• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.7 Metode Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan studi dokumentasi, yaitu dengan mempelajari, mengklasifikasikan, dan menganalisis data sekunder yang terkait dengan lingkup penelitian ini. Data tersebut diperoleh dari

laporan keuangan perusahaan manufaktur sub sektor barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2010 sampai tahun 2015.

Pengumpulan data sekunder diperoleh dari media internet dengan cara mendownload melalui situs www.idx.co.id untuk memperoleh data mengenai laporan keuangan yang dibutuhkan dalam penelitian. Sedangkan untuk data mengenai harga saham dapat dilihat dan didownload dari situs www.finance.yahoo.com

3.8 Teknik Analisis Data

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan analisis kuantitatif yang dinyatakan dengan angka – angka yang dalam perhitungannya menggunakan metode statistik yang dibantu dengan program pengolahan data statitsik EViews. Metode – metode yang digunakan yaitu:

3.8.1 Analisis Statistik Deskriptif

Analisis statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisa data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi (Sugiyono, 2010:206). Analsis statistik deskriptif secara objektif mengklasifikasikan, menganalsis, dan menginterpretasikan data yang diteliti untuk mempermudah memahami variabel -variabel yang digunakan dalam penelitian.

3.8.2 Analisis Regresi Data Panel

Metode analisis yang digunakan adalah model regresi linier berganda yang persamaannya dapat dituliskan sebagai berikut.

Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 e

Keterangan:

Y = Return Saham a = Konstanta

b1 = Koefisien regresi variabel X1 b2 = Koefisien regresi variabel X2 b3 = Koefisien regresi variabel X3 b4 = Koefisien regresi variabel X4 b5 = Koefisien regresi variabel X5 X1 = Debt to Equity Ratio

X2 = Current Ratio X3 = Earning Per Share X4 = Return On Equity X5 = Ukuran Perusahaan (Size) e = Standard error

3.9 Uji Asumsi Klasik 3.9.1 Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah distribusi data mengikuti atau mendekat distribusi normal, yakni distribusi data berbentuk lonceng. Menurut Situmorang dan Lutfi (2014:114) berpendapat bahwa dengan adanya tes normalitas, maka hasil penelitian kita bisa digeneralisasikan pada populasi. Model

regresi yang baik adalah model yang memiliki distribusi data normal.

Pengujian normalitas dapat dilakukan dengan menggunakan analisis grafik

histogram. Pada analsis grafik histogram suatu data dikatakan berdistribusi normal ketika data tersebut berbentuk lonceng, tidak menceng ke kiri dan ke kanan. Selain dengan menggunakan analisis grafik histogram, uji normalitas dapat dilakukan dengan menggunakan uji Jarque Bera. Adapun kriteria pengambilan keputusan adalah sebagai berikut.

1. Jika p-value > α, maka data berdistribusi normal 2. Jika p-value < α, maka data tidak berdistribusi normal 3.9.2 Uji Heteroskedastisitas

Menurut Ajija et al. (2011:36) berpendapat bahwa heteroskedastisitas merupakan keadaan di mana semua gangguan yang muncul dalam fungsi regresi populasi tidak memiliki varians yang sama. Uji heterokedastisitas dapat dilakukan dengan cara seperti.

1. Melihat pola residual dari hasil estimasi regresi. Jika residual bergerak konstan, maka tidak ada heteroskedastisitas. Akan tetapi, jika residual

membentuk suatu pola tertentu, maka hal tersebut mengindikasikan adanya heterokedastisitas.

2. Untuk membuktikan dugaan pada uji heterokedastisitas, maka dilakukan uji White Heteroscedasticity yang tersedia dalam program Eviews. Hasil yang diperhatikan dari uji ini adalah nilai F dan Squared. Jika nilai Obs*R-Squared lebih kecil dari X 2 tabel, maka tidak terjadi heteroskedastisitas . Demikian juga, sebaliknya.

