• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENATALAKSANAAN DIET PADA PASIEN SPACE O

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENATALAKSANAAN DIET PADA PASIEN SPACE O"

Copied!
69
0
0

Teks penuh

(1)

PENATALAKSANAAN DIET PADA PASIEN DENGAN

PENYAKIT

SPACE OCCUPYING LESION

DISERTAI

HIPERTENSI DI RUANG FLAMBOYAN KELAS IA

BLUD RSU

KOTA BANJAR

Laporan Praktek Kerja Lapangan Studi Kasus

Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Praktek Kerja Lapangan Asuhan Gizi Klinik (PKL AGK)

Oleh:

Lita Zulfiah

NIM.P2.06.31.1.12.021

PROGRAM STUDI DIPLOMA III GIZI TASIKMALAYA

JURUSAN GIZI POLITEKNIK KESEHATAN

(2)

LEMBAR PERSETUJUAN

Laporan Praktek Kerja Lapangan Asuhan Gizi Klinik (AGK) dengan judul

“PENATALAKSANAAN DIET PADA PASIEN DENGAN PENYAKIT

SPACE OCCUPYING LESION DISERTAI HIPERTENSI DI RUANG

FLAMBOYAN KELAS IABLUD RSU KOTA BANJAR

Laporan ini dipersiapkan dan disusun oleh :

LITA ZULFIAH

NIM.P2.06.31.1.12.021

Telah diperiksa, disetujui, dan dipresentasikan pada :

Hari : Kamis

Tanggal : 26 Maret 2015

Mengetahui,

Koordinator PKL

Tri Kusuma Agung Puruhita, M.Sc NIP. 198203042012121001

Pembimbing

Ahmad Setyo Wibowo, AMG NIP. 197906122006041009

Ka. Instalasi Gizi

Badan Layanan Umum Daerah RSU Kota Banjar

(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat

dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktek Kerja Lapangan

dengan judul “Penatalaksanaan Diet Pada Pasien Dengan Penyakit Space

Occupying LesionDisertai Hipertensi Di Ruang Flamboyan Kelas IABLUD RSU

Kota Banjar”.

Laporan Praktek Kerja Lapangan ini diajukan sebagai tugas Praktek Kerja

Lapangan dan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Pendidikan Diploma

III Kesehatan Bidang Gizi. Dalam Laporan Praktek Kerja Lapangan ini penulis

mendapatkan bantuan baik berupa doa, bimbingan, arahan maupun motivasi dari

berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima

kasih kepada :

1. Ibu Hj. Betty Suprapti, S.Kp. M.Kes selaku Direktur Politeknik

Kesehatan Kementerian Kesehatan Tasikmalaya beserta jajarannya.

2. Direktur BLUD RSU Kota Banjar yang telah memberikan ijin untuk

melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di BLUD RSU Kota

Banjar.

3. Ibu Ani Radiati, S.Pd. M.Kes selaku Ketua Jurusan Gizi Politeknik

Kesehatan Kementerian Kesehatan Tasikmalaya.

4. Ibu Rr. Sri Nurhayati, AMG selaku kepala Instalasi Gizi BLUD RSU

Kota Banjar.

5. Bapak Ahmad Setyo Wibowo, AMG selaku pembimbing yang telah

(4)

6. Seluruh ahli gizi di BLUD RSU Kota Banjar yang telah banyak

membekali pengetahuan yang tidak ternilai dan sangat berarti bagi

penulis.

7. Seluruh staf/tenaga kerja di Instalasi Gizi BLUD RSU Kota Banjar

yang telah banyak membantu dalam kegiatan Praktek Kerja Lapangan

(PKL).

Oleh karena itu, kritik dan saran sangat penulis harapkan dengan harapan

sebagai masukan dalam perbaikan laporan ini. Mudah-mudahan laporan ini bisa

bermanfaat, amin.

Banjar, Maret 2015

(5)

DAFTAR ISI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 5

A. Gambaran Umum PenyakitSpace Occupying Lesion... 5

B. Gambaran Umum Penyakit Hipertensi... 11

C. Penatalaksanaan Diet Pada Penyakit Space Occupying Lesion... 18

D. Penatalaksanaan Diet Pada Penyakit Hipertensi... 19

E. Terapi Medika Mentosa Untuk Penyakit Space Occupying Lesion... 21

F. Terapi Medika Mentosa Untuk Penyakit Hipertensi... 22

G. Metode Penilaian Status Gizi... 23

BAB III RENCANA DAN IMPLEMENTASI ASUHAN GIZI... 31

A. Identitas Umum Pasien... 31

B. Assessment... 31

C. Diagnosa Gizi... 35

D. Intervensi Gizi... 36

E. Monitoring dan Evaluasi... 40

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN... 41

(6)

B. Monitoring dan Evaluasi... 48

BAB V PENUTUP... 53

A. Kesimpulan... 53

B. Saran... 53

DAFTAR PUSTAKA... 55

(7)

DAFTAR TABEL

No Judul Tabel Halaman

1 Klasifikasi Hipertensi Menurut JNC-7... 14

2 Klasifikasi Status Gizi Menurut IMT (Almatsier, 2004)... 29

3 Nilai Normal Pemeriksaan Frekuensi Nadi atau Detak Jantung... 29

4 Nilai Normal Pemeriksaan Frekuensi Pernapasan... 30

5 Nilai Normal Pemeriksaan Suhu Tubuh... 30

6 Klasifikasi Status Gizi Menurut IMT (Almatsier, 2004)... 31

7 Hasil Pemeriksaan Laboratorium/biokimia Ny. L... 32

8 Terapi Medika Mentosa Ny. L... 32

9 Hasil Pemeriksaan Klinis Ny. L... 32

10 Hasil Recall 24 Jam Hari Ke 1... 33

11 Kriteria Tingkat Konsumsi Pasien Sebelum Masuk Rumah Sakit... 33

12 Hasil Recall 24 Jam Hari Ke 2... 34

13 Kriteria Tingkat Konsumsi Pasien Rumah Sakit... 34

14 Diagnosa Gizi Ny. L... 35

15 Bahan Makanan yang Diperbolehkan dan Dihindari... 38

16 Standar Makanan... 39

17 Pembagian Makan Sehari... 39

18 Monitoring dan Evaluasi... 40

(8)

20 Hasil Pemantauan Asupan Protein Ny. L Selama 4 (Empat)

Hari... 44

21 Hasil Pemantauan Asupan Lemak Ny. L Selama 4 (Empat) Hari... 45

22 Hasil Pemantauan Asupan Karbohidrat Ny. L Selama 4 (Empat) Hari... 47

23 Hasil Pemantauan Terhadap Data Antropometri Ny. L Selama 4 Hari ... 48

24 Hasil Pemeriksaan Laboratorium Ny. L Selama 4 Hari ... 49

25 Hasil Pemeriksaan Fisik Ny. L Selama 4 Hari... 50

26 Hasil Pemeriksaan Klinis Ny. L Selama 4 Hari... 51

(9)

DAFTAR GAMBAR

No Judul Gambar Halaman

1 Grafik Asupan Energi Ny. L Selama 4 (Empat) Hari... 42

2 Grafik Asupan Protein Ny. L Selama 4 (Empat) Hari... 44

3 Grafik Asupan Lemak Ny. L Selama 4 (Empat) Hari... 46

(10)

DAFTAR LAMPIRAN

No Judul Lampiran

1 Hasil Pemorsian Hari Ke 3

2 Hasil Pemorsian Hari Ke 4

3 Terapi Medika Mentosa Ny. L Selama Perawatan di Rumah Sakit

4 Form Nutrition Care Process (NCP)

5 Form Recall 24 Jam

6 Leaflet Bahan Makanan Penukar

7 Leaflet Diet Rendah Garam

(11)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Jurusan Gizi merupakan institusi yang mendidik tenaga profesional dalam

bidang gizi. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor

374/Menkes/SK/III/2007 tentang Standar Profesi Gizi dan Kurikulum Berbasis

Kompetensi Pendidikan Program DIII Gizi Tahun 2008, mencantumkan 6 (enam)

peran lulusan Pendidikan Program DIII Gizi. Kurikulum Berbasis Kompetensi

(KBK) Pendidikan Program DIII Gizi tahun 2008, mengamanatkan bahwa

mahasiswa diwajibkan untuk mengikuti Praktek Kerja Lapangan (PKL) Asuhan

Gizi Klinik (AGK) pada semester VI (enam). Praktek Kerja Lapangan ini

merupakan bentuk pembelajaran untuk mempraktekan teori dalam rangka

mencapai jenjang Ahli Madya Gizi (AMG) dan juga merupakan bentuk intership

untuk mencapai sebutan profesi Teknisi Dietisien/TD (Jurusan Gizi, 2015).

Salah satu kompetensi yang harus dilakukan dalam Praktek Kerja Lapangan

Asuhan Gizi Klinik ini adalah mengkaji studi kasus suatu penyakit secara

mendalam. Dalam upaya penyembuhan penyakit pasien, diperlukan asupan zat

gizi dan terapi diet yang sesuai dengan kondisi dan penyakit yang diderita pasien.

Terapi gizi atau terapi diet adalah bagian dari perawatan penyakit atau kondisi

klinis yang harus diperhatikan agar pemberiannya tidak melebihi kemampuan

organ tubuh untuk melaksanakan fungsi metabolisme (Kementrian Kesehatan RI,

2013).

