UNGKAPAN FATIS BAHASA INDONESIA PADA SISWA SD GREAT PRIME SCHOOL BINJAI : TINJAUAN PSIKOLINGUISTIK
TESIS
Oleh
ARIE YUANITA 147009043/LNG
FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2018
UNGKAPAN FATIS BAHASA INDONESIA PADA SISWA SD GREAT PRIME SCHOOL BINJAI : TINJAUAN PSIKOLINGUISTIK
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Linguistik pada Program Pascasarjana
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara
Oleh
ARIE YUANITA 147009043/LNG
FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul “Ungkapan Fatis Pada Siswa SD Great Prime School di Kota Binjai: Tinjauan Psikolinguistik”. Penulisan tesis ini merupakansyarat untuk memperoleh gelar Magister Linguistik Fakultas Ilmu Budaya pada Jurusan Linguistik Universitas Sumatera Utara. Dengan selesainya tesis ini, penulis mengucapkan terimakasih kepada :
Selanjutnya saya mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada pihak-pihak tersebut di bawah ini
1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengikuti pendidikan Program Magister pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara;
2. Dr. Budi Agustono, M.S., selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan kesempatan pada penulis untuk mengikuti pendidikan Program Magister pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara;
3. Dr. Eddy Setia, M.Ed. TESP., selaku Ketua Program Studi Linguistik FIB Universitas Sumatera Utara sekaligus dosen penguji yang banyak memberikan masukan dan kritikan untuk perbaikan tesis saya;
4. T. Thyrhaya Zein, M.A., selaku Sekretaris Program Magister Program Studi Linguistik FIB Universitas Sumatera Utara;
5. Dr. Gustianingsih, M. Hum., selaku Dosen Pembimbing I yang telah menyediakan waktu untuk memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis dengan penuh kesabaran sehingga tesis ini dapat selesai; dan Dr.
Nurlela, M.Hum., selaku Dosen Pembimbing II yang telah membimbing penulis dengan penuh kesabaran untuk menyelesaikan tesis ini;
6. Dr. Mulyadi, M.Hum., selaku dosen penguji yang banyak memberikan saran dan kritikan yang membangun demi perbaikan tesis ini; dan Ibu Dr.
Dwi Widayati, M.Hum., selaku dosen penguji yang memberikan saran dan kritikan yang membangun demi perbaikan tesis ini;
7. Ayahanda Syamsul Bahri dan Ibunda Siti Hasnah serta abang dan adik tercinta Erwinsyah, Yusrizal, dan Armaya asri yang selalu memberikan semangat, doa, dan perhatian sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini tepat pada waktunya;
8. Staf dan Pegawai Prodi Magister Linguistik Universitas Sumatera Utara yang banyak membantu penulis selama perkuliahan dan ketika dalam proses penyelesaian tesis ini;
9. Kepala sekolah SD Great Prime School Binjai yang memberikan kesempatan pada penulis untuk melakukan penelitian di sekolah yang dipimpinnya;
10. Teman-teman Program Studi Magister Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Stambuk 2014
Penulis menyadari tesis ini masih memiliki kekurangan.Namun, penulis berharap tesis ini dapat bermanfaat kepada seluruh pembaca.Semoga kiranya kita selalu berada dalam lindungan Allah SWT, Amin.
Medan, 22 Mei 2018 Penulis
Arie Yuanita
UNGKAPAN FATIS BAHASA INDONESIA SISWA SD GREAT PRIME SCHOOL BINJAI : TINJAUAN PSIKOLINGUISTIK
ABSTRAK
Penelitian tentang ungkapan fatis bahasa Indonesia pada siswa SD Great Prime School Binjai bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk, distribusi, dan fungsi ungkapan fatis yang digunakan siswa tersebut. Metode penelitian yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah metode simak sedangkan untuk menganalisis data digunakan metode agih.Tuturan yang dijadikan sumber data adalah tuturan siswa kelas I – VI SD dari bulan Oktober 2016 sampai Maret 2017.Pemerolehan ungkapan fatis pada siswa SD Great Prime School terjadi secara alamiah tanpa disadari oleh siswa itu sendiri.Dari 46 data tuturan siswa yang dijadikan sebagai sumber data ditemukan 38bentuk ungkapan fatis, yaitu: hei, woi, coi, yah, cie, eh, ya, deh, lah, kok, loh, kan, ah, dong, pun, deng, sih, alah, toh, nek, kek, ayo, yok, mari, tahu, halo, pagi, siang, ayolah, selamat, selamat pagi, Insya Allah, selamat siang, apa kabar, Assalamualaikum, Alhamdulillah, selamat ya, dan terima kasih. Distribusitemuan ungkapan fatis tersebut terletak di awal, di tengah dan di akhir kalimat. Fungsi temuan ungkapan fatis yang digunakan siswa tersebutadalahsapaan, ketidakpastian/keragu- raguan,ucapan selamat,persetujuan, dll, Kesimpulannya, berdasarkan kajian Psikolinguistik Genetik Kognitif, LAD siswa kelas I sampai kelas VI SD Great Prime School Binjai sudah bekerja dengan baik karena siswa-siswa tersebut sudah memperoleh dan melakukan performansi ungkapan fatis dengan sangat baik kepada temannya atau kepada gurunya sesuai dengan kompetensinya masing-masing
Kata Kunci : ungkapan fatis,bentuk, fungsi, psikolinguistik
INDONESIAN PHATIC EXPRESSION PRIMARY SCHOOL STUDENT ATGREAT PRIME SCHOOL BINJAI :
PSYCHOLINGUISTICS REVIEW
ABSTRACT
Research on the phatic expression of Indonesian language on students ofGreat Prime School Binjai aims to describe the form, distrution, and function of phatic expression used by students in the school. The research method used in collecting data is the observation methodto while to analyze the data used agih method. Conversation used as data source is oral conversation of students of class I - VI from October 2016 until March 2017. The acquisition of phatic expressionin primary school students occurs naturally unnoticed by the students themselves.
From the 46 data oral conversation of primary school students who serve as a source of data find 38 form phaticexpressions include:hei, woi, coi, yah, cie, eh, ya, deh, lah, kok, loh, kan, ah, dong, pun, deng, sih, alah, toh, nek, kek, ayo, yok, mari, tahu, halo, pagi, siang, ayolah, selamat, selamat pagi, Insya Allah, selamat siang, apa kabar, Assalamualaikum, Alhamdulillah, selamat ya, andterima kasih. The distribution of phatic expressions be located at the beginning, in the middle and at the end of the sentence.The function of phatic expression used by the student is greeting, uncertainty/caution, approval, emphasizing, etc. Conclusion, based on the study of Chomsky Genetic Psycholinguistics, the LAD students from grade I - VI ofGreat Prime School Binjai has been working well because the students have obtained and performed phaticexpressions performance very well to their friends or to their teachers in accordance with their respective competencies
Keywords: phatic expressions, form, function, psycholinguistics
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ……… i
ABSTRAK ……….. iii
ABSTRACT ………. iv
DAFTAR ISI ……….. v
DAFTAR TABEL ……….. vii
DAFTAR SINGKATAN ……… viii
DAFTAR LAMPIRAN ……….. ix
BAB I PENDAHULUAN ….………. 1
1.1 Latar Belakang Masalah ……….. 1
1.2 Perumusan Masalah ……….... 5
1.3 Tujuan Penelitian ………. 5
1.4 Manfaat Penelitian ………... 6
BABII TINJAUAN PUSTAKA ………. ……… 7
2.1 Penelitian Terdahulu ……… 7
2.2 Konsep tentang Ungkapan Fatis ……….. 10
2.3.1 Bentuk dan Fungsi Ungkapan Fatis ………. 10
2.3.2 Distribusi Ungkapan Fatis ……… 14
2.3 Teori tentang PemerolehanBahasa ……… 15
2.2.1 Pemerolehan Bahasa ……… 15
2.2.2 Psikolinguistik Genetik Kognitif ………….……… 18
2.4 Interjeksi ……….. 20
BAB III METODE PENELITIAN ………. 22
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ………. 22
3.1.1 Tempat Penelitian ……… 22
3.1.2 Waktu Penelitian ………... 22
3.2 Data dan Sumber Data ……… 22
3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data ……….. 23
3.4 Metode dan Teknik Analisis Data …..………. 24
3.5 Metode Penyajian Hasil Analisis Data ……… 27
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ………. 28
4.1 Pengantar …….….……… 28
4.2 Pemerolehan Bentuk Ungkapan Fatis dan Distribusi Ungkapan Fatis Siswa Kelas I-VI SD GPS ……….. 28
