• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metodologi

Dalam dokumen KLHS RTRW Papua.pdf (Halaman 12-33)

2.1. Ruang Lingkup Kajian 2.1.1. Landasan Hukum

KLHS Raperdasi RTRWP Papua 2010-2030 dilandaskan dan merujuk pada peraturan perundangan sebagai berikut:

 Undang Undang Dasar 1945

 Undang Undang No. 32/2010 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

 Undang Undang No. 26/2007 tentang Penataan Ruang

 Undang Undang No.21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua  Peraturan Pemerintah No. 15/2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang  Undang Undang No. 41/1999 tentang Kehutanan

 Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 9/2011 tentang Pedoman Umum Kajian Lingkungan Hidup Strategis

 Peraturan Pemerintah No. 10/2010 tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan

 Peraturan Pemerintah No. 44/2004 tentang Perencanaan Kehutanan 2.1.2. Ruang Lingkup Obyek

Obyek yang menjadi sasaran dari kegiatan KLHS ini adalah pola ruang dan struktur ruang wilayah Papua yang menjadi substansi dasar pada Raperdasi RTRWP Papua.

Pola ruang adalah alokasi peruntukan ruang dalam suatu wilayah wilayah yang menurut UU 26/2007 meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung (Kawasan Lindung/KL) dan peruntukan ruang untuk budidaya (Kawasan Budidaya/KB).Dalam terminologi peruntukan dan fungsi sesuai UU 41/1999, pola ruang terbagi menjadi Kawasan Hutan (KH) dan Bukan Kawasan Hutan (BKH).Kawasan hutan terbagi menjadi tiga fungsi pokok, yaitu fungsi konservasi (Hutan Konservasi/HK), fungsi lindung (Hutan lindung/HL), dan fungsi produksi (Hutan Produksi/HP).

Sedangkan struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial

berdasarkan data dan informasi yang tersedia, dan 2) terintegrasi ke dalam Raperdasi RTRWP itu sendiri, sehingga akan ditinjau ulang setiap lima tahun sekali.

Analisis tentang pengaruh kebijakan dan rencana tata ruang dalam Raperdasi RTRWP Papua terhadap kondisi lingkungan hidup meliputi aspek: 1) biofisik/ekologi, dan 2) ekonomi dan sosial budaya. Analisis pengaruhpola dan struktur ruang terhadap biofisik/ekologi mencakup aspek (1) iklim, (2) hirologi, dan (3) ekosistem. Sedangkan pengaruhnya terhadap aspek sosial budaya mencakup (1) kepastian hak, budaya alami masyarakat, dan peran dan kepentingan masyarakat. Aspek ekonomi mencakup (1) kualitas hidup dan Kesejahteraan masyarakat, (2) akses masyarakat lokal terhadap sumberdaya alam, dan (3)efisiensi pengelolaan sumberdaya.

2.2. Kerangka Pendekatan 2.2.1. Proses KLHS

Papua merupakan provinsi yang memiliki karakteristik khas dan unik baik secara biofisik ataupun secara sosial kemasyarakatan yang mempengaruhi perkembangan dan dinamika kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakatnya.Dengan demikian, kerangka analisis dan sintesis pada KLHS ini dilakukan dengan memperhatikan keseluruhan aspek biofisik kawasan, sosial budaya dan ekonomi Papua. Detil mengenai karakteristik Papua disampaikan pada Bab 3.

KLHS terhadap Raperdasi RTRWP Papua ini dilakukan dalam momentum bersamaan dengan proses penyusunan Raperdasi RTRWP Papua. Oleh karena itu, output dari KLHS ini akan berguna: (1) sebagai masukan penyempurnaan Raperdasi itu sendiri, (2) sebagai instrument evaluasi dalam proses persetujuan Raperdasi RTRWP Papua oleh Menteri Dalam Negeri.

Penyusunan Raperdasi RTRWP Papua diselenggarakan oleh Bapeda Provinsi Papua dengan melibatkan secara partisipatif para pihak terkait seperti BKPRD, SKPD di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, Perguruan Tinggi, LSM dan masyarakat. Proses partisipatifnya diselenggarakan dalam bentuk konsultasi publik di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.Substansi Draf Raperdasi RTRWP Papua diinspirasi oleh konsep dan visi Pembangunan Berkelanjutan Papua 2100 yang digali Provinsi Papua. Secara skematis, proses KLHS Raperdasi RTRWP Papua dapat dilihat pada Gambar 2-1.