(12)

laku, false localizing sign, dan true localizing sign. Timbulnya massa yang baru

dalam kranium seperti neoplasma akan menyebabkan pertama-tama neoplasma itu

menggeser isiintracranialyang normal sebagai konsekuensi lesi desak ruang atau

Space Occupying Lesion (Akhyar, 2010). Hipertensi atau dikenal dengan darah

tinggi merupakan gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai

oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh

yang membutuhkan (Wahyuningsih, 2013).

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis bermaksud melakukan

pengkajian studi kasus pada pasien dengan penyakit Space Occupying Lesion

disertai hipertensi di ruang perawatan Flamboyan kelas IA BLUD RSU Kota

Banjar.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari latar belakang di atas yaitu “Bagaimana

penatalaksanaan diet pada pasien dengan penyakit Space Occupying Lesion

disertai hipertensi di Ruang Flamboyan Kelas IABLUD RSU Kota Banjar?”.

C. Tujuan

1. Tujuan Umum :

Mengetahui bagaimana penatalaksanaan diet pada pasien dengan

penyakit Space Occupying Lesion disertai hipertensi di Ruang Flamboyan

(13)

2. Tujuan Khusus :

a. Mengkaji data assessment untuk pasien dengan penyakit Space

Occupying Lesion disertai hipertensi di Ruang Flamboyan Kelas IA

BLUD RSU Kota Banjar

b. Membuat diagnosa gizi untuk pasien dengan penyakit Space

Occupying Lesion disertai hipertensi di Ruang Flamboyan Kelas IA

BLUD RSU Kota Banjar

c. Menyusun intervensi gizi untuk pasien dengan penyakit Space

Occupying Lesion disertai hipertensi di Ruang Flamboyan Kelas IA

BLUD RSU Kota Banjar

d. Menyusun rencana monitoring dan evaluasi untuk pasien dengan

penyakit Space Occupying Lesion disertai hipertensi di Ruang

Flamboyan Kelas IABLUD RSU Kota Banjar

D. Ruang Lingkup

1. Lingkup Praktek Kerja Lapangan

Ruang lingkup Praktek Kerja Lapangan ini yaitu penatalaksanaan

diet pada pasien dengan penyakit Space Occupying Lesion disertai

hipertensi.

2. Lingkup Sasaran

Sasaran dalam Praktek Kerja Lapangan ini adalah pasien ruang

(14)

3. Lingkup Lokasi

Praktek Kerja Lapangan ini berlokasi di BLUD RSU Kota Banjar

ruang perawatan Flamboyan kelas IA.

4. Lingkup Waktu

Praktek Kerja Lapangan ini dilaksanakan pada hari Senin 2 Maret

2015 sampai dengan hari Sabtu 28 Maret 2015.

E. Manfaat

1. Bagi Mahasiswa

Hasil Praktek Kerja Lapangan ini dijadikan sebagai media penambah

pengetahuan, wawasan dan keterampilan dalam melaksanakan asuhan

gizi klinik.

2. Bagi Institusi Pendidikan

Hasil Praktek Kerja Lapangan ini diharapkan dapat dipergunakan

sebagai bahan tambahan bacaan dalam rangka pengembangan ilmu dan

penelitian.

3. Bagi Instansi Rumah Sakit

Praktek Kerja Lapangan ini dapat menciptakan kerjasama yang

saling menguntungkan dan bermanfaat antara instansi Rumah Sakit

(15)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Gambaran Umum PenyakitSpace Occupying Lesion

1. Definisi

Space Occupying Lesion (SOL) merupakan lesi yang meluas atau

menempati ruang dalam otak termasuk tumor, hematoma, dan abses. Suatu

lesi yang meluas pertama kali diakomodasi dengan cara mengeluarkan cairan

cerebrospinal dari rongga cranium. Space Occupying Lesion pada otak

umumnya berhubungan dengan malignasi, namun dalam keadaan patologi

lain meliputi abses otak atau hematom. Adanya Space Occupying Lesion

dalam otak akan memberikan gambaran seperti tumor yang meliputi gejala

umum yang berhubungan dengan peningkatan tekanan intracranial,

perubahan tingkah laku, false localizing sign, serta true localizing sign.

Tumor juga dapat menyebabkan infiltrasi dan kerusakan pada struktur organ

yang penting seperti terjadinya obstruksi pada aliran LCS yang menyebabkan

hidrosefalusatau menginduksiangiogenesisdan edem otak (Akhyar, 2010).

2. Etiologi

Penyebab tumor hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti

walaupun telah banyak penyelidikan yang dilakukan. Adapun faktor-faktor

yang perlu ditinjau, yaitu (Dhita, 2012) :

a. Herediter

Riwayat tumor otak dalam satu anggota keluarga jarang ditemukan

(16)

pada anggota-anggota sekeluarga. Sklerosis tuberose atau penyakit

Sturge-Weber yang dapat dianggap sebagai manifestasi pertumbuhan

baru memperlihatkan faktor familial yang jelas. Selain jenis-jenis

neoplasma tersebut tidak ada bukti-bukti yang kuat untuk memikirkan

adanya faktor-faktor hereditas yang kuat pada neoplasma.

b. Sisa-sisa Sel Embrional (Embryonic Cell Rest)

Bangunan-bangunan embrional berkembang menjadi

bangunan-bangunan yang mempunyai morfologi dan fungsi yang terintegrasi dalam

tubuh. Ada kalanya sebagian dari bangunan embrional tertinggal dalam

tubuh menjadi ganas dan merusak bangunan di sekitarnya.

Perkembangan abnormal itu dapat terjadi pada kraniofaringioma,

teratoma intrakranialdankordomayang secara berturut-turut berpangkal

pada saku Rathke, mesenkima dan ektoderma embrional serta korda

dorsalis.

c. Radiasi

Radiasi digunakan untuk pemberantasan pertumbuhan neoplasmatik.

Tetapi dosis subterapeutik dapat merangsang pertumbuhan sel mesenkim,

sehingga masih banyak peneliti yang menekankan radiasi sebagai faktor

etiologik neoplasma saraf.

d. Virus

Banyak penelitian tentang inokulasi virus pada binatang kecil dan

besar yang dilakukan dengan maksud untuk mengetahui peran infeksi

(17)

ditemukan hubungan antara infeksi virus dengan perkembangan tumor

pada sistem saraf pusat.

e. Substansi-substansi karsinogenik

Penyelidikan tentang substansi karsinogen sudah lama dan luas

dilakukan. Kini telah diakui bahwa ada substansi yang karsinogenik

seperti methylcholanthrone, nitroso-ethyl-urea. Ini berdasarkan

percobaan yang dilakukan pada hewan.

3. Patofisiologi

Kranium merupakan kerangka baku yang berisi tiga komponen yaitu

otak, cairan serebrospinal (CSS) dan darah. Kranium mempunyai sebuah

lubang keluar utama yaitu foramen magnum dan memiliki tentorium yang

memisahkan hemisfer serebral dari serebelum. Timbulnya massa yang baru

di dalam kranium seperti neoplasma, akan menyebabkan isi intrakranial

normal akan menggeser sebagai konsekuensi dari Space Occupying Lesion

(Dhita, 2012).

Cairan serebrospinal diproduksi terutama oleh pleksus koroideus

ventrikel lateral, tiga, dan empat. Dua pertiga atau lebih cairan ini berasal dari

sekresi pleksus di keempat ventrikel, terutama dikedua ventrikel lateral.

Saluran utama aliran cairan, berjalan dari pleksus koroideus dan kemudian

melewati sistem cairan serebrospinal. Cairan yang disekresikan di ventrikel

lateral, mula-mula mengalir ke dalam ventrikel ketiga. Setelah mendapat

sejumlah cairan dari ventrikel ketiga, cairan tersebut mengalir ke bawah di

(18)

dari ventrikel keempat melalui tiga pintu kecil, yaitu duaforamen Luschka di

lateral dan satu foramen Magendie di tengah, dan memasuki sisterna magna,

yaitu suatu rongga cairan yang terletak di belakang medula dan di bawah

serebelum (Guyton, 2007 dalam Dhita, 2012).

Sisterna magna berhubungan dengan ruang subrakhnoid yang

mengelilingi seluruh otak dan medula spinalis. Cairan serebrospinal

kemudian mengalir ke atas dari sisterna magna dan mengalir ke dalam vili

arakhnoidalisyang menjorok ke dalam sinus venosis sagitalis besar dan sinus

venosus lainnya di serebrum (Guyton, 2007 dalam Dhita, 2012).

Peningkatan tekanan intrakranial didefinisikan sebagai peningkatan

tekanan dalam rongga kranialis. Ruang intrakranial ditempati oleh jaringan

otak, darah, dan cairan serebrospinal. Setiap bagian menempati suatu volume

tertentu yang menghasilkan suatu tekanan intrakranial normal sebesar

50-200 mm H2O atau 4-15 mmHg. Ruang intrakranial adalah suatu ruangan

baku yang terisi penuh sesuai kapasitasnya dengan unsur yang tidak dapat

ditekan. Peningkatan volume pada salah satu dari ketiga unsur utama

mengakibatkan desakan ruang yang ditempati oleh unsur lainnya dan

menaikkan tekanan intrakranial (Price, 2005 dalam Dhita, 2012).

Pada keadaan fisiologis normal volume intrakranial selalu dipertahankan

konstan dengan tekanan intrakranial berkisar 10-15 mmHg. Tekanan

abnormal apabila tekanan diatas 20 mmHg dan diatas 40 mmHg

dikategorikan sebagai peninggian yang parah. Penyebab peningkatan

intrakranial adalah cedera otak yang diakibatkan trauma kepala. Aneurisma

(19)

secara mendadak sehingga mencapai tingkatan tekanan darah arteri untuk

sesaat. Tingginya tekanan intrakranial pasca pecah aneurisma sering kali

diikuti dengan meningkatnya kadar laktat cairan serebrospinal dan hal ini

mengindikasi terjadinya suatu iskhemia serebri. Tumor otak yang makin

membesar akan menyebabkan pergeseran CSS dan darah perlahan-lahan

(Satyanegara, 2010 dalam Dhita 2012).

