SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.i) Pada Prodi
Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar
MELISA AMELIA 105 190 1429 11
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 1437 H / 2015 M
Melisa Amelia 105190142911 “Penanaman Nilai Moral Pada Anak Usia Dini Menurut Konsep Pendidikan Islam”. (dibimbing oleh Maryam dan Abd.
Samad Tahir).
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan tentang metode penanaman nilai moral kepada anak usia dini dan menjelaskan konsep pendidiikan Islam tentang penanaman nilai-nilai moral pada anak usia dini.
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library Research) dengan pendekatan kualitatif. Dalam hal ini penelitii berusaha memfokuskan pada nilai moral serta bahan pustaka yang dianggap ada kaitannya dengan nilai moral pada anak usia dini. Variabell dalam penelitian ini adalah penanaman nilai moral pada anak usia dinii sebagai variabel bebas dan konsep pendidikan Islam sebagai variabell terikat. Teknik pengumpulan data yang ditempuh penulis adalah melakukan riset kepustakaan (library research) yaitu suatu analisis yang penulis pergunakan dengan membaca dan menelaah beberapa literatur Teknik pengumpulan data, diolah melalui deskriptif kualitatif..
Hasil penelitian ini membuktikan dalam menanamkan nilai moral moral pada anak usia dini digunakan beberapa metode seperti metode cerita, bernyanyi, teladan atau contoh, pembiasaan, dan nasehat,bahkan yang paling terpenting adalah metode keteladanan dari guru atau orang tua, karena pada dasarnya anak cenderung meniru orang yang dikaguminya. Dan konsep pendidikan islam tentang penanaman nilai-nilai moral pada anak usia dini yaitu Ta’dib, Tarbiyyah dan Ta’lim. Ketiga konsep tersebut mempunyai peran masing-masing yang berbeda.
HALAMAN JUDUL... i
BERITA ACARA ... ii
PENGESAHAN SKRIPSI ... iii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iv
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v
PRAKATA ... vi
ABSTRAK ... ix
DAFTAR ISI... x
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 5
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Manfaat Penelitian ... 6
E. DefinisiIstilah ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 7
A. AnakUsiaDini... 7
B. PengertianMoralitas ... 14
C. Penalaran Moral... 18
D. MinimnyaPendidikan Moral ... 20
BAB III METODE PENELITIAN... 29
A. JenisPenelitian ... 29
B. Variable Penelitian ... 29
C. TeknikPengumpulan Data... 29
D. TeknikAnalisis Data... 30
BAB IV HASIL PENELITIAN... 32
A. MetodePenanamanNilai Moral PadaAnakUsiaDini ... 32
B. KonsepPendidikan Islam TentangPenanamanNilai-Nilai Moral PadaAnakUsiaDini ... 41
BAB V PENUTUP... 55
A. Kesimpulan ... 55
B. Saran ... 56
DAFTAR PUSTAKA... 57
LAMPIRAN... 59
1 A. Latar Belakang
Sebuah peradaban akan menurun apabila terjadi demoralisasi pada masyarakatnya. Bahkan banyak pakar atau orang-orang bijak yang berpendapat bahwa faktor moral adalah hal utama yang harus dibangun terlebih dahulu agar bisa membangun sebuah masyarakat yang tertib, aman dan sejahtera. Disini faktor moral menjadi fondasi atau dasar untuk membangun sesuatu yang baik dan ideal. Salah satu kewajiban utamanya harus dijalankan oleh para orang tua dan para pendidik adalah menanamkan dan melestarikan nilai-nilai moral kepada anak-anak kita.
Nilai-nilai moral yang akan ditanamkan akan membentuk karakter (akhlak mulia) yang merupakan fondasi penting bagi terbentuknya sebuah tatanan masyarakat yang beradab dan sejahtera selain itu ada hubungan erat antara faktor moral dan faktor ekonomi yang dapat diraih oleh suatu Negara. Jadi masyarakatnya mempunyai etika yang baik dalam menjalani kehidupannya, contohnya mereka memiliki semangat kemandirian, kerja keras, bertanggung jawab pada keluarga dan masyarakat, tak suka berfoya-foya, sederhana, disiplin, dan jujur. Masyarakat yang memiliki karakter seperti itu saat ini sering disebut sebagai masyarakat madani.
Untuk menjadi masyarakat yang berkarakter atau menjadi masyarakat madani, masyarakat suatu Negara perlu mengadopsi nilai-nilai moral yang
bersumber dari ajaran seluruh agama karena inti ajaran dari seluruh agama adalah membentuk akhlak manusia.
Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini, usia dini merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter seseorang. Banyak pakar mengatakan bahwa kegagalan penanaman karakter pada usia dini, akan membentuk pribadi yang bermasalah dimasa dewasanya kelak. Sejak dini anak-anak perlu dirawat dan dididik dengan nilai-nilai moral agama, seperti nilai-nilai keislaman dalam keluarga, dan kebajikan agar anak-anak tumbuh menjadi anak yang kokoh dan berkarakter baik. Sejak dini anak-anak sudah harus diperingati dan dicegah dari perilaku dan sifat buruk. Hal ini diperlukan agar mereka mempunyai dasar agar kuat bagi kehidupannya kelak dimasa datang.
Pendidikan usia dini memegang peranan yang sangat penting dan menentukan bagi sejarah perkembangan anak selanjutnya sebab pendidikan anak usia dini merupakan fondasi bagi dasar kepribadian anak. Anak yang mendapat pembinaan yang baik sejak usia dini akan dapat meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan fisik dan mentalnya, dan tentunya akan berdampak pada peningkatan prestasi belajar, etos kerja dan produktivitas, akhirnya anak akan lebih mampu untuk mandiri dan mengoptimalkan potensi yang dimiliki.
Salah satu yang sangat berperan dalam pendidikan anak usia dini adalah orang tua anak sendiri, namun demikian peran guru atau pendidik anak usia dini juga penting karena sebagai seorang pendidik anak usia
dini (di TPA, kelompok bermain, TK/RA atau lainnya), memiliki kesempatan awal yang unik dan penting dalam mendidik seorang anak.
Pendidik anak usia dini dapat membantu anak memperoleh pengetahuan, keterampilan (motorik, kemandirian, sosialisasi) dan kebiasaan (kebersihan, antri dan menjalankan disiplin) serta kesenangan untuk belajar, pengetahuan, keterampilan, atau sikap tersebut merupakan hal-hal yang bermanfaat untuk kesuksesan anak dikemudian hari, karena pendidikan anak usia dini merupakan dasar dari pembentukan kepribadian seseorang dimasa selanjutnya. Kegagalan pendidikan pada masa usia dini dapat menyebabkan seorang anak malas belajar atau gagal di sekolah, kurang mandiri, kurang bisa bersosialisasi, bahkan mungkin anak-anak tersebut akan menjadi anak yang antisosial, sehingga suka menyakiti orang lain atau tawuran, atau menjadi koruptor nantinya. Nah akibat-akibat buruk tadi semuanya berhubungan dengan pendidikan moral dan nilai-nilai agama.
Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial dimana manusia hanya akan berkembang dengan baik bilamana mendapatkan bantuan dari orang lain. Proses pemberian bantuan dari generasi tua kepada generasi muda dengan melalui proses pendidikan.
Pendidikan agama dalam arti pembinaan kerpibadian, sebenarnya telah mulai sejak anak lahir, bahkan sejak dalam kandungan.
Pendidikan agama dalam keluarga, terjadi secara tidak formal dan dapat terjadi melalui semua pengalaman anak, baik melalui ucapan yang
didengarnya, tindakan, perbuatan dan sikap yang dilihatnya maupun perlakuan yang dirasakannya.
Satu fenomena sosial membuktikan begitu banyak anak yang berhasil dalam pendidikannya, karena dukungan orang tua dan lingkungan yang hormanis, dan begitu juga halnya banyak anak mengalami kegagalan dalam pendidikannya disebabkan oleh lingkungan mereka yang kurang ideal. Oleh karena itu keberhasilan pendidikan pada dasarnya terletak pada kepedulian orang tua dan lingkungan masyarakat sekitarnya. Faktor lain yang turut menentukan keberhasilan pendidikan adalah kedisiplinan anak didik, karena itu menjadi tanggung jawab orang tua, para pendidik dan pemerintah untuk menumbuhkan rasa kedisiplinan kepada anak didik.
Seperti halnya dengan penanaman nilai-nilai keagamaan kepada anak dalam rangka menumbuhkan kepribadian dengan maksud agar terbentuknya nilai-nilai moral yang dapat melahirkan insan yang berkemanusiaan.
Sayyid Sabiq (1978:67) memberikan ulasan mengenai tujuan pendidikan Islam yakni:
Puncak tujuan dari pendidikan keagamaan itu ialah supaya jiwa setiap manusia dapat terdidik dengan baik sempurna.
