= Jumlah siswa
4. Metode Tutor Sebaya a Pengertian Metode
Sebagai komponen dalam pengajaran, metode mempunyai peran yang sangat penting dan patut dipertimbangkan guna meningkatkan kualitas pembelajaran. tanpa adanya metode, kegiatan interaksi edukatif tidak akan berproses secara baik. Oleh karena itu, setiap guru hendaknya mempersiapkan metode untuk mengajar sebelum guru melaksanakan pembelajaran.
Istilah metode sering kali disamakan dengan istilah pendekatan, strategi dan teknik sehingga dalam penggunaannya juga sering saling bergantian, yang pada intinya adalah suatu cara untuk mencapai tujuan pendidikan yang ditetapkan atau cara yang tepat dan cepat untuk meraih tujuan pendidikan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. (Moh. Roqib, 2009: 90)
Metode secara bahasa berarti cara yang telah teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai suatu maksud. (W.J.S. Poerwadarwminta, 1999: 649). Selain itu metode juga dapat diartikan sebagai cara yang digunakan oleh pendidik dalam menyampaikan materi dengan menggunakan bentuk tertentu, seperti ceramah, diskusi (halaqah), penugasan, dan lainnya.
48
Sedangkan secara garis besar, metode adalah rencana menyeluruh yang berhubungan dengan penyajian materi pelajaran secara teratur dan tidak saling bertentangan, yang didasarkan pada pendekatan tertentu.
Guru harus mampu menciptakan suatu situasi yang dapat memudahkan tercapainya tujuan pendidikan. Metodologi merupakan upaya sistematis untuk mencapai tujuan, oleh karena itu diperlukan pengetahuan tentang tujuan itu sendiri. Tujuan harus dirumuskan dengan sejelas-jelasnya sebelum seseorang menentukan dan memilih metode pembelajaran yang akan digunakan.
Metode merupakan bagian yang sangat penting dan tidak terpisahkan dari semua komponen pendidikan lainnya, seperti tujuan, materi, evaluasi, situasi dan lain-lain. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan Pendidikan Agama diperlukan suatu pengetahuan tentang metodologi Pendidikan Agama, dengan tujuan agar setiap pendidik agama dapat memperoleh pengertian dan kemampuan sebagai pendidik yang profesional.
Metode digunakan oleh guru untuk mengkreasikan lingkungan belajar dan mengkhususkan aktivitas dimana guru dan siswa terlibat selama proses pembelajaran berlangsung. Biasanya metode digunakan melalui salah satu strategi, tetapi juga tidak menutup kemungkinan beberapa metode berada dalam strategi
49
yang bervariasi, artinya penetapan metode dapat divariasikan melalui strategi yang berbeda tergantung pada tujuan yang akan dicapai dan konten proses yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran. (Abdul Majid, 2014: 21)
Jadi dapat disimpulkan bahwa, metode adalah suatu cara yang paling tepat, yang digunakan seorang guru dalam proses pembelajaran agar suatu materi pelajaran dapat disampaikan secara terarah, efisien dan sisitematis untuk mencapai tujaun belajar.
b. Tutor Sebaya
Pembelajaran metode tutor sebaya adalah metode belajar yang melibatkan siswa secara aktif, salah satu siswa akan mengajarisiswa lain yang mengalami kesulitan dalam memahami materi yang diberikan oleh guru.
Peer teaching merupakan latihan mengajar yang dilakukan oleh siswa kepada teman-teman calon guru. Selain itu, peer teaching merupakan kegiatan pembelajaran yang dilakukan seorang siswa kepada siswa lainnya dan salah satu siswa itu lebih memahami materi pembelajaran. (Abdul Majid, 2014: 206)
Tutor sebaya adalah sistem belajar kelompok, setiap kelompok dipimpin oleh ketua kelompok, ketua kelompok bertanggung jawab terhadap kelompoknya. Tutor sebaya adalah pembelajaran yang dilakukan dengan cara seorang guru menunjuk beberapa siswa yang memiliki kemampuan lebih dalam membaca
50
Al-Qur‟an untuk menjadi tutor bagi temannya yang belum mampu
dalam membaca Al-Qur‟an. Siswa yang ditunjuk oleh guru menjadi tutor salah satu diantara kriterianya adalah memiliki hubungan emosional yang baik, bersahabat dan menunjang situasi tutoring.
