D. Kebijakan Akuntansi Penyusutan Aktiva Tetap
2. Metode Penyusutan Aktiva Tetap berdasarkan
Dalam ayat 1 dan ayat 2 pasal 11 Undang-Undang Pajak No. 17 Tahun 2000
dijelaskan metode penyusutan menurut fiskal. Metode penyusutan yang dibolehkan dalam ketentuan ini adalah:
a. Metode Garis Lurus (Straight Line Method)
Dalam ketentuan fiskal metode ini disebut penyusutan dalam bagian-bagian yang sama besar selama masa manfaat yang ditetapkan bagi harta tersebut.
Contoh:
Sebuah gedung yang harga perolehannya Rp. 100.000.000,- dan masa manfaatnya 20 (dua puluh) tahun, penyusutan setiap tahun adalah sebesar Rp. 5.000.000,- (Rp. 100.000.000,- : 20)
b. Metode Saldo Menurun (Declining Balance Method)
Penyusutan atas harta berwujud dilakukan dalam bagian-bagian yang menurun selama masa manfaat, yang dihitung dengan cara menerapkan tarif penyusutan atas nilai sisa buku dan pada akhir masa manfaat nilai sisa buku disusutkan dengan syarat dilakukan secara taat azas.
Contoh penggunaan metode saldo menurun adalah:
Sebuah mesin dibeli dan ditempatkan pada bulan Januari 2000 dengan harga perolehan sebesar Rp. 150.000.000,- masa manfaat dari mesin tersebut adalah 4 (empat) tahun. Kalau tarif penyusutan misalnya ditetapkan 50%, maka perhitungan penyusutan adalah sebagai berikut:
Tahun Tarif Penyusutan Nilai Sisa Buku Harga Perolehan 2000 Rp. 150.000.000,- 2000 50% Rp. 75.000.000,- Rp. 75.000.000,- 2001 50% Rp. 37.500.000,- Rp. 37.500.000,- 2002 50% Rp. 18.750.000,- Rp. 18.750.000,- 2003 disusutkan sekaligus Rp. 18.750.000,- 0
Penggunaan metode penyusutan atas harta harus dilakukan secara taat asas. Harta berupa bangunan hanya dapat disusutkan dengan metode garis lurus. Harta berwujud selain bangunan dapat disusutkan dengan metode garis lurus atau metode saldo menurun. Dalam hal wajib pajak memilih penggunaan metode saldo menurun, nilai sisa buku pada akhir masa manfaat harus disusutkan sekaligus. Sesuai dengan pembukuan wajib pajak, alat-alat kecil (small tools) yang sama atau sejenis dapat disusutkan dalam satu golongan.
Ad 3,4). Ayat 3 dan 4 pasal 11 Undang-Undang Pajak No. 17 tahun 2000
menjelaskan kapan dimulainya penyusutan. Penyusutan dimulai pada bulan pertama dilakukannya pengeluaran, atau pada bulan selesainya pengerjaan suatu harta sehingga penyusutan pada tahun pertama dihitung secara pro rata. Wajib Pajak diperbolehkan melakukan penyusutan mulai pada bulan harta digunakan dalam proses produksi atau untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan, atau pada saat harta yang bersangkutan mulai menghasilkan. Yang dimaksud menghasilkan dalam ketentuan fiskal ini dikaitkan dengan saat dimulai berproduksi dan tidak dikaitkan dengan saat diterima atau diperolehnya penghasilan. Untuk memberikan penjelasan yang lebih baik ada tiga contoh dari Undang-Undang yang dapat dikutip yaitu:
Contoh 1:
Pengeluaran untuk pembangunan sebuah gedung adalah sebesar Rp. 100.000.000,-. Pembangunan dimulai pada bulan Oktober 2000 dan selesai
digunakan pada bulan Maret 2001. Penyusutan atas harga perolehan bangunan gedung tersebut dimuali pada saat bulan Maret tahun pajak 2001.
Contoh 2.