4. Tanda Dan Gejala

Gejala umum timbul karena peningkatan tekanan intrakranial atau akibat

infiltrasi difus dari tumor. Gejala yang paling sering adalah sebagai berikut

(Saanin, 2004 dalam Dhita 2012) :

a. Sakit kepala

Sakit kepala merupakan gejala umum yang dirasakan pada tumor

intrakranium. Sifat dari sakit kepala adalah nyeri berdenyut-denyut atau

rasa penuh di kepala seolah-olah mau meledak. Sakitnya paling hebat di

pagi hari, karena selama tidur malam PCO2 arteri serebral meningkat

sehingga mengakibatkan peningkatan dari CBF dan dengan demikian

meningkatkan lagi tekanan intrakranium. Lokalisasai nyeri yang

unilateral akan sesuai dengan lokasi tumornya.

b. Muntah

Muntah sering mengindikasikan tumor yang luas dengan efek dari

massa tumor tersebut juga mengindikasikan adanya pergeseran otak.

(20)

proyektil tanpa didahului mual menambah kecurigaan adanya massa

intrakranial.

c. Kejang fokal

Kejang dapat timbul sebagai gejala dari tekanan intrakranium yang

melonjak secara cepat, terutama sebagai gejala dari glioblastoma

multiform. Kejang tonik biasanya timbul pada tumor di fosa kranium

posterior.

d. Gangguan mental

Gangguan konsentrasi, cepat lupa, perubahan kepribadian, dan

berkurangnya inisiatif adalah gejala-gejala umum pada penderita dengan

tumor lobus frontal atau temporal. Gejala ini bertambah buruk dan jika

tidak ditangani dapat menyebabkan terjadinya somnolen hingga koma.

Tumor di sebagian besar otak dapat mengakibatkan gangguan mental,

misalnya demensia, apatis, gangguan watak serta gangguan intelegensi

dan psikosis.

e. Edema papil

Gejala umum yang tidak berlangsung lama pada tumor otak, sebab

dengan teknik neuroimaging tumor dapat segera dideteksi. Edema papil

pada awalnya tidak menimbulkan gejala hilangnya kemampuan untuk

melihat, tetapi edema papil yang berkelanjutan dapat menyebabkan

perluasan bintik buta, penyempitan lapangan pandang perifer dan

(21)

f. Seizure

Seizure adalah gejala utama dari tumor yang perkembangannya

lambat seperti astrositoma, oligodendroglioma dan meningioma. Paling

sering terjadi pada tumor di lobus frontal baru kemudian tumor pada

lobus parietal dan temporal.

5. Penanganan

Penanganan yang terbaik untuk peningkatan ICP adalah pengangkatan

dari lesi penyebabnya seperti tumor, hidrosefalus, dan hematoma.

Peningkatan ICP pasca operasi jarang terjadi hari-hari ini dengan

meningkatnya penggunaan mikroskop dan teknik khusus untuk menghindari

pengangkatan otak. Peningkatan ICP adalah sebuah fenomena sementara

yang berlangsung untuk waktu yang singkat kecuali ada cedera sekunder

segar karena hipoksia, bekuan atau gangguan elektrolit. Pengobatan ditujukan

untuk mencegah peristiwa sekunder (Widjoseno, 2004 dalam Dhita, 2012).

B. Gambaran Umum Penyakit Hipertensi

1. Definisi

Hipertensi atau dikenal dengan darah tinggi merupakan gangguan pada

pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa

oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkan.

Hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah meningkat melebihi

batas normal. Batas tekanan darah normal bervariasi sesuai dengan usia.

(22)

(90%) penyebab hipertensi tidak diketahui (hipertensi essensial)

(Wahyuningsih, 2013).

2. Etiologi

Faktor lingkungan seperti stress psikososial, obesitas, kurang olahraga

juga berpengaruh terhadap timbulnya hipertensi. Berdasarkan penyelidikan

epidemiologis dibuktikan bahwa kegemukan merupakan ciri khas pada

populasi hipertensi dan dibuktikan bahwa faktor ini mempunyai kaitan yang

erat dengan terjadinya hipertensi (Puspitasari, dkk, 2014).

Hubungan antara stress dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf

simtotik, yang dapat meningkatkan tekanan darah secara intermiten. Apabila

stres menjadi berkepanjangan dapat berakibat tekanan darah menetap tinggi.

Stres psikologi banyak dialami oleh kelompok masyarakat yang tinggal

diperkotaan dibanding masyarakat di desa. Rokok juga dihubungkan dengan

hipertensi, walaupun pada manusia mekanismenya secara pasti belum

diketahui. Hubungan antara rokok dengan peningkatan resiko kardiovaskuler

telah banyak ditunjukkan. Alkohol juga dihubungkan dengan hipertensi,

walaupun mekanisme timbulnya hipertensi secara pasti belum diketahui

(Puspitasari, dkk, 2014).

3. Patofisiologi

Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah

terletak di pusat vasomotor, pada medula di otak. Dari pusat vasomotor ini

(23)

keluar dari kolumna medula spinalis ke ganglia simpatis di toraks dan

abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls

yang bergerak ke bawah melalui saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik

ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang

serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan

dilepaskannya norepinefrin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah.

Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon

pembuluh darah terhadap rangsang vasokontriktor. Individu dengan

hipertensi sangat sensitif terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui

dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi (Brunner & Sudarth, 2002

dalam Puspitasari, dkk, 2014).

Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh

darah sebagai respon rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang

mengakibatkan tambahan aktivitas vasokontriksi. Medula adrenal

mengsekresi epinefrin yang menyebabkan vasokontriksi. Korteks adrenal

mengsekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respon

vasokontriktor pembuluh darah. Vasokontriksi yang mengakibatkan

penurunan aliran darah ke ginjal, menyebabkan pelepasan renin. Renin

merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi

angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang

sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi

natrium dan air oleh tubulus ginjal yang menyebabkan peningkatan volume

intravaskuler. Semua faktor tersebut cenderung mencetus keadaan hipertensi

(24)

4. Klasifikasi

Klasifikasi hipertensi menurut JNC-7 adalah sebagai berikut

(Wahyuningsih, 2013) :

Tabel 1. Klasifikasi Hipertensi Menurut JNC-7

Kategori Tekanan Darah Sistole (mmHg) Diastole (mmHg)

Normal < 120 < 80

Pra-Hipertensi 120-139 80-89

Hipertensi Tahap 1 140-159 90-99

Hipertensi Tahap 2 ≥ 160 ≥ 100

5. Tanda dan Gejala

Peninggian tekanan darah kadang-kadang merupakan satu-satunya gejala

pada hipertensi esensial dan tergantung dari tinggi rendahnya tekanan darah,

gejala yang timbul dapat berbeda-beda. Hipertensi esensial atau hipertensi

primer tanpa komplikasi biasanya memperhatikan gejala meskipun banyak

pasien mengeluh sakit kepala, pusing, dan gejala-gejala tidak spesifik yang

tidak berbeda dari banyak orang yang mempunyai tekanan darah normal di

dalam populasi (Puspitasari, dkk, 2014).

6. Penanganan

Manajemen atau penangan yang tepat bagi penderita hipertensi adalah

sebagai berikut (Puspitasari, dkk, 2014) :

a. Terapi Non Farmakologis

Pencegahan dan manajemen hipertensi lebih utama ditekankan

(25)

hipertensi membatasi konsumsi garam, makanan asin, meningkatkan

konsumsi sayuran dan buah sebagai sumber utama kalium. Diet yang

banyak mengonsumsi buah-buahan, sayuran, dan rendah lemak serta

rendah lemak jenuh (diet DASH) dapat menurunkan tekanan darah.

b. Terapi Farmakologis

1) Diuretik

Menurunkan tekanan darah pada awalnya dengan cara

menurunkan volume plasma (dengan menekan reabsorpsi

natrium oleh tubulus ginjal sehingga meningkatkan ekskresi

natrium dan air) dan curah jantung, tetapi selama terapi kronis

pengaruh hemodinamik yang utama adalah mengurangi

resistensi vaskuler perifer. Contoh obat pada golongan ini adalah

hidroklortiazid, klortalidon, metolazon, furosemid.

2) Agen Penghambat Beta Adrenergik

Obat ini efektif karena menurunkan denyut jantung dan

curah jantung, kemudian juga menurunkan pelepasan rennin.

Efek sampingnya antara lain mencetuskan atau memperburuk

gagal ventrikel kiri, kongesti nasal, dapat terjadi kelemahan,

letargi, impotensi. Beberapa obat dalam golongan ini adalah

acebutolol, atenolol, betaksolol, labetalol.

3) Penghambat ACE (Angiotensin Converting Enzyme)

Banyak digunakan sebagai pengobatan awal hipertensi

ringan hingga sedang. Aksi kerja utamanya dengan menghambat

(26)

degradasi bradikinin, menstimulasi sintesis prostaglandin dan

kadang mengurangi aktivitas sistem saraf simpatis. Keuntungan

ACE adalah relative bebas dari efek samping yang menggangu.

Contoh obat golongan ini yaitu benazepril, kaptopril, enalpril,

fosinopril, lisinopril.

4) Agen Penghambat Reseptor Angiotensin II

Jenis ini sebaiknya hanya digunakan terutama pada pasien

yang mengalami batuk jika menggunaan penghambat ACE.

