Dalam penulisan kertas karya ini penulis menggunakan metode kepustakaan (Library Research), yakni dengan cara mengumpulkan sumber-sumber bacaan yang ada yakni berupa buku sebagai referensi yang berkaitan dengan pokok permasalahan yang dibahas kemudian dirangkum dan dideskripsikan kedalam kertas karya ini. Selain itu, penulis juga memanfaatkan Informasi Teknologi Internet sebagai referensi tambahan agar data yang didapatkan menjadi lebih akurat dan lebih jelas.
BAB II
GAMBARAN UMUM TENTANG BUDAYA MAKAN DI JEPANG
2.1 Budaya Makan Orang Jepang
Masyarakat Jepang mempunyai Budaya makan atau pola makan yang masih sangat dijaga oleh masyarakat Jepang sampai dengan sekarang ini. Disetiap daerah, memiliki ciri khas masing-masing. Mulai dari bumbu-bumbu, bahan-bahan masakan, peralatan hingga tata cara dan kebiasaan makan yang sangat dipertahankan oleh masayarakat Jepang.
Di Jepang, pada musim-musim tertentu juga memiliki budaya atau tradisi yang sering dilakukan saat makan. Misalnya, pada musim semi biasanya orang-orang Jepang akan pergi bersama keluarga dan teman untuk menikmati makanan atau minum sake sambil melihat bunga sakura yang mekar pada musim semi.
Tidak hanya di musim semi, di musim dingin atau pada saat menyambut tahun baru biasanya menyambutnya dengan acara makan-makan bersama rekan kerja atau teman yang dikenal dengan istilah “Bounenkai” yang berarti “lupakan masa lalu”. Makanan yang dimakan biasanya adalah Kabocha yaitu sejenis labu dan mie soba. Makanan tersebut adalah makanan yang sudah menjadi tradisi untuk dimakan di musim dingin atau menyambut tahun baru. Pada saat bekerja juga orang Jepang biasa membawa bekal yang biasa dikenal dengan Bento.
Masakan Jepang atau Nihon Ryori dikenal dengan istilah Washoku atau Nihon Shoku. Biasanya salah satu ciri kebiasaan-kebiasaan makan khas Jepang adalah pada saat menghidangkannya. Cita rasa alami dari sebuah makanan dan keindahan menghidangkannya yang sangat dipertahankan oleh orang-orang Jepang hingga saat ini.
Kemudian bumbu-bumbu dan bahan-bahan yang digunakan juga sangat khas. Pada umumnya, bahan-bahan makanan Jepang berupa beras, hasil pertanian ( sayur-mayur dan kacang-kacangan ), dan makanan laut. Bumbu-bumbu yang digunakan juga seperti doshi ( air kaldu ) yang dibuat dari ikan dan shitake, ditambah dengan miso dan shoyu.
Orang Jepang makan dengan menggunakan sumpit dan mangkok. Terkadang ada makanan yang susah untuk diambil dengan sendok pun, orang Jepang tetap mengambilnya menggunakan sumpit. Orang-orang Jepang biasa makan dengan lambat. Mereka diajari untuk menikmati setiap makanan dengan lambat. Karena, makan lebih lambat adalah kunci otak membutuhkan waktu selama 20 menit untuk merasa kenyang.
Peralatan makan, seperti sumpit, mangkuk, dan lain-lain yang digunakan oleh masyarakat Jepang biasanya terbuat dari keramik, porselen, atau kayu yang dipernis dengan urushi. Di rumah keluarga Jepang, setiap anggota keluarga memiliki mangkuk nasi atau sumpit ( hashi ) sendiri, dan tidak saling dipertukarkan dengan anggota keluarga yang lain. Sumpit yang digunakan bisa berupa sumpit yang terbuat dari kayu, bambu, atau sumpit yang sekali pakai.
2.2 Jenis-jenis Makanan Jepang
Dalam arti sempit, masakan Jepang merupakan berbagai jenis makanan yang khas Jepang. Makanan yang khas tersebut adalah makanan yang sudah sejak turun temurun dimakan oleh orang Jepang. Makanan seperti gyudon atau nikujaga merupakan salah satu contoh makanan Jepang yang sudah sejak dahulu dimakan oleh masyarakat Jepang.