Kepentingannya ialah agar ia dapat menunaikan kewajiban- kewajibannya dengan cukup, baik kepada Allah swt atau keluarganya, terhadap saudara-saudaranya atau kawannya sesuai dengan makna peri kemanusiaan. Selain itu supaya ia membiasakan kita benar, menghukumi sesuatu dengan baik dan hak serta melebarkan sayap kebaikan diantara sesama umat manusia.
Dengan demikian penanaman moral pada anak usia pra sekolah sangat menentukan keberhasilan pendidikan. Struktur dasar kepribadian diletakkan terutama dalam masa kanak-kanak bermula dalam kalangan keluarga dan kemudian dalam kalangan kelompoknya.pengaruh teman atau kelompok sepermainan sangat menentukan proses tumbuhnya kepribadian seorang anak pada masa usia sekolah. Karena itu sangat menarik untuk dikaji dalam bentuk suatu karya tulis ilmiah tentang penanaman nilai moral dan metode yang digunakannya.
B. Rumusan Masalah
Dari uraian mengenai latar belakang tersebut di atas, maka penulis dapat mengemukakan beberapa pokok permasalahan yang akan dijadikan sebagai inti pembahasan di dalam tulisan proposal ini.
1. Bagaimana metode penanaman nilai moral kepada anak usia dini?
2. Bagaimana konsep pendidikan Islam tentang penanaman nilai-nilai moral pada anak usia dini?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini untuk:
1. Untuk memperoleh informasi tentang metode penanaman nilai moral pada anak usia dini.
2. Untuk mengetahui konsep pendidikan Islam tentang penanaman nilai moral pada anak usia dini.
D. Manfaat penelitian
Manfaat dari penelitian tentang penanaman nilai moral pada anak usia dini menurut konsep pendidikan Islam ini diharapkan dapat berguna baik secara ilmiah maupun secara praktis:
1. Sebagai sumbangan pemikiran dalam usaha penanaman nilai moral terhadap anak usia dini menurut konsep pendidikan Islam.
2. Sebagai usaha untuk memilih metode cerita, pembiasaan, dan ketauladanan dalam menanamkan nilai moral terhadap anak usia dini.
3. Untuk melatih penulis dalam kegiatan ilmiah, dalam rangka mengkaji pengetahuan untuk dapat dimanfaatkan.
E. Definisi Istilah
Untuk menghindari kesalahpahaman atau kekeliruan dalam memahami maka perlu ditegaskan istilah judul tersebut. Adapun istilah yang perlu penulis tegaskan:
1. Moral
Moral adalah tingkah laku manusia yang mendasarkan diri pada kesadaran dan terikat oleh keharusan untuk mencapai tingkah laku yang baik sesuai dengan nilai serta norma yang berlaku dalam lingkungannya.
2. Konsep pendidikan islam
Konsep pendidikan islam adalah pembinaan kerpibadian, sebenarnya telah mulai sejak anak lahir, bahkan sejak dalam kandungan.
Pendidikan agama dalam keluarga, terjadi secara tidak formal dan dapat terjadi melalui semua pengalaman anak, baik melalui ucapan yang didengarnya, tindakan, perbuatan dan sikap yang dilihatnya maupun perlakuan yang dirasakannya.
7
TINJAUAN PUSTAKA
A. Anak Usia Dini
1. Pengertian Anak Usia Dini
Anak usia dini menurut Undang-undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 14 adalah anak yang berada pada jenjang pendidikan sebelum pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Masa anak usia dini sering disebut dengan istilah “Golden Age”
atau masa emas. Pada masa ini hampir seluruh potensi anak mengalami masa peka untuk tumbuh dan berkembang secara cepat dan hebat.
Perkembangan setiap anak tidak sama karena setiap individu memiliki perkembangan yang berbeda. Makanan yang bergizi dan seimbang serta stimulasi yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tersebut. Apabila diberikan stimulasi secara intensif dari lingkungan, maka anak akan mampu menjalani tugas perkembangan dengan baik.
2. Karakter anak usia dini
Berbeda dengan fase usia anak lainnya, anak usia dini memiliki karakteristik yang khas. Beberapa karakteristik untuk anak usia dini tersebut berikut.
a. Memiliki rasa ingin tahu yang besar
Siti Aisya (2001:14) mengemukakan bahwa:
Anak usia dini sangat tertarik dengan dunia sekitarnya. Dia ingin mengetahui segala sesuatu yang terjadi di sekelilingnya. Pada masa bayi, ketertarikan ini ditunjukkan dengan meraih dan memasukkannya ke dalam mulut benda apa saja yang berada dalam jangkauannya. Pada anak usia 3-4 tahun, selain sering membongkar pasang segala sesuatu untuk memenuhi rasa ingin tahunya, anak juga mulai gemar bertanya meski dalam bahasa yang sangat sederhana.
Pertanyaan usia dini biasanya diwujudkan dengan kata ‘apa’ atau
‘mengapa’ sebagai pendidik, kita perlu memfasilitasi keingintahuan anak tersebut, misalnya dengan menyediakan berbagai benda atau tiruannya yang cukup murah untuk dibongkar pasang sehingga kita tidak merasa anak telah banyak merusak berbagai perlengkapan kita yang cukup mahal. Selain itu setiap pertanyaan anak perlu di layani dengan jawaban yang bijak dan komprehensif, tidak sekedar menjawab. Bahkan jika perlu, keingintahuan anak bisa kita rangsang dengan mengajukan pertanyaan balik pada anak sehingga terjadi dialog yang menyenangkan, namun tetap ilmiah. Maka anak yang mendapatkan pembinaan yang baik sejak usia dini akan dapat meningkatkan prestasi belajar.
b. Merupakan pribadi unik
Meskipun banyak terdapat kesamaan dalam pola umum perkembangan, setiap anak meskipun kembar memiliki keunikan masing- masing, misalnya dalam hal gaya belajar, minat, dan latar belakang keluarga. Keunikan ini dapat berasal ari faktor genetis (misalnya dalam hal minat). Dengan adanya keunikan tersebut, pendidik perlu melakukan pendekatan individual selain pendekatan kelompok sehingga keunikan tiap anak dapat terakomodasi dengan baik. Misalnya, pada kelompok bermain untuk kelompok anak 3 tahun terdapat minat yang berbeda-beda.
Contonya, Ila suka diajak menari atau menyanyi dan tubuhnya mudah mengikuti irama musik. Sedangkan Zaky lebih suka mencoret-coret atau menggambar, dan Lutfi lebih suka berjungkir balik atau memanjat pohon di banding kegiatan lainnya.
c. Suka Berfantasi dan Berimajinasi
Anak usia dini sangat suka membayangkan dan mengembangkan anak berbagai hal jauh melampaui kondisi nyata. Anak dapat menceritakan berbagai hal dengan sangat meyakinkan seolah-olah dia melihat atau mengalaminya sendiri, padahal itu adalah hasil fantasi atau imajinasinya saja. Kadang, anak usia dini juga belum dapat memisahkan dengan jelas antara kenyataan dan fantasi sehingga orang dewasa sering menganggapnya berbohong.
Zulkifli Lubis (1986:16) berpendapat bahwa:
Fantasi adalah kemampuan membentuk tanggapan baru dengan pertolongan tanggapan yang sudah ada. Biasanya, anak-anak
sangat luas dalam berfantasi. Mereka dapat membuat gambaran khayalan yang luar biasa, misalnya kursi di balik di jadikan kereta kuda, taplak meja di jadikan perahu, dan lain-lainnya. Sedangkan imajinasi adalah kemampuan anak untuk menciptakan suatu objek atau kejadian tanpa di dukung data nyata. Salah satu bentuk adanya proses imajinasi pada anak usia 3-4 tahun adalah munculnya teman imajiner. Teman imajiner dapat berupa orang, hewan atau benda yang di ciptakan anak dalam khayalannya untuk berperang sebagai seorang teman. Teman imajiner ini tampil dalam imajinasi anak lengkap dengan nama dan mampu melakukan segala sesuatu layaknya anak-anak. Oleh karena itu, anak usia 3-4 tahun sering kita dapati sedang berbicara sendiri, seolah-olah ada yang mengajaknya bicara. Serta anak mulai masuk sekolah, teman imajiner ini sedikit demi sedikit menghilang dari kehidupannya.
Fantasi dan imajinasi pada anak sangat penting bagi pengembangan kreativitas. Oleh karena itu, selain perlu di arahkan agar secara perlahan anak mengetahui perbeaan khayalan dengan kenyataan, fantasi dan imajinasi tersebut juga perlu di kembangkan melalui berbagai kegiatan misalnya bercerita atau mendongeng.
d. Masa paling potensial untuk belajar
Anak usia dini sering juga di sebut dengan istilah golden age atau usia emas karena pada rentang usia ini anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat pada perkembangan otak misalnya terjadi proses pertumbuhan yang sangat pesat pada berbagai aspek.
