• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tipologi Ekoregional

Dalam dokumen KLHS RTRW Papua.pdf (Halaman 78-84)

III. Karakteristik Papua

3.3 Tipologi Ekoregional

Tipologi ekoregional terbentuk berdasarkan gabungan karakteristik ekologi, sosial, budaya dan ekonomi. Berdasarkan keragaman kondisi Papua yang telah dijelaskan di atas, karakteristik Papua dapat dikelompokan dalam empat tipe ekoregion. a. Dataran Rendah Utara

Zona dataran rendah di Provinsi Papua terhampar meluas dari sepanjang pantai hingga ke wilayah tepi jajaran pegunungan. Zona dataran rendah di Utara membentang dari Barat-Timur Provinsi Papua mulai dari Kabupaten Nabire hingga ke Kabupaten Keerom. Wilayah Kabupaten Mamberamo memiliki zona dataran rendah yang luas, namun pada wilayah Kabupaten Keerom dan Kota Jayapura zona dataran rendah relatif sempit. Sedangkan kelerangan di dataran rendah bagian Utara Provinsi Papua relatif landai dengan kelas lereng 0-7%.

Persebaran penduduk pada wilayah dataran Utara hampir merata antara daerah pantai dan dataran rendah dan perbukitan. Berkebun dan meramu sagu merupakan kegiatan utama masyarakat yang tinggal di wilayah ini. Ikan dan hasil binatang buruan menjadi sumber pangan tambahan.Mereka senang mengembara dalam kelompok kecil.

Berdasarkan pendekatan proses-proses hidrologi yang dibentuk oleh proses geologi dan topografi didalam sebuah lanskap, wilayah dataran rendah di bagian Utara Papua memiliki tipe management unit Tidal Lowlands. Pada wilayah ini proses hidrologi yang dominan berpengaruh adalah pasang surut air laut dan efek yang dimilikinya dalam mengubah pola drainase dan sedimentasi – pada saat air pasang, aliran drainase yang harusnya mengalir turun akan tergenang karena efek dari air pasang ini. Sehingga wilayah ini cenderung membentuk habitat wetlands dan juga rawa gambut (sebanyak 95% lahan gambut di Papua berada di wilayah ini). Akibat dari pola pasang surut harian (dan juga bulanan) serta efeknya yang menyebabkan pola aliran drainase terhambat,

wilayah pertanian, mengingat karakteristik dari lanskap tersebut. Sehingga tidak terjadi conflict management unit.

Penutupan lahan di wilayah ini didominasi oleh hutan lahan kering, hutan rawa primer dan sekunder, dengan sedikit hutan mangrove primer, pertanian lahan kering bercampur semak dan savannah. Hutan dataran rendah ini mengandung sangat banyak jenis spesies dan merupakan habitat terkaya per kilometer persegi jika dibandingklan dengan habitat hutan lainnya. Struktur kanopi hutan ini kompleks, dengan tajuk pohon yang menonjol dan tidak rata. Pohon pada hutan bukit dapat bertumbuh sampai dengan 50m lebih, didominasi oleh pohon Pometia, Ficus, Intsia, Terminalia, Garcinia, Myristica, Maniltoa. Di bawah kanopi semak, tumbuhan perambat dan pemanjat (liana), palem, rotan, pandan, paku-pakuan, jahe-jahean dan epifit yang banyak beragam jenisnya bertumbuh menciptakan strutur vertikalnya yang komplek. Palmae (termasuk rotan) adalah salah satu komponen yang sangat penting fungsinya dalam hutan daratan rendah dan paling kaya akan jenis. Sedangkan ciri savana adalah padang rumput yang luas dengan pepohonan yang agak jarang. Di Papua hanya dapat ditemukan di bagian tenggara disekitar Merauke (Trans-Fly). Habitat ini mengalami iklim dengan kemarau panjang dan kemudian hujan lebat dan banjir. Karena iklim yang ekstrim ini, maka hanya beberapa jenis pepohonan dapat bertumbuh. Pohon-pohon savana didominasi oleh Melaleuca spp. Acacia spp. dan Eucalyptus spp. Walaupun demikian, di wilayah dimana tanah tidak mengalami banjir karena ketinggian beberapa meter atas permukaan air, saat musim hujan bertumbuh hutan monsoon. Hutan lebat ini hampir sama strukturnya dengan Hutan dataran rendah.

