2.3. PERENCANAAN POMPA DRAINASE
2.3.8. Pemompaan Secara Paralel
Sumber: Prosser 1977
Gambar 2.32 Kolam Pompa untuk lebih dari Satu Pompa
2.3.8. Pemompaan Secara Paralel
Langkah pertama dalam perencanaan instalasi pompa adalah memperkirakan jumlah pompa yang akan dipasang. Secara ekonomi memasang satu unit pompa lebih menguntungkan dari pada dua, tiga atau lebih unit pompa. Namun, berdasarkan pertimbangan-pertimbangan
0,5Db
a open sump a unitized sump
0,5Db
TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 97 keamanan dan kelangsungan pengoperasian, dipandang perlu untuk memecah kapasitas total suatu stasiun pompa menjadi kapasitas beberapa unit pompa, karena alasan-alasan sebagai berikut:
- Menghindari terhentinya sama sekali pengoperasian stasiun pompa karena kerusakan pompa;
- Menghindari ketidakefisienan pempompaan pada debit kecil;
- Pemompaan dapat dilakukan bertahap untuk menghindari penurunan muka air yang terlalu cepat;
- Dengan memilih ukuran pompa yang sama, stok suku cadang dapat ditekan sampai minimum;
- Efisiensi dapat ditingkatkan dengan menggunakan pompa-pompa yang dapat bekerja dengan kecepatan bervariasi
Pompa-pompa ini dapat dioperasikan secara paralel seperti ditunjukan pada Gambar 2.33.
Sumber: Pendidikan dan Pelatihan PSDA dan Pantai, Prayogo Endarjo, 2003 Gambar 2.33 Operasi pemompaan secara paralel
H
Q
working point for one pump in operation
working point for parallel pumps
combined curve
pump non-return valve
Q
TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 98 2.3.9. Pemilihan Pompa dan Perencanaan Kolam Pompa
Pemilihan pompa yang tepat dan perencanaan sistem pemompaan dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Tentukan jumlah unit pompa yang dibutuhkan untuk mencapai kapasitas total debit pemompaan;
2. Hitung debit, Qo, pada setiap unit pompa pada titik efisiensi terbaiknya;
3. Dengan memperhitungkan semua kehilangan energi pada bagian hisap dan bagian tekan dari sistem pemompaan, buat perkiraan awal dari tingkat angkat total, Ho, yang harus dicapai pompa pada titik efisiensi terbaiknya;
4. Dengan nilai Qo dan Ho yang diketahui untuk setiap unit pompa, tarik Garis 1 pada Gambar 2.34. Selanjutnya dapat ditarik garis tegak lurus Garis 1, misalkan Garis a dan Garis b, untuk mendapatkan jenis pompa dengan kecepatan spesifik dan kecepatan putarnya. Dengan kecepatan spesifik yang diperoleh dari Gambar 2.34, periksa besarnya efisiensi maksimum, η, yang dapat dicapai pompa dengan menggunakan Gambar 2.29 dan besarnya bilangan Thoma, σ, dengan menggunakan Gambar 2.18. Dari nilai-nilai efisiensi dan bilangan Thoma yang diketahui dilakukan kajian biaya investasi dan biaya operasi yang diperlukan. Dari kajian berdasarkan nilai-nilai efisiensi dan bilangan Thoma yang diperoleh melalui penarikan beberapa garis tegak lurus Garis 1 pada Gambar 2.34, dapat dipilih jenis pompa yang optimal;
TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 99
Sumber: Gruyter: 1971
Gambar 2.34 Diagram hubungan dari Q0, H0 dan Kecepatan Pompa
5. Karena kavitasi mempengaruhi besarnya kecepatan spesifik, nsq, yang diijinkan, maka kajian berdasarkan nilai bilangan Thoma pada langkah 4 perlu diperdalam untuk menentukan mana yang lebih baik antara menurunkan elevasi pompa atau menurunkan kecepatan spesifik pompa;
6. Ulangi langkah-langkah 1 sampai 5 beberapa kali sampai diperoleh satu nilai nsq yang sesuai;
7. Dengan menggunakan nomogram pada Gambar 2.35, perkirakan diameter impeller, D1 dan D2, dan selanjutnya dengan menggunakan persamaan 2.22 perkirakan diameter mulut pipa hisap;
a b
TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 100
Gambar 2.35 Nomograph untuk Menentukan Ukuran Impeler, D1 dan D2
8. Dengan menggunakan Gambar 2.31 dan Gambar 2.32, tentukan dimensi kolam pompa. Dengan ditentukannya dimensi kolam pompa, hasil sementara perencanaan pada langkah 3 kemungkinan perlu diubah.
