METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Kesatuan Pemangkuan Hutan Bojonegoro Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. Kegiatan penelitian dilaksanakan pada bulan Februari – Juli 2007.
3.2 Bahan dan Alat
3.2.1 Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder untuk proses simulasi dalam membuat model.
Data primer diperoleh dari hasil penelusuran secara langsung terhadap saluran pemasaran kayu jati yang terdapat di lokasi penelitian ; wawancara atau diskusi dengan para aktor yang terlibat di setiap mata rantai serta pihak yang berkompeten dalam hal ini. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui pengutipan data administrasi yang tersedia di kantor Perhutani dan di setiap mata rantai.
Jenis data yang diperlukan adalah : 1. Saluran pemasaran kayu jati. 2. Kapasitas produksi industri mebel. 3. Biaya produksi di setiap mata rantai.
4. Volume penjualan dan harga penjualan di setiap mata rantai. 5. Modal dan investasi permanen setiap mata rantai.
6. Data penunjang lain pendukung topik penelitian. 3.2.2 Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah : Software STELLA 8.0 untuk membuat model simulasi, alat tulis, serta program Microsoft excel untuk pengolahan data.
3.3 Analisis Data
Data yang diperoleh akan dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan tabulasi dan disajikan dalam bentuk tabel. Sub-variabel dan variabel dalam rantai
nilai akan dianalisis untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh mengenai pengusahaan kayu jati. Kemudian akan dibuat model dengan bantuan software
STELLA 8. Beberapa asumsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Rendemen bahan baku menjadi barang setengah jadi dianggap tetap yaitu sebesar 65% dan rendemen barang setengah jadi menjadi barang jadi sebesar 35%. 2. Suku bunga diabaikan.
3. Intensitas pengelolaan, jenis dan intensitas gangguan dianggap tetap seperti pada saat pengambilan data. Jika ada perubahan maka hasil penelitian akan berubah. 4. Metode penelitian dan analisis data dapat diterapkan pada semua KPH,
sedangkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini hanya berlaku untuk KPH Bojonegoro.
3.4 Pendekatan Sistem
Tahapan pengembangan model yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan atas tahapan yang disarankan dalam Purnomo (2004), yaitu :
3.4.1 Identifikasi isu, tujuan dan batasan
Identifikasi isu atau masalah dilakukan untuk mengetahui dimana sebenarnya pemodelan perlu dilakukan. Isu yang diangkat dalam pemodelan harus dinyatakan secara eksplisit. Setelah isu ditentukan, berikutnya adalah menentukan tujuan pemodelan. Tujuan pemodelan harus dinyatakan secara eksplisit, sebagaimana halnya isu yang diangkat. Berikutnya adalah menentukan batasan terhadap pemodelan yang dilakukan. Batasan berarti kejelasan apa yang termasuk dan tidak termasuk dalam pemodelan. Batasan dapat berupa batas daerah atau ruang, batas waktu, atau dapat juga batas isu.
3.4.2 Konseptualisasi model
Konseptulisasi model bertujuan untuk mendapatkan gambaran secara menyeluruh tentang model yang akan dibuat. Konseptualisasi model terdiri dari : 1) Kategorisasi atau pengelompokan komponen-komponen dalam sistem.
Setiap komponen dalam ruang lingkup sistem dikategorisasikan ke dalam berbagai kategori sesuai dengan karakter dan fungsinya yaitu :
a. State variable, yang menyatakan titik akumulasi dari materi dalam sebuah
b. Driving variable atau peubah penggerak adalah variabel yang dapat mempengaruhi variabel lain tetapi tidak dapat dipengaruhi oleh variabel lain dalam sistem.
c. Konstanta adalah nilai numerik yang menggambarkan karakteristik sebuah sistem yang tidak berubah atau suatu nilai yang tidak mengalami perubahan pada setiap kondisi simulasi.
d. Auxiliary variable, variable yang dapat dipengaruhi dan mempengaruhi
variabel lain dalam sistem. Variabel ini muncul sebagai pembantu dalam menentukan laju aliran transfer materi atau nilai bagi peubah lainnya.
e. Material transfer, menggambarkan transfer materi selama periode
tertentu. Material transfer terletak diantara dua state, source dan state,
source dan sink.
f. Information transfer, menggambarkan penggunaan informasi tentang
state dari sistem untuk mengendalikan perubahan state.
g. Source dan sink berturut-turut menggambarkan titik asal (awal)
dimulainya proses dan akhir dari masing-masing transfer materi. 2) Pengidentifikasian hubungan antar komponen.
3) Menyatakan komponen dan hubungannya dalam model yang lazim.
4) Menentukan pola perilaku dari model sesuai dengan pengetahuan dan teori yang ada.
5) Menggambarkan pola yang diharapkan dari perilaku model.
Driv ing v ariable Auxiliary v ariable 1 Constant
Material transf er 1
State v ariable 1
Material transf er 2 Material transf er 3 State v ariable 2
Auxiliary v ariable 2
Sector 1
source sink
3.4.3 Spesifikasi model
Dalam fase ini dilakukan perumusan makna sebenarnya dari setiap hubungan yang ada dalam model konseptual. Fase ini terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut :
i. Memilih struktur umum kuantitatif untuk model. ii. Memilih Basic Time Unit untuk simulasi.
iii. Mengidentifikasi bentuk-bentuk fungsional dari persamaan model. iv. Menduga parameter-parameter dari persamaan model.
v. Memasukan persamaan model ke dalam simulasi. vi. Menjalankan baseline simulation.
vii. Menetapkan persamaan model.
Akhir dari fase ini akan didapat sebuah model yang dapat dijalankan dengan komputer untuk pemodelan dengan bantuan software STELLA 8.
3.4.4 Evaluasi model
Pada fase ini dilakukan beberapa tahap, yaitu :
3.4.5 Pengamatan kelogisan model dan membandingkan dengan dunia nyata atau model andal yang serupa (jika ada).
3.4.6 Mengamati kesesuaian antara perilaku model dengan harapan atau perkiraan yang digambarkan pada fase konseptualisasi model.
3.4.7 Membandingkan antara perilaku model dengan data yang didapat dari sistem atau dunia nyata.
3.4.5 Penggunaan model
Kegiatan pertama adalah membuat daftar panjang (long list) dari semua skenario yang mungkin, yang dapat dibuat dari model yang dikembangkan, dalam hal ini adalah model rantai nilai kayu jati (Tectona grandis L.f) di KPH Bojonegoro. Langkah kedua adalah menganalisis hasil skenario tersebut. Langkah terakhir adalah merumuskan skenario tersebut menjadi opsi atau pilihan kebijakan.