• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : ANALISA BEBAN RUNTUH

III.3 Metode Statis

Metode yang sering disebut juga dengan cara grafostatis ini berdasarkan teorema batas bawah, dimana distribusi momen disetiap penampangnya tidak ada

yang melampaui kapasitas momen plastisnya. Besarnya faktor beban, kita

tentukan dari diagram momen yang sesuai.

III.3.1. Balok sederhana

Sesuai dengan persamaan (2.17), struktur ini hanya memerlukan sebuah

sendi plastis untuk mencapai mekanisme runtuhnya. Mekanisme dan diagram

momen yang bersesuaian dapat dilihat pada gambar (3.6)

Sedangkan kurva beban-lendutannya kita gambarkan pada gambar (3.7).

Daerah elastis dibatasi sampai titik leleh saja, yaitu hingga titik yang mempunyai

nilai momen maksimum sama dengan momen leleh (yield moment) yang dalam

gambar tersebut dinyatakan oleh titik a. Beban pada kondisi ini disebut sebagai beban leleh ;

Dimana : My = mommen leleh Mp = momen plastis Wc = beban keruntuhan

f = factor bentuk penampang (shape factor).

Gambar 3.6. Mekanisme dan diagram momen yang bersesuaian untuk balok sederhana

Dari persamaan (3.9), ternyata bahwa perbandingan antara Wc dengan Wy

akan sama dengan faktor bentuk f. Daerah dalam garis c - b merupakan daerah (c)Bidang momen wL/4 (c) Struktur pembebanan L/2 L/2 w (b) Mekanisme runtuh

plastis, dimana rotasi maupun lendutan struktur bertambah terus tanpa adanya

penambahan beban lagi.

Gambar (3.7). Hubungan beban lendutan

III.3.2. Balok bertumpuan sendi dan jepit

Umumnya, diagram momen dari struktur statis tak tentu dapat dipisahkan

dalam dua bagian, yaitu momen yang ditimbulkan oleh beban luar dengan

menganggap struktur sebagai konstruksi statis tertentu; dan yang diakibatkan oleh

momen dalam atau reaksi perletakan. Diagram yang pertama disebut momen

bebas (free moment), dan yang kedua sebagai momen reaktan (reactant moment), yang berturut-turut diperlihatkan pada gambar (3.8) c dan d, sebagai berikut :

4Mp/L 4Mp/fL o oc : elastis cb : keruntuhan plastis w a c b L0/2

Gambar 3.8. Diagram momen yang bersesuaian untuk balok bertumpuan sendi dan jepit dengan beban terpusat

Dari syarat keseimbangan, dapat kita turunkan persamaan momen dibawah

titik beban sebagai :

Mp + (b/L) Mp = (W.a.b)/L

Mp = (W.a.b)/(L+b)

Atau kita peroleh beban runtuh :

Wc = (L + b) Mp/(a.b)………...….. (3.10)

(a) Struktur pembebanan

P

a b

L

Wab/L (c) Momen bebas

Mp (d) Momen reaktan

(b) Momen resultan

Mp

Dengan demikian, dari penyelesaian diatas dapat ditarik kesimpulan

bahwa secara umum sendi plastis akan terbentuk pada tumpuan jepit dan dibawah

beban titik.

Sedangkan, bila struktur ini menahan beban terbagi rata, perlu dianalisa

lagi letak momen maksimum yang terjadi padanya, karena secara otomatis letak

sendi plastis dibentangan akan terjadi tepat dibawah momen maksimum,dan

permasalahan ini tak dapat diselesaikan hanya dengan persamaan matematik

sederhana. Tetapi telah kita ketahui, bahwa momen maksimum terjadi, bila

dMx/dx = 0 telah terpenuhi pada suatu penampang berjarak x dari tumpuan yang

kita tinjau, karena gaya lintang pada titik ini bernilai nol. Sekarang kita

perhatikan terlebih dahulu gambar berikut :