Tutur sebaya adalah siswa di kelas tertentu yang memiliki kemampuan di atas rata-rata anggotanya yang memiliki tugas untuk membantu kesulitan anggota dalam memahami materi ajar. Dengan menggunakan metode tutor sebaya diharapkan setiap anggota lebih mudah dan leluasa dalam menyampaikan masalah yang dihadapi sehingga siswa yang bersangkutan terpacu semangatnya untuk mempelajari materi yang diajarkan dengan baik. Belajar dengan teman sebaya dapat menghilangkan kecanggungan dan bagi siswa yang menjadi tutor akan lebih menguasai pelajaran tersebut.
Menurut Suharsimi Arikunto (2002: 62), adakalanya seorang siswa lebih mudah menerima keterangan yang diberikan oleh kawan sebangku atau kawan yang lain karena tidak adanya rasa enggan atau malu untuk bertanya, guru dapat meminta bantuan kepada anak-anak yang menerangkan kepada kawan-kawannya. Pelaksanaan ini disebu tutor sebaya karena mempunyai usia yang hampir sebaya.
51
tutor sebaya merupakan bagian dari cooperative learning
atau belajar bersama. Dalam model ini siswa yang kurang mampu dibantu belajar oleh teman-temanya sendiri yang lebih mampu dalam suatu kelompok. Bentuknya adalah satu tutor membimbing satu teman, atau satu tutor membimbing satu teman dalam satu kelompok. Dari banyak pengalaman model peer tutoring lebih jalan dari pada tutor oleh seorang guru karena situasi siswa dengan tutor lebih dekat, sedangkan dengan guru agak jauh.
Pembelajaran hendaknya bekerja sama dalam kebaikan, sebagaimana tercantum dalam Q.S. al-Maidah: 2 yang berbunyi:
Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya”. (Q.S. al-Maidah: 2)
Inti dari metode pembelajaran tutor sebaya ini adalah pembelajaran yang pelaksanaannya dengan membagi kelas dalam kelompok-kelompok kecil, yang sumber belajarnya bukan hanya guru melainkan juga teman sebaya yang pandai dan cepat dalam menguasai suatu materi tertentu. Dalam pembelajaran ini, siswa yang menjadi tutor hendaknya mempunyai kemampuan yang lebih
52
tinggi dibandingkan dengan teman lainnya, sehingga pada saat dia memberikan bimbingan dia sudah dapat menguasai bahan yang akan disampaikan.
Tujuan penggunaan metode dengan tutor sebaya adalah sebagai berikut:
1) Dapat mengatasi keterbatasan media atau alat pembelajaran. 2) Dengan adanya kelompok, guru bertugas sebagai fasilitator
karena kesulitan yang dihadapi kelompok/siswa dapat diatasi melalui tutor sebaya yang ditunjuk guru karena kepandaiannya. 3) Dengan kerja kelompok anak yang kesulitan dapat dibantu
dengan tutor sebaya tanpa perasaan takut dan malu.
4) Dapat meningkatkan partisipasi dan kerjasama siswa serta belajar bertanggung jawab.
5) Dengan belajar kelompok tutor sebaya melatih siswa untuk belajar bersosialisasi.
6) Menghargai orang lain.
Menurut Suharsimi Arikunto (2002: 62-63) seseorang yang ditunjuk sebagai tutor tidak harus yang paling pandai, tetapi yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
1) Dapat diterima atau disetujui oleh siswa sehingga tidak ada perasaan takut atau malu untuk bertanya.
2) Dapat menerangkan bahan-bahan materi yang dibutuhkan siswa.
53
3) Tidak tinggi hati atau keras hati terhadap sesama teman.
4) Mempunyai daya kreatifitas yang cukup untuk memberikan bimbingan kepada temannya.
Memilih siswa sebagai tutor yang memenuhi kriteria di atas memang tidak mudah. Akan tetapi dapat diatasi dengan jalan memberikan petunjuk sejelas-jelasnya tentang apa yang harus dilakukan oleh tutor. Petunjuk dari guru sangat diperlukan bagi setiap tutor, karena hanya guru yang mengetahui jenis kelemahan siswa, sedangkan tutor hanya membantu melaksanakan perbaikan.
