BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN
13. Bagian Biaya Produksi dan Umum
3.6 Jenis-jenis Metode Upah Perangsang Yang Berkaitan Dengan Produktivitas
3.6.1 Metode Upah Perangsang Berdasarkan Jumlah Produks
Pada sistem upah perangsang ini, pekerja dibayar berdasarkan banyaknya unit produksi yang dihasilkan pekerja dalam selang waktu tertentu. Ada beberapa cara perhitungan yang dikenal dalam rencana upah perangsang berdasarkan produk yang dihasilkan, yaitu :
a. Upah Per potong Proporsional (Straight Piecework Plan)
Sistem ini paling banyak digunakan. Dalam hal ini pekerjaan dibayarkan berdasarkan seluruh produk yang dihasilkannya dikalikan tarif upah per potong didasarkan atas penyelidikan waktu untuk menentukan waktu standarnya. Contoh :
Dalam keadaan normal para pekerja bisa menghasilkan 200 unit selama 8 jam.
6
Ini dipakai sebagai standar untuk penentuan tarif. Jadi kalau upah yang umum perpotong/unitnya adalah Rp 500,00 : 200 = Rp 2,50. Jadi kalau ada seseorang karyawan yang bisa menghasilkan 240 unit dalam 8 jam, maka ia akan menerima 240 x Rp 2,50 = Rp 600,00. Tetapi kalau ada seorang karyawan yang dalam satu hari kerjanya hanya bisa menghasilkan 180 unit, ia tetap menerima upah minimal yaitu Rp 500,00.
Keuntungan dari metode Straight Piecework Plan adalah : 1. Rencana ini sederhana dan mudah diterapkan pada pekerja 2. Rencana ini adil dan biayanya dapat diterima pekerja 3. Majikan akan mendapat keuntungan berupa hasil produksi
Kerugian dari metode Straight Piecework Plan adalah :
1. Tarif satuan dinyatakan dengan uang, akibatnya tarif harus diubah jika terjadi perubahan tingkat upah.
2. Rencana ini tidak dapat digunakan jika suatu proses bergantung pada proses lainnya.
3. Pekerja mempunyai kecenderungan untuk bekerja melebihi kemampuannya, karena tidak ada batas maksimum, sehingga mutu akan cenderung menurun
b. Upah Per potong Taylor (Taylor Differential Piece – Rate Plan)
Dalam sistem upah berdasarkan tarif potong ini Taylor berpandangan bahwa kepentingan para pekerja sama pentingnya dengan kepentingan pengusahanya, yang oleh Babbage dan Ure disebut sebagai mutuality of interest yakni bahwa kesejahteraan pekerja dan pengusaha tidak dapat dipisahkan satu
sama lain. Bertitik tolak dari pandangan seperti diungkapkan di atas, Taylor kemudian memperkenalkan suatu sistem upah yang dikenal dengan sebutan Taylor’s Differential Piece Rates atau sistem upah dengan “ tarif potongan berbeda “.
Ketentuan dari sistem upah ini adalah sebagai berikut :
1. Upah didasarkan kepada tarif per unit produk dengan tarif per produk berbeda-beda.
2. Sistem upah per-potong Taylor ini didasarkan atas pengaturan tarif yang berbeda untuk karyawan yang bekerja di atas dan di bawah rata-rata. Mereka yang berhasil mencapai output rata-rata (standar) atau melebihinya akan menerima upah per potong yang lebih besar dari mereka yang bekerja di bawah rata-rata.
Keuntungan dari cara ini adalah penghasilan yang diterima pekerja lebih tinggi dan ongkos satuan produk lebih murah, selain itu ongkos total akan lebih rendah karena produk yang tidak memenuhi syarat akan berkurang.
