Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field reseach), penelitian yang dilakukan di lingkungan masyarakat tertentu, yaitu, organisai PLU (People Like Us), Yogyakarta.
2. Sumber Data
Teknik pengumpulan data peneliti membagi sumber data
30 Novi Ulfianti, “Homoseksual menurut Imam Abu Hanifah”, Skripsi Jurusan Tafsir Hadist Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2002, hlm. 79.
menjadi dua bagian:
a. Data primer, yaitu suatu objek atau dokumen original, material mentah dari pelaku yang disebut “first-hand information”31
mencakup segala informasi, hasil wawancara dan dokumentasi, bahan materi yang menyangkut organisasi PLU Satu Hati . b. Data sekunder yang mencakup berbagai referensi, maupun
literatur yang berkaitan terhadap identitas organisasi LGBT,32 contohnya, buku-buku yang berkaitan dengan LGBT, makalah, jurnal dan lain-lain. Buku diantaranya, „Memberi suara pada yang bisu‟, Dede Oetomo. „Seksualitas: teori dan realitas, Irwan‟ M. Hidayana. „Menguak stigma, kekerasan dan diskriminasi pada LGBT di Indonesia,‟ Indana Laazulva. Artikel seperti, „Adakah islam bicara soal homo?‟, Siti Musda Mulia. Jurnal seperti, „Seks undercover: ikon bokong inul‟, basis.
3. Metode pengumpulan data.
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode-metode sebagai berikut:
a. Observasi, yaitu pengamatan dan pencatatan dengan sistematis fenomena-fenomena yang diselidiki.33Dalam penelitian ini, teknik observasi bersifat observasi partisipan, yaitu suatu
31 Ulber Silalahi, Metode Penelitian Sosial (Bandung: PT Refika Aditama, 2009), hlm. 289.
32
Ulber Silalahi, Metode Penelitian Sosial, hlm. 291.
proses pengamatan bagian dalam yang dilakukan oleh observer dengan ikut mengambil bagian dalam kehidupan orang-orang yang akan diobservasi.34 Teknik ini peneliti melibatkan diri atau terjun langsung di organisasi PLU Satu Hati.
b. Interview, yaitu teknik pengumpulan data yang mencakup cara yang digunakan seseorang untuk tujuan suatu tugas tertentu, mencoba mendapatkan keterangan lisan dari seseorang responden dengan percakapan berhadapan muka.35 Teknik ini merupakan suatu cara untuk mendapatkan data atau informasi tentang kelompok organisasi PLU Satu Hati. Dengan Tanya jawab langsung dengan ketua PLU Satu Hati, anggota, dan masyarakat sekitar. Dalam penelitian ini Penulis mengantisipasi adanya seorang responden yang kurang dalam pengetahuan baca dan tulis, maka dalam hal ini penulis menggunakan interview bebas terpimpin yaitu dengan pedoman tertentu yang dipersiapkan terlebih dahulu sedang penyampaiannya disampaikan secara bebas.
c. Teknik Dokumentasi yaitu teknik pengumpulan data dengan mencari data tentang hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah dan sebagainya.
d. Penentuan responden yaitu responden merupakan pendiri,
34 Nurul Zuhriah, Metodologi Penelitian Sosial Dan Pendidikan (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2005), hlm . 176.
35 Koentjaraningrat, Metode Metode Penelitian Masyarakat (Jakarta: Gramedia, 1989), hlm. 129.
pengurus dan empat anggota PLU Satu Hati yang mewakili lesbian, gay, transgender dan biseksual. Nama dari responden sebagian nama asli tetapi sebagian memakai nama panggilan.36 F. Landasan Teori
1. Bentuk Kelompok
Kelompok-kelompok sosial merupakan kesatuan sosial yang terdiri dari kumpulan individu-individu yang bersama dengan mengadakan hubungan timbal balik yang cukup intensif dan teratur, sehingga diharapkan adanya pembagian tugas, struktur, norma-norma tertentu yang berlaku bagi mereka. Setiap kumpulan individu tidak dapat disebut kelompok sosial selama belum memenuhi syarat-syarat seperti, a. Setiap individu harus merupakan bagian dari kesatuan sosial; b. Terdapat hubungan timbal balik diantara individu-individu yang tergabung dalam kelompok; c. Adanya faktor-faktor yang sama yang dapat mempererat hubungan mereka yang bergabung dalam kelompok; d. Berstrukur, berkaidah, dan mempunyai pola perilaku, dan e. Bersistem dan berproses.
