III. METODOLOGI PENELITIAN
3.3. Metode Sampling
3.3.1. Pengambilan sampel air
Pengambilan sampel air dilakukan dengan menggunakan Van Dorn Water Sampler sedangkan contoh sedimen menggunakan Petersen grab (40 x 32 cm). Pengambilan sampel air dan sedimen diambil pada tiga stasiun yang masing-masing stasiun berjarak 50 m, 500 m dan 1000 m dari Pelabuhan Sunda Kalapa. Pada setiap satu stasiun dilakukan pengambilan contoh air dan sedimen dengan pengulangan sebanyak 3 kali. Pengambilan sampel air dan sedimen akan dilakukan sebanyak 3 kali selama penelitian berlangsung. Lokasi stasiun pengambilan sampel air dan sedimen dapat dilihat pada Lampiran 1.
Sampel air diambil dari setiap stasiun pengamatan menggunakan Van Dorn sampler. Untuk pengukuran BOD5, sampel air dimasukkan dalam botol BOD, sedangkan untuk pengukuran parameter kimia air diambil sebanyak tiga botol contoh polyethilen ukuran 500 ml,dimana botol pertama tanpa diberi bahan pengawet, botol kedua diberi H2SO4 dan botol ketiga diberi HNO3, masing-masing 3 tetes.
Sampel air untuk analisis fitoplankton diambil dengan menggunakan Van Dorn water sampler kemudian ditampung dalam ember, selanjutnya disaring
dengan menggunakan plankton net mesh ukuran 25 um. Contoh fitoplankton tersebut disimpan dalam botol film dan diawetkan dengan larutan lugol, kemudian diidentifikasi di Laboratorium.
3.3.2. Pengambilan sampel sedimen
Contoh sedimen untuk pengukuran kualitas sedimen diambil dari setiap stasiun pengamatan dengan menggunakan Petersen Grab sampai kedalaman 10 cm. Contoh sedimen diambil sebanyak + 500 gram, dan analisis sedimen dilakukan untuk melihat fraksi sedimen. Pengukuran fraksi sedimen dilakukan dengan mengambil contoh sedimen sebanyak 100 gram dan dimasukkan ke dalam botol contoh polyethilen kemudian dihitung fraksinya berdasarkan ukuran butiran sedimen.
Pengambilan makrozoobentos dilakukan pada sedimen contoh dengan menggunakan Petersen Grab sebanyak lima kali ulangan. Kemudian makrozoobentos tersebut dipisahkan dari sedimen dengan menggunakan saringan bertingkat ukuran 1 mm2, selanjutnya dimasukkan ke dalam botol contoh dan diberi larutan lugol serta rose bengal kemudian diidentifikasi di laboratorium. 3.4. Metode Pengukuran Kualitas Perairan.
Parameter kualitas air yang dianalisis langsung di lapangan adalah suhu, pH, oksigen terlarut (DO) dan salinitas. Selanjutnya contoh air akan dianalisis di laboratorium untuk BOD5, TSS, COD, NH3, NO2, NO3, PO4, kekeruhan, dan kandungan logam berat Pb dan Cd dalam sedimen diawetkan dengan menggunakan bahan-bahan kimia yang mengacu pada Standard Methods for the Examination of Water and Wastewater (APHA, 1989). Metode pengukuran kualitas perairan dapat dilihat pada Tabel 2.
3.5. Analisis Data.
Data dianalisis dengan metode deskiptif terhadap parameter-parameter yang diamati. Parameter-parameter yang dideskripsikan adalah parameter-parameter kimia perairan, beban pencemaran, kapasitas asimilasi dan analisis-analisis terhadap komunitas fitoplankton dan makrozoobentos.