Gambar 2-1. Diagram Alir KLHS Raperdasi RTRWP Papua

2.2.2. Nilai Penting dan Prinsip

Dalam Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 9/2011 tentang Pedoman Umum Kajian Lingkungan Hidup Strategis, KLHS ditujukan untuk menjamin perencanaan dan pelaksanaan pembangunan menerapkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Tiga nilai penting dalam penyelenggaraan KLHS yang mencerminkan penerapan prinsip pembangunan berkelanjutan adalah keterkaitan (interdependency), keseimbangan (equilibrium) dan keadilan (justice). Keterkaitan (interdependency) dimaksudkan agar penyelenggaraan KLHS menghasilkan kebijakan, rencana atau program yang mempertimbangkan keterkaitan antar sektor, antar wilayah, dan global-lokal. Nilai ini juga bermakna holistik dengan

golongan tertentu masyarakat karena adanya pembatasan akses dan kontrol terhadap sumber-sumber alam, modal atau pengetahuan.

KLHS dibangun melalui pendekatan pengambilan keputusan berdasarkan masukan berbagai kepentingan. Makna pendekatan tersebut adalah bahwa penyelenggaraan KLHS tidak ditujukan untuk menolak atau sekedar mengkritisi kebijakan, rencana dan/atau program, melainkan untuk meningkatkan kualitas proses dan produk kebijakan, rencana, dan/atau program, khususnya dari perspektif pembangunan berkelanjutan. KLHS bersifat “persuasif” dalam pengertian lebih mengutamakan proses pembelajaran dan pemahaman para pemangku kepentingan yang terlibat dalam penyusunan dan evaluasi kebijakan, rencana dan/atau program agar lebih memperhatikan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Dalam kerangka pendekatan ini, 6 (enam) prinsip KLHS adalah:

Prinsip 1: Penilaian Diri (Self Assessment)

Makna prinsip ini adalah sikap dan kesadaran yang muncul dari diri pemangku kepentingan yang terlibat dalam proses penyusunan dan/atau evaluasi kebijakan, rencana, dan/atau program agar lebih memperhatikan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dan mempertimbangkan prinsip-prinsip tersebut dalam setiap keputusannya. Prinsip ini berasumsi bahwa setiap pengambil keputusan mempunyai tingkat kesadaran dan kepedulian atas lingkungan. KLHS menjadi media atau katalis agar kesadaran dan kepedulian tersebut terefleksikan dalam proses dan terformulasikan dalam produk pengambilan keputusan untuk setiap kebijakan, rencana, dan/atau program.

Prinsip 2: Penyempurnaan Kebijakan, Rencana, dan/atau Program

Prinsip ini menekankan pada upaya penyempurnaan pengambilan keputusan suatu kebijakan, rencana, dan/atau program. Berdasarkan prinsip ini, KLHS tidak dimaksudkan untuk menghambat proses perencanaan kebijakan, rencana, dan/atau program. Prinsip ini berasumsi bahwa perencanaan kebijakan, rencana, dan/atau program di Indonesia selama ini belum mempertimbangkan pembangunan berkelanjutan secara optimal.

Prinsip 3: Peningkatan Kapasitas dan Pembelajaran Sosial

Prinsip ini menekankan bahwa integrasi KLHS dalam perencanaan kebijakan, rencana, dan/atau program menjadi media untuk belajar bersama khususnya tentang isu-isu pembangunan berkelanjutan, baik bagi masyarakat umum maupun para birokrat dan pengambil keputusan. Dengan prinsip ini, pelaksanaan KLHS memungkinkan seluruh pemangku kepentingan yang terlibat dalam perencanaan kebijakan, rencana, dan/atau program untuk meningkatkan kapasitasnya

mengapresiasi lingkungan hidup dalam keputusannya. Melalui KLHS diharapkan masyarakat, birokrat, dan pengambil keputusan lebih cerdas dan kritis dalam menentukan keputusan pembangunan agar berkelanjutan.