Tentunya semua makanan itu dimasak dengan bumbu dan bahan yang khas Jepang pula seperti, shoyu, dashi dan mirin. Namun, makanan Jepang kini sudah mengalami perpaduan dari berbagai bahan makanan dari berbagai negara. Misalnya, parutan lobak yang dicampur saus sewaktu makan bistik atau hamburg steak, dan salad dengan parutan lobak diatasnya, ini semua merupakan contoh perpaduan makanan Barat dengan pengaruh khas Jepang.
Hal inilah yang membuat makanan khas Jepang yang bercampur makanan Barat ini biasa disebut dengan istilah Wafu. Berdasarkan aturan wafu inilah, beberapa jenis makanan dapat digolongkan sebagai :
1. Makanan Barat yang dicampur dengan bahan makanan yang khas Jepang.
Contohnya, sarada udon (salad adalah makanan Barat tetapi dicampur dengan udon yang khas Jepang), kari, dan anpan (roti berasal dari barat yang berisi ogura yang khas Jepang).
2. Makanan khas Jepang yang berasal dari luar negeri tapi dibuat dengan resep yang sudah diubah menjadi selera lidah orang Jepang.
Contohnya, ramen dan gyoza.
3. Makanan yang berdasarkan bahan dan cara memasaknya sulit digolongkan termasuk kategori makanan Barat atau makanan Jepang.
Contohnya, pork ginger dan butashogayaki keduanya menunjuk pada makanan yang sama.
Namun, ada juga jenis-jenis makanan Jepang yang masih sangat tradisional yang sudah ada sejak zaman dahulu dan dimakan oleh masyarakat Jepang, yaitu :
1. Onigiri adalah nama Jepang untuk makanan berupa nasi yang dipadatkan sewaktu masih hangat sehingga berbentuk segi tiga, bulat, atau seperti karung beras. Makanan khas Jepang ini dikenal juga dengan nama lain yaitu Omusubi, istilah yang kabarnya dulu digunakan kalangan wanita di istana kaisar untuk menyebut onigiri.
2. Sushi adalah makanan Jepang yang terdiri dari nasi yang dibentuk bersama lauk (neta) berupa makanan laut, daging, sayuran mentah, atau yang sudah dimasak. Nasi sushi memiliki rasa asam yang lembut karena dibumbui campuran cuka beras, garam, dan gula.
3. Ochazuke atau chazuke adalah nama makanan Jepang atau cara
makan berupa nasi putih dengan lauk sekadarnya yang dituangi air teh hijau, dashi atau air panas. Ochazuke merupakan makanan pengisi perut misalnya diantara dua waktu makan atau sewaktu masih lapar sebelum tidur.
4. Donburi adalah makanan Jepang berupa nasi putih dengan berbagai macam lauk diatasnya seperti ikan, daging dan sayur-sayuran berkuah yang dihidangkan didalam mangkuk besar yang disebut juga donburi.
5. Mochi adalah kue Jepang yang terbuat dari beras ketan, ditumbuk sehingga lembut dan lengket, kemudian dibentuk menjadi bulat. Di Jepang, kue ini sering dibuat dan dimakan pada saat perayaan tradisional mochitsuki atau perayaan tahun baru Jepang.
6. Dango adalah kue Jepang berbentuk bulat seperti bola kecil, dan dimatangkan dengan cara dikukus atau direbus dalam air. Adonan dango dibuat dari tepung beras yang diulen dengan air atau air panas. Kushidango adalah sebutan untuk sejumlah 3, 4, 5 butir dango yang ditusuk menjadi satu dengan tusukan (kushi) dari bambu. Jumlah butiran dango dalam satu tusuk bergantung pada daerahnya di Jepang.
7. Sashimi adalah makanan Jepang berupa makanan laut dengan kesegaran prima yang langsung dimakan dalam keadaan mentah bersama penyedap seperti kecap asin, parutan jahe, dan wasabi. Makanan laut seperti, ikan, kerang, dan udang dihidangkan dalam bentuk irisan kecil yang mudah dimakan, sedangkan udang berukuran kecil ada yang dikupas kulitnya dan ada dibuang kepalanya.