Pada perkembangan otak misalnya, terjadi proses pertumbuhan otak yang sangat cepat pada 2 tahun pertama usia anak. Ketika lahir, berat otak bayi
± 350 gram, umur 3 bulan naik menjadi 500 gram dan umur 1,5 tahun naik lagi menjadi ± 1 kg. setelah bayi lahir, jumlah sel saraf tidak dapat membela diri lagi. Namun, juluran-julurannya mampu bercabang dan membuat ranting-ranting hingga usia lanjut. Bila ada rangsangan untuk
belajar maka ranting dan cabang ini akan semakin rimbun. Tetapi bila tidak digunakan maka cabang-cabang tersebut akan menyusut. Jadi, pertumbuhan berat otak bukan karena bertambahnya jumlah sel saraf, tetapi karena tumbuhnya percabangan juluran. Selain perkembangan otak, usia prasekolah merupakan waktu yang paling optimal untuk berkembangan otak, usia prasekolah merupakan waktu yang paling optimal untuk perkembangan motorik anak.
Bowlby (2003:21) mengemukakan bahwa: hubungan yang positif dan membangun pada anak usia dini sangat penting untuk perkembangan kognitif dan emosi sosialnya.
Oleh karena itu, usia dini terutama dibawa 2 tahun menjadi masa yang peling peka potensial bagi anak yang mempelajari sesuatu. Pendidik perlu memberikan berbagai simulasi yang tepat agar masa peka ini tidak terlewatkan begitu saja, tetapi diisi dengan hal-hal yang dapat mengoptimalkan tumbuh kembang anak.
e. Menunjukkan sikap egosentris
Egosentris berasal dari kata ego dan sentris. Ego artinya aku, sentris artinya pusat. Jadi, egosentis, artinya “ berpusat pada aku”, artinya anak usia dini pada umumnya hanya memahami suatu dari sudut pandangan sendiri, bukan sudut pandangan orang lain. Anak yang egosentris lebih banyak berpikir dan berbicara tentang diri sendiri dari pada tentang orang lain dan tindakannya terutama bertujuan menguntungkan dirinya. Hal ini terlihat dari perilaku anak, misalnya masih
suka berebut mainan, menangis atau merengek ketika keinginannya tidak terpenuhi, adiknya atau kakaknya, dan sebagainya.
Setidaknya ada 3 bentuk egosentrisme, yaitu sebagai berikut:
a. Diberi peran sebagai pimpinan. Anak sok berkuasa (bossy), tidak peduli pada orang lain, tidak mau bekerja sama dan sibuk berbicara tentang dirinya sendiri.
b. Merasa inferior, anak akan memfokuskan semua permasalahan pada dirinya karena merasa tidak berharga di dalam kelompok. Anak inferior biasanya mudah di pengaruhi dan disuruh orang lain. Karena dia merasa perangnya dalam kelompok yang sangat kecil maka anak inferior bersikap egosentris.
c. Merasa jadi korban, anak merasa di perlakukan tidak adil sehingga mudah marah pada semua orang. Keinginannya untuk berperan dalam kelompok sangat kecil sehingga akhirnya kelompok cenderung mengabaikan kehadirannya.
Egosentrisme pada anak ini baru merugikan bagi penyesuaian diri dan egosentrisme sedikit demi sedikit mulai berkurang. Perkembangan anak memasukkan anak usia dini pada masa praoperasional (2-7 tahun).
Salah ciri pada masa praoperasinal ini adalah bentuk bersifat egosentris.
Oleh karena itu, peran pendidik dalam hal ini adalah membantu menguragi egosentrisme anak dengan berbagai kegiatan, misalnya mengajak anak mendengarkan cerita (story telling), melati kepedulian sosial dan empati anak dengan member bantuan pada anak yatim atau
korban bencana, memutar film tentang konflik kemanusiaan lalu di bahas bersama-sama, dan lain-lain.
f. Memiliki rentang daya konsentrasi pendek
Sering kali kita saksikan bahwa anak usia dini cepat sekali berpindah dari suatu kegiatan ke kegiatan yang lainnya. Anak usia ini memang mempunyai rentang perhatian yang sangat pendek sehingga perhatiannya mudah teralihkan pada kegiatan lain. Hal ini terjadi terutama apabila kegiatan sebelumnya dirasa tidak menarik perhatiannya lagi. Berg, mengatakan bahwa rentang perhatian anak usia 5 tahun dapat duduk tenang memperhatikan sesuatu adalah sekitar 10 menit, kecuali kalau hal- hal yang membuatnya senang. Sebagai pendidik, kita perlu memperhatikan karakteristik ini sehingga selalu berusaha membuat suasana yang menyenangkan dalam mendidik mereka. Jika perlu ada pengarahan pada anak maka pada waktu untuk pengarahan tersebut sebaiknya kurang dari 10 menit.
g. Sebagai bagian dari makhluk sosial
Anak usia ini mulai suka bergaul dan bermain dengan teman sebayanya. Ia mulai belajar berbagi, mengalah, dan antri menunggu giliran saat bermain dengan teman-temannya. Melalui interaksi sosial dengan teman sebaya ini, anak terbentuk konsep dirinya. Anak juga belajar bersosialisasi dan belajar untuk diterima di lingkungannya. Jika dia bertindak mau menang sendiri, teman-temannya akan segera menjauhinya. Dalam hal ini, anak akan belajar untuk berperilaku sesuai
harapan sosialnya karena ia membutuhkan orang lain dalam lingkungannya.
B. Pengertian Moralitas
Yang dimaksud dengan moral yaitu secara etimologis kata
“moral” berasal dari bahasa latin “mos”, yang artinya tata cara, adat istiadat atau kebiasaan, sedangkan jamaknya adalah “mores”. Dalam arti adat istiadat, kata “moral” mempunyai arti yang sama dengan kata Yunani
“ethos” yang berarti “etika”. Dalam bahasa Arab kata “moral” berarti budi pekerti yang berarti kata ini sama dengan “akhlak”, sedangkan dalam bahasa Indonesia kata “moral” dikenal dengan arti “kesusilaan”.
Menurut Driyarkara yang dikutip dalam bukunya Bambang Daroeso (1989:22) bahwa moral berarti nilai yang sebenarnya bagi manusia, itu artinya moral merupakan kesempurnaan sebagai manusia atau kesusilaan yaitu tuntutan kodrat manusia.
Jadi dapat disimpulkan bahwa moral merupakan tingkah laku manusia yang mendasarkan diri pada kesadaran dan terikat oleh keharusan untuk mencapai tingkah laku yang baik sesuai dengan nilai serta norma yang berlaku dalam lingkungannya.
Pada saat di lahirkan tidak ada anak yang memiliki hati nurani atau skala nilai, akibatnya, tiap bayi yang baru lahir dapat dianggap amoral atau nonmoral, dan tidak seorang anak pun dapat diharapkan mengembangkan kode moral sendiri. Sebaliknya, tiap anak harus diajarkan standar kelompok tentang sesuatu yang benar yang salah.
Belajar berperilaku dengan cara yang disetujui masyarakat merupakan proses yang panjang dan lama dan terus berlanjut hingga masa remaja. Belajar berperilaku merupakan salah satu tugas perkembangan yang penting dimasa kanak-kanak. Sebelum anak masuk sekolah, mereka diharapkan mampu membedakan yang benar dan yang salah dalam situasi yang sederhana dan meletakkan dasar perkembangan hati nurani. Sebelum masa kanak-kanak berakhir, anak diharapkan mengembangkan skala nilai dan hati nurani untuk membimbing mereka bila harus mengambil keputusan moral.
Dalam mempelajari sikap moral agar menjadi orang yang bermoral terdapat empat pokok utama yang perlu dipelajari oleh seorang anak yaitu:
1. Mempelajari apa yang diharapkan kelompok sosial ari anggotanya sebagaimana dicantumkan dalam hukum, kebiasaan, dan peraturan.
2. Mengembangkan hati nurani.
3. Belajar mengalami perasaan rasa bersalah dan rasa malu bila berperilaku tidak sesuai dengan harapan kelompok.
4. Mempunyai kesempatan untuk berinteraksi sosial sehingga dapat belajar apa saja yang diharapkan anggota kelompok.
Pokok pertama yang penting dalam pelajaran menjadi pribadi yang bermoral adalah belajar apa yang diharapkan kelompok dari anggotanya, harapan tersebut diperinci bagi seluruh anggota kelompok dalam bentuk hukum, kebiasaan dan peraturan. Dalam kelompok sosial,
tindakan tertentu dianggap “benar” atau “ salah” karena tindakan itu dianggap menunjang atau menghalangi kesejahteraan anggota kelompok.
