• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Penilaian Status Gizi

Dalam dokumen PENATALAKSANAAN DIET PADA PASIEN SPACE O (Halaman 33-41)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

G. Metode Penilaian Status Gizi

1. Penilaian Konsumsi Makan

Penilaian konsumsi makan yaitu suatu metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi, sehingga dapat memberikan gambaran tentang konsumsi zat gizi pasien (Wahyuningsih, 2013). Adapun metode dalam penilaian konsumsi makan adalah sebagai berikut :

a. Metode Penimbangan Makanan (Food Weighing)

Pada metode penimbangan makanan, responden atau petugas menimbang dan mencatat seluruh makanan yang dikonsumsi selama satu hari. Penimbangan makanan ini biasanya berlangsung beberapa hari tergantung dari tujuan, dana penelitian, dan tenaga yang tersedia (Supariasa, dkk, 2001).

Langkah-langkah pelaksanaan penimbangan adalah sebagai berikut (Suparisa, dkk, 2001) :

1) Petugas/responden menimbang dan mencatat bahan makanan/makanan yang dikonsumsi dalam gram.

2) Jumlah bahan makanan yang dikonsumsi sehari, kemudian dianalisis dengan menggunakan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM) atau Daftar Komposisi Gizi Jajanan (DKGJ). 3) Membandingkan hasilnya dengan Angka Kecukupan Gizi

(AKG) yang dianjurkan.

Hal yang perlu diperhatikan adalah jika terdapat sisa makanan setelah makan, maka perlu juga ditimbang sisa tersebut untuk

mengetahui jumlah sesungguhnya makanan yang dikonsumsi (Supariasa, dkk, 2001).

Kelebihan dari metode ini adalah data yang diperoleh lebih akurat/teliti. Sedangkan untuk kekurangannya adalah :

1) Memerlukan waktu dan cukup mahal karena memerlukan peralatan.

2) Bila penimbangan dilakukan dalam periode yang cukup lama, maka responden dapat merubah kebiasaan makan mereka. 3) Tenaga pengumpul data harus terlatih dan terampil. 4) Memerlukan kerjasama yang baik dengan responden. b. MetodeFood Recall24 Jam

Prinsip dari metode food recall 24 jam yaitu dilakukan dengan mencatat jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi pada periode 24 jam yang lalu. Metode ini dimulai dari tahap makan pagi, makan siang, makan sore/malam, serta selingan. Hal penting yang perlu diketahui adalah bahwa dengan food recall 24 jam data yang diperoleh cenderung lebih bersifat kualitatif. Oleh karena itu, untuk mendapatkan data kuantitatif, maka jumlah konsumsi makanan individu ditanyakan secara teliti dengan menggunakan alat URT (sendok, gelas, piring) atau ukuran lainnya yang biasa digunakan sehari-hari (Supariasa, dkk, 2001).

Langkah-langkah dalam pelaksanaan food recall 24 jam adalah (Supariasa, dkk, 2001) :

1) Petugas menanyakan kembali dan mencata semua bahan makanan dan minuman yang dikonsumsi responden dalam

ukuran rumah tangga (URT) selama kurun waktu 24 jam yang lalu.

2) Menganalisis bahan makanan kedalam zat gizi dengan menggunakan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM). 3) Membandingkan dengan Daftar Kecukupan Gizi yang

dianjurkan (DKGA) atau Angka Kecukupan Gizi (AKG) untuk Indonesia.

Metodefood recall 24 jam ini mempunyai beberapa kelebihan yaitu (Supariasa, dkk, 2001) :

1) Mudah melaksanakannya serta tidak perlu membebani responden

2) Biaya relatif murah, karena tidak memerlukan peralatan khusus dan tempat yang luas untuk wawancara

3) Cepat, sehingga dapat mencakup banyak responden 4) Dapat digunakan untuk responden yang buta huruf

5) Dapat memberikan gambaran nyata yang benar-benar dikonsumsi individu sehingga dapat dihitung asupan zat gizi sehari

Sedangkan untuk kekurangan dari metode food recall 24 jam adalah (Supariasa, dkk, 2001) :

1) Tidak dapat menggambarkan asupan makanan sehari-hari, bila hanya dilakukanrecallsatu hari

3) The flat slope syndrome, yaitu kecenderungan hasil bagi responden yang kurus untuk melaporkan konsumsinya lebih banyak dan bagi responden gemuk cenderung melaporkan lebih sedikit

4) Membutuhkan tenaga atau petugas yang terlatih dan terampil dalam menggunakan alat bantu URT dan ketepatan alat bantu yang dipakai menurut kebiasaan masyarakat

5) Responden harus diberi motivasi dan penjelasan tentang tujuan dari penelitian

Evaluasi penilaian konsumsi makanan yaitu dengan menilai kualitas makanan yang didasarkan sumber-sumber nutrien dengan menggunakan sistem skoring tertentu. Selain itu, dinilai pula kuantitas makanan meliputi total energi maupun nutrien lain yang dikonsumsi dibandingkan dengan kebutuhan/requirementpasien tersebut, seperti (Wahyuningsih, 2013) :