3.9.3 Uji Autokorelasi

Autokorelasi biasanya timbul pada data yang bersifat time series. Menurut Ajija et al. (2011:40) berpendapat bahwa autokorelasi menunjukkan korelasi di antara anggota serangkaian observasi yang diurutkan menurut waktu dan ruang. Salah satu cara untuk menguji ada tidaknya autokorelasi adalah dengan melakukan Uji Durbin – Watson (DW Test). Hipotesis yang akan diuji adalah sebagai berikut.

Ho = Tidak ada autokorelasi (r = 0) Ha = Ada autokorelasi (r ≠ 0)

Pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi ditunjukkan dalam Tabel 3.4 berikut ini.

Tabel 3.4

Pengambilan Keputusan Autokorelasi

Hipotesis nol Keputusan Jika

Tidak ada korelasi positif Tolak 0 < d < dl Tidak ada autokorelasi positif No Decision dl ≤ d ≤ du Tidak ada korelasi negatif Tolak 4 – dl < 4 < d Tidak ada autokorelasi negatif No Decision 4 – du ≤ d ≤ 4 – dl Tidak ada autokorelasi positif

maupun negatif

Tidak Ditolak Du < d < 4-du

Sumber: Ghozali (2009)

Selain Uji Durbin – Watson, untuk mengetahui ada atau tidaknya autokorelasi, dapat dilakukan Uji LM (metode Bruesch Godfrey). Metode ini didasarkan pada nilai F dan Obs*R-Squared, dimana jika nilai probabilitas dari Obs*R-Squared melebihi tingkat kepercayaan, maka Ho diterima. Artinya tidak ada masalah autokorelasi.

3.9.4 Uji Multikolinearitas

Uji multikolineartitas bertujuan untuk menguji apakah di dalam model regresi ditemukan hubungan yang tinggi antar variabel independen. Model regresi yang baik seharusnya antar variabel independen tidak terjadi korelasi. Untuk mengetahui ada tidak multikolinearitas dalam model regresi adalah sebagai berikut.

1. Nilai R 2 yang dihasilkan oleh suatu estimasi model regresi empiris sangat tinggi, tetapi secara individual variabel – variabel bebas banyak tidak signifikan mempengaruhi variabel terikat.

2. Menurut Ajija et al. (2011: 35) berpendapat bahwa ada tidaknya multikolinearitas dapat diketahui atau dilihat dari koefisien korelasi masing -masing variabel bebas. Jika koefisien korelasi di antara -masing – -masing variabel bebas > 0,8 maka terjadi multikolinearitas.

3.10 Uji Hipotesis

Pengujian hipotesis dapat dilakukan secara serempak (Uji F), secara parsial (Uji t), dan koefisien determinasi.

3.10.1 Uji F (Uji Serempak)

Uji F bertujuan untuk mengetahui apakah semua variabel independen mempengaruhi variabel independen secara serempak. Hipotesis ini dirumuskan sebagai berikut.

H0 = b1 = b2 = b3 = 0, artinya Debt To Equity Ratio, Current Ratio, Return On Equity, Earning Per Share dan Size secara simultan berpengaruh tidak

signifikan terhadap tingkat pengembalian (Return) Saham pada Perusahaan Manufaktur Sektor Barang Konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Ha: b1 ≠ b2 ≠ b3 ≠ 0 artinya Debt To Equity Ratio, Current Ratio, Return On Equity, Earning Per Share dan Size secara simultan berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengembalian (Return) Saham pada Perusahaan Manufaktur Sektor Barang Konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Jika Fhitung < Ftabel atau nilai signifikan (α) ≥ 0.05, maka H0 diterima.

Jika Fhitung ≥ Ftabel atau nilai signifikan (α) ≤ 0.05, maka Ha diterima.

3.10.2 Uji t (Uji Parsial)

Uji t bertujuan untuk mengetahui apakah masing – masing variabel independen (secara parsial) mempunyai pengaruh yang signfikan terhadap variabel dependen dengan asumsi variabel independen yang lain dianggap konstan. Hipotesis ini dirumuskan sebagai berikut.

H0 : bi = 0, artinya, Debt To Equity Ratio, Current Ratio, Return On Equity, Earning Per Share dan Size secara parsial berpengaruh tidak signifikan terhadap tingkat pengembalian (Return) Saham.