Prinsip 4: Memberi Pengaruh pada Pengambilan Keputusan

Prinsip ini menekankan bahwa KLHS memberikan pengaruh positif pada pengambilan keputusan. Dengan prinsip ini, KLHS akan mempunyai makna apabila pada akhirnya dapat mempengaruhi pengambilan keputusan, khususnya untuk memilih atau menetapkan kebijakan, rencana, dan/atau program yang lebih menjamin pembangunan yang berkelanjutan.

Prinsip 5: Akuntabel

Prinsip ini menekankan bahwa KLHS harus diselenggarakan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. Prinsip akuntabel KLHS sejalan dengan prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance). KLHS tidak ditujukan untuk menjawab tuntutan para pihak. Dengan prinsip ini pelaksanaan KLHS dapat lebih menjamin akuntabilitas perumusan kebijakan, rencana, dan/atau program bagi seluruh pihak.

Prinsip 6: Partisipatif

Sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, prinsip ini menekankan bahwa KLHS harus dilakukan secara terbuka dan melibatkan masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya yang terkait dengan kebijakan, rencana, dan/atau program. Dengan prinsip ini diharapkan proses dan produk kebijakan, rencana, dan/atau program semakin mendapatkan legitimasi atau kepercayaan publik.

2.2.3. Prinsip-prinsip Pembangunan Berkelanjutan

Terdapat beberapa pengertian pembangunan berkelanjutan saat sekarang ini. Terlepas dari varian pengertian dan perdebatan yang ada, pembangunan berkelanjutan pada dasarnya merupakan pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa harus mengorbankan kebutuhan generasi yang akan datang.

sementara tetap mengingat bahwa aksi kita akan menimbulkan dampak di tempat lain dan di masa yang akan datang.

Pembangunan berkelanjutan merupakan proses-proses pemanfaatan sumberdaya alam untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dengan memperhatikan betul atas keberlanjutan sumberdaya alam tersebut sebagai daya tampung dan daya dukung lingkungan hidup.Untuk mendukung keberlanjutan sumberdaya alam dan pemanfaatannya perlu memperhatikan kaidah-kaidah tertentu.

Secara prinsip kaidah utamanya adalah pemanfaatan atau ekstraksi sumberdaya alam harus digunakan untuk penguatan sumberdaya manusia, sumberdaya sosial, sumberdaya fisik dimana ekstraksi sumberdaya alam dilakukan.Secara lebih rinci kaidah-kaidah yang harus diperhatikan dalam pembangunan berkelanjutan antara lain: a. Syarat keharusan minimum. Constanza dan Daly (1991) menyarankan ‘’syarat

keharusan minimum’’ yang dinyatakan dalam konservasi sumberdaya alam. Hal ini menyangkut kaidah ekstraksi sumberdaya alam, yaitu:

 Pemanfaatan/konsumsi terhadap sumberdaya alam yang dapat pulih dibatasi hingga pada level hasil lestari,

 Pemanfaatan/konsumsi terhadap sumberdaya alam yang tidak dapat pulih dilakukan dengan menginvestasikan kembali hasil dari eksploitasi sumberdaya alam tersebut kedalam pengganti yang dapat pulih.

b. Pembangunan berkelanjutan merupakan proses yang reversibel dan berangkat dari kemampuan dan sumberdaya yang ada.

c. Pembangunan berkelanjutan haruslah merupakan proses yang efisien dan berkeadilan.

 Proses yang efisien ditunjukan oleh nisbah antara nilai manfaat yang diperoleh dengan nilai korbanan.

 Proses yang berkeadilan dimaksudkan menyangkut distribusi manfaat/kemakmuran antar kelompok masyarakat, antar wilayah, dan antar generasi.

d. Pembangunan berkelanjutan menganut azas kehati-hatian. Azas tersebut terkait dengan pemanfaatan sumberdaya alam hayati. Pengelolaan konservasi sumberdaya alam hayati harus dilakukan sebagai upaya untuk memastikan manfaat yang dapat dipetik saat ini dan kemudian pada generasi mendatang.

e. Pembangunan berkelanjutan dapat terjadi bila bequest motive operasional. Pembangunan berkelanjutan harus menjamin keputusan yang dibuat saat ini memberi perlakuan yang adil terhadap generasi yang akan datang (Howart, 1997).

Setiap generasi tidak membuat beban bagi generasi berikutnya, beban bagi generasi yang akan datang tersebtu juga dirasakan sebagai bebannya sendiri.

