• Tidak ada hasil yang ditemukan

MetodePenanamanNilai Moral PadaAnakUsiaDini

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. MetodePenanamanNilai Moral PadaAnakUsiaDini

Metode secara etimologi berasal dari bahasa Yunani metha dan hodos.Metha berarti dibalik atau dibelakang, sedangkan hodos berarti jalan. Jadi methahodos berarti disebalik jalan (Siswoyo 2005:82).

Menurut Prawiradilaga (2007:20) metode adalah prosedur, urutan, langkah-langkah dan cara yang digunakan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Dalam pelaksanaan penanaman moral pada anak usia dini terdapat beberapa metode yang dapat digunakan oleh guru atau pendidik.

Namun sebelum memilih dan menerapkan metode dan pendekatan yang perlu diketahui bahwa guru atau pendidik harus memahami benar metode atau pendekatan yang akan dipakai, karena ini akan berpengaruh terhadap optimal tidaknya keberhasilan penanaman nilai moral tersebut.

Akan tetapi, sebelum memilih dan menerapkan metode dan pendekatan yang ada harus diketahui bahwa guru atau pendidik serta memahami benar metode atau pendekatan yang akan dipakai. Oleh sebab itu, akan sangat berpengaruh terhadap berhasil atau tidaknya penanaman moral tersebut. Metode yang digunakan dalam penanaman moral pada anak usia dini sangatlah bervariasi, antara lain: bercerita, bernyanyi, bermain, bersajak, karya wisata dan nasehat (Fakhrudin 2010:191-197).

a. Bercerita

Bercerita dapat dijadikan metode untuk menyampaikan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Dalam cerita atau dongeng dapat ditanamkan berbagai macam nilai moral, nilai agama, nilai sosial, nilai budaya dan sebagainya. Kita mungkin masih ingat pada masih kecil dulu, orang tua selalu mengantarkan tidurnya tidur anak-anaknya dengan cerita atau dongeng. Cerita yang dapat digunakan dalam rangka menanamkan nilai moral misalnya melalui kisah-kisah teladan. Misalkan cerita tentang nabi-nabi dan para rasulnya.

Tidaklah mudah untuk dapat menggunakan metode bercerita ini.

Dalam bercerita, seorang guru harus menerapkan beberapa hal, agar apa yang dipesankan dalam cerita itu dapat sampai kepada anak didik.

Beberapa hal yang dapat digunakan untuk memilih cerita dengan fokus moral, diantaranya pilih cerita yang mengandung nilai baik dan buruk yang jelas, pastikan bahwa nilai baik dan buruk itu berada pada batas jangkauan kehidupan anak, dan hendaknya menghindari cerita yang

“memeras” perasaan anak atau menakut-nakuti secara fisik.

Dalam bercerita, seorang guru dapat menggunakan alat peraga untuk mengatasi keterbatasan anak yang belum mampu berpikir secara abstrak. Alat peraga yang dapat digunakan sebagai penunjang berupa boneka, tanaman, benda-benda tiruan, dan lain-lain. Selain itu, guru atau pendidik dapat memanfaatkan kemampuan olah vokal yang dimilikinya untuk membuat cerita itu lebih menarik perhatian siswa. Adapun

teknik-teknik bercerita yang dapat dilakukan diantaranya membaca langsung dari buku dongeng atau cerita; menggunakan ilustrasi dari buku, menggunakan papan flannel, menggunakan media boneka, menggunakan media audio visual, bermain peran atau sosiodrama

Tujuan metode bercerita adalah agar anak dapat membedakan perbuatan yang baik dan buruk sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bercerita guru dapat menanamkan nilai-nilai Islam pada anak didik, seperti menunjukkan perbedaan perbuatan baik dan buruk serta ganjaran dari setiap perbuatan.

Metode cerita dapat menjadikan suasana belajar menyenangkan dan menggembirakan dengan penuh dorongan dan motivasi sehingga pelajaran atau materi pendidikan itu dapat dengan mudah diberikan.

Menurut Achmad Hidayat Arief Imron (2004:35)

Cerita sebaiknya diberikan secara menarik dan membuka kesempatan bagi anak untuk bertanya dan memberikan tanggapan setelah guru selesai bercerita. Cerita akan lebih bermanfaat jika dilaksanakan sesuai minat, kemampuan dan kebutuhan anak.

Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam bercerita dengan gambar menurut Eddy Supriadi (2003:13) adalah:

1. Gambar harus jelas dan tidak terlalu kecil

2. Guru memperhatikan gambar tidak terlalu tinggi dan harus terlihat 3. Gambar-gambar digunakan harus menarik.

4. Gambar yang ditutup setiap kali guru memulai kembali.

b. Bernyanyi

Pendekatan penerapan metode bernyanyi adalah suatu pendekatan pembelajaran secara nyata yang mampu membuat anak

senang dan gembira. Bernyanyi jika digunakan dalam penanaman moral dapat dilakukan melalui ungkapan kata dan nada, serta ritmik yang menjadikan suasana pembelajaran menjadi lebih menyenangkan. Pesan-pesan pendidikan berupa nilai dan moral yang dikenalkan pada anak tentunya tidak mudah diterima dan dipahami secara baik.