Sebuah mesin yang dibeli dan ditempatkan pada bulan Juli 2000 dengan harga perolehan sebesar Rp. 100.000.000,- masa manfaat dari mesin tersebut adalah 4 (empat) tahun. Kalau tarif penyusutan misalnya ditetapkan 50% (lima puluh persen), maka perhitungannya adalah sebagai berikut:
Tabel 10: Perhitungan Penyusutan Berdasarkan Undang-Undang Perpajakan
Tahun Tarif Penyusutan Nilai Sisa Buku
Harga Perolehan 2000 - Rp. 100.000.000,- 2000 6/12 x 50% Rp. 25.000.000,- Rp. 75.000.000,- 2001 50% Rp. 37.500.000,- Rp. 37.500.000,- 2002 50% Rp. 18.750.000,- Rp. 18.750.000,- 2003 50% Rp. 9.375.000,- Rp. 9.375.000,- 2004 Disusutkan sekaligus Rp. 9.375.000,- - Contoh 3.
PT. X yang bergerak di bidang perkebunan membeli traktor pada tahun 1999. Perusahaan tersebut mulai menghasilkan (panen) pada tahun 2000. Dengan persetujuan Direktur Jenderal Pajak, penyusutan traktor tersebut dapat dilakukan mulai tahun 2000.
Ad 5). Ayat 5 pasal 11 Undang-Undang Pajak No. 17 tahun 2000 menyebutkan
wajib pajak melakukan penilaian kembali aktiva setelah dilakukan penilaian kembali aktiva tersebut. Misalnya karena adanya perkembangan harga yang mencolok atau perubahan kebijakan di bidang moneter dapat menyebabkan kekurangserasian antara pembiayaan dan penghasilan, yang dapat mengakibatkan timbulnya beban pajak yang kurang wajar. Dalam keadaan demikian, Menteri Keuangan diberi wewenang menetapkan peraturan tentang penilaian kembali aktiva tetap (revaluasi) atau indeksasi biaya dan penghasilan.
Ad 6). Untuk memberikan kepastian hukum bagi wajib pajak dalam melakukan
penyusutan atas pengeluaran harta berwujud, ayat 6 dari pasal 11 Undang-Undang Pajak No. 17 tahun 2000 ini mengatur masa manfaat dan tarif penyusutan baik menurut metode garis lurus maupun saldo menurun.
Tabel 11: Perhitungan Penyusutan Aktiva Tetap Berdasarkan Undang-Undang PPh No. 17 Tahun 2000 Pasal 11 Ayat 6
Kelompok Harta Masa Tarif penyusutan
Berwujud Manfaat sebagaimana dimaksud dalam
Ayat (1) Ayat (2) I. Bukan bangunan Kelompok 1 4 tahun 25% 50% Kelompok 2 8 tahun 12.5% 2.5% Kelompok 3 16 tahun 6.25% 12.5% Kelompok 4 20 tahun 5% 10% II.Bangunan Permanen 20 tahun 5%
Tidak permanen 10 tahun 10%
Bangunan tidak permanen maksudnya yang bersifat sementara dan terbuat dari bahan yang tidak tahan lama atau bangunan yang dapat dipindah-pindahkan, yang masa manfaatnya tidak lebih dari 10 tahun. Misalnya barak atau asrama yang dibuat dari kayu untuk karyawan.
Ad 7). Ayat 7 pasal 11 Undang-Undang Pajak No. 17 tahun 2000 menyebutkan
dalam rangka menyesuaikan dengan karakteristik bidang-bidang usaha tertentu, seperti pertambangan minyak dan gas bumi, perkebunan tanaman keras, perlu diberikan pengaturan tersendiri untuk penyusutan harta berwujud yang digunakan dalam usaha tersebut yang ketentuannya ditetapkan dengan keputusan Menteri Keuangan.
Ad 8,9). Ayat 8 dan 9 pasal 11 Undang-Undang Pajak No. 17 tahun 2000
atau penarikan harta menurut Undang-Undang No.17 tahun 2000 pasal 4 ayat (1) huruf d adalah karena:
a. Penjualan;
b. Pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan dan badan lainnya sebagai pengganti saham atau penyertaan modal;
c. Pengalihan harta kepada pemegang saham, sekutu, atau anggota;
d. Pengalihan karena likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan, atau pengambilalihan usaha;
e. Pengalihan karena hibah, bantuan atau sumbangan.
Apabila terjadi pengalihan harta atau penarikan harta maka jumlah nilai sisa buku harta tersebut dibebankan sebagai kerugian dan jumlah harga jumlah atau penggantian asuransinya yang diterima atau diperoleh dibukukan sebagai penghasilan pada tahun terjadinya pengalihan harta dikenakan pajak dalam tahun harta tersebut dialihkan.