Menurut Haque (2006), konsep pembangunan berkelanjutan secaraumum dapat dikategorikan kedalam tiga perspektif utama, yakni:

a. perspektf berpusat manusia, yang menekankan keunggulan kebutuhan dan nilai-nilai ekonomi manusia baik generasi sekarang maupun generasi yang akan datang; b. erspektif berpusat ekologi, yang menekankan nilai dan kebaikan yang melekat

dalam kelestarian lingkungan di luar batas kebutuhan manusia; dan

c. perspektif dualistik, yang cenderung berfokus pada kebutuhan manusia dan kepedulian lingkungan.

2.2.4. Penggalian Konsep dan Visi Pembangunan Berkelanjutan Papua

Penggalian visi pembangunan berkelanjutan Papua ini dirintis oleh suatu kelompok kerja yang beranggotakan 15 orang (Tim 15) dari lingkungan instansi Bapeda dan SKPD tingkat provinsi, dalam subuah proses pengembangan kapasitas untuk menjadi agen perubahan (Agent of Change) Papua. Forum ini diperluas menjadi Tim 100 dengan melibatkan SKPD-SKPD di tingkat kabupaten/kota.

Bentuk pengaturan dan pengurusan diri provinsi papua diwujudkan dengan meletakkan visi pembangunan berkelanjutan yang dikemas dalam Sustainable Development Blueprint 2100 (Papua SDB 2100). Dalam Papua SDB 2100, Provinsi Papua berkomitmenmempertahankan“90% Hijau melalui Pembangunan Ekonomi Rendah Karbon berbasis Kepentingan dan Peran Masyarakat”.Yang dimaksud “90 % hijau” adalah mempertahankan 90 % kawasan dalam bentuk hutan atau ekosistem alami lainnya.

Perumusan visi pembangunan berkelanjutan Papua tersebut didasarkan pada fakta bahwa 84 % kampung berada di dalam kawasan hutan dengan perikehidupan masyarakatnya yang menyatu dengan ekosistem hutan. Di sisi lain, masyarakat Papua tidak dapat dihindarkan dari keterbukaan secara sosial dan ekonomi, akibat adanya investasi dan pendatang dari luar Papua. Penguatan kapasistas adaptasi menjadi penting agar masyarakat papua tidak mengalami marjinalisasi peran dan kepentingan

spasial visi ini akan diterjemahkan dalam pola ruang dan struktur ruang serta kelola ruang yang sesuai.

2.2.5. Kriteria Pokok Penilaian KLHSRaperdasiRTRWP Papua

Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 9 Tahun 2011 Tentang Pedoman Umum Kajian Lingkungan Hidup Strategis menjadi acuan utama dalam kejian ini. Sedangkan kriteria dan indikator yang digunakan dalam KLHS diturunkan dari dua aturan pokok, yaitu:

a. UU 32/2009 tentang pengelolaan lingkungan hidup, khususnya pasal 15 ayat 2 dan pasal 16.

b. PP 10/2010 tata cara perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan, khususnya pasal 48.

Di dalam penjelasan Pasal 15 ayat (2) huruf b UU No 32 Tahun 2009 disebutkan bahwa KLHS dilaksanakan terhadap kebijakan, rencana, dan/atau program yang berpotensi menimbulkan dampak dan/atau resiko lingkungan berupa:

a. perubahan iklim;

b. kerusakan, kemerosotan, dan/atau kepunahan keanekaragaman hayati;

c. peningkatan intensitas dan cakupan wilayah bencana banjir, longsor, kekeringan, dan/atau kebakaran hutan dan lahan;

d. penurunan mutu dan kelimpahan sumber daya alam; e. peningkatan alih fungsi kawasan hutan dan/atau lahan;

f. peningkatan jumlah penduduk miskin atau terancamnya keberlanjutan penghidupan sekelompok masyarakat; dan/atau

g. peningkatan resiko terhadap kesehatan dan keselamatan manusia.

Sesuai dengan Pasal 16 UU No. 32 Tahun 2009, KLHS memuat kajian antara lain: a. kapasitas daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup untuk pembangunan; b. perkiraan mengenai dampak dan resiko lingkungan hidup;

c. kinerja layanan/jasa ekosistem;

d. efisiensi pemanfaatan sumber daya alam;

e. tingkat kerentanan dan kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim; dan f. tingkat ketahanan dan potensi keanekaragaman hayati.