Ha : bi ≠ 0, artinya, Debt To Equity Ratio, Current Ratio, Return On Equity, Earning Per Share dan Size secara parsial berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengembalian (Return) Saham.

Kriteria pengambilan keputusannya sebagai berikut:

Jika thitung ≤ ttabel atau nilai signifikan (α) ≥ 0.05, maka H0 diterima.

Jika thitung ≥ ttabel atau nilai signifikan (α) ≤ 0.05, maka Ha diterima.

3.10.3 Koefisien Determinasi (R2 )

Koefisien determinasi pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan modal dalam menerangkan variasi variabel terikat (Kuncoro, 2013:246). Nilai koefisien determinasi adalah di antara nol dan satu. Nilai R 2 yang kecil berarti kemampuan variabel dalam menjelaskan variabel dependen amat rendah. Nilai yang mendekati satu berarti variabel – variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Perusahaan

4.1.1 Sejarah Bursa Efek Indonesia

Pasar modal atau Bursa Efek berdiri sejak jaman kolonial belanda pada tahun 1912 didirikan di Batavia, pusat pemerintahan kolonial Belanda dan pada saat ini dikenal sebagai Jakarta. Pasar modal tersebut didirikan oleh pemerintahan Belanda untuk kepentingan pemerintahan Belanda. Meskipun pasar modal di Indonesia telah ada sejak tahun 1912, namun perkembangan dan pertumbuhan pasar modal tersebut tidak berjalan seperti yang diharapkan. Pasar modal yang awalnya dikenal dengan nama Bursa Batavia ini pernah ditutup selama periode perang dunia pertama pada sekitar tahun 1914 sampai tahun 1918 kemudian bursa efek ini dibuka lagi pada tahun 1925. Selain mengoperasikan bursa Batavia pemerintahan kolonial belanda juga mulai mengoperasikan bursa paralel di Surabaya dan Semarang. Namun, kegiatan bursa ini kembali dihentikan kembali ketika terjadi pendudukan pemerintahan jepang di Batavia pada saat perang dunia kedua. Pemerintah Republik Indonesia mengaktifkan kembali pasar modal pada tahun 1977, dan beberapa tahun kemudian pasar modal mengalami pertumbuhan seiring dengan berbagai insentif dan regulasi yang dikeluarkan pemerintah.

4.1.2 Gambaran Umum Perusahaan Sektor Industri Barang Konsumsi 1. PT. Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk.

PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (Perusahaan) didirikan pada tanggal 26 Januari 1990. Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir melalui Akta Pernyataan Keputusan Rapat No. 135 tanggal 31 Juli 2015.

Sesuai dengan pasal 3 anggaran dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Perusahaan meliputi usaha bidang perdagangan, perindustrian, perkebunan, pertanian, ketenagalistrikan dan jasa. Sedangkan kegiatan usaha entitas anak meliputi usaha industri mie dan perdagangan mie, khususnya mie kering, mie instan dan bihun, snack, industri biskuit dan permen, perkebunan kelapa sawit, pembangkit tenaga listrik, pengolahan dan distribusi beras. Perusahaan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1990. Kantor pusat Perusahaan beralamat di Gedung Plaza Mutiara lt.16 Suite 1601, Jl. Dr. Ida Anak Agung Gde Agung Kavling E 1.2 No. 1 & 2 Jakarta.

Lokasi pabrik mie kering, biskuit dan permen terletak di Sragen, Jawa Tengah.

Lokasi pabrik bihun jagung terletak di Balaraja, Tangerang. Lokasi pabrik makanan ringan terletakm di Gunung Putri, Medan, Banjarmasin dan Sragen, Jawa Tengah.

Usaha perkebunan kelapa sawit terletak di beberapa lokasi di Sumatera dan Kalimantan. Usaha pengolahan dan distribusi beras terletak di Cikarang, Jawa Barat dan Sragen, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan.