3.5.1. Beban Pencemaran dan Kapasitas Asimilasi.
Analisis beban pencemaran dilakukan dengan perhitungan secara langsung dari kualitas air Sungai Ciliwung yang bermuara di Pelabuhan Sunda Kelapa maupun kualitas perairan Pelabuhan Sunda Kelapa sendiri. Cara penghitungan beban pencemaran ini didasarkan atas pengukuran langsung debit sungai dan konsentrasi limbah di muara sungai-sungai yang menuju Pelabuhan Sunda Kelapa, berdasarkan model berikut:
BP = Q x Ci x (1 x 10-6 x 30 x 24 x 3600)...(1) Keterangan :
BP= Beban pencemar yang berasal dari suatu sumber (ton/bulan) Q = Debit sungai yang masuk perairan Pelabuhan Sunda Kelapa (m3/detik)
Ci = Konsentrasi parameter ke-i(mg/l)
Total beban pencemar dari suatu sumber yang bermuara ke Pelabuhan Sunda Kelapa, sebagai berikut:
∑
= = n i BP TBP 1 ...(2) Keterangan :TBP = Total Beban Pencemar yang masuk ke perairan n = Jumlah sungai
i = Beban limbah dari sungai ke-i
Nilai kapasitas asimilasi didapatkan dengan cara membuat grafik hubungan antara konsentrasi masing-masing parameter limbah di perairan dengan total beban limbah pencemaran parameter tersebut di muara sungai dan selanjutnya dianalisa dengan cara memotongkannya dengan garis baku mutu air yang diperuntukkan bagi biota dan budidaya. Pola hubungan antara konsentrasi limbah dengan beban pencemaran direferensikan terhadap standar baku mutu. Nilai kapasitas asimilasi didapat dari titik perpotongan antara garis hubungan beban pencemar dengan konsentrasi polutan dengan nilai baku mutu untuk parameter yang diuji (Gambar 3).
Gambar 3. Grafik hubungan antara beban pencemaran dan konsentrasi polutan
Selanjutnya nilai kapaitas asimilasi dianalisis dengan melihat seberapa besar peran masing-masing parameter terhadap beban pencemarannya. Dengan asumsi dasar yakni:
1) Nilai kapasitas asimilasi hanya berlaku di wilayah pesisir pada batas yang telah ditetapkan dalam penelitian
2) Nilai hasil pengamatan baik di perairan pesisir maupun di muara sungai diasumsikan telah mencerminkan dinamika yang ada di perairan tersebut
3) Perhitungan beban pencemaran dilakukan baik berasal dari land based,
pencemaran dari kegiatan di perairan pelabuhan maupun dari lautnya sendiri.
Data yang diamati merupakan data pencemaran yang mempengaruhi kualitas air muara sungai dan perairan. Hubungan yang ingin dilihat adalah nilai parameter tersebut yang ada di pelabuhan dan analisis yang digunakan adalah regresi linear.
bx a
Y = + ...(3) Keterangan :
x = nilai parameter di muara sungai (jarak 50 m) y = nilai parameter di perairan (jarak 500 dan 1000 m) a = interseps
b = koefisien regresi untuk parameter di sungai.
Peubah x merupakan nilai parameter tertentu hasil pengamatan di muara sungai dan y merupakan nilai parameter pelabuhan dianggap tepat untuk mewakili seluruh nilai parameter yang ada di Pelabuhan Sunda Kelapa.
Beban Pencemaran (ton/bln) Baku Mutu
Konsentrasi Polutan Pelabuhan (
m
Tabel 2. Parameter lingkungan yang diamati beserta metode/alat yang digunakan (APHA, 1989)
Parameter Unit Metode/Alat
Fisika air laut a. Suhu b. Kekeruhan c. Kedalaman d. Tekstur Sedimen e. Kecerahan f. TSS ºC NTU m % cm mg/l Thermometer Turbidimeter Tali berpemberat
Analisa segitiga Miller/Pipet Secchi disk/visual
Filter/Gravimetrik Kimia air laut
a. pH b. Salinitas
c. Oksigen terlarut (DO) d. BOD5
e. COD
f. Logam berat Pb dan Cd - PSU mg/l mg/l mg/l mg/l Kertas lakmus Refraktometer Metode Winkler
Metode Winkler dan inkubasi Metode Reflux
AAS (Atomic Absorption Spectrophotometric) Fisika sedimen laut
- Tekstur/fraksi sedimen % Saringan bertingkat Biologi perairan - Plankton - Makrozoobentos ind/l ind/m2 Mikroskopis
Identifikasi secara visual Hidrodinamika - Kedalaman muara sungai - Penampang sungai - Debit sungai - Arus m m2 m3/dt m/dt Skala metrik Skala metrik
Pengukuran dan penghitungan Skala metrik
3.5.2. Struktur Komunitas Phytoplankton dan Makrozoobenthos.
Atribut biologi atau metrik yang digunakan dalam menentukan tingkat gangguan pada struktur komunitas fitoplankton dan makrozoobenthos adalah Indeks Diversitas dan Indeks Keseragaman.
