• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian ini merupakan merupakan penelitian “experimental” pada hewan percobaan kelinci, yang dibagi atas 4 kelompok, 1 kelompok kontrol, 3 kelompok perlakuan

. T

EMPAT DAN 

W

AKTU 

P

ELAKSANAAN 

P

ENELITIAN

 

Penelitian ini dilakukan di laboratorium Farmakologi dan Tera-peutik FK USU pada bulan April dan Mei tahun 2010

. P

OPULASI DAN 

S

AMPEL

 

Hewan percobaan yang digunakan adalah kelinci. Hewan Coba yang dipilih adalah yang diseragamkan umur, sex, berat-badan dan hibrid/varian. Dalam penelitian ini digunakan kelinci lokal ( Nesolagus net-seherischlgel ) strain angora, jenis kelamin jantan, usia 4 – 6 bulan dengan berat 500 - 1000 gram.

Besar sampel minimal pada penelitian ini dihitung dengan menggunakan rumus:

{ ( np – 1 ) - ( p – 1 ) } > p2

n = besar sampel

p = banyaknya kelompok perlakuan ( 4 (empat) kelompok ) banyak sampel yang dibutuhkan dalam penelitian ini:

{ ( np – l ) - ( p – l ) } ≥ p2 ( 4n - l ) -3 ≥ 42

4n - 4 ≥ 16 4n ≥ 20 n ≥ 5

Jadi jumlah sampel yang dibutuhkan lebih atau sama dengan 5 (lima) ekor untuk tiap perlakuan. Jumlah total sampel yang digunakan

dala pe in

. V

ARIABEL 

P

ENELITIAN

m nelitian i sebanyak 20 ekor .

3.4.1 VARIABEL DEPENDEN 

- Kejadian adhesi intraperitoneum

- Jumlah adhesi intraperitoneum

- Jumlah volume adhesi intraperitoneum

- Derajat makroskopik adhesi intraperitoneum menurut Zuhike et al

(Table 1).

- Derajat vaskulerisasi adhesi menurut Hulka modifikasi ( Tabel 2 )

3.4.2 VARIABEL INDEPENDEN 

- 6% Dextran 70

- Methylen blue 1%

- Oxidized regenerated cellulose ( Interceed by Js&Js )

- O erasi p laparotomi

. B

AHAN DAN 

A

LAT

 

3.5.1 BAHAN :   - 6% Dextran 70 - Aquabides - Alkohol 70 % - Kelinci 40 ekor - Ketamin - Methylen blue 1 %

- Polyglaktic ( Vicryl 4/0 )

- Povidone Iodine 10 %

- Silk 4/0

3.5.2 ALAT 

- Minor surgery set

- Surgical glove

- Syringe 10 ml

- Syringe 5 ml

Gambar 2. Ba

. C

ARA 

K

ERJA

 

han dan alat penelitian

- Empat puluh kelinci dipersiapkan 1 minggu sebelum operasi untuk

beradaptasi, di pelihara dalam kandang kawat ukuran 60 x 40 x 40 cm dengan alas yang terbuat dari plastic. Kotoran dibersihkan setiap hari untuk mencegah infeksi. Kandang ditempatkan dalam suhu kamar dengan pencahayaan sinar matahari tidak langsung. Makanan yang diberikan jagung muda, dan sayur kangkung yang diberikan secara “ad Libitum” dalam wadah terpisah dan dibersihkan setiap hari.

Gambar 3. Masa adaptasi kelinci

- Sebelum perlakuan, setiap kelinci ditimbang dan diamati

kese-hatannya secara fisik (gerakannya, makan dan minum). Jika ada kelinci yang sakit maka kelinci diganti dengan kelinci baru dengan kriteria yang sama

Gambar 4. Penimbangan kelinci

- Kelinci dipuasakan 4 jam sebelum dilakukan pembedahan.

- Dilakukan Operasi dengan narkose umum dengan memberi ketamin

Hcl 50 mg /kg BB secara intramuskular, dan diazepam 0,5 mg / kg BB.

- Bulu di daerah operasi dicukur dan didesinfeksi dengan povidone

Gambar 5. Proses pencukuran dan desinfeksi

- Dilakukan insisi mediana pada abdomen sepanjang 5 cm, dan

dilakukan identifikasi caecum, daerah ileum terminal ( 2 cm dari ileocecal juction ) dilakukan tindakan abrasi berukuran 0,5 x 2 cm dengan bagian tajam pisau bedah no 15.