Gambar 3.9. Letak momen maksimum pada balok bertumpuan sendi dan jepit dengan pembebanan terbagi rata

A L (a)struktur B w/satuan panjang Mp x (b)bidang momen Mp Mp Mp x w/satuan panjang L - x

Dengan menetapkan keseimbangan terhadap titik A, kita peroleh :

(1/2) W (l – x)2 – Mp – Mp = 0

(1/2) W (l – x)2 = 2Mp

Dari keseimbangan terhadap titik B, dihasilkan :

(1/2) W x2 – Mp = 0

(1/2) W x2 = Mp

Dengan menyamakan kedua persamaan ini, kita peroleh :

(1/2) W (l – x)2 = Wx2 + 2Lx – L2 = 0

dan bila persamaan ini diselesaikan, akan kita peroleh letak momen maksimum yang diukur dari tumpuan B, yaitu :

x = ( 2 – 1) L = 0,4142 L

Selanjutnya beban runtuh dapat ditentukan dengan memasukkan harga x = 0,4142L ini kedalam persamaan sebelumnya, sehingga :

0,5W (0,4142L)2 = Mp

Atau :

Wc = 11,66 Mp/L2……….……. (3.11)

III.3.3. Balok yang kedua tumpuannya jepit

Untuk kondisi beban terpusat seperti yang ditunjukkan pada gambar

(3.10), terdapat persamaan momen elastis yang ditunjukkan oleh gambar (3.10.b),

Gambar (3.10) Diagram momen yang bersesuaian untuk balok bertumpuan jepit dengan pembebanan terpusat

Sehingga besar momen dititik beban dapat dirumuskan sebagai berikut :

Mp + Mp = (Wab)/ L

2Mp = (Wab)/L

Sehingga, beban runtuhnya adalah :

Wc = 2 MpL/(ab)………..…(3.12)

Sedangkan bila struktur tersebut memikul beban merata, bidang momen

ketika terjadi keruntuhan dapat kita tetapkan seperti gambar (3.11.c). letak momen

- Mp

(e) Momen reaktan

Wab/L +

(e) Momen bebas (c) Mekanisme runtuh

(b) Diagram momen elastis

Wab2/L2 Wa2b2/L2 Wa2b/L2 - + - (d) Momen resultan Mp Mp Mp (b) Struktur pembebanan w a b L

maksimum ataupun sendi plastisnya tentunya ditengah bentangan. Dengan

demikian, persamaan momen pada titik ini adalah :

Mp + Mp = WL2/8

Dan

Wc = 16Mp/L2………..…(3.13)

Gambar (3.11). Mekanisme runtuh dan diagram momen pada balok dengan perletakan jepit-jepit

III.3.4.Balok menerus

Balok menerus dapat pula dianalisis dengan menggunakan prinsip

sebelumnya. Akan tetapi terdapat beberapa hal penting yang perlu kita perhatikan,

antara lain : A B C w/satuan L (d) Struktur pembebanan (b) Mekanisme runtuh Mp wL2/8 wL2/12 Mp (c) Momen resultan

• Setiap bentangan dapat memiliki bentuk atau ukuran penampang yang

berbeda, sehingga mungkin momenplastis penampangnya juga berlainan.

Keadaan ini dapat menyebabkan kapasitas momen plastis dititik sebelah

kiri dan kanan dari suatu tumpuan tidak sama.

• Setiap bentangan tergantung kondisi bebannya, mungkin tidak akan runtuh

secara bersamaan, sehingga bentangan tersebut harus kita periksa

tersendiri. Dalam keadaan tertentu, dimana kita inginkan suatu struktur

dengan pemakaian bahan yang relatuf hemat tergantung pada biaya

penyambungan dan sebagainya, kita perlu menetapkan ukuran penampang

dari bentangan tersebut sedemikian rupa sehigga akan terjadi mekanisme

runtuh yang bersamaan.

