• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Perkawinan

Dalam dokumen smk11 AgribisnisTeknikRuminansia Caturto (Halaman 59-63)

6. Memperbaiki Genetik Ternak

6.4. Metode Perkawinan

Berdasarkan hubungan kekerabatan suatu metode perkawinan dapat dibedakan menjadi dua yaitu :

y Pembiakan tertutup yaitu perkawinan antara turunan.

y Pembiakan keluar (out breeding) yaitu perkawinan antara yang tidak berhubungan keluarga.

6.4.1. Pembiakan Tertutup

Pada garis besarnya perkawinan antara turunan dibedakan menjadi dua yaitu:

y Inbreeding

Inbreeding adalah perkawinan antar ternak yang

memiliki hubungan keluarga yang lebih dekat jika dibandingkan dengan rataan hubungan kekerabatan dari kelompok tempat ternak berada. Tingkat inbreeding sangat tergantung dari berapa dekat hubungan

keluarga antara kedua tetuanya. Inbreeding akan meningkatkan derajat homozigositas dan pada saat

yang bersamaan menurunkan derajat heterozigositas.

y Line Breeding (biak-sisi).

Perkawinan secara inbreeding pada umumnya

akan berpengaruh negatif terhadap keturunannya. Oleh sebab itu pada umumnya para peternak khawatir akan terjadi perkawinan secara inbreeding pada hewan ternaknya. Oleh sebab itu ada cara lain yang biasanya dipilih oleh para peternak yaitu dengan melakukan metode perkawinan secara line breeding atau biak-sisi. Line breeding adalah suatu program pembiakan atau perkawinan yang ditujukan untuk menciptakan hubungan keluarga pada seekor ternak yang baik atau disenangi dan biasanya seekor pejantan.

6.4.2. Out Breeding

Out breeding merupakan kebalikan dari inbreeding. Jadi out breeding adalah perkawinan ternak yang hubungan kekeluargaannya lebih jauh dari hubungan kekeluargaan rata-rata ternak dari mana mereka berasal. Atau untuk mudahnya dari ternak yang tidak mempunyai leluhur bersama selama paling sedikit empat generasi.

Out breeding merupakan suatu metode untuk memperbesar variasi populasi baik secara fenotip ataupun genotip. Pada metode perkawinan secara out breeding ini maka keadaan heterozigot dari populasi akan meningkat sehingga akan mengakibatkan daya adaptasi ternak terhadap lingkungan akan meningkat pula. Pada garis besarnya out breeding dapat dibedakan lagi menjadi:

6.4.2.1. Cross breeding

Sampai saat ini cross breeding memegang peranan penting dalam perbaikan mutu ternak. Cross breeding dapat dilakukan antara species, antara jenis, sisi dan lainnya.

y Cross breeding antara species

Cross breeding antar species adalah perkawinan dengan suatu individu yang berbeda kromosomnya. Oleh sebab itu metode perkawinan ini belum banyak dilakukan karena adanya kesulitan-kesulitan teknis dalam kelanjutan penyilangan ternak yang berbeda jumlah kromosomnya. Meskipun spermatozoa mampu untuk membuahi sel ovum tetapi pada umumnya hasil pembuahan yaitu embrionya mempunyai daya tahan hidup cukup rendah. Dan apabila terjadi dan berhasil maka biasanya apabila fetus yang dihasilkan jantan, merupakan jantan yang mandul. Tetapi dengan semakin pesatnya

perkembangan di bidang teknologi reproduksi, tidak mustahil dan menutup kemungkinan di masa yang akan datang metode perkawinan ini dapat dilaksanakan dan menjadi bermanfaat dengan nilai ekonomis produksinya yang sangat menguntungkan. Untuk saat ini metode biak silang antara species dimanfaatkan masih dalam penelitian-penelitian saja. Sebagai contoh bahwa antara sapi bali dengan sapi Simmental bukan berada dalam species yang sama. Kedua-duanya hanya sama dalam familinya saja. Tetapi dari hasil perkawinan antara kedua species yang berbeda

tersebut ternyata memberikan hasil yang

cukup baik. Hasil produksinya, berat lahir maupun berat sapih umumnya baik/lebih tinggi, tetapi anak yang dihasilkannya mandul.