2. PT. Wilmar Cahaya Indonesia, Tbk.

Sesuai dengan Akta Pernyataan Keputusan Rapat Perusahaan tanggal 27 Juni 1997 Perusahaan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1971 dan ruang lingkup kegiatan usaha Perusahaan meliputi produksi minyak nabati dan minyak nabati khusus untuk industri makanan dan perdagangan umum, termasuk impor dan

ekspor. Kantor pusat Perusahaan terletak di Kawasan Industri Jababeka II, Jl. Industri Selatan 3 Blok GG No. 1, Cikarang, Bekasi 17550, Jawa Barat. Lokasipabrik Perusahaan terletak di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Jawa Barat dan Pontianak, Kalimantan Barat. PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk. merupakan perusahaan dibawah Grup Wilmar International Limited (”WIL”). WIL merupakan perusahaan yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Singapura. Entitas induk Perusahaan adalah Tradesound Investments Limited dan entitas pengendali pemegang saham Perusahaan adalah Wilmar International Limited.

3. PT. Delta Djakarta, Tbk.

Pabrik “Anker Bir” didirikan pada tahun 1932 dibawah nama Archipel Brouwerij. Perusahaan berganti nama NV De Oranje Brouwerij ketika dibawah perusahaan Belanda. Perusahaan memakai nama PT Delta Djakarta pada tahun 1970.

PT Delta Djakarta Tbk (“Perusahaan”) didirikan dalam rangka Undang-Undang Penanaman Modal Asing No. 1 tahun 1967 yang telah diubah dengan Undang-Undang No. 11 tahun 1970 berdasarkan akta No. 35 tanggal 15 Juni 1970.

Perusahaan dan pabriknya berlokasi di Jalan Inspeksi Tarum Barat, Bekasi Timur – Jawa Barat. Sesuai dengan pasal 3 anggaran dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Perusahaan yaitu terutama untuk memproduksi dan menjual bir pilsener dan bir hitam dengan merek “Anker”, “Carlsberg”, “San Miguel”, “San Mig Light” dan

“Kuda Putih”. Beberapa produk Perusahaan dan merek label khusus lainnya diekspor ke beberapa negara lain. Perusahaan mulai beroperasi sejak tahun 1933. Jumlah rata-rata karyawan Perusahaan dan entitas anak tahun 2015 dan 2014 masing-masing

sejumlah 392 orang dan 412 orang. Perusahaan merupakan salah satu anggota dari San Miguel Corporation (SMC), Filipina. Perusahaan induk utama Perusahaan adalah Top Frontier Investment Holdings, Inc, terletak di Filipina.

4. PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk.

PT Indofood Sukses Makmur Tbk, yang didirikan dengan nama PT Panganjaya Intikusuma di tahun 1990. Memulai kegiatan usaha di bidang makanan ringan melalui perusahaan patungan dengan Fritolay Netherlands Holding B.V., perusahaan afiliasi PepsiCo Inc. Pada tahun1994 mengganti nama menjadi PT Indofood Sukses Makmur dan mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (“BEI”).

Perusahaan memulai integrasi bisnis melalui akuisisi pabrik penggilingan gandum Bogasari pada tahun 1995. Perusahaan kemudian memperluas integrasi bisnisnya pada tahun 1997 dengan mengakuisisi grup perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan, agribisnis dan distribusi. Tahun 2005, perusahaan memulai kegiatan usaha di bidang perkapalan dengan mengakuisisi PT Pelayaran Tahta Bahtera.

Perusahaan mencatatkan saham Grup Agribisnis, Indofood Agri Resources Ltd., di Bursa Efek Singapura (“SGX”) pada tahun 2007. Grup Agribisnis memperluas perkebunannya dengan mengakuisisi PT PP London Sumatra Indonesia Tbk, sebuah perusahaan perkebunan, yang sahamnya tercatat di BEI. Kemudian pada tahun 2008 Grup Agribisnis memasuki kegiatan usaha gula dengan mengakuisisi PT Lajuperdana Indah. Grup Consumer Branded Products (“CBP”) memasuki kegiatan usaha dairy melalui akuisisi PT Indolakto, salah satu produsen produk dairy terkemuka di Indonesia. Pada tahun 2010, perusahaan mencatatkan saham Grup CBP, PT Indofood

CBP Sukses Makmur Tbk, di BEI. Tahun 2011, perusahaan mencatatkan saham PT Salim Ivomas Pratama Tbk, anak perusahaan pada Grup Agribisnis, di BEI.