Dalam hal demikian, langkah-langkah 4 sampai 7 harus diulangi.
Langkah-langkah perencanaan tersebut diatas harus dilakukan terus sampai hasil perencanaan yang memuaskan diperoleh. Bentuk stasiun pompa yang
TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 101 dihasilkan perencanaan dapat sangat bervariasi, seperti terlihat pada Gambar 2.36 dan Gambar 2.37.
Sumber : Courtesy Stork
Gambar 2.36 Contoh dari Assembly dan Drive untuk Stasiun dengan Tiga Pompa Jenis Campuran dengan Rumah Beton
Sumber : Courtesy Stork
Gambar 2.37 Section dari Rumah Pompa dengan Pompa Aliran Aksial
TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 102 2.3.10. Perencanaan Sistem Tampungan (Storage)
Sistem penampungan pada sistem pompa banjir, terdiri dari 2 (dua) komponen utama yaitu: unit penampungan dan sistem bak penampung basah (wet well). Dan pada stasiun pompa terdapat 2 tipe stasiun terkait jenis penampung basahnya, pit basah (wet-pit) and pit kering (dry-pit).
a. Dry well pumping station
Pompa drainase dengan pemasangan pompa air dan peralatan motor penggeraknya terpasang diatas (tidak terendam air)
Contoh: pompa tipe axial poros mendatar, pompa tipe mixed flow poros mendatar
b. Wet well pumping station, dibagi menjadi 2 tipe:
Tipe suspended
Pompa air terpasang dalam keadaan terendam air sedangkan motor penggerak yang berada diatas tidak terendam air
Contoh: pompa tipe axial poros mendatar, pompa tipe mixed poros tegak
Tipe submersible
Pompa air dan motor penggerak terpasang dalam keadaan terendam air dan konstruksi pompa dan motor penggerak dalam satu bagian Contoh: pompa submersible tipe axial dan pompa tipe mixed flow.
Desain dari pompa banjir perlu disesuaikan dengan kolam tampungan (detention pond). Semakin besar kolam tampungan yang tersedia maka semakin kecil kapasitas pompa banjir yang didesain dengan debit yang sama. Dengan perkataan lain, besarnya debit yang akan dialirkan ke badan air penerima (outflow) dari suatu sistem polder adalah debit yang masuk ke dalam sistem pompa (inflow) dikurangi volume air yang dapat disimpan dalam kolam tampungan.
Semakin tinggi kapasitas pompa maka akan semakin kecil volume air yang ditampung dalam kolam tampungan. Pada kondisi ekstrim dimana tidak tersedia kolam tampungan, maka kapasitas pompa sama dengan debit yang masuk. Begitupun sebaliknya, jika kolam tampungan melebihi dari debit yang masuk, maka kebutuhan akan pompa akan semakin kecil ataupun tidak ada sama sekali.
TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 103
(a) Tipikal Tipe Stasiun Pit-Basah (b) Tipikal Tipe Stasiun Pit-Kering Gambar 2.38 Tipikal Tipe Stasiun Pompa
Sumber : ...
Gambar 2.39 Hidrograf disalurkan melalui stasiun pompa
a) Filosofi Desain Penampungan
Ada tiga pendekatan umum dalam merencanakan sistem penampungan (kolam dan bak) dan kebutuhan kapasitas pompa, yaitu:
1) Dengan menghitung kebutuhan kapasitas sistem jaringan drainase polder agar memadai dalam hal melayani limpasan hujan sesuai dengan orde saluran dan perioda waktu ulang (tingkat keamanan sistem yang direncanakan) mengacu pada tata cara perencanaan (Lihat Tata Cara Perencanaan 1D: Kolam Detensi, Kolam Retensi dan Sistem Polder). Pilih dimensi bak/Kolam Detensi, ukuran
TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 104 pompa dan setting pengaturan peralihan pompa, dengan memaksimalkan upaya-upaya penyimpanan/ penampungan (detensi).