Langkah-langkah metode tutor sebaya sebagai berikut: 1) Pilihlah materi dan bagi dalam sub-sub materi.
2) Guru membentuk kelompok siswa secara heterogen sebanyak sub-sub materi.
3) Masing-masing kelompok mempelajari materi itu dengan dipandu siswa yang pandai.
4) Beri waktu yang cukup untuk persiapan.
5) Setiap kelompok menyampaikan sub materi sesuai dengan tugas yang telah diberikan.
6) Berilah kesimpulan dan klarifikasi seandainya ada pemahaman siswa yang perlu diluruskan. (Saminanto, 2010: 48)
Adapun proses dari model pembelajaran tutor sebaya terdiri dari langkah-langkah berikut:
54
Pada tahap ini, guru mempelajari bahan ajar dengan seksama dan mengidentifikasi bagian-bagian sulit dari isi bahan ajar kemudian menyusun strategi untuk membantu siswa meghadapi kesulitan agar bisa mempelajari bagian yang sulit. 2) Persiapan
Pada tahap ini, guru menyiapkan bahan ajar tambahan seperti variasi, contoh-contoh penyelesaian soal atau LKS. 3) Pelaksanaan
Pada tahap ini, guru mengidentifikasi peserta didik yang menghadapi kesulitan dalam memahami bahan ajar yang diberikan dan sulit dipahami dan melaksanakan tutorial dengan menggunakan bahan dan langkah-langkah yang telah disiapkan.
4) Evaluasi
Pada tahap ini, guru melakukan tanya jawab untuk meyakinkan bahwa peserta didik tersebut telah mengatasi kesulitan belajarnya dan memahami materi yang sedang dipelajarimdan memberikan tugas mandiri.
Karena keidentikannya dengan metode simak-menyimak, maka strategi tutor sebaya juga memiliki keefektifan yang sama dengan metode simak-menyimak, antara lain (Munjahid, 2007: 151-153):
55
2) Menambah kelancaran hafalan. 3) Menghindari kesalahan.
4) Melatih mental.
5) Melatih diri untuk tartil.
Menurut Zuhairini (1983: 107) dikemukakan bahwa segi positif metode Tutor Sebaya itu adalah:
a. Dalam waktu yang relatif singkat, cepat dapat diperoleh penguasaan dan keterampilan yang diharapkan.
b. Para siswa akan memiliki pengetahuan yang siap karena lebih mudah menangkap bahasa yang disampaikan teman sebayanya.
c. Akan menanamkan pada anak-anak kebiasaan belajar secara rutin dan disiplin.
Menurut Zuhairini (1983: 107). Segi negatif metode Tutor Sebaya sebagai berikut:
a. Menghambat perkembangan dan daya inisiatif murid. b. Kurang memperhatikan penyesuaian dengan lingkungan. c. Membentuk kebiasaan-kebiasaan yang kaku dan otomatis. d. Membentuk pengetahuan verbalis dan mekanis.
Sedangkan menurut Djamarah (2006: 26-27) kelebihan dan kekurangan metode tutor sebaya adalah sebagai berikut:
56
a) Adakalanya hasilnya baik bagi beberapa anak yang mempunyai perasaan takut atau enggan kepada guru. b) Bagi tutor akan mempunyai akibat memperkuat konsep
yang sedang dibahas dengan memberitahukan kepada anak lain seolah-olah ia menelaah serta menghafalkannya kembali. Penguasaan peserta didik terhadap bahan pelajaran lebih mendalam, juga melatih murid berpikir ilmiah.
c) Menumbuhkan sikap obyektif, percaya diri, bersungguh- sungguh, berani serta bertanggung jawab.
d) Mempererat hubungan antar sesama peserta didik sehingga mempertebal perasaan sosial.