4.2.1 Bentuk Ungkapan Fatis dan Distribusi Ungkapan Fatis Siswa Kelas I SD ………..…… 30
4.2.2 Bentuk Ungkapan Fatis dan Distribusi Ungkapan Fatis Siswa Kelas II SD ……… 33
4.2.3 Bentuk Ungkapan Fatis dan Distribusi Ungkapan Fatis Siswa Kelas III SD ……….. 35
4.2.4 Bentuk Ungkapan Fatis dan Distribusi Ungkapan Fatis Siswa Kelas IV SD ……… 39 4.2.5 Bentuk Ungkapan Fatis dan Distribusi Ungkapan
Fatis Siswa Kelas V SD ………. 41
4.2.6 Bentuk Ungkapan Fatis dan Distribusi Ungkapan Fatis Siswa Kelas VI SD ………. 44
4.3 Fungsi Ungkapan Fatis Siswa Kelas I-VI SD ……… 53
BAB V SIMPULAN DAN SARAN ……… 97
5.1 Simpulan ………... 97
5.2 Saran ………. 98
DAFTAR PUSTAKA ………. 99
DAFTAR TABEL
No. Judul Halaman
2.1 Perbedaan Ungkapan Fatis dan Interjeksi ……… 20 4.1 Rekapitulasi Pemerolehan Bentuk Ungkapan Fatis dan Distribusi
Ungkapan FatisSiswa Kelas I – VI SD GPS Binjai………. 49 4.2 Fungsi Ungkapan Fatis Bahasa Indonesiapada Siswa SD
GPS Binjai ..……… 92
DAFTAR SINGKATAN
SD : Sekolah Dasar
GPS : Great Prime School
LAD : Language Acquisition Device HKB : Hipotesis Kenuranian Bahasa PBB : Piranti Pemerolehan Bahasa
PR : Pekerjaan Rumah
BUL : Bagi Unsur Langsung
PLH : Pengetahuan Lingkungan Hidup BSM : Binjai Super Mall
Caper : Pecah pring
SAW : Sallalahu Alaihi Wassalam SWT : Subhana Wataala
DAFTAR LAMPIRAN
No. Judul
Halaman
1. Tuturan Lisan Siswa Kelas I SD Great Prime School Binjai ………… 101 Tuturan Lisan Siswa Kelas II SD Great Prime School Binjai ……….. 103 Tuturan Lisan Siswa Kelas III SD Great Prime School Binjai ………. 104
Tuturan Lisan Siswa Kelas IV SD Great Prime School Binjai ………. 105 Tuturan Lisan Siswa Kelas V SD Great Prime School Binjai ………... 106 Tuturan Lisan Siswa KelasVI SD Great Prime School Binjai ……….. 107 2. Foto Guru dan Siswa SD Great Prime School Binjai ……… 110
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Dalam komunikasi verbal atau percakapan, terdapat satu fungsi bahasa yang cukup unik, yaitu fungsi fatis. Fungsi fatis bahasa dalam komunikasi verbal adalah untuk memulai, mempertahankan, atau menghentikan komunikasi. Fungsi fatis bahasa tersebut diekspresikan penutur dengan ungkapan fatis. Ungkapan fatis menjadi unik karena komunikasi verbal yang menggunakan ungkapan fatis tidak bertujuan menyampaikan ide atau bertukar informasi, melainkan untuk menjaga hubungan sosial dengan penutur (Waridin, 2008: 1).
Menurut Sutami (2012 : vi) ungkapan fatis terdapat dalam kalimat-kalimat tidak baku yang banyak mengandung unsur daerah atau dialek regional seperti penggunaan ungkapan fatis kok pada bahasa percakapan di Jakarta “kok kamu pergi juga?” oleh karena itu penggunaan ungkapan fatis pada umumnya digunakan untuk memulai dan memperlancar komunikasi.
Pada saat ini, penggunaan ungkapan fatis banyak ditemukan dalam tuturan siswa sekolah dasar ketika berinteraksi dan berkomunikasi. Contohnya adalah penggunaan ungkapan salamhai, woi, coi, apa kabar, dan selamat pagi. Ungkapan hai biasanya digunakan sebagai salam yang berfungsi untuk memulai percakapan.
Dengan salam hai kontak percakapan menjadi terjalin dan dengan terjalinnya kontak percakapan terjalin juga hubungan sosial
Djatmika (2012) menyatakan bahwa pemerolehan ungkapan fatis pada anak diperkirakan mulai berlangsung manakala seorang anak sudah mencapai usia di atas 3 tahun. Pada usia ini seorang anak paling tidak sudah mengalami proses perkembangan
bahasa pada tahap multiword phrases. Sebuah tahap di mana si anak sudah mampu menuangkan ide di dalam sebuah rangkaian kalimat. Pertimbangan lain perkiraan waktu pemerolehan ungkapan fatis pada anak adalah bahwa pada tahap perkembangan ini pula sudah mulai berlangsung perkembangan pemerolehan aspek pragmatik. Sebuah tahap di mana si anak sudah mampu menuangkan ide di dalam sebuah rangkaian kalimat. Pertimbangan lain perkiraan waktu pemerolehan ungkapan fatis pada anak adalah bahwa pada tahap perkembangan ini pula sudah mulai berlangsung perkembangan pemerolehan aspek pragmatik. Perkembangan pemerolehan aspek pragmatik ditandai dengan diperolehnya berbagai macam tindak tutur oleh seorang anak. Tentu saja di dalam proses penguasaan berbagai macam tindak tutur, sianak (dengan bantuan tindakan nurturing dari orang-orang disekitarnya terutama orangtuanya) sudah mulai melihat konteks untuk tindak tutur yang dia ungkapkan. Apabila diperhatikan dengan seksama, salah satu aspek pragmatik yang mulai dikuasai oleh sianak pada tahap ini adalah apa yang dinamakan dengan ungkapan fatis
Pemerolehan ungkapan fatis pada anak dapat dijumpai pada tuturan lisan siswa kelas I – VI Sekolah Dasar Great Prime School (GPS) di Kota Binjai.
Ungkapan fatis yang digunakan siswa SD GPS diperoleh secara alamiah tanpa disadari oleh siswa itu sendiri. Penggunaan ungkapan fatis pada siswa SD GPS terlihat pada contoh tuturan berikut ini
(1) Konteks : Pagi hari ketika pelajaran di dalam kelas II baru dimulai dan guru menyuruh siswa mengumpul pr. Semua siswa sudah mengantarkan buku prnya ke meja guru namun ada seorang siswa yang tidak mengantarkan buku prnya.
Kemudian terlihat seorang siswa menyapa temannya dan bertanya apakah pekerjaan rumah temannya tersebut sudah siap. Siswa tersebut berkata,
To : Hei Veo, kok nggak kau antar prmu? Pasti belum siap ya!
Ve : Udah dong
To : Aku juga udah. Kok nggak kau antar Ve : Ketinggalan bukuku
Mi : Sudah dikumpul semua prnya
Ungkapan fatis hei pada wacana tuturan di atas bermakna sebagai sapaan untuk menarik perhatian lawan tutur dan berfungsi untukmemulai komunikasi dengan lawan tutur. Selain ungkapan fatis hei ungkapan fatis woi dan coi juga ditemukan pada tuturan siswa di sekolah dasar GPS. Contohnya untuk menyatakan keakraban seorang siswa menyapa dengan sapaan woi dan coi seperti terlihat pada wacana tuturan (2) dan (3) di bawah ini :
(2) Konteks : Pagi hari ketika siswa kelas VI baru masuk ke dalam kelas dan seorang siswa memulai pembicaraan dengan menyapa temannya dan menanyakan tentang kesehatan temannya
Mo : Woi Riel, udah sehatnya kau! Enak lah kau nggak sekolah semalam!
Ar : Mana ada.
Mo : Emang iya loh!
Ar : Aku nggak sekolah karena sakit Mob.
(3) Konteks : Pagi hari ketika siswa baru selesai upacara dan masuk kedalam kelas dan seorang siswa memulai pembicaraan dengan temannya dengan berkata bahwa baju temannya tersebut basah
Br : Coi, basah kali bajumu! Mandi keringat kau.
Ma : Iya. Panas kali tadi coi Br : Cemen kali pun kau ini!
Ma : Ih memang panas pun.
Br : Iya sih
Dalam lingkungan sekolah dasar, siswa berkomunikasi sesuai dengan kapasitas mereka. Apa yang ada dalam pikiran, perasaan, keinginan, idealisme, dan segala uneg-unegnya itu dilontarkan begitu saja. Oleh sebab itu, kata-kata yang diucapkan kadang-kadang tidak terkendali. Namun, dengan adanya penggunaan ungkapan fatis dikalangan siswa sekolah dasar diharapkan siswa dapat memulai komunikasi dengan baik dan memperlancar komunikasi antarsiswa karena ungkapan fatis bersifat komunikatif artinya berfungsi untuk memelihara hubungan sosial di antara penutur dan lawan tutur. Dengan kata lain, ungkapan fatis dapat menghidupkan dialog sehingga memperlancar komunikasi. Ungkapan-ungkapan yang muncul dalam komunikasi fatis tidak untuk memberi tekanan pada isi informasi melainkan memiliki fungsi sosial untuk memelihara hubungan sosial di antara penutur dan lawan tutur.
Jadi, pemerolehan ungkapan fatis bagi siswa sekolah dasar sangat penting untuk memperlancar komunikasi antarsiswa seperti pada contoh wacana tuturan antara siswa kelas VI SD GPS di bawah ini
(4) Konteks : Siang hari ketika istirahat di kantin sekolah dan terlihat seorang siswa mendatangi kemudian menyapa temannya serta memulai percakapan dengan meminjam buku catatan temannya karena siswa tersebut tidak sekolah pada hari sebelumnya
Ar : Hei Chloe, nanti aku pinjam buku catatan bahasa Indonesiamu?