BAB III
ETIKA DAN POLA MAKAN ORANG JEPANG
3.1 Etika Makan Orang Jepang
Masakan Jepang dikenal dengan julukan “the healthies food in the world”. Tidak hanya itu, jenis makanan dan teknik memasaknya sangat variatif. Seperti, robatayaki, teknik memasak yang sangat tradisional, yaitu dengan cara memanggang bahan makanan di atas bara api, mirip sate. Juga tenpayaki yang dalam Bahasa Indonesia berarti besi pemanggang, yang kini telah banyak ditawarkan di berbagai restoran Jepang. Dalam teknik ini bahan makanan dimasak oleh juru masak dengan aksinya langsung di depan umum.
Dalam budaya Jepang, jamuan makan selalu diikuti dengan tata cara yang relative lebih formal dan sopan jika dibandingkan dengan aturan dalam jamuan tradisional Cina. Walaupun keduanya sama-sama menggunakan sumpit, mangkuk, dan sendok bebek sebagai alat bantu makan yang paling utama, tetapi tetap banyak perbedaanya. Seperti cara mengangkat mangkuk, menerima makanan dengan sumpit, juga sikap tubuh, cara duduk, dan beberapa hal lain. Ada beberapa etika atau tata cara yang harus diperhatikan ketika makan, yaitu :
1. Cara duduk di ruang tatami.
Biasanya, jamuan makan Jepang diselenggarakan dalam ruangan bernama tatami, yakni ruangan gaya tradisional Jepang yang beralaskan
tikar bamboo tanpa kursi. Disini para tamu diharuskan melepas alas kaki, namun masih tetap boleh mengenakan kaos kaki. Sikap tubuh saat duduk lesehan diatas tikar adalah duduk diatas dua telapak kaki yang di tekuk dengan punggung tegak lurus. Untuk wanita, kedua tangan dipertemukan dan ditangkupkan di pangkuan. Lain halnya dengan pria yang meletakkan telapak tangannya pada lutut.
Sesaat setelah minuman tersaji, diadakan kanpai atau bersulang, yaitu mengangkat cawan the atau sake, begitu pula saat semua tamu telah mendapatkan hidangan, satu kata wajib diucapkan sebelum memulai makan adalah “itadakimasu” yang juga berarti ucapan terima kasih atas makanan yang telah disediakan dan siap untuk disantap dengan sikap tubuh dan kepala sedikit menunduk. Untuk jamuan makan yang menggunakan meja makan, hal ini juga dapat dilakukan.
2. Penyajian hidangan Jepang
Ada dua cara penyajian dalam tradisi Jepang. Di berbagai restoran berkelas, biasanya hidangan disajikan satu persatu dengan pelayanan khusus dan sedikit formal, mirip dengan jamuan kaiseki, jamuan makan formil yang dahulu sering dilakukan para bangsawan untuk menjamu tamunya. Namun, di Jepang sendiri cara penyajian seperti ini tidak terlalu sering dipraktekkan lagi, mengingat kesibukan dan efektivitas waktu. Itu sebabnya, saat ini begitu banyak restoran Jepang yang menyajikan hidangannya sekaligus dalam satu nampan. Cara penyajian seperti ini juga diterapkan di hampir setiap rumah tangga di Jepang. Dalam menyantapnya tidak ada aturan tertentu. Namun, biasanya orang Jepang sendiri lebih suka memulai
dari jenis daging terlebih dahulu, dilanjutkan dengan sup, kemudian nasi beserta acar.
3. Penggunaan Sumpit
Seperti juga dalam jamuan makan Cina, sumpit, atau dalam bahasa Jepang disebut “Hashi”, merupakan alat makan utama seperti sendok, garpu, dan pisau dalam hidangan Barat. Perbedaan sumpit Cina dengan Sumpit Jepang adalah sumpit Jepang ujungnya cenderung lebih tajam dan mengecil, sedangkan sumpit Cina ujungnya lebih tebal dan persegi.
Di rumah keluarga Jepang setiap anggota rumah memiliki peralatan makannya sendiri-sendiri. Sumpit yang digunakan bisa terbuat dari kayu, bambu atau sumpit yang sekali pakai. Sumpit terdiri dari berbagai macam dan kegunaanya, yaitu :
1. Nuribashi : Sumpit yang digunakan untuk makan sehari-hari.
2. Toribashi : Sumpit yang digunakan untuk megambil makanan di piring yang sudah disajikan.
3. Waribashi : Sumpit yang mudah dibuang dan biasanya digunakan
oleh tamu atau yang digunakan di restoran.