2) Dengan mengidentifikasi target debit outflow yang direncanakan dan memilih pompa yang memiliki kapasitas sesuai dengan target debit outflow yang direncanakan. Tetapkan sistem penyimpanan yang diperlukan untuk menahan hidrograf debit inflow yang didesain.
Pendekatan ini dapat digunakan di daerah di mana debit puncak dibatasi, atau dimana badan air penerima (sungai) memiliki kapasitas terbatas.
3) Dengan menggunakan iterasi, dengan cara mengembangkan perhitungan berdasarkan berbagai bervariasi kemungkinan volume penyimpanan, berbagai ukuran pompa dan kebutuhan jumlah pompa untuk menentukan kombinasi yang tepat secara efisien dapat meminimalkan pembiayaan investasi dan operasi-pemeliharan sistem pompa (meminimalkan life-cycle cost). Ini adalah pendekatan yang lebih memakan waktu tetapi akan tetapi menghasilkan desain terbaik secara keseluruhan.
Pengaruh utama dari kolam penampung adalah untuk mengurangi tinggi debit puncak. Selain itu, kolam penampung mempengaruhi frekuensi operasi pompa (khususnya pompa yang beroperasi 24 jam). Seiring dengan meningkatnya volume penampungan, waktu operasi pompa meningkat. Waktu cycling yang lebih lama dibutuhkan dan disain waktu cycling harus melebihi dari minimum spesifik produsen pompa.
b) Prosedur untuk Memperkirakan Kapasitas Penampungan yang Diperlukan
Prosedur untuk memperkirakan kapasitas penampungan yang diperlukukan dapat dihitung dengan formula (lihat Prosedur perhitungan dan operasi sistem polder, Tata Cara Perencanaan 1D: Kolam Detensi, Kolam Retensi dan Sistem Polder sebagai berikut:
...2.28
TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 105 Bila :
ΔS = volume waduk selama waktu interval Δt (m3) I1 = aliran masuk pada awal interval waktu (m3/dt) I2 = aliran masuk pada akhir interval waktu (m3/dt)
c) Prosedur untuk menentukan ketinggian muka air pada sumur/bak penampung basah (Wet Well)
Langkah 1. Tetapkan ketinggian air maksimum yang diijinkan pada titik terendah di daerah pelayanan (HWR (max)) yang sama dengan elevasi saluran drainase di inlet pembukaan terendah lebih rendah di inlet terendah, dengan faktor keamanan sebesar 0,3 m - 0,6 m (sebagai free board).
Langkah 2. Hitung garis tingkat hidrolik (hydraulic grade line/HGL) dari bak/sumur basah ke inlet terendah pada saluran masuk dengan menggunakan:
Dianotasi lay out dan profil dari sistem jaringan drainase pengumpulan dan bak basah,
dihitung debit desain puncak inflow rata-rata,
melakukan metode coba-coba untuk ketinggian air dalam bak basah. Tinggi air yang dipakai pada percobaan pertama harus di bawah tinggi muka air maksimum pada titik terendah wilayah pelayanan (HWR (max)) tapi diatas dari level saluran inlet basah, dan
dapat mengacu pada Tata Cara Perencanaan 1D:
Kolam Detensi, Kolam Retensi dan Sistem Polder.
Langkah 3. Bandingkan garis tingkat hidrolik (HGL) pada titik terendah daerah pelayanan (sistem polder) dengan ketinggian air pada titik terendah (HWR (max)). Gunakan tabel keputusan berikut:
TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 106 Tabel 2.13 Tabel Keputusan Hubungan antara titik terendah daerah pelayanan
(sistem polder) dengan ketinggian air pada titik terendah (HWR (max)) Jika HGL adalah: Kemudian Langkah yang diambil Ulasan Lebih tinggi dari HWR
(max)
Ulangi Langkah 2 dengan menggunakan tingkat level air lebih rendah dalam air dalam bak basah untuk coba-coba.