3.5.2.1. Kepadatan Jenis.
Kepadatan jenis baik fitoplankton dan makrozoobenthos didefinisikan sebagai jumlah individu satu jenis per stasiun, biasanya dalam satuan meter persegi (Odum, 1971) dan dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :
b a
K ×
=10000 ………...………...(4) Dimana :
K = Kepadatan jenis suatu spesies (ind/m2) a = Jumlah spesies yang dihitung (ind) b = Luas permukaan Petersen grab (cm2)
(Nilai 10000 adalah konversi dari cm2 ke m2) 3.5.2.2. Indeks Keanekaragaman (H’).
Indeks Shannon-Wiener digunakan untuk menentukan keanekaragaman fitoplankton maupun makrozoobenthos yang ada dalam suatu komunitas. Rumus Indeks Diversitas Shannon-Wiener yang digunakan sebagai berikut (Krebs, 1989).
...(5) Dimana:
H’ = indeks diversitas (bits per individual) pi = ni/N (proporsi spesies ke-i)
ni = jumlah individu dalam satu spesies
N = jumlah total individu spesies yang ditemukan N = jumlah jenis
Kriteria indek keanekaragam jenis (H’) adalah sebagai berikut :
H’<1 menandakan komunitas tidak stabil atau kualitas air tercemar berat, 1<H’<3 menandakan stabilitas komunitas sedang atau kualitas air tercemar sedang, H>3 menandakan stabilitas komunitas biota dalam kondisi prima (stabil atau kualitas air bersih .
3.5.2.3. Indeks Keseragaman (E’).
Keseragaman menggambarkan komposisi individu tiap spesies yang terdapat dalam suatu komunitas. Indeks Keseragaman dihitung dengan menggunakan rumus dari Pielou (1966) dalam Fachrul et al. (2005) sebagai berikut: pi pi H n i 2 1 log ' '
∑
= − =Hmaks H
E = ' ………..(6)
Dimana :
Hmaks = Keragaman jenis maksimum = Ln S
S = jumlah jenis dalam sampel yang ditemukan
Untuk tingkat keseragaman benthos memiliki nilai kriteria sebagai berikut : E mendekati 0 berarti keseragaman antar spesies rendah, artinya kekayaan individu yang dimiliki masing-masing spesies sangat jauh berbeda. Sedangkan E mendekati 1 berarti keragaman antar individu relatif seragam atau jumlah individu masing-masing spesies relatif sama.
3.5.3. Penetuan Status Perairan
Status mutu air/perairan adalah tingkat kondisi mutu air/perairan yang menunjukkan kondisi tercemar atau kondisi baik pada suatu sumber air dalam waktu tertentu dengan membandingkan dengan baku mutu air yang ditetapkan (KepMen LH No.115 tahun 2003). Penentuan status suatu perairan dapat memakai metoda Store et Retrieval (STORET) atau metoda indeks pencemaran. Metoda STORET merupakan salah satu metoda untuk menentukan status mutu air yang umum digunakan, karena penghitungan dengan metoda ini sangat mudah dilakukan, penentuan status mutu air menggunakan sistem nilai dari “US-EPA (Environmental Protection Agency)” dan dengan metoda ini, dapat diketahui parameter-parameter yang telah memenuhi atau melampaui baku mutu air.