Gambar 6. Proses insisi, identifikasi ileocecal junction dan abrasi

- Setelah dilakukan abrasi, ke dalam rongga abdomen pada

masing-masing kelompok percobaan diberikan :

o Kelompok I ( kontrol ); tidak diberikan apapun

o kelompok II; diberi larutan Methylen blue 1%, 7 ml/kg bb

o Kelompok III; diberi larutan 6% dextran 70, 10 ml/ kg bb

o Kelompok IV; Oxidized Regenerated Cellulose ukuran 3,4 x 3,8 cm

ditempelkan pada tempat abrasi dengan dibasahi normal salin secukupnya sekedar melekatkan membran ORC ( interceed ).

Gambar 7. Pemberian methylen blue dan interceed intraabdomen pasca laparotomi

- Pada semua hewan percobaan dilakukan penutupan dinding

abdomen dengan jahitan jelujur tanpa simpul dari peritoneum hingga fasia dengan bahan vicryl 4/0, dilanjutkan dengan jahitan simple interupted pada kulit dengan bahan silk 4/0.

- Luka operasi ditutup dengan kasa steril yang diberi popidon yodium

10 % secukupnya

Gambar 8. Proses penutupan luka laparotomi

- Setelah laparotomi hewan percobaan dirawat pada kandang yang

terjaga kebersihannya dan diberi makanan dan minuman “ad Libi-tum”.

Gambar 9. Perawatan kelinci pasca laparotomi

- Pada hari ke 15 dilakukan relaparotomi pada semua kelinci dengan

insisi paramedian dengan cara yang sama seperti saat laparotomi pertama.

- Adhesi yang terjadi dipisahkan dari organ viseral ke tempat

perlekatannya pada peritoneum parietal atau permukaan organ viseral lainnya lalu dimasukkan ke dalam gelas ukur yang telah ber-isi formalin 2 cc. Perubahan volume yang dijumpai adalah volume adhesi intraperitoneum yang terjadi.

Gambar 10. proses relaparotomi dan penilaian kejadian adhesi

- Dilakukan penilaian jumlah adhesi, volume, perluasan adhesi dan

derajat makroskopik adhesi dengan “Grading of adhesion” menurut Zuhike et al ( Tabel 1 ).

Gambar 11. Pengukuran volume adhesi : a tabung ukur berisi for-malin 2 cc, b & c telah terisi sediaan adhesi

Table 1. Derajad adhesi Menurut Zuhike et al *  

Skor Derajat Deskripsi

0 Tidak ada pelekatan

1 Filmy adhesi diperlukan pembedahan tumpul yang lembut,

untuk pembebasan adhesi

2 Mild adhesi diperlukan pembedahan tumpul agresif untuk

membebaskan adhesi

3 Moderat adhesi pembedahan tajam diperlukan untuk

membe-baskan adhesi

4 Severe adhesi diperlukan diseksi untuk membebaskan

ad-hesi, tidak dapat dihindari kerusakan organ

* nilai adhesi berdasarkan masing-masing lokasi termasuk garis tengah,

adnexa / subcutis, perut bagian atas (hati), peritoneum parietalis, omentum, dan diantara loop usus. Jumlah lokasi tersebut membentuk adhesi total skor (0-24).

- Derajad vaskulerisasi dinilai dengan pemeriksaan

Hematoxylin-Eosin sesuai derajat adhesi menurut Hulka modifikasi Omran dan

Berger, 1978( Tabel 2 :)

Table 2. Derajat vaskulerisasi Adhesi menurut Hulka modifikasi Omran dan Berger, 1978.14

Derajat Deskripsi

Grade 0 Tidak ada adhesi

Grade I filmly, Adhesi yang avaskuler, mudah dipisahkan dan terbatas hanya

pada satu tempat

Grade 2 Adhesi yang memiliki vaskulerisasi, tebal dan meninggalkan

permu-kaan yang kasar setelah dilakukan pemisahan, tetapi masih terbatas pada satu tempat

- Pemeriksaan Histopatologi

Sediaan Basah - adhesi intraperitoneum

Penjernihan (memakai xylol)

Fiksasi (memakai formalin 10%)

Dehidrasi (memakai alkohol 50% ke 96%)

Embedding/Block Parafin (penanaman jaringan adhesi)

Mikrotom (pemotongan 3-4 pm)

Pencairan lilin yang melekat di jaringan adhesi

Preparat diletakkan di objek glas Penjernihan (memakai xylol)

