• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I. PENDAHULUAN

1.4 Metode Penulisan

Metode yang digunakan penulis dalam kertas karya ini adalah metode kepustakaan, yaitu mengumpulkan data-data atau informasi dengan membaca buku,film anime “School Baby Sitters”,serta menggunakan sumber teknologi seperti internet yang berkaitan dengan masalah yang akan dibahas dalam kertas karya ini. Selanjutnya data dibahas dan dirangkum kemudian dideskripsikan dalam kertas karya ini.

4

BAB II

GAMBARAN UMUM

2.1 Pengertian Tindak Tutur

Tindak tutur atau tindak ujar (speech act) merupakan dasar bagi topik-topik pragmatik lain seperti praanggapan, prinsip kerja sama, dan prinsip kesantunan. Tindak tutur memiliki bentuk yang bervariasi untuk menyatakan suatu tujuan. Misalnya menurut ketentuan hukum yang berlaku di negara ini, “Saya memerintahkan anda untuk meninggalkan gedung ini segera”. Tuturan tersebut juga dapat dinyatakan dengan tuturan “Mohon anda meninggalkan tempat ini sekarang juga” atau cukup dengan tuturan “Keluar”. Ketiga contoh tuturan di atas dapat ditafsirkan sebagai perintah apabila konteksnya sesuai.

Austin (1962: 1) menyebutkan bahwa pada dasarnya pada saat seseorang mengatakan sesuatu, dia juga melakukan sesuatu. Pernyataan tersebut kemudian mendasari lahirnya teori tindak tutur. Yule (1996: 2) mendefinisikan tindak tutur sebagai tindakan yang dilakukan melalui ujaran. Sedangkan Cohen (dalam Hornberger dan McKay (1996: 4) mendefinisikan tindak tutur sebagai sebuah kesatuan fungsional dalam komunikasi. Jadi dapat disimpulkan bahwa tindak tutur merupakan suatu ujaran yang mengandung tindakan sebagai suatu kesatuan fungsional dalam komunikasi yang mempertimbangkan aspek situasi tutur.

Tindak tutur dan peristiwa tutur sangat erat terkait. Keduanya merupakan dua gejala yang terdapat pada satu proses, yakni proses komunikasi. Peristiwa tutur merupakan peristiwa sosial karena menyangkut pihak-pihak yang bertutur dalam satu situasi dan tempat tertentu. Peristiwa tutur ini pada dasarnya merupakan

5

rangkaian dari sejumlah tindak tutur (inggris: speech act) yang terorganisasikan untuk mencapai suatu tujuan. Dengan demikian, tindak tutur selalu berada dalam peristiwa tutur. Kalau peristiwa tutur merupakan gejala sosial seperti disebut di atas, maka tindak tutur merupakan gejala individual, bersifat psikologis, dan keberlangsungannya ditentukan oleh kemampuan bahasa si penutur dalam menghadapi situasi tertentu. Kalau dalam peristiwa tutur lebih dilihat pada tujuan peristiwanya, tetapi dalam tindak tutur lebih dilihat pada makna atau arti tindakan dalam tuturannya.

Dalam tindak meminta meminta maaf bahasa Jepang, Kindaichi Hideo (1987) membenarkan adanya makna kata sumimasen yang secara fundamental merupakan ungkapan maaf, pada tindak tutur berterima kasih (kansya) atau meminta tolong (irai).

6

Sumimasen wa Yoku iwareruyouni Kanaya no hyougen toshitemo, wabi no hyougen toshitemo tsukawareru. Toku ni kansya toshite tsukawareru toki ni, mondai ga ooiyou da. Sono jyouken wa, kihonteki ni “gomennasai” to douyou deari, jibun no shita koui (aruiwa shinaktta koui) ni yotte aite ni furieki wo ataeta, toiu koto dearou ga, kansya toshite tsukawareru toki, soshite irai ni tsukawareru toki, genkoui ga, aite ni furieki wo ataeta to douji ni, jibun ni totte wa rieki wo motarasu mono deatta, toiu koto mo imi shite shimauyouni omowareru.