PP 10/2010 tentang tata cara perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan, pada pasal 48 mengatur hal sebagai berikut:

a. Perubahan peruntukan kawasan hutan yang berdampak penting dan cakupan yang luas serta bernilai strategis merupakan perubahan peruntukan kawasan hutan yang menimbulkan pengaruh terhadap:

1) kondisi biofisik; atau

2) kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.

b. Perubahanyang menimbulkan pengaruh terhadap kondisi biofisik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan perubahan yang mengakibatkan penurunan atau peningkatan kualitas iklim atau ekosistem dan/atau tata air.

c. Perubahan yang menimbulkan pengaruh terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan perubahan yang mengakibatkan penurunan atau peningkatan sosial dan ekonomi masyarakat bagi kehidupan generasi sekarang dan yang akan datang.

d. Perubahan yang menimbulkan pengaruh terhadap kondisi biofisik serta dampak sosial dan ekonomi masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas 2 (dua) kategori yaitu:

1) berpengaruh; atau 2) tidak berpengaruh.

Jika aturan terkait KLHS (UU No. 32 tahun 2009) dan Penelitian Terpadu (PP No. 10 tahun 2010) dipadukan maka kriteria KLHS dapat diklasifikasikan seperti pada Tabel 2-1.

Tabel 2-1. Kriteria KLHS yang diadopsi dari UU 32/2009 dan PP 10/2010

Kriteria Pokok PP 10/2010 Pasal

48 UU 32/2010 Pasal 15 dan 16

Biofisik Iklim Pasal 15:

a. perubahan iklim; Pasal 16:

a. tingkat kerentanan dan kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim; dan

Ekosistem Pasal 15:

Kriteria Pokok PP 10/2010 Pasal

48 UU 32/2010 Pasal 15 dan 16

c. kinerja layanan/jasa ekosistem;

d. tingkat ketahanan dan potensi keanekaragaman hayati

Tata Air Pasal 15:

a. peningkatan intensitas dan cakupan wilayah bencana banjir, longsor, kekeringan, dan/atau kebakaran hutan dan lahan;

Sosial Ekonomi Masyarakat Peningkatan sosial dan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan Pasal 15

b. peningkatan jumlah penduduk miskin atau terancamnya keberlanjutan penghidupan sekelompok masyarakat; dan/atau

c. peningkatan resiko terhadap kesehatan dan keselamatan manusia.

Pasal 16

a. efisiensi pemanfaatan sumber daya alam;

2.2.6. Kriteria dan Indikator Tata Guna Lahan Papua

Kriteria dan indikator tata guna lahan Papua dikembangkan sesuai karakteristik spesifik Papua, guna mengidentifikasi dan mengalokasikan lahan/ruang sesuai dengan kapasitas daya dukungnya, yakni:

a. Kawasan bernilai konservasi tinggi (High Concervation Value) yang perlu ditetapkan sebagai Kawasan Lindung (Hutan Lindung, Hutan Konservasi, dan Kawasn Perlindungan Setempat lainnya) atau kawasan yang memerlukan pengelolaan secara khusus.

b. Kawasan untuk pengembangan ekonomi wilayah, yang meliputi kawasan budidaya kehutanan dan kawasan budidaya non kehutanan.

Kriteria dan indikator tataguna lahan Papua secara rinci dapat dilihat pada Tabel 2-2 – Table 2-7.

Tabel 2-2. Kriteria, Indikator, dan Verifier B1: fungsi pokok perlindungan kawasan penyangga bagi jasa lingkungan yang penting

KRITERIA INDIKATOR VERIFIER Keterangan

B1.1 Skor kawasan ≥ 175 Peta skor kawasan Tersedia

B1.2 Lereng > 40 % Peta kelas lereng Tersedia

B1.3 Ketinggian > 2000 m dpl Peta topografi Tersedia B1.4 Kelas tanah sangat peka thd

erosi dan lereng > 15 %

Peta jenis tanah dan peta kelas lereng

Tersedia B1.5 Kawasan resapan air Peta DAS, bentang alam,

landsystem, topografi

Tersedia B1.6 Kawasan penting untuk

perlindungan di bawahnya

Peta DAS, bentang alam, landsystem, topografi

Tersedia B1.7 Kawasan gambut >3 m atau

kubah gambut (peat dome)

