• Tidak ada hasil yang ditemukan

KATA SUMIMASEN DALAM TINDAK TUTUR PADA FILM ANIME SCHOOL BABY SITTERS KERTAS KARYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KATA SUMIMASEN DALAM TINDAK TUTUR PADA FILM ANIME SCHOOL BABY SITTERS KERTAS KARYA"

Copied!
47
0
0

Teks penuh

(1)

i

KATA SUMIMASEN DALAM TINDAK TUTUR PADA FILM ANIME “SCHOOL BABY SITTERS”

KERTAS KARYA

Dikerjakan

O

L

E

H

ADELINA PUTRI SIREGAR

NIM : 182203023

PROGRAM STUDI D-3 BAHASA JEPANG FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2021

(2)

ii

KATA SUMIMASEN DALAM TINDAK TUTUR PADA FILM ANIME

“SCHOOL BABY SITTERS”

KERTAS KARYA

Kertas karya ini diajukan Kepada panitia Ujian Program Pendidikan Non-Gelar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan, untuk melengkapi salah satu syarat ujian Diploma III dalam Bidang Studi Bahasa Jepang.

Dikerjakan OLEH:

ADELINA PUTRI SIREGAR NIM: 182203023

PEMBIMBING

Adriana Hasibuan, S.S., M.Hum NIP: 196207271987032005

PROGRAM STUDI D-III BAHASA JEPANG FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2021

(3)

iii

(4)

iv

(5)

v

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim, Assalamualaikum wr.wb, puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan ridho-Nya saya dapat menyelesaikan kertas karya yang berjudul “Kata Sumimasen Dalam Tindak Tutur Pada Film Anime “School Baby Sitters”” dengan tepat waktu, sebagai syarat untuk memenuhi ujian akhir Diploma III Program Studi Bahasa Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

Untuk penulis kertas karya ini penulis telah banyak menerima bantuan dari berbagai pihak yang cukup bernilai.Untuk ini diucapkan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Ibu Dr. T.Thyrhaya Zein, MA., selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Dr. Diah Syafitri Handayani, M.Litt., selaku Ketua Prodi Bahasa Jepang D3 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara yang memberikan arahan kepada penulis dalam menyelesaikan Kertas Karya ini.

3. Ibu Adriana Hasibuan, S.S., M.Hum., selaku Dosen Pembimbing dan Pembimbing Akademik yang dengan ikhlas meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan dan dalam hal Akademik kepada penulis.

4. Seluruh staf pengajar pada Program Studi Bahasa Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara atas didikannya selama masa perkuliahan.

5. Teristimewa kepada kedua orang tua tercinta. Ayahanda Samsuddin Siregar S.Ag dan Ibunda Masniari Daulay S.Pd yang telah memberikan doa, dukungan,

i

(6)

ii

bimbingan sehingga penulis dapat menyelesaikan Kertas Karya ini dengan baik.

6. Terima kasih kepada Kakak saya Fitri Yusriana Siregar S.Km dan Adik saya Rahmad Yusril Siregar. Dan juga teman-teman Trissa Cahya Putri, Trissa Qonitah Rahmadani, Matualan Harahap, Saraswati Mega.

Saya penulis menyadari dengan segala keterbatasan yang ada pada penulis bahwa penulisan kertas karya ini masih jauh dari apa yang diharapkan oleh semua pihak, untuk itu supaya diharapkan koreksi dan saran guna kesempurnaan kertas karya ini. Saya berharap agar tugas akhir ini bermanfaat bagi semua pihak. Dan tak lupa semoga Allah SWT senantiasa menerima dan membalas kebaikan anda semua.

Medan, 15 Juli 2021 Penulis,

Adelina Putri Siregar NIM : 182203023

(7)

iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……….………...………... i

DAFTAR ISI ... iii

BAB I. PENDAHULUAN ...1

1.1 Alasan Pemilihan Judul………..…..…....…….1

1.2 Batasan Masalah...3

1.3 Tujuan Penulisan... 3

1.4 Metode Penulisan...3

BAB II. GAMBARAN UMUM TENTANG TINDAK TUTUR, KATA SUMIMASEN………...…4

2.1 Pengertian Tindak Tutur...4

2.2 Jenis-jenis Tindak Tutur...7

2.3 Pengertian Sumimasen………..……...……..……..12

BAB III KATA SUMIMASEN DALAM TINDAK TUTUR PADA FILM ANIME “SCHOOL BABY SITTERS”……....……….….…...18

3.1 Sumimasen Bermakna Maaf...18

(8)

iv

3.2 Sumimasen Bermakna terima kasih...22

3.3.Sumimasen Bermakna meminta tolong………...23

3.4 Sumimasen Bermakna Menyapa………...24

BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN...26

4.1 Kesimpulan...26

4.2 Saran...27 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

ABSTRAK

(9)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Alasan Pemilihan Judul

Di Jepang terdapat beberapa ungkapan yang sering di gunakan dalam sehari-hari.Ungkapan menyapa,berpamitan,mengucapkan terima kasih,meminta izin, ungkapan tersebut merupakan intruksi挨拶 (aisatsu).挨拶 ( aisatsu) dalam bahasa Jepang,berarti “salam” dalam bahasa Indonesia.Hal ini jauh lebih penting dan bermanfaat daripada tata bahasa.Karena fungsi bahasa sebenarnya bukan untuk menyusun kalimat,melainkan berinteraksi dengan orang lain.Apalagi,orang Jepang lebih sering menggunakan 挨拶 daripada orang Indonesia dalam kehidupan sehari- hari. Salah satu ungkapan yang akan di bahas adalah Ungkapan meminta maaf す みません (sumimasen).

Manusia saling berinteraksi dengan sesama untuk mengungkapkan suatu maksud,pikiran dan perasaan dengan menggunakan bahasa yang disampaikan dengan tuturan.Semua tuturan yang menunjukkan suatu tindakan dapat disebut sebagai “tindak tutur”. Salah satu tindak tutur yang sering digunakan oleh manusia saat berinteraksi adalah tindakan meminta maaf.Tindakan meminta maaf terjadi ketika penutur melakukan tindakan yang menyebabkan ketidaknyamanan bagi mitra tutur.

Bahasa Jepang sama halnya seperti bahasa lain pada umumnya memiliki konsep tindakan meminta maaf .Dalam bahasa Jepang ada beberapa ungkapan yang digunakan untuk meminta maaf,yaitu “Sumimasen, Gomennasai, Moushiwake nai,Shitsurei suru,dan lainnya.Ungkapan inilah yang sering digunakan sebagai kata yang di gunakan penutur untuk menyampaikan maksud suatu penyesalan dan

(10)

2

pengakuan atas sikap yang telah menimbulkan kerugian atau ketidaknyaman bagi mitra tutur.

