• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Beban Kerja

2.2.6 Metode Pengukuran Beban Kerja Mental

1. Pengukur Objektif Beban kerja mental

Beban kerja mental dapat diukur dengan pendekatan fisiologis (karena

terkuantifikasi dengan kriteria obyektif, maka disebut metode obyektif).

Kelelahan mental pada seorang pekerja terjadi akibat adanya reaksi fungsionil dari

tubuh dan pusat kesadaran. Pendekatan yang bisa dilakukan antara lain :

1. Pengukuran variilitas denyut jantung

3. Flicker test

4. Pengukuran kadar asam saliva

5. Dll

2. Pengukuran Subjektif Beban Kerja Mental

Metode pengukuran beban kerja yang secara subjektif merupakan

pengukuran beban kerja mental berdasarkan persepsi subjektif responden/ pekerja.

Subjective measures merupakan cara termudah untuk memperkirakan mental

workload pada pekerja dalam menampilkan tugas-tugas tertentu. Secara umum, metode yang digunakan yaitu dengan menanyakan apa/ bagaimana yang ia

rasakan tentang beban pada tugas-tugas yang dikerjakan. Sheridan & stassen

(1979, dalam Meshkati et. Al., 1992., dalam Wilson & Corlett, 1992) menjelaskan

bahwa pada Subjective measures, pekerja diminta untuk menilai beban kerja yang ia alami berdasarkan suatu skala berupa daftar kata kunci yang menggambarkan

tingkatan workload yang berbeda.

Sanders & Mc Cormick (1993) berpendapat bahwa metode subjective measures seperti rating scales lebih mudah dalam proses administrasi dan lebih dapat diterima oleh pekerja yang diminta untuk mengerjakan rating scale tersebut.

Selain itu, juga dapat digunaka questionnaire dan interview (Meshkati et. Al., 1992, dalam Wilson & Corlett, 1992) yang ana metode-metode subjective measures juga bisa dikategorikan model self-report (de Waard, 1996).

Berikut ini merupakan beberapa jenis metode pengukuran subjektif yang

a. Subjective Workload Assessment Technique (SWAT)

SWAT khusus didesain untuk mengukur workload pekerjaan dalam system yang bervariasi untuk beberapa tugas. SWAT mengkombinasikan rating

pada tiga dimensi workload; time load, mental efford load, dan stress load (Reid & Nygren, 1998, dalam Wickens & Hollands, 2000). Tiga dimensi workload

tersebut adalah:

1. Time load atau beban waktu yang menunjukkan jumlah waktu yang tersedia dalam perencanaan, pelaksanaan dan monitoring tugas.

2. Mental effort atau beban usaha mental, yang berarti benyaknya usaha mental dalam melaksanakan suatu pekerjaan.

3. Psychological stress atau beban tekanan psikologis yang menunjukkan tingkat resiko pekerjaan, kebingungan, dan frustasi.

Metode Subjective Workload Assesment Technique (SWAT)

dikembangkan oleh Gary B. Reid dari Divisi Human Engineering pada Armstrong

Laboratory, Ohio-USA digunakan menganalisa beban kerja yang dihadapi oleh seseorang yang harus melakukan aktivitas (baik yang merupakan beban kerja fisik

maupun mental) yang bermacam-macam. Dalam penerapannya, SWAT akan

memberikan penskalaan subjektif yang sederhana dan mudah dilakukan untuk

mengkuantifikasikan beban kerja dari aktivitas yang bermacam-macam yang

harus dilakukan oleh seorang pekerja.

SWAT juga akan menggambarkan sistem kerja sebagai sebuah model

multi dimensional dari beban kerja yang terdiri atas tiga dimensi atau faktor yaitu

Masing-masing terdiri dari 3 (tiga) tingkatan yaitu rendah, sedang dan tinggi.