Rehidrasi (memakai Alkohol 96% ke 50%)

Pewarnaan jaringan adhesi dengan Hematoxylin-Eosin

Dehidrasi (memakai alkohol 50% ke 96%)

Tutup objek glas dengan dek glas memakai Balsem (Mounting)

Preparat di periksa dengan menggunakan mikroskop dengan pembesaran 400 x

Gambar 13. Hasil pemeriksaan histopatologi dengan pembesaran 400x : tampak gambaran vascularisasi yang banyak yang ditunjukkan panah

- Data penelitian ini adalah data non parametrik karena jumlah

sampel yang kecil dan tidak terdistribusi normal. Ke empat kelompok perlakuan tidak tergantung satu sama lain , maka Uji statistik yang digunakan adalah uji statistik nonparametrik inde-penden. Untuk membandingkan perbedaan diantara kelompok

per-lakuan digunakan “Kruskal-Wallis test” , sedangkan untuk

mem-bandingkan masing-masing kelompok perlakuan dengan kontrol

digunakan “Wilcoxon rank-sum test, atau Wilcoxon–Mann–Whitney

test “, dengan bantuan software SPSS 17.

. D

EFINISI 

O

PERASIONAL

 

Abrasi adalah luka lecet yang di buat pada daerah ileum terminal (

2 cm dari ileocecal juction ) dengan menggunakan bagian tajam pisau bedah no 15 berukuran lebih kurang 0,5 cm x 2 cm.

 Adhesi intraperitoneal adalah jaringan fibrosa yang

menghubung-kan antara dinding rongga abdomen bagian dalam dengan permu-kaan organ tubuh yang terdapat dalam rongga abdomen (saluran

cerna, uterus, kantung kemih dan lainnya) atau antar sesama or-gan intraabdomen dimana dalam keadaan normal jarinor-gan tersebut tidak ada.

 Efek adalah hasil yang ditimbulkan suatu tindakan

 Efektivitas: kemampuan untuk menghasilkan hasil yang dapat

diu-kur,( Friel JP 1994 ), atau efek maksimal ( Emax ) yaitu kemampuan

interinsik Kompleks Obat–Reseptor untuk menimbulkan aktivitas dan atau efek farmakologik (Setiawati A dkk 2004)

Insisi mediana adalah sayatan laparotomi tepat pada bagian tengah

dinding abdomen.

Insisi paramedian adalah sayatan laparotomi 2 cm disamping

sayatan laparotomi pertama.

 Jumlah adhesi adalah banyaknya adhesi yang terbentuk yang

ditemukan pada saat operasi relaparotomi kelinci percobaan.

 Kejadian Adhesi adalah ada atau tidak adanya adhesi

Laparotomi adalah tindakan membuka dinding depan abdomen

dengan sayatan tajam hingga bisa melihat isi rongga peritoneum.

 Neovaskulerisasi adalah pembentukan pembuluh darah baru di

jar-ingan adhesi yang ditemukan pada relaparotomi kelinci percobaan

 Simple Interrupted adalah menjahit luka secara satu-satu dan

ter-putus.

 Volume adhesi adalah selisih volume gelas ukur yang berisi cairan

formalin 2 ml setelah dimasukkan jaringan adhesi dikurangi 2 ml

yang diukur dalam satuan ml.

BAB

 

IV 

HASIL

 

PENELITIAN

 

DAN

 

PEMBAHASAN 

Dextran 70 dan Oxidized Regenerated Cellulose dalam Pencegahan Adhesi Intraperitoneal Pascaoperasi Laparotomi dengan Abrasi Ileum

Terminal pada Hewan Percobaan Kelinci

Selama kurun waktu 2 bulan penelitian ini dilaksanakan, 40 ekor kelinci diadaptasi dan diamati. Pada 2 minggu pertama pengamatan, 10 ekor kelinci mati. Dari 30 ekor kelinci yang sehat diambil 20 ekor mejadi sampel, dibagi atas 4 kelompok perlakuan dengan masing-masing kelompok berjumlah 5 ekor. Pada hari pertama percobaan ( 12 – 24 jam ) pasca laparotomi, lima ekor kelinci mati, tiga dari kelompok kontrol dan 2 dari kelompok methylen blue. Penyebab kematian diduga akibat lamanya proses laparotomi, dan penambahan obat anastesi. Kelimanya langsung diganti dari 10 kelinci yang telah dipersiapkan, kemudian dilakukan laparotomi dengan prosedur yang sesuai dengan masing-masing kelom-poknya. Tiga ekor kelinci yaitu 2 ekor dari kelompok kontrol dan 1 ekor kelinci dari kelompok dextran, mati pada hari ke 15 pascalaparotomi. Keti-ganya mati pada saat pemindahan dari tempat pemeliharaan ke tempat relaparotomi, diduga akibat stress dan terhimpit saat pemindahan, Pada ketiganya tidak dilakukan ekslusi karena telah terbentuk adhesi permanen sejak hari ke 10 dan dilakukan relaparotomi otopsi hari itu juga.

