BAB IV METODOLOGI PENELITIAN
D. Metode Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data sekunder dan data primer. Data sekunder berupa data ibu yang menyusui di Kelurahan Pisangan Ciputat Timur hingga Januari 2013 dikumpulkan melalui seluruh posyandu yang berada di Kelurahan Pisangan Ciputat Timur.
Data primer berupa data dimensi kursi, sudut dudukan, bentuk dan bahan pelapis atau bantalan kursi atau tempat duduk, dimensi tubuh, usia, IMT, durasi, postur, kondisi lingkungan, aktivitas pada waktu istirahat, dan kenyamanan ibu saat menyusui dengan posisi duduk. Data dimensi kursi, sudut dudukan, dimensi tubuh, dan ukuran objek dikumpulkan melalui pengukuran langsung, sedangkan bentuk dan bahan pelapis atau bantalan tempat duduk dikumpulkan melalui observasi langsung pada tempat duduk yang biasa digunakan ibu saat menyusui. Data IMT dikumpulkan berdasarkan hasil perhitungan berat badan dibagi tinggi badan kuadrat dalam meter (BB dalam kg/TB2 dalam meter). Data berat badan dan tinggi badan diperoleh melalui pengukuran langsung.
Data postur dikumpulkan melalui observasi dengan pengambilan gambar berupa video kegiatan ibu saat menyusui dengan posisi duduk untuk melihat posisi tubuh ibu yang kemudian dianalisis dengan metode RULA. Data usia, durasi, aktivitas pada waktu istirahat dikumpulkan dengan kuesioner. Untuk kenyamanan ibu saat menyusui dengan posisi duduk, metode pengumpulan data yang digunakan adalah melalui kuesioner dan wawancara mendalam. Selain itu, juga dilakukan obervasi perubahan posisi atau sikap duduk ibu selama aktivitas menyusui dengan posisi duduk berlangsung.
Pada pengumpulan data kenyamanan posisi duduk ibu saat menyusui, wawancara mendalam dilakukan karena kenyamanan adalah suatu kondisi perasaan subjektif dan sangat tergantung pada orang yang mengalami situasi tersebut. Kita tidak dapat mengetahui tingkat kenyamanan yang dirasakan oleh orang lain secara langsung atau dengan observasi, kita harus menanyakan pada orang tersebut untuk memberitahukan kepada kita seberapa nyaman diri mereka (Sanders dan McCormick, 1993 dalam Ardiana, 2007) atau mengukur kenyamanan/ketidaknyamanan secara subjektif (Richards, 1980 dalam De Looze, 2003). Oleh karena itu, metode wawancara mendalam digunakan dalam penelitian ini untuk memperoleh informasi mendalam mengenai kenyamanan yang dirasakan ibu saat menyusui dengan posisi duduk. Observasi dilakukan untuk mengetahui perubahan posisi/sikap duduk ibu selama menyusui berlangsung sebagai salah satu metode untuk mengukur ketidaknyamanan secara objektif (Karwowski dan Marras, 2003). Sedangkan kuesioner digunakan untuk
mengetahui keluhan ketidaknyamanan pada beberapa bagian tubuh ibu saat menyusui dengan posisi duduk melalui suatu body map area.
Pengumpulan data primer dilakukan sesaat setelah ibu selesai menyusui. Pengumpulan data dilakukan sebanyak dua kali untuk melihat kekonsistenan data, terutama informasi kenyamanan posisi duduk ibu saat menyusui dan aktivitas ibu saat sedang tidak menyusui dan juga untuk mengetahui aktivitas ibu yang lain saat tidak sedang menyusui yang berbeda-beda setiap waktunya.
E. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner, pedoman wawancara, lembar observasi, kamera digital, RULA, sit body measurement, meteran gulung, busur derajat, alat pengukur tinggi badan
(microtoise), timbangan berat badan digital untuk bayi dan dewasa, sound level meter, termometer, lux meter, penggaris, dan kalkulator. Kuesioner digunakan
untuk mengumpulkan data usia, durasi menyusui, aktivitas ibu pada waktu istirahat, dan kenyamanan posisi duduk ibu saat menyusui. Pedoman wawancara digunakan untuk mengumpulkan data kenyamanan posisi duduk ibu saat menyusui.
