BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Metode Penilaian Ergonomi Rapid Entire Body Assesment
Rapid Entire Body Assesment (REBA) merupakan metode dalam pengkajian posisi tubuh saat bekerja dengan menggunakan suatu lembar observasi. Metode ini sudah banyak digunakan dalam berbagai industri seperti industri kesehatan. Hasil pengkajian meliputi postur tubuh saat bekerja dan gerakan yang dilakukan seperti gerakan berulang. Hasil pengkajian menggunakan REBA berguna untuk menentukan tingkat resiko saat bekerja, sehingga pencegahan dapat dilakukan dengan perbaikan
postur sesuai dengan prinsip ergonomi (Highnett & McAtamney, 2000 dalam Rina, 2016).
Kelebihan metode ini antara lain:
1. Cara yang cepat dalam pengkajian posisi tubuh saat bekerja
2. Mengkaji faktor-faktor yang menjadi resiko penyimpangan ergonomi seperti postur tubuh dalam pekerjaan, genggaman atau grip yang digunakan dalam bekerja, alat-alat bekerja yang digunakan dan pekerjaan statis atau berulang 3. Bisa dipergunakan dalam mengkaji sikap tubuh yang stabil maupun yang tidak
stabil
4. Nilai final bisa digunakan untuk mengatasi permasalahan dengan melakukan beberapa perubahan pada postur tubuh saat bekerja
5. Dari proses analisa yang telah dilakukan dapat ditentukan peralatan bekerja dan cara bekerja lebih tepat.
Sedangkan kelemahan atau kekurangan dari metode ini yaitu yang dinilai hanyalah sikap tubuh saat bekerja dengan tidak menilai keadaan fisik pekerja serta faktor psikososial. Selain itu metode ini tidak menilai situasi di tempat bekerja seperti vibrasi, suhu serta jarak pandang (Rina, 2016).
Untuk menilai postur tubuh digunakan form REBA dengan alat untuk menulis.
Penilai melakukan penilaian dengan mengamati bagian tubuh, yaitu pergelangan tangan, lengan bagian bawah, lengan bagian atas, bahu, leher, badan, punggung, paha dan lutut. Kemudian hasil penilaian disatukan dan dilakukan penghitungan jumlah
skor. Berikut adalah tingkat resiko yang dialami berdasarkan skor yang telah diperoleh dapat dilihat (Tarwaka, 2010).
1. Resiko diabaikan (nilai 1), tidak memerlukan perbaikan posisi 2. Resiko kecil (nilai 2 sampai 3), memerlukan sedikit perbaikan posisi
3. Resiko menengah (nilai 4 sampai 7), perlu perbaikan posisi dan pemeriksaan 4. Resiko tinggi (nilai 8 sampai 10), sangat perlu perbaikan posisi dan pemeriksaan 5. Resiko sangat tinggi (nilai lebih dari 10), harus melakukan pengubahan posisi
Dalam metode REBA, penilaian dilakukan dengan membagi bagian tubuh menjadi grup A yaitu punggung, leher dan kaki serta grup B yaitu lengan atas, lengan bawah dan pergelangan tangan. Nilai A ditambahkan dengan nilai beban dan nilai B ditambahkan dengan nilai pegangan. Hasil A dan B kemudian dijumlahkan dan jumlahnya menjadi skor C. untuk menentukan skor akhir, skor C kemudian dijumlahkan dengan skor aktivitas. Skor akhir kemudian dapat digunakan untuk menentukan resiko postur bekerja yang digunakan. Gambar 2.1 berikut merupakan skema proses penilaian dengan menggunakan lembar penilaian REBA.