Tinggi muka air
Ulangi Langkah 2 menggunakan level air coba-coba yang lebih tinggi air dari muka air dalam bak/sumur basah.
Level air coba-coba terlalu rendah
Pada atau tepat di bawah HWR (maks)
Lanjutkan ke Langkah 4. Tingkat percobaan merupakan HWS (max).
Langkah 4. Bandingkan hasil HWS (max) ke elevasi soffit dari unit storage pada intake. Jika HWS (maks) di bawah soffit, maka unit penyimpanan tidak akan benar-benar penuh.
Pilihan untuk melanjutkan adalah:
Kurangi flowline dari sistem pengumpul. Sesuaikan plot profil dan penjelasan, dan kembali ke Langkah 1.
Catatan: hasil ini akan membutuhkan kebutuhan daya pompa yang lebih besar.
Kurangi ketinggian komponen saluran sistem dan tambah lebar atau jumlah barel untuk mempertahankan kapasitas desain. Sesuaikan plot profil dan penjelasan, dan kembali ke Langkah 1.
Lanjutkan tanpa penyesuaian sistem storage.
d) Prosedur untuk tahap awal pemilihan dimensi bak sumur basah
Minimum dimensi pit pompa tergantung pada ukuran, jumlah dan jenis pompa, tetapi ukuran pompa tergantung pada storage yang disediakan, bagian dari yang disediakan oleh ukuran bak basah (wet well). Di sini, dimensi pit keseluruhan basah dipilih sebagai perkiraan pertama. Berikut tahapan awal pemilihan dimensi bak sumur basah:
Langkah 1. Pilih ukuran bak basah dengan coba-coba.
Langkah 2. Tetapkan elevasi terendah pompa tersebut bekerja.
TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 107 Langkah 3. Tambahkan juga bak basah berikut dimensinya kedalam tata letak (layout) dan profil sistem pengumpulan. Elevasi dasar sump tidak diperlukan pada tahap ini.
e) Prosedur untuk Menetapkan Dimensi Unit-unit Storage
Karena total storage adalah jumlah dari semua storage pada sistem pengumpulan, unit storage dan bak basah yang jauh di bawah tinggi muka air maksimum dan di atas elevasi pompa terendah, maka diperlukan ukuran unit untuk memastikan bahwa total storage dapat menampung air yang masuk.
Langkah 1. Buat profil garis aliran dari sistem pengumpul ke bak penampung yang akan digunakan untuk unit penampung.
Langkah 2. Dengan mengasumsikan elevasi pompa terendah diatur di invert unit penyimpanan pada pintu masuk bak, hitung volume dalam sistem pengumpul (VCS).
Langkah 3. Asumsikan bentuk dan ukuran bah yang standar. Hitung volume bak antara maksimum highwater dan elevasi terendah pompa bekerja (Vw).
Misalkan dengan menggunakan basah melingkar dengan diameter dalam 6,4 m dan maksimum highwater yang diijinkan 22 m dan elevasi memompa terendah 20 m volume di bak penampung adalah:
Vw = px 0,25 x 6,42 x (22 - 20) = 64,3 m3
Langkah 4. Pilih unit bak penampung standar dan dimensinya.
(sesuaikan dengan ketersediaan lahannya)
Langkah 5. Hitung luas penampang dari saluran yang dipilih, AS.