Kuesioner yang digunakan untuk mengetahui kenyamanan posisi duduk ibu saat menyusui adalah Body Part Discomfort Scale. Body Part Discomfort Scale merupakan suatu alat penilaian gejala secara subjektif, yang digunakan
pada bagian tubuh yang berbeda (Corlett dan Bishop, 1976). Pada Body Part Discomfor Scale, tubuh dibagi menjadi 12 bagian, yaitu leher, bahu (kanan dan
kiri), punggung bagian atas, punggung bagian bawah (kanan dan kiri), siku-siku (kanan dan kiri), lengan bawah (kanan dan kiri), pergelangan tangan (kanan dan kiri), pinggul (kanan dan kiri), paha (kanan dan kiri), lutut (kanan dan kiri), betis (kanan dan kiri), dan tumit (kanan dan kiri). Selain responden akan memberikan tanda pada bagian tubuh yang mengalami ketidaknyamanan, juga ditanyakan frekuensi (seberapa sering) dan intensitas (seberapa parah) responden mengalami ketidaknyamanan pada bagian tubuh yang ditandai tersebut. Frekuensinya terdiri dari: 1) Kadang-kadang, 2) Sering, 3) Selalu. Sedangkan Intensitasnya terdiri dari: 1) Tidak nyaman, 2) Sakit, 3) Sangat sakit.
Lembar observasi digunakan untuk mengobservasi karakteristik tempat duduk yang biasa digunakan ibu saat menyusui yang meliputi bentuk tempat duduk dan bantalan tempat duduk atau yang digunakan ibu untuk menunjang posisi duduk ibu saat menyusui. Selain itu, lembar obervasi juga digunakan untuk mengobservasi perubahan posisi duduk ibu selama kegiatan menyusui berlangsung untuk mengetahui intensitas ketidaknyamanan ibu saat menyusui dengan posisi duduk tersebut. Kamera digital digunakan untuk mengobservasi posisi duduk ibu saat menyusui yang hasilnya akan digunakan untuk analisis postur ibu saat menyusui dengan metode RULA. Selain itu, kamera digital juga digunakan sebagai alat bantu untuk mengobservasi karakteristik tempat duduk yang biasa digunakan ibu saat menyusui.
Sit Body Measurement digunakan untuk mengukur dimensi tubuh ibu
yang meliputi tinggi duduk tegak, tinggi bahu duduk, tinggi popliteal, dan jarak pantat-popliteal. Sedangkan meteran gulung digunakan untuk mengukur dimensi tubuh yang tidak dapat diukur dengan Sit Body Measurement yaitu tinggi siku duduk, lebar bahu (bideltoid dan biacromial), lebar pinggul, dan jarak siku ke ujung jari. Selain itu, meteran gulung juga digunakan untuk mengukur dimensi kursi.
Penggaris dan busur derajat digunakan untuk melakukan analisis RULA berdasarkan hasil observasi untuk menentukan kemiringan tubuh atau gerakan tubuh pada saat menyusui dengan posisi duduk, yaitu tubuh bagian lengan atas, lengan bawah, pergelangan tangan, leher, batang tubuh, dan kaki. Busur derajat juga digunakan untuk mengukur sudut dudukan dan sudut sandaran.
Microtoise digunakan untuk mengukur tinggi badan ibu dan timbangan
berat badan digital digunakan untuk mengukur berat badan ibu secara langsung. Begitu juga dengan timbangan berat badan digital untuk bayi digunakan untuk mengukur secara langsung berat badan bayi. Sound Level Meter digunakan untuk mengukur tingkat kebisingan, termometer untuk mengukur suhu, dan Lux Meter untuk mengukur tingkat pencahayaan di lingkungan tempat ibu melakukan aktivitas menyusui. Sedangkan kalkulator digunakan untuk menghitung IMT ibu berdasarkan berat badan dan tinggi badan ibu.
F. Pengolahan Data
Pengolahan data dalam penelitian ini terdiri dari empat jenis pengolahan data, yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi kenyamanan posisi duduk dari hasil kuesioner, kesesuaian dimensi kursi dan dimensi tubuh, penilaian postur dengan metode RULA, dan hasil wawancara mendalam.