Sedangkan kelemahannya adalah tidak memberikan kesempatan kepada para pemula untuk mendapatkan hasil yang layak, tidak ada jaminan bagi pekerja yang bekerja di bawah standar sehingga mereka harus bekerja keras dan menimbulkan keadaan tegang. Selain itu standar yang ditentukan biasanya tinggi, karena harus didasarkan pada penelitian yang seksama.
c. Metode Menurut Tugas dan Bonus Gantt
Metode ini merupakan perbaikan dari metode Taylor dengan menggantikan tarif produksi di bawah standar. Gannt mengatakan upah
minimum per jam, sebagai jaminan terhadap pekerja. Upah jam minimum sama dengan upah jam normal, jika pekerja tetap di bawah prestasi standar. Bagi pekerja yang dapat menyelesaikan dalam waktu standar yang telah ditetapkan, akan menerima suatu premi atau bonus, pekerja yang telah melakukan tugasnya dalam waktu standar mendapatkan tambahan bonus dalam perbandingan dengan waktu yang dihemat. Sistem upah dari Gannt ini bertitik tolak dari suatu tugas tertentu dengan waktu yang telah ditetapkan. Jika tugas itu dapat diselesaikan dalam waktu yang telah ditetapkan, maka pekerja menerima bonus. Itulah sebabnya sistem upah dari Gantt disebut Task and Bonus System.
Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut : 1. Untuk upah dibawah standar
E = Ta . R
2. Untuk upah di atas standar E = R . Ts + P% . Ts . R Di mana :
E = upah yang diterima.
R = tarif upah per satuan waktu.
Ta = waktu aktual atau jumlah jam kerja.
Ts = waktu standar atau jumlah jam kerja standar. P = persen bonus.
Keuntungan dari rencana upah ini adalah sederhana, adil karena pekerja mendapat penghargaan atas jerih payahnya dan pekerja dapat dengan mudah menghitung sendiri jumlah pendapatannya, selain itu rencana ini dapat diterapkan
pada semua jenis pekerjaan yang dapat ditentukan standarnya dan upah perangsang yang diperoleh cukup tinggi.
Sedangkan kelemahannya adalah dalam penentuan standar, sehingga dapat memisahkan pekerja yang berpengalaman dan yang tidak berpengalaman.
d. Metode Merrick
Metode ini memberikan tarif rendah bagi pekerja yang hanya mencapai produksi dibawah 83% standar yang telah ditetapkan. Tarif menengah yaitu 10% lebih tinggi dari tarif rendah untuk pekerja yang berprestasi di antara 83% sampai dengan 100% dari standar tersebut, dan 20% lebih tinggi dari tarif rendah untuk pekerja yang dapat mencapai standar.
Rumus yang dapat digunakan :
1. Jika pekerja dapat mencapai 83% dari standar E = N x Rp
2. Jika pekerja dapat mencapai 83% sampai 100% dari standar E = N x 110% x Rp
3. Jika pekerja dapat mencapai lebih dari 100% dari standar E = N x 120% x RP
Di mana :
E = upah yang diterima
N = jumlah produk yang dihasilkan RP = tarif upah per unit produksi
Keuntungan dari metode merrick adalah rencana tersebut memiliki nilai upah yang tinggi yang dapat merubah perilaku pekerja pemula jadi pekerja rata- rata dan dari rata-rata menjadi berpengalaman.
Kelemahannya adalah rencana tersebut tidak semudah rencana upah perangsang bonus gantt dan taylor, lebih sulit untuk menjelaskan kepada pekerja, dan tidak ada jaminan adanya perhitungan hasil upah sendiri.
e. Metode Efisiensi Dari Emerson7
Metode efisiensi dari Emerson termasuk agak sulit terutama bagi para pekerja, karena bonus yang akan diberikan terbagi dalam banyak kelompok efisiensi mulai dari 67% sampai dengan 100% atau lebih, dengan nilai bonus dari 0,25% sampai 20%.
Penggunaan rumus :
1. Jika efisiensi pekerja mencapai 67% sampai 100% E = Ta . R + P . Ta . R
2. Jika pekerja mencapai nilai efisiensi 100% atau lebih E = Ta . R + ( Ts – Ta ) . R + 0,20 Ta . R
3. Jika prestasi mencapai di atas standar E = Ts . R + 0,2 Ta . R
Di mana :
E = upah yang diterima P = persen bonus
Ta = waktu aktual atau jumlah jam kerja R = tarif upah per satuan waktu Ts = waktu standar atau jumlah jam standar
7
Keuntungan dari cara ini adalah dapat digunakan untuk mengetahui kemajuan hasil kerja karyawan dan merangsang karyawan untuk meningkatkan prestasinya berupa kemampuan kerja. Sedangkan kelemahannya adalah cara ini sangat sukar dihitung oleh para karyawan dan membutuhkan banyak kerja tulis menulis.