Bernyanyi sebagai salah satu metode dalam penanaman moral dapat dilakukan melalui penyisipan makna pada syair atau kalimat-kalimat yang ada dalam lagu tersebut. Lagu-lagu yang baik untuk kalangan anak-anak harus memperhatikan kriteria: (1) syair atau kalimatnya tidak terlalu panjang, (2) mudah dihafal oleh anak, (3) ada misi pendidikan, (4) sesuai dengan karakter dan dunia anak, (5) nada yang diajarkan mudah dikuasai oleh anak (Hidayat 2005:4.20).

c. Teladan atau contoh

Anak mempunyai kemampuan yang menonjol dalam hal meniru.

Oleh karena itu, seorang guru hendaknya dapat dijadikan sebagai teladan atau contoh dalam bidang moral. Baik kebiasaan baik maupun buruk bagi guru akan mudah dilihat dan kemudian diikuti oleh anak. Di sini, figur seorang guru sangat penting untuk pengembangan moral anak. Artinya, nilai-nilai yang tujuannya akan ditanamkan oleh guru kepada anak.

Menurut Cheppy hari Cahyono (1995:364-370), guru moral yang ideal adalah mereka yang dapat menempatkan dirinya sebagai fasilisator, pemimpin, orang tua, dan bahkan tempat menyandarkan kepercayaan, serta membantu orang lain dalam melakukan refleksi.

Dalam pendekatan ini, profil ideal guru menduduki tempat yang sentral dalam pendidikan moral. Beberapa para ahli berpendapat dalam hal ini, diantaranya Durkheim, John Wilson dan Kohlberg. Durkheim (dalam berpendapat bahwa belajar adalah satu proses sosial yang berkaitan dengan upaya mempengaruhi peserta didik sedemikian rupa, sehingga mereka dapat tumbuh selaras dengan posisi, kadar intelektualitas, dan kondisi moral yang diharapkan oleh lingkungan sosial.

Sementara Kohlberg berpendapat bahwa tugas utama guru adalah memberi kontribusi terhadap proses perkembangan moral anak.

Sebagaimana dalam firman Allah dalam QS. Al Azhab (33) : 21



“sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (Departemen Agama RI, 2008:420).

Tugas seorang guru disini adalah mengembangkan kemampuan peserta didik dalam berpikir, mempertimbangkan, dan mengambil keputusan (Cheppy hari Cahyono 1995:364-370).

d. Pembiasaan dalam perilaku

Penanaman moral sebaiknya lebih banyak dilakukan melalui pembiasaan-pembiasaan tingkah laku dalam proses pembelajaran.

Misalkan, berdoa sebelum dan sesudah belajar, berdoa sebelum makan dan minum, mengucap salam kepada guru dan teman. Pembiasaan ini

hendaknya dilakukan secara konsisten.Jika anak melanggar diberi peringatan.

Pendekatan dalam penanaman nilai moral menurut W.Huitt (dalam Fakhrudin 2010:200-202) diantaranya adalah inculcation, moral development, analysis, klarifikasi nilai dan action learning.

1) Inculcation

Pendekatan ini bertujuan untuk menginternalisasikan nilai tertentu kepada siswa serta mengubah nilai-nilai dari para siswa yang mereka refleksikan sebagai nilai tertentu yang diharapkan. Metode yang dapat digunakan dalam pendekatan ini diantaranya modelling, penguatan positif atau negatif, alternatif permainan, game dan simulasi, serta role playing.

2) Moral development

Tujuan pendekatan ini adalah membantu siswa mengembangkan pola-pola penalaran yang lebih kompleks berdasarkan seperangkat nilai yang lebih tinggi, serta untuk mendorong siswa mendiskusikan alasan-alasan pilihan dan posisi nilai mereka, tidak hanya berbagi dengan lainnya, akan tetapi untuk membantu perubahan dalam tahap-tahap penalaran moral siswa. Metode yang dapat digunakan, diantaranya episode dilema moral dengan diskusi kelompok kecil.

3) Analisis

Pendekatan ini bertujuan untuk membantu siswa menggunakan pikiran logis dan penelitian ilmiah untuk memutuskan masalah dan pertanyaan nilai, membantu siswa menggunakan pikiran rasional,

proses-proses analitis dalam menghubungkan dan mengkonseptualisasikan nilai mereka, serta membantu siswa menggunakan pikiran rasional dan kesadaran emosional untuk mengkaji perasaan personal, nilai-nilai, dan pola-pola perilaku. Metode ini digunakan dalam diskusi rasional yang terstruktur yang menuntut aplikasi rasio sama sebagai pembuktian, pengujian prinsip-prinsip, penganalisaan kasus-kasus analog dan riset, serta debat.