Untuk pengolahan data dari hasil kuesioner, terdiri dari beberapa tahap yaitu:
1. Data Coding
Data coding merupakan kegiatan mengklasifikasi data dan
memberikan kode untuk masing-masing kelas sesuai dengan tujuan dikumpulkannya data.
Pengkodean data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: a. Adanya ketidaknyamanan pada bagian tubuh : 0. Tidak
1. Iya
1)
Dengan frekuensi : 1. Kadang-kadang2.
Sering3.
Selalu2) Dengan Intensitas : 1. Tidak nyaman 2. Sakit
3. Sangat Sakit
b. Dimensi kursi : 1. Sesuai dengan dimensi tubuh pengguna 2. Tidak sesuai dengan dimensi tubuh pengguna
c. Skor analisis RULA berdasarkan level risiko : 1. Minimum: Skor 1-2 4. Kecil: Skor 3-4 5. Sedang: Skor 5-6 6. Tinggi: Skor 7 d. Indeks Massa Tubuh (IMT) : 1. Kurus: < 17,0 atau 17,0-18,5
2. Normal: 18,5-25,0 3. Gemuk: 25,0-27,0 atau > 27,0 e. Kebisingan : 1. < 55 dB 2. > 55 dB f. Pencahayaan : 1. > 60 lux 2. < 60 lux 3. Data Editing
Data editing adalah penyuntingan memeriksa kembali data yang
dilakukan sebelum proses pemasukan data (data entry). Penyuntingan data ini dilakukan di lapangan. Hal-hal yang dapat dilakukan meliputi:
a. Memeriksa kembali apakah semua jawaban responden dapat dibaca. b. Memeriksa kembali apakah semua pertanyaan yang diajukan kepada
responden telah dijawab.
c. Memeriksa kembali apakah hasil isian yang diperoleh sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh peneliti.
d. Memeriksa kembali apakah masih ada kesalahan-kesalahan lain yang terdapat pada kuesioner dan jawaban responden.
3. Data Structure
Data structure dikembangkan sesuai dengan analisis yang akan
dilakukan dan jenis perangkat lunak yang digunakan. 4. Data Entry
Data entry merupakan proses memasukkan data ke dalam program
atau fasilitas analisis data. 5. Data Cleaning
Data cleaning merupakan proses pembersihan data setelah data di
entri. Cara yang sering dilakukan adalah dengan melihat distribusi frekuensi dari variabel-variabel dan menilai kelogisannya. Untuk data continue dapat dilihat sebarannya untuk melihat ada atau tidaknya outliers.
Sedangkan pengolahan data untuk melihat kesesuaian dimensi kursi dengan dimensi tubuh dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Dikumpulkan data dimensi kursi yang terdiri dari tinggi dudukan, lebar alas duduk, kedalaman alas duduk, tinggi sandaran punggung, lebar sandaran punggung, tinggi sandaran tangan, dan panjang sandaran tangan serta data dimensi tubuh yang terdiri dari tinggi duduk tegak, tinggi bahu duduk, tinggi siku duduk, jarak pantat-popliteal, tinggi popliteal, lebar bahu (bideltoid dan biacromial), lebar pinggul, dan jarak siku ke ujung jari dari masing-masing responden.
2. Data tinggi dudukan yang terukur dibandingkan dengan data tinggi popliteal ibu, lebar alas duduk dibandingkan dengan lebar pinggul, kedalaman alas
duduk dibandingkan dengan jarak pantat-popliteal, tinggi sandaran punggung dibandingkan dengan tinggi duduk tegak atau tinggi bahu duduk, lebar sandaran punggung dibandingkan dengan lebar bahu (bideltoid atau biacromial), tinggi sandaran tangan dibandingkan dengan tinggi siku duduk, dan panjang sandaran tangan dibandingkan dengan jarak siku ke ujung jari. Kemudian masing-masing dilihat kesesuaian ukurannya antara dimensi kursi dan dimensi tubuh yang terukur.
3. Dilakukan pengklasifikasian pada masing-masing dimensi kursi, yaitu dimensi kursi yang sesuai dengan dimensi tubuh ibu dan dimensi kursi yang tidak sesuai dengan dimensi tubuh ibu.
