TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Metode Penilaian Postur Kerja
Ada beberapa cara yang telah diperkenalkan dalam melakukan evaluasi ergonomi untuk mengetahui hubungan antara tekanan fisik dengan resiko keluhan otot skeletal. Alat ukur ergonomik yang dapat digunakan cukup banyak dan bervariasi. Namun demikian, dari berbagai alat ukur dan berbagai metode yang ada tentunya mempunyai kelebihan dan keterbatasan masing-masing. Dibawah ini akan dibahas beberapa metode observasi postur tubuh yang berkaitan dengan resiko gangguan pada sistem muskuloskeletal (seperti metode OWAS, RULA, REBA) dan penilaian subjektif terhadap tingkat keparahan pada sistem muskuloskeletal dengan metode Nordic Body Map serta checklit sederhana yang dapat digunakan untuk melakukan identifikasi potensi bahaya pada pekerjaan-pekerjaan yang berkaitan dengan resiko MSD’s.
2.3.1 Metode OWAS (Ovako Working Analysis Syistem)
Metode OWAS merupakan suatu metode yang digunakan untuk menilai postur tubuh saat bekerja. Metode OWAS ini merupakan metode yang sederhana dan dapat digunakan untuk menganalisis suatu pembebanan pada postur tubuh. Metode ini awalnyaditujukan untuk mempelajari suatu pekerjaan di industri baja di Finlandia.
Aplikasi metode OWAS didasarkan pada hasil pengamatan dari berbagai posisi yang diambil dari pekerja selama melakukan pekerjaannya. Langkah pertama dari metode ini adalah pengumpulan data atau perekaman posisi yang dapat dilakukan dengan melalui observasi pada pakerja, analisis foto, video atau melihat aktivitas yang sedang dilakukan untuk kemudian dibuat kode berdasarkan dta tersebut. Evaluasi penilaian didasarkan pada skor dari tingkat bahaya postur kerja yang ada dan selanjutnya dihubungkan dengan kategori tindakan yang harus diambil.
Klasifikasi postur kerja dari metode OWAS adalah pada pergerakan tubuh bagian belakang (punggung), lengan (arms), dan kaki (legs). Setiap postur tubuh tersebut terdiri atas 4 postur bagian belakang, 3 postur lengan , 7 postur kaki dan berat beban yang dikerjakan juga dilakukan penilaian dengan 3 kisaran beban.
2.3.2 Metode RULA (Rapid Upper Limb Assessment)
Metode RULA merupakan suatu metode dengan menggunakan target postur tubuh untuk mengestimasi terjadinya resiko gangguan otot skeletal, khususnya pada anggota tubuh bagian atas (upper limb disorder), seperti adanya gerakan repetitif, pekerjaan diperlukan pengerahan kekuatan, aktifitas otot statis pada otot skeletal, dll. Penilaian dengan metode Rula ini merupakan penilaian yang sistematis dan cepat terhadap resiko terjadinya gangguan dengan menunjuk bagian anggota tubuh pekerja yang mengalami gangguan tersebut. Analisis dapat dilakukan sebelum dan sesudah intervensi, untuk menunjukkan bahwa intervensi yang diberikan akan dapat menurunkan resiko cedera. Di samping itu , metode RULA merupakan alat untuk melakukan analisis awal yang mampu menentukan seberapa jauh resiko pekerja yang
terpengaruh oleh faktor-faktor penyebab cedera, yaitu postue tubuh, kontraksi otot statis, gerakan repetitif, dan pengerahan tenaga dan pembebanan.
Pengukuran terhadap postur tubuh dengan metode RULA pada prinsipnya adalah mengukur sudut dasar yaitu sudut yang dibentuk oleh perbedaan anggota tubuh (limbs) dengan titik tertentu pada postur tubuh yang dinilai. Dalam mempermudah penilaiannya maka tubuh dibagi atas 2 segmen group yaitu group A dan group B. Postur tubuh group A terdiri atas lengan atas , lengan bawah, pergelangan tangan dan putaran pergelangan tangan, sedangkan group B meliputi leher, batang tubuh dan kaki.