Anak kecil tidak dituntut untuk tunduk pada hukum dan kebiasaan, seperti anak yang dituntut oleh anak yang lebih besar. Tapi setelah mencapai usia sekolah, mereka secara bertahap diajari hukum yang berlaku di masyarakat. Misalnya tidak boleh mengambil barang di toko tanpa membeli, tidak boleh merusak barang milik orang lain, tidak boleh merampas atau merebut barang orang lain, harus bertingkah dan berkata sopan dan hormat pada orang lain. Apalagi kepada yang lebih tua atau dapat membantu meraka yang membutuhkan.
Agar terbiasa bersikap benar sejak dini maka anak kecil pun diharapkan mempelajari dan mematuhi peraturan yang diberikan orang tua dan orang lain yang berwenang. Kegagalan dalam mematuhi aturan akan mendatangkan hukuman atau kurangnya penerimaan sosial pada diri anak. Jadi peraturan berfungsi sebagai pedoman perilaku anak dan sebagai sumber motivasi untuk bertindak sesuai harapan sosial.
Pokok kedua dalam belajar menjadi orang bermoral adalah mengembangkan hati nurani sebagai kendali internal bagi perilaku individu. Hati nurani adalah kemampuan untuk mengetahui apayang benar dan apa yang salah. Hati nurani juga dikenal dengan sebutan “cahaya hati”, super ego atau polisi internal. Sebagai polisi internal hati nurani tak henti-hentinya mengamati kegiatan individu dan member teguran keras
apabila individu menyimpang dari aturan yang lurus. Jadi suara hati nurani merupakan standar internal yang mengendalikan perilaku individu.
Pokok ketiga dalam belajar menjadi orang bermoral adalah pengembangan perasaan bersalah dan rasa malu. Perasaan tersebut akan didapat anak jika ia tidak dapat mematuhi standar yang diterapkan hati nurani. Rasa bersalah disini sejenis evaluasi dari khusus yang negatif dan terjadi bila seorang individu mengakui bahwa perilakunya berbeda dengan nilai moral yang dirasakannya wajib untuk dipenuhi.
Pokok keempat belajar menjadi orang bermoral adalah mempunyai kesempatan melakukan interaksi dengan anggota kelompok sosial. Interaksi sosial memegang peranan penting dengan perkembangan moral. Melalui interaksi sosial anak belajar bagaimana orang lain mengevaluasi perilakunya. Jika evaluasinya menguntungkan, anak akan diterima baik oleh teman-temannya, namun jika hasil evaluasinya tidak menguntungkan maka anak akan diabaikan oleh teman- temannya oleh karena itu mereka akan terus menyesuaikan dengan kode moral yang disetujui dirumah sedangkan kode ini mungkin bertentangan dengan kode kelompok. Mereka pun akan tetapi dinilai tidak matang secara moral dan seperti semua perilaku yang tidak matang, ketidakmatangan moral merupakan rintangan besar bagi penerimaan sosial.
Adanya pengaruh yang kuat dari kelompok sosial teman anak dibandingkan dengan kelompok sosial dari rumah, menyebabkan anak
perlu diperhatikan jenis teman-temannya maksudnya keluarga perlu mengupayakan agar anak dapat berinteraksi sosial dengan anak lain yang kode moralnya sesuai dengan kode di rumah dan di sekolah, agar perilaku anak dapat mengarah kepenyesuaian pribadi dan moral yang baik.
C. Penalaran Moral
Sebagai pendidik anak usia dini, perlu menanamkan kebiasaan yang baik untuk anak didik agar anak terbiasa melakukan hal-hal baik atau berperilaku baik. Dengan terbiasanya mereka akan melakukan kebiasaan baik dengan senang hati. Ingatlah bahwa perilaku moral dilaksanakan dengan sukarela. Moralitas memang dibangun sejak masa kanak- kanak, namun moralitas sesungguhnya tidak muncul pada masa kanak-kanak melainkan pada masa remaja. Perkembangan moral adalah bagian dari proses pembelajaran anak atas aturan-aturan dasar.
Selain itu perkembangan moral juga termasuk dalam pemahaman akan emosi dan kekuatannya. Serta kemampuan untuk mengenali bahwa emosi tersebut dapat memotivasi individu untuk selalu melakukan sesuatu yang tidak selalu baik atau adil bagi orang lain. Dengan demikian penanaman moral adalah bagaimana individu berperilaku terhadap orang lain dalam kehidupan. Lingkungan utama yang mempengaruhi penanaman dan perkembangan nilai moral adalah lingkungan keluarga, sekolah dan hubungan-hubungan sosial. Sehingga tugas orang dewasa dalam membantu penanaman nilai moral adalah mengalih tugaskan dan memberikan pengertian atas peraturan yang ada pada kebudayaan anak.
Ketika seorang pendidik membantu anak untuk mengembangkan prinsip- prinsip moral, penting juga untuk mengembangkan pemahaman akan agama atau kepercayaan terhadap anak.
Tujuan utama dari pendidikan moral adalah untuk mengembangkan kesadaran akan benar dan salah atau lebih dikenal dengan hati nurani, idealnya seorang belajar untuk mengerjakan hal yang baik bukan karena takut akan akibat atau konsekwensinya bila ia melanggar, tetapi karena ada aturan ari dalam dirinya yang ia pelajari dari keluarga dan budaya. Disni anak diarahkan untuk memiliki penalaran moral.
Dengan kata lain betapapun bermanfaatnya suatu perilaku moral terhadap nilai kemanusiaan, namun jika perilaku tersebut tidak disertai dan didasarkan pada penalaran moral maka perilaku tersebut belum dapat dikatakan sebagai perilaku moral yang mengandung nilai moral. Dengan demikian suatu perilaku moral dianggap memiliki nilai moral jika perilaku tersebut dilakukan secara sadar atas kemauan sendiri dan bersumber dari pemikiran atau penalaran moral.
Penalaran moral merupakan faktor penentu yang melahirkan perilaku moral, oleh karena itu untuk menemukan perilaku moral yang sebenarnya, kita hanya dapat mempelajarinya melalui penalaran, artinya pengukuran moral yang benar tidak sekedar mengamati perilaku moral yang nampak tetapi harus melihat pada penalaran moral yang mendasari keputusan perilaku moral tersebut.
D. Minimnya Pendidikan Moral
Banyaknya maslah sosial muncul dan berkembang dewasa ini yang melanda dunia serta merusak peradaban manusia begitu kompleks.
Mulai dari kerusakan moral sampai kepada masalah narkoba. Semua itu, akibat dari kurangnya pendidikan nilai moral sejak usia dini. Untuk itu perlu mendapat perhatian serius bukan hanya para pendidik tetapi perlu mendapat perhatian dari pemerintah. Sebab hal tersebut menyangkut keutuhan bangsa dan Negara, yakni menyelamatkan generasi muda dari ambang kehancuran. Perhatian dan uluran tangan dari seluruh pihak yang terkait mulai dari orang tua siswa, pendidik sampai kepada pemerintah merupakan kewajiban yang utama, khususnya pada penegak hukum, mengambil tindakan tegas dan berdiri diatas ketentuan hukum, agar generasi muda dapat selamat dari mara bahaya yang akan mengancam keselamatannya. Hal ini dijelaskan dalam Alquran surah An-Nisa ayat : 9
Terjemahnya:
Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah dibelakang mereka yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar. (Departemen Agama RI, 2008:78).
Kesejahteraan dalam ayat ini bukan hanya terpenuhi kebutuhan materil, akan tetapi tidak kalah pentingnya adalah memenuhi kebutuhan
batiniyah, yaitu tertanamnya dalam diri anak iman dan taqwa kepada Allah swt. Sebab menjadi tujuan yang hakiki bagi setiap manusia adalah mendapat hidayah dari Allah swt. Berupa iman dan taqwa kepada Allah.
Oleh karena itu dalam proses penanaman nilai-nilai agama dan pada anak usia sekolah perlu ditanamkan sejak usia dini, agar terhindar dari masalah sosial yang melanda masyarakat sekarang ini.