‘Seperti yang sering dikatakan, sumimasen digunakan baik sebagai ungkapan terima kasih maupun ungkapan maaf. Khususnya, saat digunakan sebagai ungkapan terima kasih, sepertinya muncul banyak masalah. Pada dasarnya, persyaratan untuk kata sumimasen sama halnya seperti kata gomennasai, yakni tindakan yang sudah penutur lakukan (atau tidak lakukan) menimbulkan kerugian pada mitra tutur. Saat digunakan sebagai ungkapan terima kasih dan sebagai ungkapan meminta tolong, tindakan semula menimbulkan kerugian pada mitra tutur dan pada waktu yang bersamaan juga berarti membawa keuntungan bagi diri sendiri.’

Menurut Kindaichi, kata sumimasen pada tindak tutur mengungkapkan terima kasih dan meminta tolong, pada dasarnya menggunakan konsep yang serupa dengan konsep yang digunakan pada tindak tutur meminta maaf. Ia beranggapan bahwa sumimasen sebagai ungkapan maaf dipakai dengan asumsi bahwa tindakan yang telah dilakukan atau tidak dilakukan menimbulkan kerugian bagi mitra tutur.

Yang membedakan dengan kata sebagai ungkapan terima kasih dan meminta tolong, selain menimbulkan kerugian bagi mitra tutur, pada saat yang bersamaan, penutur memperoleh keuntungan. Konsep yang dikemukakan oleh Kindaichi ini

7

menunjukkan bahwa saat akan meminta maaf, penutur memiliki asumsi bahwa tindakannya merusak muka negatif mitra tutur.

Kindaichi juga membenarkan adanya kata sumimasen sebagai ungkapan sapaan atau memanggil sesorang (upaya menarik perhatian). Berangkat dari konsep yang sama, Kindaichi berpendapat bahwa pada situasi tindak tutur menyapa atau upaya mendapat perhatian mitra tutur, pihak yang disapa atau dipanggil (mitra tutur), secara implisit diminta untuk berbicara. Hal tersebut dapat melanggar muka negatif atau melanggar hak mitra tutur untuk bebas dari gangguan. Oleh sebab itu penutur menggunakan bentuk kata yang seperti ungkapan maaf sebagai sapaan.

“よびかけられた側は、話すことを依頼されたのであり、…それで、よび かけとして

「スミマセン」というような、侘びの語形が使われ、…”

Yobikakerareta gawa wa, hanasu koto wo irai sareta no deari,… Sore de, yobikake toshite “sumimasen” toiuyouna, wabi no gokei ga tsukaware,…

‘Pihak yang dipanggil, diminta untuk berbicara, …oleh karena itu, sebagai sapaan digunakan kata ungkapan maaf, seperti sumimasen,…’ (Kindaichi, 1987:

82).

2.2 Jenis-jenis Tindak Tutur

Jenis tindak tutur yang digunakan secara umum terbagi menjadi dua jenis yaitu tindak tutur langsung dan tindak tutur tidak langsung. Berdasarkan hal tersebut ditemukan jenis tindak tutur langsung literal dan jenis tindak tutur tidak

8

langsung literal. Jenis tindak tutur langsung literal menggunakan tutur bermodus imperatif karena tindak tutur yang diutarakan maknanya sama dengan maksud pengutaraannya yaitu memerintah. Jenis tindak tutur tidak langsung literal yang digunakan oleh siswa dalam komunikasi adalah tuturan bermodus interogatif.

Tuturan tersebut dimaksud untuk menyuruh mitra tutur membersihkan sesuatu, namun modus yang digunakan kalimat berita. Penggunaan tindak tutur langsung bertujuan agar mitra tutur dalam hal ini agar lebih mudah memahami apa yang diinginkan oleh penutur.

a) Tindak Tutur Langsung Literal = Tindak tutur langsung literal adalah tindak tutur yang diutarakan dengan modus tuturan dan makna yang sama dengan maksud penyampaiannya.

b) Tindak Tutur Tidak Langsung Literal = Tindak Tutur Tidak Langsung Literal (Indirect Literal Speech Act) adalah tindak tutur yang disampaikan dengan modus kalimat yang sesuai dengan maksud tuturan tetapi kata-kata yang menyusunnya tidak memiliki makna yang sama dengan maksud penuturnya.

Beberapa ahli filsafat dan pragmatik mengelompokkan tindak tutur ke dalam beberapa kategori. Ada yang memiliki kesamaan dengan kategori lainnya ada pula yang menambahkan atau melengkapi kategori yang telah ada. Salah satunya adalah Austin yang mengemukakan taksonimi tindak tutur yang dibaginya ke dalam 5(lima) kategori sebagai berikut :

9

1) Expositives

Yaitu tindak tutur yang menyampaikan informasi, termasuk stating (menyatakan), condenting (menantang), insisting (menginginkan dengan tegas), denying (menyangkal), reminding (mengingatkan), guessing (menebak).