Bahasa Jepang dikenal sebagai bahasa “konteks tinggi”. Bahasa konteks tinggi adalah bahasa yang menyampaikan makna tanpa harus spesifik atau menyertakan semua informasi. Ini berarti bahwa ketika berbicara bahasa Jepang, lebih sedikit kata yang digunakan untuk menyampaikan makna karena banyak informasi atau perasaan yang diungkapkan tidak dinyatakan dan bergantung pada elemen kontekstual. Ini bisa sulit bagi pembelajar bahasa yang tidak terbiasa dengan jenis komunikasi ini. Sering kali ketika orang Jepang berbicara mereka akan mengatakan satu kata dan pendengar diharapkan menyimpulkan apa yang dimaksud berdasarkan faktor kontekstual yang tidak disebutkan.

Dari beragam pengklasifikasian kategori tindak tutur, permintaan maaf merupakan salah satu tindak tutur yang digunakan manusia ketika berinteraksi dengan sesama. Tindakan meminta maaf terjadi ketika penutur melakukan tindakan yang menyebabkan ketidaknyamanan bagi mitra tutur.

Pada umumnya masih banyak orang yang mengalami kesulitan dalam membedakan tindak tutur “Sumimasen” .Orang – orang menganggap ungkapan maaf hanya digunakan untuk mengungkapkan suatu bentuk penyesalan atas kesalahan yang diperbuat oleh penutur,seperti pada penggunaan “ I’am sorry”, I apologiz”dan lainnya dalam bahasa inggris. Namun,jika ditinjau dari segi makna ada beberapa kata ungkapan maaf dalam bahasa Jepang yang tidak hanya digunakan atau bermakna sebagai ungkapan maaf saja.

Sumimasen adalah salah satu ungkapan kata maaf dalam bahasa Jepang yang unik. Ungkapan ini tidak hanya digunakan sebagai ungkapan maaf saja melainkan ungkapan tersebut dapat digunakan dalam tindak tutur seperti berterima kasih, atau menyapa seseorang.Sering kali menyamakan makna sumimasen dengan makna “ sorry” dalam bahasa Inggris.Sementara penggunaan ungkapan sumimasen dalam bahasa Jepang mempunyai frekuensi pengucapan yang dapat dikatakan

(11)

3

tinggi itu sendiri,tidak terbatas hanya pada tindak tutur meminta maaf.Hal ini yang sering menyebabkan kesalahpahaman bagi orang asing non-pemelajar bahasa Jepang yang tidak mempunyai pengetahuan yang cukup tentang makna kata sumimasen.

Untuk menghindari terjadinya kesalahan intrepretasi oleh mitra tutur dan kesalahan dalam makna kata sumimasen Dalam pembahasan ini penulis hendak memfokuskan pada makna kata sumimasen yang terdapat pada film anime

”School Baby Sitters”.

1.2 Batasan Masalah

Untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman tentang makna kata sumimasen dan agar topik permasalahan akan lebih jelas dan terarah maka diperlukan pembatasan masalah.Pada penulisan ini penulis memfokuskan makna pembahasan kata sumimasen dalam tindak tutur pada Film Anime “School Baby Sitters”.

1.3 Tujuan Penulisan

Adapun pembahasan penulisan ini bertujuan untuk :

1. Menjelaskan ungkapan dan makna kata Sumimasen pada film anime

“School Baby Sitters”.

1.4 Metode Penulisan

Metode yang digunakan penulis dalam kertas karya ini adalah metode kepustakaan, yaitu mengumpulkan data-data atau informasi dengan membaca buku,film anime “School Baby Sitters”,serta menggunakan sumber teknologi seperti internet yang berkaitan dengan masalah yang akan dibahas dalam kertas karya ini. Selanjutnya data dibahas dan dirangkum kemudian dideskripsikan dalam kertas karya ini.

(12)

4

BAB II

GAMBARAN UMUM

2.1 Pengertian Tindak Tutur

Tindak tutur atau tindak ujar (speech act) merupakan dasar bagi topik- topik pragmatik lain seperti praanggapan, prinsip kerja sama, dan prinsip kesantunan. Tindak tutur memiliki bentuk yang bervariasi untuk menyatakan suatu tujuan. Misalnya menurut ketentuan hukum yang berlaku di negara ini, “Saya memerintahkan anda untuk meninggalkan gedung ini segera”. Tuturan tersebut juga dapat dinyatakan dengan tuturan “Mohon anda meninggalkan tempat ini sekarang juga” atau cukup dengan tuturan “Keluar”. Ketiga contoh tuturan di atas dapat ditafsirkan sebagai perintah apabila konteksnya sesuai.

Austin (1962: 1) menyebutkan bahwa pada dasarnya pada saat seseorang mengatakan sesuatu, dia juga melakukan sesuatu. Pernyataan tersebut kemudian mendasari lahirnya teori tindak tutur. Yule (1996: 2) mendefinisikan tindak tutur sebagai tindakan yang dilakukan melalui ujaran. Sedangkan Cohen (dalam Hornberger dan McKay (1996: 4) mendefinisikan tindak tutur sebagai sebuah kesatuan fungsional dalam komunikasi. Jadi dapat disimpulkan bahwa tindak tutur merupakan suatu ujaran yang mengandung tindakan sebagai suatu kesatuan fungsional dalam komunikasi yang mempertimbangkan aspek situasi tutur.

Tindak tutur dan peristiwa tutur sangat erat terkait. Keduanya merupakan dua gejala yang terdapat pada satu proses, yakni proses komunikasi. Peristiwa tutur merupakan peristiwa sosial karena menyangkut pihak-pihak yang bertutur dalam satu situasi dan tempat tertentu. Peristiwa tutur ini pada dasarnya merupakan

(13)

5

rangkaian dari sejumlah tindak tutur (inggris: speech act) yang terorganisasikan untuk mencapai suatu tujuan. Dengan demikian, tindak tutur selalu berada dalam peristiwa tutur. Kalau peristiwa tutur merupakan gejala sosial seperti disebut di atas, maka tindak tutur merupakan gejala individual, bersifat psikologis, dan keberlangsungannya ditentukan oleh kemampuan bahasa si penutur dalam menghadapi situasi tertentu. Kalau dalam peristiwa tutur lebih dilihat pada tujuan peristiwanya, tetapi dalam tindak tutur lebih dilihat pada makna atau arti tindakan dalam tuturannya.