Dalam penerapannya setiap tigkatan untuk ketiga faktor tersebut akan

dikombinasikan sehingga akhirnya membentuk 27 kombinasi tingkatan beban

kerja mental. Prosedur penerapan metode SWAT terdiri dari dua tahapan, yaitu

tahapan penskalaan (Scale Development) dan tahap penilaian (Event Scoring)

Pada langkah pertama, 27 kombinasi tingkatan beban kerja mental

diurutkan dengan berdasarkan persepsi yang dipahami oleh responden. Data hasil

pengurutan kemudian ditransformasikan ke dalam sebuah skala interval dari

beban kerja dengan range 0-100. Pada tahap penilaian, sebuah aktivitas atau

kejadian akan dinilai dengan menggunakan rating 1 sampai 3 (rendah, sedang,

dan/atau tinggi) untuk setiap tiga dimensi atau faktor yang ada. Nilai skala yang

berkaitan dengan kombinasi tersebut (yang didapat dari tahap penskalaan)

kemudian dipakai sebagai nilai beban kerja untuk aktivitas yang bersangkutan.

Semaksimal mungkin diusahakan agar selama proses pengumpulan data dalam

penerapan metode SWAT tidak mengganggu pekerjaan dari subyek (pekerja)

yang diteliti.

Dalam penelitian ini peneliti akan menggunakan Teori dari Pengukuran

Beban kerja mental dengan metode SWAT karena dimensi dari metode ini

dianggap relevan untuk dikaitkan dengan pekerjaan dari pegawai BPJS kesehatan

kantor cabang utama Medan. berikut merupakan tabel dimensi dari metode

Tabel 2.1 Dimensi dari Metode SWAT

No

1

Time Load often have spare time, interruptions or overlap among activities occur infrequently or not at all

occasionally have spare time,interruptions or overlap among activities occur infrequently

Almost never have spare time, Interrupions or overlap among activities are very frequent , or occur all the time

2 Mental Effort load Very little conscious mental effort or concentration required. Activity is almost automatic, requiring little or no attention

Moderate conscious mental effort or concemtration required. Complexity of activity is moderately high due to uncertainly, unpredictability, or unfamiliarity. Considerable attention required.

Extensive mental effort and concentration are necessary. Very

comlex activity requiring total attention.

3 Psychological Stress Load

Little confusion, risk, frustration, or anxiety axists and can be easily accomodated

Moderate stress due to confusion, frustation or anxiety noticeably adds to workload. Significant compensation is required to maintain adequate performance. High to very intense stress due to

confusion, frustation, or anxiety. High extreme determination and self-control required.

Sumber : Reid, G. B And Nygren, T. E. 1988, The Subjective Workload Assessment Technique: a scaling procedure for measuring mental workload

b. NASA TLX

Dalam NASA TLX terdapat 6 dimensi ukuran beban kerja yaitu :

1. Mental demand, tuntutan aktivitas mental dan perseptual yang dibutuhkan

dalam pekerjaan (contoh: berpikir, memutuskan, menghitung, mengingat,

melihat, mencari).

2. Physical demand, aktivitas fisik yang dibutuhkan dalam pekerjaan (contoh:

3. Temporal demand, tekanan waktu yang dirasakan selama pekerjaan atau

elemen pekerjaan berlangsung.

4. Performance, keberhasilan di dalam mencapai target pekerjaan

5. Effort, usaha yang dikeluarkan secara mental dan fisik yang dibutuhkan untuk

mencapai level performansi pekerja.

6. Frustation level, rasa tidak aman, putus asa, tersinggung, stres, dan terganggu

dibanding dengan perasaan aman,puas,cocok, nyaman, dan kepuasaan diri

yang dirasakan selama mengerjakan pekerjaan tersebut.

Langkah pengukuran dengan menggunakan NASA TLX sebagai berikut

(Meshkati, 1988) :

1. Pembobotan

Responden/ pekerja diminta untuk membandingkan dua dimensi yang berbeda

dengan metode perbandingan berpasangan. Total perbandingan berpasangan

untuk keseluruhan dimensi (6 dimensi) yaitu 15.

2. Pemberian Rating

Dalam tahap ini, responden diminta memberikan penilaian/rating terhadap

keenam dimensi beban mental.

Skor akhir beban mental NASA TLX diperoleh dengan mengalikan bobot

dengan rating setiap dimensi, kemudin dalam perkembangannya, tahap

pembobotan dinilai memiliki banyak kelemahan, sehingga dalam berbagai

penelitian terakhir, penggunaan NASA TLX hanya dengan memberikan nilai

pada masing-masing dimensi (tahap 2) dengan menjumlahkan nilai

Dokumen terkait