2) Verdictives

Yaitu, tindak tutur yang mrnyatakan penilaian, termasuk sentencing (memvonis), rangking (mengatur urutan), grading (menilai), calling (memanggil), defining (melukiskan), analyzing (menganalisis).

3) Commissive

Yaitu, tindak tutur yang “mengikat” penutur ke dalam bagian dari suatu tindakan, termasuk promising (berjanji), guaranteeing (menjamin), refusing (menolak untuk melakukan sesuatu, menolak tawaran), declining (menolak,misalnya menolak undangan/ajakan.

4) Exercitives

Yaitu, tindak tutur yang menggunakan kekuasaan, hak, dan pengaruh, termasuk ordering (menyuruh), requesting (meminta), begging (memohon), daring (menantang).

5) Behabitives

Yaitu,tindak tutur yang memberikan reaksi terhadap “perilaku dan sesuatu yang baik yang terjadi pada orang lain (mitra tutur)”, termasuk thanking (berterima kasih), congratulating (mengucapapkan selamat), criticzing (mengkritik).

10

Dalam taksonimi yang dikemukakan Austin ini, tidak ada pengelompokan tindak meminta maaf secara jelas ke dalam kategori tertentu, tetapi ada beberapa ahli linguistik pragmatik yang menggolongkan tindak meminta maaf ke dalam kategori behabitives Austin.

Jhon R. Searle kemudian mencoba untuk melegkapi taksonomi tindak tutur yang dikemukakan Austin dengan mempertahankan kategori commisives milik Austin, mengganti expositives menjadi representatives, behabitives menjadi expressives, excertives menjadi directives, dan menambahkan dellarations menjadi 5 (lima) kategori tindak tutur sebagai berikut :

1. Declarations

Adalah pernyataan ritual yang membawa sedikit banyak perubahan yang signifikan pada status seseorang, seperti pada tuturan pendeta kepada kedua mempelai dalam bahasa Inggris, “I now pronounce you man and wife” ‘saya nyatakan Anda sebagai suami istri’ dan sebagainya.

2. Respresentatives

Adalah tuturan yang menyampaikan informasi, tindak tutur yang menyatakan hal yang diyakini oleh penutur sebagai sesuatu yang benar, termasuk describing (menguraikan), insisting (meminta dengan tegas), claming (mengakui), predicting (meramalkan), hypothesizing (mengadakan hipotesa/dugaan sementara), dan lainnya.

11

3. Commissives

Adalah tindak tutur yang mengikat penutur ke dalam bagian dari suatu tindakan, termasuk promising (berjanji), offering (menawarkan), vowing (berjanji sungguh-sungguh; bersumpah), volunteering (menawarkan/bersukarela), threatening (mengancam), dan lainnya.

4. Directives

Adalah tindak tutur yang bermaksud membuat orang lain melakukan apa yang diinginkan oleh penutur, termasuk requesting (meminta), inviting (mengajak), suggesting (mengusulkan), commanding (memerintah), dan lainnya.

5. Expressive

Adalah tindak tutur yang mengungkapkan perasaan penutur, termasuk apologizing (meminta maaf), praising (memuji), congratulating (mengucapkan selamat), deploring (ungkapan ketidaksetujuan atau menyesali sesuatu), regretting (menyesali kesalahan), dan lainnya.

Menurut Searle, ungkapan maaf masuk ke dalam kategori expressive dengan asumsi bahwa penutur mengekspresikan atau mengungkapkan perasaannya.

Dalam hal ini penutur mengungkapkan perasaan tidak enak atau bersalah karena melakukan suatu tindakan yang menyakiti perasaan orang lan (mitra tutur) dan dengan meminta maaf menyampaikan penyesalan yang dirasakan penutur kepada mitra tutur (Douglas 2006 :83).

12

2.3 Pengertian Sumimasen

Sumimasen dapat dikatakan telah menjadi kata yang familiar di telinga orang-orang asing yang pernah mengunjungi atau menetap di Jepang. Hal ini mungkin disebabkan oleh seringnya orang Jepang mengucapkan kata ini.