Atas dasar besar kecilnya jumlah anggota kelompok, maka Charles Horton Cooley yang dikutip J Dwi Narko37 membedakan antara kelompok primer dan sekunder. Menurut Cooley, kelompok ditandai dengan adanya hubungan yang erat di mana anggota-anggotanya saling
36 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), hlm. 200.
mengenal dan seringkali berkomunikasi secara langsung berhadapan muka serta terdapat kerjasama yang bersifat pribadi atau adanya ikatan psikologis yang erat. Dari ikatan-ikatan psikologis dan hubungan yang bersifat pribadi inilah, maka akan terjadi peleburan-peleburan daripada individu-individu dalam suatu kelompok, sehingga tujuan-tujuan individu menjadi juga tujuan kelompoknya.38
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas, maka selanjutnya Cooley menerangkan kelompok primer berdasarkan atas tiga tinjauan, yaitu: a. Kondisi-kondisi fisik kelompok primer, yaitu, pertama jumlah anggota harus kecil, kedua, hubungan antar anggota agak permanen, dan ketiga, tidak cukup saling mengenal saja; b. Sifat-sifat hubungan kelompok primer, yaitu, pertama, adanya tujuan bersama, kedua, hubungan primer ini harus sukarela; c. Hubungan primer bersifat inklusif.
Berbeda dengan kelompok primer, kelompok sekunder Cooley tidak menyebutkan ciri-cirinya yang khas. Hanya saja dapat dikatakan kelompok sekunder merupakan kebalikannya baik mengenai kondisi maupun sifatnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa kelompok sekunder mempunyai sifat-sifat berikut: a. Jumlah anggotanya banyak; b. Hubungannya renggang; c. Sifatnya tidak permanen; d. Hubungan cenderung pada hubungan formil.39
38
J Dwi Narko, Sosiologi Teks Pengantar, hlm. 23.
2. Proses Interaksi Sosial
Bentuk umum proses sosial adalah interaksi sosial/proses sosial, karena interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Bentuk lain dari proses sosial hanya merupakan bentuk-bentuk khusus dari interaksi sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan antara orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorang dengan kelompok-kelompok manusia.40 Suatu interaksi sosial tidak mungkin terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat, yaitu: pertama adanya kontak sosial dan kedua adanya komunikasi.41
Gillin dan Gillin yang dikutip oleh Soekanto42pernah mengadakan penggolongan yang lebih luas lagi. Menurut mereka, ada dua macam proses sosial yang timbul sebagai akibat adanya interaksi sosial, yaitu:
1. Proses asosiatif
Proses asiosiatif merupakan proses-proses yang mendorong dicapainya akomodasi, kerjasama dan asimilasi.
a. Kerja sama (Cooperation)
Kerja sama adalah suatu usaha bersama antara orang
40
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1994), hlm. 67.
41 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, hlm. 72-73.
perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai suatu atau beberapa tujuan bersama. Bentuk kerja sama tersebut berkembang apabila orang dapat digerakan untuk mencapai suatu tujuan bersama dan harus ada kesadaran bahwa tujuan tersebut di kemudian hari mempunyai manfaat bagi semua. Juga harus ada iklim yang menyenangkan dalam pembagian kerja serta balas jasa yang akan diterima. Selain definisi di atas kerjasama juga berarti pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh individu tapi dikerjakan secara bersamaan oleh dua orang atau lebih, dengan tujuan agar pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh individu tapi dikerjakan secara bersamaan oleh dua orang atau lebih dengan tujuan agar pekerjaan tersebut menjadi lebih ringan. Dalam teori-teori Gillin dan Gillin yang dikutip Soekanto dapat dijumpai beberapa bentuk kerjasama, yaitu, kerjasama spontan, kerja sama langsung, kerjasama kontrak, dan kerjasama tradisional. Kerjasama spontan merupakan kerjasama yang serta merta, kerjasama langsung merupakan kerjasama atas dasar perintah atasan atau penguasa, kerjasama kontrak adalah kerjasama dengan dasar tertentu, dan kerjasama tradisional adalah kerjasama sebagai bagian atau unsur sistem sosial.