Alur proses penilaian metode REBA
+ +
+
Skema 2.1 Alur penilaian dengan metode REBA (Tarwaka, 2010) Lengan Lengan bawah
Lengan atas
Grup A Badan Grup B
Leher Kaki
A B
Nilai beban Nilai pegangan
Nilai B Nilai A
C
Nilai aktivitas otot
Nilai akhir
2.4 Metode Penilaian Nyeri Punggung Bawah Oswestry Low Back Pain Disability Questionnaire
Oswestry Low back pain Disability Questionnaire yang juga dikenal dengan Oswestry Disability Index (ODI) adalah suatu alat berupa kuesioner yang digunakan untuk mengukur kecacatan fungsional. Kuesioner ini dianggap sebagai gold standard dalam penilaian nyeri punggung bawah. Fairbankaks dkk adalah yang pertama menggunakan kuesioner ini pada tahun 1980 dan telah dimodifikasi atau diubah beberapa kali. Perubahan pertama dengan mengganti pertanyaan tentang penggunaan obat pengurang nyeri dengan pertanyaan tentang intensitas nyeri. Kemudian perubahan kedua dengan mengganti pertanyaan tentang kehidupan seksual dengan pertanyaan tentang pekerjaan atau aktifitas di rumah. Hal ini dikarenakan hampir 20% responden, khususnya responden-responden di negara timur tidak mau mengisi atau menjawab pertanyaan tentang kehidupan seksual tersebut (Wahyuddin, 2016).
Kuesioner ini terdiri dari 10 pertanyaan dengan masing-masing pertanyaan terdiri dari 6 pilihan. Pilihan 1 diberi nilai 0, pilihan 2 diberi nilai 1, pilihan 3 diberi nilai 2, pilihan 4 diberi nilai 3, pilihan 5 diberi nilai 4, dan pilihan 6 diberi nilai 5. Dari 10 pertanyaan tersebut, seluruh nilai yang didapat kemudian dijumlahkan dan selanjutnya dimasukkan ke dalam rumus berikut:
Total nilai
50 × 100 = ⋯ %
Hasil:
1. 0%-20% : Gangguan minimal (Minimal disability), masih bisa mengerjakan pekerjaan sehari-hari tanpa disertai timbulnya nyeri
2. 21%-40% : Gangguan sedang (Moderate disability), nyeri terasa sedang dan cukup sulit mengerjakan pekerjaan sehari-hari
3. 41%-60% : Gangguan berat (Severe disability), sering merasa nyeri sehingga kegiatan sehari-hari sering terhambat akibat nyeri
4. 61%-80% : Gangguan sangat berat (Crippled), seluruh kegiatan sehari-hari terhambat akibat nyeri yang timbul
5. 81%-100% : Sama sekali tidak bisa melakukan aktivitas apapun karena merasa sangat tersiksa oleh nyeri yang timbul.
2.5 Penenun Ulos
Orang yang bekerja sebagai penenun ulos dalam bahasa Batak Toba disebut dengan partonun. Umumnya yang bekerja sebagai penenun ulos adalah perempuan, baik ibu-ibu, anak gadis maupun anak-anak. Dalam menenun ulos dibutuhkan ksabaran dan keterampilan. Banyak ibu-ibu rumah tangga menjadikan kegiatan menenun ulos ini sebagai mata pencaharian utama mereka. Alat tenun tradisional gedokan yang berbahan kayu masih banyak digunakan. Alat ini harus digunakan secara manual. Posisi penenun yang menggunakan gedokan adalah duduk di atas alat tenun tersebut dengan kedua kaki diluruskan. Dalam menenun ulos tidak diperlukan
tingkat pendidikan yang tinggi, namun membutuhkan kesabaran, ketelitian, ketekunan dan keuletan dalam mengerjakannya (Siregar, 2017).
Ulos merupakan kain hasil tenun yang berasal dari Daerah Batak dan menjadi salah satu benda yang menjadi kebanggaan Suku batak. Ulos artinya selimut atau kain yang dapat digunakan sebagai selimut untuk melindungi tubuh dari udara dingin dan memberikan kehangatan pada tubuh bahkan kehangatan pada jiwa (Siregar, 2017).
Bagi suku Batak, ulos sangat berharga dan mengandung makna yang amat penting.
Jelas terlihat dari perilaku suku Batak yang selalu menggunakan ulos dalam berbagai upacara ritual Batak seperti upacara kelahiran, kematian, pernikahan, dan upacara ritual Batak lainnya. Ulos juga memiliki nilai ekonomis yang tinggi karena bukan hanya digunakan dalam berbagai upacara ritual, tapi ulos juga dapat digunakan menjadi berbagai kerajinan tangan bahkan menjadi pakaian (Giovana, 2017).