Beberapa contoh dari hasil biak silang antara species yang telah berhasil dilakukan, seperti :

y Cattalo yaitu hasil perkawinan antara sapi dengan bison

y Beefalo yaitu hasil perkawinan anatara sapi dengan kerbau

y Mule yaitu hasil perkawinan antara kuda dengan keledai

y Zebroid yaitu perkawinan antara kuda dengan zebra Grevy

y Asbra yaitu perkawinan antara keledai dengan zebra, dll

y Cross breeding antara breed Cross breeding antara breed adalah perkawinan pada ternak yang berbeda jenisnya. Persilangan dengan cara ini secara komersial mempunyai tujuan untuk:

y Mendapatkan keuntungan dari setiap heterosis atau hibrid vigor yang dapat

mengakibatkan hasil persilangan tersebut lebih

baik atau lebih produktif dari

salah satu asal penurunannya.

y Mengambil keuntungan sebesar mungkin dari karakter atau sifat-sifat yang baik dari dua keturunan atau lebih yang berbeda tipenya. Perkawinan silang antara keturunan akan dapat menghasilkan jenis baru. Sebagai contoh:

y Sapi Santa Gertudis

Merupakan hasil persilangan sapi induk Shorthorn dengan pejantan Brahman. Hasil dari persilangan ini mempunyai keunggulan atau perbaikan genetik yaitu sapi santa Gertudis mempunyai berat dewasa rata-rata 100 kg lebih berat dari sapi Shorthorn pada umur dan jenis kelamin yang sama.

y Sapi Brangus

Merupakan hasil persilangan antara Brahman dan sapi Angus. Sapi hasil persilangannya mempunyai sifat-sifat atau kharakter seperti sapi Angus.

y Beef Master

Persilangan antara sapi Brahman, Shorthorn dan Hereford akan menghasilkan jenis sapi baru yang di beri nama Beefmaster yang mempunyai perbaikan dalam kesuburan, pertumbuhan dan produksi susu.

Dan jenis-jenis sapi lain yang merupakan hasil persilangan antara dua atau lebih dari jenis yang berbeda dan mempunyai kemampuan produksi yang lebih tinggi dari induknya, seperti sapi Charbray, sapi Dorought master, dll.

6.4.2.2. Out crossing

Yang dimaksud perkawinan dengan metode outcrossing adalah jika kita memasukkan pejantan baru yang nantinya sebagai pembawa variasi genetik baru, dalam suatu kelompok ternak yang kita miliki. Out crossing ini dapat dimanfaatkan sebagai crash program dalam suatu upaya untuk perbaikan mutu. Hal ini tergantung dari berat ringannya out crossing tersebut.

6.4.2.3. Back crossing

Back crossing adalah persilangan dimana anak sapi (ternak) hasil dari persilangannya dikawinkan kembali dengan

penurunnya, sehingga diharapkan agar sifat baik yang

terdapat pada F1 dapat dipertahankan terus.

6.4.2. 4. Grading up

Grading up adalah peningkatan mutu suatu keturunan dengan jalan persilangan yang terus menerus. Cara ini telah terkenal dan banyak digunakan di seluruh dunia, dimana untuk di Indonesia, program tersebut telah banyak dilakukan terutama pada ternak unggas .

6.4.2.5. Top crossing

Top crossing dilakukan pada peternak yang ingin kembali pada sumber genetik asal yaitu dari suatu keturunan untuk mendapatkan beberapa materi genetik baru.

6.4.2.6. Mating likes

Mating likes atau assortative mating adalah mengawinkan ternak yang setingkat yaitu ternak yang baik dengan yang baik, ternak yang sedang dengan yang sedang dan ternak yang jelek dengan yang jelek. Sistim perkawinan ini hanya mengutamakan penilaian berdasarkan fenotip. Cara ini tidak efisien dalam upaya merubah frekuensi gen

dibandingkan dengan cara seleksi dan perkawinan lainnya. Pada dasarnya ternak yang berbeda secara genetik misalnya antara bangsa atau species apabila disilangkan akan menghasilkan keturunan yang bersifat heterosis. Ada yang bersifat heterosis positip yaitu jika keturunan yang dilahirkan lebih baik dari kedua penurunnya dan adapula yang bersifat heterosis negatip yaitu apabila terjadi kebalikannya. Untuk mendapatkan sifat heterosis dari keturunannya maka perbedaan genetik dari kedua penurunnya haruslah besar. Heterosis yang positif dalam dunia peternakan disebut sebagai hibrid vigor yaitu keturunanya yang mempunyai sifat lebih baik dari penampilan rata-rata kedua penurunnya. Pada umumnya hibrid vigor akan memberikan penampilan yang maksimum pada turunan pertama (F1) dan kemudian akan menyusut secara bertahap setiap dilakukan silang balik dengan penurunnya.

Manfaat dari persilangan secara umum didapat pada sifat-sifat yang memiliki nilai heritabilitas rendah sampai sedang. Beberapa keuntungan langsung dari sistem persilangan dari berbagai ternak :

y Pada sapi pedaging umumnya didapat setelah anak-anaknya dilahirkan. Jumlah anak yang dilahirkan per 100 betina yang dikawinkan akan lebih tinggi pada ternak-ternak silangan.

Dalam dokumen smk11 AgribisnisTeknikRuminansia Caturto (Halaman 59-63)