Untuk pengolahan data penilaian postur dengan metode RULA, dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Memberi skor pada postur tubuh grup A yang terdiri dari lengan atas, lengan bawah, pergelangan tangan, dan putaran pergelangan tangan.
a. Kriteria penilaian lengan atas:
1) Skor 1 untuk pergerakan lengan atas sebesar 20o ke depan maupun ke belakang tubuh.
2) Skor 2 untuk pergerakan lengan atas lebih dari 20o ke belakang atau 20o-45o.
3) Skor 3 untuk pergerakan lengan atas 45o-90o
Penambahan atau pengurangan skor diberikan apabila sikap bahu naik (ditambah 1), lengan berputar atau bengkok (ditambah 1), dan terdapat sanggahan pada lengan atau lengan dalam posisi bersandar (dikurangi 1).
b. Kriteria penilaian lengan bawah:
1) Skor 1 untuk pergerakan lengan bawah sebesar 60o-100o.
2) Skor 2 untuk pergerakan lengan bawah 0o-60o atau lebih dari 100o. Penambahan skor diberikan apabila lengan bawah bekerja melewati garis tengah atau keluar dari sisi tubuh (masing-masing ditambah skor 1). c. Kriteria penilaian pergelangan tangan:
1) Skor 1 apabila pergelangan tangan berada pada posisi netral.
2) Skor 2 apabila pergerakan pergelagan tangan 0o-15o ke atas maupun ke bawah.
3) Skor 3 apabila pergerakan pergelangan tangan lebih dari 15o.
Penambahan skor diberikan apabila pergerakan pergelangan tangan menjauhi sisi tengah, yaitu ditambah skor 1.
d. Kriteria penilaian putaran pergelangan tangan:
1) Skor 1 apabila pergelangan tangan berada pada posisi tengah dari putaran.
2) Skor 2 apabila pergelangan tangan berada pada atau dekat dari putaran.
2. Setelah penilaian pada masing-masing postur tubuh pada grup A selesai diberikan, kemudian masing-masing skornya dimasukkan ke dalam tabel A. Pertemuan silang antara masing-masing skor akan menghasilkan skor postur tubuh grup A.
3. Skor postur tubuh grup A kemudian ditambahkan dengan skor aktivitas, yaitu untuk postur statis (satu atau lebih bagian tubuh statis atau diam) atau pengulangan (tindakan dilakukan berulang-ulang lebih dari empat kali per menit) ditambahkan skor 1.
4. Setelah ditambahkan skor aktivitas, ditambahkan juga skor beban dengan kriteria sebagai berikut:
a. Skor 0 ditambahkan untuk beban kurang dari 2 kg.
b. Skor 1 ditambahkan untuk beban 2-10 kg dan hanya sesekali dilakukan. c. Skor 2 ditambahkan untuk beban 2-10 kg dan jika postur statis dan
dilakukan berulang-ulang.
d. Skor 3 diberikan untuk beban lebih dari 10 kg.
5. Skor postur tubuh grup A, skor aktivitas, dan skor beban dijumlahkan. Hasil penjumlahannya dimasukkan pada tabel C.
6. Memberikan skor pada postur tubuh grup B yang terdiri dari leher, batang tubuh, dan kaki.
a. Kriteria penilaian leher:
1) Skor 1 diberikan apabila pergerakan leher 0o-10o ke depan. 2) Skor 2 diberikan apabila pergerakan leher 10o-20o ke depan.
3) Skor 3 diberikan apabila pergerakan leher lebih dari 20o ke depan. 4) Skor 4 diberikan apabila pergerakan leher ke atas (ekstensi).
Penambahan skor pada leher diberikan apabila leher berputar atau menekuk. Masing-masing ditambahkan skor 1.
b. Kriteria penilaian batang tubuh:
1) Skor 1 diberikan apabila berada pada posisi duduk dan ditopang dengan baik (terdapat sandaran) dengan sudut paha-tubuh 90o atau lebih.
2) Skor 2 diberikan apabila pergerakan batang tubuh 0o-20o atau ketika duduk tidak terdapat sandaran.
3) Skor 3 diberikan apabila pergerakan batang tubuh 20o-60o. 4) Skor 4 diberikan apabila pergerakan batang tubuh lebih dari 60o.