Klasifikasi mutu air dengan metode STORET berdasarkan ”US EPA” dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Klasifikasi mutu air berdasarkan metode STORET
Kelas Kriteria Skor Status
A baik sekali 0 memenuhi baku mutu
B baik -1 s/d -10 tercemar ringan C sedang -11 s/d -30 tercemar sedang
D buruk > -30 tercemar berat
Sumber : Center, 1977 dalam KepMen LH No.115 tahun 2003
Secara prinsip metoda STORET adalah membandingkan antara data kualitas air dengan baku mutu air yang disesuaikan dengan peruntukannya guna
menentukan status mutu air. Penentuan status mutu air dengan menggunakan metoda STORET dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1) Dari data hasil pengukuran untuk setiap parameter dibuatkan tabulasi nilai kadar mimimum, maksimum dan rerata, kemudian dibandingkan dengan nilai baku mutu
2) Jika hasil pengukuran memenuhi baku mutu sesuai peruntukkannya (hasil pengukuran < baku mutu), diberi skor 0
3) Jika hasil pengukuran tidak memenuhi baku mutu sesuai peruntukkannya, diberi nilai sesuai dengan Tabel 4.
4) Jumlah negatif dari jumlah skor yang diperoleh dipergunakan untuk menentukan status air/perairan sesuai dengan kriteria sistem nilai dari “US-EPA (Environmental Protection Agency)”.
Tabel 4. Penentuan sistem nilai untuk menentukan status mutu perairan Parameter
Jumlah Parameter Nilai
Fisika Kimia Biologi
< 10 maksimum minimum rata-rata -1 -1 -3 -2 -2 -6 -3 -3 -9 > 10 maksimum minimum rata-rata -2 -2 -6 -4 -4 -12 -6 -6 -18
IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN
4.1. Sejarah Pelabuhan Sunda Kelapa
Pelabuhan Sunda Kelapa berlokasi di Kelurahan Penjaringan Jakarta Utara, pelabuhan secara geografis terletak pada 06 06' 30" LS, 106 07' 50" BT, pelabuhan ini menempati lahan seluas 50,8 Ha. Kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa merupakan cikal bakal kota Jakarta, kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa tersebut pada zaman dahulu merupakan kawasan pelabuhan dari Kerajaan Sunda Pajajaran pada abad 14. Pelabuhan Sunda Kelapa itu sendiri merupakan pelabuhan tertua di Jakarta yang didirikan oleh Fatahillah sekitar abad 18. Pelabuhan Sunda Kelapa merupakan salah satu dari pelabuhan yang terletak di Teluk Jakarta. Pelabuhan ini merupakan Pelabuhan yang disinggahi kapal-kapal antar pulau dan pelayaran rakyat dengan komoditas utama kayu, bahan kebutuhan pokok, barang kelontong, dan bahan bangunan.
Saat ini lokasi Pelabuhan Sunda Kelapa telah berkembang pesat menjadi pusat perkantoran, perdagangan, perindustrian, dan perhotelan. Sebagai pelabuhan tertua di wilayah DKI Jakarta yang masih mempertahankan ciri khas tradisional, menjadikan Pelabuhan Sunda Kelapa menjadi suatu obyek wisata terkemuka. Fasilitas utama yang tersedia di Pelabuhan Sunda Kelapa saat ini terdiri dari fasilitas pelayanan kapal dan fasilitas pelayanan barang. Untuk fasilitas pelayanan kapal, pelabuhan ini memiliki panjang dermaga 3.005,5 m dengan kedalaman alur dan kedalaman kolam masing-masing 4 m lower meter surface (LWS). Untuk pelayanan barang, pelabuhan sunda kelapa menyediakan lokasi lapangan penumpukan barang seluas 37.512 m2 serta gudang penyimpanan barang berkapasitas 8.305,75 ton.
Pelabuhan Sunda Kelapa sampai saat ini dikelola oleh PT. Pelabuhan Indonesia II (PT. Pelindo II). Saat ini wilayah di sekitar Pelabuhan Sunda Kelapa telah berkembang pesat menjadi pusat perkantoran, perdagangan, perindustrian, dan perhotelan.