Dalam tindak meminta meminta maaf bahasa Jepang, Kindaichi Hideo (1987) membenarkan adanya makna kata sumimasen yang secara fundamental merupakan ungkapan maaf, pada tindak tutur berterima kasih (kansya) atau meminta tolong (irai).

「スミマせん」はよく言われるように、感謝の表現としても、佗

びの表現としても使われる。特に、感謝として使われる時に、問題が多い

ようだ。その条件は、某本的に「ゴメンナサイ」と同様であり、自分のし

た行為 (或いはしなかった行為) によって相手に不利益を与えた、という

ことであるうが、感謝として使われる時、そして依頼に使われる時、原行

為が、相手に不利益を与えたと同時に、自分にとっては利益をもたらすも

のであった、ということを意味してしまうように思われる。

(14)

6

Sumimasen wa Yoku iwareruyouni Kanaya no hyougen toshitemo, wabi no hyougen toshitemo tsukawareru. Toku ni kansya toshite tsukawareru toki ni, mondai ga ooiyou da. Sono jyouken wa, kihonteki ni “gomennasai” to douyou deari, jibun no shita koui (aruiwa shinaktta koui) ni yotte aite ni furieki wo ataeta, toiu koto dearou ga, kansya toshite tsukawareru toki, soshite irai ni tsukawareru toki, genkoui ga, aite ni furieki wo ataeta to douji ni, jibun ni totte wa rieki wo motarasu mono deatta, toiu koto mo imi shite shimauyouni omowareru.

‘Seperti yang sering dikatakan, sumimasen digunakan baik sebagai ungkapan terima kasih maupun ungkapan maaf. Khususnya, saat digunakan sebagai ungkapan terima kasih, sepertinya muncul banyak masalah. Pada dasarnya, persyaratan untuk kata sumimasen sama halnya seperti kata gomennasai, yakni tindakan yang sudah penutur lakukan (atau tidak lakukan) menimbulkan kerugian pada mitra tutur. Saat digunakan sebagai ungkapan terima kasih dan sebagai ungkapan meminta tolong, tindakan semula menimbulkan kerugian pada mitra tutur dan pada waktu yang bersamaan juga berarti membawa keuntungan bagi diri sendiri.’

Menurut Kindaichi, kata sumimasen pada tindak tutur mengungkapkan terima kasih dan meminta tolong, pada dasarnya menggunakan konsep yang serupa dengan konsep yang digunakan pada tindak tutur meminta maaf. Ia beranggapan bahwa sumimasen sebagai ungkapan maaf dipakai dengan asumsi bahwa tindakan yang telah dilakukan atau tidak dilakukan menimbulkan kerugian bagi mitra tutur.

Yang membedakan dengan kata sebagai ungkapan terima kasih dan meminta tolong, selain menimbulkan kerugian bagi mitra tutur, pada saat yang bersamaan, penutur memperoleh keuntungan. Konsep yang dikemukakan oleh Kindaichi ini

(15)

7

menunjukkan bahwa saat akan meminta maaf, penutur memiliki asumsi bahwa tindakannya merusak muka negatif mitra tutur.

Kindaichi juga membenarkan adanya kata sumimasen sebagai ungkapan sapaan atau memanggil sesorang (upaya menarik perhatian). Berangkat dari konsep yang sama, Kindaichi berpendapat bahwa pada situasi tindak tutur menyapa atau upaya mendapat perhatian mitra tutur, pihak yang disapa atau dipanggil (mitra tutur), secara implisit diminta untuk berbicara. Hal tersebut dapat melanggar muka negatif atau melanggar hak mitra tutur untuk bebas dari gangguan. Oleh sebab itu penutur menggunakan bentuk kata yang seperti ungkapan maaf sebagai sapaan.

“よびかけられた側は、話すことを依頼されたのであり、…それで、よび かけとして

「スミマセン」というような、侘びの語形が使われ、…”

Yobikakerareta gawa wa, hanasu koto wo irai sareta no deari,… Sore de, yobikake toshite “sumimasen” toiuyouna, wabi no gokei ga tsukaware,…

‘Pihak yang dipanggil, diminta untuk berbicara, …oleh karena itu, sebagai sapaan digunakan kata ungkapan maaf, seperti sumimasen,…’ (Kindaichi, 1987:

82).

2.2 Jenis-jenis Tindak Tutur

Jenis tindak tutur yang digunakan secara umum terbagi menjadi dua jenis yaitu tindak tutur langsung dan tindak tutur tidak langsung. Berdasarkan hal tersebut ditemukan jenis tindak tutur langsung literal dan jenis tindak tutur tidak

(16)

8

langsung literal. Jenis tindak tutur langsung literal menggunakan tutur bermodus imperatif karena tindak tutur yang diutarakan maknanya sama dengan maksud pengutaraannya yaitu memerintah. Jenis tindak tutur tidak langsung literal yang digunakan oleh siswa dalam komunikasi adalah tuturan bermodus interogatif.

Tuturan tersebut dimaksud untuk menyuruh mitra tutur membersihkan sesuatu, namun modus yang digunakan kalimat berita. Penggunaan tindak tutur langsung bertujuan agar mitra tutur dalam hal ini agar lebih mudah memahami apa yang diinginkan oleh penutur.

a) Tindak Tutur Langsung Literal = Tindak tutur langsung literal adalah tindak tutur yang diutarakan dengan modus tuturan dan makna yang sama dengan maksud penyampaiannya.

b) Tindak Tutur Tidak Langsung Literal = Tindak Tutur Tidak Langsung Literal (Indirect Literal Speech Act) adalah tindak tutur yang disampaikan dengan modus kalimat yang sesuai dengan maksud tuturan tetapi kata-kata yang menyusunnya tidak memiliki makna yang sama dengan maksud penuturnya.

Beberapa ahli filsafat dan pragmatik mengelompokkan tindak tutur ke dalam beberapa kategori. Ada yang memiliki kesamaan dengan kategori lainnya ada pula yang menambahkan atau melengkapi kategori yang telah ada. Salah satunya adalah Austin yang mengemukakan taksonimi tindak tutur yang dibaginya ke dalam 5(lima) kategori sebagai berikut :

(17)

9

1) Expositives

Yaitu tindak tutur yang menyampaikan informasi, termasuk stating (menyatakan), condenting (menantang), insisting (menginginkan dengan tegas), denying (menyangkal), reminding (mengingatkan), guessing (menebak).