4. Saibashi : Sumpit panjang untuk memasak
5. Iwaibashi : Sumpit yang digunakan ketika ada perayaan. Bentuk
sumpit ini berbeda dengan kebanyakan karena pada kedua ujungnya sumpit ini sama-sama runcing.
4. Penggunaan mangkuk atau cawan
Selain untuk hidangan yang disajikan perorangan seperti miso sup, mangkuk juga digunakan untuk nasi hangat yang selalu tersaji dan diletakkan disebelah kanan. Tata cara penggunaan mangkuk dan sikap tubuh seseorang saat menyantap hidangan yang disajikan dalam mangkuk atau cawan dapat dibedakan menurut jenis makanan dan minumannya.
5. Nasi
Bagi orang Jepang, nasi selalu disajikan dalam mangkuk tertutup atau terbuka. Saat menyantapnya pegang mangkuk nasi dengan telapak tangan kiri dan angkat hingga sebatas dada, jangan diangkat terlalu dekat dengan mulut. Gunakan sumpit saat menyantap nasi, jangan tusuk sumpit terlalu dalam. Jangan mengunyah dan menyantap nasi terlalu cepat dan terus menerus. Sebaiknya habiskan dulu makanan didalam mulut. Jangan menaruh hidangan lain di atas nasi.
6. Teh atau Sake
Teh merupakan minuman yang wajib menyertai semua hidangan Jepang. Teh dituang ke dalam cawan kecil yang tidak bertelinga. Cara minum teh yang benar untuk wanita adalah dengan mengangkat cawan dengan tangan kanan dan menahan cawannya pada ujung-ujung jari tangan kiri. Sedangkan untuk pria, cawan diangkat hanya dengan satu tangan saja. 7. Sup
Menikmati semangkuk sup miso hangat yang benar adalah tidak menggunakan sendok, melainkan meminumnya langsung dari mulut mangkuk. Sebelum menghirupnya, gunakan sumpit untuk mengaduk sup.
Letakkan kembali sumpit pada sandarannya. Lalu angkat mangkuk dengan kedua tangan dengan posisi tangan tidak menyentuh meja. Hirup kuah sup perlahan-lahan. Setelah kuah sup habis, gunakan kembali sumpit untuk mengambil isinya.
Mengangkat dan mendekatkan wadah makanan ke arah mulut berlaku untuk semua jenis makanan yang disajikan didalam mangkuk. Meski sup miso disajikan diawal, tidak berarti selalu disantap diawal. Bahkan ada yang disantap diakhir, karena itulah mangkuk sup miso dilengkapi dengan penutup agar kehangatannya tetap terjaga. Saat membuka tutupnya, letakkan tutup mangkuk dalam posisi terlentang diatas meja supaya kebersihannya tetap terjaga jika sup tidak dihabiskan sekaligus.
Disetiap daerah atau negara pasti mempunyai etika dan tata cara makan tersendiri. Ada hal-hal yang dianggap boleh dilakukan dan dilarang pada saat makan. Dibawah ini ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan pada saat makan di Jepang, yaitu :
1. Pada saat makan mangkuk nasi harus diangkat, merupakan hal yang tidak baik apabila makan nasi tidak mengangkat mangkuk tersebut dari atas meja hanya dengan mendekatkan muka ke mangkuk nasi. 2. Sumpit tidak boleh ditancapkan diatas nasi, karena posisi seperti itu
merupakan sesaji orang Jepang untuk leluhur mereka atau dewa mereka.
3. Memberikan makanan dengan sumpit kepada orang lain kemudian orang tersebut menerimanya dengan mengambil lagi dengan sumpit (hashiwatashi).
4. Tidak boleh menjilati sumpit (neburibashi).
5. Tidak boleh menusuk makanan seperti kentang dan sebagainya dengan sumpit (tsukibashi).
6. Tidak boleh memutar-mutar di atas piring untuk memilih makanan dengan sumpit (mayoibashi).
7. Tidak boleh memasukkan makanan sampai penuh ke mulut dengan sumpit (koibashi).
8. Tidak boleh mencicipi sesuatu di piring dengan sumpit. 9. Tidak boleh menghisap sup dari sumpit.
10.Tidak boleh menggerakkan piring ke dekat anda dengan sumpit.