Tahun 2013 Grup CBP memasuki kegiatan usaha minuman melalui perusahaan patungan dengan Asahi Group Holdings Southeast Asia Pte. Ltd., yang didirikan pada tahun 2012. Grup Agribisnis memperluas kegiatan usaha gula ke Brasil dan Filipina melalui penyertaan saham di Companhia Mineira de Açúcar e Álcool Participações dan Roxas Holdings Inc.. Memasuki kegiatan usaha budidaya dan pengolahan sayuran dengan mengakuisisi China Minzhong Food Corporation Limited, sebuah perusahaan pemrosesan sayuran terintegrasi di Tiongkok, yang sahamnya tercatat di SGX.

5. PT. Multi Bintang Indonesia, Tbk.

Perseroan didirikan pada tanggal 3 Juni 1929 berdasarkan akta notaris No. 8 dari Tjeerd Dijkstra, notaris di Medan, dengan nama N.V. Nederlandsch Indische Bierbrouwerijen. Perseroan berdomisili di Indonesia dengan kantor pusat berlokasi di Talavera Office Park Lantai 20, Jl. Let. Jend. TB Simatupang Kav. 22-26, Jakarta 12430, dan pabrik berlokasi di Jl. Daan Mogot KM. 19, Tangerang 15122 dan Jl.

Raya Mojosari – Pacet KM. 50, Sampang Agung, Jawa Timur. Perseroan adalah bagian dari Kelompok Heineken, dimana pemegang saham utama adalah Heineken Holding N.V. (Heineken). Perseroan memulai operasi komersial pada tahun 1929.

Pada tanggal 31 Desember 2015 dan 2014, Perseroan dan entitas anak mempunyai masing-masing 475 dan 494 karyawan.

6. PT. Mayora Indah, Tbk.

PT Mayora Indah Tbk (Perusahaan) didirikan dengan Akta No. 204 tanggal 17 Februari 1977. Sesuai dengan pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Perusahaan adalah menjalankan usaha dalam bidang industri, perdagangan serta agen/perwakilan. Saat ini Perusahaan menjalankan bidang usaha industri makanan, kembang gula dan biskuit.

Perusahaan menjual produknya di pasar lokal dan luar negeri. Perusahaan memulai usahanya secara komersial pada bulan Mei 1978. Kantor pusat Perusahaan terletak di Gedung Mayora, Jl. Tomang Raya No. 21-23, Jakarta, sedangkan pabrik Perusahaan terletak di Tangerang dan Bekasi.

7. PT. Sekar Laut, Tbk.

PT Sekar Laut Tbk (“Entitas“) didirikan berdasarkan akta notaris No.120 tanggal 19 Juli 1976 dari Soetjipto, SH, notaris di Surabaya. Entitas bergerak dalam bidang industri pembuatan kerupuk, saos tomat, sambal dan bumbu masak serta menjual produknya di dalam negeri maupun di luar negeri. Entitas dikontrol oleh Sekar Group. Entitas beroperasi secara komersial pada tanggal 19 Juli 1976. Pabrik berlokasi di Jalan Jenggolo II/17 Sidoarjo, Jawa Timur. Jumlah karyawan konsolidasian masing-masing 1.819 dan 1.499 orang pada tanggal 31 Desember 2015 dan 2014. Kantor cabang Entitas di Jalan Raya Darmo No. 23-25, Surabaya, Jawa Timur.