Penambahan skor pada batang tubuh dilakukan apabila batang tubuh berputar atau bungkuk. Masing-masing ditambahkan skor 1.
c. Kriteria penilaian kaki:
1) Skor 1 diberikan apabila posisi kaki normal atau seimbang dimana bobot tubuh tersebar merata pada kaki.
2) Skor 2 diberikan apabila posisi kaki tidak seimbang dimana kaki tidak tertopang atau bobot tubuh tidak tersebar merata.
7. Setelah penilaian pada masing-masing postur tubuh pada grup B selesai diberikan, kemudian masing-masing skornya dimasukkan ke dalam tabel B.
Pertemuan silang antara masing-masing skor akan menghasilkan skor postur tubuh grup B.
8. Setelah diperoleh hasil skor postur tubuh grup B, kemudian ditambahkan skor aktivitas dan skor beban sebagaimana disebutkan di atas.
9. Skor postur tubuh grup B, skor aktivitas, dan skor beban dijumlahkan. Hasil penjumlahannya dimasukkan pada tabel C.
10. Pertemuan silang antara skor hasil penjumlahan skor tubuh grup A, skor aktivitas, dan skor beban dengan skor hasil penjumlahan skor tubuh grup B, skor aktivitas, dan skor beban pada tabel C menghasilkan skor akhir RULA. 11. Skor akhir RULA kemudian digunakan untuk menentukan level risiko
ergonomi dan tindakan yang harus dilakukan.
Sedangkan pengolahan data hasil wawancara mendalam, dilakukan dengan cara mereduksi data hasil wawancara mendalam. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan. Miles dan Huberman (1984) dalam Sugiyono (2009)
Pada penelitian ini, hasil wawancara mendalam yang telah direkam, diterjemahkan secara tertulis berupa transkrip wawancara. Selanjutnya keseluruhan data tersebut dikumpulkan dan direduksi dan disajikan dalam bentuk teks naratif sesuai dengan tujuan dilakukannya wawancara mendalam.
G. Analisis Data
Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini hanya berupa analisis deskriptif dimana akan dilihat gambaran kenyamanan posisi duduk ibu saat menyusui berdasarkan masing-masing faktor yang mempengaruhi kenyamanan posisi duduk yang diteliti. Analisis data dilakukan dengan menggunakan program analisis data pada komputer.
Kajian pada analisis deskriptif meliputi penataan, peringkasan, dan penggambaran. Penataan pada umumnya berupa tabel-tabel baik tabel distribusi frekuensi maupun tabel silang yang melibatkan dua atau lebih variabel. Peringkasan meliputi ukuran pusat atau ukuran tengah dan ukuran penyebaran. Ukuran pusat misalnya modus, median, dan mean. Sedangkan ukuran penyebaran antara lain rentang, variasi, standard deviasi, dan lain-lain. Penggambaran data pada analisis deskriptif dapat berupa diagram batang, diagram lingkaran, histogram, dan sebagainya (Fajar, 2009). Setelah dilakukan analisis data, hasilnya kemudian diinterpretasikan dan dibahas sesuai dengan tujuan penelitian.
121
HASIL
A. Gambaran Kelurahan Pisangan
Kelurahan Pisangan merupakan salah satu kelurahan yang berada di Kecamatan Ciputat Timur Kota Tangerang Selatan. Batas wilayah Kelurahan Pisangan adalah sebagai berikut:
1. Sebelah utara : Cireundeu, Ciputat Timur 2. Sebelah selatan : Pondok Cabe Ilir, Pamulang 3. Sebelah timur : Cinere, Limo
4. Sebelah barat : Cempaka Putih, Ciputat Timur
Luas wilayah Kelurahan Pisangan adalah sebesar 405 ha/m2 dengan luas pemukiman 380 ha/m2. Penduduk di Kelurahan Pisangan berjumlah 29.779 orang yang terdiri dari 15.035 penduduk laki-laki (50,49%) dan 14.744 penduduk perempuan (49,51%). Kelurahan Pisangan terbagi menjadi 18 RW dengan 108 RT.