KRITERIA INDIKATOR VERIFIER Keterangan B1.8 Kawasan hutan kerangas (heat

forest)

Peta tipe hutan, jenis tanah, land system, penutupan hutan

Tersedia

B1.9 Kawasan perlindungan pantai Peta Rupa Bumi Indonesia, penutupan hutan

Tersedia B1.10 Kawasan rawan bencana Peta analysis bahaya dan

resiko lingkungan

Tersedia

Tabel 2-3. Kriteria, Indikator, dan Verifier B2: fungsi pokok perlindungan keanekaragaman hayati (spesies, lanskap, dan ekosistem)

KRITERIA INDIKATOR VERIFIER Keterangan

B2.1 Perwakilan kawasan dimana terdapat konsentrasi nilai-nilai keanekaragaman hayati yang penting secara global, regional dan lokal, misalnya spesies endemi, spesies hampir punah, tempat menyelamatkan diri (refugia).

Peta kawasan CA/SM yang ada

Tersedia Peta Key Biodiversity

Area (KBA)

Tersedia Peta zonasi Tersedia

B2.2 Merupakan kawasan hutan yang mempunyai tingkat lanskap yang luas yang penting secara global, regional dan lokal, yang berada di dalam atau mempunyai unit

pengelolaan, dimana sebagian besar populasi species, atau seluruh species yang secara alami ada di kawasan tersebut berada dalam pola-pola distribusi dan kelimpahan alami.

Peta tipologi lanskap yang penting

Tersedia Hasil analisis peran

dan interaksi antar komponen dalam lanskap

Tersedia

Peta zonasi Tersedia

B2.3 Perwakilan kawasan hutan yang berada di dalam atau mempunyai ekosistem yang langka, terancam atau hampir punah.

Peta kawasan HK/TN yang ada

Tersedia Peta tipe ekosistem Tersedia Peta zonasi Tersedia

Tabel 2-4. Kriteria, Indikator, dan Verifier B3: kriteria biofisik potensi pengembangan ekonomi sumberdaya alam

Tabel 2-5. Kriteria, Indikator, dan Verifier B4: kriteria biofisik kesesuaian lahan untuk pengembangan ekonomi sumberdaya alam

KRITERIA INDIKATOR VERIFIER Keterangan

B4.1 Lahan sesuai untuk budidaya kehutanan

Peta kesesuaian lahan, peta sistem lahan, peta lahan pasang surut

Tersedia

B4.2 Lahan sesuai untuk budidaya non kehutanan

Peta kesesuaian lahan, peta sistem lahan, peta lahan pasang surut

Tersedia

B4.3 Lahan tidak sesuai untuk budidaya

Peta kesesuaian lahan, peta sistem lahan, peta lahan pasang surut

Tersedia

B4.4 Skor kawasan 125 -174 Peta skor kawasan Tersedia B4.5 Skor kawasan < 125 Peta skor kawasan Tersedia

Tabel 2-6. Kriteria, Indikator, dan Verifier S1: kriteria fungsi pokok perlindungan sosial budaya

KRITERIA INDIKATOR VERIFIER Keterangan

S1.1 Kawasan hutan yang sangat penting untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat lokal (mis, pemenuhan kebutuhan pokok, kesehatan)

Hasil kajian

identifikasi kebutuhan dasar masyarakat lokal

Tersedia

Peta sebaran sagu dan sumber kebutuhan dasar masyarakat lokal lainnya.

Tidak tersedia

S1.2 Kawasan hutan yang sangat penting untuk identitas budaya tradisional masyarakat lokal (kawasan-kawasan budaya, ekologi, ekonomi, agama yang penting yang diidentifikasi bersama dengan masyarakat lokal yang bersangkutan).