Sebenarnya tujuan yang terdapat dalam sistem pendidikan nasional sudah sangat lengkap untuk membentuk anak didik menjadi pribadi utuh yang dilandasi ahklak dan budi pekerti luhur. Namun pada kenyataannya, tujuan yang mulai tersebut tidak diimbangi pada tataran kebijakan pemerintah yang mendukung tujuan tersebut. Hal ini terbukti pada kurikulum sekolah tahun 1984 yang secara spontan telah menghapuskan mata pelajaran budi pekerti dari daftar mata pelajaran sekolah. Oleh karena itu, aspek-aspek yang berkaitan dengan budi pekerti menjadi kurang disentuh bahkan ada kecenderungan tidak ada sama sekali. Jika penghapusan mata pelajaran budi pekerti tersebut karena dianggap telah cukup tercakup dalam mata pelajaran agama, tentu hal itu tidak demikian adanya. Walaupun budi pekerti merupakan bagian dari mata pelajaran agama yang salah satu pokok bahasannya adalah akhlak/budi pekerti, pembahasan mengenai hal tersebut pasti memperoleh porsi yang sangat kecil. Hal ini mengingat cukup banyak aspek yang dibahas dalam mata pelajaran agama dengan alokasi waktu yang sangat minim yaitu dua jam dalam sepekan. Oleh karena itu,
sentuhan aspek moral/akhlak/budi pekerti menjadi sangat tipis dan tandus padahal zaman terus berjalan, budaya terus berkembang, tehnologi berlari pesat. Arus informasi manca Negara bagai tak terbatas. Hasilnya, budaya luar yang negatif mudah terserap tanpa ada filter yang cukup kuat. Gaya hiup modern yang tidak didasari akhlak/budi pekerti cepat ditiru. Perilaku negatif seperti tawuran menjadi budaya baru yang dianggap dapat mengangkat jati diri mereka. Preman ada dimana-mana, emosi meluap- luap, cepat marah dan tersinggung, ingin menang sendiri menjadi bagian hidup yang akrab dalam pandangan sebagian dari diri masyarakat itu sendiri.
Hal ini yang juga menunjukkan akibat minimnya pendidikan moral sejak dini adalah banyaknya terjadi kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh anak dibawah umur. Dalam hal ini bisa saja terjadi pelaku dan korban pelecehan tersebut adalah anak-anak sekolah.Tindakan kejahatan mencuri, menodong bahkan membajak bus umum. Fenomena- fenomena seperti ini tidak boleh dibiarkan. Anak akan menjadi generasi seperti apa kelak. Jika dibiarkan dalam kondisi tersebut, jika tidak dapat dicarikan jalan keluarnya, akan membentuk generasi yang bermoral/
berbudi pekerti rusak. Jika generasi kini rusak, bagaimana dengan pemimpin bangsa dimasa mendatang.
Menelaah dari berbagai kasus di atas maka sangatlah berkewajiban kita sebagai pendidik baik pendidik dalam keluarga, sekolah maupun pendidik dalam lingkungan masyarakat agar dapat menanamkan
nilai-nilai moral sejak dini, agar generasi- generasi penerus bangsa bebas dari keterpurukan moral.
E. Faktor-faktor yang mempengaruhi penanaman nilai moral pada anak usia dini
1. Lingkungan keluarga
Keluarga adalah tempat pertama dan utama, dimana anak didik dan dibesarkan, keluarga adalah tempat yang paling awal da efektif untuk mengajarkan berbagai kebiasaan yang baik yang perlu dimiliki oleh seorang anak. Segala perilaku orang tua dan pola asuh yang diterapkan dalam keluarga akan berpengaruh dalam pembentukan kepribadian atau karakter seorang anak. Perilaku ini menyangkut bagaimana kasih sayang, sentuhan kelekatan emosi orang tua terutama ibu, serta penanaman nilai- nilai agama dapat mempengaruhi kepribadian anak. Kedua orang tua harus terlibat karena keterlibatan ayah dalam pengasuhan dimasa kecil sampai usia remaja juga menentukan pembentukan karakteristik anak menjadi anak yang bermoral. Maka dengan demikian sudah jelas bahwa faktor yang memperngaruhi pembentukan moral anak adalah lingkungan rumah tangga.
Menurut Erikson dalam Megawangi (2004) kesuksesan orang tua membimbing anaknya dalam mengatasi konflik pribadi di usia dini sangat menentukan kesuksesan anak dalam kehidupan sosial dimasa dewasanya kelak. Di dalam keluarga, orang tua perlu menciptakan ikatan emosional atau kedekatan psikologis (Bonding) yang erat dengan
anaknya. Kedekatan psikologis ini dapat membuat anak merasa aman, merasa diri diperhatikan dan dapat membentuk kepercayaan kepada orang lain. Biasanya yang pertama-tama dapat menimbulkan kedekatan psikologis antara ibu dan anak sebenarnya telah terjadi sejak anak berada dalam kandungan ibu. Anak yang baik hubungannya dengan ibu ketika bayi, dekat pula dengan ayah dan anggota keluarga lainnya. Hal ini, selanjutnya akan membuat perilaku positif dan tidak agresif. Seorang ibu sangat perhatian, yang diukur dengan seringnya ibu melihat mata anaknya, mengelus, menggendong, dan berbicara pada bayinya akan mempengaruhi sikap bayinya menjadi anak yang gembira, antusias mengeksplor lingkungan dan menjadi anak yang kreatif.
Pola asuh orang tua yang menerima anaknya (melindungi, menyayangi, menghargai dan mendukung anak) akan membantu anak menjadi pribadi yang prososial, percaya, serta sangat peduli lingkungan.
Sebaliknya, pola asuh orang tua yang menolak anaknya akan membuat anak menjadi pribadi yang tidak mandiri, tidak mempedulikan orang lain, cepat tersinggung, dan sering berpandangan negatif pada orang lain dan terhaap dirinya sendiri (merasa minder, merasa diri tak berharga), serta dapat bersikap agresif pada orang lain jadi, lingkungan yang tidak menyenangkan dalam keluarga akan mempengaruhi kepribadian anak.
Kesalahan orang tua dalam mengembangkan moral dan nilai agama anak, antara lain karena orang tua kurang menanamkan perilaku karakter yang baik kepada anaknya. Misalnya, banyak orang tua merasa
bahwa kalau anak sudah bisa mengaji atau sudah hafal doa-doa dengan sendirinya anak akan mempunyai moral yang baik. Selama ini tentu kita sudah mengalami bahwa seseorang yang sudah mengetahui banyak pengalaman agama, ternyata tindakannya sering kurang sesuai dengan pengetahuan agama yang dimiliknya, pengajaran agama umumnya terlalu menonjolkan aspek kognitif anak (otak kiri), dan anak kurang dibiasakan untuk melakukan penghayatan dan apresiasi pada ajaran-ajaran atau nilai-nilai agama (otak kanan). Pengetahuan dan pembiasaan karakter yang baik, seperti kejujuran, kasih sayang, tanggung jawab, cinta kebenaran, berperilaku adil, dan sebagainya, harus diberikan secara terus-menerus sejak usia dini.
2. Lingkungan Sekolah
Faktor keluarga memang sangat berperan dalam membentuk karakter anak. Namun demikian, pengembangan karakter anak juga akan sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekolah, terutama saat anak-anak masih berusia dini.
Sekolah atau tempat-tempat pengembangan anak usia dini adalah tempat yang sangat strategis untuk pendidikan karakter karena anak-anak dari semua lapisan akan mengenyam pendidikan di sekolah atau di lembaga-lembaga pendidikan. Tujuan akhir dari pendidikan moral atau budi pekerti atau pendidikan karakter adalah agar manusia dapat berperilaku sesuai kaidah-kaidah moral agama. Pendidikan tentang moral atau pendidikan karakter sangat baik dimulai dari usia sekitar TK, seperti
yang dilakukan oleh Lawrence J. Schweinhart (Megawangi, 2004).
Schweinhart menemukan bahwa pengalaman anak-anak dimasa TK dapat memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan anak selanjutnya. Kemudian pendidikan karakter harus terus dilanjutkan sampai anak setingkat SLTA.
Berbicara mengenai pendidikan, Huiit berpendapat bahwa sebenarnya pengertian mendidik itu juga termasuk mengembangkan visi dan misi serta tujuan hidupnya, berusaha membantu pengembangan karakter seorang anak agar selalu terarah menuju kehidupan yang berkualitas, serta berkaitan dengan pengembangan kompetensi sehingga dapat membantu seseorang untuk mampu berbuat sesuatu. Titi Chandarawati (2002:42) juga menambahkan bahwa karakter terdiri dari 3 bagian yang saling terkait, yaitu:
1. Pengetahuan tentang moral (moral knowing), merupakan hal penting tentang moral untuk diajarkan terhadap anak, yang membuat anak mendapat pengetahuan sampai kepenalaran moral yang baik.
2. Perasaan yang dilandasi moral (moral feeling), merupakan aspek perasaan ini mencakup adanya nurani, kepercayaan diri, empati, mencintai kebenaran, mampu mengontrol diri dan menjadi orang yang rendah hati (tak sombong).
3. Perilaku moral (moral action), merupaka suatu pengetahuan moral yang diwujudkan dalam tindakan nyata. Perbuatan bermoral merupakan hasil dari pengetahuan dan perasaan bermoral.Tahap ini juga meliputi kompetensi, keinginan dan kebiasaan seseorang untuk berbuat benar.