3.2 Pola Makan Orang Jepang
Masakan Jepang atau Nihon Ryori adalah makanan yang dimasak dengan cara memasak yang berkembang secara khas di Jepang dan tentunya menggunakan bahan makanan yang diambil dari wilayah Jepang dan sekitarnya. Dalam Bahasa Jepang makanan Jepang disebut dengan Nihonshoku atau Washoku.
Masakan atau makanan Jepang mempunyai sejarah yang cukup panjang. Orang Jepang mulai makan nasi sejak Zaman Jomon. Lauknya berupa makanan yang direbus (nimono), dipanggang, atau dikukus. Cara mengolah makanan dengan menggoreng mulai dikenal sejak Zaman Asuka, dan berasal dari semenanjung Korea dan Cina. Teh dan masakan biksu diperkenalkan di Jepang bersamaan dengan masuknya agama Buddha,
namun hanya berkembang dikalangan kuil. Makanan biksu yang vegetarian dikenal dengan sebutan shojin ryori.
Pada Zaman Nara pengaruh kuat kebudayaan Cina memengaruhi masakan atau makanan Jepang sehingga teknik memasak dari Cina mulai dipakai untuk mengolah bahan makanan lokal. Penyesuaian cara memasak ini dengan kondisi alam di Jepang akhirnya melahirkan masakan yang khas Jepang.
Masakan Jepang terus berkembang dengan pengaruh dari daratan Cina pada Zaman Heian. Masyarakat Jepang pada saat itu mulai mengenal makanan seperti karage dan kue-kue asal Dinasti Tang (Togashi), dan natto. Aliran memasak dan etiket makan berkembang dikalangan bangsawan. Atas perintah Kaisar Koko, Fujiwara no Yamakage
menyunting buku memasak aliran shijoryu hochoshiki.
Di Zaman Kamakura, makanan olahan tahu yang disebut dengan ganmodoki mulai dikenal bersamaan dengan makin populernya tradisi minum teh dan ajaran Zen. Pada Zaman Kamakura, makanan dalam porsi kecil untuk biksu yang menjalani latihan disebut kaiseki. Pendeta Buddha bernama Eisai memperkenalkan teh yang dibawanya dari Cina untuk dinikmati dengan hidangan kaiseki. Masakan dan makanan ini berkembang menjadi makanan resepsi yang disebut juga dengan kaiseki, tapi ditulis dengan kanji yang berbeda.
Memasuki Zaman Muromachi, kalangan samurai ikut dalam urusan masak-memasak di istana kaisar. Tata krama sewaktu makan juga semakin berkembang. Aliran etiket ogasawara yang masih dikenal sekarang bermula
dari etiket kalangan samurai dan bangsawan Zaman Muromachi. Kedatangan kapal-kapal dari luar negeri pada Zaman Muromachi membawa serta berbagai jenis masakan yang disebut dengan Namban ryori (Masakan luar negeri) atau Nambangashi (kue luar negeri). Namban adalah istilah orang jepang Zaman dulu untuk “Luar Negeri”, khususnya Portugal dan Asia Tenggara. Dari kata namban dikenal istilah Nambansen (kapal dari luar negeri).
Dan di Zaman Edo kebudayaan orang kota berkembang sangat pesat. Makanan penduduk kota seperti Tenpura dan teh gandum (mugicha) banyak dijual di toko-toko. Pada waktu itu, di Edo (yang sekarang Tokyo) banyak dijumpai rumah makan khusus Soba dan Nigirizushi. Orusuichaya
adalah sebutan untuk rumah makan tradisional (ryotei) yang digunakan samurai sewaktu menjamu tamu dengan pesta makan.
Pada Zaman Edo makanan dinikmati secara santai sambil meminum sake, dan tidak mengikuti tata cara makan formal seperti masakan Kaiseki atau masakan Honzen. Masakan Orusuichaya disebut dengan mas akan Kaiseki (kaiseki ryori, masakan jamuan makan) dan ditulis dengan kanji berbeda dengan Kaiseki (untuk upacara minum teh).
Teknik pembuatan kue-kue tradisional (wagashi) pada zaman Edo juga berkembang pesat berkat tersedianya gula pada zaman ini. Alat makan dari keramik atau porselen mulai banyak digunakan dan diberi hiasan berupa gambar-gambar artistik yang dikerjakan secara serius. Daging ternak mulai dikonsumsi orang Jepang pada saat itu dan daging sapi dimakan sebagai obat.