Peta bahasa Tersedia Peta kepemimpinan

adat

Tersedia Peta penguasaan lahan

adat (akses dan asset)

Tidak tersedia S1.3 Kawasan pemukiman atau lahan

garapan permanen yang dikuasai > 20 tahun

Peta identifikasi pemukiman atau lahan garapan permanen

Tidak tersedia

Tabel 2-7. Kriteria, Indikator, dan Verifier S2: kriteria fungsi pokok pengembangan ekonomi masyarakat dan daerah

KRITERIA INDIKATOR VERIFIER Keterangan

S2.1 Ijin atau Hak Pihak Ketiga

Peta IUPHH-HA Tersedia

Peta IUPHH-HT Tersedia

Peta Ijin Penggunaan Kawasan Hutan

Tersedia

Peta lahan hak Tersedia

S2.2 Proyek/Investasi Pemerintah

Peta lokasi proyek-proyek pemerintah (gerhan, HTR, HKM, dll.)

Tersedia

S2.3 Kawasan

pengembangan

Rencana Daerah Tersedia

KRITERIA INDIKATOR VERIFIER Keterangan infrastruktur pedesaan

dan lahan garapan.

S2.4 Kawasan

pengembangan infrastruktur wilayah perkotaan.

Rencana Daerah Tersedia

Proyeksi dengan asumsi tertentu Tersedia

S2.5 Kawasan khusus untuk prioritas pembangunan nasional, provinsi, kabupaten/ kota.

Rencana Pemerintah, Pemprov, Pemkab/kota

Tersedia

Catatan: K&I dioperasikan berdasarkan data tersedia

Gap antara kebutuhan data K&I tata guna lahan wilayah provinsi dalam RTRWP dengan ketersediaan data adalah tidak/belum tersedianya data spasial terkait dengan K&I aspek sosial budaya, yakni:

 S1.1: peta sebaran sagu dan sumber kebutuhan dasar masyarakat lokal lainnya.  S1.2: peta penguasaan lahan adat, baik yang bersifat (1) kepemilikan asset, dan (2)

akses

 S1.3: peta identifikasi pemukiman atau lahan garapan permanen (>20 tahun) Informasi spasial terkait dengan K&I S1 ini kalaupun tersedia, luasannya terlalu kecil dan sebarannya sporadis, sehingga tidak relevan untuk disajikan pada peta skala arahan (1: 250.000). Oleh karena itu, penerapan K&I S1 sebaiknya dilakukan pada perencanaan pola ruang tingkat kabupaten/kota (RTRWK skala 1: 50.000), atau bahkan pada delineasi mikro ditingkat unit manajemen.

2.2.7. Modelling Proyeksi Deforestasi

Modeling perubahan hutan dilakukan dengan mengunakan tool Land Change Modeler (LCM) dalam software IDRISI Taiga. LCM merupakan perangkat lunak yang memungkinkan kita untuk mengukur dan menganalisis dampak suatu proyek atau pembangunan terhadap habitat dan keanekaragaman hayati. LCM mampu memodelkan dan memprediksi kondisi lingkungan berdasarkan skenario pembangunan masa depan dengan integrasi variable-variabel perubahan seperti infrastruktur, zonasi dan

Gambar 2-2.Interface LCM dalam IDRISI Taiga

Data histori penutupan hutan yang dijadikan baseline yaitu penutupan hutan tahun 2000 dan 2009 dari BPKH Provinsi Papua.Klasifikasi yang digunakan dalam modeling terdiri dari kelas hutan, bukan hutan, tubuh air, awan.Oleh karena itu klasifikasi dari data penutupan lahan Badan Planologi Departemen Kehutanan disederhanakan kedalam 4 kelas tersebut.

Modeling dilakukan untuk 4 tipologi lansekap yaitu: Utara, Tengah, Selatan dan Pulau. Modeling menggunakan 8 variabel yaitu: ketinggian (elevation),kelerengan (slope), jarak terhadap sungai (distance to rivers), jarak terhadap jalan yang sudah ada (distance to existing roads), biaya jarak terhadap hutan 2009 (cost distance to forest 2009), rencana jalan (planned roads), kampung (villages), dan kota kabupaten (capitol city of districts).

Variabel jalan dan kampung diperlakukan sebagai variabel dinamis (dynamic) dengan jarak dasar (base distance) terhadap hutan 2009.Diasumsikan terdapat penambahan infrastruktur dan pemekaran desa di masa mendatang.Sedangkan variable lain diset sebagai statis (static).

(a) (b) (c)

Gambar 2-3.Contoh Variabel yang Dipakai Modeling Proyeksi Deforestasi (a) Ketinggian,(b)

Dalam dokumen KLHS RTRW Papua.pdf (Halaman 12-33)

Dokumen terkait