Contoh obat pada golongan ini adalah eprosartan, irbesartan,

losartan, valsartan.

5) Agen Penghambat Saluran Kalsium

Obat ini beraksi dengan cara menyebabkan vasodilatasi

perifer, yang berkaitan dengan refleks takikardi yang kurang

begitu nyata dan retensi cairan daripada vasodilator yang lain.

Efek samping yang paling biasa yakni nyeri kepala, edema

perifer, bradikardi dan konstipasi. Obat yang tergolong dalam

golongan ini diantaranya amlodipin, isradipin, nikardipin,

nifedipin.

6) Antagonis Adrenoseptor Alfa

Parazosin, terazosin dan doksazosin memblok reseptor alfa

pasca sinaptik, membuat rileks otot polos dan menurunkan

tekanan darah dengan menurunkan resistensi vaskuler perifer.

(27)

setelah dosis pertama, yang oleh sebab itu sebaiknya diberikan

dosis kecil dan diberikan pada saat akan tidur.

7) Obat-obat dengan Aksi Simpatolitik Sentral

Metildopa, klonidin, gunabenz, dan guanfacine menurunkan

tekanan darah dengan cara menstimulasi reseptor alfa

adrenergicpada sistem saraf pusat, sehingga mengurangi aliran

keluar simpatetik perifer eferen. Hal yang perlu diperhatikan

yaitu hipertensi kembali terjadi setelah penghentian pemberian

obat dan beberapa efek samping lainnya.

8) Dilator Arteriolar

Hidralazin dan minoksidil menyebabkan rileks otot polos

vaskuler dan menyebabkan vasodilatasi perifer. Hidralazin

menyebabkan gangguan gastrointestinal dan dapat menginduksi

sindroma menyerupai lupus. Minoksidil menyebabkan

hirsutisme dan retensi cairan yang nyata.

9) Penghambat Simpatetik Perifer

Reserpin merupakan agen hipertensi yang hemat biaya.

Oleh karena efek samping obat ini yang dapat menginduksi

depresi mental dan efek samping lainnya seperti sedasi, hidung

tersumbat, gangguan tidur, dan ulkus peptikum, menyebabkan

obat ini tidak popular digunakan, meskipun masalah ini tidak

(28)

C. Penatalaksanaan Diet Pada PenyakitSpace Occupying Lesion 1. Tujuan Diet

Tujuan dari penatalaksanaan nutrisi pada penyakit Space Occupying

Lesion yaitu untuk mencapai dan mempertahankan status gizi optimal,

mencegah penurunan berat badan secara berlebihan, mengurangi keluhan

(mual, diare, dan muntah), dan mengupayakan perubahan sikap dan perilaku

terhadap makanan oleh pasien dan keluarganya (Wahyuningsih, 2013).

2. Syarat Diet

a. Energi diberikan tinggi, yaitu 36 kkal/Kg Berat Badan/hari untuk

laki-laki dan sebesar 32 kkal/Kg Berat Badan/hari untuk perempuan.

Apabila pasien dalam keadaan gizi yang kurang, maka kebutuhan

energi menjadi 40 kkal/Kg Berat Badan/hari untuk laki-laki dan 36

kkal/Kg Berat Badan/hari untuk perempuan.

b. Protein diberikan tinggi, sekitar 1-1,5 g/Kg Berat Badan/hari.

c. Lemak diberikan sedang, yaitu 15-20% dari kebutuhan energi total.

d. Karbohidrat diberikan cukup, yaitu sisa dari kebutuhan energi total.

e. Vitamin dan mineral diberikan cukup, terutama vitamin A, vitamin B

kompleks, vitamin C, dan vitamin E bila perlu ditambah dalam

bentuk suplemen.

f. Rendah iodium apabila sedang menjalani medikasi radioaktif

internal.

g. Apabila imunitas menurun (leukosit < 10 ul) atau pasien akan

menjalani kemoterapi agresif, pasien harus mendapatkan makanan

(29)

h. Porsi makan diberikan dalam jumlah kecil dan sering.

i. Apabila pasien mengalami anoreksia, dianjurkan makanan yang

disukai atau dapat diterima walaupun tidak lapar, hindari minum

sebelum makan. Apabila ada masalah dalam pengecapan, maka

makanan atau minuman diberikan dengan suhu kamar atau dingin,

tambahkan bumbu makanan yang sesuai untuk menambah rasa,

minuman diberikan dalam bentuk segar seperti sari atau jus buah.

Apabila ada kesulitan mengunyah atau menelan, minum dengan

menggunakan sedotan, diberikan dengan suhu kamar atau dingin,

bentuk makanan disaring/makanan cair, dan hindari makanan yang

terlalu asam atau asin. Apabila mulut kering, makanan/minuman

diberikan pada suhu dingin, dalam bentuk makanan cair, mengunyah

permen karet atau hard candy. Apabila pasien mengalami mual dan

muntah, maka diberikan makanan kering, dan hindari makanan yang

merangsang, makanan tinggi lemak, terlalu manis, serta batasi cairan

pada saat makan.

D. Penatalaksanaan Diet Pada Penyakit Hipertensi

1. Tujuan Diet

Tujuan dari penatalaksanaan nutrisi pasien hipertensi adalah untuk

membantu menurunkan tekanan darah dan mempertahankan tekanan darah

menjadi normal. Disamping itu, diet juga ditujukan untuk menurunkan faktor

resiko lain seperti berat badan yang berlebih, tingginya kadar lemak

(30)

penyakit degeneratif lain yang menyertai darah tinggi seperti jantung, ginjal,

dan diabetes mellitus. Diet yang saat ini dikembangkan dan

direkomendasikan oleh JNC untuk hipertensi adalah diet DASH (Dietary

Approach To Stop Hypertension), yaitu diet yang kaya akan buah-buahan,

sayur-sayuran, dan produk-produk makanan yang rendah lemak

(Wahyuningsih, 2013).

2. Syarat Diet

Adapun hal-hal yang harus diperhatikan dalam diet hipertensi adalah

(Wahyuningsih, 2013) :

a. Pasien mengkonsumsi makanan beraneka ragam dan gizi seimbang.

b. Jenis dan komposisi makanan disesuaikan dengan kondisi pasien.

c. Jumlah garam dibatasi sesuai dengan kesehatan pasien dan jenis

makanan dalam daftar diet. Garam yang dimaksud adalah garam

natrium yang terdapat dalam hampir semua bahan makanan yang

berasal dari dari hewan dan tumbuh-tumbuhan. Salah satu sumber

utama garam natrium adalah garam dapur. Oleh karena itu,

dianjurkan konsumsi garam dapur tidak lebih dari ¼ - ½ sdt/hari.

d. Makanan yang harus dihindari atau dibatasi adalah makanan yang

berkadar lemak jenuh tinggi, makanan yang diolah dengan

menggunakan garam natrium, makanan dan minuman dalam kaleng,

makanan yang diawetkan, susu full cream, mentega, margarin, keju,

mayonnaise, serta sumber protein hewani yang tinggi kolesterol.

e. Meningkatkan pemasukan kalium (4,5 gram atau 120-175 mEq/hari),

(31)

Konsumsi kalium dapat menurunkan tekanan darah (bila asupan

natrium tinggi), karena kalium berfungsi sebagai diuretik yaitu

merangsang pengeluaran urin sehingga pengeluaran natrium cairan

meningkat serta kalium mengahambat pengeluaran renin sehingga

mengubah sistemrenin angiostensin.

E. Terapi Medika Mentosa Untuk PenyakitSpace Occupying Lesion

Adapun terapi medika mentosa untuk penyakit Space Occupying Lesion

adalah sebagai berikut (Dhita, 2012) :

1. Antikonvulsan untuk epilepsi

2. Kortikosteroid (dekamentosa) untuk peningkatan teknan intrakranial.

Steroid juga dapat memperbaiki defisit neurologis fokal sementara

dengan mengobati edema otak.

3. Kemoterapi adalah tindakan/terapi pemberian senyawa kimia atau obat

sitostatika untuk mengurangi, menghilangkan atau menghambat

pertumbuhan parasit atau mikroba di tubuh hospes (pasien). Kemoterapi

dapat dipakai sebagai pengobatan tunggal untuk kanker atau

bersama-sama dengan radiasi dan pembedahan. Obat-obatan yang sering

digunakan pada kemoterapi SSP adalah :

a. Lomustin (Cee-Nu); D : PO: 130 mg/m2/hari sebagai dosis tunggal.

Untuk mengobati penyakit hodgkin dan tumor-tumor SSP. Efek

sampingnya yaitu kerusakan sumsum tulang dapat menetap pada

(32)

b. Karmustin (Bicnu); D: IV: 75-100 mg/m2/hari, selama 2 hari atau 200 mg/m2/hari. Untuk mengobati mieloma multipel, melanoma dan

tumor-tumor SSP.

F. Terapi Medika Mentosa Untuk Penyakit Hipertensi

Adapun terapi medika mentosa untuk penyakit hipertensi adalah sebagai

berikut (Wahyuningsih, 2013) :

1. Diuretik :

a. Spironolakton(aldactone) adalah potasium sparing.

b. Thiozides (furosemid/lasix) mengeluarkan kalium, oleh karena itu

pada penggunaannya dibutuhkan suplementasi.

c. Penggunaan obat ini dapat menyebabkan terjadinya diare.

2. Anti Hipertensi : Reserpin (serpasil), harus disertai pembatasan natrium

dan sebaiknya minum obat bersamaan dengan makanan.