Ch : Kenapa catatanmu Riel?
Ar : Kemarin nggak sekolah aku.
Ch : Oh iya ya. Okelah kalau begitu
Partikel lah pada tuturan di atas merupakan ungkapan fatis karena berfungsi untuk menjaga hubungan sosial antara penutur dan lawan tutur agar tetap terjaga dengan baik karena ungkapan fatis lah yang digunakan lawan tutur pada tuturan di atas bermakna menyatakan persetujuan terhadap perkataan penutur dan berfungsi untuk mengakhiri pembicaraan
Ungkapan fatis ada yang terdapat di awal kalimat, di tengah kalimat, dan ada pula yang berada di akhir kalimat. Namun, ada beberapa ungkapan fatis yang distribusinya tidak menyeluruh. Ada ungkapan fatis yang kemunculannya hanya di tengah dan di akhir ujaran, serta ada yang distribusinya hanya di awal dan tengah ujaran. Selain itu, partikel fatis dapat muncul dalam kalimat deklaratif, interogatif, dan imperatif. Pada contoh tuturan di bawah ini terlihat penggunaan ungkapan fatis kok yang terletak di awal, di tengah kalimat interogatif dan di akhir kalimat deklaratif
(5) Konteks : Di dalam kelas ketika siswa sedang mencatat pelajaran dari papan tulis kemudian seorang siswa tidak percaya ketika temannya sudah selesai mencatat pelajaran dan mengumpulkan buku catatannya kepada gurunya Je : Kok udah siap kau Naufal?
Na : Udahlah
Je : Wah Naufal, cepat kali kau nyatatnya. Kalah kita Nuel.Udah siapdia!
Nu : Hah, nggak mungkinlah. Imposibble, kan biasanya dia lelet Je : Itu dah ngantar dia
(6) Konteks : Pagi hari ketika istirahat di kantin sekolah dan sekelompok siswa sedang bercakap-cakap. Tiba-tiba seorang siswa datang dan menyapa temannya sambil meminta jajan yang dibeli temannya namun tidak diberi oleh temannya tersebut
Mo : Woi hitam, bagilah jajanmu Ar : Enak aja kau.
Ch : Kasihlah riel
Mo : Kenapalah kok pelit kali si Ariel ini woi?
Ch : Kaunya, udah minta ngejek pulak.
Ar : Ntah si Mobrigh ini. Kau belilah sendiri biar tahu harga!
Mo : Udah abis uang jajankulah. Jajanmu kan banyak Ar : Apaannya kau ini yah, pergi sana!
(7) Konteks : Siang hari ketika istirahat di kantin dan dua orang siswa sedang bertutur tentang film yang ditontonnya
Na : Aku nonton Avenger
Nu : Nonton di mana kau? Nggak mungkin di bioskop Na : Mungkin
Nu : Sumpah mati!
Na : Nggak mau aku, kau ajalahyang mati Nu : Kokgitu ngomongmu fal
Na : Kan Kau yang duluan Nu : Nggak. Kau yang duluan kok 1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dapat dirumuskan masalah penelitian ini sebagai berikut.
1. Bagaimana bentuk dan distribusi ungkapan fatis yang diperoleh siswa SD GPS Binjai?
2. Bagaimana fungsi ungkapan fatis yang diperoleh siswa SD GPS Binjai?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tujuan penelitian ini sebagai berikut.
1. Mendeskripsikan bentuk ungkapan fatis dan distribusi ungkapan fatis yang diperoleh siswa SD GPS Binjai
2. Mendeskripsikan fungsi ungkapan fatis yang diperoleh siswa SD GPS Binjai
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan memberi manfaat, baik pada tataran teoretis maupun pada tataran praktis dibidang pemerolehan bahasa khususnya pemerolehan ungkapan fatis
1.4.1 Manfaat Teoretis
Manfaat teoretis dalam penelitian ini antara lain :
1. Menjadi salah satu model acuan yang dapat diandalkan untuk penelitian tentang pemerolehan bahasa khususnya pemerolehan ungkapan fatis
2. Memperkaya kajian tentang pemerolehan bahasa khususnya pemerolehan ungkapan fatis pada anak sekolah dasar
3. Menjadi masukan bahan acuan bagi para peneliti yang berfokus pada kajian pemerolehan bahasa
1.4.2 Manfaat Praktis
Pada tataran praktis kajian ini dapat digunakan sebagai berikut :
1. Menjadi bahan pengajaran pemerolehan bahasa khususnya pemerolehan ungkapan fatis siswa sekolah dasar
2. Menjadi bahan pengajaran bagi anak didik karena ada relevansinya dengan keterampilan berbicara
3. Menambah wawasan guru dalam mengajarkan kelas kata. Pengetahuan mengenai kelas kata ini masih sangat kurang diketahui oleh guru namun sangat sering digunakan dalam konteks dialog sebagai alternatif bahan ajar.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu
Sejauh yang penulis ketahui, ada beberapa penelitian mengenai ungkapan fatis yang pernah dilakukan, di antaranya:
Djatmika (2012) dalam penelitiannya yang berjudul “Pemerolehan Ekspresi Fatis Pada Anak Bilingual: Sebuah Studi Kasus Pemerolehan Bahasa”. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk ekspresi fatis pada anak bilingual.
dalam penelitian ini, Djatmika menggunakan konsep ekspresi fatis yang dikemukakan oleh Laver (1981) yang menyatakan bahwa ekspresi fatis dapat dikelompokkan menjadi empat macam, yaitu: ekpresi yang mengacu kepada sesuatu di luar pembicara namun bukan kepada lawan bicara, ekspresi yang mengacu pada diri sendiri, ekspresi yang mengacu pada diri lawan bicara, dan ekspresi yang dipergunakan antarpenutur dan lawan tutur. Adapun metode yang digunakan dalam mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah metode simak dan metode catat. Kemudian, hasil penelitian ini memaparkan bahwa ada empat bentuk ekspresi fatis pada anak bilingual, yaitu : a.
Ekpresi yang mengacu kepada sesuatu di luar pembicara namun bukan kepada lawan bicara misalnya Lho sudah siang to?; b. Ekspresi yang mengacu pada diri si anak misalnya Alah, ini lagi; c. Ekspresi yang mengacu pada diri lawan bicara misalnya Hallo, sapa ini; d. Ekspresi yang dipergunakan antarpenutur dan lawan tutur misalnya Ya, wis. Dari ke empat bentuk ekspresi fatis tersebut ada perpaduan antara bahasa daerah dan bahasa Indonesia.
Ada juga penelitian ungkapan fatis dalam bahasa Minangkabau oleh Agustina (2012). Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk-bentuk fatis dalam bahasa Minangkabau dan apa fungsi bentuk fatis tersebut. Metode yang digunakan
dalam penelitian ini adalah metode analitis-dekriptif dan metode kajian distribusional.
Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini bertolak dari teori dan pandangan tentang ungkapan fatis oleh Malinowky (1923: 315), Levinso (1987: 41), Holmes (1994: 286), dan Harimurti Kridalaksana (1994: 114). Hasil penelitian ini manyatakan bahwa bentuk fatis dalam bahasa Minangkabau adalah partikel, kata, perulangan yang ditemukan dalam bahasa sehari-hari sementara bentuk frase dan klausa ditemukan dalam “kaba”. Dari segi fungsi, ungkapan fatis dalam bahasa Minangkabau umumnya menyatakan paksaan secara halus, bantahan, penolakan, kekesalan, kesungguhan, kegemasan, keheranan, ketidakpedulian, dan hanya sebagai basa basi belaka. Dari segi distribusi, ungkapan fatis dalam bahasa Minangkabau umumnya dapat menduduki posisi inisial, medial, dan final.
Hilmiati (2012) dalam jurnal ilmiah Bahasa dan Sastra Edisi Desember 2012 yang berjudul Bentuk Fatis Bahasa Sasak. Dalam jurnal ini dibahas bagaimana bentuk fatis yang digunakan oleh masyarakat penutur bahasa Sasak dan apa tujuannya.
Konsep yang digunakan penulis dalam penetian ini adalah konsep dari Kridalaksana (1991: 114) yang menyatakan bahwa ungkapan fatis biasanya terdapat dalam konteks dialog yang berfungsi memulai, mempertahankan, dan mengukuhkan pembicaraan dalam komunikasi verbal. Hasil penelitian ini memaparkan bahwa dalam bahasa sasak terdapat fatis yang berbentuk kata, paduan, dan gabungan fatis itu sendiri. Bentuk fatis dalam bahasa sasak bertujuan untuk mempertegas atau mengukuhkan maksud, tujuan, penolakan, dan menghaluskan atau meminimalkan paksaan, suruhan, serta larangan..
Waridin (2008) dalam tesisnya yang berjudul “Ungkapan Fatis dalam Acara Temu Wicara di Televisi”. Masalah yang diteliti dalam tesis tersebut adalah jenis ungkapan fatis apa saja yang muncul dalam acara temu wicara televisi dan bagaimana
kecenderungan penggunaan tiap-tiap jenis ungkapan fatis. Teori yang mendasari penelitian ini adalah ungkapan fatis Malinowsky (1923), fungsi fatis menurut Jakobson (1980) dan Leech (1977). Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan merekan dan mentranskripsi hasil rekaman tersebut kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik instropeksi dan analisis kontekstual.