Akomodasi menurut Soekanto,43 merupakan suatu proses penyesuain diri dengan lingkungan sosial, sebagai bentuk interaksi sosial antara pribadi dan kelompok-kelompok manusia untuk meredakan pertentangan. Akomodasi mempunyai dua aspek pengertian yaitu: 1. upaya untuk mencapai penyelesain dari suatu konflik atau pertikaian dan 2. keadaan atau kondisi selesainya suatu konflik atau pertikaian tersebut. Menurut Gillin dan Gillin yang dikutip Soekanto, akomodasi adalah suatu pengertian yang digunakan oleh para sosiolog untuk menggambarkan suatu proses dalam hubungan-hubungan sosial yang sama artinya dengan adaptasi dalam biologi.44
Tujuan akomodasi dapat berbeda-beda sesuai dengan situasi yang dihadapinya, yaitu: untuk mengurangi pertentangan antara orang atau kelompok manusia sebagai akibat perbedaan paham, mencengah meledaknya suatu pertentangan untuk sementara waktu atau secara temporer, dan mengusahkan peleburan antara kelompok sosial yang terpisah.
Bentuk-bentuk akomodasi, antara lain: 1. Corection, suatu bentuk akomodasi yang prosesnya dilaksanakan karena adanya paksaan; 2. Compromise, bentuk akomodasi
43
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, hlm. 73.
di mana pihak-pihak yang terlibat saling mengurangi tuntunannya agar tercapai suatu penyelesaian terhadap perselisihan yang ada; 3. Arbitration, suatu cara untuk mencapai Compromise apabila pihak-pihak yang berhadapan tidak sanggup mencapainya sendiri; 4.
Concilation, suatu usaha untuk mempertemukan keinginan
dari pihak-pihak yang berselisih demi tercapainya suatu tujuan bersama; 5. Toleration, merupakan bentuk akomodasi tanpa persetujuan yang formal bentuknya; 6.
Stalemate, suatu akomodasi dimana pihak-pihak yang
bertentangan karena mempunyai kekuatan yang seimbang berhenti pada satu titik tertentu dalam melakukan pertentangannya; 7. Adjudcation, penyelesaian perkara atau sengketa di pengadilan.45
c. Asimilasi.
Asimilasi menurut Gillin dan Gillin yang dikutip oleh Soekanto merupakan proses sosial dalam taraf lanjut. Ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara orang perorang atau kelompok-kelompok manusia. Dan juga meliputi usaha-usaha untuk mempertinggi kesatuan tindak sikap dan proses-proses mental dengan memperhatikan
45
kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan bersama. Proses asimilasi timbul apabila, kelompok-kelompok manusia yang berbeda kebudayaannya, orang perorang sebagai warga kelompok tadi saling bergaul secara lansung dan kebudayaan dari kelompok-kelompok manusia tersebut masing-masing saling menyesuaikan diri.46
2. Proses Disosiatif
Menurut Gillin dan Gillin yang dikutip oleh Soekanto 47pola interaksi disosiatif sering disebut juga proses opositional, sama seperti kerjasama, dapat ditemukan pada setiap masyarakat, walaupun bentuknya dan arahnya ditentukan oleh kebudayaan dan sistem sosial masyarakat bersangkutan. Proses-proses disosiatif dibedakan dalam dua bentuk, yaitu:
a. Persaingan
Persaingan dapat diartikan sebagai suatu proses sosial, di mana individu atau kelompok-kelompok manusia yang bersaing mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian umum dengan cara menarik perhatian publik atau dengan mempertajam prasangka yang ada, tanpa mempergunakan ancaman dan kekerasan. Ada beberapa
46 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, hlm. 88.