Di Sekolah atau lembaga pendidikan anak usia dini, peran pendidik untuk membantu pengembangan moral anak sangat penting.
Berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan oleh pendidik menurut Ratna Megawangi (2004:89) adalah:
1) Memperlakukan anak didiknya dengan kasih sayang dan hormat.
2) Memberikan perhatian khusus secara individu, dimana guru mengerti permasalahan anak didiknya.
3) Pendidik harus menjadi panutan moral bagi anak didiknya dan senantiasa selalu memperbaiki citra dirinya.
4) Pendidik perlu mengoreksi perilaku anak didiknya yang salah.
Para pendidik perlu mendapatkan pelatihan khusus untuk mendidik karakter anak dan menggunakan modul atau kurikulum yang berlaku di sekolah atau di tempat ia mengasuh anak didiknya. Hal lain yang perlu diingat oleh para pendidik adalah dengan menebar kebajikan kepada anak didiknya walaupun sekecil apapun, namun hal ini bisa menarik anak untuk berbuat kebajikan sampai ia besar nanti.
3. Lingkungan Masyarakat
Dalam lingkungan masyarakat sebagai bagian dari tri pusat pendidikan non formal.
Sebagai pusat pendidikan non formal lingkungan masyarakat sangat menentukan dalam proses pembinaan generasi muda, termasuk anak usia prasekolah, mengingat lingkungan besar sekali pengaruhnya terhadap pembentukan kepribadian anak dan bahkan merupakan faktor yang paling menentukan.
Hamzah Ya’kub (1983:87) mengemukakan:
Pendidikan adalah salah satu faktor yang mematangkan kepribadian manusia, oleh karena itu, pendidikan akhlak perlu diintensifkan malalui berbagai macam metode pendidikan, baik melalui pendidikan formal maupun non formal, langsung maupun tidak langsung, semua pihak yang meliputi orang tua, mempunyai kewajiban dan tanggung
jawab untuk membangun umat. Jika tugas ini di laksanakan dengan baik niscaya akan terwujud suatu masyarakat yang memiliki akhlak.
Dengan berdasarkan uraian di atas dijelaskan bahwa pembinaan merupakan faktor yang paling menentukan dalam usaha mengantar umat manusia untuk beriman kepada Allah Swt. Begitu pula halnya dengan penanaman nilai moral merupakan suatu sifat yang tumbuh dalam diri manusia sebagai hasil proses pembinaan.
M. Athiyah al-Abrasyi (1987:10-11) mengemukakan:
Pembentukan moral yang tinggi adalah tujuan utama dari pendidikan Islam. Ulama dan sarjana-sarjana muslim dengan sepenuh perhatian telah berusaha menanamkan akhlak yang mulia, meresahkan fadilah di dalam jiwa para siswa, membiasakan mereka berpegang kepada moral yang tinggi.
Dari uraian di atas jelaslah bahwa tujuan pembinaan anak usia dini adalah terbentuknya akhlakul karimah, sehingga ajaran-ajaran agama dapat dilaksanakan dengan baik. Berkesinambungan mulai dari usia dini, sebab keberhasilan pembangunan ditentukan oleh generasi muda bangsa.
29 A. Jenis Penelitian
Penelitian ini bersifat kualitatif, karena menekankan pada penelitian yang berupaya untuk menelusuri dan mencari teks yang berkaitan dengan konsep pendidkan islam yang membahas pada masalah tesebut.
B. Variabel Penelitian
Adapun variabel dalam penelitian ini adalah variabel bebas yakni nilai moral dan variabel terikat yaitu konsep pendidikan islam.
C. Teknik pengumpulan data
Teknik pengumpulan data yang ditempuh penulis yaitu melakukan riset kepustakaan (library research) yaitu suatu analisis yang penulis pergunakan dengan jalan membaca dan menelaah beberapa literatur karya ilmiah yang ada kaitannya dengan skripsi yang akan diteliti dengan menggunakan cara pengambilan data sebagai berikut:
1. Kutipan langsung yaitu yaitu kutipan secara langsung tanpa mengubah satu katapun dari kata-kata pengarang yang biasa dengan Quotasi.
2. Kutipan tidak langsung yaitu mengutip seluruh isi bacaan dengan kata-kata si peneliti atau si pembaca sendiri yang biasanya juga dengan parapharase.
Ada dua sumber peneliti skripsi ini:
a. Sumber data primer
Sumber data primer maksudnya adalah berupa buku-buku yang secara khusus membahas tentang nilai moral dalam konsep islam. Sebagai sumber data utama (primer)
b. Sumber data sekunder
Data sekunder adalah referensi atau buku-buku yang dapat mendukung permasalahan pokok yang dibahas.
D. Teknik analisis data
Sebagai peneliti kualitatif, pada tahap analisis setidak-tidaknya ada tiga tahap yang dilalui dalam penelitian ini, yaitu: reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan penarikan kesimpulan (conclusion drawing).
Tiga komponen tersebut berproses secara siklus,. Model yang demikian terkenal dengan sebutan model analisis interaktif (interactive model of analysis).
Juga menggunakan metode induktif dan deduktif. Metode induktif yaitu berpola pikir kesimpulan dari khusus ke umum. Sedangkan metode deduktif yaitu berpola pikir dari umum ke khusus.
32
A. Metode penanaman nilai moral pada anak usia dini
Metode secara etimologi berasal dari bahasa Yunani metha dan hodos.Metha berarti dibalik atau dibelakang, sedangkan hodos berarti jalan. Jadi methahodos berarti disebalik jalan (Siswoyo 2005:82).
Menurut Prawiradilaga (2007:20) metode adalah prosedur, urutan, langkah-langkah dan cara yang digunakan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Dalam pelaksanaan penanaman moral pada anak usia dini terdapat beberapa metode yang dapat digunakan oleh guru atau pendidik.
Namun sebelum memilih dan menerapkan metode dan pendekatan yang perlu diketahui bahwa guru atau pendidik harus memahami benar metode atau pendekatan yang akan dipakai, karena ini akan berpengaruh terhadap optimal tidaknya keberhasilan penanaman nilai moral tersebut.
Akan tetapi, sebelum memilih dan menerapkan metode dan pendekatan yang ada harus diketahui bahwa guru atau pendidik serta memahami benar metode atau pendekatan yang akan dipakai. Oleh sebab itu, akan sangat berpengaruh terhadap berhasil atau tidaknya penanaman moral tersebut. Metode yang digunakan dalam penanaman moral pada anak usia dini sangatlah bervariasi, antara lain: bercerita, bernyanyi, bermain, bersajak, karya wisata dan nasehat (Fakhrudin 2010:191-197).
a. Bercerita
Bercerita dapat dijadikan metode untuk menyampaikan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Dalam cerita atau dongeng dapat ditanamkan berbagai macam nilai moral, nilai agama, nilai sosial, nilai budaya dan sebagainya. Kita mungkin masih ingat pada masih kecil dulu, orang tua selalu mengantarkan tidurnya tidur anak-anaknya dengan cerita atau dongeng. Cerita yang dapat digunakan dalam rangka menanamkan nilai moral misalnya melalui kisah-kisah teladan. Misalkan cerita tentang nabi-nabi dan para rasulnya.
Tidaklah mudah untuk dapat menggunakan metode bercerita ini.
Dalam bercerita, seorang guru harus menerapkan beberapa hal, agar apa yang dipesankan dalam cerita itu dapat sampai kepada anak didik.
Beberapa hal yang dapat digunakan untuk memilih cerita dengan fokus moral, diantaranya pilih cerita yang mengandung nilai baik dan buruk yang jelas, pastikan bahwa nilai baik dan buruk itu berada pada batas jangkauan kehidupan anak, dan hendaknya menghindari cerita yang
“memeras” perasaan anak atau menakut-nakuti secara fisik.
Dalam bercerita, seorang guru dapat menggunakan alat peraga untuk mengatasi keterbatasan anak yang belum mampu berpikir secara abstrak. Alat peraga yang dapat digunakan sebagai penunjang berupa boneka, tanaman, benda-benda tiruan, dan lain-lain. Selain itu, guru atau pendidik dapat memanfaatkan kemampuan olah vokal yang dimilikinya untuk membuat cerita itu lebih menarik perhatian siswa. Adapun teknik-
teknik bercerita yang dapat dilakukan diantaranya membaca langsung dari buku dongeng atau cerita; menggunakan ilustrasi dari buku, menggunakan papan flannel, menggunakan media boneka, menggunakan media audio visual, bermain peran atau sosiodrama
Tujuan metode bercerita adalah agar anak dapat membedakan perbuatan yang baik dan buruk sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bercerita guru dapat menanamkan nilai- nilai Islam pada anak didik, seperti menunjukkan perbedaan perbuatan baik dan buruk serta ganjaran dari setiap perbuatan.
