• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

2.8. Metodologi Penelitian

Definisi penelitian : Sebuah proses yang sistematis dalam mengumpulkan dan menganalisis data guna meningkatkan pengertian/persepsi kita tentang fenomena yang akan kita teliti. (Fitrianah, Devi, Penelitian : Definisi dan Metode, 2009 : 1).

Metodologi merupakan pendekatan formal untuk mengimplementasikan system development life cycle. Di dalamnya terdapat serangkaian tahapan yang perlu dilalui serta output yang diperoleh dari setiap tahapan. Sebuah pendekatan

yang dibuat dalam melaksanakan penelitian, dimana didalamnya terdapat rangkaian langkah-langkah dalam melakukan penelitian dan hasilnya.

Metodologi penelitian dalam ilmu komputer/sistem informasi/teknologi informasi adalah kumpulan dari metode, prosedur, teknik, tool serta pendokumentasian yang membantu si peneliti dalam melaksanakan sebuah penelitian dalam bidang ilmu komputer/ sistem informasi/ teknologi informasi. Pengkategorian metodologi penelitian adalah sebagai berikut : Metodologi disebut process-centered apabila menekankan pada pemodelan proses sebagai inti dari konsep sistem. Disebut data-centered apabila menekankan pada pemodelan data sebagai inti dari konsep sistem. Sedangkan sebuah metodologi disebut object-oriented bila berupaya menyeimbangkan fokus bahasan baik proses dan data pada sebuah model. (Fitrianah, Devi, Penelitian : Definisi dan Metode, 2009 : 2).

Pada penelitian ini, penulis menerapkan metodologi yang bersifat data-centered dengan menggunakan Rapid Application Development (RAD).

Di dalam pengembangan aplikasi ataupun sistem informasi, terdapat beberapa metodologi pengembangan sistem yang sudah dikenal, antara lain :

1. Waterfall Development

Waterfall life-cycle model pertama kali diperkenalkan oleh Royce pada tahun 1970. (Scach, R.Stephen, Object Oriented and Classical Software Engineering, 2005:49).

This is the most common and classic of life cycle models, also referred to as a linear-sequential life cycle model. It is very simple to understand and use. In a waterfall model, each phase must be completed in its entirety before the next phase can begin. At the end of each phase, a review takes place to determine if the project is on the right path and

whether or not to continue or discard the project.

(http://codebetter.com/blogs/raymond.lewallen/archive/2005/07/13/12 9114.aspx).

2. Rapid Application Development

Rapid prototypeis a working model that is functionally equivalent to a subset of the product. The first step in the rapid prototyping is to build a rapid prototype and let the client and future users interact and experiment with the rapid prototype. (Scach, R.Stephen, Object Oriented and Classical Software Engineering, 2005:293).

These are designed to develop data intensive business applications and rely on programming and presenting information from a database. (Sommerville,Ian, Software Engineering 7th edition, 2004:29).

Rapid Aplication Development (RAD) adalah sebuah model proses perkembangan software sekuensial linier yang menekankan siklus perkembangan yang sangat cepat. (Sukamto, Rosa A, Rapid Application Development (RAD), Prototyping, 2009:2)

3. Spiral Life Cycle Method

The idea of minimizing risk via the use of prototypes and other means is the idea underlying the spiral life cycle model. A simplified way of looking at this life cycle is a waterfall model with each phase preceded by risk analysis.

(Scach, R.Stephen, Object Oriented and Classical Software Engineering, 2005:55).

Perbandingan dari ketiga metodologi tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Perbandingan Waterfall RAD Spiral Karakteristik Salah satu point yang

menjadi karakteristik utama yang dimiliki oleh model waterfall adalah tidak akan ada fase yang selesai hingga dokumentasi dari fase tersebut selesai dibuat dan produk yang

dihasilkan pada fase tersebut diterima oleh software quality assurance (SQA) group.

Aspek utama yang dimiliki oleh model RAD adalah developer dapat membangun sebuah software dengan cara acak untuk mempercepat pengerjaan suatu produk. Biasa digunakan pada project berskala kecil – menengah.