Kondisi lingkungan di Kelurahan Pisangan antara lain yaitu Kelurahan Pisangan mempunyai suhu rata-rata harian sekitar 24-34oC dan memiliki tingkat kebisingan yang tergolong tingkat kebisingan ringan. (Profil Kelurahan Pisangan, 2012)
Kelurahan Pisangan mempunyai posyandu yang aktif yang berjumlah 23 posyandu. Berikut daftar posyandu yang ada di Kelurahan Pisangan.
Tabel 5.1
Daftar Nama Posyandu di Kelurahan Pisangan
No. Nama Posyandu Alamat
1. Melati I Jl. Lurah Disah RT 02 RW 01 2. Melati II Jl. Legoso Raya RT 03 RW 07 3. Melati III Jl. Legoso Raya RT 06 RW 01 4. Mawar I Jl. H. Muri Salim RT 02 RW 02 5. Mawar II Jl. Puri Intan RT 04 RW 17 6. Mawar III Jl. Purnawarman RT 03 RW 02 7. Anggrek Jl. Legoso Gg. Gandaria RT 01 RW
02
8. Tulip Komplek Telkom
9. Nirwana Jl. Legoso Raya RT 04 RW 11
10. Wijaya Kusuma Jl. Legoso RT 04 RW 01
11. Kenanga Ciputat Molek RT 05 RW 07
12. Bugenvil Jl. Jambu II RT 01 RW 11 13. Nusa Indah I Jl. Kertamukti RT 04 RW 08 14. Flamboyan I Jl. Bungur RT 05 RW 08 15. Flamboyan II Jl. Sedap Malam RT 08 RW 08
16. Melon Jl. Tarumanegara RT 03 RW 10
17. Cempaka I Jl. Cirendeu Indah I RT 05 RW 03 18. Cempaka II Jl. Lebak Hijau Pemancingan RT 05
RW 05
19. Cempaka III Jl. Gelagah RT 02 RW 03
20. Dahlia Jl. Pluto Dalam RT 05 RW 04
21. Peruri Komplek Peruri RT 08 RW 02
22. Soka Jl. Pondok Hijau RW 09
23. Teratai Masjid Al Mabrur RT 01 RW 01
Sumber: Data Posyandu Kelurahan Pisangan Tahun 2012
B. Gambaran Posisi Duduk Ibu saat Menyusui di Kelurahan Pisangan Tahun 2013
Berdasarkan hasil observasi, diperoleh bahwa sebagian besar ibu yang menyusui dengan posisi duduk di Kelurahan Pisangan lebih memilih duduk di atas tempat duduk yang bukan kursi atau ibu tidak menggunakan kursi saat menyusui dengan duduk, yaitu sebesar 75,3% (55 orang) yang terdiri dari ibu yang lebih sering menyusui dengan duduk di atas tempat tidur 37% (27 orang), di atas lantai tanpa alas 37% (27 orang), dimana saja sesuai dengan keinginan ibu
tetapi bukan kursi (duduk di bawah bukan kursi) 1,4% (1 orang). Sedangkan ibu yang selalu menyusui dengan duduk di kursi berjumlah 18 orang (24,7%). Kursi yang digunakan ibu saat menyusui dengan posisi duduk di rumah terdiri dari kursi sofa atau sejenisnya 12,4% (9 orang), kursi makan 1,4% (1 orang), kursi kantor/kursi kerja yang dapat berputar/adjustment 1,4% (1 orang), kursi kecil 1,4% (1 orang), kursi plastik tanpa sandaran punggung dan tangan 1,4% (1 orang), kursi plastik dengan sandaran punggung dan tangan 1,4% (1 orang), dan kursi lainnya 5,5% (4 orang). Berikut tabel distribusi tempat duduk yang digunakan ibu saat menyusui dengan duduk:
Tabel 5.2
Distribusi Tempat Duduk yang Digunakan Ibu saat Menyusui dengan Posisi Duduk di Kelurahan Pisangan Tahun 2013
No. Tempat Duduk
yang Digunakan n % Jenis Tempat Duduk yang Digunakan n % 1. Bukan Kursi 55 75,3
Di atas tempat tidur 27 37 Di atas lantai 27 37 Di mana saja (di
bawah dan bukan kursi)
1 1,4
2. Kursi 18 24,7