Hasil penelitian tesis ini menunjukkan bahwa dalam acara Temu Wicara di Televisi ditemukan partikel/kata, frase, dan kalimat yang mengandung ungkapan fatis sedangkan untuk kecenderungan penggunaan tiap-tiap jenis ungkapan fatis dalam acara Temu Wicara di Televisi adalah kata fatis ya dengan frekuensi pemakaian 72 kali, frase fatis terima kasih/thanks sebanyak 13 kali dan kalimat yang berfungsi menjaga keharmonisan/mempertahankan komunikasi dengan frekuensi pemakaian sebanyak dua kali.
Sebuah disertasi dengan judul “Komunikasi Fatis di Kalangan Penutur Jati Bahasa Inggris” oleh Jumarto (2006). Masalah dalam disertasi ini adalah bagaimana fungsi komunikasi fatis di kalangan penutur Jati bahasa Inggris. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa komunikasi fatis dalam kalangan penutur jati bahasa Inggris digunakan untuk menyatakan beberapa fungsi. Fungsi-fungsi tersebut yaitu; (1) menyatakan kesenyapan, (2) untuk memulai percakapan, (3) untuk melakukan basa- basi, (4) untuk melakukan gosip, (5) untuk menjaga agar bercakapan tetap berlangsung, (6) untuk menjaga solidaritas, (7) untuk menjaga harmoni, (8) untuk menjaga perasaan nyaman, (9) untuk mengungkapkan empati, (10) untuk mengungkapkan persahabatan, (11) untuk mengungkapkan penghormatan, (12) untuk mengungkapkan kesantunan.
Syatrawati (2001) dalam tesisnya “Phatic Function In Harold Pinter’s Selected Plays Betrayal and Homecoming” menjelaskan tentang fungsi fatik dalam drama
karya Harold Pinter Betrayal dan Homecoming. Masalah dalam tesis ini adalah bagaimanana bentuk token fatik dan bagaiman peran token fatis dalam drama Harold Pinter’s Selected Plays Betrayal and Homecoming. Hasil penelitian menunjukkan sebagai berikut; (1) varietas token fatik dalam ucapan-ucapan karakter pemain yang baik adalah token netral, token mengorientasikan diri, atau token berorientasi lain, (2) peran token fatik dalam dua drama bervariasi: ada yang digunakan sebagai saluran untuk membuka atau menutup percakapan atau interaksi, lain digunakan untuk menarik perhatian lawan bicara dengan topik pembicaraan atau sinyal formalitas dari interaksi sosial. Penulis drama menggambarkan absurditas kehidupan rumah tangga yang tidak bisa lepas dari masa lalunya.
Dari beberapa penelitian di atas, penulis banyak mendapat kontribusi dan masukan yaitu berupa bentuk-bentuk ungkapan fatis dan fungsi ungkapan fatis yang terdapat dalam bahasa Indonesia, bahasa daerah dan bahasa asing. Namun, dari penelitian- penelitian di atas belum ditemukan penelitian tentang ungkapan fatis yang digunakan siswa sekolah dasar tinjauan psikolinguistik. Jadi, dalam penelitian ini penulis akanmembahas pemerolehan bentuk ungkapan fatis pada siswa sekolah GPS serta bagaimana fungsi ungkapan fatis yang diperoleh siswa sekolah dasar tersebut.
2.2 Konsep tentang Ungkapan Fatis 2.2.1 Bentuk dan Fungsi Ungkapan Fatis
Tentang penggunaan istilah ungkapan fatis di dalam pengantar ilmiahnya, Kridalaksana berpendapat sebagai berikut.
“Istilah fatis itu sendiri digunakan penulis berdasarkan inspirasi dari teori fungsi bahasa Roman Jakobson pada tahun 1960 yang memperinci fungsi bahasa sebagai kelanjutan teori Karl Buhler tentang fungsi-fungsi tanda bahasa yang dikembangkan pada 1993. Istilah fatis (atau dalam karya Jakobson disebut Phatic) berasal dari
Bronislaw Malinowsky (1923). Gagasan dan garapan tentang kategori fatis yang mencakup kata fatis hingga wacana fatis atau ungkapan fatis, seluruhnya berasal dari Harimurti Kridalaksana bukan dari para sarjana internasional tersebut.”
Kridalaksana (1993: 120) mengatakan bahwa kategori fatis merupakan penemuan baru dalam linguistik Indonesia yang keberadaannya tidak boleh diabaikan dalam deskriptif bahasa standar dan nonstandard. Sebagai kajian baru dalam linguistik, ungkapan fatis sangat banyak terdapat pada kosakata dan kalimat yang dipakai oleh masyarakat dalam bertutur kata. Fatis banyak ditemukan dalam bahasa lisan berbentuk dialog atau wacana bahkan fatis menjadi ciri khas gaya bertutur lisan masyarakat. Kridalaksana juga mengungkapkan bentuk fatis dalam bahasa Indonesia terdiri dari partikel, kata, dan frasa.
Kridalaksana (2008: 114) memaparkan ungkapan fatis berdasarkan kelas kata atau kategori. Kategori fatis merupakan ciri ragam lisan non standar yang bertugas memulai, mempertahankan, atau mengukuhkan komunikasi antara pembicara dan kawan bicara. Kategori fatis tidak dapat diucapkan monolog. Kategori fatis selalu terdapat dalam konteks dialog atau wacana bersambutan yaitu kalimat-kalimat yang diucapkan oleh pembicara dan kawan bicara.
Kridalaksana (2008: 116) membagi bentuk kategori fatis atas partikel, kata fatis, dan frasa fatis. Partikel adalah sejenis kata tugas yang mempunyai bentuk khusus, yaitu sangat ringkas atau kecil dan memiliki fungsi-fungsi tertentu. Fatis yang berbentuk partikel adalah kata-kata yang tidak dapat diproses secara afiksasi ataupun secara perubahan bentuk kata yang mengandung makna gramatikal dan tidak mengandung makna leksikal yang diujarkan sebagai pelancar komunikasi (ujaran).
Kata adalah bentuk bebas terkecil yang mempunyai kesatuan fonologis dan kesatuan gramatis yang mengandung suatu pengertian. Kata fatis adalah satuan
bahasa yang dapat diujarkan secara bebas dan dapat berdiri sendiri yang sering ditambahkan dalam pembicaraan. Kata-kata tersebut memiliki fungsi tertentu dalamujaran(Kridalaksana, 2008:119).
Kembong Daeng (2005: 7) menyatakankan bahwa frasa adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonpredikat.
Adapun yang dimaksud dengan frasa fatis adalah gabungan dua kata atau lebih, tidak predikatif dan selalu digunakan untuk memulai dan mengakhiri interaksi antar pembicara dan lawan bicara.
Jadi, secara rinci bentuk ungkapan fatis mencakup ah, ayo, deh, dong, ding, halo, kan, kek, kok, lah, lho, mari, pun, selamat, sih, toh, tahu, ya, yah, selamat pagi, terima kasih, turut berduka cita, assalamu alaikum, wa’alaikum salam, Insya Allah, dan Alhamdulillah. (Kridalaksana, 2008 : 116)
Berdasarkan bentuk partikel dan kata fatis menurut Kridalaksana (2008:116), terdapat beberapa fungsi partikel dan kata fatis. Fungsi-fungsi tersebut adalah sebagai berikut:
1) Menekankan rasa penolakan atau acuh tak acuh, misalnya “Ah masa sih!”
2) Menekankan ajakan, misalnya “Ayo kita pergi!”
3) Pemaksaaan dengan membujuk, misalnya “Makan deh. Jangan malu-malu!”
4) Memberi persetujuan, misalnya “Boleh lah”.
5) Memberi garansi, misalnya “Makanan dia enak deh!”
6) Sekadar penekanan, misalnya “Saya benci deh sama dia.”
7) Menghaluskan perintah, misalnya “Jalannya cepetan dong!”
8) Menekankan kesalahan kawan bicara, misalnya “Yah, segitu sih mahal dong bang!”
9) Menekankan pengakuan kesalahan pembicara, misalnya “Eh, iya ding salah”
10) Memulai dan mengukuhkan pembicaraan di telepon, misalnya “Halo, 365427!”
11) Menyalami kawan bicara yang dianggap akrab, misalnya “Halo Martha, kemana aja nih?”
12) Menekankan pembuktian, misalnya “Kan dia sudah tahu?”
13) Menekankan pemerincian, misalnya “Elu kek, gue kek, sama aja.”
14) Menekankan perintah, misalnya “Cepetan kek, kenapa sih?”
15) Menggantikan kata saja, misalnya “Elu kek yang pergi!”
16) Menekankan alasan dan pengingkaran, misalnya “Saya Cuma melihat saja kok!”
17) Menekankan kalimat imperative dan penguat sebutan dalam kalimat, misalnya
“tutuplah pintu itu”
18) Menekankan kepastian, misalnya “Saya juga mau lho.”
19) Menekankan ajakan, misalnya “Mari makan.”
