• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode dan Teknik Analisis Data

Dalam dokumen TESIS. Oleh ARIE YUANITA /LNG (Halaman 38-41)

METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

3.4 Metode dan Teknik Analisis Data

Metode yang digunakan untuk menganalisis masalah dalam penelitian ini adalah metode agih. Metode agih adalah metode analisis data yang alat penentunya bagian dari bahasa itu. Alat penentu dalam rangka kerja metode agih itu selalu berupa bagian atau unsur dari bahasa objek sasaran penelitian itu sendiri, seperti kata (kata ingkar, preposisi, adverbia), fungsi sintaksis (subjek, objek, predikat), klausa, silabe kata, titinada, dan yang lain. (Sudaryanto, 1993: 15-16)

Teknik pada metode agih dapat dibedakan menjadi dua: teknik dasar dan teknik lanjutan. Teknik dasar metode agih disebut teknik bagi unsur langsung atau teknik BUL. Teknik lanjutan pada metode agih menurut Sudaryanto (1993: 36) setidaknya ada tujuh macam, yaitu :

1. Pelesapan, delesi, atau teknik lesap (melesapkan unsur satuan tertentusatuan lingual yang bersangkutan);

2. Penggantian, subtitusi, replasemen, atau teknik ganti (menggantikan unsur tertentu satuan lingual yang bersangkutan dengan unsur tertentu di luar satuan lingual yang bersangkutan);

3. Perluasan, ekspansi, ekstensi, atau teknik perluas (memperluas satuan lingual yang bersangkutanke kanan atau ke kiri dan perluasan itu menggunakan unsur tertentu);

4. Penyisipan, interupsi, atau teknik sisip (menyisipka unsur tertentu diantara unsur-unsur lingual yang ada);

5. Pembalikan, permutasi, atau teknik balik;

6. Pengubahan wujud, parafrasa, atau teknik ubah ujud (; dan 7. Pengulangan, repetisi, atau teknik ulang.

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teknik dasar bagi unsur langsung atau teknik BUL. Disebut demikian karena cara yang digunakan pada awal kerja analisis ialah membagi satuan lingual datanya menjadi beberapa bagian atau unsur;

dan unsur-unsur yang bersangkutan dipandang sebagai bagian yang langsung membentuk satuan lingual yang dimaksud. Adapun alat penggerak bagi alat penentu ialah daya bagi yang bersifat intuitif (intuisi kebahasaan). Misalnya, dengan membagi data ungkapan fatis pada siswa SD Great Prime School yang berbentuk partikel, kata, ataupun frase sesuai dengan pendapat dari Kridalaksana (2008:116) yang membagi bentuk kategori fatis atas partikel, kata fatis, dan frase fatis. Seperti terlihat pada contoh di bawah ini

(8) Konteks : Pagi hari ketika siswa melihat gurunya baru datang ke sekolah dan beberapa siswa menyapa gurunya dan berkata bahwa guru tersebut akan mengajar mereka nantinya

Ch : Selamat pagi, Miss Arie! → (Frase)

Ar : Pagi Miss. → (Kata)

Mi : Pagi.

Ch : Miss nanti ada B.I lah? → (Partikel) Mi : Iya nak.

Pada tuturan di atas dapat diidentifikasikan beberapa kata yang termasuk ungkapan fatis yaitu selamat pagi, pagi, dan lah. Kemudian ungkapan fatis pada contoh tuturan di atas dapat diklasifikasikan berdasarkan bentuk. Ungkapan fatis lah termasuk bentuk partikel dan ungkapan fatis pagi termasuk dalam bentuk kata yaitu kata benda sedangkan ungkapan fatis selamat pagi merupakan ungkapan fatis berbentuk frase.

Untuk menentukan distribusi bentuk ungkapan fatis, penulis menggunakan teknik lanjutan metode agih yaitu Teknik Balik. Teknik balik yaitu mengubah atau struktur satuan kebahasaan. Misalnya, mengubah letak ungkapan fatis di awal,

menjadi di tengah, atau di akhir kalimat seperti terlihat pada contoh tuturan di bawah ini

(9) Konteks : Di dalam kelas V ketika seorang siswa tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya dan temannya mengatakan bahwa siswa tersebut juga tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya pada pelajaran sebelumnya

Mi : Keluarkan buku prnya. Kumpulkan prnya ke depan Na : Yah Miss, saya belum siap

Mi : Kenapa tidak siap Naufal?

Je : Lah macam mananya dia Miss! Tadi juga nggap siap pr PLH Nu : Iya Miss. Hukum aja Miss

(10) Konteks : Di dalam kelas V ketika seorang siswa tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya dan temannya mengatakan bahwa siswa tersebut juga tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya pada pelajaran sebelumnya

Mi : Keluarkan buku prnya. Kumpulkan prnya ke depan Na : Yah Miss, saya belum siap

Mi : Kenapa tidak siap Naufal?

Je : Macam manalah dia Miss! Tadi juga nggap siap pr PLH Nu : Iya Miss. Hukum aja Miss

(11) Konteks : Di dalam kelas V ketika seorang siswa tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya dan temannya mengatakan bahwa siswa tersebut juga tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya pada pelajaran sebelumnya

Mi : Keluarkan buku prnya. Kumpulkan prnya ke depan Na : Yah Miss, saya belum siap

Mi : Kenapa tidak siap Naufal?

Je : Macam mananya dia Miss lah! Tadi juga nggap siap pr PLH Nu : Iya Miss. Hukum aja Miss

Pada tuturan di atas, terlihat distribusi penggunaan ungkapan fatis partikel lah yang dapat terletak di awal, di tengah dan berada diakhir kalimat deklaratif (berita)

Selanjutnya, untuk menjawab masalah yang kedua yaitu penentuan fungsi fatis digunakan juga teknik lanjutan metode agih yaitu teknik ganti, teknik lesap, teknik sisip, dan teknik perluas. Misalnya untuk menemtukan bahwa ungkapan fatis woi berfungsi untuk menyapa lawan tutur digunakan teknik ganti yaitu dengan mengganti unsur tertentu satuan lingual yang bersangkutan dengan unsur tertentu di luar satuan lingual yang bersangkutan seperti terlihat pada contoh di bawah ini,

(12) Konteks : Siang hari ketika jam istirahat, seorang siswa kelas VI mengajak teman-temannya bermain pecah piring di lapangan sekolah

Mo : Woi, Par. Yok min caper!

Pa : Cop aku sama mobrig Ar : Mana aci gitu

Pa : Acilah

Mo : Udahlah hompiang aja kita Ar : Oke, gitu baru adil

Kata fatis woi pada kalimat diatas berfungsi menyapa lawan tutur dapat dibuktikan melalui pengggantian kata fatis woi dengan kata fatis hei dan halo, seperti pada contoh di bawah ini :

Par. Udah sehatnya kau? Yok min caper!

Dalam contoh di atas terlihat bahwa kata fatis woi dapat digantikan oleh kata fatis hei dan halo. Tuturan Woi, Par, Udah sehatnya kau? dapat digantikan dengan tuturan Hei, Par. Udah sehatnya, Kau? atau Halo, Par. Udah sehatnya, Kau?.

Dengan demikian, kata fatis woi juga berfungsi sama dengan kata fatis hei dan halo yaitu berfungsi untuk menyapa lawan tutur

Dalam dokumen TESIS. Oleh ARIE YUANITA /LNG (Halaman 38-41)

Dokumen terkait