BAB 3
KERANGKA PENELITIAN
3.1 Kerangka Penelitian
Bagian ini akan membahas tentang kerangka penelitian, yakni skema berisi variabel-variabel penelitian serta hubungan antar variabel tersebut. Kerangka penelitian ini menunjukkan hubungan antara posisi bekerja, durasi bekerja dan masa kerja dengan kejadian Nyeri Punggung Bawah (NPB) pada masyarakat penenun ulos di Desa Lumban Suhi-Suhi. Variabel bebas penelitian ini ialah posisi bekerja, durasi bekerja dan masa kerja, sedangkan variabel bebas adalah Nyeri Punggung Bawah (NPB).
Selain posisi bekerja, durasi bekerja dan masa kerja, terdapat faktor-faktor lainnya yang bisa mendorong menimbulkan nyeri punggung bawah. Faktor-faktor tersebut meliputi faktor individu, faktor pekerjaan lainnya dan faktor lingkungan.
Kerangka penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut:
Skema 3.1 Kerangka penelitian hubungan antara posisi, durasi dan masa bekerja
3.2 Defenisi Operasional
Tabel 3.1. Defenisi operasional variabel penelitian
Variabel Defenisi Alat ukur Hasil Skala Skala
Pengukuran
efektif/ berlebih
sangat berat 5(81%-100%):
Sangat tersiksa oleh nyeri
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain analisis korelasi yang bertujuan menganalisis hubungan beberapa variabel bebas, yakni posisi bekerja, durasi bekerja dan masa bekerja dengan variabel terikatnya, yakni Nyeri Punggung Bawah (NPB). Penelian ini juga akan menganalisis variabel bebas yang memiliki hubungan paling kuat dengan variabel terikat. Pendekatan atau rancangan penelitian yang dipakai ialah cross sectional, yang mana waktu penilaian atau observasi data hanya dilakukan sekali saja tanpa disertai tindak lanjut.
4.2 Populasi dan Sampel
4.2.1 Populasi
Populasi pada penelitian ini ialah semua masyarakat dengan profesi penenun ulos di Desa Lumban Suhi-suhi, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir yakni sebanyak 104 orang.
4.2.2 Sampel
Dalam penelitian ini, peneliti menetapkan jumlah responden minimal dengan memakai rumus slovin, yaitu:
𝑛 = 𝑁 1 + 𝑁𝑒2 Dimana:
n = jumlah responden 𝑁 = jumlah populasi
E = batas toleransi kesalahan (error tolerance), dimana penelitian ini
menggunakan 10% batas toleransi kesalahan dengan tingkat akurasi 90%
Besar sampel minimal yang akan diteliti adalah:
𝑛 =
1+104 0,1 104 2𝑛 =
2,04104𝑛 = 50,9 𝑑𝑖𝑏𝑢𝑙𝑎𝑡𝑘𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑑𝑖 51
Dalam penelitian ini, peneliti bisa saja melibatkan lebih dari 51 sampel, namun karena keterbatasan waktu penelitian, maka peneliti memilih melakukan penelitian dengan sampel minimal yaang berjumlah 51 orang. Proses untuk mengumpulkan responden ialah dengan teknik convenience atau accidental sampling dimana peneliti langsung mengambil subjek yang ditemui sebagai responden dalam penelitian jika memenuhi kriteria sampel di tempat yang akan diteliti. Adapun kriteria responden yang telah ditentukan adalah calon responden harus sedang melakukan pekerjaan menenun ulos dan tidak memiliki riwayat penyakit tulang punggung atau trauma pada punggung.
4.3 Waktu dan Lokasi Penelitian
4.3.1 Waktu Penelitian
Proses pengumpulan data dimulai pada tanggal 29 Maret 2019 dan berakhir pada akhir Juni 2019.