4.2. Karakteristik Pelabuhan Sunda Kelapa
4.2.1. Letak Geografis
Pelabuhan Sunda Kelapa merupakan salah satu pelabuhan yang berada di kawasan Teluk Jakarta. Pelabuhan Sunda Kelapa secara georgafis terletak pada posisi 06 06' 30" LS, 106 07' 50" BT dan menempati lahan seluas 50,8 ha.
Secara administratif Pelabuhan Sunda Kelapa terletak di dua kelurahan yaitu di Kelurahan Penjaringan dan Kelurahan Ancol. Batas-batas wilayah Pelabuhan Sunda Kelapa adalah:
• Sebelah utara berbatasan dengan Pantai Laut Jawa
• Sebelah selatan berbatasan dengan Pasar Ikan dan Jalan Lodan, Kelurahan Penjaringan
• Sebelah barat berbatasan dengan Perkantoran Muara Baru, Kelurahan Penjaringan
• Sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Ancol
4.2.2. Kondisi Hidro-Oseanografi
Keadaan pantai sekitar Pelabuhan Sunda Kelapa landai dasar lumpur dan memiliki panjang alur 2000 m dan lebar alur 40 m dengan kedalaman alur 4 mLWS serta kedalaman kolam 4 mLWS. Pasang surut di Pelabuhan Sunda Kelapa bersifat diurnal yaitu mengalami satu kali pasang dan satu kali surut dalam satu hari. Rata-rata permukaan air pada pasang purnama adalah 86 cm sedangkan pada saat pasang bulan mati sebesar 26 cm. Waktu tolak pasang pada GMT + 7 jam, dengan muka surutan 60 cm di bawah duduk tengah.
Posisi stasiun arus tower di Pelabuhan Sunda Kelapa berada pada 05º - 45’ – 34-45” LS dan 107º - 00’ – 4,11” BT dengan kecepatan maximum arus rata-rata mencapai 1 knot arah sekitar 050º terjadi pada waktu air surut. Arus pada saat bukan pasang surut mempunyai kecepatan sekitar 0.3 knot dengan arah 45º dengan kecepatan arus pasang surut mencapai 1,1 knot pada waktu spring tides
4.2.3. Kondisi Fisiografi dan Geomorfologi
Secara fisiografi daerah Jakarta terdiri dari 3 jalur fisiografi yaitu jalur daratan pantai, jalur Bogor dan Bandung. Jalur pantai Jakarta dibentuk dari endapan aluvium sungai, rawa, pantai dan aliran lahar dari gunung api di selatan. Jalur pantai Jakarta ini terletak di daerah pesisir utara jawa mulai dari Cirebon sampai Serang. Jalur Bogor terletak di sebelah selatan yang berupa perbukitan yang terdiri atas lapisan batuan sedimen tersier terlipat. Pada jalur Bogor ini terbentuk dari aktivitas vulkanis yang berupa terobosan batuan beku. Jalur Bandung terletak di sebelah jalur Bogor yang merupakan daerah perbukitan yang diselingi oleh cekungan-cekungan di antara deretan Gunung Api Poros Jawa (Van Bemmelen, 1945 dalam Wirdha, 2006).
Secara morfologi, lokasi penelitian merupakan perairan di sekitar bagian utara kipas aluvium sampai perairan Laut Jawa sekitar jarak kurang lebih 6 km. Perairan ini merupakan lanjutan dari daerah sekitar garis pantai yang berada di wilayah Teluk Jakarta ke arah Laut Jawa yang merupakan hasil pengendapan material dari muara-muara sungai seperti Sungai Cisadane, Sungai Ciliwung dan Sungai Bekasi (Wirdha, 2006).
Karakteristik geologi wilayah penelitian terbentuk sebagian besar dari sedimentasi sungai yang merupakan kombinasi antara pasir dan lempung sedikit berkerikil. Kedua tipe sedimen tersebut terhampar memanjang dari barat ke timur pesisir utara Jakarta (Wirdha, 2006).
4.3. Sosial Ekonomi Wilayah Penelitian
Wilayah penelitian secara administrasi masuk dalam 2 kelurahan yaitu Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan dan Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan. Kondisi sosial ekonomi kedua kelurahan tersebut dipaparkan di bawah ini.
4.3.1. Kependudukan
Jumlah penduduk di Kelurahan Penjaringan dan Kelurahan Ancol dapat dilihat pada Tabel 5. Pada Tabel 5 terlihat bahwa jumlah penduduk dan
Kepadatan Penduduk di Kelurahan Penjaringan lebih tinggi daripada di Kelurahan Ancol. Jumlah penduduk di Kelurahan Penjaringan pada tahun 2004 adalah sebanyak 55.668 jiwa dengan kepadatan 14.056 jiwa/km2, sedangkan di Kelurahan Ancol jumlah penduduk pada tahun 2004 sebanyak 17.449 jiwa dengan kepadatan 4.625 jiwa/km2. Ratio jenis kelamin di Kelurahan Penjaringan dan Kelurahan Ancol masing-masing sebesar 92 dan 123.
Tabel 5. Keadaan kependudukan di wilayah penelitian
Wilayah Luas (km2) Jumlah Penduduk (Orang) Kepadatan Jiwa/km2 Ratio Jenis Kelamin Kelurahan Penjaringan 3,97 55.668 14.056 92 Kelurahan Ancol 3,77 17.449 4.625 123
Sumber: Kecamatan Penjaringan dan Kecamatan Pademangan Dalam Angka, 2004.
4.3.2. Mata Pencaharian Penduduk
Mata pencaharian penduduk di kedua kelurahan sebagian besar sebagai pedagang/wiraswasta dan karyawan. Penduduk dengan mata pencaharian pedagang/wiraswasta pada umumnya berdagang di pusat-pusat perdagangan yang ada di Jakarta Utara, sedangkan yang berprofesi sebagai karyawan umumnya bekerja pada perusahaan-perusahaan swasta maupun sektor industri yang ada di Jakarta Utara dan sekitarnya. Jenis mata pencaharian penduduk di kedua kelurahan secara rinci dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6 . Struktur mata pencaharian penduduk Kelurahan Penjaringan dan Kelurahan Ancol tahun 2004
Kelurahan Penjaringan Kelurahan Ancol Pekerjaan Orang % Orang % Pegawai Swasta 4.110 24,57 6.500 36.02 Pedagang/Wiraswasta 4.199 25,11 1.400 7.76 Buruh 3.970 23,77 734 4.07 Nelayan 269 1,61 543 3.01 PNS 174 1,04 1.500 8.31 TNI/POLRI 61 0,36 997 5.53 Pensiunan 452 2,70 1.211 6,71 Swasta lainnya 390 2,33 1.000 5,54 Lain-lain 3.100 18,54 4.159 23,05 Total 12.945 100 18.044 100
4.3.3. Fasilitas Perekonomian
Fasilitas perekonomian di kedua kelurahan adalah sebagai berikut; di Kelurahan Penjaringan terdapat 3 pasar tradisional, 1 pasar swalayan, 2 warung serba ada (waserda), 3 lokasi pedagang kaki lima, 93 warung makan, 6 restoran, 2 losmen, 3 bank, 4 koperasi simpan pinjam dan 69 perusahaan industri, sedangkan di Kelurahan Ancol terdapat 1 pasar inpres, 1 pasar tradisional, 1 waserda, 4 lokasi pedagang kaki lima, 24 warung makan, 3 restoran, 2 losmen, 6 hotel, 27 bank, 6 koperasi simpan pinjam dan 53 perusahaan industri. Dalam uraian fasilitas perekonomian di kedua kelurahan terlihat bahwa sebagian besar mata pencaharian penduduk adalah sektor swasta dan karyawan industri dan kegiatan perekonomian juga didukung oleh keberadaan jasa-jasa keuangan yaitu dengan adanya bank yang beroperasi di kedua kelurahan tersebut.
4.4. Aktivitas Pelabuhan Sunda Kelapa 4.4.1. Arus Kunjungan Kapal
Pelabuhan Sunda Kelapa banyak dikunjungi oleh kapal-kapal pelayaran rakyat, pelayaran dalam negeri, pelayaran penumpang domestik dan kapal-kapal tongkang. Perkembangan arus kunjungan kapal di Pelabuhan Sunda Kelapa berdasarkan jenis pelayaran dalam kurun waktu tahun 1999 sampai 2004 dapat dilihat pada Gambar 4 .
