunyai persen proteksi yang paling besar dibanding dengan dosis lainnya, dan juga mempunyai penurunan jumlah geliat lebih daripada 50 % dibanding kelompok kontrol negatif. Pada penelitian sebelumnya mengenai Efek Analgetik β-karoten pada mencit putih betina (Esvandiary, 2005) telah terbukti bahwa β-karoten

mempunyai efek analgesik. Kemampuan ini berkait dengan aktivitas β-karoten

sebagai anti oksidan. Beta karoten mampu menangkap oksigen reaktif dan radikal peroksil (Paiva dan Russel, 1999) lalu menetralkannya, menghambat oksidasi asam arakhidonat menjadi endoperoksida dan menurunkan aktivitas enzim Lipooksigenase (Lieber dan Leo, 1999).

Dokumen terkait