すみません (Sumimasen) kadang juga diucapkan すいません (suimasen), すまない (sumanai) (memiliki tingkat tutur yang lebih rendah), すま ん(suman) dan すまね(sumane) (tingkat tutur yang paling rendah dan diucapkan hanya oleh lelaki) bahkan diucapkan すまんのう(Sumannou) (untuk kakek-kakek). Ungkapan ini merupakan ungkapan maaf yang sopan dan biasa diucapkan saat melakukan kesalahan, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja.

Pada kenyataannya, sumimasen juga mempunyai makna yang berbeda pada beberapa tindak tutur selain meminta maaf (shazai), seperti berterima kasih (kansya), minta tolong (irai), dan menyapa atau menarik perhatian mitra tutur (yobikake). Namun demikian, makna kata sumimasen pada tindak tutur di luar meminta maaf kerap menimbulkan kesalahan komunikasi di antara penutur dan mitra tutur. Untuk memahami ungkapan makna kata sumimasen lebih jauh, memahami definisi dan asal mula ungkapan sumimasen.

Kata sumimasen pada dasarnya masuk ke dalam kata ungkapan maaf.

Namun, tidak berarti bahwa kata tersebut hanya dipakai sebagai ungkapan maaf karena makna kata sumimasen tidak itu saja. Untuk memahami ungkapan sumimasen lebih jauh, perlu pengetahuan mengenai definisi kata itu sendiri. Setelah

13

melakukan kajian pustaka pada beberapa kamus bahasa Jepang, kata sumimasen didefinisikan sebagai berikut:

1) Menurut 「あいさつ語辞典」 “Aisatsu Go Jiten” (1970) : “「すまない

」(sumanai):【済まない】(sumanai). Kata sapaan (aisatsu go) yang menunjukkan makna ungkapan maaf dan ungkapan terima kasih.”

2) Menurut 「日本国語大辞典」 “Nihon Kokugo Daijiten” (1944): “negasi dari 「済む」 (sumu). moushiwake arimasen, arigatou gozaimasu. Kata yang digunakan pada saat meminta maaf, berterima kasih, meminta tolong, dan sebagainya.”

3) Menurut 「広辞苑第6版」”Koujien Edisi 6” (2008): “「済みません」

(sumimasen) : bentuk santun dari「済まない」(sumanai).Merasa bersalah terhadap mitra tutur dan tidak bisa menata perasaan sendiri; diucapkan pada saat meminta maaf dan meminta tolong.”

Berdasarkan semua definisi menurut beberapa kamus bahasa Jepang di atas, dapat disimpulkan bahwa sumimasen adalah kata yang digunakan pada saat meminta maaf, berterima kasih, dan meminta tolong.

Definisi menurut beberapa kamus bahasa Jepang saja kurang cukup untuk memahami sumimasen. Untuk memperoleh pemahaman yang lebih luas, diperlukan peninjauan terhadap asal mula kata (gogen) sumimasen. Dengan kata lain, mencari tahu huruf kanji mula-mula yang membentuk kata sumimasen. Dari situ akan dapat dilihat konsep atau makna yang terkandung di dalamnya.

14

Menurut beberapa artikel bahasa Jepang tentang sumimasen, terdapat dua huruf kanji yang diduga menjadi asal mula terbentuknya kata tersebut. 済みませ ん (sumimasen) dan 澄みません (sumimasen) diduga menjadi kanji pembentuk kata sumimasen. Akan tetapi, masih terdapat perbedaan sehingga kanji pembentuk kata sumimasen masih belum bisa dikatakan secara jelas. Dalam sebuah artikel bahasa Jepang「語源由来辞典」“Gogen Yurai Jiten” dijelaskan dugaan seperti berikut.

nado“syuuryou suru” no imi de mochiirare, “kimochi ga osamaru”, “kimochi ga hareru” toitta imi mo arawasu. “soredewa watashi no kimochi ga 済みません (sumimasen)” toitta youna youhou wa “kimochi ga osamaru” no uchikeshi de,“kimochi ga osamarimasen” to naru.”