Sejak pertengahan zaman Edo mulai dikenal teknik ukir sayur, dan makanan mulai dihias dengan hiasan dari lobak (wachigai daikon). Pada waktu itu juga mulai dikenal telur rebus aneh dengan kuning telur berada diluar dan putih telur berada didalam (kimigaeshi tamago).
Masakan Jepang modern adalah penyempurnaan dari masakan Zaman Edo. Daimyo dari seluruh Jepang mengenal kewajiban Sankin Kotai. Mereka wajib datang ke Edo untuk menjalani tugas pemerintahan bersama Shogun. Kedatangan daimyo dari seluruh pelosok negeri membawa serta cara memasak dan bahan makanan khas dari daerah masing-masing. Bahan makanan laut segar dan enak dari teluk Edo yang disebut Edomae.
Makanan yang lahir dari berbagi keanekaragaman di daerah Kanto disebut dengan masakan Edo atau masakan Kanto. Sebutan masakan Kanto digunakan untuk membedakannya dari masakan Kansai yang dikenal orang lebih dahulu. Ciri masakan Kanto adalah penggunaan kecap asin (shoyu) sebagai penentu rasa, termasuk untuk makanan berkuah (shirumono) dan nimono. Tradisi membawa pulang makanan pesta merupakan alasan penggunaan kecap asin dalam jumlah banyak dalam masakan Kanto. Maksudnya agar rasa tetap enak walaupun sudah dingin. Berbeda dengan masakan Kanto, masakan Kansai tidak terlalu asin walaupun mengandalkan sebagai penyedap rasa.
Masakan Kansai adalah sebutan untuk masakan Osaka atau masakan Kyoto. Berbeda dari budaya Edo yang mewah, masakan Kyoto mencerminkan budaya Kyoto yang elegan. Masakan Kyoto dipengaruhi masakan kuil Buddha. Ciri khasnya adalah penggunaan banyak
sayur-sayuran, tahu, kembang tahu, namun sedikit makanan laut karena letak geografis Kyoto yang jauh dari laut.
Osaka adalah kota tepi laut dengan hasil laut yang melimpah berbeda dengan Kyoto. Oleh karena itu, masakan Osaka mengenal berbagai cara pengolahan hasil laut. Makanan laut diolah agar enak untuk langsung dimakan ditempat dan tidak untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Masakan Osaka tidak mementingkan rasa makanan kalau sudah dingin karena pada prinsipnya makanan yang habis dimakan.
Pada awal zaman Meiji, masakan Eropa mulai dikenal orang Jepang yang melakukan kontak sehari-hari dengan orang asing. Dikalangan rakyat tercipta makanan gaya barat (yoshoku) yang merupakan adaptasi masakan Eropa. Berbagai aliran memasak mengalami kemunduran, dan aliran hochoshiki merupakan satu-satunya aliran yang terus bertahan.
Pelarangan makan daging dihapus sesuai dengan kebijakan pemerintah Meiji tentang Haibutsu kishaku dan shinbutsu bunri sehingga tercipta Sukiyaki. Sementara itu, Honzen ryori yang merupakan aliran utama masakan Jepang mulai ditinggalkan. Hidangan kaiseki telah menjadi makanan standar dirumah makan tradisional (ryotei) dan penginapan tradisional (ryokan).
Masakan vegetarian (shojinryori) berlanjut sebagai tradisi kuil agama Buddha. Hidangan porsi kecil yang disebut kaiseki ryori bertahan hingga kini sebagai hidangan upacara minum teh. Di kota-kota mulai banyak dijumpai rumah yang memiliki meja pendek yang disebut Chabudai sebagai pengganti nampan berkaki yang disebut Ozen. Keberadaan
Chabudai yang bisa dipakai sebagai meja makan untuk empat orang mengubah acara makan yang dulunya sendiri-sendiri dengan Ozen pribadi menjadi acara berkumpul keluarga.
Akibat dari gempa bumi Kanto yang memakan korban jiwa besar-besaran, juru masak pewaris tradisi masakan Edo ikut menjadi berkurang, dan tradisi masakan Honzen mulai memudar. Etiket makan mulai longgar, dan orang-orang Jepang semakin menyukai suasana makan dengan santai sewaktu makan.