3. Captopril (Capoten) : dapat mempengaruhi kadar ureum dan kreatinin

serum. Sebaiknya minum obat 1 jam sebelum makan.

4. Amoloride (Moduretic) : salah satu anti hipertensi dan diuretik,

penggunaannya disertai dengan diet pembatasan natrium dan kalori.

5. Clondine (Catapres) : penggunaannya harus disertai dengan diet rendah

kalori dan natrium. Dapat menyebabkan mulut kering, mual, muntah, dan

oedema.

6. Prazosin (Minipres) : menyebabkan mual, anoreksia, diare atau

konstipasi, dan kenaikan berat badan.

(33)

G. Metode Penilaian Status Gizi

1. Penilaian Konsumsi Makan

Penilaian konsumsi makan yaitu suatu metode penentuan status gizi

secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang

dikonsumsi, sehingga dapat memberikan gambaran tentang konsumsi zat gizi

pasien (Wahyuningsih, 2013). Adapun metode dalam penilaian konsumsi

makan adalah sebagai berikut :

a. Metode Penimbangan Makanan (Food Weighing)

Pada metode penimbangan makanan, responden atau petugas

menimbang dan mencatat seluruh makanan yang dikonsumsi selama satu

hari. Penimbangan makanan ini biasanya berlangsung beberapa hari

tergantung dari tujuan, dana penelitian, dan tenaga yang tersedia

(Supariasa, dkk, 2001).

Langkah-langkah pelaksanaan penimbangan adalah sebagai berikut

(Suparisa, dkk, 2001) :

1) Petugas/responden menimbang dan mencatat bahan

makanan/makanan yang dikonsumsi dalam gram.

2) Jumlah bahan makanan yang dikonsumsi sehari, kemudian

dianalisis dengan menggunakan Daftar Komposisi Bahan

Makanan (DKBM) atau Daftar Komposisi Gizi Jajanan (DKGJ).

3) Membandingkan hasilnya dengan Angka Kecukupan Gizi

(AKG) yang dianjurkan.

Hal yang perlu diperhatikan adalah jika terdapat sisa makanan

(34)

mengetahui jumlah sesungguhnya makanan yang dikonsumsi (Supariasa,

dkk, 2001).

Kelebihan dari metode ini adalah data yang diperoleh lebih

akurat/teliti. Sedangkan untuk kekurangannya adalah :

1) Memerlukan waktu dan cukup mahal karena memerlukan

peralatan.

2) Bila penimbangan dilakukan dalam periode yang cukup lama,

maka responden dapat merubah kebiasaan makan mereka.

3) Tenaga pengumpul data harus terlatih dan terampil.

4) Memerlukan kerjasama yang baik dengan responden.

b. MetodeFood Recall24 Jam

Prinsip dari metode food recall 24 jam yaitu dilakukan dengan

mencatat jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi pada periode

24 jam yang lalu. Metode ini dimulai dari tahap makan pagi, makan

siang, makan sore/malam, serta selingan. Hal penting yang perlu

diketahui adalah bahwa dengan food recall 24 jam data yang diperoleh

cenderung lebih bersifat kualitatif. Oleh karena itu, untuk mendapatkan

data kuantitatif, maka jumlah konsumsi makanan individu ditanyakan

secara teliti dengan menggunakan alat URT (sendok, gelas, piring) atau

ukuran lainnya yang biasa digunakan sehari-hari (Supariasa, dkk, 2001).

Langkah-langkah dalam pelaksanaan food recall 24 jam adalah

(Supariasa, dkk, 2001) :

1) Petugas menanyakan kembali dan mencata semua bahan

(35)

ukuran rumah tangga (URT) selama kurun waktu 24 jam yang

lalu.

2) Menganalisis bahan makanan kedalam zat gizi dengan

menggunakan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM).

3) Membandingkan dengan Daftar Kecukupan Gizi yang

dianjurkan (DKGA) atau Angka Kecukupan Gizi (AKG) untuk

Indonesia.

Metodefood recall 24 jam ini mempunyai beberapa kelebihan yaitu

(Supariasa, dkk, 2001) :

1) Mudah melaksanakannya serta tidak perlu membebani

responden

2) Biaya relatif murah, karena tidak memerlukan peralatan khusus

dan tempat yang luas untuk wawancara

3) Cepat, sehingga dapat mencakup banyak responden

4) Dapat digunakan untuk responden yang buta huruf

5) Dapat memberikan gambaran nyata yang benar-benar

dikonsumsi individu sehingga dapat dihitung asupan zat gizi

sehari

Sedangkan untuk kekurangan dari metode food recall 24 jam adalah

(Supariasa, dkk, 2001) :

1) Tidak dapat menggambarkan asupan makanan sehari-hari, bila

hanya dilakukanrecallsatu hari

(36)

3) The flat slope syndrome, yaitu kecenderungan hasil bagi

responden yang kurus untuk melaporkan konsumsinya lebih

banyak dan bagi responden gemuk cenderung melaporkan lebih

sedikit

4) Membutuhkan tenaga atau petugas yang terlatih dan terampil

dalam menggunakan alat bantu URT dan ketepatan alat bantu

yang dipakai menurut kebiasaan masyarakat

5) Responden harus diberi motivasi dan penjelasan tentang tujuan

dari penelitian

Evaluasi penilaian konsumsi makanan yaitu dengan menilai kualitas

makanan yang didasarkan sumber-sumber nutrien dengan menggunakan

sistem skoring tertentu. Selain itu, dinilai pula kuantitas makanan meliputi

total energi maupun nutrien lain yang dikonsumsi dibandingkan dengan

kebutuhan/requirementpasien tersebut, seperti (Wahyuningsih, 2013) :

Tingkat konsumsi = Asupan Zat Gizi

Kebutuhan Zat Gizi x 100%

Kriteria tingkat konsumsi ditentukan menurut lima cut off point

berdasarkan Depkes RI (1996), sebagai berikut (Wahyuningsih, 2013) :

a. Di atas kebutuhan : > 120%

b. Normal : 90-119%

c. Defisit Ringan : 80-89%

d. Defisit Sedang : 70-79%

e. Defisit Berat : < 70%

Kriteria tersebut digunakan untuk membantu screeningtingkat konsumsi

(37)

makan pasien di Rumah Sakit bisa menggunakan evaluasi sisa makanan yang

tidak termakan oleh pasien (dicantumkan pada SK Menkes RI

No:129/Menkes/SK/II/ 2008 tentang standar pelayanan minimal Rumah

Sakit), dengan kriteria standar≥ 20%, yakni pasien dikatakan mengkonsumsi

makanan dengan baik apabila mampu menghabiskan makanan sebesar≥ 80%

dan apabila tingkat konsumsi < 80% dikatakan kurang (Wahyuningsih, 2013).

2. Penilaian Laboratorium/Biokimia

Penilaian laboratorium/biokimia yaitu suatu metode penilaian status gizi

dengan cara melakukan pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris,

dan dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Spesimen tubuh yang

digunakan untuk uji laboratoris antara lain darah, urine, tinja, dan juga

beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot (Wahyuningsih, 2013).

Evaluasi hasil pemeriksaan laboratorium yaitu dengan cara

membandingkan hasil yang diperoleh dengan reference values atau dengan

menggunakan angka pembatas/cut off points(Wahyuningsih, 2013).

Salah satu pemeriksaan laboratorium/biokimia adalah pemeriksaan

kolesterol. Kolesterol merupakan hasil sintesis lemak darah oleh hepar.

Kolesterol digunakan oleh tubuh untuk membentuk garam empedu yang

berfungsi untuk mencerna lemak dan untuk pembentukan hormon oleh

kelenjar adrenal, ovarium, dan testis. Adapun nilai normal kadar normal

kolesterol adalah 133-200 mg/dl (Wahyuningsih, 2013). Pemeriksaan

kolesterol tidak dilakukan setiap hari, seminggu sekali ataupun dua minggu

(38)

kurang dari 3 (tiga) minggu dapat menghasilkan data yang kurang akurat,

dimana ada kemungkinan keadaan kondisi kolesterol di dalam darah masih

sama dengan kondisi sebelumnya. Oleh karena itu, disarankan pemeriksaan

kolesterol paling tidak 1 (satu) bulan jaraknya dengan pemeriksaan

sebelumnya (Graha, 2010).

3. Penilaian Antropometri

Penilaian antropometri yaitu suatu metode penilaian status gizi dengan

cara menilai ukuran tubuh manusia. Ukuran tubuh seseorang sangat erat

kaitannya dengan status gizi. Atas dasar tersebut, ukuran-ukuran antropometri

diakui sebagai indeks yang baik dan dapat diandalkan bagi penentuan status

gizi. Evaluasi hasil pengukuran antropometri yaitu dengan cara

membandingkan hasil yang diperoleh dengan reference values atau dengan

menggunakan angka pembatas/cut off points(Wahyuningsih, 2013).