‘「済む」 sama seperti「澄む」, 澄む dari makna ‘kotoran/keruh hilang (bersih)’,済む selain dengan makna ‘pekerjaan tuntas’ atau ‘selesai’, juga berarti

15

‘perasaan “tertata baik” (tenang)’ atau ‘perasaan senang’. Makna sumimasen seperti dalam contoh kalimat “Sore de wa kimochi ga 済みません (sumimasen)”, sumimasen di sini merupakan pernyataan dari ‘perasaan “tertata baik” (tenang)’

yang berarti “perasaan tidak “tertata baik” (tidak tenang).’ Asumsi yang muncul berdasarkan uraian di atas adalah ketika penutur melakukan suatu tindakan dan tindakan itu menimbulkan kerugian bagi mitra tutur, hal itu merupakan indikasi suatu tindakan yang tidak tuntas. Untuk mengungkapkan perasaan yang tidak tertata baik, dalam hal ini perasaan bersalah, penutur mengucapkan sumimasen.

Sementara dalam artikel bahasa Jepang lainnya『「すみません」の真

意―「15分前に何があったか」を考える心構えは何を意味しているのか―

“ Sumimasen no shin i-15 (jyuugo) fun mae ni nani ga attaka” wo kangaeru kokorogamae wa nani wo imi shiteirunoka-” dijelaskan dugaan seperti berikut.「

すみません」の語源は「澄まない」ということで、もともと「心が澄みき

“kokoro ga澄みきらない (sumikirenai)”, “konomamade wa sukkiri shinai” toiu imi de tsukawareteita to tsutawareteiru. Kyougen no naka demo “Sorede wa okami ni sumisoumo nai” to itteori, “kokoro ga sumanai” to tsukawareteita. Sore wo teinei ni ittano ga “sumimasen” dearu.”

16

‘Asal mula kata sumimasen adalah 澄まない(sumanai) dan dapat diprediksi bahwa awal mulanya, sumimasen bertujuan dengan mengutarakan makna “hati tidak benar-benar bersih” atau “kalau begini tidak tenang”. Dalam kyougen (salah satu kesenian drama Jepang) pun ada kalimat yang mengatakan

“Sore de wa okami ni sumisoumo nai” dan juga ungkapan “kokoro ga sumanai”

‘perasaan tidak bersih/tidak tenang’ (perasaan bersalah). Untuk mengatakannya dalam bentuk yang santun digunakan sumimasen.’

Hal ini menyebabkan adanya kesalahan komunikasi bahkan di antara orang Jepang sendiri dan perlu dihindari.Untuk bisa membedakan makna yang terkandung dalam kata sumimasen pada tindak tutur tertentu, selain memiliki pemahaman yang cukup tentang kata sumimasen, mitra tutur dituntut untuk bisa melihat konteks.

Secara keseluruhan di sisi lain,penutur juga harus memahami konteks dan tindak tutur untuk bisa memilih dan memilah kata ungkapan yang tepat untuk digunakan guna menghindari kesalahan komunikasi.Secara singkat,jika sumimasen dipandankan dengan ungkapan yang terdapat dalam bahasa Inggris, maka akan dapat diprediksi bahwa:

1) Saat digunakan sebagai ungkapan maaf, sumimasen sepadan dengan makna “sorry”,

2) Saat digunakan sebagai ungkapan terima kasih, sumimasen sepadan dengan makna “thank you”.

3) Saat digunakan sebagai ungkapan untuk minta tolong, sumimasen sepadan dengan makna “could you help me”

17

4) Saat digunakan sebagai ungkapan memanggil atau menarik perhatian mitra tutur, sumimasen sepadan dengan makna “excuse me”

Akan tetapi, meskipun sumimasen memiliki beberapa makna, beberapa makna ini dapat dikatakan terbentuk dari sebuah konsep dasar yang sama.

Makna manapun yang digunakan pada setiap tindak tutur menunjukkan makna yang berasal dari konsep seperti yang diuraikan pada definisi dan asal mula terbentuknya kata sumimasen. Konsep yang dimaksud di sini berkaitan dengan

“perasaan tidak “tertata baik” (tidak tenang)”, “perasaan suram/tidak senang (bersalah)”, “perasaan yang tidak bisa diatur” atau “kalau begini tidak tenang”.

Meskipun digunakan pada beberapa tindak tutur yang berbeda, tampak bahwa ada tendensi/kecenderungan yang sama yang dimiliki penutur (orang Jepang) yang menganggap tindakan yang telah dilakukan (atau tidak dilakukan) telah menimbulkan kerugian bagi mitra tutur. Saat itu penutur merasa bersalah, menganggap dirinya berdosa atas kesalahan itu, dan menunjukkan perasaan yang tidak “tertata baik” (tidak tenang) atau perasaan tidak tenang dengan mengucapkan sumimasen.