4.3.2 Lokasi Penelitian
Pengumpulan data dilakukan di Desa Lumban Suhi-Suhi Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir. Desa ini berada di provinsi sumatera utara dengan jarak sekitar 195 Km dari kota Medan dan sekitar 11,5 Km dari ibu kota Samosir, yaitu Pangururan. Alasan peneliti memilih Desa Lumban Suhi-Suhi sebagai lokasi penelitian adalah karena di desa ini sekitar 50% masyarakat, khususnya wanita setempat berprofesi sebagai penenun ulos. Kegiatan ini menjadi salah satu sumber pendapatan penduduk. Observasi oleh peneliti terhadap beberapa penenun ulos, mereka mengeluhkan nyeri pada punggung bagian bawah. Selain itu penelitian tentang nyeri di punggung bagian bawah belum pernah dilakukan terhadap masyarakat penenun ulos di Desa Lumban Suhi-suhi. Alasan lainnya ialah tempat penelitian tidak sulit dijangkau peneliti dan ini bisa menghemat waktu dan biaya selama penelitian dilakukan.
4.4 Pertimbangan Etik
Pengambilan data mulai dikerjakan setelah peneliti mendapat persetujuan Komisi Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Keperawatan USU, dan memperoleh izin dari Kepala Desa atau pihak yang berwenang di Desa Lumban Suhi-suhi. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan terkait etik, yakni: memberi keterangan langsung pada calon responden tentang tujuan dan langkah-langkah pelaksanaan pengambilan data.
Responden yang berkenan untuk dilibatkan dalam pengambilan data dipersilahkan untuk menandatangani inform consent atau lembar persetujuan yang menunjukan bersedia sebagai responden. Peneliti juga tidak memaksa dan menerima keputusan responden yang tidak bersedia untuk terlibat dalam penelitian karena responden tidak sedang melakukan kegiatan menenun ulos melainkan sedang beristirahat atau melakukan kegiatan lain. Semua catatan tentang data penelitian harus dilindungi dan tidak mempublikasikanya pada siapapun yang tidak memiliki hubungan dengan proses penelitian.
Penelitian juga memperhatikan tingkat manfaat dan resiko yang bisa terjadi.
Dampak positif yang diperoleh dalam penelitian harus lebih tinggi daripada dampak negatifnya. Hal-hal yang dilakukan tidak membahayakan. Penelitian juga menjaga kesejahteraan responden. Data tentang sampel juga dipastikan kerahasiaannya dan data yang telah dikumpulkan digunakan dalam kepentingan penelitian saja.
4.5 Instrumen Penelitian
Alat yang dipakai dalam pengambilan data responden ialah kuesioner tentang durasi bekerja responden dan masa kerja responden sebagai penenun ulos, form penilaian REBA untuk menilai postur tubuh responden ketika sedang bekerja, serta kuesioner penilaian nyeri punggung bawah Oswestry Low Back Pain Disability yang berisi beberapa daftar pertanyaan yang terstruktur.
Adapun penjelasan mengenai instrumen penelitian dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut:
1) Kuesioner tentang durasi bekerja dan masa bekerja diperoleh dari pernyataan langsung responden.
2) Variabel posisi tubuh menggunakan alat ukur REBA. Data mengenai sikap tubuh diperoleh melalui perhitungan risiko low back pain pada bagian-bagian tubuh tertentu (leher, tulang punggung, kaki, lengan atas & bawah serta pergelangan tangan) dengan menggunakan lembar penilaian REBA. Pengkodean sikap tubuh dilakukan setelah penilaian metode REBA. Peneliti melakukan observasi secara langsung kepada responden sesuai dengan yang ada pada form penilaian ergonomi REBA. Pengambilan data dengan menggunakan alat ukur REBA akan dijelaskan lebih rinci dalam prosedur pengambilan data.