8. PT. Siantar Top, Tbk.

PT Siantar Top Tbk (Entitas) didirikan berdasarkan akta No. 45, tanggal 12 Mei 1987 Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar Entitas, ruang lingkup kegiatan Entitas terutama bergerak dalam bidang industri makanan ringan, yaitu mie (snack noodle), kerupuk (crackers) dan kembang gula (candy). Entitas berdomisili di Sidoarjo, Jawa Timur dengan pabrik berlokasi di Sidoarjo (Jawa Timur), Medan (Sumatera Utara), Bekasi (Jawa Barat) dan Makassar (Sulawesi Selatan). Kantor pusat Entitas beralamat di Jl. Tambak Sawah No. 21-23 Waru, Sidoarjo. Entitas mulai beroperasi secara komersial pada bulan September 1989. Hasil produksi Entitas dipasarkan di dalam dan di luar negeri, khususnya Asia.

9. PT. Ultrajaya Milk Industry and Trading Company, Tbk.

PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk., selanjutnya disebut

"Perseroan", didirikan dengan Akta No. 8 tanggal 2 Nopember 1971 Perseroan bergerak dalam bidang industri makanan dan minuman. Di bidang minuman, Perseroan memproduksi minuman seperti susu cair, sari buah, teh, minuman tradisional dan minuman kesehatan, yang diolah dengan teknologi UHT (Ultra High Temperature) dan dikemas dalam kemasan karton aseptik. Di bidang makanan, Perseroan memproduksi susu kental manis, susu bubuk dan konsentrat buah-buahan tropis. Perseroan memasarkan produknya dengan penjualan langsung, penjualan tidak langsung dan melalui pasar modern. Penjualan langsung dilakukan ke toko-toko, P&D (Proviand & Drank)/toko Makanan/Minuman, kios-kios, dan pasar tradisional lain dengan menggunakan armada milik Perseroan. Penjualan tidak langsung dilakukan melalui agen/distributor yang tersebar di seluruh wilayah kepulauan

Indonesia. Penjualan melalui modern trade dilakukan ke minimarket, supermarket, dan hypermarket. Perseroan juga melakukan penjualan ekspor ke beberapa negara.

10. PT. Gudang Garam, Tbk.

PT Gudang Garam Tbk (IDX: GGRM) adalah sebuah merek/perusahaan produsen rokok populer asal Indonesia. Didirikan pada 26 Juni 1958 oleh Surya Wonowidjojo, perusahaan rokok ini merupakan peringkat kelima tertua dan terbesar (setelah Djarum) dalam produksi rokok kretek. Perusahaan ini memiliki kompleks tembakau sebesar 514 are di Kediri, Jawa Timur. Gudang Garam didirikan pada 26 Juni 1958 oleh Tjoa Jien Hwie atau Surya Wonowidjoyo. Sebelum mendirikan perusahaan ini, di saat berumur sekitar dua puluh tahun, Tjoa Jien Hwie mendapat tawaran bekerja dari pamannya di pabrik rokok Cap 93 yang merupakan salah satu pabrik rokok terkenal di Jawa Timur pada waktu itu. Berkat kerja keras dan kerajinannya dia mendapatkan promosi dan akhirnya menduduki posisi direktur di perusahaan tersebut.

Pada tahun 1956 Tjoa Jien Hwie meninggalkan Cap 93. Dia memilih lokasi di jalan Semampir II/l, Kediri, di atas tanah seluas ± 1000 m2 milik Bapak Muradioso yang kemudian dibeli perusahaan, dan selanjutnya disebut Unit I ini, ia memulai industri rumah tangga memproduksi rokok sendiri, diawali dengan rokok kretek dari kelobot dengan merek Inghwie. Setelah dua tahun berjalan Ing Hwie mengganti nama perusahaannya menjadi Pabrik Rokok Tjap Gudang Garam. PT Gudang Garam Tbk tidak mendistribusikan secara langsung melainkan melalui PT Surya Madistrindo lalu kepada pedagang eceran kemudian baru ke konsumen atau produsen.

11. PT. Handjaya Mandala Sempoerna, Tbk.

PT HM Sampoerna Tbk. / PT Hanjaya Mandala Sampoerna (IDX: HMSP) adalah perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Kantor pusatnya berada di Surabaya, Jawa Timur. Pada tahun 1913, Liem Seeng Tee dan istrinya Siem Tjiang Nio, imigran Tionghoa dari Fujian, Tiongkok memulai kegiatan produksi rokok secara komersial sebagai industri rumah tangga. Pada tahun 1930, industri rumah tangga ini diresmikan secara resmi dengan nama NVBM Handel Maatschapij Sampoerna.