Sedangkan hasil analisis terhadap keterwakilan ekosistem dibawah ini menunjukkan bahwa sebagian besar wilayahnya memiliki tingkat keterwakilan ekosistem sekitar 41%-50% dan sebagian kecil lainnya sekitar 51%-60%, hal ini berarti bahwa nilai keterwakilan ekosistem berada pada range menengah, namun untuk mempertahankan ekosistem di wilayah ini maka salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan me-realokasi sejumlah kawasan (setidaknya) ke dalam hutan produksi terbatas. Jasa-jasa ekosistem pada wilayah ini dapat dilihat pada table 1 dibawah. Sedangkan karakteristik bencana pada wilayah ini dapat dilihat pada table 2 dibawah.

b. Pegunungan Tengah

Topografi pada wilayah ini didominasi oleh perbukitan dan pegunungan memanjang sekitar 650 kilometer berarah timur-barat yang ditempati oleh hutan hujan tropis dengan beberapa puncak gunung ditutupi oleh salju abadi di bagian tengah. Pada bagian tengah rangkaian pegunungan tinggi terdapat Pegunungan Jayawijaya yang terkenal karena terdapat 3 puncak tertinggi yang walaupun terdapat pada garis khatulistiwa namun selalu diselimuti oleh salju abadi di Puncak Jayawijaya dengan ketinggian 5,030 m, Puncak Trikora 5,160 m dan Puncak Yamin 5,100 m.

Kelompok masyarakat yang mendiami wilayah ini terdiri dari beberapa suku bangsa dengan pola pemukiman tetap secara berkelompok di lembah-lembah Pegunungan Mooke dan Sudirman. Komunitas hidup dalam rumah-rumah besar dengan ikatan horisontal yang kuat. Penghidupan utama komunitas di wilayah ini adalah berternak babi dan pembudidayaan Ubi jalar dan pisang. Selain berburu dan memetik hasil dari hutan sebagai sumber pangan tambahan.

Berdasarkan pendekatan proses-proses hidrologi yang dibentuk oleh proses geologi dan topografi didalam sebuah lanskap, wilayah dataran rendah di bagian Utara Papua memiliki tipe management unit Uplands Watersheds atau DAS Dataran Tinggi. Pada wilayah ini proses hidrologi sangat dipengaruhi oleh sistem Daerah Aliran Sungai, yang terdiri dari sistem hulu dan hilir. Sehingga berbagai bentuk pengelolaan untuk unit ini akan berpengaruh dari hulu hingga hilir, namun tidak berpengaruh pada unit disebelahnya. Sebagai contoh jika terdapat kenaikan erosi atau sedimentasi di sebuah sistem DAS, maka hal ini akan mempengaruhi wilayah hilirnya, namun tidak akan mempengaruhi wilayah DAS di sebelahnya. Selain itu juga dimungkinkan untuk melakukan konversi atau alih fungsi lahan pada wilayah di sebelah DAS (wilayah konservasi) namun alih fungsi tersebut harus tetap mempertahankan alur hidrologi dan mengontrol erosi.

menyusul ‘batas garis pohon’ sebagai ‘hutan sub-alpin’. Di atasnya lagi (4.000m d.p.l.) terdapat zona alpin dimana hanya sedikit jenis herba-herba, rumput dan lumut dapat bertumbuh dalam bentuk padang rumput dan tundra.

Sedangkan hasil analisis keterwakilan ekosistem pada wilayah ini menunjukkan bahwa tingkat keterwakilan ekosistem berada diatas 70% yang artinya sangat baik. Jasa-jasa ekosistem pada wilayah ini dapat dilihat pada table 1 dibawah. Sedangkan karakteristik bencana pada wilayah ini dapat dilihat pada table 2 dibawah.

c. Dataran Rendah Selatan

Dataran rendah di bagian Selatan Papua secara umum dibagi menjadi dua sistem yaitu:

Lahan Rawa Pasang Surut Dataran Rendah; Bagian Wilayah Selatan Papua merupakan wilayah pantai yang menuju kearah laut sebagai akibat dari akumulasi dari endapan tubuh air sejak jaman es terakhir, yang juga merupakan hasil dari endapan alluvial dan materi-materi laut serta pertumbuhan wilayah delta selama beberapa waktu sejak jaman es terakhir (sekitar 18.000 tahun yang lalu). Lahan rawa pasang surut yang berada di wilayah Kabupaten Mimika, Asmat dan sebagian di Mappi dan Merauke yang telah dibentuk oleh proses-proses tersebut memiliki batuan geologi muda dan terdiri atas wilayah lahan gambut yang kompleks, rawa-rawa air tawar dan air asin, serta mangrove. Sungai-sungainya merupakan sungai pasang surut yang sistem hidrologinya dipengaruhi oleh pasang surut air laut hampir sepanjang tahun. Masyarakat yang tinggal di wilayah rawa-rawa dataran rendah seperti suku adat Kamoro dan Asmat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya umumnya dengan berburu dan mengumpulkan sumber makanan seperti sagu, serta memancing di wilayah yang cukup luas di daerah ini. Perencanaan ruang dalam konteks/skala lanskap perlu didasarkan pada pemahaman dan pengetahuan yang jelas mengenai pola pemanfaatan sumber daya alam, yang masih terfragmentasi.  Lahan Kering Dataran Rendah; dataran rendah dari Plateu Oriomo dan layangan