Misalkan dengan menggunakan pipa 1200 mm, dengan luas penampang adalah: Sebagai p = x 0,25 x 1,22 = 1,13 m2
Langkah 6. Hitunglah panjang unit penyimpanan yang diperlukan, LS
sebagai:
= ...2.29 dimana:
TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 108 AS = Cross-section area of conduit, m2
Vreq = Minimum volume storage yang dibutuhkan, m3 Vcs = Volume sistem pengumpulan pada tinggi bawah
air yang diijinkan, m3
Vw = Volume dalam bak basah pada tinggi bawah air yang diijinkan, m3
Ls(req) = Panjang total unit storage yang dibutuhkan, m Misalkan dengan menggunakan perhitungan di atas dan volume perkiraan total yang dibutuhkan 260 m3, panjang yang dibutuhkan diperkirakan adalah:
Ls = (260 – 0 – 64.3) / 1.13 = 173 m
Langkah 7. Tentukan jumlah barel saluran diperlukan dengan membagi total panjang yang dibutuhkan, LS (req), dengan panjang tersedia untuk memenuhi unit storage. Misalkan, panjang penyimpanan satuan terpanjang adalah 160 m: jumlah barel yang dibutuhkan = 173/160 = 1,08
Karena penyimpanan yang diperlukan hanya diperkirakan mencoba hanya 1 barel. Analisis selanjutnya akan menentukan apakah penyimpanan sudah cukup.
f) Prosedur untuk Mengembangkan Tahap Kurva Storage
Kurva storage menampilkan total yang tersedia dalam sistem pada setiap tahap antara elevasi inlet (invert) dari stasiun pompa dan elevasi maksimum yang diijinkan di dalam sumur basah, HWS (max). Total penampung meliputi penampung dalam sistem pengumpulan, unit penampung, dan sumur basah. Perencana perlu menghitung banyaknya tampungan dari elevasi terendah dimana pompa berhenti beroperasi sampai pada elevasi maksimum yang diijinkan. Jika level air lebih tinggi dari pada yang diijinkan, maka perlu dilakukan evaluasi pada sistem tersebut.
Langkah-langkah berikut menunjukkan bagaimana membuat penampung:
TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 109 Langkah 1. Menggunakan plot profil sistem, mengidentifikasi elevasi terendah pompa mulai bekerja dan menyetel pada zero stage. Penampung yang tersedia pada tahap ini adalah nol.
Langkah 2. Pilih kenaikan pada setiap tahap. Misalkan perubahan tahap adalah 0.1 m
Langkah 3. Tetapkan tabel tahap dan penampung untuk berbagai tahap menggunakan kenaikan yang dipilih. (lihat tabel 2.14)
Langkah 4. Untuk setiap tahap, hitung penampung sebagai jumlah dari volume penampung pada setiap tahap yang dimaksud.
Catat penampung yang telah dihitung untuk setiap tahap dalam tabel tersebut.
Misalkan pada stage 0.5 m, volume dalam bak Basah:
Vw = π x 0.25 x 6.42 x 0.5 = 16.08 m3
Diasumsikan bahwa volume dalam sistem pengumpul diabaikan.
Volume dalam unit penyimpanan Vw = 23,36 m3. Total volume pada level 0,5 m adalah:
Vt = 16.08 + 23.36 = 39.44 m3
Langkah 5. Plot kurva tahapan tersebut terhadap penyimpanan. Plot ini sangat berguna dalam membantu mengidentifikasi apabila ada kesalahan dalam perhitungan volume. Penampung tersebut harus meningkat hinnga HWS (maks) tercapai.
TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 110 Tabel 2.14 Tabel Contoh Perhitungan Storage
STAGE (m) Storage (m3)
Sump (Sumuran) Storage Unit Jumlah
0,00 0,000 0,000 0,000
0,10 3,218 0,454 3,672
0,20 6,437 2,517 8,954
0,30 9,655 6,800 16,455
0,40 12,873 13,669 26,542
0,50 16,091 23,359 39,450
0,60 19,310 36,000 55,310
0,70 22,528 51,506 74,034
0,80 25,746 68,766 94,512
0,90 28,965 86,829 115,794
1,00 32,183 105,021 137,204
1,10 35,401 122,691 158,092
1,20 38,619 139,061 177,680
1,30 41,838 152,898 194,736
1,40 45,056 163,758 208,814
1,50 48,274 171,734 220,008
1,60 51,493 177,016 228,509
1,70 54,711 180,909 235,620
1,80 57,929 180,909 238,838
1,90 61,147 180,956 242,103
2,00 64,366 180,956 245,322
2,10 67,584 180,956 248,540
2,20 70,802 180,956 251,758
2,30 74,021 180,956 254,977
2,40 77,239 180,956 258,195
2,50 80,457 180,956 261,413
2.3.11. Material Pompa dan Kelengkapannya
Pemilihan material yang digunakan untuk komponen-komponen utama pompa didasarkan pada ukuran dari komponen, gaya dan beban yang akan ditanggungnya serta karakteristik dari cairan yang akan dipompa. Berikut klasifikasi umum material untuk komponen-komponen pompa.
TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 111 Tabel 2.15 Klasifikasi Umum Material Untuk Komponen-Komponen Pompa
Sumber: Engineering Manual for Irrigation & Drainage, ”Pump Facilities”, The Japanese Institute of Irrigation and Drainage, 1991.
Casing
Casing biasanya terbuat dari besi tuang sesuai standar FC20 atau FC25, yang bekerja pada tekanan 14 kgf/cm2 untuk pompa dengan head tinggi dan casing untuk large-bore pumps kadangkala dibuat dari spheroid-graphite besi cetakan (besi ductile FCD40 atau FCD55) atau baja karbon tuang (SC46 atau SC49) untuk penggunaan dengan kebutuhan pada kekuatan pompa.
Untuk pompa dengan ukuran lebih besar, beberapa bagian dari casing dibuat dari plat baja sebagai struktur baja. Tipikal material yang sering digunakan pada beberapa casing pompa dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.16 Tipikal material yang sering digunakan pada beberapa casing pompa
Jenis Material Fitur Jenis Air yang
Ditangani Gray iron casting
(FC20, FC25)
Pada umumnya digunakan Air sungai, Air hujan
Low Nickel Chrome,
Diproses dalam resistensi yang lebih baik dari gray iron casting
Air sungai, Air hujan
Carbon steel casting (SC46, SC49)
Diproses dalam tekanan tinggi dan pada resistensi dampak lebih dari Ductile iron casting.
Air sungai
Stainless steel casting (SCS13, SCS14)
Diproses dalam tekanan tinggi dan pada resistensi dampak lebih dari SCS14 secara khusus memiliki daya resistensi yang sangat tinggi.
Limbah cair perkotaan
Struktur utama rolled steel plate (SS41)
Diproses pada tekanan tinggi dan pada resistensi dampak.
Air sungai, Air hujan
Sumber: Engineering Manual for Irrigation & Drainage, ”Pump Facilities”, The Japanese Institute of Irrigation and Drainage, 1991.
Material Komponen-komponen Utama
Casting Casing, Impeller, bearing housing, liner, base
plate, pedestal
Steel Stock Pump shaft, sleeve
Steel Structure Base Plate, Supporting frame
TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 112
Keterangan:
FC (Besi Cor) menyatakan FC20, FC25 BC (Perunggu Cor)
SC berarti Baja Karbon Cor SS berarti Plat Baja
Impeller
Perunggu cetakan (BC2, BC3) yang memiliki resistensi terhadap karat dan memiliki castability adalah bahan yang paling sering digunakan untuk impeller. Untuk pompa dengan head tinggi dengan kebutuhan material yang lebih kuat dikarenakan besarnya kecepatan circumferential, maka material yang sering digunakan adalah baja karbon tuang (SC46, SC49) untuk baja stainless tuang (SCS1, SCS2, SCS13, SCS14). Tipikal material yang sering digunakan pada impeller pompa dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.17 Tipikal material yang sering digunakan pada impeller pompa
Jenis Material tingggi dari Gray iron casting
Air sungai, Air hujan air limbah, air hujan, Air sungai
Bronze Casting (BC2, BC3)
45 m/s Material yang paling banyak digunakan untuk impeller
Air Hujan, Air Sungai, Air Limbah
Phosfor Bronze (PBC)
45 m/s Diproses pada resistensi wear yang lebih tinggi dari perunggu
Air Hujan, Air Sungai, Air Laut
Air hujan, air sungai, air limbah yang abrasi, demikian juga resistensi pada wear dan sedikit meminimalkan dampak cavitasi
Air limbah perkotaan, air laut
Sumber: Engineering Manual for Irrigation & Drainage, ”Pump Facilities”, The Japanese Institute of Irrigation and Drainage 1991.
TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 113 Liners, bearing housings dan bases
Karena liner digunakan untuk menghubungkan dengan bagian-bagian yang berputar, material yang dipilih haruslah yang sifat tahan dan sifat geser (high sliding) tertinggi yang harus dipilih dari berbagai alternatif, dan bronze casting (B2, BC6) atau baja stainless castings (SCS1, SCS2, SCS13, SCS14) adalah yang paling sering digunakan. Untuk casing bearing dan bases, besi cor biasa (FC20, FC25) sering digunakan.
Pump shafts dan sleeves
Shaft pompa sering dibuat dari mesin-struktur penggunaan baja karbon (S35C) untuk pompa poros horizontal, dan 13-krom stainless steel (SUS403, SUS420J1) atau 18-8 stainless steel (SUS304) untuk pompa poros vertikal (vertical shaft pumps).
Sleeves biasanya terbuat dari 13-krom baja tahan karat (SUS403, SUS420J1) atau coran perunggu (BC2, BC6), yang sangat tahan pakai.
Bases dan stands
Welded struktur biasanya dibuat dari bahan struktur umum baja digulung /rolled steel (SS41) digunakan untuk dasar saluran untuk pompa poros horisontal (horizontal shaft pumps) dan lantai atas singkatan dari pompa jenis dua lantai.
Untuk material yang digunakan pada perlengkapan tambahan (ancillary equipment), dimana fasilitas pada unit pompa juga termasuk (1) pipa utama, (2) katup (valve), (3) Kopling Hidrolik, dan Gear Reducer, pada prinsipnya material yang digunakan sebagai berikut.
TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 114 Tabel 2.18 Tipikal Material yang digunakan untuk Perpipaan Utama
Jenis Material Fitur Jenis Air yang Ditangani
Gray iron casting (FC20, FC25)
Resistensi terhadap Wear dan Korosif yang tinggi.
Air sungai, Air hujan, air limbah
Ductile iron casting (FCD40, FCD45, FCD50, FCD55)
Resistensi terhadap Wear dan Korosif yang tinggi.
Air sungai, Air hujan, air limbah
Arc Welded Carbon Steel Pipe (STPY41)
Tahan Tekanan Tinggi (25 kgf/cm2), suitable untuk perpipaan tekanan tinggi
Air Hujan, Air Sungai
Carbon steel Pipe for Pressure (STPG38, STPG42)
Jenis Pipa baja yang paling sering digunakan pada perpipaan utama
Air Hujan, Air Sungai
Carbon steel pipe for ordinary piping (SGP)
Suitable for small piping and medium-and small diameter main piping
Air Hujan, Air Sungai
Sumber: Engineering Manual for Irrigation & Drainage, ”Pump Facilities”, The Japanese Institute of Irrigation and Drainage, 1991.
Tabel 2.19 Tipikal Material yang digunakan untuk Katup Butterfly
Nama Bagian Jenis Material
Box Katup Gray Iron Casting (FC25)
Disc Katup Gray Iron Casting (FC25)
Stem Katup 13-Chrome stainless steel (SUS403)
Bearing Oil-less metal
Seat Katup Synthetic rubber
Sumber: Engineering Manual for Irrigation & Drainage, ”Pump Facilities”, The Japanese Institute of Irrigation and Drainage, 1991.
Tabel 2.20 Tipikal Material yang digunakan untuk Katup Sluice
Nama Bagian Jenis Material
Casing Katup Gray Iron Casting (FC20) Ductile iron casting (FCD40)
Bodi Katup Gray Iron Casting (FC20)
Ductile iron casting (FCD40)
Batang Katup Brass rod (BsBF2)
Sumber: Engineering Manual for Irrigation & Drainage, ”Pump Facilities”, The Japanese Institute of Irrigation and Drainage, 1991.
TATA CARA PERENCANAAN, PEMBANGUNAN DAN OPERASI PEMELIHARAAN SISTEM POMPA 115 Tabel 2.21 Tipikal Material yang digunakan untuk Katup Check
Nama Bagian Jenis Material
Casing Katup Gray Iron Casting (FC25)
Casing Katup Gray Iron Casting (FC25)