20) Meminta kawan bicara untuk mengalihkan perhatian ke hal lain, misalnya
“Nah bawalah uang ini dan belikan aku nasi sebungkus.”
21) Menonjolkan bagian konstituen tertentu pada kalimat, misalnya “Membaca pun ia tidak bisa.”
22) Ungkapan selamat untuk kawan bicara, misalnya “Selamat ya.”
23) Menggantikan tugas –tah dan –kah, misalnya “Apa sih maunya tuh orang.”
24) Bermakna “memang” atau “sebenarnya”, misalnya “Bagus sih bagus, Cuma mahal amat.”
25) Menekankan alasan, misalnya “Abis Gatot dipukul sih!”
26) Menguatkan maksud, misalnya “Saya toh tidak merasa bersalah.”
27) Mengukuhkan atau membenarkan apa yang ditanyakan kawan bicara misalnya (Apa rencana ini jadi dilaksanakan?) “Ya tentu saja.”
28) Meminta persetujuan atau pendapat kawan bicara, misalnya “jangan pergi ya?”
29) Mengungkapkan keragu-raguan atau ketidakpastian terhadap apa yang diungkapkan oleh kawan bicara, misalnya “Yah, apa aku bisa melakukannya?”
Selain partikel dan kata fatis, Kridalaksana juga menjelaskan frase fatis.
Menurut Kridalaksana (2008: 119), jenis dan fungsi frase fatis adalah sebagai berikut:
1. Frase yang diawali kata selamat dipergunakan untuk memulai dan mengakhiri interaksi antara pembicara dan kawan bicara. Sesuai dengan keperluan dan situasinya, contohnya selamat pagi, selamat jalan, selamat malam. Frase terima kasih digunakan setelah pembicara merasa mendapatkan sesuatu dari kawan bicara.
2. Frase turut berduka cita digunakan sewaktu pembicara menyampaikan bela sungkawa.
3. Frase assalamu’alaikum digunakan pada waktu pembicara memulai interaksi.
Frase wa’alaikumsalam digunakan untuk membalas kawan bicara yang mengucapkan assalamu’alaikum
4. Frase Insya Allah diucapkan oleh pembicara ketika menerima tawaran mengenai sesuatu dari kawan bicara.
2.2.2 Distribusi Ungkapan Fatis
Menurut Kridalaksana (2008: 113), ungkapan fatis khususnya partikel fatis ada yang terdapat di awal kalimat, di tengah kalimat, dan ada pula yang berada di akhir kalimat. Namun, ada beberapa partikel fatis yang distribusinya tidak
menyeluruh. Ada partikel yang kemunculannya hanya di tengah dan di akhir ujaran, serta ada yang distribusinya hanya di awal dan tengah ujaran.
Dalam distribusinya, partikel fatis dapat muncul dalam kalimat deklaratif, interogatif, dan imperatif. Kalimat deklaratif adalah kalimat yang mengandung maksud memberikan sesuatu kepada lawan tutur (Rahardi, 2005 : 74). Kalimat interogatif adalah kalimat yang mengandung maksud menanyakan sesuatu kepada mitra tutur, sedangkan kalimat imperatif adalah kalimat yang mengandung maksud memerintah atau meminta agar lawan tutur melakukan sesuatu sebagaimana diinginkan si penutur
2.3 Teori tentang Pemerolehan Bahasa 2.3.1 Pemerolehan Bahasa
Menurut Simanjuntak (2009: 104 -105), pemerolehan bahasa adalah proses - proses yang berlaku dipusat bahasa dalam otak seorang anak pada waktu dia memeroleh bahasa ibunya. Pemerolehan bahasa harus dibedakan dengan pembelajaran bahasa. Pembelajaran bahasa menyangkut proses-proses yang berlaku di dalam otak (pusat bahasa) pada waktu seseorang sedang mempelajari bahasa baru, biasanya bahasa asing, setelah anak itu selesai memeroleh bahasa ibunya dengan sempurna. Pembelajaran bahasa terjadi dengan cara intruksi dari seorang guru sedangkan pemerolehan bahasa terjadi secara alamiah yang melibatkan bahasa pertama (bahasa ibu) sedangkan pembelajaran bahasa terjadi dengan kesadaran penuh dan melibatkan bahasa kedua atau bahasa asing
Proses-proses yang berlaku pada waktu seorang anak sedang memeroleh bahasa ibunya terdiri dari dua jenis: jenis pertama ialah performansi (perlakuan) yang terdiri dari dua jenis proses, yaitu pemahaman dan penerbitan, dan jenis kedua ialah kompetensi (kemampuan). Kedua jenis proses ini asalah berlainan. Proses - proses
pemahaman (komprehansi) melibatkan kebolehan atau keterampilan persepsi (pengamatan) kalimat - kalimat yang didengar dan proses - proses penerbitan (produksi) melibatkan kebolehan menerbitkan (memproduksi) kalimat - kalimat sendiri. Kedua jenis proses pertama ini, apabila telah dikuasai si anak akan menjadi kebolehan - kebolehan (keterampilan - keterampilan) linguistiknya. Jadi, keterampilan-keterampilan linguistik terdiri dari keterampilan memahami (komprehensi) dan menerbitkan (memproduksi) kalimat - kalimat yang dalam ilmu linguistik disebut performansi (perlakuan atau pelaksanaa). Performansi biasanya terjadi apabila seseorang telah memiliki kompetensi. Kompetensi merupakan pengetahuan bahasa yaitu tata bahasa yang telah kita kuasai secara alami dan tidak sadar. Jadi, pemerolehan bahasa terdiri dari proses-proses yang berlaku pada waktu si anak menuranikan atau menyerap ke dalam otak, tata bahasa ibunya dan pada waktu si anak menguasai performansi (penerapan tata bahasa)
Menurut Ruqayyah (2008), perkembangan pemerolehan bahasa anak dapat dibagi atas tiga bagian penting yaitu sebagai berikut.
1) Perkembangan prasekolah
Perkembangan pemerolehan bahasa anak pada masa prasekolah dapat dibagi lagi atas perkembangan pralinguistik, yaitu anak mengembangkan konsep dirinya.Ia berusaha membedakan dirinya dengan subjek, dirinya dengan orang lain, serta hubungan dengan objek dan tindakan.
Selain itu ada pula tahap satu kata, yaitu anak terus-menerus berupaya mengumpulkan nama benda-benda dan orang yang ia jumpai. Kata-kata yang pertama diperoleh lazimnya adalah kata yang menyatakan perbuatan, sosialisasi, dan tempat.
Tiga sarana ekspresif yang dipakai oleh anak-anak yang dapat membuat kalimat- kalimat mereka menjadi lebih panjang, yaitu kemunculan morfem-morfem gramatikal
secara inklusif dalam ujaran anak, pengertian atau penyambungan bersama-sama hubungan dua hal tersebut, dan perluasan istilah dalam suatu hubungan atau relasi.
Perkembangan pemerolehan bunyi anak-anak berawal dari membuat bunyi menuju arah membuat pengertian. Anak biasanya membuat pembedaan bunyi perseptual yang penting selama periode ini, misalnya membedakan antara bunyi suara manusia dan bukan manusia, bunyi ekspresi marah dengan yang bersikap bersahabat, antara suara anak-anak dengan orang dewasa, dan antara intonasi yang beragam.
Anak-anak mengenali makna-makna berdasarkan persepsi mereka sendiri terhadap bunyi kata-kata yang didengarnya. Anak-anak menukar atau mengganti ucapan mereka sendiri dari waktu ke waktu menuju ucapan orang dewasa, dan apabila anak- anak mulai menghasilkan segmen bunyi tertentu, hal ini menjadi perbendaharaan mereka.
2) Perkembangan ujaran kombinatori
Perkembangan ujaran kombinatori anak-anak dapat dibagi dalam empat bagian, yaitu perkembangan negatif, interogatif, penggabungan kalimat, dan perkembangan sistem bunyi. Perkembangan beberapa proposisi menjadi sebuah kalimat tunggal memerlukan rentang masa selama beberapa tahun dalam perkembangan bahasa anak-anak.
3) Perkembangan masa sekolah
Pada perkembangan masa sekolah, orientasi seorang anak dapat berbeda-beda.
Ada anak yang lebih impulsif dari pada anak yang lain, lebih refleksif dan berhati- hati, cenderung lebih jelas dan nyata dalam berekspresi, lebih senang belajar dengan bermain-main, sementara yang lain lebih pragmatis dalam pemakaian bahasa. Setiap bahasa anak akan mencerminkan kepribadiannya sendiri pada masa ini.
Selama masa sekolah, anak mengembangkan dan memakai bahasa secara unik dan universal. Pada saat itu anak menandai atau memberinya ciri sebagai pribadi yang ada dalam masyarakat itu. Perkembangan bahasa pada masa sekolah dapat dibedakan dengan jelas dalam tiga bidang, yaitu struktur bahasa, pemakaian bahasa, dan kesadaran metalinguistik.
2.2.2 Psikolinguistik Genetik Kognitif
Teori genetik dan kognitif dikemukakan Chomsky, yang merupakan seorang ahli psikolinguistik Amerika Serikat. Metode Chomsky sangat menaruh perhatian terhadap aspek akal. Ia membahas masalah-masalah bahasa dan psikologi, kemudian membingkainya menjadi satu bingkai dengan bentuk bahasa kognitif.