batuan Digul di Kabupaten Mappi, Merauke dan Boven Digoel membentuk bagian unik dari Trans-Fly Eco-Region yang membentang ke arah Papua New Guinea. Sistem lahan ini terdiri dari permukaan datar dan bergelombang, diukir dengan lembah-lembah sungai yang berdasar rata dan sungai kecil yang berawa-rawa. Lahan-lahan kering ini merupakan bentang alam yang terkikis sejak lama secara

geologis dengan tanah yang kering, dan alluvium baru yang hanya terdapat di pertemuan lembah sungai dan rawa-rawa. Kesuburan yang rendah dan erosi merupakan ciri dari bentang alam ini. Banjir yang dalam biasa terjadi di lembah-lembah sungai yang rendah dan rawa-rawa. Genangan dangkal dari curah hujan terjadi pada sisa-sisa dataran tinggi tua yang datar dengan sistem drainase yang buruk.

Sedangkan pengelolaan ruang untuk lahan kering dataran rendah perlu memperhatikan kesesuaian lahan untuk pertanian di daerah lempeng yang tererosi. Lahan yang cocok untuk pertanian kebanyakan terletak di bagian selatan dataran ini, namun adanya iklim muson dan panjangnya musim kemarau menjadi hambatan bagi daerah ini untuk bercocok tanam. Di bagian Utara, kombinasi antara tingginya curah hujan, kelerengan dan tekstur tanah yang ringan menyebabkan wilayah ini rawan erosi dan tidak sesuai untuk lahan pertanian. Lebih lanjut kesesuaian untuk pembangunan di wilayah rawa-rawa lebak dan lembah sungai serta sungai-sungai kecil akan sangat bergantung pada fenomena banjir, teknologi, pertimbangan lingkungan dan dampak hidrologi pada bagian muara. Faktor-faktor penting dalam pengelolaan pola ruang (spasial) di lahan dataran tinggi adalah dengan mengenali hal-hal berikut: ketidakpastian dan kesesuaian lahan pertanian yang terbatas, nilai-nilai konservasi dan tradisi serta hak-hak masyarakat adat.

d. Kepulauan & Pesisir

Zona pesisir di Papua terdiri atas pulau-pulau seperti Biak dan Yapen dibagian Utara, Kimaam di bagian Selatan serta wilayah pesisir di daerah pulau utama. Ekosistem di zona pesisir terdiri dari wilayah mangrove yang sangat luas -- khususnya di bagian Utara, terumbu karang dan hamparan rumput laut – khususnya di bagian selatan, serta vegetasi pesisir lainnya seperti semak belukar, hutan cemara dan pohon kelapa. Informasi mengenai distribusi terumbu karang dan rumput laut serta kondisi keduanya

Zona pesisir Papua sangat bervariasi dan dapat dibagi kedalam ekosistem perairan air laut dan ekosistem perairan yang tidak dipengaruhi oleh pasang surut laut. Zona Pesisir Papua merupakan zona pesisir terluas di Indonesia dengan panjang garis pantai mencapai lebih dari 3,800 Km yang termasuk didalamnya vegetasi pesisir dan pantai sepanjang Provinsi Papua dan Papua Barat. Wilayahnya memiliki topografi yang relatif datar dan tidak didominasi oleh rawa pasang surut, didalamnya juga terdapat pantai-pantai berpasir yang luas dengan campuran vegetasi pesisir, dari mulai gigir pantai hingga daratan hutan tinggi. Pola yang kompleks dari gigir dan cekungan dapat ditemui di sepanjang garis pantai dengan komunitas vegetasi yang khas; juga terdapat hutan pada gigir yang lebih tinggi dan vegetasi rawa (termasuk rawa-rawa sagu) pada cekungan perairan diantara gigir-gigir (dimana air laut/asin menyusup kedalam wilayah mangrove). Habitat-habitat ini umumnya berpopulasi padat dan memiliki persentasi luas lahan pertanian yang lebih tinggi dibandingkan dengan lanskap lainnya di Papua.

Papua memiliki wilayah mangrove terluas di Indonesia dan terkaya di dunia karena lokasinya terletak diantara pusat keanekaragaman hayati Indo-Melasian dan Australia. Hutan mangrove merupakan ekosistem utama didalam zona pesisir, di Papua zona ini didominasi oleh hamparan hutan mangrove yang luas yang terletak disepanjang pantai utara dari delta Barat Mamberamo hingga pantai Waropen, dan sepanjang pantai Selatan dari Mimika hingga sungai Digul dan pinggiran Pulau Kimaan. Keberadaan mangrove penting untuk sektor perikanan di Papua dan menyediakan lahan untuk bersarang bagi spesies muara yang penting seperti ikan, kepiting udang yang dapat dimanfaatkan untuk perikehidupan dan ekonomi masyarakat lokal.

Dalam dokumen KLHS RTRW Papua.pdf (Halaman 78-84)

Dokumen terkait