Apabila harta wajib pajak dijual, penerimaan netto dari penjualan harta tersebut dibukukan sebagai penghasilan pada tahun terjadinya penjualan. Penerimaan netto adalah selisih antara harga penjualan dengan biaya yang dikeluarkan berkenaan dengan penjualan. Nilai sisa buku dari harta wajib pajak dibebankan sebagai kerugian dalam tahun pajak yang bersangkutan.
Contoh 1. Penarikan harta karena dijual menurut fiskal.
Nilai sisa buku sebesar Rp. 10.000.000,- dibebankan sebagai kerugian dalam tahun pajak yang bersangkutan. Keuntungan sebesar Rp. 5.000.000,-
merupakan penghasilan yang menjadi objek pajak PPh. Apabila transaksi ini dicatat maka ayat jurnalnya adalah sebagai berikut:
Penerimaan Kas Rp. 17.000.000,- Akumulasi Penyusutan Rp. 30.000.000,-
Mesin Rp. 40.000.000,-
Biaya Rp. 2.000.000,-
Laba Rp. 5.000.000,-
Dalam prinsip akuntansi komersial ada tiga langkah yang harus ditempuh sehubungan dengan penarikan harta yaitu:
1. Menghitung besarnya akumulasi penyusutan sampai saat penarikannya. 2. Menghapus rekening aktiva dan akumulasi penyusutan.
3. Menghitung rugi-laba penjualan.
Contoh 2. Penarikan harta menurut akuntansi
Pada awal 1996 Usaha Bersama menjual sebuah mesin dengna harga Rp. 4.500.000,- yang dibelinya pada tanggal 5 Januari 1990 dengan harga Rp. 10.000.000,-. Mesin disusutkan dengan metode garis lurus dengan
tarif penyusutan 10% setahun. Transaksi ini dicatat dengan cara: (1) mencatat penyusutan dalam tahun berjalan, dan
(2) menghitung laba penjualan.
Catatan 1. Membukukan biaya penyusutan sebagai beban tahun 1990 sebesar Rp. 1.000.000,- (Rp. 10.000.000,- x 10%) dengan ayat jurnal sebagai
Biaya penyusutanRp. 1.000.000,-
Akumulasi penyusutanRp. 1.000.000,-
Catatan 2. Membukukan penerimaan kas Rp. 4.500.000,- menutup rekening aktiva
mesin sebesar Rp. 10.000.000,- akumulasi penyusutan mesin Rp. 6.000.000,- dan laba penjualan Rp. 500.000,-. Transaksi tersebut
dicatat dengan cara sebagai berikut: Kas Rp. 4.500.000,-
Akumulasi penyusutanRp. 6.000.000,- Laba PenjualanRp. 500.000,- Mesin Rp. 10.000.000,-
Apabila suatu harta milik wajib pajak terbakar atau karena sebab musibah lain, penggantian asuransi dibukukan sebagai penghasilan pada tahun diterimanya penggantian asuransi. Nilai sisa buku dari harta yang terbakar dibebankan sebagai kerugian dalam tahun pajak yang bersangkutan. Proses pengurusan penggantian asuransi dapat memakan waktu yang cukup lama, sehingga jumlah penggantiannya kemungkinan tidak dapat diketahui dengan segera. Apabila jumlah penggantian asuransi yang akan diterima baru dapat diketahui pusat di masa kemudian, wajib pajak dapat mengajukan permohonan kepada Direktur Jenderal Pajak agar jumlah sebesar kerugian tersebut dapat dibebankan dalam tahun penggantian asuransi tersebut. Meskipun demikian, penyusutan atas harta terbakar tersebut harus dihentikan. Pada dasarnya nilai sisa buku harta yang terbakar harus dianggap sebagai kerugian pada saat terjadinya kebakaran.
Suatu mesin terbakar pada pertengahan tahun 1995 dengan keterangan sebagai berikut:
Nilai Perolehan Rp. 50.000.000,- Akumulasi Penyusutan
a. Jumlah penggantian asuransi diterima pada tahun 1995 sebesar Rp. 19.000.000,-.
Rp. 30.000.000,- - Nilai Sisa Buku Rp. 20.000.000,-
b. Jumlah penggantian belum dapat diketahui dan penundaan pembebanan kerugian tidak diajukan kepada Dirjen Pajak.
c. Jumlah penggantian asuransi belum dapat diketahui, karena itu penundaan kerugian diajukan untuk ditunda kepada Dirjen Pajak.