Perusahaan ini meraih kesuksessan dengan merek Dji Sam Soe pada tahun 1930-an hingga kedatangan Jepang pada tahun 1942 yang memporak-porandakan bisnis tersebut. Setelah masa tersebut, putra Liem, Aga Sampoerna mengambil alih kepemimpinan dan membangkitkan kembali perusahaan tersebut dengan manajemen yang lebih modern. Nama perusahaan juga berubah seperti namanya yang sekarang ini. Selain itu, melihat kepopuleran rokok cengkeh di Indonesia, dia memutuskan untuk hanya memproduksi rokok kretek saja. PT HM Sampoerna Tbk. resmi didirikan pada tahun 1963.

Generasi berikutnya, Putera Sampoerna adalah generasi yang membawa HM Sampoerna melangkah lebih jauh dengan terobosan-terobosan yang dilakukannya, seperti perkenalan rokok bernikotin rendah, A Mild dan perluasan bisnis melalui kepemilikan di perusahaan supermarket Alfa, dan untuk suatu saat, dalam bidang perbankan.

Pada tahun 2000, putra Putera, Michael, masuk ke jajaran direksi dan menjabat sebagai CEO. Perusahaan ini sebelumnya merupakan perusahaan yang dimiliki keluarga Sampoerna, namun sejak Mei 2005 kepemilikan mayoritasnya berpindah tangan ke Philip Morris International, perusahaan rokok terbesar di dunia dari Amerika Serikat, mengakhiri tradisi keluarga yang melebihi 90 tahun.

Pada tahun 2013, PT HM Sampoerna memenangkan Anugerah Produk Pertanian Berdaya Saing kategori CSR. Presiden Direktur PT HM Sampoerna Tbk., Paul Norman Janelle, mengumumkan pabrik SKM (Sigaret Kretek Mesin) baru di Karawang yang diresmikan pertengahan tahun 2014 akan difokuskan untuk tujuan ekspor.

12. PT. Bentoel Internasional Investama, Tbk.

PT Bentoel Internasional Investama Tbk (“Perseroan” atau “BINI”) didirikan pada tahun 1987 dengan nama PT Rimba Niaga Idola. Perseroan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1989 dan pada saat itu bergerak dalam bidang industri rotan. Pada tahun 2000, Perseroan mengubah namanya menjadi PT Bentoel Internasional Investama Tbk. Saat ini ruang lingkup kegiatan Perseroan seperti yang tertuang dalam Anggaran Dasarnya adalah perdagangan umum, industri dan jasa, kecuali jasa di bidang hukum dan pajak. Perseroan berdomisili di Jakarta, Indonesia, dengan kantor pusat beralamat di Plaza Bapindo, Jl. Jend. Sudirman Kav. 54-55, Jakarta. Fasilitas manufaktur Perseroan terdapat di Malang, Jawa Timur, Indonesia.

Efektif sejak tanggal 1 September 2013, PT Bentoel Distribusi Utama (“BDU”), entitas anak, menandatangani perjanjian dengan entitas anak lainnya dari Grup yang

bertindak sebagai produsen rokok untuk melakukan fungsi distribusi atas produk-produk rokok yang diproduk-produksi oleh Grup. Terkait dengan ini, perjanjian distribusi sebelumnya antara Perseroan dengan entitas anak dari Grup telah berakhir. Entitas induk langsung Perseroan adalah British American Tobacco (2009 PCA) Ltd,

bertindak sebagai produsen rokok untuk melakukan fungsi distribusi atas produk-produk rokok yang diproduk-produksi oleh Grup. Terkait dengan ini, perjanjian distribusi sebelumnya antara Perseroan dengan entitas anak dari Grup telah berakhir. Entitas induk langsung Perseroan adalah British American Tobacco (2009 PCA) Ltd,