Perhatikanlah suatu balok menerus pada gambar (3.12), dimana kapasitas

momen plastis bentangan tengah dan tepi berbeda. Mula-mula, akan kita tinjau

mekanisme pada bentang A – B dan C – D. Bidang momen untuk kedua

mekanisme ini diperlihatkan pada gambar (3.12) b dan c, dimana persoalannya

0,5Mp 0,75M 1,5Mp + + + - -

(b)Mekanisme runtuh pada bentang pinggir

(f)Mekanisme runtuh saat bentangan tengah runtuh (a)Struktur dan pembebanan

(c – e)Bidang momen A L L 1.5L 1.5L L L w 2w Mp 1.5w B 1.5Mp C Mp D c d e + - - - + - + Mp Mp Mp Mp

(g)Bidang momen saat bentangan tengah runtuh

Gambar (3.12). Mekanisme runtuh dan bidang momen yang bersesuaian pada balok menerus untuk beban terpusat

Persamaan keseimbangan dititik beban pada bentang A – B, adalah :

Mp + 0,5 Mp = 0,5 wL

Mp = 0,33 wL

Atau :

Wc = 3Mp/L

Sedangkan untuk bentang C – D adalah :

Mp + 0,5 Mp = 0,75 wL

Mp = 0,50 wL

Maka :

Wc = 2 Mp/L

Seandainya mekanisme runtuh terjadi pada bentang B – C, momen dalam

tumpuan B tidak akan lebih besar dari Mp. Bidang momen untuk mekanisme ini

diperlihatkan pada gambar (3.12) c, dan kita ketahui bahwa problemanya akan

menyerupai problema suatu balok yang kedua tumpuannya jepit. Persamaan

keseimbangannya adalah : Mp + 1,5 Mp = 3/2 wL Maka : Mp = 0,6 wL Atau : Wc = 5 Mp/3L………...(3.14)

Dengan membandingkan ketiga beban runtuh tersebut, dapat kita tentukan

bahwa mekanisme runtuh yang pertama kali terjadi akan terletak pada bentang

B – C dengan nilai beban runtuhnya ditunjukkan pada persamaan (3.14). Dengan

demikian, bentang ini merupakan bentang kritis. Ternyata bila kita

membandingkan momen plastisnya, bentang B – C merupakan bentang yang

memiliki nilai Mp terbesar.

Kesimpulannya, bila pada suatu tumpuan terdapat kapasitas momen plastis

yang tidak sama besar, sendi plastis akan terjadi pada titik yang terletak pada

bentangan yang lebih lemah (yang mempunyai kapasitas momen plastis

penampang yang lebih kecil).

Untuk balok menerus yang memikul beban merata dapat kita lihat gambar

(3.13). Berdasarkan kesimpulan tersebut, sendi plastis ditumpuan B dan C

berturut-turut akan terletak pada bentang B – A dan C – D. Persamaan untuk

bentang A – B :

2 Mp + 0,5 Mp = 1,5 wL2

Sehingga kita peroleh beban runtuh :

Wc = 1,67 Mp/L2

Untuk bentang B – C, lihat gambar (3.13) c.

Mp + Mp = (1/8) 3 wL2

Maka :

Wc = 1,77 Mp/L2

Selanjutnya, untuk bentang C – D (gambar 3.13.d) :

2 Mp + (4/3) Mp = 4 wL2

Mp = 1,2 wL2

Sehingga :

Wc = 0,833 Mp/L2………(3.15)

Perhatikan bahwa beban runtuh wc pada bentang C – D merupakan nilai yang

terkecil. Jadi, sekali lagi dapat kita katakan bahwa bentang C – D merupakan

2L 3L 2Mp Mp 2Mp 3wL 6wL B C D A w/satuan panjang L L L

(a)Struktur dan pembebanan

(b – d)Bidang momen (f)Mekanisme keruntuhan + Mp 2Mp Mp + - - - + 2Mp 2Mp Mp b c d

Gambar (3.13). Mekanisme runtuh dan bidang momen yang bersesuaian pada balok menerus untuk beban kombinasi

Dokumen terkait