2.3.3 Metode REBA (Rapid Entire Body Assessment)
Metode REBA dirancang oleh Sue Hignet dan Lynn McAtamney (2000) sebagai sebuah metode penilaian postur kerja untuk menilai faktor resiko gangguan tubuh secara keseluruhan. Data yang dikumpulkan adalah data mengenai postur tubuh, kekuatan yang digunakan, jenis pergerakan atau aksi, pengulangan dan pegangan. Skor akhir REBA dihasilkan untuk memberi sebuah indikasitingkat resiko dan tingkat keutamaan dari sebuah tindakan yang harus diambil.
Faktor postur tubuh yang dinilai dibagi atas dua kelompok utama atau group yaitu group A yang terdiri atas postur tubuh kanan dan kiri dari batang tubuh, leher dan kaki. Sedangkan group B terdiri atas postur tubuh kanan dan kiri dari lengan atas, lengan bawah dan pergelangan tangan. Pada masing-masing group diberikan suatu skala postur tubuh dan suatu pernyataan tambahan. Diberikan juga faktor beban/kekuatan dan pegangan (coupling).
REBA dapat juga digunakan ketika penilaian postur kerja diperlukan dan dalam sebuah pekerjaan:
1. Keseluruhan bagian badan digunakan.
2. Postur tubuh statis, dinamis, cepat berubah atau tidak stabil.
3. Melakukan sebuah pembebanan seperti mengangkat benda baik secara rutin ataupun sesekali.
4. Perubahan dari tempat kerja, peralatan atau pelatihan pekerja sedang dilakukan dan diawasi sebelum atau sesudah perubahan.
2.3.4 Metode “Nordic Body Map” (NBM)
Metode ‘Nordic Body Map” berbeda dengan ketiga metode yang telah dijelaskan sebelumnya. Metode ini, merupakan metode yang digunakan untuk menilai tingkat keparahan atas terjadinya gangguan atau cedera pada otot-otot skeletal. Sementara itu, metode OWAS, RULA, dan REBA ditujukan untuk menilai postur tubuh selama periode kerja, menentukan tingkat risiko dan melakukan tindakan perbaikan, tanpa melihat tingkat keparahan atau keluhan yang dialami oleh pekerja. Dengan demikian metode ‘Nordic Body Map” merupakan metode lanjutan yang dapat digunakan setelah selesai melakukan observasi dengan metode OWAS, RULA, dan REBA.
Dalam aplikasinya, metode “Nordic Body Map” dengan menggunakan lembar kerja berupa peta tubuh (body map) merupakan cara yang sangat sederhana, mudah dipahami, murah dan memerlukan waktu yang sangat singkat (± 5 menit) per individu. Pengukuran gangguan otot skeletal dengan menggunakan kuesioner
“Nordic Body Map” sebaiknya digunakan untuk menilai tingkat keparahan gangguan otot skeletal individu dalam kelompok kerja yang cukup banyak atau kelompok sample yang dapat merepresentasikan populasi secara keseluruhan.
2.3.5 Metode Identifikasi Penilaian MSDs dengan Checklist
Checklist merupakan alat ukur ergonomik yang paling sederhana dan mudah, oleh karena itu pada umumnya menjadi pilihan pertama untuk melakukan pengukuran yang masih bersifat umum. Checklist terdiri dari daftar pertanyaan yang diarahkan untuk mengidentifikasi sumber keluhan/penyakit. Untuk mengetahui sumber keluhan otot, pada umumnya daftar pertanyaan yang diajukan dikelompokkan menjadi dua, yaitu pertanyaan yang bersifat umum dan khusus. Pertanyaan umum biasanya mengarah pada pengumpulan tentang tingkat beban kerja, tingkat kesulitan pekerjaan, kondisi lingkungan kerja, waktu dan sikap kerja. Sedangkan pertanyaan khusus diarahkan untuk memperoleh data yang lebih spesifik seperti berat badan, jarak angkat, jenis pekerjaan dan frekwensi kerja.