0 500 1000 1500 2000
Jumlah Kapal (unit)
Sumber : PT. Pelindo II Cabang Sunda Kelapa, 2004
Pelayaran Rakyat 1394 1359 1127 1059 997 1173 Pelayaran Dalam Negeri 1408 1429 1509 1608 1601 1922 Pelayaran Penumpang 239 596 559 449 286 140
Kapal tongkang 0 0 40 45 50 38
1999 2000 2001 2002 2003 2004
Gambar 4. Arus kunjungan kapal berdasarkan jenis pelayaran dalam satuan unit di Pelabuhan Sunda Kelapa.
Arus kunjungan kapal pelayaran rakyat dalam satuan unit selama kurun waktu 5 (lima) tahun rata-rata mencapai 1.185 unit pertahun dengan tonase rata-rata 281.209 Gross Tonase (GT), untuk jenis pelayaran dalam negeri, rata-rata kunjungan kapal selama kurun waktu 5 tahun (1999-2004) adalah 1.579 unit pertahun dengan tonase rata-rata 549.081 GT. Rata-rata kunjungan kapal untuk jenis pelayaran kapal penumpang dan kapal tongkang jumlahnya sangat kecil dibandingkan dengan kapal-kapal untuk jenis pelayaran lainnya yaitu masing-masing untuk jenis kapal penumpang sebesar 378 unit pertahun dengan tonase
rata-rata 287.733 GT, sedangkan untuk kapal tongkang rata-rata sebesar 43 unit per tahun dengan tonase kapal rata-rata 16.585 GT. Data jumlah arus kunjungan kapal berdasarkan tonase kapalnya dapat dilihat pada Gambar 5.
-100,000 200,000 300,000 400,000 500,000 600,000 700,000 800,000
Jum lah Tonase (GT)
Sumber : PT. Pelindo II Cabang Sunda Kelapa, 2004
Pelayaran Rakyat 332,765 342,727 278,091 347,532 227,585 258,553 Pelayaran Dalam Negeri 449,719 451,479 485,915 533,364 612,274 761,738 Pelayaran Penumpang 143,782 480,231 449,831 341,888 79,963 80,727 Kapal tongkang 10,539 14,663 23,547 18,771
1999 2000 2001 2002 2003 2004
Gambar 5 . Arus kunjungan kapal berdasarkan jenis pelayaran di Pelabuhan Sunda Kelapa (dalam GT)
4.4.2. Arus Barang
Data arus barang berdasarkan perdagangan melalui Pelabuhan Sunda kelapa dalam kurun waktu 6 tahun terakhir (1999-2004) berdasarkan bongkar dan muat dapat dilihat pada Gambar 6. Arus barang yang dibongkar dan dimuat di pelabuhan dalam 6 tahun terakhir rata-rata mencapai 1.029.479 ton/m3 untuk bongkar dan 1.230.885 ton/m3 untuk muat barang.
-200,000 400,000 600,000 800,000 1,000,000 1,200,000 1,400,000 1,600,000 1,800,000 Jumlah
Sumber : PT. Pelindo II Cabang Sunda Kelapa, 2004
Bongkar (ton/m3) 1,233,605 1,201,659 989,220 876,600 855,719 1,020,074 Muat (ton/m3) 959,762 1,036,357 1,160,446 1,290,472 1,311,815 1,626,454
1999 2000 2001 2002 2003 2004
Gambar 6. Arus barang di Pelabuhan Sunda kelapa berdasarkan perdagangan
Perkembangan arus barang berdasarkan distribusi melalui Pelabuhan Sunda kelapa dalam kurun waktu 6 tahun terakhir (1999-2004) menunjukkan bahwa distribusi barang melalui gudang rata-rata sebesar 212.832 ton/m3, melalui angkutan langsung rata-rata sebesar 1.675.934 ton/m3, sedangkan arus barang melalui lapangan rata-rata sebesar 371.596 ton/m3. Perkembangan arus distribusi barang selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 7.