Setelah dilakukan relaparotomi pada hari ke 15 pascalaparotomi terhadap 20 ekor kelinci percobaan, terdapat 50 % ( 10 ekor kelinci ) yang mengalami adhesi. Pada kelinci-kelinci ini dilakukan pembebasan dan penilai skor adesinya. seperti yang diperlihatkan pada Gambar 14. dan lampiran 1.

Dari hasil pengamatan terlihat bahwa semua kejadian adhesi pada ke 10 ekor kelinci hanya bersifat setempat di daerah operasi ( abrasi ). Sembilan ekor mengalami adhesi antara ileum terminal ke luka insisi pada dinding peritoneum. Hanya satu ekor kelinci dari kelompok kontrol yang adhesinya terbentuk antara ileum terminal ke usus besar.

Gambar 14. Terjadinya adhesi intraperitoneum

Data-data yang diperoleh dari penelitian disimpulkan dalam tabel-tabel dan diagram. Perbedaan diantara kelompok perlakuan, di uji dengan Kruskal-Wallis test, sedangkan perbedaan antara kontrol dan masing-masing kelompok perlakuan di uji dengan Wilcoxon rank-sum test, atau Wilcoxon–Mann–Whitney test.

Pada Kruskal-Wallis test, setiap sampel di urut dan dibuat rang-kingnya, baru dicari mean kelompoknya. Adapun persamaan Kruskal-Wallis adalah :

Dimana :

o ni adalah jumlah observasi pada group i

o rij adalah rangking data observasi j dari group i

o ,

o adalah rata-rata dari seluruh rij.

Karena denominator ( penyebut ) dari K adalah (N− 1)N(N + 1) / 12 rumus Kruskal Wallis menjadi :

Tetapi untuk mempermudah perhitungan penulis menggunakan sofwer SPSS 17. Interpretasi dibuat dengan :

1. Membandingkan nilai Kruskal-Wallis chi-squere dengan chi-squere tabel pada P = 0,05 dalam derajat kebebasan ( df ) yang sesuai,( df diperoleh dari jumlah kelompok dikurangi satu ). Apabila :

a. Kruskal-Wallis chi-squere < chi-squere tabel: H0 diterima.

b. Kruskal-Wallis chi-squere > chi-squere tabel: H0 ditolak.

2. Mean rangking lebih kecil memberikan hasil lebih baik dalam pencegahan adhesi.

3. Pengambilan keputusan pada Wilcoxon–Mann–Whitney test a. Jika probabilitas [Asymp.Sig(2-tailed) ] > 0,05 maka H0 diterima

b. Jika probabilitas [ Asymp.Sig(2-ta

. K

EJADIAN 

A

DHESI 

I

NTRAPERITONEUM

 

iled) ] < 0,05 maka H0 ditolak

Setelah dilakukan laparotomi ulang pada seluruh hewan percobaan kelinci dari ke-4 kelompok percobaan, diperoleh hasil angka kejadian ad-hesi intraperitoneum pada semua kelompok dengan distribusi frekuensi

1 & 2 serta Lampiran 1.

Table 4. Frekuensi dan persentase kejadian adhesi intraperitoneum pada setiap kelompok perlakuan

Kontrol  Methylen 

blue 

Dextran  ORC 

Kelompok 

Jumlah  %  Jumlah  %  Jumlah  %  Jumlah  % 

Bebas Adhesi 1  20  4  80  2  40  3  60  Ada Adhesi  4  80  1  20  3  60  2  30  Total  5  100  5  100  5  100  5  100  Mean  Rank  K‐Wallis   13,50    7,50    11,50    9,50    Kererangan ;  Kruskal-Wallis Test :

o Chi-squere = 3,800, df = 3. Asymp. Sig. = 0,284 ( p > 0,05 )

 Wilcoxon-Mann Whitney test:

o Kontrol >< Methylen blue :Asymp.Sig.