4) Klasifikasi nilai

Tujuan pendekatan ini adalah membantu siswa menjadi sadar dan mengidentifikasi nilai-nilai yang mereka miliki, yang juga dimiliki oleh orang lain, membantu siswa mengkomunikasikan secara terbuka dan jujur dengan orang lain tentang nilai-nilai mereka, dan membantu siswa menggunakan pikiran rasional dan kesadaran emosional untuk mengkaji perasaan personal, nilai-nilai dan pola berikutnya. Metode yang digunakan dalam pendekatan ini, antara lain role playing games, simulasi dan diskusi kelompok kecil.

5) Action learning

Tujuan dari pendekatan ini adalah memberi peluang kepada siswa agar bertindak secara personal ataupun sosial berdasarkan nilai-nilai mereka, mendorong siswa agar memandang diri mereka sendiri sebagai makhluk yang otonom interaktif dalam hubungan sosial personal, melainkan sebagai anggota suatu sistem sosial. Metode yang digunakan dalam pendekatan ini adalah metode-metode yang didaftar untuk analisis

dan klarifikasi nilai, keterampilan praktis dalam pengorganisasian kelompok dan hubungan antar pribadi.

Dari beberapa metode dan pendekatan dalam penanaman moral pada anak usia dini di atas, metode yang paling banyak digunakan adalah metode bercerita. Dengan bercerita guru harus perlu memperhatikan beberapa hal agar cerita yang dibawakan mampu menarik perhatian siswa. Dengan perhatian yang cukup baik dari siswa, maka pesan moral yang akan disampaikan oleh guru untuk lebih mudah diserap.

Melalui metode bercerita dapat disampaikan beberapa pesan moral kepada anak dan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru, diantaranya adalah cerita yang dibawakan harus memuat pesan moral yang disampaikan guru, tema-tema yang disampaikan kepada anak tidak monoton, olah vokal dan mimik wajah dalam bercerita perlu diperhatikan, durasi cerita yang disampaikan kepada anak tidak terlalu panjang dan menggunakan alat peraga sebagai penunjang bercerita. Hal ini senada dengan yang dikemukakan oleh Hidayat (2005:4.12) bahwa cerita atau dongeng dapat ditanamkan berbagai macam nilai moral, nilai agama, nilai sosial, nilai budaya dan sebagainya.

e. Nasehat

Metode nasehat merupakan cara mendidik yang bertumpu pada bahasa baik secara lisan maupun tulisan. Metode nasehat ini bertujuan untuk memberikan kesadaran bagi yang mendengar dan membacanya.

Sebagaimana dalam firman Allah SWT dalam surah Al-Ashar (103:3)



“kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebijakan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran”. (Departemen Agama RI, 2008:601).

Sebagaimana yang diketahui bahwa dalam diri anak terdapat pembawaan yang dapat terpengaruh oleh kata-kata yang didengar. Oleh karena itu nasehat mempunyai pengaruh dalam membentuk kepribadian anak. Dalam ajaran agama Islam yang perlu ditanamkan pada anak adalah budi pekerti yang baik, sebab manakala budi pekerti sudah naik maka dengan sendirinya moral akan tertanam pula. Sejalan dengan fungsi nasehat dalam penanaman nilai moral, Alquran dalam surah Lukman:21/16: atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan).

Sesungguhnya Allah Maha halus, maha teliti. (Departemen Agama RI:2008:412)..

Dalam kaitannya dengan masalah penanaman dan pengembangan moral, maka penulis mengemukakan salah satu ayat yang terdapat dalam surah An-Nahl:16/125:



Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dari pelajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan-mu, Dia-lah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk. (Departemen Agama RI,2008:281).

Perintah untuk melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat adalah ajaran agama Islam, manakala hal yang seperti ini sudah tertanam dalam diri anak hal-hal yang baik, maka dengan sendirinya mudahlah mengulurkan tangan untuk memberikan bantuan. Dengan demikian hal yang perlu dilakukan oleh orang tua adalah menanamkan nilai-nlai kebaikan kepada anak agar dengan kebaikan itu senantiasa menggugah perasaannya untuk memberikan bantuan kemanusiaan. Lagi pula dalam kehidupan sosial dewasa ini dimana umat Islam banyak di timpah berbagai masalah yang memerlukan uluran tangan para donatur Islam untuk mengatasi krisis yang dihadapi oleh umat Islam. Dengan kondisi seperti ini perlu diperkenalkan kepada anak, agar kelak tumbuh dalam dirinya perasaan dengan penuh keikhlasan dan suka rela.

B. Konsep pendidikan Islam tentang penanaman nilai-nilai moral

Dokumen terkait