-500,000 1,000,000 1,500,000 2,000,000 Jumlah
Sumber : PT. Pelindo II Cabang Sunda Kelapa, 2004
Angkut langsung (ton/m3) 1,618,941 1,656,891 1,638,670 1,612,474 1,568,899 1,960,734 Melalui gudang (ton/m3) 193,428 172,461 189,181 219,601 235,479 266,844 Melalui lapangan (ton/m3) 380,998 409,664 321,815 334,997 363,156 418,950
1999 2000 2001 2002 2003 2004
Gambar 7. Arus barang berdasarkan distribusi di Pelabuhan Sunda kelapa
Perkembangan arus barang berdasarkan kemasan melalui Pelabuhan Sunda kelapa dalam kurun waktu 6 tahun terakhir (1999 - 2004) menunjukkan bahwa rata-rata setiap tahun arus barang kemasan berupa general cargo mempunyai jumlah tertinggi yaitu rata-rata sebesar 878.119 ton/m3, sedangkan rata-rata jumlah barang untuk kemasan lainnya/kayu menduduki peringkat terkecil yaitu sebesar 651.727 ton/m3. Data arus barang berdasarkan kemasan secara rinci dapat dilihat pada Gambar 8.
-200,000 400,000 600,000 800,000 1,000,000 1,200,000 Jumlah
Sumber : PT. Pelindo II Cabang Sunda Kelapa, 2004
General Cargo (ton/m3) 693,457 740,042 745,988 932,424 966,866 1,189,937 Bag Cargo (ton/m3) 535,156 593,715 683,911 739,371 752,832 888,226 Curah Cair (ton/m3) 15,463 27,564 36,620 38,094 27,662 43,488 Barang lain/kayu (ton/m3) 948,291 876,695 683,147 457,183 420,174 524,877
1999 2000 2001 2002 2003 2004
Gambar 8. Arus barang berdasarkan kemasan di Pelabuhan Sunda
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Parameter Kualitas Perairan Pelabuhan Sunda Kelapa
Hasil pengukuran parameter-parameter kualitas lingkungan perairan sekitar Pelabuhan Sunda Kelapa pada setiap stasiun pengamatan selama penelitian berlangsung meliputi parameter fisika dan kimia dapat di lihat pada Lampiran 2. 5.1.1. Parameter Fisika Kualitas Perairan Pelabuhan Sunda Kelapa
Pengukuran parameter fisika kualitas perairan diambil untuk digunakan sebagai data penunjang penelitian. Parameter-parameter fisika kualitas perairan yang diukur meliputi suhu udara, suhu air, kecerahan, kekeruhan, salinitas dan total padatan tersuspensi (TSS). Data rerata pengukuran parameter fisika kualitas lingkungan pada setiap lokasi pengukuran dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Hasil pengukuran parameter fisika kualitas perairan Pelabuhan Sunda Kelapa Jarak Parameter Muara sungai (50 m) 500 m 1000 m Suhu udara (0C) 30,2 30,0 30,0 Suhu air (0C) 31,3 32,0 31,0 Kecerahan (m) 0,74 1,18 1,93 Kekeruhan (NTU) 13,84 6,93 2,94 Salinitas (PSU) 30,0 30,4 30,3 TSS (mg/l) 45,2 20,7 14,8
Nilai parameter suhu udara dan suhu air berkisar antara 30 – 320C. Nilai suhu udara di muara sungai menunjukkan nilai tertinggi dibandingkan dengan pengukuran pada jarak 500 m dan 1000 m, sedangkan untuk suhu air, pada jarak 500 m menunjukkan angka tertinggi yaitu 320C (Tabel 7). Tingginya suhu air maupun udara di muara sungai diduga karena adanya aktivitas kimia maupun biologis seperti degradasi bahan-bahan organik dari sampah yang terbawa melalui sungai ke muara dan kegiatan pelabuhan lainnya. Walaupun demikian, perbedaan suhu antar jarak pengamatan pada suhu air maupun udara tidak terlalu tinggi