(2-tailed) = 0,072 ( p > 0,05 )

o Kontrol >< Dextran 70 :Asymp.Sig.

(2-tailed) = 0,521 ( p > 0,05 )

o Kontrol >< ORC:L :Asymp. Sig.

(2-tailed) = 0,221 ( p > 0,05 )

Dari tabel 4 dan diagram 1 terlihat bahwa, dari 20 ekor kelinci ter-jadi adhesi pada 10 ekor, 4 ekor ( 4/5 = 80% ) dari kelompok kontrol, 1 ekor ( 1/5 = 20% ) dari kelompok methylen blue, 3 ekor ( 3/5 = 60 % ) dari kelompok dextran dan 2 ekor ( 2/5 = 40% )dari kelompok Oxidized Re-generated Cellulose ( ORC/ Interceed ). Terlihat angka kejadian adhesi terkecil terjadi pada kelompok methylen blue.

Dengan Kruskal-Wallis test diperoleh mean rangking dari kelompok kontrol = 13,50, dextran 11,50, ORC 9,50 dan methylen blue 7,50. Dapat disimpulkan bahwa ketiga sediaan mempunyai mean rangking yang lebih kecil dari kelompok kontrol, berarti ketiganya benar mempunyai efek anti adhesi. Dari ketiganya methylen blue paling kecil, berarti methylen blue memiliki efek adhesi yang lebih baik dari semua sedian disusul ORC dan dextran

Hasil analisa data menunjukkan, nilai Kruskal-Wallis chi-squere adalah 3,800, dengan df 3 dan p > 0,05. Dari sini dapat disimpulkan

bahwa hipotesa nol ( H0) diterima, artinya Tidak ada perbedaan

ber-makna antara methylen blue, dextran 70 dan oxidized regenerated cellu-lose dalam pencegahan terjadinya adhesi intraperitoneal pascaoperasi laparotomi pada hewan percobaan kelinci,

Wilcoxon - Mann Whitney test membandingkan jumlah adhesi yang terbentuk pada kelompok kontrol dengan methylen blue diperoleh Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,072 ( p > 0.05 ) artinya hipotesa nol diterima. Tidak terdapat perbedaan antara kontrol dengan methylem blue. Perbandingan antara kontrol dengan dextran 70 di peroleh . Asymp. Sig. (2-tailed) =

0,521 ( p > 0.05 ) artinya hipotesa nol diterima. Begitu juga perbandingan antara kontrol dengan Oxidized Regenerated Cellulose ( ORC ) di peroleh Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,221 ( p > 0.05 ) artinya hipotesa nol diterima. Dari ketiga perbandingan mengenai angka kejadian adhesi intraperitoneal,

k te dapat perbedaan bermakna ketig sedian.

tida r a

. JUMLAH ADHESI INTRA PERITONEUM. 

Jumlah adhesi intraperitoneum adalah banyaknya jaringan fibrosa yang terbentuk yang melekatkan organ intraperitoneum ke masing masing lokasi seperti pada kriteria lokasi pada derajat adhesi menurut Zuhike dan kawan-kawan. Jumlah adhesi ini dihitung pada setiap kelinci dari masing-masing kelompok perlakuan. Hasil yang diperoleh terlihat pada tabel 5 dan diagram 2.

T able 5. Jumlah adhesi intraperitoneum pada setiap kelompok perlakuan

Jumlah Adhesi Intraperitoneum Nomor Kelinci

Kontrol Methylen Blue Dextran ORC

1 4 0 2 0 2 3 0 3 0 3 5 0 0 0 4 2 0 0 2 5 0 2 2 2 Rata-rata 2,80 0,40 1,40 0,80 Min 0 0 0 0 Max 5 2 3 2 Mean Rank Kruskal wallis 15,10 7,10 11,10 8,70 Kererangan ;  Kruskal-Wallis Test :

- Chi-squere = 6,112 df = 3. Asymp sig = 0,106 ( p > 0,05 )

 Wilcoxon-Mann Whitney test:

- Kontrol >< Methylen blue : Asymp.Sig.

- Kontrol >< Dextran 70 : Asymp.Sig. (2-tailed) = 0,197( p > 0,05 )

- Kontrol >< ORC : Asymp.Sig.