2) Kekurangan metode tutor sebaya
a) Peserta didik yang dibantu sering belajar kurang serius, karena hanya berhadapan dengan kawannya, sehingga hasilnya kurang memuaskan.
b) Ada beberapa anak yang menjadi malu bertanya, karena takut rahasianya diketahui kawannya.
c) Pada kelas-kelas tertentu pekerjaan tutoring akan sukar dilaksanakan, karena perbedaan jenis kelamin antara tutor dengan peserta didik yang diberi program perbaikan.
57
d) Guru akan mengalami kesulitan dalam mengevaluasi secara tepat proses pemecahan masalah yang dilakukan peserta didik.
e) Tidak semua peserta didik yang pandai atau cepat waktu belajarnya dapat mengerjakan dengan kawan-kawannya. Metode tutor sebaya pada dasarnya menuntut adanya partisipasi aktif dari peserta didik dalam proses pembelajaran yang dilakukan. Ada beberapa prinsip belajar dalam metode tutor sebaya yang dapat menunjang tumbuhnya cara siswa belajar aktif dalam proses pembelajaran yang dilakukan, yaitu:
1) Stimulasi belajar
Pesan yang diterima siswa dari guru melalui informasi biasanya dalam bentuk stimulus. Stimulus tersebut dapat berbentuk verbal/bahasa, visual, auditif, taktik, dan lain-lain. Ada dua cara yang mungkin membantu para siswa agar pesan tersebut mudah diterima. Cara pertama perlu adanya pengulangan sehingga membantu siswa dalam memperkuat pemahamannya. Cara kedua adalah siswa menyebutkan kembali pesan yang disampaikan guru kepada siswa.
2) Perhatian dan motivasi
Perhatian dan motivasi merupakan prasyarat utama dalam proses belajar mengajar. Ada beberapa cara untuk
58
menumbuhkan perhatian dan motivasi, antara lain melalui cara mengajar yang bervariasi, mengadakan pengulangan informasi, memberikan stimulus baru, misalnya melalui pertanyaan- pertanyaan kepada siswa memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyalurkan keinginan belajarnya, menggunakan media dan alat bantu yang menarik perhatian siswa, seperti gambar, foto, diagram, dan lain-lain. Sedangkan motivasi belajar bisa tumbuh dari dua hal, yakni tumbuh dari dalam dirinya sendiri dan tumbuh dari luar dirinya.
3) Respons yang dipelajari
Keterlibatan atau respons siswa terhadap stimulus guru bisa meliputi berbagai bentuk seperti perhatian, proses internal terhadap informasi, tindakan nyata dalam bentuk partisipasi kegiatan belajar seperti memecahkan masalah, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru, menilai kemampuan dirinya dalam menguasai informasi, melatih diri dalam menguasai informasi yang diberikan dan lain-lain.
4) Penguatan
Sumber penguat belajar untuk pemuasan kebutuhan berasal dari luar dan dari dalam dirinya. Penguat belajar yang berasal dari luar diri seperti nilai, pengakuan prestasi siswa, persetujuan pendapat siswa, ganjaran, hadiah dan lain-lain, merupakan cara untuk memperkuat respons siswa. sedangkan
59
penguat dari dalam dirinya bisa terjadi apabila respons yang dilakukan siswa betul-betul memuaskan dirinya dan sesuai dengan kebutuhannya.
5) Pemakaian dan pemindahan
Belajar dengan memperluas pembentukan asosiasi dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk memindahkan apa yang sudah dipelajari pada situasi lain yang serupa di masa mendatang. Asosiasi dapat dibentuk melalui pemberian bahan yang bermakna, berorientasi kepada pengetahuan yang telah dimiliki siswa, memberi contoh yang jelas, memberi latihan yang teratur, pemecahan masalah yang serupa, melakukan dalam situasi yang menyenangkan. (Ahmadi & Widodo, 2004: 213-216)
Dengan membiasakan peserta didik menggunakan langkah- langkah yang kreatif dalam memecahkan masalah, diharapkan dapat membantu untuk mengatasi kesulitan dalam belajar. Tujuan dari pendekatan tutor sebaya adalah untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik, dapat menghilangkan kecanggungan/malu, bahasa teman sebaya lebih mudah dipahami sehingga kesulitan- kesulitan yang dihadapi lebih mudah diselesaikan karena sumber belajar tidak hanya guru melainkan dari teman sekelas yang nilai KKM nya lebih tinggi.