Sesuai dengan ketentuan fiskal maka penarikan harta terbakar dicatat sebagai berikut:
1. Nilai sisa buku mesin Rp. 20.000.000,- dicatat sebagai kerugian sedangkan penerimaan penggantian asuransi Rp. 19.000.000,- dicatat sebagai penghasilan dalam tahun yang bersangkutan. Karena nilai sisa buku lebih besar dari pada penggantian asuransi maka wajib pajak menderita rugi Rp. 1.000.000,- yakni (Rp. 20.000.000 – Rp. 19.000.000).
Akuntansi mencatat transaksi dengan ayat jurnal:
Kas Rp. 19.000.000,-
Akumulasi penyusutan Rp. 30.000.000,- Kerugian Rp. 1.000.000,-
2. Jumlah penggantian belum dapat diketahui, karena ini kerugian sebesar nilai sisa buku Rp. 20.000.000,- harus segera dibebankan sebagai kerugian pada tahun yang bersangkutan, kejadian ini dapat dicatat dengan ayat jurnal sebagai berikut:
Akumulasi penyusutan mesin Rp. 30.000.000,-
Kerugian Rp. 20.000.000,-
Mesin Rp. 50.000.000,-
3. Wajib pajak tidak perlu mencatat kerugian dalam tahun terjadinya kebakaran. Namun penyusutan mesin harus dihentikan.
Ad 10). Ayat 10 pasal 11 Undang-Undang Pajak No. 17 tahun 2000 menyebutkan
jika menyimpang dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (8), dalam hal peralihan harta berwujud yang memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (3) huruf a dan b, nilai sisa bukunya tidak boleh dibebankan sebagai kerugian oleh pihak yang mengalihkan.
Ad 11). Ayat 11 pasal 11 Undang-Undang Pajak No. 17 tahun 2000 menyebutkan
dalam rangka memberikan keseragaman kepada wajib pajak untuk melakukan penyusutan, Menteri Keuangan diberi wewenang menetapkan jenis-jenis harta yang termasuk dalam setiap kelompok masa manfaat yang harus diikuti oleh wajib pajak. Kelompok harta berwujud sesuai dengan masa manfaat sebagaimana yang dimaksud diatas ditetapkan dengan keputusan Menteri Keuangan No. 520/KMK.04/2000, tanggal 14 Desember 2000 (terlampir).
3. Penyajian Penyusutan Aktiva Tetap dalam Laporan Keuangan
Sebagaimana tujuan dari laporan keuangan yaitu memberikan informasi
yang akurat kepada pemakai informasi maka penyajian aktiva tetap dan penyusutannya harus dapat menggambarkan kondisi aktiva tetap dan dapat
dimengerti oleh pemakai laporan keuangan sehingga keputusan yang diambil tidak salah.
Menurut Warren, Reeve dan Fess (2005:517) ”Jumlah beban penyusutan dan amortisasi dalam suatu periode harus dilaporkan secara terpisah dalam laporan laba rugi atau diungkapkan pada catatan atas laporan keuangan”.
Aktiva tetap dinilai sebesar nilai bukunya, yaitu harga perolehan dikurangi dengan akumulasi penyusutan yang disajikan di dalam neraca. Dalam laporan keuangan, aktiva tetap dirinci menurut jenisnya, seperti tanah, gedung, mesin-mesin, peralatan, kendaraan, dan lain-lain. Akumulasi penyusutan disajikan sebagai pengurang terhadap aktiva tetap, baik secara sendiri-sendiri menurut jenisnya atau secara keseluruhan. Apabila di neraca akumulasi penyusutan dikurangkan secara keseluruhan, maka dalam catatan atas laporan keuangan perlu dibuatkan rincian harga perolehan masing jenis aktiva serta masing-masing penyusutannya. Metode penyusutan yang dianut oleh perusahaan serta taksiran masa manfaat juga perlu dijelaskan dalam laporan keuangan.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Dalam menulis skripsi ini, penulis melakukan penelitian di PT. HARFA RAHMAT UTAMA MEDAN yang beralamat Jl. Halat No.
144/144A/144B Medan dan dilakukan pada bulan September 2007 sampai dengan selesai.