Tingkat konsumsi = Asupan Zat Gizi

Kebutuhan Zat Gizi x 100%

Kriteria tingkat konsumsi ditentukan menurut lima cut off point berdasarkan Depkes RI (1996), sebagai berikut (Wahyuningsih, 2013) :

a. Di atas kebutuhan : > 120%

b. Normal : 90-119%

c. Defisit Ringan : 80-89% d. Defisit Sedang : 70-79% e. Defisit Berat : < 70%

Kriteria tersebut digunakan untuk membantu screeningtingkat konsumsi pasien sebelum masuk Rumah Sakit. Sedangkan untuk penilaian konsumsi

makan pasien di Rumah Sakit bisa menggunakan evaluasi sisa makanan yang tidak termakan oleh pasien (dicantumkan pada SK Menkes RI No:129/Menkes/SK/II/ 2008 tentang standar pelayanan minimal Rumah Sakit), dengan kriteria standar≥ 20%, yakni pasien dikatakan mengkonsumsi

makanan dengan baik apabila mampu menghabiskan makanan sebesar≥ 80%

dan apabila tingkat konsumsi < 80% dikatakan kurang (Wahyuningsih, 2013).

2. Penilaian Laboratorium/Biokimia

Penilaian laboratorium/biokimia yaitu suatu metode penilaian status gizi dengan cara melakukan pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris, dan dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Spesimen tubuh yang digunakan untuk uji laboratoris antara lain darah, urine, tinja, dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot (Wahyuningsih, 2013).

Evaluasi hasil pemeriksaan laboratorium yaitu dengan cara membandingkan hasil yang diperoleh dengan reference values atau dengan menggunakan angka pembatas/cut off points(Wahyuningsih, 2013).

Salah satu pemeriksaan laboratorium/biokimia adalah pemeriksaan kolesterol. Kolesterol merupakan hasil sintesis lemak darah oleh hepar. Kolesterol digunakan oleh tubuh untuk membentuk garam empedu yang berfungsi untuk mencerna lemak dan untuk pembentukan hormon oleh kelenjar adrenal, ovarium, dan testis. Adapun nilai normal kadar normal kolesterol adalah 133-200 mg/dl (Wahyuningsih, 2013). Pemeriksaan kolesterol tidak dilakukan setiap hari, seminggu sekali ataupun dua minggu sekali karena pemeriksaan kadar kolesterol yang dilakukan dengan jarak

kurang dari 3 (tiga) minggu dapat menghasilkan data yang kurang akurat, dimana ada kemungkinan keadaan kondisi kolesterol di dalam darah masih sama dengan kondisi sebelumnya. Oleh karena itu, disarankan pemeriksaan kolesterol paling tidak 1 (satu) bulan jaraknya dengan pemeriksaan sebelumnya (Graha, 2010).

3. Penilaian Antropometri

Penilaian antropometri yaitu suatu metode penilaian status gizi dengan cara menilai ukuran tubuh manusia. Ukuran tubuh seseorang sangat erat kaitannya dengan status gizi. Atas dasar tersebut, ukuran-ukuran antropometri diakui sebagai indeks yang baik dan dapat diandalkan bagi penentuan status gizi. Evaluasi hasil pengukuran antropometri yaitu dengan cara membandingkan hasil yang diperoleh dengan reference values atau dengan menggunakan angka pembatas/cut off points(Wahyuningsih, 2013).

Salah satu metode penilaian status gizi yaitu dengan menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT). Indeks massa tubuh merupakan nilai yang diambil dari perhitungan antara berat badan dibandingkan dengan tinggi badan. Adapun rumus perhitungan IMT adalah sebagai berikut (Wahyuningsih, 2013) :

IMT = Berat Badan (Kg)

Tabel 2. Klasifikasi Status Gizi Menurut IMT (Almatsier, 2004)

Kategori IMT

Kurus Kurang BB tingkat berat < 17,0 Kurang BB tingkat ringan 17,0-18,5

Normal > 18,5-25

Gemuk Kelebihan BB tingkat ringan > 25-27 Kelebihan BB tingkat berat > 27

4. Penilaian Fisik dan Klinis

Pemeriksaan fisik merupakan suatu metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan), dan melihat perubahan struktur dan jaringan. Sedangkan penilaian klinis yaitu suatu metode penentuan status gizi yang didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Evaluasi hasil pengukuran fisik dan klinis yaitu dengan cara membandingkan hasil yang diperoleh dengan normal reference values atau dengan menggunakan angka pembatas/cut off points untuk beberapa pemeriksaan pada klinis seperti (Wahyuningsih, 2013) :

Tabel 3. Nilai Normal Pemeriksaan Frekuensi Nadi atau Detak Jantung N atau HR (kali/menit) Klasifikasi

< 60 Bradikardia

60-100 Normal

Tabel 4. Nilai Normal Pemeriksaan Frekuensi Pernapasan

RR (kali/menit) Klasifikasi

< 14 Apnea

14-20 Eupnea

> 20 Takipnea

Tabel 5. Nilai Normal Pemeriksaan Suhu Tubuh

Suhu (⁰C) Klasifikasi

≤ 37 Normal

Dalam dokumen PENATALAKSANAAN DIET PADA PASIEN SPACE O (Halaman 33-41)

Dokumen terkait