Chomsky dalam Chaer (2009) berpandangan bahwa pemerolehan bahasa itu didasarkan pada faktor genetik yang telah dimiliki anak sejak lahir. Anak memperoleh kemampuan untuk berbahasa seperti dia memperoleh kemampuan untuk berdiri dan berjalan. Anak tidak dilahirkan sebagai piring kosong, seperti dalam teori tabula rasa yang dikemukakan oleh Jhon Locke. Akan tetapi, seorang anak tersebut telah dibekali sebuah alat yang dinamakan Piranti Pemerolehan Bahasa.
Menurut Chomsky manusia mempunyai faculties of the mind, (kapling mind) yakni, semacam ” kapling-kapling intelektual” dalam benak atau otaknya. Salah satu bagiaanya khusus diciptakan untuk memperoleh bahasa. Manusia memiliki bekal kodrati (innate properties) waktu yang lahir dan bekal inilah yang kemudian membuatnya mampu untuk mengembangkan bahasa, piranti pemerolehan bahasa tersebut menurut Chomsky dinamakan Language Acquisition Device (LAD).
LAD (Language Acquisition Device) merupakan alat yang hanya menangkap gelombang-gelombang bahasa. Setelah diterima, gelombang-gelombang itu ditata dan dihubung-hubungkan satu sama lain menjadi sebuah sistem kemudian dikirimkan ke
pusat pengolahan kemampuan berbahasa (Language Competence). Pusat ini merumuskan kaidah-kaidah bahasa dari data-data ujaran yang dikirimkan oleh LAD dan menghubungkannya dengan makna yang dikandungnya sehingga terbentuklah kemampuan berbahasa. Pada tahap selanjutnya, kemampuan berbahasa tersebut digunakan untuk mengkreasikan atau menghasilkan kalimat-kalimat dalam bahasa yang diperolehnya dan untuk mengungkapkan keinginan atau keperluannya sesuai dengan kaidah-kaidah yang telah diketahuinya.
Teori Chomsky adalah teori linguistik modern, yang mencerminkan kemampuan akal, membicarakan masalah-masalah kebahasaan dan pemerolehannya, serta hubungannya dengan akal dan pengetahuan manusia. Chomsky mendasarkan teorinya ini atas dasar asumsi bahwa bahasa menjadi bagian dari komponen manusia dan produk khas akal manusia.
Chomsky melihat bahwa bahasa adalah kunci untuk mengetahui akal dan pikiran manusia. Manusia berbeda dengan hewan karena kemampuannya berfikir dan kecerdasannya, serta kemampuannya berbahasa.
Menurut teori kogitif, seseorang ketika menerima stimulus dari lingkungannya, dia melakukan pemilihan sesuai dengan minat dan keperluannya, menginterpretasikannya, menghubungkannya dengan pengalamannya terdahulu, baru kemudian memilih alternatif respon yang paling sesuai.
Dalam teori linguistik Chomsky, dibutuhkan adanya pasangan penutur dan pendengar yang ideal dalam sebuah masyarakat tutur sehingga keduanya dapat menerima dan mengerti dengan penggunaan bahasa yang diucapkan dalam jumlah yang tidak terbatas, yang sebelumnya belum pernah didengar.
Chomsky membedakan adanya kompetensi dan performansi dalam proses pembentukan bahasa. Kemampuan adalah pengetahuan yang dimiliki pemakai bahasa
mengenai bahasanya sedangkan performansi atau perbuatan berbahasa merupakan pelaksanaan berbahasa dalam bentuk menerbitkan kalimat-kalimat dalam keadaan yang nyata. Kedua tahapan tersebut akan membentuk tata bahasa yang baik, sehingga dapat diterima dan dipahami baik bagi penutur atau pendengar dalam proses pemerolehan bahasa.
2.4 Interjeksi
Dalam bahasa Indonesia, perlu dibedakan antara interjeksi dan ungkapan fatis.
Keduanya acap kali terkacaukan. Dalam Sutami (2012 : 150) Interjeksi merupakan kata yang mencerminkan suasana hati tertentu. Secara sintaksis, kata ini berposisi pada awal kalimat dan dapat berdiri sendiri tanpa terikat dengan bagian kalimat lainnya. Hal ini dapat diketahui ketika kita mendengar sebuah seruan, misalnya aduh dengan serta merta kita tahu kalau penutur sedang kaget. Bagian kalimat berikutnya akan menjelaskan keterkejutannya itu. Dalam kalimat “Aduh, uangku hilang” kata aduh menunjukkan kekagetan atau keterkejutan penutur. Interjeksi ini tidak pernah muncul pada akhir kalimat, seperti “Uangku hilang, aduh”. Interjeksi biasanya tercetus secara tiba-tiba. Ketidakterikatan interjeksi dengan kalimat sesudahnya nampak dari pertanyaan lawan tutur untuk menanggapi kenapa dia beraduh-aduh, misalnya “Ada apa?” atau “Mengapa beraduh-aduh sih?”
Berikut ini adalah tabel perbedaan ungkapan fatis dan interjeksi berdasarkan pendapat dari Sutami dan Kridalaksana
Tabel 2.1 Perbedaan Ungkapan Fatis dan Interjeksi
No Ungkapan Fatis Interjeksi
1 Berposisi di awal, tengah, dan akhir kalimat Berposisi di awal kalimat
2 Terikat dengan konstituen kalimat sebelum Dapat berdiri sendiri atau tidak dan sesudahnya terikat dengan kalimat sesudahnya 3 Berfungsi fatis (Memulai, mempertahankan, Berfungsi ekspresif (Menyatakan
dan mengakhiri kamunikasi) suasana hati penutur)
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
3.1.1 Tempat Penelitian
Tempat penelitian adalah SD Great Prime School di Kota Binjai yang terletak di Jalan Wahidin Baru No.1 C-D-E-F-G-H Binjai. Ketertarikan peneliti memilih lokasi SD GPS di Kota Binjai karena SD GPS salah satu sekolah dasar yang berada atau terletak di pusat kota Binjai. Siswanya berasal dari berbagai ras serta latar belakang keluarga yang berbeda. Selain itu, siswa SD GPS ketika berada di sekolah harus dapat menggunakan tiga bahasa yaitu bahasa Indonesia, Inggris, dan Mandarin.
Sesuai dengan visi SD GPS yaitu “Faith, Discipline, Achievement” maka SD Great Prime School Binjai terus mengupayakan perbaikan-perbaikan di segala bidang.
3.1.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Februari sampai dengan Maret 2017 3.2 Data dan Sumber Data
3.2.1 Data
Data penelitian ini berupa tuturan siswa sekolah dasar Great Prime School berupa partikel dan kata seperti: ah, ayo, deh, dong, ding, halo, kan, kek, kok, lah, eh, loh, pun, sih, toh, yah, ya, mari, selamat, tahu; serta frase seperti: selamat ya, terima kasih, turut berduka cita, assalamu alaikum, wa’alaikum salam, Insya Allah, dan Alhamdulillah yang merujuk pada fungsi fatis.
3.2.2 Sumber Data
Data peneltian ini bersumber dari siswa SD Great Prime School yang menggunakan ungkapan fatis dari kelas I – VI yang selanjutnya disebut sebagai subjek penelitian.
3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam mengumpulkan data pada penelitian ini adalah metode simak yang dirujuk dari Mahsun (2011:92). Diberi nama metode simak karena cara yang digunakan untuk memperoleh data dilakukan dengan menyimak penggunaan bahasa. Metode tersebut digunakan untuk mendapatkan data secara langsung di lapangan berupa ungkapan fatis yang diucapkan atau dituturkan oleh siswa sekolah dasar. Teknik lanjutan yang digunakan dalam metode simak adalah teknik simak bebas libat cakap, teknik rekam, dan teknik catat pada penggunaan tuturan lisan siswa sekolah dasar.
Teknik simak bebas libat cakap yaitu peneliti tidak ikut berpartisipasi dalam pembicaraan dan menyimak pembicaraan. Untuk memperoleh data mengenai ungkapan fatis siswa, dilakukan dialog dengan siswa-siswa yang menuturkan ungkapan fatis dan sempat disimak saat itu. Teknik rekam yaitu sipeneliti merekam hasil tuturan dari anak SD dengan menggunakan handphone merk Samsung. Teknik catat yaitu setelah melakukan kedua teknik di atas maka dilakukan teknik catat, peneliti mencatat data pada kartu yang segera dilanjutkan dengan klasifikasi atau pengelompokan.
Pada saat siswa melakukan percakapan dengan siswa lain atau dengan gurunya, saat itulah penulis menggunakan teknik bebas libat cakap untuk memperhatikan tanpa melibatkan peneliti dalam percakapan tersebut. Untuk mendapatkan data ungkapan fatis peneliti menggunakan teknik rekam dan juga teknik catat.
3.4 Metode dan Teknik Analisis Data
Metode yang digunakan untuk menganalisis masalah dalam penelitian ini adalah metode agih. Metode agih adalah metode analisis data yang alat penentunya bagian dari bahasa itu. Alat penentu dalam rangka kerja metode agih itu selalu berupa bagian atau unsur dari bahasa objek sasaran penelitian itu sendiri, seperti kata (kata ingkar, preposisi, adverbia), fungsi sintaksis (subjek, objek, predikat), klausa, silabe kata, titinada, dan yang lain. (Sudaryanto, 1993: 15-16)
Teknik pada metode agih dapat dibedakan menjadi dua: teknik dasar dan teknik lanjutan. Teknik dasar metode agih disebut teknik bagi unsur langsung atau teknik BUL. Teknik lanjutan pada metode agih menurut Sudaryanto (1993: 36) setidaknya ada tujuh macam, yaitu :
1. Pelesapan, delesi, atau teknik lesap (melesapkan unsur satuan tertentusatuan lingual yang bersangkutan);
2. Penggantian, subtitusi, replasemen, atau teknik ganti (menggantikan unsur tertentu satuan lingual yang bersangkutan dengan unsur tertentu di luar satuan lingual yang bersangkutan);
3. Perluasan, ekspansi, ekstensi, atau teknik perluas (memperluas satuan lingual yang bersangkutanke kanan atau ke kiri dan perluasan itu menggunakan unsur tertentu);
4. Penyisipan, interupsi, atau teknik sisip (menyisipka unsur tertentu diantara unsur-unsur lingual yang ada);
5. Pembalikan, permutasi, atau teknik balik;
6. Pengubahan wujud, parafrasa, atau teknik ubah ujud (; dan 7. Pengulangan, repetisi, atau teknik ulang.
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teknik dasar bagi unsur langsung atau teknik BUL. Disebut demikian karena cara yang digunakan pada awal kerja analisis ialah membagi satuan lingual datanya menjadi beberapa bagian atau unsur;
dan unsur-unsur yang bersangkutan dipandang sebagai bagian yang langsung membentuk satuan lingual yang dimaksud. Adapun alat penggerak bagi alat penentu ialah daya bagi yang bersifat intuitif (intuisi kebahasaan). Misalnya, dengan membagi data ungkapan fatis pada siswa SD Great Prime School yang berbentuk partikel, kata, ataupun frase sesuai dengan pendapat dari Kridalaksana (2008:116) yang membagi bentuk kategori fatis atas partikel, kata fatis, dan frase fatis. Seperti terlihat pada contoh di bawah ini
(8) Konteks : Pagi hari ketika siswa melihat gurunya baru datang ke sekolah dan beberapa siswa menyapa gurunya dan berkata bahwa guru tersebut akan mengajar mereka nantinya
Ch : Selamat pagi, Miss Arie! → (Frase)
Ar : Pagi Miss. → (Kata)
Mi : Pagi.
Ch : Miss nanti ada B.I lah? → (Partikel) Mi : Iya nak.
Pada tuturan di atas dapat diidentifikasikan beberapa kata yang termasuk ungkapan fatis yaitu selamat pagi, pagi, dan lah. Kemudian ungkapan fatis pada contoh tuturan di atas dapat diklasifikasikan berdasarkan bentuk. Ungkapan fatis lah termasuk bentuk partikel dan ungkapan fatis pagi termasuk dalam bentuk kata yaitu kata benda sedangkan ungkapan fatis selamat pagi merupakan ungkapan fatis berbentuk frase.
Untuk menentukan distribusi bentuk ungkapan fatis, penulis menggunakan teknik lanjutan metode agih yaitu Teknik Balik. Teknik balik yaitu mengubah atau struktur satuan kebahasaan. Misalnya, mengubah letak ungkapan fatis di awal,
menjadi di tengah, atau di akhir kalimat seperti terlihat pada contoh tuturan di bawah ini
(9) Konteks : Di dalam kelas V ketika seorang siswa tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya dan temannya mengatakan bahwa siswa tersebut juga tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya pada pelajaran sebelumnya
Mi : Keluarkan buku prnya. Kumpulkan prnya ke depan Na : Yah Miss, saya belum siap
Mi : Kenapa tidak siap Naufal?
Je : Lah macam mananya dia Miss! Tadi juga nggap siap pr PLH Nu : Iya Miss. Hukum aja Miss
(10) Konteks : Di dalam kelas V ketika seorang siswa tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya dan temannya mengatakan bahwa siswa tersebut juga tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya pada pelajaran sebelumnya
Mi : Keluarkan buku prnya. Kumpulkan prnya ke depan Na : Yah Miss, saya belum siap
Mi : Kenapa tidak siap Naufal?
Je : Macam manalah dia Miss! Tadi juga nggap siap pr PLH Nu : Iya Miss. Hukum aja Miss
(11) Konteks : Di dalam kelas V ketika seorang siswa tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya dan temannya mengatakan bahwa siswa tersebut juga tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya pada pelajaran sebelumnya
Mi : Keluarkan buku prnya. Kumpulkan prnya ke depan Na : Yah Miss, saya belum siap
Mi : Kenapa tidak siap Naufal?
Je : Macam mananya dia Miss lah! Tadi juga nggap siap pr PLH Nu : Iya Miss. Hukum aja Miss
Pada tuturan di atas, terlihat distribusi penggunaan ungkapan fatis partikel lah yang dapat terletak di awal, di tengah dan berada diakhir kalimat deklaratif (berita)
Selanjutnya, untuk menjawab masalah yang kedua yaitu penentuan fungsi fatis digunakan juga teknik lanjutan metode agih yaitu teknik ganti, teknik lesap, teknik sisip, dan teknik perluas. Misalnya untuk menemtukan bahwa ungkapan fatis woi berfungsi untuk menyapa lawan tutur digunakan teknik ganti yaitu dengan mengganti unsur tertentu satuan lingual yang bersangkutan dengan unsur tertentu di luar satuan lingual yang bersangkutan seperti terlihat pada contoh di bawah ini,
(12) Konteks : Siang hari ketika jam istirahat, seorang siswa kelas VI mengajak teman-temannya bermain pecah piring di lapangan sekolah
Mo : Woi, Par. Yok min caper!
Pa : Cop aku sama mobrig Ar : Mana aci gitu
Pa : Acilah
Mo : Udahlah hompiang aja kita Ar : Oke, gitu baru adil
Kata fatis woi pada kalimat diatas berfungsi menyapa lawan tutur dapat dibuktikan melalui pengggantian kata fatis woi dengan kata fatis hei dan halo, seperti pada contoh di bawah ini :
Par. Udah sehatnya kau? Yok min caper!
Dalam contoh di atas terlihat bahwa kata fatis woi dapat digantikan oleh kata fatis hei dan halo. Tuturan Woi, Par, Udah sehatnya kau? dapat digantikan dengan tuturan Hei, Par. Udah sehatnya, Kau? atau Halo, Par. Udah sehatnya, Kau?.
Dengan demikian, kata fatis woi juga berfungsi sama dengan kata fatis hei dan halo yaitu berfungsi untuk menyapa lawan tutur
3.5 Metode Penyajian Hasil Analisis Data
Menurut Mahsun (2011: 123) ada dua cara dalam tahap penyajian hasil analisi data, yaitu dengan cara : (i) perumusan hasil tersebut dengan menggunakan kata-kata biasa, termasuk penggunaan terminologi yang bersifat teknis data dan (ii) perumusan dengan menggunakan tanda-tanda atau lambang. Selain itu, Sudaryanto (1993) juga menyatakan bahwa metode penyajian data bisa dilakukan dengan (i) metode formal, yaitu kalimat dan tabel, serta (ii) metode informal, yaitu menggunakan kalimat.
Karena metode informal bisa membantu menjelaskan analisis formal, penelitian ini menggunakan gambar, tabel, serta kata-kata biasa dalam menjelaskan data.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengantar
Dalam subbab ini, akan diuraikan hasil penelitian dan pembahasan untuk menjawab masalah yang sudah dirumuskan. Temuan hasil penelitian ditampilkan dalam bentuk percakapan/tuturan serta tabel sesuai dengan pertanyaan penelitian dan selanjutnya hasil penelitian tersebut akan dianalisis.
4.2 Pemerolehan Bentuk Ungkapan Fatis dan Distribusi Ungkapan Fatis Siswa Kelas I – VI SD GPS Binjai
Pemerolehan bahasa khususnya pemerolehan bentuk ungkapan fatis sudah terjadi pada siswa sekolah dasar. Hal itu dikemukakan oleh Djatmika (2012) yang menyatakan bahwa pemerolehan ungkapan fatis pada anak diperkirakan mulai berlangsung manakala seorang anak sudah mencapai usia di atas 3 tahun. Pada usia ini seorang anak sudah mengalami proses perkembangan bahasa pada tahap multiword phrases. Sebuah tahap di mana si anak sudah mampu menuangkan ide di dalam sebuah rangkaian kalimat.
Pemerolehan bentuk ungkapan fatis pada siswa kelas I – VI SD GPS Binjai terjadi secara natural atau alami tanpa disadari oleh siswa SD tersebut, sesuai dengan pendapat dari Simanjuntak (2009 : 105) yang menyatakan bahwa pemerolehan bahasa terjadi secara alamiah tanpa disadari yang melibatkan bahasa pertama (bahasa ibu).