Sofa dan sejenisnya 9 12,4 Kursi makan 1 1,4 Kursi kantor/kerja yang dapat berputar/adjustment 1 1,4 Kursi kecil 1 1,4 Kursi plastik tanpa
sandaran punggung dan tangan
1 1,4
Kursi plastik dengan sandaran punggung dan tangan
1 1,4
Kursi lainnya 4 5,5
Total 73 100 73 100
Gambar tempat duduk dan kursi-kursi yang digunakan ibu saat menyusui:
Gambar 5.1 Sofa dan Sejenisnya
Gambar 5.2 Kursi Makan
Gambar 5.3
Kursi kantor/kerja yang dapat berputar/adjustment
Gambar 5.4 Kursi Kecil
Gambar 5.5
Kursi Plastik tanpa Sandaran Punggung dan Tangan
Gambar 5.6
Kursi Plastik dengan Sandaran Punggung dan Tangan
Gambar posisi duduk ibu saat menyusui:
Secara umum, posisi duduk ibu saat menyusui adalah dengan salah satu tangan memegang bayi/menyangga/menopang kepala bayi (sesuai dengan payudara yang disusukan. Jika payudara kanan, tangan kanan ibu yang digunakan untuk menyangga kepala bayi. Jika payudara kiri, maka tangan kiri ibu yang digunakan untuk menyangga kepala bayi), dengan pandangan ibu mengarah ke bayi selama menyusui. Punggung ibu sedikit membungkuk dengan bersandar maupun tidak, memposisikan sedemikian rupa agar posisi payudara
Gambar 5.8
Posisi Duduk Ibu saat Menyusui Gambar 5.7
Contoh Salah Satu Kursi Lainnya
ibu pas dengan mulut bayi atau ibu menggunakan sanggahan (peralatan bantu, biasanya berupa bantal) pada tangan yang digunakan ibu untuk menyangga kepala bayi atau meniggikan posisi paha ibu agar posisi mulut bayi pas ke payudara ibu.
Tangan ibu yang tidak digunakan untuk menyangga bayi digunakan ibu untuk memegang payudara ibu yang sedang disusukan. Kaki ibu bersila atau selonjor (jika ibu menyusui tidak di atas kursi) atau kaki ibu menggantung secara vertikal (jika ibu menyusui dengan duduk di atas kursi) sesuai dengan posisi yang paling nyaman menurut ibu.
C. Gambaran Kenyamanan Posisi Duduk Ibu saat Menyusui di Kelurahan Pisangan Tahun 2013
Penilaian kenyamanan posisi duduk ibu saat menyusui dilakukan dengan tiga cara, yaitu dengan kuesioner Body Part Discomfort Scale, observasi perubahan sikap duduk ibu selama menyusui, dan wawancara mendalam terkait kenyamanan yang dirasakan ibu saat menyusui. Berdasarkan hasil kuesioner Body Part Discomfort Scale diperoleh bahwa sebesar 80,8% (57 orang)
menandai adanya ketidaknyamanan pada beberapa bagian tubuh selama menyusui berlangsung. Berikut ini disajikan tabel frekuensi dan intensitas ketidakyamanan pada beberapa bagian tubuh yang ditandai oleh ibu pada Body Part Discomfort Scale.
Tabel 5.3
Distribusi Frekuensi Ketidaknyamanan pada Beberapa Bagian Tubuh Ibu saat Menyusui dengan Posisi Duduk di Kelurahan Pisangan Tahun 2013 No. Bagian Tubuh
Frekuensi
Total (orang)
Kadang-kadang Sering Selalu
n % n % n % N % 1. Leher 6 8,2 1 1,4 1 1,4 8 11 2. Bahu kanan 14 19,2 6 8,2 1 1,4 21 28,8 3. Bahu kiri 10 13,7 3 4,1 1 1,4 14 19,2 4. Siku kanan 6 8,2 3 4,1 0 0 9 12,3 5. Siku kiri 11 15,1 4 5,5 1 1,4 16 21,9 6. Lengan bawah kanan 2 2,7 1 1,4 0 0 3 4,1 7. Lengan bawah kiri 4 5,5 2 2,7 1 1,4 7 9,6 8. Tangan/pergelangan tangan kanan