18

BAB III

KATA SUMIMASEN DALAM TINDAK TUTUR PADA FILM ANIME “SCHOOL BABY SITTERS”

3.1 Sumimasen Bermakna Maaf

Contoh kata Sumimasen (すみません) yang bermakna maaf dikutip dalam film anime School Baby Sitters sebagai berikut:

(1) Mas Usaida :リュウちゃん表お昼こっち来れないの?。

Ryuchan hyo ohiru kotchi korenai no?.

Jam makan siang nanti Dek Ryu tidak ke sini?

Dek Ryu : すみません、ご件の科学のレポートお昼休みの問に仕上げ

ないといけないんです。

Sumimasen, go ken no kagaku no repooto o hiruyasumi no toi ni shiagenai to ikenaindesu.

Maaf, saya harus mengumpulkan laporan kimia setelah jam makan siang.

Mas Usaida : 科学のへりはら学生の休み時間潰すも好きなんだよな。意 地悪ってやらね..。

19

Kagaku no heri hara gakusei no yasumi jikan tsubusu mo suki nandayo na. Ijiwarutte yarane….

Ah,,,Hebihara guru kimia? Sayang sekali dia membuang waktu istirahat para murid…Iseng sekali dia.

{school baby sitters : episode 6}

Cuplikan di atas adalah salah satu contoh kata sumimasen yang bermakna maaf. Dimana percakapan di atas menjelaskan percakapan antara dek Ryu dan mas Usaida yang hendak bertanya apakah dek Ryu akan datang lagi, kemudian dek Ryu tidak bisa karena harus mengumpulkan salah satu tugas pada saat yang bersamaan. Di sini dek Ryu mengucapkan kata Sumimasen yang artinya meminta maaf karena menolak suatu permintaan.

(2). Ibu Taka: それも相当い野中さんはまだ着替え終わらないのかしら、

息抜きかけてあげたくて無理やり誘って連れて来ちゃったけ ど。

Sore mo soto i Inomata san wa mada kigae owaranai no kashira,, ikinuki kakete agetakute muriyari sasotte ki chattakedo..

Tapi nona Inomata belum selesai ganti baju yah?Aku memaksa dia untuk ikut agar bisa sedikit bersantai.

Dek Ryu : 先生、猪俣さんの来ましたよ。

Sensei, Inomata san no kimashita yo.

Bu guru, itu nona Inomata sudah datang.

20

Inomata : あの,,,遅くなってすみません。

Ano,,, osoku natte sumimasen.

Anu,, maaf saya terlambat.

{school baby sitters : episode 9}

Cuplikan di atas menjelaskan salah satu contoh kata sumimasen yang bermakna maaf. Dimana percakapan di atas menjelaskan ketika ibu Taka sebagai guru di sekolah dan dek Ryu sedang berlibur di pantai,lalu ibu Taka bertanya kepada dek Ryu apakah Inomata sudah selesai mengganti pakaian, dan pada saat bersamaan dek Ryu melihat Inomata sudah datang. Kemudian Inomata meminta maaf kepada ibu Taka dan dek Ryu karena sudah menunggu lama dan Inomata datang terlambat. Pada saat tersebut Inomata mengucapkan kata sumimasen.

(3) Dek Ryu : お母さんの先生方も一緒に行ってくれることになったので 道曜日にみんなで行うてきてもいいでしょうか。

Okasan no senseigata mo issho ni itte kureru koto ni nattanode michi yobi ni minna de okonaute kite mo ideshouka.

Ibu mereka juga ikut. Apa boleh aku menemani mereka di hari minggu?

Ibu kepala : 好きにしたら一茶。

Suki ni shitara issa.

Lakukan saja sesukamu.

21

{school baby sitters : episode 2}

Cuplikan di atas merupakan salah satu contoh kata sumimasen yang bermakna maaf. Dimana percakapan di atas menjelaskan antara dek Ryu dan ibu Kepala sedang makan malam di meja makan, dek Ryu meminta izin kepada ibu Kepala agar bisa menemani anak-anak di hari minggu, dan di saat yang bersamaan

22

dek Ryu meminta gaji upah lembur di akhir pekan yang membuat ibu Kepala marah.

dek Ryu meminta gaji upah lembur di akhir pekan yang membuat ibu Kepala marah.

Dokumen terkait