Salah satu metode penilaian status gizi yaitu dengan menggunakan

Indeks Massa Tubuh (IMT). Indeks massa tubuh merupakan nilai yang

diambil dari perhitungan antara berat badan dibandingkan dengan tinggi

badan. Adapun rumus perhitungan IMT adalah sebagai berikut

(Wahyuningsih, 2013) :

IMT = Berat Badan (Kg)

(39)

Tabel 2. Klasifikasi Status Gizi Menurut IMT (Almatsier, 2004)

Kategori IMT

Kurus Kurang BB tingkat berat < 17,0 Kurang BB tingkat ringan 17,0-18,5

Normal > 18,5-25

Gemuk Kelebihan BB tingkat ringan > 25-27 Kelebihan BB tingkat berat > 27

4. Penilaian Fisik dan Klinis

Pemeriksaan fisik merupakan suatu metode penentuan status gizi dengan

melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan), dan melihat perubahan

struktur dan jaringan. Sedangkan penilaian klinis yaitu suatu metode

penentuan status gizi yang didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi

yang dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Evaluasi hasil

pengukuran fisik dan klinis yaitu dengan cara membandingkan hasil yang

diperoleh dengan normal reference values atau dengan menggunakan angka

pembatas/cut off points untuk beberapa pemeriksaan pada klinis seperti

(Wahyuningsih, 2013) :

Tabel 3. Nilai Normal Pemeriksaan Frekuensi Nadi atau Detak Jantung

N atau HR (kali/menit) Klasifikasi

< 60 Bradikardia

60-100 Normal

(40)

Tabel 4. Nilai Normal Pemeriksaan Frekuensi Pernapasan

RR (kali/menit) Klasifikasi

< 14 Apnea

14-20 Eupnea

> 20 Takipnea

Tabel 5. Nilai Normal Pemeriksaan Suhu Tubuh

Suhu (⁰C) Klasifikasi

≤ 37 Normal

(41)

BAB III

RENCANA DAN IMPLEMENTASI ASUHAN GIZI

A. IDENTITAS UMUM PASIEN

1. Nama Pasien : Ny. L

2. No. Rekam Medik : 250999

3. Jenis Kelamin : Perempuan

4. Umur : 46 tahun

5. Diagnosa Medis : Space Occupying Lesiondisertai Hipertensi

6. Ruang Perawatan : Flamboyan

7. Kelas Perawatan : Kelas IA

B. ASSESSMENT 1. Antropometri

a. Berat Badan : 34 kg

b. Tinggi Badan : 148 cm

c. Berat Badan Ideal : Tinggi Badan (cm)–100

148–100 = 48 kg

d. IMT : 15,52

Tabel 6. Klasifikasi Status Gizi Menurut IMT (Almatsier, 2004)

Kategori IMT

Kurus Kurang BB tingkat berat < 17,0 Kurang BB tingkat ringan 17,0-18,5

Normal > 18,5-25

Gemuk Kelebihan BB tingkat ringan > 25-27 Kelebihan BB tingkat berat > 27

e. Status Gizi : Kurus (Kurang BB tingkat berat)

Kesimpulan : Status gizi Ny. L termasuk dalam

kategori kurus (kurang berat badan

tingkat berat) yang ditunjukan oleh

(42)

Ny. L kurang dari berat badan ideal

yang telah ditentukan.

2. Biokimia

Tabel 7. Hasil Pemeriksaan Laboratorium/biokimia Ny. L

Hasil Lab Nilai Normal Keterangan

Kolesterol 205 mg/dl 133-200 mg/dl Tinggi

Kesimpulan : Hasil pemeriksaan biokimia Ny. L menunjukkan bahwa

kadar kolesterol Ny. L melebihi batas normal (tinggi).

3. Medika Mentosa

Tabel 8. Terapi Medika Mentosa Ny. L

Nama Obat Dosis

Pemberian Keterangan

Tramadol 2 amp Drip Untuk nyeri berat dan nyeri post operasi

MPS 125 3 x 1 Obat pengendor syaraf

OMZ 2 x 1 Obat penetral asam lambung

4. Pemeriksaan Fisik–Klinis a. Pemeriksaan Fisik

 Ny. L mengeluh sakit kepala, mata sebelah kiri tidak dapat

membuka

b. Pemeriksaan Klinis

Tabel 9. Hasil Pemeriksaan Klinis Ny. L

Nilai Normal Hasil Ukur Keterangan

Tekanan Darah 120/80 mmHg 130/90 mmHg Pra-Hipertensi

Nadi 60-100 kali/menit 80 kali/menit Normal

Respirasi 14-20 kali/menit 21 kali/menit Takipnea

Suhu ≤ 37⁰C 37,2⁰C Demam

Kesimpulan : Kondisi fisik Ny. L mengalami gangguan di bagian mata

sebelah kiri dan mengeluh sakit di bagian kepala, serta

(43)

5. Riwayat Gizi

a. Hasil anamnesa :

 Ny. L kebiasaan makan makanan tinggi natrium seperti ikan

asin, kecap, sea food, serta makanan tinggi lemak seperti

gorengan, kulit ayam, dan jeroan

b. Recall 24 jam Hari Ke 1 :

Tabel 10. Hasil Recall 24 Jam Hari Ke 1 Waktu

Bihun Goreng 37,5 3 sdm 88,9 0,7 5,7 8,6

Ikan Goreng 10 ¼ ekor 16 1,3 1,2 0

Siang

Nasi 21 3 sdm 27,3 0,5 0 6

Bihun Goreng 37,5 3 sdm 88,9 0,7 5,7 8,6

Ikan Goreng 10 ¼ ekor 16 1,3 1,2 0

Sore Nasi 21 3 sdm 27,3 0,5 0 6

Ikan Goreng 5 ½ ekor 8 0,6 0,6 0

Jumlah Asupan 299,7 6,2 14,5 35,2

Kebutuhan Asupan*) 1728 64,8 34,8 280,8

Persentase Asupan 17,34% 9,57% 41,67% 12,53%

Kriteria Tingkat Konsumsi**) Defisit

*)Kebutuhan asupan berdasarkan perhitungan kebutuhan gizi Ny. L

**)Kriteria tingkat konsumsi pasien sebelum masuk Rumah Sakit

(Wahyuningsih, 2013) :

(44)

c. Recall 24 jam Hari Ke 2 :

Tabel 12. Hasil Recall 24 Jam Hari Ke 2 Waktu

Tempe Bacem 25 1 potong 59,3 2,7 3,8 4,4

Sayur Sop 50 1 mangkuk 52 0,9 3,5 5,3

Siang

Bubur 120 10 sdm 87,5 1,6 0,1 19,2

Tempe Bacem 25 1 potong 59,3 2,7 3,8 4,4

Sayur Sop 50 1 mangkuk 52 0,9 3,5 5,3

Sore

Bubur 120 10 sdm 87,5 1,6 0,1 19,2

Telur Pindang 35 1 buah 54,3 4,4 3,7 0,4

Pepes Tahu 50 1 buah 38 4,1 2,4 0,9

Sayur Sop 50 1 mangkuk 52 0,9 3,5 5,3

Jumlah Asupan 599,8 21,9 25,4 74

Kebutuhan Asupan*) 1728 64,8 34,8 280,8

Persentase Asupan 34,71% 33,79% 72,99% 26,35%

Kriteria Tingkat Konsumsi**) Kurang Kurang Kurang Kurang

*) Kebutuhan asupan berdasarkan perhitungan kebutuhan gizi Ny. L

**)Kriteria tingkat konsumsi pasien Rumah Sakit (Wahyuningsih, 2013) :

Tabel 13. Kriteria Tingkat Konsumsi Pasien Rumah Sakit Kriteria Persentase Asupan

Baik ≥ 80%

Kurang < 80%

Kesimpulan : Asupan makanan Ny. L masih kurang dari kebutuhan,

dan Ny. L mempunyai kebiasaan mengkonsumsi

makanan yang dapat menyebabkan tekanan darah tinggi

(45)

6. Riwayat Personal Pasien

a. Kondisi saat masuk Rumah Sakit : Ny. L mengeluh sakit kepala,

1 minggu yang lalu mata sebelah kiri tidak bisa terbuka, mual,

muntah, ada sesak nafas.

b. Pekerjaan/aktivitas sehari-hari : Ibu rumah tangga

c. Ny. L tidak suka berolahraga

d. Ny. L memiliki riwayat hipertensi

e. Ny. L mempunyai kebiasaan bergadang di malam hari (tidur hanya 3

jam)

f. Ny. L belum pernah mendapatkan konsultasi gizi

C. DIAGNOSA GIZI

Tabel 14. Diagnosa Gizi Ny. L

Problem Etiology (Berkaitan

Asupan energi 26,02%, protein

21,68%, lemak 57,33%, dan KH

19,44% dari kebutuhan asupan

(tingkat konsumsi < 80% termasuk

kategori kurang)

(Tekanan darah normal : < 120/80

mmHg)

Hasil Lab Kolesterol 205 mg/dl

(Tinggi)

(46)

Domain Behaviour :

lemak (gorengan, kulit ayam, jeroan),

makanan tinggi natrium (ikan asin,

kecap,sea food)

D. INTERVENSI GIZI 1. Tujuan Diet

a. Menurunkan tekanan darah hingga mencapai normal

b. Menurunkan kadar kolesterol hingga mencapai kadar normal

c. Memberikan makanan yang dibutuhkan pasien yang disesuaikan

dengan kondisi fisik, klinis, dan penyakit pasien

d. Meningkatkan asupan makanan pasien agar kebutuhan gizinya

terpenuhi

e. Mencapai status gizi normal dan berat badan ideal

2. Preskripsi Diet

a. Syarat Diet :

1) Energi diberikan tinggi, yaitu 36 kkal/Kg berat badan pasien.

2) Protein diberikan tinggi, yaitu sebesar 15% dari kebutuhan

energi total.

3) Lemak diberikan dalam batas minimal normal, yaitu sebesar

20% dari kebutuhan energi total.

4) Karbohidrat diberikan normal, yaitu 65% dari kebutuhan energi

total.

5) Vitamin diberikan cukup, sesuai kebutuhan normal.

6) Mineral diberikan cukup, sesuai kebutuhan normal.