Metode cerita dapat menjadikan suasana belajar menyenangkan dan menggembirakan dengan penuh dorongan dan motivasi sehingga pelajaran atau materi pendidikan itu dapat dengan mudah diberikan.
Menurut Achmad Hidayat Arief Imron (2004:35)
Cerita sebaiknya diberikan secara menarik dan membuka kesempatan bagi anak untuk bertanya dan memberikan tanggapan setelah guru selesai bercerita. Cerita akan lebih bermanfaat jika dilaksanakan sesuai minat, kemampuan dan kebutuhan anak.
Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam bercerita dengan gambar menurut Eddy Supriadi (2003:13) adalah:
1. Gambar harus jelas dan tidak terlalu kecil
2. Guru memperhatikan gambar tidak terlalu tinggi dan harus terlihat 3. Gambar-gambar digunakan harus menarik.
4. Gambar yang ditutup setiap kali guru memulai kembali.
b. Bernyanyi
Pendekatan penerapan metode bernyanyi adalah suatu pendekatan pembelajaran secara nyata yang mampu membuat anak
senang dan gembira. Bernyanyi jika digunakan dalam penanaman moral dapat dilakukan melalui ungkapan kata dan nada, serta ritmik yang menjadikan suasana pembelajaran menjadi lebih menyenangkan. Pesan- pesan pendidikan berupa nilai dan moral yang dikenalkan pada anak tentunya tidak mudah diterima dan dipahami secara baik.
Bernyanyi sebagai salah satu metode dalam penanaman moral dapat dilakukan melalui penyisipan makna pada syair atau kalimat-kalimat yang ada dalam lagu tersebut. Lagu-lagu yang baik untuk kalangan anak- anak harus memperhatikan kriteria: (1) syair atau kalimatnya tidak terlalu panjang, (2) mudah dihafal oleh anak, (3) ada misi pendidikan, (4) sesuai dengan karakter dan dunia anak, (5) nada yang diajarkan mudah dikuasai oleh anak (Hidayat 2005:4.20).
c. Teladan atau contoh
Anak mempunyai kemampuan yang menonjol dalam hal meniru.
Oleh karena itu, seorang guru hendaknya dapat dijadikan sebagai teladan atau contoh dalam bidang moral. Baik kebiasaan baik maupun buruk bagi guru akan mudah dilihat dan kemudian diikuti oleh anak. Di sini, figur seorang guru sangat penting untuk pengembangan moral anak. Artinya, nilai-nilai yang tujuannya akan ditanamkan oleh guru kepada anak.
Menurut Cheppy hari Cahyono (1995:364-370), guru moral yang ideal adalah mereka yang dapat menempatkan dirinya sebagai fasilisator, pemimpin, orang tua, dan bahkan tempat menyandarkan kepercayaan, serta membantu orang lain dalam melakukan refleksi.
Dalam pendekatan ini, profil ideal guru menduduki tempat yang sentral dalam pendidikan moral. Beberapa para ahli berpendapat dalam hal ini, diantaranya Durkheim, John Wilson dan Kohlberg. Durkheim (dalam berpendapat bahwa belajar adalah satu proses sosial yang berkaitan dengan upaya mempengaruhi peserta didik sedemikian rupa, sehingga mereka dapat tumbuh selaras dengan posisi, kadar intelektualitas, dan kondisi moral yang diharapkan oleh lingkungan sosial.
Sementara Kohlberg berpendapat bahwa tugas utama guru adalah memberi kontribusi terhadap proses perkembangan moral anak.
Sebagaimana dalam firman Allah dalam QS. Al Azhab (33) : 21
Terjemahya:
“sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (Departemen Agama RI, 2008:420).
Tugas seorang guru disini adalah mengembangkan kemampuan peserta didik dalam berpikir, mempertimbangkan, dan mengambil keputusan (Cheppy hari Cahyono 1995:364-370).
d. Pembiasaan dalam perilaku
Penanaman moral sebaiknya lebih banyak dilakukan melalui pembiasaan-pembiasaan tingkah laku dalam proses pembelajaran.
Misalkan, berdoa sebelum dan sesudah belajar, berdoa sebelum makan dan minum, mengucap salam kepada guru dan teman. Pembiasaan ini
hendaknya dilakukan secara konsisten.Jika anak melanggar diberi peringatan.
Pendekatan dalam penanaman nilai moral menurut W.Huitt (dalam Fakhrudin 2010:200-202) diantaranya adalah inculcation, moral development, analysis, klarifikasi nilai dan action learning.
1) Inculcation
Pendekatan ini bertujuan untuk menginternalisasikan nilai tertentu kepada siswa serta mengubah nilai-nilai dari para siswa yang mereka refleksikan sebagai nilai tertentu yang diharapkan. Metode yang dapat digunakan dalam pendekatan ini diantaranya modelling, penguatan positif atau negatif, alternatif permainan, game dan simulasi, serta role playing.
2) Moral development
Tujuan pendekatan ini adalah membantu siswa mengembangkan pola-pola penalaran yang lebih kompleks berdasarkan seperangkat nilai yang lebih tinggi, serta untuk mendorong siswa mendiskusikan alasan- alasan pilihan dan posisi nilai mereka, tidak hanya berbagi dengan lainnya, akan tetapi untuk membantu perubahan dalam tahap-tahap penalaran moral siswa. Metode yang dapat digunakan, diantaranya episode dilema moral dengan diskusi kelompok kecil.
3) Analisis
Pendekatan ini bertujuan untuk membantu siswa menggunakan pikiran logis dan penelitian ilmiah untuk memutuskan masalah dan pertanyaan nilai, membantu siswa menggunakan pikiran rasional, proses-
proses analitis dalam menghubungkan dan mengkonseptualisasikan nilai mereka, serta membantu siswa menggunakan pikiran rasional dan kesadaran emosional untuk mengkaji perasaan personal, nilai-nilai, dan pola-pola perilaku. Metode ini digunakan dalam diskusi rasional yang terstruktur yang menuntut aplikasi rasio sama sebagai pembuktian, pengujian prinsip-prinsip, penganalisaan kasus-kasus analog dan riset, serta debat.
4) Klasifikasi nilai
Tujuan pendekatan ini adalah membantu siswa menjadi sadar dan mengidentifikasi nilai-nilai yang mereka miliki, yang juga dimiliki oleh orang lain, membantu siswa mengkomunikasikan secara terbuka dan jujur dengan orang lain tentang nilai-nilai mereka, dan membantu siswa menggunakan pikiran rasional dan kesadaran emosional untuk mengkaji perasaan personal, nilai-nilai dan pola berikutnya. Metode yang digunakan dalam pendekatan ini, antara lain role playing games, simulasi dan diskusi kelompok kecil.
5) Action learning
Tujuan dari pendekatan ini adalah memberi peluang kepada siswa agar bertindak secara personal ataupun sosial berdasarkan nilai- nilai mereka, mendorong siswa agar memandang diri mereka sendiri sebagai makhluk yang otonom interaktif dalam hubungan sosial personal, melainkan sebagai anggota suatu sistem sosial. Metode yang digunakan dalam pendekatan ini adalah metode-metode yang didaftar untuk analisis
dan klarifikasi nilai, keterampilan praktis dalam pengorganisasian kelompok dan hubungan antar pribadi.
Dari beberapa metode dan pendekatan dalam penanaman moral pada anak usia dini di atas, metode yang paling banyak digunakan adalah metode bercerita. Dengan bercerita guru harus perlu memperhatikan beberapa hal agar cerita yang dibawakan mampu menarik perhatian siswa. Dengan perhatian yang cukup baik dari siswa, maka pesan moral yang akan disampaikan oleh guru untuk lebih mudah diserap.
Melalui metode bercerita dapat disampaikan beberapa pesan moral kepada anak dan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru, diantaranya adalah cerita yang dibawakan harus memuat pesan moral yang disampaikan guru, tema-tema yang disampaikan kepada anak tidak monoton, olah vokal dan mimik wajah dalam bercerita perlu diperhatikan, durasi cerita yang disampaikan kepada anak tidak terlalu panjang dan menggunakan alat peraga sebagai penunjang bercerita. Hal ini senada dengan yang dikemukakan oleh Hidayat (2005:4.12) bahwa cerita atau dongeng dapat ditanamkan berbagai macam nilai moral, nilai agama, nilai sosial, nilai budaya dan sebagainya.
e. Nasehat
Metode nasehat merupakan cara mendidik yang bertumpu pada bahasa baik secara lisan maupun tulisan. Metode nasehat ini bertujuan untuk memberikan kesadaran bagi yang mendengar dan membacanya.