47
tipe persaingan diantaranya, persaingan ekonomi, persaingan kebudayaan, persaingan kedudukan, peranan, dan persaingan ras.48
b. Kontravensi
Kontravensi merupakan suatu bentuk proses sosial yang berada antara persaingan dan pertentangan atau pertikaian. Kontravensi terutama ditandai oleh gejala-gejala adanya ketidak pastian mengenai diri sesorang atau suatu rencana dan perasaan tidak suka yang disembunyikan, kebencian, atau keragu-raguan terhadap kepribadian seseorang.
Dalam bentuk yang murni, kontravensi adalah sikap mental yang tersembunyi terhadap orang-orang lain atau terhadap unsur-unsur kebudayaan suatu golongan tertentu. Ada beberapa tipe-tipe kontravensi diantaranya, kontravensi antar masyarakat, antagonisme keagamaan, kontravensi intelektual dan oposisi moral.49
3. Teori Perubahan Sosial
Hukum tiga tahap merupakan usaha Comte untuk menjelaskan kemajuan evolusioner umat manusia dari masa primitif sampai ke peradaban Prancis abad kesembilan belas yang sangat maju.
48
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, hlm. 99.
49
hukum ini menyatakan bahwa masyarakat-masyarakat (umat manusia) berkembang melalui tiga tahap utama. Tahap-tahap ini ditentukan menurut cara berpikir yang dominan: teologis, metafisik dan positif.
Comte menjelaskan hukum tiga tahap sebagai berikut: Bahwa setiap konsepsi kita yang paling maju, setiap cabang pengetahuan kita, berturut-turut melewati tiga kondisi teoretis yang berbeda: teologis atau fiktif; metafisik atau abstrak; ilmiah atau positif. Dengan kata lain, pikiran manusia pada dasarnya dalam perkembangannya, menggunakan tiga metode berfilsafat yang karakternya sangat berbeda malah bertentangan. Yang pertama merupakan titik tolak yang harus ada dalam pemahaman manusia; yang kedua hanya suatu keadaan peralihan; dan yang ketiga adalah pemahaman keadaannya yang pasti dan tak tergoyahkan.
Dalam fase teologis, akal budi manusia, yang mencari kodrat dasar manusia, yakni sebab pertama dan sebab akhir (asal dan tujuan) dari segala akibat (pengetahuan absolut) mengandaikan bahwa semua gejala dihasilkan oleh tindakan langsung dari hal-hal supranatural. Dalam fase metafisik, yang hanya merupakan suatu bentuk lain dari yang pertama, akal budi mengandaikan bukan hal supernatural, melainkan kekuatan-kekuatan abstrak, hal-hal yang benar-benar nyata melekat pada semua benda (abstraktsi-abstaksi
yang dipersonifikasikan), dan yang mampu menghasilkan semua gejala. Dalam fase terakhir, yakni fase positif, akal budi sudah meninggalkan pencarian yang sia-sia terhadap pengertian-pengertian absolut, asal dan tujuan alam semesta, serta sebab-sebab gejala, dan memusatkan perhatiannya pada studi tentang hukum-hukumnya, yakni hubungan-hubungan urutan dan persamaannya yang tidak berubah. Penalaran dan pengamatan, digabungkan secara tepat, merupakan sarana-sarana pengetahuan ini.
Untuk menggambarkan perbedaan yang ditekankan Comte, bayangkanlah bahwa kita akan menjelaskan suatu gejala alam seperti angin taufan. Dalam tahap teologis, gejala serupa itu akan dijelaskan sebagai hasil tindakan langsung dari seorang Dewa angin atau Tuhan. Dalam tahap metafisik gejala yang sama itu akan dijelaskan sebagai manifestasi dari suatu hukum alam yang tidak dapat diubah. Dalam tahap positif angin taufan itu akan dijelaskan sebagai hasil dari suatu kombinasi tertentu dari tekanan-tekanan udara, kecepatan angin, kelembaban, dan suhu – semua variabel yang dapat diukur, yang berubah terus menerus dan berinteraksi menghasilkan angin taufan itu. 50
50