7) Cairan diberikan cukup, yaitu 6-8 gelas/hari.

b. Prinsip Diet : Tinggi Kalori Tinggi Protein (TKTP), Rendah

garam, Rendah kolesterol

c. Jenis Diet : DietSpace Occupying Lesiondisertai hipertensi

(47)

e. Frekuensi Pemberian Makan : 3 kali makan utama, 2 kali makan

selingan

f. Rute Makanan : Oral

g. Perhitungan Kebutuhan

a) Kebutuhan Energi :

Energi : 36 kkal/Kg Berat Badan

: 36 kkal x 48

: 1728 kkal

b) Kebutuhan Protein :

Protein

=

=

= 64,8 gram

c) Kebutuhan Lemak :

Lemak

=

=

= 38,4 gram

d) Kebutuhan Karbohidrat :

KH

=

=

(48)

h. Bahan Makanan yang Diperbolehkan dan Dihindari

Tabel 15. Bahan Makanan yang Diperbolehkan dan Dihindari

Bahan Makanan Dianjurkan Dibatasi/Dihindari

Ayam tanpa kulit, ikan air tawar kecuali gurame dan lele, telur ayam, daging sapi

Jeroan, kulit ayam, ikan asin, ikan gurame, sea food, ikan lele, telur asin,

bebek, corned, sosis,

Sayuran A dan B segar; sayuran yang diawet tanpa sawi asin, asinan, dan acar

Buah-buahan

Lemak Minyak goreng Mentega dan margarin

Bumbu

(49)

i. Standar Makanan

Karbohidrat 5p 875 20 0 200

Protein Hewani 3p 225 21 15 0

Protein Nabati 3p 150 10 10 14

Sayuran 3p 75 3 0 15

Buah 3p 150 0 0 36

Minyak 4p 200 0 20 0

Jumlah 1675 54 45 265

j. Pembagian Makan Sehari

Tabel 17. Pembagian Makan Sehari

Bahan

Protein Nabati 3p 1 1 1

Sayuran 3p 1 1 1

Buah 3p 1 1 1

Minyak 4p 1 2 1

3. Edukasi Gizi

a. Memberikan pengertian mengenai prinsip dan jenis diet yang harus

dijalani Ny. L selama perawatan di Rumah Sakit, yaitu diet Space

Occupying Lesion disertai hipertensi (TKTP, rendah garam, rendah

kolesterol). Penjelasan diet meliputi tujuan diet, prinsip diet, bahan

(50)

b. Menganjurkan Ny. L untuk makan makanan yang mengandung

kolesterol rendah dan rendah garam agar kadar kolesterol dan

tekanan darah mencapai normal.

c. Menganjurkan Ny. L untuk meningkatkan asupan makanannya agar

kebutuhan gizinya terpenuhi.

d. Memberitahukan bagaimana pola hidup dan pola makan yang baik

agar tekanan darah Ny. L tetap dalam batas normal.

4. Konseling Gizi

a. Ny. L disarankan untuk mengkonsumsi makanan rendah kolesterol

dan rendah garam dengan jenis makanan bertekstur lunak.

b. Ny. L diberi motivasi untuk merubah kebiasaan makan yang salah

yang ditandai dengan pola makan dan jumlah makanan yang

dikonsumsi.

c. Mendiskusikan pola menu yang mengandung zat gizi seimbang,

dapat dipenuhi, dan setiap kali makan terdiri dari makanan pokok,

lauk hewani, lauk nabati, sayur, dan buah. Hindari bahan makanan

yang harus dibatasi oleh Ny. L.

E. Monitoring dan Evaluasi

Tabel 18. Monitoring dan Evaluasi

Parameter Tolak Ukur Target

Asupan zat gizi (energi, protein, lemak, KH)

Peningkatan asupan zat gizi (energi, protein, lemak, KH)

Energi = 1728 kkal Protein = 64,8 gram Lemak = 38,4 gram KH = 280,8 gram Tekanan Darah Penurunan tekanan darah

hingga mencapai normal

Tekanan darah 120/80 mmHg

Kadar Kolesterol Penurunan kadar kolesterol hingga mencapai normal

Kadar Kolesterol normal 133-200 mg/dl

Pola Menu Pola makan dengan menu

seimbang dan porsi cukup

(51)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN A. ASUPAN MAKANAN

Pemantauan terhadap asupan makanan Ny. L dilakukan selama 4 (empat) hari

berturut-turut yaitu dari hari Selasa 10 Maret 2015 sampai dengan hari Jumat

13 Maret 2015. Pemantauan terhadap asupan makanan Ny. L dilakukan dengan

menggunakan 2 (dua) cara yaitu Recall 24 jam dan pemorsian (penimbangan

makanan). Metode Recall 24 jam dilakukan pada hari ke 1 dan 2 (6 kali waktu

makan), sedangkan untuk metode pemorsian dilakukan pada hari ke 3 dan 4

(5 kali waktu makan). Namun pada hari ke 4, pemorsian dilakukan hanya untuk

makan pagi dan makan siang saja. Hal ini dikarenakan pada hari ke 4 Ny. L sudah

boleh pulang/meninggalkan Rumah Sakit.

Berikut merupakan rincian dari hasil pemantauan terhadap asupan makanan

Ny. L :

1. Asupan Energi

Asupan energi yang paling besar didapat dari bahan makanan sumber

karbohidrat seperti beras, kentang, bihun, mie, singkong, ubi, talas, makaroni,

dan bahan makanan sumber karbohidrat lainnya. Adapun hasil pemantauan

(52)

Tabel 19. Hasil Pemantauan Asupan Energi Ny. L Selama 4 (Empat) Hari

Hasil Pemantauan

Hari Ke 1 Hari Ke 2 Hari Ke 3 Hari Ke 4

Jumlah Asupan 299,7 599,8 1472,8 893,4

449,75

Kebutuhan Asupan 1728 1728 1209,6

Persentase Asupan 26,02% 85,23% 73,86%

Tingkat Konsumsi Kurang Baik Kurang

Gambar 1. Grafik Asupan Energi Ny. L Selama 4 (Empat) Hari

Persentase asupan energi merupakan hasil perbandingan antara jumlah

asupan energi dengan kebutuhan energi Ny. L. Berdasarkan hasil recall

24 jam, pada hari ke 1 dan ke 2 rata-rata persentase asupan energi Ny. L

sebesar 26,02% dari kebutuhan asupan. Hasil recall 24 jam tersebut jika

dibandingkan dengan kriteria tingkat konsumsi pasien Rumah Sakit termasuk

dalam kriteria tingkat konsumsi kurang karena persentase asupan < 80% 26,02%

Grafik Asupan Energi Ny. L

(53)

kebutuhan asupan. Setelah dianamnesa, asupan energi kurang tersebut

disebabkan oleh kurangnya nafsu makan serta ketersediaan makanan yang

belum seimbang. Sedangkan pada hari ke 3 tingkat konsumsi Ny. L termasuk

dalam kriteria tingkat konsumsi baik karena persentase asupan > 80%

kebutuhan asupan yaitu sebesar 85,23%. Peningkatan persentase konsumsi

tersebut disebabkan oleh adanya kemauan dari Ny. L untuk sembuh dengan

cara mematuhi diet yang diberikan serta kuantitas makanan yang disajikan

sudah disesuaikan dengan kebutuhan asupan Ny. L. Namun pada hari ke 4,

persentase asupan Ny. L mengalami penurunan kembali menjadi 73,86% dari

kebutuhan dan kriteria tingkat konsumsi kurang. Penurunan tersebut

dikarenakan makanan yang disajikan tidak dikonsumsi habis oleh Ny. L

sehingga asupan makanannya kurang dari kebutuhan.

2. Asupan Protein

Protein merupakan zat pembangun bagi tubuh manusia. Asupan protein

didapat dari bahan makanan sumber protein hewani dan protein nabati seperti

daging sapi, daging ayam, ikan, telur, tahu, tempe, dan kacang-kacangan.

Berikut merupakan hasil pemantauan asupan protein Ny. L selama 4 (empat)

(54)

Tabel 20. Hasil Pemantauan Asupan Protein Ny. L Selama 4 (Empat) Hari

Hasil

Hari Ke 1 Hari Ke 2 Hari Ke 3 Hari Ke 4

Jumlah Asupan 6,2 21,9 50,4 38,8

14,05

Kebutuhan Asupan 64,8 64,8 45,36

Persentase Asupan 21,68% 77,77% 85,53%

Tingkat Konsumsi Kurang Kurang Baik

Gambar 2. Grafik Asupan Protein Ny. L Selama 4 (Empat) Hari

Data di atas menunjukkan bahwa asupan protein Ny. L selama 4 (empat)

hari mengalami peningkatan pada hari ke 1 sampai hari ke 4. Berdasarkan

hasil recall 24 jam, pada hari ke 1 dan ke 2 asupan protein Ny. L rata-rata

persentase asupan sebesar 21,68% dari kebutuhan asupan dan termasuk dalam

kriteria tingkat konsumsi kurang. Kurangnya asupan protein tersebut

disebabkan oleh pola konsumsi Ny. L pada hari ke 1 yang hanya

mengkonsumsi bahan makanan sumber protein hewani saja dengan jumlah 21,68%

Grafik Asupan Protein Ny. L

(55)

yang sedikit. Adapun hasil pemorisan pada hari ke 3 dan ke 4 persentase

asupan protein Ny. L mencapai 77,77% dan 85,53% dari kebutuhan asupan.

Persentase asupan tersebut menunjukkan bahwa tingkat konsumsi protein

Ny. L mengalami peningkatan meskipun pada hari ke 3 masih dalam kriteria

tingkat konsumsi kurang. Peningkatan persentase tersebut disebabkan oleh

jumlah dan jenis bahan makanan yang dikonsumsi Ny. L lebih beragam

terutama pada bahan makanan sumber protein yang terdiri dari protein

hewani dan protein nabati.