60 B. Kajian Pustaka
Beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah:
1. Penelitian yang dilakukan oleh Siti Aniroh, 2016 dengan judul “Upaya Meningkatkan Kreativitas dan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam (PAI) Materi Baca Tulis AL-Qur‟an (BTQ) Melalui Metode
Peer Teaching Pada Siswa Kelas IV Di Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Polobogo Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang Tahun Pelajaran 2015/2016. Kesimpulan hasil akhir menunjukkan bahwa pada mata pelajaran Baca Tulis Al-Qur‟an materi membaca yang sesuai dengan tanda waqaf pada surat pendek menggunakan metode peer teaching
dapat meningkatkan prestasi belajar siswa yang ditandai dengan adanya peningkatan hasil belajar setiap siklus, yaitu siklus I (LKS 64%, membaca 52%, tes formatif 61%), siklus II (LKS 68%, membaca 73%, tes formatif 66%) dan siklus III (LKS 86%, membaca 82%, tes formatif 75%).
2. Penelitian yang dilakukan oleh Hanifah, 2012 dengan judul “Upaya Meningkatkan Prestasi Menghafal Al-Qur‟an Melalui Strategi Peer Lesson Pada Siswa Kelas V Madrasah Ibtidaiyah Ma‟arif Tuntang
Semarang Tahun Pelajaran 2011/2012. Temuan penelitian ini menunjukkan peningkatan disetiap siklusnya. Dalam hal motivasi menunjukkan peningkatan secara bertahap. Hal ini bisa dilihat pada tingkat rutinitas dan kerjasama siswa, tingkat rutinitas pada siklus I baru mencapai 31 poin (45,6%) pada siklus II meningkat lagi menjadi
61
50 poin (73,5%) pada siklus III meningkat menjadi 62 poin (91,2%), tingkat kerjasama siswa pada siklus I sebesar 33 poin (48,5%) pada siklus II meningkat menjadi 48 poin (70,6%) pada siklus III meningkat lagi sebesar 61 poin (89,7%). Dalam hal prestasi menghafal juga mengalami peningkatan secara bertahap. Pada pra siklus ketuntasan mencapai 23,5% siswa. pada siklus I dicapai prosentase ketuntasan sebesar 41,2% pada siklus II dicapai prosentase ketuntasan belajar sebesar 76,5 % pada siklus III dicapai ketuntasan belajar sebesar 100%. Maka dapat disimpulkan bahwa terjadi
peningkatan prestasi menghafal siswa kelas V MI Ma‟arif tuntang
tahun pelajaran 2011/2012 dalam hal menghafal Al-Qur‟an. Mengacu pada temuan tersebut maka strategi peer lesson dapat menjadi pilihan strategi untuk pembelajaran materi menghafal Al-Qur‟an.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Indrawati, 2018 dengan judul
“Penerapan Metode Pembelajaran Tutor Sebaya (Peer Tutoring)
Terhadap Hasil Belajar Al-Qur‟an Hadis Di MTsN 8 Aceh Besar. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh aktivitas guru mengalami peningkatan dari 79,15% pada siklus I dan 81,66% pada siklus II. Hasil belajar siswa mengalami peningkatan secara klasikal dari 60% pada siklus I menjadi 100% pada siklus II. Dari hasil penelitian dan analisis data dapat disimpulkan bahwa penerapan metode tutor sebaya dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi tajwid di MTsN 8 Aceh Besar. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa metode tutor
62
sebaya cukup efektif dibuktikan pada siklus I dan siklus II diterapkan dalam pembelajaran Al-Qur‟an Hadits pada materi tajwid.
Berdasarkan hasil penelitian tentang penerapan metode tutor sebaya dalam pembelajaran di atas, semuanya menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa melalui penerapan metode tutor sebaya dalam pembelajaran. Penelitian yang dilakukan oleh para peneliti di atas memiliki kesamaan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu penggunaan metode tutor sebaya untuk meningkatkan hasil belajar, sedangkan perbedaannya terdapat pada tujuan, subjek, tempat dan waktu pelaksanaan penelitian.
63 BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN