MODEL RANTAI NILAI KAYU JATI (
Tectona grandis
L.f)
DI KESATUAN PEMANGKUAN HUTAN BOJONEGORO
PERUM PERHUTANI UNIT II JAWA TIMUR
ASRI GAYATRI
DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN
FAKULTAS KEHUTANAN
MODEL RANTAI NILAI KAYU JATI (
Tectona grandis
L.f)
DI KESATUAN PEMANGKUAN HUTAN BOJONEGORO
PERUM PERHUTANI UNIT II JAWA TIMUR
ASRI GAYATRI
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Kehutanan pada Fakultas Kehutanan,
Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN
FAKULTAS KEHUTANAN
RINGKASAN
ASRI GAYATRI. Model Rantai Nilai Kayu Jati (Tectona grandis L.f) di Kesatuan Pemangkuan Hutan Bojonegoro Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. Dibawah bimbingan : HERRY PURNOMO dan BUDI KUNCAHYO.
Kerusakan hutan berdampak langsung terhadap perkembangan pengusahaan kayu jati. Untuk mengembangkan pengusahaan kayu jati, informasi tentang pasar komoditi kayu jati mempunyai peranan penting untuk menentukan harga jual kayu jati. Oleh karena itu, kelestarian hutan pun harus diperhatikan sebab dapat mempengaruhi pasar. Untuk itu perlu adanya kajian tentang sistem pengusahaan dan bisnis perkayuan di Indonesia yang menguntungkan tanpa merusak kelestarian hutan yang nantinya akan menurunkan harga pasaran kayu jati. Salah satu alternatifnya adalah menelusuri mata rantai nilai kayu jati mulai dari proses produksi kayu jati, pemasaran kayu jati hingga bisnis perkayuan jati.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui alur rantai nilai kayu jati, menganalisis nilai tambah yang diperoleh para aktor dalam rantai nilai kayu jati, mengetahui faktor pendorong dan penghambat perkembangan pengusahaan kayu jati, menyusun model rantai nilai kayu jati, serta menyusun skenario alternatif kebijakan bagi para aktor dalam sistem rantai nilai kayu jati.
Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari – Juli 2007. Data yang dikumpulkan berupa data primer melalui metode wawancara atau diskusi dengan para aktor yang terlibat di setiap mata rantai serta pihak yang berkompeten dalam hal ini, dan data sekunder diperoleh melalui pengutipan data administrasi yang tersedia di kantor Perhutani dan di setiap mata rantai. Pengolahan data dilakukan dengan melakukan perhitungan dan diaplikasikan dalam bentuk tabulasi kemudian akan dibuat model dengan bantuan software STELLA 8.
Dari hasil penelitian diperoleh lima aktor yang terlibat dalam rantai nilai kayu jati di KPH Bojonegoro. Titik awal kelima rantai nilai ini dimulai dari penghasil kayu, yaitu KPH Bojonegoro dan berakhir di penjual produk akhir. Model yang dibuat terdiri dari beberapa submodel, antara lain : sub model tegakan hutan, sub model penjualan kayu perhutani, sub model keuangan perhutani, sub model industri kayu, dan sub model perantara. Pembuatan skenario bertujuan untuk mengetahui peningkatan nilai pertambahan kayu jati dengan skenario yang diterapkan, agar dapat dijadikan masukan yang bermanfaat bagi pengembangan bisnis perkayuan. Beberapa skenario yang dibuat adalah : menaikkan daur, menurunkan daur, meningkatkan rendemen, dan penanaman lahan kosong agar dapat meningkatkan volume tebang. Hasil simulasi melalui skenario-skenario yang diterapkan diperoleh nilai tambah terbesar yaitu dengan menerapkan skenario penanaman lahan kosong sebesar 89%. Sedangkan nilai tambah terkecil adalah dengan menerapkan skenario peningkatan daur. Berdasarkan beberapa pertimbangan maka skenario yang paling mungkin diterapkan adalah dengan melakukan penanaman pada lahan kosong.
SUMMARRY
ASRI GAYATRI. The Value Sequence Model of Teak (Tectona grandis L.f) Wood at Bojonegoro Forest Resort (KPH) Perum Perhutani Unit II East Java. Under the Direction of HERRY PURNOMO and BUDI KUNCAHYO.
Deforestation affects directly to teak timber trading development. To improve teak timber enterprising, market information play important role to define teak wood price. Therefore, we should pay attention to forest sustainability due to its influence to the market. For that reason, it is necessary to study trading system and wood business in Indonesia which is profitable and no destructing forest that may affect its market. One of the alternative studies is to search the value sequence of teak wood trading from production process, marketing, to teak wood business.
The aim of this study is to know the value sequence of teak wood, to analyze the accretion value where the actors obtain in the value sequence of teak wood, to know factors that support and restruct teak wood trading development, to arrange value sequence model of teak wood, and to make scenario of alternative policy for actors in the value sequence of teak wood system.
This study was carried out on February – July 2007. The primary data was collected by interviewing or discussion with the actors who involve in every sequence and who competent in this study, while secondary data was collected by picking up required data from Perhutani and each sequence administration data. The data was processed with calculation and apply it in tabulation then make the model with STELLA 8 software.
From this study resulted five actors involved in the value sequence of teak timber in KPH Bojonegoro. The starting point of the sequence is timber producer i.e KPH Bojonegoro, and finish at final products seller. The model made in this study consists some models; Forest Stand model, Perhutani Timber Trading model, Perhutani Finance model, Wood Industry model, and Mediator sub-model. The scenario was purposed to know the increasing of teak wood accretion value where the scenario is implemented as useful suggestion for wood business development. The scenarios are: extending cycle, cutting cycle, increasing yield, and planting unoccupied land to increase logging volume. The scenario simulation shows that the biggest accretion value (89%) was resulted from planting unoccupied land scenario. While smallest accretion value was resulted from extending cycle scenario. Base on some considerations, the most eligible scenario is planting unoccupied land.
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul Model Rantai
Nilai Kayu Jati (Tectona grandis L.f) di Kesatuan Pemangkuan Hutan
Bojonegoro Perum Perhutani Unit II Jawa Timur adalah benar-benar hasil karya
saya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing dan belum pernah digunakan
sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi ataupun lembaga manapun. Sumber
informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak
diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam
Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Bogor, Januari 2009
Asri Gayatri
Judul : Model Rantai Nilai Kayu Jati (Tectona grandis L.f)
Di Kesatuan Pemangkuan Hutan Bojonegoro Perum
Perhutani Unit II Jawa Timur
Nama : Asri Gayatri
NRP : E14103002
Menyetujui,
Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II
Dr. Ir. Herry Purnomo, M. Comp Dr. Ir. Budi Kuncahyo, M. Si
NIP. 131 795 793 NIP. 131 578 798
Mengetahui,
Dekan Fakultas Kehutanan IPB
Dr. Ir. Hendrayanto, M.Agr
NIP. 131 578 788
KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala
karunia dan kemudahan yang telah diberikan-Nya, sehingga karya ilmiah ini berhasil
diselesaikan. Shalawat serta salam juga penulis haturkan kepada teladan terbaik umat
manusia, Nabi Muhammad SAW. Tema yang dipilih dalam penelitian yang
dilaksanakan pada bulan Februari 2007 adalah rantai nilai, dengan judul Model
Rantai Nilai Kayu Jati (Tectona grandis L.f) di Kesatuan Pemangkuan Hutan
Bojonegoro Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. Tujuan penelitian ini untuk
mengetahui alur rantai nilai kayu jati, menganalisis nilai tambah, mengetahui faktor
pendorong dan penghambat perkembangan pengusahaan kayu jati, dan membuat
model rantai nilai kayu jati guna menyusun skenario alternatif kebijakan bagi para
aktor dalam sistem rantai nilai kayu jati agar memperoleh nilai tambah secara
proporsional.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan
khususnya di dunia kehutanan. Atas segala kekurangan, penulis mohon maaf yang
sebesar-besarnya. Karena sesungguhnya kelebihan hanya datang dari Allah SWT
semata dan kekurangan berasal dari diri penulis pribadi.
Bogor, Januari 2009
RIWAYAT HIDUP
Penulis lahir di Garut, Jawa Barat pada tanggal 11 Juni 1986 sebagai anak
pertama dari dua bersaudara dari pasangan Bapak Drs.Undang Sobirin dengan Ibu
Yati S Astiza. Pendidikan penulis diawali pada tahun 1990 di Sekolah Dasar (SD)
Negeri Pameungpeuk I Garut selama enam tahun. Selanjutnya pada tahun 1997,
penulis mengikuti pendidikan lanjutan di SLTP Negeri Pameungpeuk I Garut dan
menyelesaikannya pada tahun 2000. Pada tahun yang sama, penulis memasuki SMU
Negeri Pameungpeuk I Garut hingga tamat pada tahun 2003.
Pada tahun 2003, penulis diberi kesempatan untuk belajar di Institut Pertanian
Bogor di Fakultas Kehutanan pada program studi Manajemen Hutan melalui jalur
USMI. Tahun ketiga pendidikan di IPB, penulis memilih Laboratorium Biometrika
Hutan. Selama melaksanakan studi di Fakultas Kehutanan IPB, penulis juga aktif di
DKM Al-Hurriyyah (2003-2004) sebagai staff Informasi dan Komunikasi. Tahun
yang sama penulis juga aktif di DKM Ibaadurrahmaan sebagai staff Pembinaan Umat
(2003-2004), staff Biro Ilmy (2004-2005) dan Bendahara Umum (2005-2006).
Tahun 2005 penulis melaksanakan Praktik Umum Kehutanan (PUK) di Jawa
Tengah, jalur Baturaden – Cilacap dan Praktik Pengelolaan Hutan (P2H) di KPH
Banyumas Barat. Penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapang di KPH Bojonegoro.
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan IPB, penulis
melakukan penelitian di tempat yang sama, dengan judul ” Model Rantai Nilai
Kayu Jati (Tectona grandis L.f) di Kesatuan Pemangkuan Hutan Bojonegoro
Perum Perhutani Unit II Jawa Timur”, di bawah bimbingan Dr. Ir. Herry
UCAPAN TERIMA KASIH
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan banyak nikmat dan karunia-Nya sehingga pada akhirnya penyusunan laporan Praktek Kerja Lapang ini dapat terselesaikan. Sholawat serta salam juga tercurah kepada nabi besar umat Islam Muhammad SAW beserta para sahabat dan keluarganya serta para pengikutnya yang tetap istiqomah dalam menjalankan amanahnya sebagai khilafah di bumi ini hingga akhir masa.
Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak dan Ibu atas segala upaya jerih payahnya dan lantunan do’a yang tak pernah putus. Semoga Allah memberikan balasan yang lebih baik dan menempatkan keduanya pada tempat yang mulia disisi-Nya nanti.
2. Kakakku dan My little sister yang big (Astri Marliani) atas kebersamaan yang indah. Semoga Allah selalu membimbing kita menjadi anak yang shalih/ah dan berbakti pada orang tua.
3. Bapakku Ir. Gangga atas segenap curahan ilmunya, atas keshabarannya dan segalanya, semoga Allah memberikan balasan yang lebih baik.
4. Dr. Ir. Herry Purnomo, M.Comp dan Dr. Ir. Budi Kuncahyo,MS selaku dosen pembimbing, atas segala bimbingan, nasehat, ilmu dan waktu yang telah diberikan kepada penulis. Semoga Allah memberikan balasan yang lebih baik.
5. Dr. Ir. I Nyoman Jaya Wistara, MS selaku dosen penguji dari Departemen Hasil Hutan dan Dr. Ir. Abdul Haris Mustari, Msc selaku dosen penguji dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan atas masukan, saran serta nasehatnya kepada penulis.
6. Seluruh staf KPH Bojonegoro beserta jajarannya atas segala bantuan dan kerjasamanya. Semoga Allah memberikan balasan yang lebih baik.
7. Keluarga Bapak Guntoro, Hughes, mbak Dian, mbak Rini, mbak Novi, mbak Yanti atas kebersamaan yang sekejap selama penelitian. Semoga kita dipertemukan kembali di tempat yang lebih indah dan dalam keadaan yang lebih baik.
8. Ikhwah fillah atas setiap waktu yang diperjuangkan dan ukhuwah yang tak tergoyahkan. Jazakumullahu Khairan Katsiran.
9. Lingkaran kecilku yang telah memberikan energi dan pencerahan dalam menapaki hidup. 10. Rekan-rekan Manajemen Hutan ’40 atas kebersamaannya selama ini.
11. Keluarga kecil “Wisma Balsem”, yang memberikan banyak motivasi dan semangat. Jazakumullahu Khairan Katsiran atas kebersamaan kita hingga sekarang. Semoga ukhuwah kita tetap terjalin hingga nanti.
12. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu dan telah membantu dalam penyelesaian tulisan ini.
Sesungguhnya Allah akan memudahkan urusan hambaNya yang senantiasa memudahkan kesulitan saudaranya.
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR... i
DAFTAR ISI... ii
DAFTAR TABEL... iii
DAFTAR GAMBAR... iv
DAFTAR LAMPIRAN... v
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan Penelitian... 2
1.3 Manfaat Penelitian... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Umum Jati ... 4
2.2 Konsep Rantai Nilai ... 6
2.3 Industri ... 8
2.4 Sistem, Model dan Simulasi... 8
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian... 14
3.2 Bahan dan Alat ... 14
3.3 Analisis Data ... 14
3.4 Pendekatan Sistem... 15
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pemodelan Rantai Nilai dengan Pendekatan Sistem... 18
4.2 Evaluasi Model... 27
4.3 Penggunaan Model ... 29
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan... 37
5.2 Saran... 37
DAFTAR PUSTAKA... 38
MODEL RANTAI NILAI KAYU JATI (
Tectona grandis
L.f)
DI KESATUAN PEMANGKUAN HUTAN BOJONEGORO
PERUM PERHUTANI UNIT II JAWA TIMUR
ASRI GAYATRI
DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN
FAKULTAS KEHUTANAN
MODEL RANTAI NILAI KAYU JATI (
Tectona grandis
L.f)
DI KESATUAN PEMANGKUAN HUTAN BOJONEGORO
PERUM PERHUTANI UNIT II JAWA TIMUR
ASRI GAYATRI
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Kehutanan pada Fakultas Kehutanan,
Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN
FAKULTAS KEHUTANAN
RINGKASAN
ASRI GAYATRI. Model Rantai Nilai Kayu Jati (Tectona grandis L.f) di Kesatuan Pemangkuan Hutan Bojonegoro Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. Dibawah bimbingan : HERRY PURNOMO dan BUDI KUNCAHYO.
Kerusakan hutan berdampak langsung terhadap perkembangan pengusahaan kayu jati. Untuk mengembangkan pengusahaan kayu jati, informasi tentang pasar komoditi kayu jati mempunyai peranan penting untuk menentukan harga jual kayu jati. Oleh karena itu, kelestarian hutan pun harus diperhatikan sebab dapat mempengaruhi pasar. Untuk itu perlu adanya kajian tentang sistem pengusahaan dan bisnis perkayuan di Indonesia yang menguntungkan tanpa merusak kelestarian hutan yang nantinya akan menurunkan harga pasaran kayu jati. Salah satu alternatifnya adalah menelusuri mata rantai nilai kayu jati mulai dari proses produksi kayu jati, pemasaran kayu jati hingga bisnis perkayuan jati.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui alur rantai nilai kayu jati, menganalisis nilai tambah yang diperoleh para aktor dalam rantai nilai kayu jati, mengetahui faktor pendorong dan penghambat perkembangan pengusahaan kayu jati, menyusun model rantai nilai kayu jati, serta menyusun skenario alternatif kebijakan bagi para aktor dalam sistem rantai nilai kayu jati.
Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari – Juli 2007. Data yang dikumpulkan berupa data primer melalui metode wawancara atau diskusi dengan para aktor yang terlibat di setiap mata rantai serta pihak yang berkompeten dalam hal ini, dan data sekunder diperoleh melalui pengutipan data administrasi yang tersedia di kantor Perhutani dan di setiap mata rantai. Pengolahan data dilakukan dengan melakukan perhitungan dan diaplikasikan dalam bentuk tabulasi kemudian akan dibuat model dengan bantuan software STELLA 8.
Dari hasil penelitian diperoleh lima aktor yang terlibat dalam rantai nilai kayu jati di KPH Bojonegoro. Titik awal kelima rantai nilai ini dimulai dari penghasil kayu, yaitu KPH Bojonegoro dan berakhir di penjual produk akhir. Model yang dibuat terdiri dari beberapa submodel, antara lain : sub model tegakan hutan, sub model penjualan kayu perhutani, sub model keuangan perhutani, sub model industri kayu, dan sub model perantara. Pembuatan skenario bertujuan untuk mengetahui peningkatan nilai pertambahan kayu jati dengan skenario yang diterapkan, agar dapat dijadikan masukan yang bermanfaat bagi pengembangan bisnis perkayuan. Beberapa skenario yang dibuat adalah : menaikkan daur, menurunkan daur, meningkatkan rendemen, dan penanaman lahan kosong agar dapat meningkatkan volume tebang. Hasil simulasi melalui skenario-skenario yang diterapkan diperoleh nilai tambah terbesar yaitu dengan menerapkan skenario penanaman lahan kosong sebesar 89%. Sedangkan nilai tambah terkecil adalah dengan menerapkan skenario peningkatan daur. Berdasarkan beberapa pertimbangan maka skenario yang paling mungkin diterapkan adalah dengan melakukan penanaman pada lahan kosong.
SUMMARRY
ASRI GAYATRI. The Value Sequence Model of Teak (Tectona grandis L.f) Wood at Bojonegoro Forest Resort (KPH) Perum Perhutani Unit II East Java. Under the Direction of HERRY PURNOMO and BUDI KUNCAHYO.
Deforestation affects directly to teak timber trading development. To improve teak timber enterprising, market information play important role to define teak wood price. Therefore, we should pay attention to forest sustainability due to its influence to the market. For that reason, it is necessary to study trading system and wood business in Indonesia which is profitable and no destructing forest that may affect its market. One of the alternative studies is to search the value sequence of teak wood trading from production process, marketing, to teak wood business.
The aim of this study is to know the value sequence of teak wood, to analyze the accretion value where the actors obtain in the value sequence of teak wood, to know factors that support and restruct teak wood trading development, to arrange value sequence model of teak wood, and to make scenario of alternative policy for actors in the value sequence of teak wood system.
This study was carried out on February – July 2007. The primary data was collected by interviewing or discussion with the actors who involve in every sequence and who competent in this study, while secondary data was collected by picking up required data from Perhutani and each sequence administration data. The data was processed with calculation and apply it in tabulation then make the model with STELLA 8 software.
From this study resulted five actors involved in the value sequence of teak timber in KPH Bojonegoro. The starting point of the sequence is timber producer i.e KPH Bojonegoro, and finish at final products seller. The model made in this study consists some models; Forest Stand model, Perhutani Timber Trading model, Perhutani Finance model, Wood Industry model, and Mediator sub-model. The scenario was purposed to know the increasing of teak wood accretion value where the scenario is implemented as useful suggestion for wood business development. The scenarios are: extending cycle, cutting cycle, increasing yield, and planting unoccupied land to increase logging volume. The scenario simulation shows that the biggest accretion value (89%) was resulted from planting unoccupied land scenario. While smallest accretion value was resulted from extending cycle scenario. Base on some considerations, the most eligible scenario is planting unoccupied land.
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul Model Rantai
Nilai Kayu Jati (Tectona grandis L.f) di Kesatuan Pemangkuan Hutan
Bojonegoro Perum Perhutani Unit II Jawa Timur adalah benar-benar hasil karya
saya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing dan belum pernah digunakan
sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi ataupun lembaga manapun. Sumber
informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak
diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam
Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Bogor, Januari 2009
Asri Gayatri
Judul : Model Rantai Nilai Kayu Jati (Tectona grandis L.f)
Di Kesatuan Pemangkuan Hutan Bojonegoro Perum
Perhutani Unit II Jawa Timur
Nama : Asri Gayatri
NRP : E14103002
Menyetujui,
Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II
Dr. Ir. Herry Purnomo, M. Comp Dr. Ir. Budi Kuncahyo, M. Si
NIP. 131 795 793 NIP. 131 578 798
Mengetahui,
Dekan Fakultas Kehutanan IPB
Dr. Ir. Hendrayanto, M.Agr
NIP. 131 578 788
KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala
karunia dan kemudahan yang telah diberikan-Nya, sehingga karya ilmiah ini berhasil
diselesaikan. Shalawat serta salam juga penulis haturkan kepada teladan terbaik umat
manusia, Nabi Muhammad SAW. Tema yang dipilih dalam penelitian yang
dilaksanakan pada bulan Februari 2007 adalah rantai nilai, dengan judul Model
Rantai Nilai Kayu Jati (Tectona grandis L.f) di Kesatuan Pemangkuan Hutan
Bojonegoro Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. Tujuan penelitian ini untuk
mengetahui alur rantai nilai kayu jati, menganalisis nilai tambah, mengetahui faktor
pendorong dan penghambat perkembangan pengusahaan kayu jati, dan membuat
model rantai nilai kayu jati guna menyusun skenario alternatif kebijakan bagi para
aktor dalam sistem rantai nilai kayu jati agar memperoleh nilai tambah secara
proporsional.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan
khususnya di dunia kehutanan. Atas segala kekurangan, penulis mohon maaf yang
sebesar-besarnya. Karena sesungguhnya kelebihan hanya datang dari Allah SWT
semata dan kekurangan berasal dari diri penulis pribadi.
Bogor, Januari 2009
RIWAYAT HIDUP
Penulis lahir di Garut, Jawa Barat pada tanggal 11 Juni 1986 sebagai anak
pertama dari dua bersaudara dari pasangan Bapak Drs.Undang Sobirin dengan Ibu
Yati S Astiza. Pendidikan penulis diawali pada tahun 1990 di Sekolah Dasar (SD)
Negeri Pameungpeuk I Garut selama enam tahun. Selanjutnya pada tahun 1997,
penulis mengikuti pendidikan lanjutan di SLTP Negeri Pameungpeuk I Garut dan
menyelesaikannya pada tahun 2000. Pada tahun yang sama, penulis memasuki SMU
Negeri Pameungpeuk I Garut hingga tamat pada tahun 2003.
Pada tahun 2003, penulis diberi kesempatan untuk belajar di Institut Pertanian
Bogor di Fakultas Kehutanan pada program studi Manajemen Hutan melalui jalur
USMI. Tahun ketiga pendidikan di IPB, penulis memilih Laboratorium Biometrika
Hutan. Selama melaksanakan studi di Fakultas Kehutanan IPB, penulis juga aktif di
DKM Al-Hurriyyah (2003-2004) sebagai staff Informasi dan Komunikasi. Tahun
yang sama penulis juga aktif di DKM Ibaadurrahmaan sebagai staff Pembinaan Umat
(2003-2004), staff Biro Ilmy (2004-2005) dan Bendahara Umum (2005-2006).
Tahun 2005 penulis melaksanakan Praktik Umum Kehutanan (PUK) di Jawa
Tengah, jalur Baturaden – Cilacap dan Praktik Pengelolaan Hutan (P2H) di KPH
Banyumas Barat. Penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapang di KPH Bojonegoro.
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan IPB, penulis
melakukan penelitian di tempat yang sama, dengan judul ” Model Rantai Nilai
Kayu Jati (Tectona grandis L.f) di Kesatuan Pemangkuan Hutan Bojonegoro
Perum Perhutani Unit II Jawa Timur”, di bawah bimbingan Dr. Ir. Herry
UCAPAN TERIMA KASIH
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan banyak nikmat dan karunia-Nya sehingga pada akhirnya penyusunan laporan Praktek Kerja Lapang ini dapat terselesaikan. Sholawat serta salam juga tercurah kepada nabi besar umat Islam Muhammad SAW beserta para sahabat dan keluarganya serta para pengikutnya yang tetap istiqomah dalam menjalankan amanahnya sebagai khilafah di bumi ini hingga akhir masa.
Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak dan Ibu atas segala upaya jerih payahnya dan lantunan do’a yang tak pernah putus. Semoga Allah memberikan balasan yang lebih baik dan menempatkan keduanya pada tempat yang mulia disisi-Nya nanti.
2. Kakakku dan My little sister yang big (Astri Marliani) atas kebersamaan yang indah. Semoga Allah selalu membimbing kita menjadi anak yang shalih/ah dan berbakti pada orang tua.
3. Bapakku Ir. Gangga atas segenap curahan ilmunya, atas keshabarannya dan segalanya, semoga Allah memberikan balasan yang lebih baik.
4. Dr. Ir. Herry Purnomo, M.Comp dan Dr. Ir. Budi Kuncahyo,MS selaku dosen pembimbing, atas segala bimbingan, nasehat, ilmu dan waktu yang telah diberikan kepada penulis. Semoga Allah memberikan balasan yang lebih baik.
5. Dr. Ir. I Nyoman Jaya Wistara, MS selaku dosen penguji dari Departemen Hasil Hutan dan Dr. Ir. Abdul Haris Mustari, Msc selaku dosen penguji dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan atas masukan, saran serta nasehatnya kepada penulis.
6. Seluruh staf KPH Bojonegoro beserta jajarannya atas segala bantuan dan kerjasamanya. Semoga Allah memberikan balasan yang lebih baik.
7. Keluarga Bapak Guntoro, Hughes, mbak Dian, mbak Rini, mbak Novi, mbak Yanti atas kebersamaan yang sekejap selama penelitian. Semoga kita dipertemukan kembali di tempat yang lebih indah dan dalam keadaan yang lebih baik.
8. Ikhwah fillah atas setiap waktu yang diperjuangkan dan ukhuwah yang tak tergoyahkan. Jazakumullahu Khairan Katsiran.
9. Lingkaran kecilku yang telah memberikan energi dan pencerahan dalam menapaki hidup. 10. Rekan-rekan Manajemen Hutan ’40 atas kebersamaannya selama ini.
11. Keluarga kecil “Wisma Balsem”, yang memberikan banyak motivasi dan semangat. Jazakumullahu Khairan Katsiran atas kebersamaan kita hingga sekarang. Semoga ukhuwah kita tetap terjalin hingga nanti.
12. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu dan telah membantu dalam penyelesaian tulisan ini.
Sesungguhnya Allah akan memudahkan urusan hambaNya yang senantiasa memudahkan kesulitan saudaranya.
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR... i
DAFTAR ISI... ii
DAFTAR TABEL... iii
DAFTAR GAMBAR... iv
DAFTAR LAMPIRAN... v
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan Penelitian... 2
1.3 Manfaat Penelitian... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Umum Jati ... 4
2.2 Konsep Rantai Nilai ... 6
2.3 Industri ... 8
2.4 Sistem, Model dan Simulasi... 8
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian... 14
3.2 Bahan dan Alat ... 14
3.3 Analisis Data ... 14
3.4 Pendekatan Sistem... 15
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pemodelan Rantai Nilai dengan Pendekatan Sistem... 18
4.2 Evaluasi Model... 27
4.3 Penggunaan Model ... 29
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan... 37
5.2 Saran... 37
DAFTAR PUSTAKA... 38
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
Tabel 1. Pertambahan nilai kayu jati di setiap aktor dalam rantai nilai ... 22
Tabel 2. Pertambahan nilai per meter kubik jati ... 23
Tabel 3. Luas areal hutan KPH Bojonegoro pada simulasi dasar... 29
Tabel 4. Jumlah pohon pada simulasi dasar ... 30
Tabel 5. Penjualan kayu pada simulasi dasar ... 31
Tabel 6. Keuangan perhutani pada simulasi dasar... 31
Tabel 7. Nilai tambah industri kayu pada simulasi dasar ... 32
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
Gambar 1. Value chain sederhana dalam Kaplinsky dan Morris (2000)... 7
Gambar 2. Komponen dalam sistem... 16
Gambar 3. Hubungan antar submodel ... 21
Gambar 4. Konseptualisasi model dimodifikasi dari Purnomo (2006) ... 22
Gambar 5. Submodel penjualan kayu perhutani ... 25
Gambar 6. Submodel industri kayu ... 26
Gambar 7. Submodel perantara ... 27
Gambar 8. Rasio kelestarian hutan ... 27
Gambar 9. Analisis sensitifitas model ... 28
Gambar 10. Luas areal hutan KPH Bojonegoro ... 29
Gambar 11. Potensi tegakan hutan KPH Bojonegoro... 30
Gambar 12. Penjualan kayu perhutani ... 31
Gambar 13. Nilai tambah masing-masing aktor ... 33
Gambar 14. Nilai tambah pada skenario menaikkan daur ... 34
Gambar 15. Nilai tambah pada skenario menurunkan daur... 34
Gambar 16. Nilai tambah pada skenario menaikkan rendemen ... 35
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
Lampiran 1. Submodel tegakan hutan ... 39
Lampiran 2. Submodel keuangan perhutani ... . 40
Lampiran 3. Persamaan model... . 41
Lampiran 4. Biaya pengeluaran perhutani ... . 45
Lampiran 5. Sebaran kayu jati berdasarkan kelas umur ... . 46
B
BAABBII
P
PEENNDDAAHHUULLUUAANN
1.1 Latar Belakang
Hutan bukan hanya sekumpulan pepohonan yang mampu menghasilkan kayu,
tetapi lebih dari itu hutan adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa yang tidak ternilai
harganya, karena hutan sesungguhnya merupakan ekosistem penyangga kehidupan.
Hutan tidak hanya menyangga kehidupan masyarakat setempat, tetapi juga bagi
seluruh bangsa Indonesia bahkan masyarakat internasional. Jika hutan dikelola
dengan baik, niscaya akan membawa kebaikan bagi kehidupan masyarakat, namun
jika terjadi salah pengelolaan maka akan menjadi bencana bagi rakyat Indonesia,
bahkan bagi generasi yang akan datang. Oleh karena itu, sudah sepantasnya apabila
konstitusi dan undang-undang yang berlaku mengamanatkan agar kekayaan alam,
termasuk hutan dikuasai oleh negara, bukan saja karena fungsinya yang strategis,
namun lebih dari itu hutan adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa.
Sektor kehutanan menjadi jaring pengaman ekonomi ketika terjadi krisis
ekonomi yang parah. Sebagai contoh, selama krisis ekonomi tahun 1997-1998,
sejumlah rumah tangga di sekitar hutan memperoleh penghasilan dari sumber daya
hutan dengan penyumbang terbesar dari kayu dan rotan. Hal ini berarti bahwa sektor
kehutanan digunakan sebagai alternatif mata pencaharian ketika terjadinya kesulitan
ekonomi.
Selama tiga dekade terakhir, sumber daya hutan telah menjadi modal utama
pembangunan ekonomi nasional yang memberi dampak positif antara lain terhadap
peningkatan devisa, penyerapan tenaga kerja, dan mendorong pengembangan
wilayah dan pertumbuhan ekonomi. Namun sejalan dengan berkembangnya
peradaban, kondisi seperti ini sudah semakin sulit dijumpai di masa sekarang.
Kondisi yang justru menonjol dewasa ini adalah hutannya semakin rusak, sementara
masyarakat di sekitarnya tidak sejahtera.
Peran sektor kehutanan dalam perekonomian nasional kini meredup seiring
dengan makin kompleksnya permasalahan dan kejahatan kehutanan yang
menghancurkan sumber daya hutan. Sektor kehutanan saat ini menghadapi masalah
sampai dengan pemasaran hasil hutannya dan seluruh kawasan hutan berada dalam
tekanan. Permasalahan ini tidak hanya dari segi teknis saja tetapi juga menyangkut
berbagai aspek (ekonomi, sosial dan budaya) hingga kebijakan pemerintah.
Terjadinya perubahan tatanan bangsa yang menyentuh ke seluruh elemen kehidupan
berbangsa dan bernegara mempunyai dampak yang sangat besar terhadap keberadaan
hutan. Laju kerusakan hutan pada periode 1985-1997 tercatat 1,6 juta ha/tahun. Laju
kerusakan tersebut semakin parah dan tidak terkendali pada awal era reformasi
(1997-2000) dengan laju degradasi sebesar 2,8 juta ha/tahun dengan aktivitas
penebangan liar, penyelundupan kayu, dan konversi kawasan hutan menjadi areal
penggunaan lain yang semakin merajalela tanpa mengindahkan kaidah-kaidah
pengelolaan hutan yang lestari.
Kerusakan hutan berdampak langsung terhadap perkembangan pengusahaan
kayu jati, dimana perkembangan bisnis kayu jati merupakan salah satu aset negara
yang berharga. Untuk mengembangkan pengusahaan kayu jati, informasi tentang
pasar komoditi kayu jati mempunyai peranan penting untuk menentukan harga jual
kayu jati. Oleh karena itu, kelestarian hutan pun harus diperhatikan sebab dapat
mempengaruhi pasar.
Masalah biaya produksi dalam pengusahaan kayu jati yang semakin meningkat
karena terbatasnya bahan baku menjadi salah satu penyebab sulit berkembangnya
bisnis perkayuan. Untuk itu perlu adanya kajian tentang sistem pengusahaan dan
bisnis perkayuan di Indonesia yang menguntungkan tanpa merusak kelestarian hutan
yang nantinya akan menurunkan harga pasaran kayu jati. Salah satu alternatifnya
adalah menelusuri mata rantai nilai pertambahan kayu jati mulai dari proses produksi
kayu jati, pemasaran kayu jati hingga bisnis perkayuan jati.
1.2 Tujuan Penelitian
(1) Mengetahui alur rantai nilai kayu jati mulai dari pohon di hutan hingga ke
konsumen akhir.
(2) Menganalisis nilai tambah yang diperoleh para aktor yang terlibat dalam rantai
nilai kayu jati.
(3) Menyusun model rantai nilai kayu jati.
(4) Menyusun skenario alternatif kebijakan bagi para aktor dalam sistem rantai nilai
1.3 Manfaat Penelitian
(1) Memberikan informasi tentang peluang keberlangsungan Industri Kayu Jati
terkait dengan semakin langkanya bahan baku.
(2) Memberikan masukan bagi aktor-aktor rantai nilai dalam menyusun strategi
agar industri mebel ini dapat menunjukkan eksistensinya di pasar global
mebel.
(3) Memberikan masukan bagi Perhutani agar mampu menyeimbangkan rasio
kelestarian hutan terutama kelas perusahaan jati.
(4) Diharapkan mampu menggerakkan rakyat dalam pengembangan Hutan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Umum Jati
Menurut Martawijaya, dkk (1981), jati memiliki nama daerah diantaranya
daleg, dodolan, jate, jatih, jatos, kiati, kulidawa (jw). Sedangkan di negara lain jati
dikenal dengan nama giati (Venezuela), teak (Myanmar, India, Thailand, USA,
Jerman), kyun (Myanmar), sagwa (India), maisak (Thailand), teck (Perancis) dan
teca (Brasil). Dalam tulisan ini selanjutnya disebut dengan nama jati. Jati tersebar di
seluruh Jawa, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat
(Sumbawa), Maluku dan Lampung. Jati merupakan tanaman tropika dan subtropika
yang sejak abad ke-9 telah dikenal sebagai pohon yang memiliki kualitas tinggi dan
bernilai jual tinggi. Di Indonesia, jati digolongkan sebagai kayu mewah (Fancy
wood) dan memiliki kelas awet tinggi yang tahan gangguan rayap serta jamur, dan
awet (mampu bertahan hingga 500 tahun).
Klasifikasi tanaman jati mempunyai penggolongan sebagai berikut :
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Angiospermae
Sub-kelas : Dicotyledonae
Ordo : Verbenales
Famili : Verbenaceae
Genus : Tectona
Spesies : Tectona grandis Linn. F
Tanaman jati memiliki tinggi yang dapat mencapai sekitar 30-45 m. Dengan
pemangkasan, batang bebas cabang dapat mencapai 15-20 m. Diameter batang dapat
mencapai 220 cm. Menurut Dirjen Kehutanan (1976) dalam Martawijaya, dkk
(1981), mengemukakan bahwa pada umur 100 tahun pohon jati mencapai tinggi
25-30 m, tetapi di daerah yang subur dengan kondisi lingkungan yang baik tingginya
dapat mencapai 50 m dan diameter 150 cm.
Secara umum, jati memiliki ciri-ciri yaitu warna kayu teras coklat muda,
coklat kelabu sampai coklat merah tua atau merah coklat sedangkan kayu gubalnya
merata. Arah seratnya lurus atau kadang-kadang agak terpadu. Permukaan kayu jati
licin atau agak licin dan kadang-kadang seperti berminyak. Lingkaran tumbuh pada
kayu jati nampak jelas baik pada bidang transversal maupun radial sehingga
menimbulkan gambar yang indah. Kayu jati berbau bahan penyamak yang mudah
hilang.
Struktur kayu jati, pada porinya, sebagian besar atau seluruhnya soliter dalam
susunan tata lingkar, diameter 20-40 µ, frekuensi 3-7 per mm2. Parenkim kayu ini
termasuk tipe paratrakeal berbentuk selubung lengkap atau tidak lengkap. Disamping
itu terdapat pula parenkim apotrakeal berbentuk pita tangensial pendek atau panjang.
Parenkim terminal terletak pada batas lingkaran tumbuh.
Kayu jati termasuk kelas awet II, berdasarkan hasil percobaan laboratoris
terhadap Cryptotermes cynocephalus Light dan percobaan kuburan terhadap jamur
dan rayap tanah. Jenis kayu ini juga dilaporkan tahan terhadap serangan jamur.
Kayu jati mudah dikerjakan, baik dengan mesin maupun dengan alat tangan.
Jika alat-alat yang digunakan cukup tajam dapat dikerjakan sampai halus, tetapi
bidang transversal harus dikerjakan dengan hati-hati karena kayunya agak rapuh.
Kayu jati dapat divernis dan dipelitur dengan baik.
Karena sifat-sifatnya yang baik, jati merupakan jenis kayu yang paling
banyak dipakai untuk berbagai jenis keperluan terutama di Pulau Jawa. Kayu jati
praktis sangat cocok untuk segala jenis konstruksi seperti tiang, balok, dan gelagar
pada bangunan rumah dan jembatan, rangka atap, kosen pintu dan jendela, tiang dan
papan bendungan dalam air tawar, bantalan dan kayu perkakas kereta api, mebel,
alat-alat yang memerlukan perubahan bentuk yag kecil, kulit dan dek kapal, lantai
(papan dan parket) dan sirap. Meskipun kayu jati mempunyai kegunaan yang luas,
tetapi karena sifatnya yang agak rapuh, kurang baik untuk digunakan sebagai bahan
yang memerlukan kekenyalan tinggi seperti tangkai perkakas, alat olah raga, peti
pengepak, dan sebagainya. Jati merupakan kayu yang paling baik untuk pembuatan
kapal dan biasa dipakai untuk papan kapal, terutama kapal yang berlayar di daerah
tropis. Kayu jati dapat juga dipakai untuk tong, pipa dalam industri kimia dan
mempunyai daya tahan terhadap berbagai bahan kimia. Untuk dijadikan venir, jati
cukup baik dan mudah direkat. Sedangkan untuk kayu lapis, karena memberikan
gambar yang indah, kayu jati banyak dipakai untuk venir muka.
Jati tumbuh baik pada tanah sarang, terutama pada tanah yang mengandung
kapur. Jenis ini tumbuh di daerah dengan musim kering yang nyata, tipe curah hujan
C-F, jumlah hujan rata-rata 1200-2000 mm/th, pada ketinggian 0-700 mdpl.
Permudaan alam mudah terjadi dan dapat membentuk tegakan murni setelah
mengalami kebakaran. Selain itu, mudah pula tumbuh tunas tunggak, tetapi
permudaan semacam ini jarang dilakukan karena akan menghasilkan kayu yang
berkualitas rendah. Karena itu, untuk jati umumnya berlaku sistem tebang habis
dengan permudaan buatan. Permudaan buatan dilakukan langsung dengan biji yang
ditanam pada permulaan musim hujan dengan jarak tanam 3 m x 1 m sampai 3 m x 3
m tergantung pada bonita tanah.
2.2 Konsep Rantai Nilai (Value Chain)
Rantai nilai merupakan suatu alat utama untuk mempelajari semua kegiatan
yang dilakukan oleh sebuah perusahaan serta bagaimana kegiatan tersebut
berinteraksi. Porter (1980) juga mengusulkan rantai nilai sebagai alat utama untuk
mengidentifikasi cara menciptakan nilai bagi pelanggan yang lebih tinggi. Kerangka
value chain (value chain framework) merupakan suatu metoda memecah rantai
(chain), dari raw material sampai dengan end use costumer kedalam
aktivitas-aktivitas strategis yang relevan untuk memahami perilaku biaya dan sumber-sumber
diferensiasi, karena suatu aktivitas biasanya hanya merupakan bagian dari himpunan
aktivitas yang lebih besar dari suatu sistem yang menghasilkan nilai. Setiap
perusahaan terdiri dari kumpulan aktivitas yang dilaksanakan untuk merancang,
memproduksi, memasarkan, menyerahkan dan mendukung produk perusahaan.
Rantai nilai memecah perusahaan menjadi sembilan aktivitas menciptakan nilai
dalam usaha untuk memahami tingkah laku biaya dalam bisnis spesifik dan sumber
potensial untuk membedakan diri dari pesaing. Kesembilan aktivitas menciptakan
nilai termasuk lima aktivitas utama dan empat aktivitas pendukung. Aktivitas utama
mencakup membawa material kedalam perusahaan (inbound logistic),
mengopersikannya (operation), mengirimkan keluar (outbound logistic),
memasarkannya (marketing and sales) dan memberikan jasa (service). Aktivitas
infrastruktur perusahaan, manajemen sumberdaya manusia, pengembangan
teknologi, dan pengadaan barang/jasa (procurement).
Menurut Kaplinsky dan Morris (2000), Value chain menggambarkan seluruh
kegiatan yang diperlukan untuk menghasilkan barang atau jasa. Mulai dari
mendesain produk (barang atau jasa) yang akan dihasilkan, proses menghasilkan
produk, memasarkan produk dan mendaur ulang produk tersebut. Seperti
digambarkan pada gambar dibawah ini :
Gambar 1. Value Chain Sederhana (Kaplinsky dan Morris, 2000)
Recklies (2001) mengemukakan bahwa analisis rantai nilai menguraikan
aktifitas di dalam dan sekitar organisasi dan menghubungkannya pada posisi dan
suatu analisa organisasi pesaing yang kuat.
Porter (1980) berpendapat bahwa suatu perusahaan dapat mencapai
keunggulan kompetitifnya dengan mengembangkan salah satu dari dua strategi
umum yaitu low cost strategy dan differentiation strategy. Fokus utama dari low -
cost strategy adalah mencapai kos yang lebih rendah secara relatif dibanding
kompetitor (cost leadership). Cost leadership dapat dicapai dengan beberapa
pendekatan antara lain: economic of scale in production, experience curve effects,
high cost control dan cost minimization dalam area research and development, sales
or advertizing. Fokus utama differentiation strategy adalah menciptakan suatu
produk yang unik bagi konsumen atau memiliki atribut yang berbeda secara
signifikan dengan produk pesaing dan atribut tersebut penting dan bernilai bagi
konsumen. Keunikan produk dapat dicapai dengan berbagai cara antara lain brand
royalty, superior customer service, dealer network product design atau technology.
Perusahaan akan dapat mengembangkan cost leadership atau differentiation
tergantung pada bagaimana perusahaan mengelola value chain yang dimiliki.
Competitive advantage akan dicapai bila perusahaan dapat memberikan customer
value yang lebih tinggi dari kompetitor untuk biaya yang sama atau customer value
yang sama untuk biaya yang lebih rendah dari kompetitor. Konsep ini memandang
perusahaan sebagai sebuah ”rantai” dari aktivitas dasar yang menambah nilai suatu
produk atau jasa, sehingga memperluas batas dari nilai tersebut.
2.3 Industri
Porter (1980) mendefinisikan industri sebagai kelompok perusahaan yang
menghasilkan produk yang dapat saling menggantikan (close substitution). Pada
kenyataannya, seringkali terjadi kontroversi mengenai definisi yang tepat, yang
berkisar tentang seberapa erat sifat saling menggantikan ini seharusnya dalam artian
produk, proses, atau batas-batas pasar secara geografis.
Menurut Kotler dan Armstrong (1997), Industri adalah sekelompok
perusahaan yang menawarkan suatu produk atau kelas produk yang merupakan
substitusi dekat satu sama lain. Sedangkan perusahaan adalah organisasi yang
dikembangkan oleh seorang atau sekumpulan orang dengan tujuan untuk
menghasilkan berbagai jenis barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat. Tujuan
setiap perusahaan adalah meraih keuntungan semaksimal mungkin dan
mempertahankan kelestarian perusahaan. Sedangkan menurut Drucker (1982),
hanya ada satu definisi yang syah untuk tujuan perusahaan yaitu untuk menciptakan
pelanggan. Keuntungan bukanlah tujuan perusahaan, tetapi justru keuntungan
sebagai faktor penghambat. Keuntungan bukanlah alasan untuk keputusan
perusahaan tetapi ujian untuk kebenaran keputusan itu.
2.4 Sistem, Model, dan Simulasi
Manetsch dan Park, (1979) dalam Eriyatno (2003), Sistem adalah suatu gugus
dari elemen yang saling berhubungan dan terorganisasi untuk mencapai suatu tujuan
atau suatu gugus dari tujuan-tujuan. Sedangkan sub-sistem adalah suatu unsur atau
komponen fungsional dari suatu sistem, yang berperan dalam pengoperasian sistem
tersebut.
Menurut Soerianegara (1978), secara garis besar sistem dibedakan menjadi dua
yaitu sistem alam (natural) dan sistem buatan manusia (man made). Sistem alam
ialah sistem yang terjadi sendiri secara alam, sedangkan sistem buatan adalah sistem
Soerianegara (1978), mengemukakan bahwa simulasi adalah eksperimentasi yang
menggunakan model dari suatu sistem. Simulasi dalam analisis sistem meliputi tiga
kegiatan berikut :
1. Membuat model yang menggambarkan keadaan sistem dan proses-proses
yang terjadi didalamnya.
2. Memanipulasi atau melakukan percobaan-percobaan terhadap model tersebut
yang akan menghasilkan data eksperimen.
3. Menggunakan model dan data untuk menjawab pertanyaan atau memecahkan
persoalan mengenai sistem sebenarnya (real world) yang diteliti.
Menurut Purnomo (2004), analisis sistem lebih mendasarkan pada kemampuan
kita untuk memahami fenomena dari jumlah data yang tersedia. Analisis sistem
adalah sebuah pemahaman yang berbasis pada proses, sehingga sangat penting untuk
berusaha memahami proses-proses yang terjadi. Membuat analogi-analogi terkadang
merupakan cara yang penting untuk memahami sesuatu. Keyakinan akan adanya
isomorfisme antar beragam sistem menjadikan pemahaman terhadap sesuatu menjadi
mungkin, bahkan pada suatu sistem yang kita buta sekali akan perilakunya.
Analisis sistem berguna untuk mendekati masalah yang secara intuitif dapat
digolongkan kedalam organized complexities atau kompleksitas yang terorganisasi
dan tidak mungkin diselesaikan dengan pendekatan analitis dengan matematika.
Sistem kompleks artinya sistem tersebut kompleks tetapi kita yakin ada sebuah pola
pada sistem tersebut. Disebut intuitif, karena apakah sebuah sistem terorganisasi atau
tidak lebih merupakan keyakinan kita daripada sesuatu yang dapat tersaji secara
empiris .
Pemodelan (modelling) adalah kegiatan membuat model untuk tujuan tertentu.
Model adalah abstraksi dari sebuah sistem. Sistem adalah sesuatu yang terdapat di
dunia nyata. Sehingga pemodelan adalah kegiatan membawa sebuah dunia nyata
kedalam dunia tak nyata atau maya tanpa kehilangan sifat-sifat utamanya.
Pemodelan sistem adalah sebuah pengetahuan dan seni. Sebuah pengetahuan karena
ada logika yang jelas ingin dibangunnya dengan urutan yang sesuai. Sebuah seni,
karena pemodelan mencakup bagaimana menuangkan persepsi manusia atas dunia
Menurut Patten (1971), dasar dari analisis sistem adalah asumsi bahwa proses
alami terorganisasi dalam suatu hierarki yang kompleks. Proses sistem terbentuk dari
hasil aksi dan interkasi proses – proses yang sederhana. Tidak ada sistem yang
terpisahkan, setiap sistem berinteraksi satu sama lainnya.
Menurut Grant et al (1997), analisis sistem adalah studi yang dibentuk dari
satu atau beberapa sistem, atau sifat-sifat umum dari sistem. Holisme adalah filosofi
untuk mempelajari perilaku total (atau atribut-atribut total lain) dari beberapa sistem
yang kompleks. Analisis sistem adalah pendekatan filosofis dan kumpulan-
kumpulan teknik, termasuk simulasi yang dikembangkan secara eksplisit untuk
menunjukan masalah yang berkaitan dengan sistem kompleks. Analisis sistem
menekankan pada pendekatan holistik untuk memecahkan masalah dan
menggunakan model matematika untuk mengidentifikasi dan mensimulasikan
karakteristik yang penting dari sistem kompleks.
Thornley (1998) mengemukakan bahwa ada tiga alasan dalam pembuatan
model yaitu :
1. Membuat prediksi. Sependek apapun model selalu diperlukan untuk membuat
prediksi.
2. Mengerti cara kerja suatu sistem dan respon sistem ketika sistem dioperasikan.
3. Model menyediakan sebuah metode dalam mempelajari suatu kompleksitas.
Grant et al (1997) mengklasifikasikan model menjadi lima macam, yaitu:
1. Fisik versus Abstrak. Model fisik biasanya berupa tiruan fisik pada skala yang
dikurangi dari objek yang ditelaah. Model fisik tetap abstrak dari dunia nyata
sesuai dengan definisi dari model. Sedangkan model abstrak menggunakan
simbol daripada peralatan untuk mewakili sistem yang sedang dipelajari. Simbol
yang digunakan dapat berupa tulisan, deskripsi verbal, atau sebuah proses
pemikiran.
2. Dinamik versus Statik. Model statik menjelaskan hubungan atau satu set
hubungan yang tidak berubah menurut waktu. Model dinamik menjelaskan
hubungan yang bervariasi menurut waktu.
3. Empiris versus Mekanis. Model empiris atau korelasi adalah model yang
dikembangkan terutama untuk menjelaskan dan merangkum satu set hubungan,
beroperasi di sistem yang sebenarnya dan hasil dari model ini adalah prediksi.
Sedangkan model mekanis atau eksplanatori adalah model yang dikembangkan
terutama untuk menyajikan dinamika internal dari system of interest sewajarnya.
4. Deterministik versus Stokastik. Sebuah model dikatakan deterministik jika tidak
terdiri dari variable - variabel acak. Model ini memprediksi di bawah satu set
spesifik kondisi yang selalu persis sama. Sedangkan model dikatakan stokastik
jika terdiri dari satu set atau lebih variable - variabel acak. Model ini
memprediksi di bawah satu set kondisi yang tidak selalu persis sama.
5. Simulasi versus Analitis. Model yang dapat dipecahkan dengan didekati bentuk
matematik adalah model analisis. Contoh model analitis adalah model regresi,
model standar teori statisik distribusi, dan lain-lain. Model simulasi adalah model
yang tidak memiliki solusi analisis general dan harus dipecahkan secara numerik
dengan menggunakan satu set operasi aritmetik spesifik untuk situasi tertentu
lainnya yang dapat mewakili.
Tahapan analisis sistem menurut Grant et al. (1997), yaitu formulasi model
konseptual, spesifikasi model kuantitatif, evaluasi model, dan penggunaan model.
1). Formulasi model konseptual.
Tujuan tahapan ini adalah untuk menentukan suatu konsep dan tujuan model
sistem yang akan dianalisis. Penyusunan model konseptual ini didasarkan pada
kenyataan nyata di alam dengan segala sistem yang terkait antara yang satu dengan
yang lainnya serta saling mempengaruhi sehingga dapat mendekati keadaan yang
sebenarnya. Kenyataan yang ada di alam dimasukkan dalam simulasi dengan
memperhatikan komponen-komponen yang terkait sesuai dengan konsep dan tujuan
melakukan pemodelan simulasi. Tahapan ini terdiri dari enam langkah sebagai
berikut :
1. Penentuan tujuan model
2. Pembatasan model
3. Kategorisasi komponen-komponen dalam sistem.
Setiap komponen yang masuk dalam ruang lingkup sistem dikategorisasikan ke
dalam berbagai kategori sesuai dengan karakter dan fungsinya sebagai berikut :
b. driving variable, variabel yang dapat mempengaruhi variabel lain namun
tidak dapat dipengaruhi oleh sistem.
c. konstanta. Adalah nilai numerik yang menggambarkan karakteristik sebuah
sistem yang tidak berubah atau suatu nilai yang tidak mengalami perubahan
pada setiap kondisi simulasi.
d. auxiliary variable, variable yang dapat dipengaruhi dan mempengaruhi
sistem.
e. material transfer, menggambarkan transfer materi selama periode tertentu.
Material transfer terletak diantara dua state, source dan state, source dan sink.
f. information transfer, menggambarkan penggunaan informasi tentang state
dari sistem untuk mengendalikan perubahan state.
g. source dan sink berturut-turut menggambarkan asal (awal) dimulainya proses
dan akhir dari masing-masing transfer materi.
4. Pengidentifikasian hubungan antar komponen.
5. Menyatakan komponen dan hubungannya dalam model yang lazim.
6. Menentukan pola perilaku dari model sesuai dengan pengetahuan dan teori yang
ada.
7. Menggambarkan pola yang diharapkan dari perilaku model.
2). Spesifikasi model kuantitatif.
Tujuan dari tahapan ini adalah untuk mengembangkan model kuantitatif dari
sistem yang diinginkan. Pembuatan model kuantitatif ini dilakukan dengan
memberikan nilai kuantitatif terhadap masing-masing nilai vaiabel dan
menterjemahkan setiap hubungan antar variabel dan komponen peyusun model
sistem tersebut ke dalam persamaan matematik sehingga dapat dioperasikan oleh
program simulasi.
3). Evaluasi model.
Evaluasi model berguna untuk mengetahui keterandalan model sesuai dengan
tujuan yang ditetapkan. Langkah-langkah dalam evaluasi model meliputi :
1. Mengevaluasi kewajaran model dan kelogisan model.
2. Analisis sensitivitas. Analisis sensitivitas dilakukan untuk melihat kewajaran
perilaku model jika dilakukan perubahan salah satu parameter dalam model
4). Penggunaan Model.
Tujuan tahapan ini adalah untuk menjawab pertanyaan yang telah
diidentifikasi pada awal pembuatan model. Tahapan ini melibatkan perencanaan dan
simulasi beberapa skenario.
Untuk pemodelan yang lebih fleksibel, Purnomo (2004) menyarankan agar
dilakukan dengan fase-fase sebagai berikut :
a) Identifikasi isu, tujuan dan batasan.
b) Konseptualisasi model dengan menggunakan ragam metode seperti diagram
kotak dan panah, diagram sebab-akibat, diagram stok (stock) dan aliran
(flow), diagram case, diagram klas dan diagram sekuens.
c) Spesifikasi model, yaitu merumuskan makna diagram, kuantifikasi dan atau
kualifikasi komponen model (jika perlu).
d) Evaluasi model, yaitu mengamati kelogisan model dan membandingkan
dengan dunia nyata atau model andal yang serupa (jika ada dan perlu).
e) Penggunaan model, yaitu membuat skenario-skenario ke depan atau alternatif
kebijakan, mengevaluasi ragam skenario atau kebijakan tersebut dan
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Kesatuan Pemangkuan Hutan Bojonegoro Perum
Perhutani Unit II Jawa Timur. Kegiatan penelitian dilaksanakan pada bulan Februari
– Juli 2007.
3.2 Bahan dan Alat
3.2.1 Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data
sekunder untuk proses simulasi dalam membuat model.
Data primer diperoleh dari hasil penelusuran secara langsung terhadap
saluran pemasaran kayu jati yang terdapat di lokasi penelitian ; wawancara atau
diskusi dengan para aktor yang terlibat di setiap mata rantai serta pihak yang
berkompeten dalam hal ini. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui pengutipan
data administrasi yang tersedia di kantor Perhutani dan di setiap mata rantai.
Jenis data yang diperlukan adalah :
1. Saluran pemasaran kayu jati.
2. Kapasitas produksi industri mebel.
3. Biaya produksi di setiap mata rantai.
4. Volume penjualan dan harga penjualan di setiap mata rantai.
5. Modal dan investasi permanen setiap mata rantai.
6. Data penunjang lain pendukung topik penelitian.
3.2.2 Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah : Software STELLA 8.0 untuk
membuat model simulasi, alat tulis, serta program Microsoft excel untuk pengolahan
data.
3.3 Analisis Data
Data yang diperoleh akan dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan
nilai akan dianalisis untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh mengenai
pengusahaan kayu jati. Kemudian akan dibuat model dengan bantuan software
STELLA 8. Beberapa asumsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut :
1. Rendemen bahan baku menjadi barang setengah jadi dianggap tetap yaitu sebesar
65% dan rendemen barang setengah jadi menjadi barang jadi sebesar 35%.
2. Suku bunga diabaikan.
3. Intensitas pengelolaan, jenis dan intensitas gangguan dianggap tetap seperti pada
saat pengambilan data. Jika ada perubahan maka hasil penelitian akan berubah.
4. Metode penelitian dan analisis data dapat diterapkan pada semua KPH,
sedangkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini hanya berlaku untuk KPH
Bojonegoro.
3.4 Pendekatan Sistem
Tahapan pengembangan model yang digunakan dalam penelitian ini
berdasarkan atas tahapan yang disarankan dalam Purnomo (2004), yaitu :
3.4.1 Identifikasi isu, tujuan dan batasan
Identifikasi isu atau masalah dilakukan untuk mengetahui dimana sebenarnya
pemodelan perlu dilakukan. Isu yang diangkat dalam pemodelan harus
dinyatakan secara eksplisit. Setelah isu ditentukan, berikutnya adalah
menentukan tujuan pemodelan. Tujuan pemodelan harus dinyatakan secara
eksplisit, sebagaimana halnya isu yang diangkat. Berikutnya adalah menentukan
batasan terhadap pemodelan yang dilakukan. Batasan berarti kejelasan apa yang
termasuk dan tidak termasuk dalam pemodelan. Batasan dapat berupa batas
daerah atau ruang, batas waktu, atau dapat juga batas isu.
3.4.2 Konseptualisasi model
Konseptulisasi model bertujuan untuk mendapatkan gambaran secara
menyeluruh tentang model yang akan dibuat. Konseptualisasi model terdiri dari :
1) Kategorisasi atau pengelompokan komponen-komponen dalam sistem.
Setiap komponen dalam ruang lingkup sistem dikategorisasikan ke dalam
berbagai kategori sesuai dengan karakter dan fungsinya yaitu :
a. State variable, yang menyatakan titik akumulasi dari materi dalam sebuah
b. Driving variable atau peubah penggerak adalah variabel yang dapat
mempengaruhi variabel lain tetapi tidak dapat dipengaruhi oleh variabel
lain dalam sistem.
c. Konstanta adalah nilai numerik yang menggambarkan karakteristik
sebuah sistem yang tidak berubah atau suatu nilai yang tidak mengalami
perubahan pada setiap kondisi simulasi.
d. Auxiliary variable, variable yang dapat dipengaruhi dan mempengaruhi
variabel lain dalam sistem. Variabel ini muncul sebagai pembantu dalam
menentukan laju aliran transfer materi atau nilai bagi peubah lainnya.
e. Material transfer, menggambarkan transfer materi selama periode
tertentu. Material transfer terletak diantara dua state, source dan state,
source dan sink.
f. Information transfer, menggambarkan penggunaan informasi tentang
state dari sistem untuk mengendalikan perubahan state.
g. Source dan sink berturut-turut menggambarkan titik asal (awal)
dimulainya proses dan akhir dari masing-masing transfer materi.
2) Pengidentifikasian hubungan antar komponen.
3) Menyatakan komponen dan hubungannya dalam model yang lazim.
4) Menentukan pola perilaku dari model sesuai dengan pengetahuan dan teori
yang ada.
5) Menggambarkan pola yang diharapkan dari perilaku model.
Driv ing v ariable Auxiliary v ariable 1 Constant
Material transf er 1
State v ariable 1
Material transf er 2 Material transf er 3 State v ariable 2
Auxiliary v ariable 2
Sector 1
source sink
3.4.3 Spesifikasi model
Dalam fase ini dilakukan perumusan makna sebenarnya dari setiap hubungan
yang ada dalam model konseptual. Fase ini terdiri dari langkah-langkah sebagai
berikut :
i. Memilih struktur umum kuantitatif untuk model.
ii. Memilih Basic Time Unit untuk simulasi.
iii. Mengidentifikasi bentuk-bentuk fungsional dari persamaan model.
iv. Menduga parameter-parameter dari persamaan model.
v. Memasukan persamaan model ke dalam simulasi.
vi. Menjalankan baseline simulation.
vii. Menetapkan persamaan model.
Akhir dari fase ini akan didapat sebuah model yang dapat dijalankan dengan
komputer untuk pemodelan dengan bantuan software STELLA 8.
3.4.4 Evaluasi model
Pada fase ini dilakukan beberapa tahap, yaitu :
3.4.5 Pengamatan kelogisan model dan membandingkan dengan dunia
nyata atau model andal yang serupa (jika ada).
3.4.6 Mengamati kesesuaian antara perilaku model dengan harapan atau
perkiraan yang digambarkan pada fase konseptualisasi model.
3.4.7 Membandingkan antara perilaku model dengan data yang didapat dari
sistem atau dunia nyata.
3.4.5 Penggunaan model
Kegiatan pertama adalah membuat daftar panjang (long list) dari semua
skenario yang mungkin, yang dapat dibuat dari model yang dikembangkan,
dalam hal ini adalah model rantai nilai kayu jati (Tectona grandis L.f) di KPH
Bojonegoro. Langkah kedua adalah menganalisis hasil skenario tersebut.
Langkah terakhir adalah merumuskan skenario tersebut menjadi opsi atau pilihan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Pemodelan Rantai Nilai dengan Pendekatan Sistem
4.1.1 Identifikasi Isu, Tujuan dan Batasan
Kerusakan hutan berdampak langsung terhadap perkembangan pengusahaan
kayu jati, dimana perkembangan bisnis kayu jati merupakan salah satu aset negara
yang berharga. Akibat kerusakan hutan tersebut telah mengakibatkan menurunnya
jumlah produksi hasil hutan kayu yang merupakan bahan baku bagi industri-industri
pengolah hasil hutan (kayu) yang diantaranya adalah industri mebel yang secara
siginifikan mengakibatkan pula meningkatnya harga bahan baku akibat kelangkaan
bahan baku, sementara jumlah permintaan akan bahan baku tersebut tetap atau
bahkan boleh jadi semakin meningkat.
Peningkatan harga kayu sebagai bahan baku bagi industri mebel tentu sangat
berpengaruh terhadap biaya produksi yang semakin meningkat pula. Maka tidaklah
mengherankan bila hal ini merupakan salah satu penyebab sulit berkembangnya
industri mebel.
Industri mebel merupakan bagian dari sekian banyak industri yang tidak
terlepas dari permasalahan di atas, dan diantaranya adalah sentral industri mebel
yang ada di Kabupaten Bojonegoro khususnya sentral industri mebel yang
memanfaatkan bahan baku kayu jati (Tectona grandis) yang terletak di Desa
Sukorejo. Industri-industri tersebut hampir seluruhnya menggunakan bahan baku dari
jenis kayu jati yang diperoleh dari hasil pembelian di KPH Bojonegoro Perum
Perhutani Unit II Jawa Timur. Dalam proses produksinya (pengolahan bahan baku
sampai menjadi produk jadi), tidak sedikit perusahaan industri mebel yang
menggunakan jasa lain dalam pengolahaannya, seperti misalnya dalam pengolahan
bahan baku jati dari bentuk log/gelondongan menjadi bahan baku setengah jadi/kayu
gergajian (sawn timber), bagi industri mebel yang tidak memiliki mesin
penggergajian sendiri umumnya di-jasakan lagi kepada penguasaha ”penggergajian”
(sawmill). Sedangkan sistem pemasaran yang dilakukan oleh para pengrajin industri
pula yang menjualnya melalui perusahaan pengumpul untuk kemudian dipasarkan ke
konsumen lokal (dalam negeri) maupun luar negeri.
Dengan proses seperti tersebut, pergerakan kayu jati (sebagai bahan baku
industri mebel) dari mulai petak tebangan di KPH Bojonegoro – sawmill – industri
mebel/pengolah – broker – sampai dengan ke tangan konsumen/pembeli/pemakai
hasil industri, merupakan perjalanan yang cukup panjang.
Dari perjalanan (pergerakan) kayu jati tersebut, dari mulai bahan baku (logs)
sampai dengan produk jadi (mebelair) telah mengalami proses (pengolahan) dan
perubahan bentuk dari bentuk logs menjagi bahan setengah jadi (sawn timber), dari
sawn timber menjadi produk jadi (mebelair). Dari hasil proses yang mengubah
bentuk dari bentuk logs ke bentuk berikutnya, maka nilai jual dari kayu jati tersebut
telah mengalami perubahan nilai jual, yang kemudian disebut sebagai Nilai
Tambah.
Isu utama yang diangkat dalam pemodelan ini adalah mengetahui alur rantai
nilai kayu jati karena pada dasarnya rantai nilai kayu jati melibatkan banyak aktor.
Aktor yang terlibat dalam rantai ini menikmati nilai tambah yang berbeda-beda. Hal
ini karena perbedaan peran yang diambil oleh masing-masing aktor (pengusaha).
KPH Bojonegoro sebagai aktor yang berperan sebagai produsen logs jati
mendapatkan nilai keuntungan yang berbeda dengan industri sawmill yang berperan
sebagai aktor pengolah logs jati menjadi sawn timber, begitu pula dengan industri
mebel sebagai pengolah sawn timber menjadi produk jadi (mebelair) mendapatkan
nilai keuntungan yang berbeda pula dengan perusahaan pengumpul/penjual produk
mebel (broker), penjual/shoroom dan atau exportir. Oleh karena perbedaan nilai
keuntungan berbeda-beda yang diperoleh oleh masing-masing aktor tersebut, maka
perlu dilakukan analisa rantai nilai.
Tujuan pemodelan ini adalah membuat model rantai nilai KPH Bojonegoro
yang mampu memberikan solusi alternatif melalui skenario-skenario yang
diharapkan mampu meningkatkan pendapatan para produsen kayu. Diharapkan
dengan skenario tersebut dapat dijadikan pertimbangan oleh semua pihak dalam
menentukan kebijakan sektor kehutanan di masa yang akan datang. Model rantai
nilai yang dikembangkan dibatasi pada hal-hal yang berkaitan dengan interaksi
model yang diabngun tidak akan mengamati hal-hal di luar rantai yang tidak
berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan produsen mebel.
4.1.2 Konseptualisasi Model
Model konseptual yang dikembangkan dideskripsikan melalui aliran dan stok.
Model yang dibuat dalam model rantai nilai ini terdiri dari lima sub model yaitu : sub
model tegakan hutan, sub model penjualan kayu perhutani, sub model keuangan
perhutani, sub model industri kayu, dan sub model perantara. Diantara sub model
tersebut saling mempengaruhi satu sama lainnya. Dalam pemodelan ini satuan waktu
yang digunakan adalah tahun. Fase ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran
secara menyeluruh tentang model yang dibuat.
Sub model keuangan perhutani dipengaruhi oleh sub model tegakan hutan dan
sub model penjualan kayu perhutani. Dalam sub model tegakan hutan terdapat
komponen luas areal berhutan dan komponen jumlah pohon tiap Kelas Umur (KU)
yang mempengaruhi komponen volume tebang dan komponen volume penjualan
yang berada dalam sub model penjualan kayu perhutani sehingga berpengaruh juga
terhadap pendapatan perhutani. Jumlah luas penanaman dan luas tebangan tiap
tahunnya dihitung berdasarkan pada etat luas. Sedangkan etat luas dipengaruhi oleh
luas areal berhutan dan daur. Jadi, semakin besar luas areal berhutan maka akan
semakin besar volume tebang dan semakin besar pula volume penjualan sehingga
menambah keuangan perhutani.
Sub model tegakan hutan dipengaruhi oleh sub model keuangan perhutani.
Tinggi rendahnya pendapatan perhutani berpengaruh terhadap biaya-biaya produksi
perhutani. Semakin tinggi pendapatan perhutani maka semakin besar kegiatan
produksi yang akan dilakukan perhutani. Kegiatan produksi perhutani adalah
menciptakan tegakan hutan tanaman.
Sub model penjualan kayu perhutani dipengaruhi oleh sub model tegakan
hutan. Tinggi rendahnya angka penjualan kayu ditentukan oleh kondisi tegakan
hutan. Semakin rusak kondisi tegakan hutan maka semakin sedikit jumlah pohon
yang ada pada tegakan. Dimana jumlah pohon yang ada pada tegakan akan
mempengaruhi jumlah tebangan yang akan dihasilkan, sehingga akan mempengaruhi