3) Variabel keluhan NPB diperoleh dari kuesioner. Kuesioner untuk mengukur keluhan NPB ialah menggunakan Oswestry Low Back Pain Disability Questionnaire. Responden diwawancarai secara langsung oleh peneliti sesuai
dengan pertanyaan yang ada dalam kuesioner. Kuesioner ini terdiri dari 10 pertanyaan dengan masing-masing pertanyaan terdiri dari 6 pilihan. Pilihan 1 diberi nilai 0, pilihan 2 diberi nilai 1, pilihan 3 diberi nilai 2, pilihan 4 diberi nilai 3, pilihan 5 diberi nilai 4, dan pilihan 6 diberi nilai 5. Dari 10 pertanyaan tersebut, peneliti menjumlahkan seluruh nilai yang didapat dengan menggunakan rumus yang telah ditentukan dan melakukan pengkategorian sesuai ketentuan yang telah ditetapkan. Pengambilan data dengan menggunakan Oswestry Low Back Pain Disability Questionnaire akan dijelaskan lebih rinci dalam prosedur pengambilan data.
4.6 Uji Validitas dan Reliabilitas 4.6.1 Uji Validitas
Validitas berarti bagaimana ketepatan dan kecermatan penggunaan alat untuk mengumpulkan data sesuai dengan fungsinya (Sunyoto & Setiawan, 2013). Peneliti menggunakan instrumen penelitian Rapid Entire Body Assesment (REBA) dan Oswestry Low Back Pain Disability Questionnaire dalam pengambilan data. REBA merupakan instrumen penelitian dalam bentuk lembar pengamatan yang sudah baku, sehingga tidak perlu lagi diuji validitasnya. Oswestry Low Back Pain Disability Questionnaire adalah kuesioner yang telah dilakukan uji validitas pada setiap butir atau item kuesioner dalam versi bahasa Indonesia oleh Wahyuddin (2016) dengan analisis Pearson product moment. Pengujian validitas menunjukkan semua butir atau item kuesioner valid, dimana r tabel 0.304 untuk tingkat signifikansi 5% df=n-2=42.
4.6.2 Uji Reliabilitas
Reliabilitas (keandalan) merupakan pengujian kesamaan hasil pengukuran atau penilaian terhadap suatu instrumen meski instrumen digunakan berulang kali dengan waktu yang berbeda (Nursalam, 2016). Rapid Entire Body Assesment (REBA) merupakan lembar pengamatan yang telah baku dan tidak perlu lagi diuji reliabilitasnya. Kuesioner Oswestry Low Back Pain Disability Questionnaire juga telah diuji reliabilitasnya oleh peneliti sebelumnya, yaitu Wahyuddin (2016). Uji reliabilitas menggunakan analisis Cronbach alpha dan didapatkan nilai 0.890. Ini menunjukkan bahwa Oswestry Low Back Pain Disability Questionnaire dalam versi bahasa Indonesia reliabel untuk digunakan dalam pengukuran nyeri punggung bawah.
4.7 Prosedur Pengumpulan Data
Data mulai dikumpulkan setelah peneliti mendapatkan surat izin penelitian dari institusi pendidikan yaitu Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Pada hari pertama penelitian, peneliti mengunjungi kantor kepala desa dan memberikan surat ijin penelitian dari institusi pendidikan. Kepala desa memberikan ijin untuk melakukan penelitian dan langsung mengantarkan peneliti ke lokasi penelitian, yaitu dimulai dari dusun dengan jumlah penenun ulos terbanyak. Setelah sampai di lokasi penelitian, kepala desa memperkenalkan peneliti kepada beberapa responden dengan menunjukkan surat izin penelitian. Setelah itu, kepala desa mempersilahkan peneliti untuk memulai penelitian.
Saat melakukan pengambilan data, pertama peneliti memastikan terlebih dahulu apakah calon responden sudah memenuhi kriteria sampel dengan menanyakan langsung kepada calon responden. Setelah itu peneliti meberitahu judul, tujuan dan langkah -langkah pengambilan data kepada setiap calon responden. Peneliti juga memberi waktu kepada responden agar menanyakan hal yang kurang dipahami terkait proses penelitian. Peneliti selanjutnya meminta kesediaan responden agar mau berpartisipasi dalam proses penelitian sebagai sampel penelitian. Responden yang bersedia berpartisipasi diminta untuk menandatangani inform concent. Selanjutnya pengambilan data nyeri punggung bawah dilakukan secara langsung dengan wawancara sesuai dengan pertanyaan yang terdapat di kuesioner. Setelah selesai wawancara, peneliti kemudian memohon ijin kepada responden untuk dapat melakukan pengamatan atau observasi terhadap responden ketika sedang menenun ulos. Proses pengamatan dilakukan dalam rentang waktu kurang lebih 15 menit.