2) Verdictives

Yaitu, tindak tutur yang mrnyatakan penilaian, termasuk sentencing (memvonis), rangking (mengatur urutan), grading (menilai), calling (memanggil), defining (melukiskan), analyzing (menganalisis).

3) Commissive

Yaitu, tindak tutur yang “mengikat” penutur ke dalam bagian dari suatu tindakan, termasuk promising (berjanji), guaranteeing (menjamin), refusing (menolak untuk melakukan sesuatu, menolak tawaran), declining (menolak,misalnya menolak undangan/ajakan.

4) Exercitives

Yaitu, tindak tutur yang menggunakan kekuasaan, hak, dan pengaruh, termasuk ordering (menyuruh), requesting (meminta), begging (memohon), daring (menantang).

5) Behabitives

Yaitu,tindak tutur yang memberikan reaksi terhadap “perilaku dan sesuatu yang baik yang terjadi pada orang lain (mitra tutur)”, termasuk thanking (berterima kasih), congratulating (mengucapapkan selamat), criticzing (mengkritik).

(18)

10

Dalam taksonimi yang dikemukakan Austin ini, tidak ada pengelompokan tindak meminta maaf secara jelas ke dalam kategori tertentu, tetapi ada beberapa ahli linguistik pragmatik yang menggolongkan tindak meminta maaf ke dalam kategori behabitives Austin.

Jhon R. Searle kemudian mencoba untuk melegkapi taksonomi tindak tutur yang dikemukakan Austin dengan mempertahankan kategori commisives milik Austin, mengganti expositives menjadi representatives, behabitives menjadi expressives, excertives menjadi directives, dan menambahkan dellarations menjadi 5 (lima) kategori tindak tutur sebagai berikut :

1. Declarations

Adalah pernyataan ritual yang membawa sedikit banyak perubahan yang signifikan pada status seseorang, seperti pada tuturan pendeta kepada kedua mempelai dalam bahasa Inggris, “I now pronounce you man and wife” ‘saya nyatakan Anda sebagai suami istri’ dan sebagainya.

2. Respresentatives

Adalah tuturan yang menyampaikan informasi, tindak tutur yang menyatakan hal yang diyakini oleh penutur sebagai sesuatu yang benar, termasuk describing (menguraikan), insisting (meminta dengan tegas), claming (mengakui), predicting (meramalkan), hypothesizing (mengadakan hipotesa/dugaan sementara), dan lainnya.

(19)

11

3. Commissives

Adalah tindak tutur yang mengikat penutur ke dalam bagian dari suatu tindakan, termasuk promising (berjanji), offering (menawarkan), vowing (berjanji sungguh-sungguh; bersumpah), volunteering (menawarkan/bersukarela), threatening (mengancam), dan lainnya.

4. Directives

Adalah tindak tutur yang bermaksud membuat orang lain melakukan apa yang diinginkan oleh penutur, termasuk requesting (meminta), inviting (mengajak), suggesting (mengusulkan), commanding (memerintah), dan lainnya.

5. Expressive

Adalah tindak tutur yang mengungkapkan perasaan penutur, termasuk apologizing (meminta maaf), praising (memuji), congratulating (mengucapkan selamat), deploring (ungkapan ketidaksetujuan atau menyesali sesuatu), regretting (menyesali kesalahan), dan lainnya.

Menurut Searle, ungkapan maaf masuk ke dalam kategori expressive dengan asumsi bahwa penutur mengekspresikan atau mengungkapkan perasaannya.

Dalam hal ini penutur mengungkapkan perasaan tidak enak atau bersalah karena melakukan suatu tindakan yang menyakiti perasaan orang lan (mitra tutur) dan dengan meminta maaf menyampaikan penyesalan yang dirasakan penutur kepada mitra tutur (Douglas 2006 :83).

(20)

12

2.3 Pengertian Sumimasen

Sumimasen dapat dikatakan telah menjadi kata yang familiar di telinga orang-orang asing yang pernah mengunjungi atau menetap di Jepang. Hal ini mungkin disebabkan oleh seringnya orang Jepang mengucapkan kata ini.

すみません (Sumimasen) kadang juga diucapkan すいません (suimasen), すまない (sumanai) (memiliki tingkat tutur yang lebih rendah), すま ん(suman) dan すまね(sumane) (tingkat tutur yang paling rendah dan diucapkan hanya oleh lelaki) bahkan diucapkan すまんのう(Sumannou) (untuk kakek- kakek). Ungkapan ini merupakan ungkapan maaf yang sopan dan biasa diucapkan saat melakukan kesalahan, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja.

Pada kenyataannya, sumimasen juga mempunyai makna yang berbeda pada beberapa tindak tutur selain meminta maaf (shazai), seperti berterima kasih (kansya), minta tolong (irai), dan menyapa atau menarik perhatian mitra tutur (yobikake). Namun demikian, makna kata sumimasen pada tindak tutur di luar meminta maaf kerap menimbulkan kesalahan komunikasi di antara penutur dan mitra tutur. Untuk memahami ungkapan makna kata sumimasen lebih jauh, memahami definisi dan asal mula ungkapan sumimasen.

Kata sumimasen pada dasarnya masuk ke dalam kata ungkapan maaf.

Namun, tidak berarti bahwa kata tersebut hanya dipakai sebagai ungkapan maaf karena makna kata sumimasen tidak itu saja. Untuk memahami ungkapan sumimasen lebih jauh, perlu pengetahuan mengenai definisi kata itu sendiri. Setelah

(21)

13

melakukan kajian pustaka pada beberapa kamus bahasa Jepang, kata sumimasen didefinisikan sebagai berikut:

1) Menurut 「あいさつ語辞典」 “Aisatsu Go Jiten” (1970) : “「すまない

」(sumanai):【済まない】(sumanai). Kata sapaan (aisatsu go) yang menunjukkan makna ungkapan maaf dan ungkapan terima kasih.”

2) Menurut 「日本国語大辞典」 “Nihon Kokugo Daijiten” (1944): “negasi dari 「済む」 (sumu). moushiwake arimasen, arigatou gozaimasu. Kata yang digunakan pada saat meminta maaf, berterima kasih, meminta tolong, dan sebagainya.”

3) Menurut 「広辞苑第6版」”Koujien Edisi 6” (2008): “「済みません」

(sumimasen) : bentuk santun dari「済まない」(sumanai).Merasa bersalah terhadap mitra tutur dan tidak bisa menata perasaan sendiri; diucapkan pada saat meminta maaf dan meminta tolong.”

Berdasarkan semua definisi menurut beberapa kamus bahasa Jepang di atas, dapat disimpulkan bahwa sumimasen adalah kata yang digunakan pada saat meminta maaf, berterima kasih, dan meminta tolong.

Definisi menurut beberapa kamus bahasa Jepang saja kurang cukup untuk memahami sumimasen. Untuk memperoleh pemahaman yang lebih luas, diperlukan peninjauan terhadap asal mula kata (gogen) sumimasen. Dengan kata lain, mencari tahu huruf kanji mula-mula yang membentuk kata sumimasen. Dari situ akan dapat dilihat konsep atau makna yang terkandung di dalamnya.

(22)

14

Menurut beberapa artikel bahasa Jepang tentang sumimasen, terdapat dua huruf kanji yang diduga menjadi asal mula terbentuknya kata tersebut. 済みませ ん (sumimasen) dan 澄みません (sumimasen) diduga menjadi kanji pembentuk kata sumimasen. Akan tetapi, masih terdapat perbedaan sehingga kanji pembentuk kata sumimasen masih belum bisa dikatakan secara jelas. Dalam sebuah artikel bahasa Jepang「語源由来辞典」“Gogen Yurai Jiten” dijelaskan dugaan seperti berikut.

「済む」は「澄む」と同源で、澄むの「濁りや混じりけがなくな る」と言った意味から、済むは「仕事が済む」など「終了する」の意味で 用いられ、「気持ちがおさまる」「気持ちがはれる」といった意味も表す

。「それでは私の気持ちが済みません(すみません)」といったような用 法は「気持ちがおさまる」の打ち消しで、「気持ちがおさまりません」と なる。

“「済む」(sumu) wa「澄む」(sumu) to douyou de, 澄む(sumu) no

“nigori ya majirike ga nakunaru” toitta imi kara, 済む wa “shigoto ga sumu”

nado“syuuryou suru” no imi de mochiirare, “kimochi ga osamaru”, “kimochi ga hareru” toitta imi mo arawasu. “soredewa watashi no kimochi ga 済みません (sumimasen)” toitta youna youhou wa “kimochi ga osamaru” no uchikeshi de,“kimochi ga osamarimasen” to naru.”

‘「済む」 sama seperti「澄む」, 澄む dari makna ‘kotoran/keruh hilang (bersih)’,済む selain dengan makna ‘pekerjaan tuntas’ atau ‘selesai’, juga berarti

(23)

15

‘perasaan “tertata baik” (tenang)’ atau ‘perasaan senang’. Makna sumimasen seperti dalam contoh kalimat “Sore de wa kimochi ga 済みません (sumimasen)”, sumimasen di sini merupakan pernyataan dari ‘perasaan “tertata baik” (tenang)’

yang berarti “perasaan tidak “tertata baik” (tidak tenang).’ Asumsi yang muncul berdasarkan uraian di atas adalah ketika penutur melakukan suatu tindakan dan tindakan itu menimbulkan kerugian bagi mitra tutur, hal itu merupakan indikasi suatu tindakan yang tidak tuntas. Untuk mengungkapkan perasaan yang tidak tertata baik, dalam hal ini perasaan bersalah, penutur mengucapkan sumimasen.

Sementara dalam artikel bahasa Jepang lainnya『「すみません」の真

意―「15分前に何があったか」を考える心構えは何を意味しているのか―

“ Sumimasen no shin i-15 (jyuugo) fun mae ni nani ga attaka” wo kangaeru kokorogamae wa nani wo imi shiteirunoka-” dijelaskan dugaan seperti berikut.「

すみません」の語源は「澄まない」ということで、もともと「心が澄みき らない」、「このままではすっきりしない」という意味で使われていたと 伝われている。狂言の中でも「それではお上にすみそうもない」といって おり、「心がすまない」と使われていた。それを丁寧にいったのが「すみ ません」である。

“Sumimasen no gogen wa 澄まない (sumanai) toiu koto de motomoto

“kokoro ga澄みきらない (sumikirenai)”, “konomamade wa sukkiri shinai” toiu imi de tsukawareteita to tsutawareteiru. Kyougen no naka demo “Sorede wa okami ni sumisoumo nai” to itteori, “kokoro ga sumanai” to tsukawareteita. Sore wo teinei ni ittano ga “sumimasen” dearu.”

(24)

16

‘Asal mula kata sumimasen adalah 澄まない(sumanai) dan dapat diprediksi bahwa awal mulanya, sumimasen bertujuan dengan mengutarakan makna “hati tidak benar-benar bersih” atau “kalau begini tidak tenang”. Dalam kyougen (salah satu kesenian drama Jepang) pun ada kalimat yang mengatakan

“Sore de wa okami ni sumisoumo nai” dan juga ungkapan “kokoro ga sumanai”

‘perasaan tidak bersih/tidak tenang’ (perasaan bersalah). Untuk mengatakannya dalam bentuk yang santun digunakan sumimasen.’

Hal ini menyebabkan adanya kesalahan komunikasi bahkan di antara orang Jepang sendiri dan perlu dihindari.Untuk bisa membedakan makna yang terkandung dalam kata sumimasen pada tindak tutur tertentu, selain memiliki pemahaman yang cukup tentang kata sumimasen, mitra tutur dituntut untuk bisa melihat konteks.

Secara keseluruhan di sisi lain,penutur juga harus memahami konteks dan tindak tutur untuk bisa memilih dan memilah kata ungkapan yang tepat untuk digunakan guna menghindari kesalahan komunikasi.Secara singkat,jika sumimasen dipandankan dengan ungkapan yang terdapat dalam bahasa Inggris, maka akan dapat diprediksi bahwa:

1) Saat digunakan sebagai ungkapan maaf, sumimasen sepadan dengan makna “sorry”,

2) Saat digunakan sebagai ungkapan terima kasih, sumimasen sepadan dengan makna “thank you”.

3) Saat digunakan sebagai ungkapan untuk minta tolong, sumimasen sepadan dengan makna “could you help me”

(25)

17

4) Saat digunakan sebagai ungkapan memanggil atau menarik perhatian mitra tutur, sumimasen sepadan dengan makna “excuse me”

Akan tetapi, meskipun sumimasen memiliki beberapa makna, beberapa makna ini dapat dikatakan terbentuk dari sebuah konsep dasar yang sama.

Makna manapun yang digunakan pada setiap tindak tutur menunjukkan makna yang berasal dari konsep seperti yang diuraikan pada definisi dan asal mula terbentuknya kata sumimasen. Konsep yang dimaksud di sini berkaitan dengan

“perasaan tidak “tertata baik” (tidak tenang)”, “perasaan suram/tidak senang (bersalah)”, “perasaan yang tidak bisa diatur” atau “kalau begini tidak tenang”.

Meskipun digunakan pada beberapa tindak tutur yang berbeda, tampak bahwa ada tendensi/kecenderungan yang sama yang dimiliki penutur (orang Jepang) yang menganggap tindakan yang telah dilakukan (atau tidak dilakukan) telah menimbulkan kerugian bagi mitra tutur. Saat itu penutur merasa bersalah, menganggap dirinya berdosa atas kesalahan itu, dan menunjukkan perasaan yang tidak “tertata baik” (tidak tenang) atau perasaan tidak tenang dengan mengucapkan sumimasen.

(26)

18

BAB III

KATA SUMIMASEN DALAM TINDAK TUTUR PADA FILM ANIME “SCHOOL BABY SITTERS”

3.1 Sumimasen Bermakna Maaf

Contoh kata Sumimasen (すみません) yang bermakna maaf dikutip dalam film anime School Baby Sitters sebagai berikut:

(1) Mas Usaida :リュウちゃん表お昼こっち来れないの?。

Ryuchan hyo ohiru kotchi korenai no?.

Jam makan siang nanti Dek Ryu tidak ke sini?

Dek Ryu : すみません、ご件の科学のレポートお昼休みの問に仕上げ

ないといけないんです。

Sumimasen, go ken no kagaku no repooto o hiruyasumi no toi ni shiagenai to ikenaindesu.

Maaf, saya harus mengumpulkan laporan kimia setelah jam makan siang.

Mas Usaida : 科学のへりはら学生の休み時間潰すも好きなんだよな。意 地悪ってやらね..。

(27)

19

Kagaku no heri hara gakusei no yasumi jikan tsubusu mo suki nandayo na. Ijiwarutte yarane….

Ah,,,Hebihara guru kimia? Sayang sekali dia membuang waktu istirahat para murid…Iseng sekali dia.

{school baby sitters : episode 6}

Cuplikan di atas adalah salah satu contoh kata sumimasen yang bermakna maaf. Dimana percakapan di atas menjelaskan percakapan antara dek Ryu dan mas Usaida yang hendak bertanya apakah dek Ryu akan datang lagi, kemudian dek Ryu tidak bisa karena harus mengumpulkan salah satu tugas pada saat yang bersamaan. Di sini dek Ryu mengucapkan kata Sumimasen yang artinya meminta maaf karena menolak suatu permintaan.

(2). Ibu Taka: それも相当い野中さんはまだ着替え終わらないのかしら、

息抜きかけてあげたくて無理やり誘って連れて来ちゃったけ ど。

Sore mo soto i Inomata san wa mada kigae owaranai no kashira,, ikinuki kakete agetakute muriyari sasotte ki chattakedo..

Tapi nona Inomata belum selesai ganti baju yah?Aku memaksa dia untuk ikut agar bisa sedikit bersantai.

Dek Ryu : 先生、猪俣さんの来ましたよ。

Sensei, Inomata san no kimashita yo.

Bu guru, itu nona Inomata sudah datang.

(28)

20

Inomata : あの,,,遅くなってすみません。

Ano,,, osoku natte sumimasen.

Anu,, maaf saya terlambat.

{school baby sitters : episode 9}

Cuplikan di atas menjelaskan salah satu contoh kata sumimasen yang bermakna maaf. Dimana percakapan di atas menjelaskan ketika ibu Taka sebagai guru di sekolah dan dek Ryu sedang berlibur di pantai,lalu ibu Taka bertanya kepada dek Ryu apakah Inomata sudah selesai mengganti pakaian, dan pada saat bersamaan dek Ryu melihat Inomata sudah datang. Kemudian Inomata meminta maaf kepada ibu Taka dan dek Ryu karena sudah menunggu lama dan Inomata datang terlambat. Pada saat tersebut Inomata mengucapkan kata sumimasen.

(3) Dek Ryu : お母さんの先生方も一緒に行ってくれることになったので 道曜日にみんなで行うてきてもいいでしょうか。

Okasan no senseigata mo issho ni itte kureru koto ni nattanode michi yobi ni minna de okonaute kite mo ideshouka.

Ibu mereka juga ikut. Apa boleh aku menemani mereka di hari minggu?

Ibu kepala : 好きにしたら一茶。

Suki ni shitara issa.

Lakukan saja sesukamu.

(29)

21

Dek Ryu : あのそれとですねう斎田さんが休日出勤ということでバイ

ト代表その...。

Ano soreto desune, Usaida san ga kyujitsu shukkin to iu koto de baito daihyo sono….

Selain itu, mas Usaida bilang mau upah lembur karena akhir pekan…

Ibu kepala : 保護者がついていくのに同社のばかり金を洗わなきゃなら ないんです。

Hogo-sha gat suite iku noni dosha no bakari kin o arawanakya naranaindesu.

Kenapa aku harus menggaji dia padahal orang tua anak-anak itu ikut!?

Dek Ryu : すー、すみません。

Su,,sumimasen.

Ma-Maaf.

{school baby sitters : episode 2}

Cuplikan di atas merupakan salah satu contoh kata sumimasen yang bermakna maaf. Dimana percakapan di atas menjelaskan antara dek Ryu dan ibu Kepala sedang makan malam di meja makan, dek Ryu meminta izin kepada ibu Kepala agar bisa menemani anak-anak di hari minggu, dan di saat yang bersamaan

(30)

22

dek Ryu meminta gaji upah lembur di akhir pekan yang membuat ibu Kepala marah.

Di dalam percakapan tersebut dek Ryu mengucapkan kata sumimasen karena telah membuat ibu Kepala marah.

3.2 Sumimasen Bermakna Terima Kasih

Contoh kata Sumimasen (すみません) yang bermakna terima kasih dikutip dalam film anime School Baby Sitters sebagai berikut:

(4) Ibu Taka : そろっみんなに特別にジュース買ってきてげたからお居蘇 ないように飲みなさい。

Soro minna ni tokubetsu ni juusu katte kite geta kara o kyoso nai yo ni nomi nasai.

Ini,,sekali-kali aku belikkan jus untuk kalian.Minumnya hati-hati jangan sampai jatuh.

Ibu Kazu : はい鹿島くんなもん。

Hai,Kashima kun namon.

Ini untuk Nak Kahima.

Dek Ryu : あっ、すいませんありがとうございません。

Att,,,suimasen arigatou gozaimasen.

Ah,,maaf terima kasih.

{school baby sitters : episode 9}

(31)

23

Cuplikan di atas merupakan salah satu contoh kata sumimasen yang bermakna terima kasih.Dimana percakapan di atas antara ibu Taka,ibu Kazu dan dek Ryu yang sedang berlibur ke pantai, ketika dek Ryu asik bermain dengan anak- anak, ibu Taka dan ibu Kazu membawakan jus yang diberikan kepada anak-anak sekaligus dek Ryu. Pada percakapan di atas dek Ryu mengucapkan kata sumimasen sebagai makna berterimakasih karena sudah diberikan jus.

3.3 Sumimasen Bermakna Minta Tolong

Contoh kata Sumimasen (すみません) yang bermakna minta tolong dikutip dalam film anime School Baby Sitters sebagai berikut:

(5) Mas Usaida :ああ,,リュウちゃん助けて。

Ahtt,,,Ryuchan tasu kete.

Aduh,,,.Dek Ryu tolong aku.

Dek Ryu : えーと。

Eeto.

Itu…

Kamita : ほんとが大そろそろ教室行くぞ。

Honto ga dai sorosoro kyoshitsu iku zo.

Hei,, ayo segera kekelas.

Dek Ryu : あっ、すいません斎田さん。

(32)

24

Attt,,suimasen Saida san.

At,,,Maaf mas Saida.

それじゃあ授業終わるまでよろしくお願いします。

Sore ja jugyo owaru made yoroshiku onegaishimasu.

Tolong jaga mereka sampai kami pulang sekolah ya.

{school baby sitters : episode 7}

Cuplikan di atas merupakan salah satu contoh kata sumimasen yang bermakna meminta tolong. Dimana percakapan di atas antara mas Usaida,dek Ryu dan Kamita yang sedang berada di ruangan penitipan anak, ketika mas Usaida meminta tolong bantuan dek Ryu untuk menjaga anak-anak,pada saat bersamaan dek Ryu dan Kamita tidak bisa membantu karena harus segera masuk ke kelas. Pada percakapan di atas dek Ryu merasa tidak enak karena harus meninggalkan mas Usaida sendiri menjaga anak-anak,lalu dek Ryu mengucapkan kata sumimasen karena meminta tolong kepada mas Usaida.

3.4 Sumimasen Bermakna Menyapa

Contoh kata Sumimasen (すみません) yang bermakna menyapa dikutip dalam film anime School Baby Sitters sebagai berikut:

(6). Ayah Midori : すみませんあそこの君。行くルームに行きたいので

すが場所を教えてもらえないかなあ。

(33)

25

Sumimasen asokoko no kimi.Iku ruumu ni ikitai no desuga, basho o oshiete moraenai kana.

Mohon maaf nak.Aku mencari letak ruangan penitipan anak.

Kak Inui : ああ、、いっす。

Aa, issu.

Aku akan memberitahumu.

{school baby sitters : episode 10}

Cuplikan di atas adalah salah satu contoh kata sumimasen yang bermakna menyapa atau bertanya. Dimana percakapan di atas antara ayah Midori dan kak Inui ketika berada di sekolah,ayah Midori yang hendak mau pergi ke ruang penitipan anak tetapi tidak tau jalan menuju ruangan tersebut,lalu ayah Midori menyapa sekaligus bertanya kepada kak Inui tentang jalan ruangan penitipan anak. Pada saat bertanya ayah Midori mengucapkan kata sumimasen.

(34)

26

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Meminta maaf merupakan salah satu sarana hubungan baik sesama manusia. Tindak tutur dan peristiwa tutur sangat erat terkait. Keduanya terdapat dalam komunikasi. Sumimasen adalah kata untuk meminta maaf dan sangat sulit di pakai. Selain kata sumimasen, ada beberapa bentuk sumimasen untuk menyatakan maaf.

Sumimasen selain bermakna kata untuk meminta maaf, juga bermakna kata untuk menyatakan terima kasih, minta tolong, memanggil atau menarik mitra tutur. Dalam film anime “School Baby Sitters”terdapat 4 makna kata sumimasen yang maknanya dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Sumimasen dikatakan bermakna minta maaf karena menolak suatu permintaan dan tindakan yang telah dilakukan atau tidak dilakukan menimbulkan kerugian bagi mitra tutur.

2. Sumimasen dikatakan bermakna minta tolong karena membutuhkan suatu bantuan dari mitra tutur.

3. Sumimasen dikatakan bermakna terima kasih karena selain menimbulkan kerugian juga pada saat yang bersamaan mendapatkan suatu bantuan dan keuntungan dari mitra tutur.

(35)

27

4. Sumimasen dikatakan bermakna menyapa karena membutuhkan bantuan sekaligus menyapa,dimana pihak yang di panggil otomatis diminta untuk berbicara.

4.2 Saran

Bagi mahasiswa yang sedang belajar Bahasa Jepang sebaiknya lebih memahami makna apa itu Sumimasen dan pada tindak tutur seperti apa Sumimasen.Dengan mempelajari dan memahami makna Sumimasen akan lebih mudah untuk melakukan interaksi karena dapat mengetahui tindak tutur seperti apa makna kata sumimasen. Sumimasen merupakan salah satu ungkapan meminta maaf dalam Bahasa Jepang,selain Sumimasen ada juga Gomennasai,Moushiwake nai,Shitsurei suru,dan lainnya sebagai ungkapan maaf. Namun, dalam penulisan kertas karya ini, penulis hanya membahas tentang Sumimasen saja.

Setelah membaca kertas karya ini, penulis mengharapkan pembaca dapat mengerti tentang bagaimana kata sumimasen khususnya dalam tindak tutur pada film anime “school baby sitters”. Penulis juga berharap tugas akhir ini dapat berguna bagi pembaca untuk melakukan pembahasan lebih dalam lagi mengenai ungkapan maaf dalam Bahasa Jepang lainnya.

(36)

28

DAFTAR PUSTAKA

Yoshikawa Keiko, M.Pangerapan Meivy., 2020 . Nihongo Rakuraku. Jakarta:

The Japan Foundation.

Maharani,Riskaninda, 2020. Mahir Bahasa Jepang untuk TKI Jepang.

Yogyakarta: Araska.

Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran ISSN 1858 – 4543 PPs Universitas Pendidikan Ganesha

https://text-id.123dok.com/document/eqodgx7mz-makna-dan-fungsi- sumimasen.html (diakses pada hari Rabu, 16 Juni 2021 jam 13:22)

https://tensai-indonesia.com/pentingnya-budaya-meminta-maaf-bagi-orang- jepang/ ( diakses pada hari Selasa, 18 Mei 2021 jam 20:00)

https://www.urbanpro.com/ ( diakses pada hari Jumat, 28 Mei 2021 jam 20:15)

https://www.mp4upload.com/aqzxslq94hxv ( diakses pada hari Minggu, 16 Mei 2021 jam 10:15)

https://ambarmizu2013.wordpress.com/sosiolingusitik-tindak-tutur-austin- dan-searle/ ( diakses pada hari Selasa, 25 Mei 2021 jam 20:45)

https://youtu.be/QS0A-AV3bO0

( diakses pada hari Kamis, 13 Mei 2021 jam 19:30)

(37)

29

https://youtu.be/PWTZI8m0JNk

( diakses pada hari Jumat, 21 Mei 2021 jam 16:10) https://youtu.be/Lq6-l0wWw9M

( diakses pada hari Selasa, 01 Juni 2021 jam 11:05) https://youtu.be/p63qb4hEBAk

(diakses pada hari Kamis, 03 Juni 2021 jam 14:10) https://youtu.be/tSt6tSp4m8k

( diakses pada hari Sabtu, 05 Juni 2021 jam 10:00)

https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JIPP/article/viewFile/11960/7631 (diakses pada hari Rabu, 21 April 2021 jam 09:15)

http://scholar.unand.ac.id/33331/2/BAB%20I.pdf (diakses pada hari Jumat, 23 April 2021 jam 17:00)

(38)

30

LAMPIRAN

Gambar 1. Sumimasen Minta maaf

Gambar 2. Sumimasen Minta Maaf

(39)

31

Gambar 3. Sumimasen Minta Tolong

Gambar 4. Sumimasen Terima Kasih

(40)

32

Gambar 5. Sumimasen Menyapa

Gambar 6. Sumimasen Minta Maaf

(41)

33

ABSTRAK

Tindak tutur adalah ujaran yang dibuat sebagai bagian dari interaksi

social yang di dalamnya terdapat tindakan. Dengan mengucapkan sesuatu, penutur juga melakukan sesuatu.Peristiwa tutur merupakan peristiwa sosial karena menyangkut pihak-pihak yang bertutur dalam satu situasi dan tempat tertentu.

Di Jepang terdapat beberapa ungkapan yang sering di gunakan dalam sehari-hari. Ungkapan tersebut merupakan挨拶 (aisatsu). 挨拶 (aisatsu) dalam bahasa Jepang, berarti “salam” dalam bahasa Indonesia. Salah satunya adalah ungkapan kata すみません (sumimasen). Sumimasen juga dipakai pada beberapa situasi tindak tutur selain meminta maaf (shazai), seperti berterima kasih (kansya), minta tolong (irai), dan menyapa atau menarik perhatian mitra tutur (yobikake).

Pertama,Saat digunakan sebagai ungkapan maaf, sumimasen sepadan dengan makna “sorry”,Kedua Saat digunakan sebagai ungkapan terimakasih, sumimasen sepadan dengan makna “thank you”, Ketiga Saat digunakan sebagai ungkapan untuk minta tolong, sumimasen sepadan dengan makna “could you help me”. Dan ke empat Saat digunakan sebagai ungkapan memanggil atau menarik perhatian mitra tutur, sumimasen memiliki arti sama.

Sumimasen dapat dikatakan telah menjadi kata yang familiar di telinga orang-orang asing yang pernah mengunjungi atau menetap di Jepang. Hal ini mungkin disebabkan oleh seringnya orang Jepang mengucapkan kata ini.

Sumimasen adalah suatu ungkapan maaf dalam bahasa Jepang yang unik.

Ungkapan ini tidak hanya bermakna sebagai ungkapan maaf saja melainkan ungkapan tersebut dapat bermakna seperti berterima kasih, atau menyapa

(42)

34

seseorang.Sering kali menyamakan makna sumimasen dengan makna “ sorry”

dalam bahasa Inggris.Sementara makna ungkapan sumimasen dalam bahasa Jepang mempunyai pengucapan yang dapat dikatakan tinggi itu sendiri,tidak terbatas hanya pada situasi meminta maaf.Hal ini yang sering menyebabkan kesalahpahaman bagi orang asing non-pemelajar bahasa Jepang yang tidak mempunyai pengetahuan yang cukup tentang penggunaan kata sumimasen.

Manusia saling berinteraksi dengan sesama untuk mengungkapkan suatu maksud, pikiran dan perasaan dengan menggunakan bahasa yang disampaikan dengan tuturan.Semua tuturan yang menunjukkan suatu tindakan dapat disebut sebagai “tindak tutur”. Salah satu tindak tutur yang sering digunakan oleh manusia saat berinteraksi adalah tindakan meminta maaf.Tindakan meminta maaf terjadi ketika penutur melakukan tindakan yang menyebabkan ketidaknyamanan bagi mitra tutur.

(43)

0

(44)

0

(45)

0

(46)

0

(47)

0

Gambar

Gambar 1. Sumimasen Minta maaf
Gambar 3. Sumimasen Minta Tolong
Gambar 5. Sumimasen Menyapa

Referensi

Dokumen terkait

Gedung H, Kampus Sekaran-Gunungpati, Semarang 50229 Telepon: (024)

Kegiatan selanjutnya, siswa menyimak uraian guru tentang teknik cerita permulaan diskusi (discussion starter story). Kemudian siswa berkelompok mendiskusikan teks

Penelitian tentang smart parking sebenarnya sudah banyak dilakukan dengan berbagai metode dan berbagai objek, namun penelitian ini mengacu pada jurnal “A Navigation

Sehubungan dengan hasil evaluasi terhadap dokumen kualifikasi yang saudara ajukan pada paket pekerjaan Pengadaan Peralatan dan Fasilitas Kantor Pengadilan Tingi Jayapura

Batas luar Peta Blok dari PBB sangat berbeda dengan dari Citra, karena peta dasar yang digunakan PBB terlalu tua, sedang wilayah pantai sudah berubah. Peta

berisi kumpulan objek yang digunakan untuk membuat user interface serta pengontrolan bagi program yang dibuat. Objek yang terdapat dalam toolbox ini adalah control. Bentuk

Untuk memenuhi syarat sebagai calon lisensi, pemohon harus mengikuti kualifikasi minimal yang dianggap oleh Dewan diperlukan untuk keselamatan publik dan

13 The most respected NRIs and the gentry of the city, dancers, smugglers, extortionists, fashion designers, models, politicians, beauticians, company