Sebagaimana dalam firman Allah SWT dalam surah Al-Ashar (103:3)
Terjemahnya:
“kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebijakan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran”. (Departemen Agama RI, 2008:601).
Sebagaimana yang diketahui bahwa dalam diri anak terdapat pembawaan yang dapat terpengaruh oleh kata-kata yang didengar. Oleh karena itu nasehat mempunyai pengaruh dalam membentuk kepribadian anak. Dalam ajaran agama Islam yang perlu ditanamkan pada anak adalah budi pekerti yang baik, sebab manakala budi pekerti sudah naik maka dengan sendirinya moral akan tertanam pula. Sejalan dengan fungsi nasehat dalam penanaman nilai moral, Alquran dalam surah Lukman:21/16:
Terjemahnya:
(Lukman berkata)” wahai anakku! Sungguh, jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan).
Sesungguhnya Allah Maha halus, maha teliti. (Departemen Agama RI:2008:412)..
Dalam kaitannya dengan masalah penanaman dan pengembangan moral, maka penulis mengemukakan salah satu ayat yang terdapat dalam surah An-Nahl:16/125:
Terjemahnya:
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dari pelajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan-mu, Dia-lah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk. (Departemen Agama RI,2008:281).
Perintah untuk melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat adalah ajaran agama Islam, manakala hal yang seperti ini sudah tertanam dalam diri anak hal-hal yang baik, maka dengan sendirinya mudahlah mengulurkan tangan untuk memberikan bantuan. Dengan demikian hal yang perlu dilakukan oleh orang tua adalah menanamkan nilai-nlai kebaikan kepada anak agar dengan kebaikan itu senantiasa menggugah perasaannya untuk memberikan bantuan kemanusiaan. Lagi pula dalam kehidupan sosial dewasa ini dimana umat Islam banyak di timpah berbagai masalah yang memerlukan uluran tangan para donatur Islam untuk mengatasi krisis yang dihadapi oleh umat Islam. Dengan kondisi seperti ini perlu diperkenalkan kepada anak, agar kelak tumbuh dalam dirinya perasaan dengan penuh keikhlasan dan suka rela.
B. Konsep pendidikan Islam tentang penanaman nilai-nilai moral pada anak usia dini.
1. Pengertian Konsep Pendidikan Islam
Pendidikan adalah dari manusia dan untuk manusia. Oleh karena itu, faktor manusia baik sebagai pelaku maupun sebagai sasaran
menduduki posisi penting dalam kajian mengenai pendidikan. Atas itu pula, maka pembahasan mengenai konsep pendidikan Islam harus bertitik tolak dari pandangan Islam mengenai apa sesungguhnya manusia itu, hendak ke mana tujuan hidupnya, dengan cara bagaimana ia mencapai tujuan tersebut dan bantuan apa yang dibutuhkan.
Berdasarkan dari itu pendidikan Islam adalah pendidikan yang memasyarakatkan agama Islam agar digunakan sebagai pedoman hidup dan kehidupan. Kawasan pendidikan tidak hanya mencakup bidang ritual keagamaan saja akan tetapi mencakup seluruh bidang kehidupan, atas dasar itu maka pendidikan Islam di laksanakan di tengah-tengah kehidupan umat manusia, baik di laksanakan dalam lingkungan keluarga, lembaga pendidikan formal dan lingkungan masyarakat.
Jadi pendidikan Islam adalah bmbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh, dan mengawasi berlakunya agama islam dalam kehidupan masyarakat.
Hasan Langgulung (1990:9) mengemukakan bahwa: pendidikan dalam arti yang luas bermakna memudahkan nilai kebudayaan kepada setiap individu dalam masyarakat.
Mappanganro (1990:9-10) dalam Hasan Langgulung mengemukakan bahwa;
Pendidikan adalah suatu proses yang mempunyai tujuan yang biasanya diusahakan untuk menciptakan pola-pola tingkah laku tertentu pada anak-anak atau orang yang sedang dididik.
Dengan berdasarkan pada pengertian mengenai pendidikan Islam, maka dapat dipahami bahwa suatu pendidikan baru di katakan sebagai pendidikan Islam, manakala pendidikan tersebut bercorak Islam
Burlian Somad (1981:20) dalam bukunya beberapa persoalan pendidikan Islam mengemukakan bahwa;
Suatu pendidikan di mana pendidikan Islam jika pendidikannya itu bertujuan membentuk individu dan menjadikan corak diri berderajat tinggi menurut ukuran da nisi pendidikannya untuk mewujudkan tujuan satu dalam ajaran Islam.
Selanjutnya Mappanganro dalam Muhammad Rasyid Ridha (1990:10) mengemukakan bahwa;
Pendidikan adalah bimbingan daya manusia, baik jasmaniah, akhlak maupun rohaniah pendidikan dengan apa yang dapat menjadikannya tumbuh dan berkembang serta bergerak sehingga sampai pada kesempurnaan diri sendiri, sedangkan pengajaran adalah mengajarkan ilmu yang dapat membantu pendidikan. Atas penyempurnaan manusia atau dengan kata lain, pengajaran adalah pemberian ilmu.
Dengan demikian tujuan dan maksud dari pendidikan seperti halnya dengan pendidikan Islam adalah pengembangan segala potensi yang ada pada diri manusia menuju kedewasaan dan kesempurnaannya, hal ini bermaksud agar umat dapat memahami makna hidupnya, serta dapat menjadi agama sebagai way of life dalam hidupnya (jalan kehidupan).
Dalam buku pedoman guru agama islam pada sekolah umum yang dikutip oleh Mappanganro (1990:11) mengemukakan bahwa;
Pendidikan Islam adalah segala usaha yang merupakan pengajaran, bimbingan dan asuhan terhadap anak sekolah kelak setelah selesai pendidikannya yang dapat memahami, menghayati dan
mengamalkan ajaran agamanya serta menjadikannya sebagai way of life (jalan kehidupan) sehari-hari, baik dalam kehidupan pribadi maupun social masyarakat.
Pengertian pendidikan islam sebagaimana yang dikemukakan oleh para ahli pendidikan, pada prinsipnya berbeda akan tetapi tujuannya sama, yaitu berbentuk kepribadian muslim yang paripurna menurut ajaran agama Islam.
Kewajiban mempelajari ajaran agama Islam dalam rangka mempelajari seluruh ajaran-ajaran yang terdapat di dalamnya agar dapat mengamalkan merupakan kewajiban bagi setiap individu orang Islam.
Sebagaimana firman Allah Swt dalam Al-qur’an QS. At-Taubah(9):122
Terjemahnya;
Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang) mengapa sebagian dari setiap golongan diantara mereka tidak pergi memperdalam pengetahuan agama dan untuk memberikan peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali agar mereka dapat menjaga dirinya. (Departement Agama RI, 2008:206).
Paradigma tentang konsep pendidikan Islam memang sudah berkembang luas sejak dulu. Dalam pendidikan Islam pastinya kita sudah mengenal tiga konsep dasar pendidikan Islam, yaitu; Ta’dib, Tarbiyah, dan Ta’lim. Namun dari ketiga konsep dasar tersebut memiliki titik tekan yang berbeda.
Berangkat dari tujuan dan paparan data di atas, perlunya kita merumuskan konsep untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Artinya bukan kita membuat konsep baru atau memilih dari tiga konsep dasar pendidikan Islam, tapi kita menyusun konsep tersebut sehingga menjadi satu pijakan dalam melaksanakan proses pendidikan. Dengan demikian kita perlu memahami ketiga konsep dasar pendidikan Islam agar kita bisa menentukan arah/alur proses pendidikan untuk menghantarkan manusia kepada hakikat manusia yaitu mengemban amanah dan mewujudkan suatu tatanan masyarakat dan kehidupan yang di ridhoi Allah SWT.
konsep dasar mempunyai peran masing-masing dalam proses pendidikan Islam.
a. Ta’dib.
Ta’dib adalah berasal dari kata benda dan mempunyai kata kerja adaba yang berarti mendidik. Bentuk kata ini belum tertuju dan memerlukan tujuan (objek) yang dalam pendidikan objek tersebut ialah manusia. Sedangkan dalam bahasa Indonesia kata adab diartikan sebagai sopan santun, budi pekerti dan tata krama.
Namun peradaban diartikan sebagai hasil seluruh budi daya manusia, baik secara personal maupun komunal (kelompok). Jadi ta’dib dapat diartikan sebagai proses untuk membentuk sebuah peradaban.
Peradaban Islami adalah terbentuknya tatanan masyarakat yang menanamkan dan merealisasikan nilai-nilai Islam di muka bumi ini, dan menjalankan tugas dan fungsi manusia sesuai dengan hakikat manusia.