Jadi, pemerolehan ungkapan fatis pada siswa SD GPS Binjai dapat terjadi akibat adanya interaksi siswa sekolah dasar tersebut dengan keluarganya, teman bermain disekitar lingkungan rumahnya, teman sekolah, guru ataupun dari siaran televisi yang ditonton oleh siswa tersebut.
Pendapat di atas juga diperkuat oleh Chomsky dalam Simanjuntak (2009 : 107) yang menyatakan bahwa pemerolehan bahasa terjadi secara genetik atau bahasa berada di otak sejak lahir yang sering disebut juga dengan Hipotesis Kenuranian atau Hipotesis Genetika. Hipotesis Kenuranian Bahasa (HKB) memiliki piranti pemerolehan bahasa (PBB) yang disebut dengan nama Language Acquisition Device (LAD). PBB atau LAD telah dimiliki oleh setiap anak secara nurani atau genetik yang memungkinkan si anak memeroleh bahasa ibunya dengan mudah dan cepat. Bahasa tumbuh dan berkembang secara alami dari dalam anak sesuai dengan kedaan lingkungan. Setiap anak memiliki fakultas bahasa yang akan menciptakan kalimat atau ujaran yang tidak terbatas jumlahnya. Dalam pembentukan kalimat tersebut tidak terlepas dari kompetensi (kemampuan) dan performansi (perbuatan berbahasa. Kedua tahapan tersebut akan membentuk tata bahasa yang baik, sehingga dapat diterima dan dipahami baik bagi penutur atau pendengar dalam proses pemerolehan bahasa
Dalam penelitian ini terlihat ragam penggunaan bentuk ungkapan fatis yang diperoleh siswa kelas I – VI SD GPS Binjai. Language Acquisition Device (LAD) pada siswa kelas I – VI sudah bekerja dengan baik karena siswa sudah menerima tuturan yang mengandung ungkapan fatis kemudian menggunakannya dalam tuturan lisan. Siswa-siswa tersebut sudah memeroleh bentuk ungkapan fatis dan melakukan performansi ungkapan fatis dengan sangat baik kepada temannya atau kepada gurunya sesuai dengan kompetensinya masing-masing. Pada siswa kelas I dan II, pemerolehan ungkapan fatis yang digunakan tidak sesempurna dan sevariatif ungkapan fatis yang digunakan siswa kelas III – VI SD. Hal itu dikarenakan siswa kelas I dan II cenderung lebih tertutup dan malu untuk berkomunikasi ataupun bertutur dengan guru dan siswa dari kelas yang lebih tinggi (Kelas III - VI) sehingga tuturan yang digunakan men-
jadi terbatas dan tidak variatif sedangkan siswa kelas III – VI yang sudah lebih lama mengenal teman-temanya dan gurunya lebih leluasa bertutur untuk mengeluarkan apa yang ada di dalam pikirannya sehingga ungkapan fatis yang diperoleh dan di gunakannya lebih banyak dan variatif.
Uraian di atas juga sesuai dengan pendapat Ruqayyah (2008) yang menyatakan bahwa pada masa sekolah, perkembangan bahasa anak/siswa orientasinya dapat berbeda-beda. ada anak yang lebih impulsif dari pada anak yang lain, lebih refleksif dan berhati-hati, cenderung lebih jelas dan nyata dalam berekspresi, lebih senang belajar dengan bermain-main, sementara yang lain lebih pragmatis dalam pemakaian bahasa. Selama masa sekolah, anak mengembangkan dan memakai bahasa secara unik dan universal. Pada saat itu anak menandai atau memberinya ciri sebagai pribadi yang ada dalam masyarakat itu.
Berikut ini adalah uraian hasil penelitian dan pembahasan pemerolehan bentuk ungkapan fatis dan distribusi ungkapan fatis siswa dari kelas I – VI SD GPS Binjai.
Uraian hasil penelitian dan pembahasan di bawah ini akan memperlihatkan perbedaan penggunaan ungkapan fatis pada siswa kelas I – VI SD GPS Binjai.
4.2.1 Bentuk Ungkapan Fatis dan Distribusi Ungkapan Fatis Siswa Kelas I SD GPS Binjai
Beberapa contoh pemerolehan bentuk ungkapan fatis yang digunakan siswa kelas I SD GPS ketika berkomunikasi dengan teman sekelas dan gurunya terlihat pada data di bawah ini
(14) Konteks : Pagi hari ketika akan mulai belajar di kelas I dan seorang siswa bertanya kepada temannya tentang keberadaan pensil yang dipinjam oleh temannya tersebut
Ce : Hei Tiger. Mana pensilku semalam?
Ti : Yang mana?
Ce : Yang kau pinjam semalam loh Ti : Emang ada?
Ce : Ada Ced!
Ti : Iya lupa aku
Pada tuturan di atas terdapat pemerolehan kata fatis hei dan partikel fatis loh.
Kata fatis hei terletak di awal kalimat deklaratif sedangkan partikel fatis loh terletak di akhir kalimat deklaratif.
(15) Konteks : Pagi hari ketika beberapa siswa baru sampai di sekolah dan kemudian seorang siswa kelas I takut dimarahi karena tidak memakai ikat pinggang kemudian mengatakan pada gurunya bahwa ikat pinggangnya ada di dalam tas
Mi : Mana ikat pinngang kamu. Tiger?
Ti : Ikat pinggang saya ada di dalam tas loh, Miss!
Mi : Kenapa tidak dipakai?
Ti : Lupa Miss
Mi : Ambil sekarang dan pakai!
Ti : Iya Miss
Pada tuturan di atas terdapat pemerolehan partikel fatis loh. Partikel fatis loh terletak di akhir kalimat deklaratif.
(16) Konteks : Pagi hari ketika pelajaran akan dimulai di kelas I dan seorang siswa menyuruh temannya agar tidak ribut di dalam kelas namun temannya tersebut marah.
Al : Bagus, jangan ribut!
Ba : Mana ribut aku Al, si Cedriknya yang ribut Al : Kau kok yang ribut
Ba : Mana ada ya!
Pada tuturan di atas terdapat pemerolehan partikel fatis kok dan ya. Partikel kok terletak di tengah kalimat deklaratif dan partikel fatis ya terletak di akhir kalimat deklaratif.
(17) Konteks :Siang hari ketika setelah jam istirahat, seorang siswa kelas I disuruh masuk kelas gurunya dan siswa tersebut mengatakan kalau salah satu teman sekelasnya tidak mengizinkannya masuk ke dalam kelas
Mi : TIka, ngapain di pintu? Cepat masuk kelas!
Ka : Si Owen nggak ngasih saya masuk kelas,Miss.
Mi : Kenapa?
Ka : Nggak tahu Miss. Nakal kalilah dia itu Miss.
Mi : Panggil kesini si Owen!
Ka : Iya Miss
Pada tuturan di atas terdapat pemerolehan partikel fatis lah. Partikel fatis lah terletak di tengah kalimat deklaratif.
(18) Konteks : Pagi hari ketika siswa masih baris di lapangan, tampak dua orang siswa kelas I yang sedang dimarahi oleh gurunya karena saling dorong sehingga terkena temannya yang lain
Mi : Cedric, Tiger jangan dorong-dorongan. Liat itu kena temanmu yang lain!
Ti : Bukan saya duluan loh Miss. Si Cedric yang duluan dorong Ce : Kamu yang duluan dorong loh
Ti : Nggaklah
Mi : Sudah jangan berantam. Sekarang ikut Miss ke kantor!
Pada tuturan di atas terdapat pemerolehan partikel fatis loh dan lah. Partikel fatis loh dan lah terletak di akhir kalimat deklaratif.
(19) Konteks : Siang hari pulang sekolah ketika seorang siswa menunggu orang tuanya menjemput dan temannya bertanya kenapa dia tidak ikut fullday
Ba : Ngapain disini? Nggak fullday?
Al : Nggak ah Ba : Kenapa?
Al : Mau berobat Gus Ba : Oh gitu
Pada tuturan di atas terdapat pemerolehan partikel fatis ah. Partikel fatis ah terletak di akhir kalimat deklaratif.
(20) Konteks : Pagi hari ketika siswa masih bermain di halaman sekolah, dua siswa kelas satu tampak bercakap-cakap sambil bermain
Ce : Gus, jangan diputar! Aku pening nanti ya!
Ba : Pelan aja
Ce : Jangan! Kalo aku pening nanti mati Ba : Mana mungkin
Ce : Iya loh
Pada tuturan di atas terdapat pemerolehan partikel fatis ya dan loh. Partikel fatis ya dan loh terletak di akhir kalimat deklaratif.
Jadi, berdasarkan kajian Psikolinguistik Genetik Kognitif bahwa LAD pada siswa kelas I tersebut sudah bekerja dengan baik terbukti siswa sudah memperoleh tuturan yang mengandung ungkapan fatis serta menggunakannya dalam tuturan lisan dengan teman sekelas dan juga dengan gurunya. Akan tetapi, kompetensi (kemampuan) dan performansi (pelaksaan berbahasa) siswa kelas I dalam menggunakan tuturan yang mengandung ungkapan fatis tersebut belum berjalan