Peneliti juga meminta ijin kepada responden untuk dapat melakukan dokumentasi melalui pengambilan foto ataupun video.
Masyarakat penenun ulos yang dijumpai peneliti sedang menenun ulos selalu bersikap antusias dengan kedatangan peneliti. Namun dalam menemukan penenun yang sedang bekerja menenun ulos cukup memakan waktu penelitian. Peneliti sering menemukan alat tenun di depan rumah penduduk yang sedang tidak dikerjakan. Hal ini dikarenakan mereka sedang beristirahat dan sebagian lagi sedang melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak. Saat menemukan hal ini, peneliti menanyakan beberapa dari mereka yang yang terlihat sedang duduk di depan rumah
apakah bersedia untuk terlibat dalam proses penelitian. Peneliti juga menjelaskan bahwa untuk terlibat dalam proses penelitian, responden harus sedang melakukan kegiatan menenun ulos. Mereka selalu menolak menjadi responden penelitian dengan alasan sedang beristirahat dan akan melakukan aktifitas rumah lainnya. Dalam penelitian ini, peneliti tidak ada menemukan kendala lain.
4.8 Pengolahan Data dan Analisa Data 4.8.1 Pengolahan Data
Setelah seluruh data penelitian dikumpulkan, peneliti kemudian melakukan analisis data dengan melakukan pemeriksaan pada semua lembar penilaian dan kuesioner terlebih dahulu guna untuk memastikan kelengkapan data. Selanjutnya pemberian kode data (coding) dilakukan secara langsung untuk selanjutnya dianalisis menggunakan komputer. Selanjutnya data kuesioner dan lembar pengamatan dimasukkan (entry) ke dalam komputer. Setelah data dimasukkan, dilakukan pemeriksaan terhadap semua data untuk mencegah adanya kesalahan saat memasukkan data (cleaning). Selanjutnya data diolah menggunakan sistem komputerisasi.
4.8.2 Analisa Data 1. Analisis Univariat
Analisis ini digunakan untuk menguraikan karakteristik dari setiap variabel yang diteliti, baik variabel bebas maupun variabel terikat. Analisis univariat penelitian ini meliputi distribusi frekuensi data demografi dan distribusi
frekuensi dari variabel posisi bekerja, durasi bekerja, masa bekerja dan nyeri punggung bawah.
2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat dalam penelitian ini digunakan untuk menguji hubungan antara masing-masing variabel independen, yaitu posisi bekerja, durasi bekerja dan masa bekerja dengan variabel dependen nyeri punggung bawah.
Uji yang digunakan adalah uji korelasi spearman karena variabel yang akan diuji berskala ordinal dan telah dilakukan uji normalitas data menggunakan sistem komputer dan hasil uji normalitas menunjukkan bahwa semua data tidak terdistribusi normal. Hal sesuai dengan syarat dan ketentuan penggunaan uji korelasi spearman. Nilai p dalam uji korelasi spearman menunjukkan signifikansi hubungan dan nilai r menunjukkan kekuatan hubungan.
3. Analisis Multivariat
Dalam perencaan penelitian, peneliti merencanakan penggunaan analisis multivariat dependensi. Analisis multivariat dependensi digunakan untuk mengetahui variabel independen yang paling dominan berhubungan dengan variabel dependen. Pada awalnya peneliti merencanakan penggunaan uji regresi logistik untuk mengetahui variabel independen mana yang paling berhubungan dengan variabel dependen dengan melihat kekuatan hubungan dari nilai odd ratio (OR). Namun karena variabel independen yang memiliki hubungan signifikan dengan variabel dependen hanya ada satu, maka uji regresi logistik ini tidak dilakukan.
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Hasil Penelitian
5.1.1 Analisa Univariat
Pada bagian ini akan dijabarkan hasil penelitian dan penjelasan tentang hubungan posisi, durasi dan masa bekerja dengan kejadian Nyeri Punggung Bawah (NPB) pada masyarakat penenun ulos di Desa Lumban Suhi-Suhi. Pengambilan data telah dilakukan pada bulan Maret 2019 dan data diolah hingga akhir bulan Juni 2019 dengan jumlah sampel sebanyak 51 orang. Penyajian data hasil penelitian meliputi data demografi, data posisi, durasi, masa bekerja dan nyeri punggung bawah pada penenun ulos di Desa Lumban Suhi-Suhi, hubungan posisi, durasi dan masa bekerja dengan nyeri punggung bawah serta menganalisis faktor yang memiliki hubungan paling kuat dengan NPB.
a. Karakteristik Demografi Responden
Karakteristik demografi responden yang didapat dari proses pengumpulan data antara lain jenis kelamin, usia dan pekerjaan. Dari 51 responden yang diteliti, diketahui bahwa semua responden berjenis kelamin perempuan (100%), mayoritas berada pada usia dewasa awal (26-35 tahun) yakni berjumlah 14 orang (27.5%), dan mayoritas responden bekerja hanya sebagai penenun ulos yaitu sebanyak 30 orang
(58.8%). Untuk lebih jelasnya, gambaran karakteristik demografi dari responden bisa dilihat dalam tabel 5.1 berikut ini.
Tabel 5.1 Distribusi frekuensi dan presentase karakteristik penenun ulos di desa lumban suhi-suhi (n=51)
Dilihat dari faktor usia, penenun ulos yang berusia paling muda berjumlah 1 orang dengan usia 11 tahun dan penenun ulos yang berusia paling tua berjumlah 2 orang
dengan usia 65 tahun. Untuk lebih jelasnya, gambaran distribusi frekuensi faktor usia dapat dilihat pada lampiran penelitian.
b. Posisi, Durasi, Masa Bekerja dan Nyeri Punggung Bawah
Jika dilihat dari posisi, durasi dan masa bekerja serta keluhan nyeri punggung bawah yang dialami responden saat bekerja menenun ulos, mayoritas responden dalam menenun ulos menggunakan posisi resiko tinggi yaitu sebanyak 26 orang (51.0%), kemudian mayoritas responden memiliki durasi bekerja efektif yakni berjumlah 36 orang (70.6%). Selanjutnya mayoritas responden telah memiliki masa bekerja lama yaitu sebanyak 29 orang (56.9%), dan mayoritas responden mengalami NPB gangguan minimal yaitu sebanyak 34 orang (66.7%) dan tidak ada responden yang mengalami nyeri punggung bawah gangguan berat, sangat berat maupun sangat tersiksa akibat nyeri punggung bawah yang dialami. Untuk lebih jelasnya, hasil analisis distribusi frekuensi dan presentse posisi, durasi dan masa bekerja serta keluhan nyeri punggung bawah responden dapat dilihat dalam tabel 5.2 berikut.
Tabel 5.2 Distribusi frekuensi dan presentase posisi, durasi, masa bekerja dan nyeri punggung bawah penenun ulos di desa lumban suhi-suhi (n=51)
Variabel frekuensi (n) presentase (%)
Posisi Bekerja
Tabel 5.2 (Lanjutan) paling lama dialami oleh 1 orang responden dengan durasi bekerja bekerja dalam satu minggu adalah 84 jam. Responden yang memiliki masa bekerja paling singkat ada berjumlah 9 orang dengan masa bekerja 1 tahun, dan responden yang memiliki masa
bekerja paling lama adalah sebanyak 1 orang dengan masa bekerja 54 tahun.
Sedangkan responden yang memiliki skor nyeri punggung bawah paling rendah adalah sebanyak 2 orang dengan skor 2, dan skor nyeri punggung bawah paling tinggi
Sedangkan responden yang memiliki skor nyeri punggung bawah paling rendah adalah sebanyak 2 orang dengan skor 2, dan skor nyeri punggung bawah paling tinggi