3. Lemak

Bahan makanan yang digunakan dalam diet Ny. L merupakan bahan

makanan yang mengandung rendah kolesterol. Berikut merupakan hasil

pemantauan asupan lemak Ny. L selama 4 (empat) hari berturut-turut :

Tabel 21. Hasil Pemantauan Asupan Lemak Ny. L Selama 4 (Empat) Hari

Hasil

Hari Ke 1 Hari Ke 2 Hari Ke 3 Hari Ke 4

Jumlah Asupan 14,5 25,4 37,9 20

19,95

Kebutuhan Asupan 34,8 34,8 24,36

Persentase Asupan 57,33% 108,91% 82,10%

(56)

Gambar 3. Grafik Asupan Lemak Ny. L Selama 4 (Empat) Hari

Berdasarkan data di atas, rata-rata persentase asupan lemak pada hari ke

1 dam ke 2 sebesar 57,33% dari kebutuhan asupan. Rata-rata persentase

asupan tersebut termasuk dalam kriteria tingkat konsumsi kurang. Penyebab

kurangnya asupan lemak Ny. L adalah karena kurangnya variasi makanan

yang dikonsumsi Ny. L sehingga asupan lemaknya tidak terpenuhi.

Sedangkan pada hari ke 3, persentase asupan lemak Ny. L mengalami

peningkatan yaitu sebesar 108,91% dari kebutuhan asupan. Persentase asupan

tersebut sudah melebihi standar minimal yang telah ditentukan yaitu > 80%

kebutuhan asupan. Hal ini dikarenakan pada hari ke 3 Ny. L mengkonsumsi

makanan dari luar Rumah Sakit yaitu tahu goreng sehingga asupan lemaknya

melebihi kebutuhan asupan. Pada hari ke 4, asupan lemak Ny. L mencapai

82,10% dari kebutuhan asupan dan termasuk dalam kriteria tingkat konsumsi

baik.

Grafik Asupan Lemak Ny. L

(57)

4. Karbohidrat

Asupan karbohidrat didapat dari bahan makanan jenis serealia, kentang,

bihun, mie, makaroni, tepung-tepungan, dan sumber karbohidrat lainnya.

Berikut merupakan hasil pemantauan asupan karbohidrat selama 4 (empat)

hari berturut-turut :

Tabel 22. Hasil Pemantauan Asupan Karbohidrat Ny. L Selama 4 (Empat) Hari

Hasil

Hari Ke 1 Hari Ke 2 Hari Ke 3 Hari Ke 4

Jumlah Asupan 35,2 74 221,2 137,1

54,6

Kebutuhan Asupan 280,8 280,8 196,56

Persentase Asupan 19,44% 78,77% 69,75%

Tingkat Konsumsi Kurang Kurang Kurang

Gambar 4. Grafik Asupan Lemak Ny. L Selama 4 (Empat) Hari

Data di atas menunjukkan bahwa asupan karbohidrat Ny. L selama

Grafik Asupan Karbohidrat Ny. L

(58)

Persentase asupan tersebut termasuk dalam kriteria tingkat konsumsi kurang

karena asupan < 80% kebutuhan asupan. Hal tersebut disebabkan oleh jumlah

bahan makanan yang dikonsumsi Ny. L pada hari ke 1 dan ke 2 serta pola

menu Ny. L kurang seimbang, sehingga asupan karbohidratnya tidak

terpenuhi. Pada hari ke 3 tingkat konsumsi Ny. L sebesar 78,77% dari

kebutuhan asupan. Akan tetapi, pada hari ke 4 persentase asupan Ny. L

mengalami penurunan menjadi 69,75% dari kebutuhan asupan. Hal ini

dikarenakan kuantitas makanan yang dikonsumsi Ny. L lebih sedikit

dibanding dengan hari ke 3 sehingga persentase asupannya mengalami

penurunan.

B. MONITORING DAN EVALUASI DATA REKAM MEDIK

1. Data Antropometri

Berdasarkan hasil pemantauan selama 4 hari didapat hasil untuk data

antropometri adalah sebagai berikut :

Tabel 23. Hasil Pemantauan Terhadap Data Antropometri Ny. L Selama 4 Hari

Indikator Pengukuran

Hasil Pengukuran

Hari Ke 1 Hari Ke 2 Hari Ke 3 Hari Ke 4

Berat Badan 34,0 kg 34,0 kg 34,6 kg 34,5 kg

Tinggi Badan 148 cm 148 cm 148 cm 148 cm

BBI 48 kg 48 kg 48 kg 48 kg

IMT 15,52 15,52 15,80 15,75

(59)

Berdasarkan data di atas, dapat disimpulkan bahwa selama 4 (empat)

hari pemantauan berat badan Ny. L mengalami peningkatan. Pada hari ke 1

berat badan Ny. L hanya sebesar 34 kg, sedangkan hari ke 4 berat badan

Ny. L mencapai 34,5 kg. Dengan adanya pertambahan berat badan tersebut,

maka akan merubah IMT Ny. L yang semula hanya 15,52 menjadi 15,75.

Akan tetapi meskipun IMT Ny. L berubah, status gizi Ny. L tetap dalam

kategori kurus (kurang berat badan tingkat berat) karena IMT Ny. L masih

kurang dari IMT 17.

2. Data Biokimia

Tabel 24. Hasil Pemeriksaan Laboratorium Ny. L Selama 4 Hari Indikator

Pemeriksaan

Hasil Pemeriksaan

Hari Ke 1 Hari Ke 2 Hari Ke 3 Hari Ke 4

Kolesterol 205 mg/dl - -

-Berdasarkan hasil pemeriksaan, kadar kolesterol Ny. L sebesar

205 mg/dl. Hasil pemeriksaan tersebut termasuk dalam kategori tinggi karena

melebihi kadar kolesterol normal yang telah ditentukan yaitu sebesar

133-200 mg/dl. Pemeriksaan kolesterol tersebut tidak dilakukan setiap hari,

seminggu sekali ataupun dua minggu sekali karena pemeriksaan kadar

kolesterol yang dilakukan dengan jarak kurang dari 3 (tiga) minggu dapat

menghasilkan data yang kurang akurat, dimana ada kemungkinan keadaan

kondisi kolesterol di dalam darah masih sama dengan kondisi sebelumnya

(60)

3. Data Pemeriksaan Fisik

Tabel 25. Hasil Pemeriksaan Fisik Ny. L Selama 4 Hari

Hari Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan

Hari Ke 1 Pasien mengeluh sakit kepala, mual, muntah, mata

sebelah kiri tidak dapat membuka

Hari Ke 2 Pasien mengeluh sakit kepala, mual, muntah, mata

sebelah kiri tidak dapat membuka

Hari Ke 3 Pasien mengeluh perih pada perut, sesak nafas, dan mata

sebelah kiri tidak dapat membuka

Hari Ke 4 Pasien mengeluh perih pada perut, pusing, dan mata

sebelah kiri tidak dapat membuka

Kondisi Ny. L selama pengamatan 4 (empat) hari berada dalam keadaan

sadar. Selama pemantauan dari hari ke 1 sampai ke 4 kondisi Ny. L

cenderung mengalami peningkatan. Pada pengamatan hari ke 1 dan ke 2

Ny. L dalam kondisi mata sebelah kiri tidak dapat membuka secara

maksimal, mual, muntah, dan sakit kepala. Namun, pada hari ke 3 dan ke 4

pemantauan, kondisi Ny. L mengalami peningkatan. Kondisi Ny. L pada

hari ke 3 dan ke 4 yaitu perih pada perut, pusing, sesak nafas, dan mata

Gambar

Grafik Asupan Energi Ny. L Selama 4 (Empat) Hari.....................
Tabel 1. Klasifikasi Hipertensi Menurut JNC-7
Tabel 2. Klasifikasi Status Gizi Menurut IMT (Almatsier, 2004)
Tabel 5. Nilai Normal Pemeriksaan Suhu Tubuh
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa brand identity yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Madiun untuk memudahkan publik dalam mengenali dan bahkan

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam Skripsi yang berjudul “ PENGARUH DOSIS KROMANON DEAMINA DAN LARUTAN OSMOTIK DALAM PEMBUATAN OSMOMEAT DAGING AYAM BROILER ” ini tidak

Segenap Majelis Jemaat mengucapkan selamat datang kepada Mahasiswa Praktek Sdri.Marselina Padada (STTAA Jakarta Jurusan Teologi Konsentrasi Ibadah) yang akan praktek di

Karena tidak memiliki sanad dan sumber, namun sudah mengklaim dan mendeklarasikan dirinya sebagai satu-satunya yang sah dan benar maka muncul kejanggalan, yaitu, orang Syiah

Saya menyambut baik penandatanganan Kesepahaman tentang Penanganan Dugaan Tindak Pidana di Bidang Sistem Pembayaran dan KUPVA ini, sebagai bagian integral dari

Silang apat ay kumukuha ng kanilang mga karunungan at Kapangyarihan mula sa AMA, INA, ANAK, at ESPIRITU SANTO, upang ang lahat ng bagay ay magkaroon ng paglikha. Ang apat na Ina

Usia lanjut yang mengalami kesulitan melakukan pergerakan fisik atau gangguan gerak, akan terjadi perbedaan dalam jumlah skor fungsi kognitifnya, sehingga

Pada penelitian ini digunakan Semen PPC ( Portland Pozzolan Cement ) dimana Semen PPC adalah semen hidrolisis yang terdiri dari campuran yang homogen antara semen