Model spiral life cycle ini menggabungkan antara model waterfall dengan model prototyping dengan menambahkan risk analysis pada setiap fasenya. Tahapan 1. Requirement 2. Analysis 3. Design 4. Implementation 5. Postdelivery maintenance 6. Retirement

1.Analysis : client dan developer bersama-sama berinteraksi dan bereksperimen dengan prototype awal yang telah ada. Jika client

menginginkan adanya perubahan pada protoype yang ada, maka developer harus

menggambarkan ulang spesifikasi yang diinginkan oleh client. Hal ini terus dilakukan hingga kedua pihak meyakini bahwa produk yang akan dibuat tersebut telah memenuhi kebutuhan client. 2.Design : developer melakukan perancangan-perancangan yang sesuai dengan 1. Customer Communicatio n : komunikasi antara pengembang dengan pelanggan. 2. Planning : penentuan tujuan, alternatif dan batasan. 3. Risk Analysis : analisa alternatif dan identifikasi/pe mecahan resiko. 4. Engineering : pengembanga n level berikutnya dari produk. 5. Construction and release : testing, instalasi, dan menyediakan Tabel 2.2. Perbandingan Metodologi

tahap analysis. 3.Prototyping cycles :

dilakukan pengerjaan dari design yang telah ada. Pada model RAD, di tahap ini memungkinkan untuk dilakukan perubahan pada design produk yang ada, jika diharuskan adanya perubahan yang mengacu kepada produk yang berhasil dibuat. 4.Testing : developer

masih dapat memasuki tahapan baik analysis, design, maupun implementation, sesuai dengan kebutuhan maintenance yang harus dilakukan. dengan training pada user dan pembuatan dokumentasi. 6. Customer Evaluation : penilaian terhadap hasil engineering.

Kelebihan 1. Sederhana dan mudah digunakan. 2. Mudah diatur. 3. Baik digunakan pada pengembangan aplikasi dimana requirement telah diketahui. 1. Hasil pengembangan bisa lebih cepat dibandingkan SDLC lainnya

2. Memerlukan biaya yang lebih sedikit 3. Mementingkan dari

segi bisnis dan teknik

4. Berkonsentrasi pada sudut pandang user 5. Menyediakan kemungkinan perubahan secara cepat sesuai permintaan user 6. Menghasilkan jarak kesesuaian yang kecil antara kebutuhan user dan spesifikasi sistem 7. Waktu, biaya, dan

effort minimal

Model ini baik untuk digunakan pada pengembangan software internal yang berskala besar

Kekurangan 1. Memiliki resiko besar.

2. Pendefinisian

1. RAD memerlukan sumber daya manusia yang

Model ini dapat menyulitkan jika digunakan pada

kebutuhan sistem memakan waktu yang lama

3. Tidak cocok untuk digunakan untuk aplikasi yang object-oriented. 4. Tidak cocok untuk

digunakan pada

project yang

panjang.

memadai untuk menciptakan jumlah tim RAD yang baik. 2. RAD menuntut pengembangan dan pelanggan memiliki komitmen di dalam aktivitas rapid-fire yang diperlukan untuk melengkapi sebuah sistem, di dalam kerangka waktu yang sangat diperpendek.

3. Kecepatan yang tinggi dengan biaya minimal kemungkinan besar. 4. Proyek mungkin berakhir dengan lebih banyak tambahan kebutuhan daripada yang telah dipenuhi 5. Potensial adanya penambahan fitur 6. Sangat sulit membuat modul yang dapat digunakan kembali project berskala kecil.

Dalam penelitian ini, penulis memutuskan untuk menggunakan metodologi Rapid Application Development (RAD), dengan alasan :

a. Penelitian yang dilakukan masih berskala kecil. b. Waktu pengembangan singkat.

c. Seam Framework mendukung untuk pengembangan dengan menggunakan metodologi RAD.

Dokumen terkait