(2-tailed) = 0,081( p > 0,05 )

1-5 : Kontrol 6-10 : Methylen blue 11-15 : Dextran 16-20 : ORC

Diagram 2. Jumlah adhesi yang terbentuk pada masing masing sampel dari kelompok perlakuan

Berdasarkan jumlah adesi yang terbentuk, dari tabel 5 di atas terlihat mean rangking kelompok methylen paling kecil yaitu 7,10. Mean rangking terbesar pada kelompok kontrol yaitu 15,10, diikuti dextran 11,10 dan ORC 8,70. Dari sini disimpulkan bahwa methylen blue lebih efektif dibandingkan sediaan lain dalam mencegah terbentuknya adhesi intraperi-toneal, namun apakah perbedaan ini bermakna secara statistik maka dila-kukan uji Kruskal-Wallis.

Dari perhitungan diperoleh, Kruskal-Wallis chi-squere adalah 6,112, dengan derajat kebebasan 3 dan Asymp.Signifikan pada 0,106( p > 0,05 ).

Dapat diambil kesimpulan hipotesa nol diterima, artinyaTidak ada

perbe-daan bermakna antara methylen blue, dextran 70 dan oxidized regener-ated cellulose dalam pencegahan terjadinya adhesi intraperitoneal pasca-operasi laparotomi pada hewan percobaan kelinci dalam menimbulkan jumlah adhesi intraperitoneal.

Jika dibandingkan jumlah adhesi yang terbentuk antara kelompok kontrol dengan masing masing kelompok perlakuan dengan Wilcoxon Mann-Whitney test diperoleh hasil sebagai berikut:

Perbandingan antara kontrol dan Methylen blue diperoleh Asymp. Sig. ( 2-tailed ) = 0,044 ( p < 0,05 ). Disimpulkan H0 ditolak, artinya

terdapat perbedaan yang bermakna antara kontrol dan methylen blue. Dengan kata lain methilen blue memiliki efektifitas mencegah terbentuknya adhesi intraperitoneal pascalaparotomi.

Perbandingan antara kelompok kontol dengan dextran 70 menunjukkan Asymp. Sig. ( 2-tailed ) = 0,197 ( P > 0,05 ), artinya tidak terdapat perbedaan yang bermakna. Sedangkan perbandingan antara kontrol dengan kelompok ORC diperoleh Asymp. Sig. ( 2-tailed ) = 0,081

0 5 ). Ang a ini j ga tidak bermakna.

( p > ,0 k u

. VOLUME ADHESI 

Volume adhesi dihitung dalam satuan ml, diperoleh dengan dengan cara adhesi yang diambil dari masing-masing sampel penelitian dimasukkan kedalam tabung ukur 6 ml yang telah diisi sebelumnya

dengan larutan formalin 10 % 2 ml, Volume adhesi hasil pengukuran adalah volume akhir dikurangi 2 ml. Hasi yang diperoleh adalah sbb:

Table 6. Distribusi vulume adhesi yang terbentuk pada masing-masing ke-linci, pada masing-masing kelompok perlakuan.

Nomor Kelinci Volume Adhesi Intraperitoneum ( ml )

Kontrol Methylen Blue Dextran ORC

1 0,6 0 0,3 0 2 0,5 0 0,5 0 3 0,8 0 0 0 4 0,3 0 0 0,1 5 0 0,2 0,4 0,4 Rata-rata 0,44 0,04 0,24 0,0,1 Min 0 0 0 0 Max 0,8 0,2 0,5 0,4 Mean Rank Kruskal wallis 15,10 6,80 11,50 8.60 Kererangan ;  Kruskal-Wallis Test :

- Chi-squere = 6,452 df = 3. Asymp sig = 0,092 ( p > 0,05 )

 Wilcoxon-Mann Whitney test:

- Kontrol >< Methylen blue :Asymp.Sig.

(2-tailed)= 0,034( p < 0,05 )

- Kontrol >< Dextran 70 :Asymp.Sig.

(2-tailed)= 0,167( p > 0,05 )

- Kontrol >< ORC :Asymp.Sig.

(2-tailed)= 0,085( p > 0,05 )

Pada tabel diatas terlihat mean rangking Kruskal-Wallis kelompok kontrol 15,20, methylen blue 6,80, dextran 11,50 dan ORC 8,60. Jadi efektifitas methylen blue mencegah adhesi paling tinggi diikuti ORC dan dextran.

Perbedaan efektifitas ini diuji dengan Kruskal-Wallis test hasilnya, chi-squere Kruskal-Wallis= 6,452, df= 3 dan Asymp sig= 0,092( p > 0,05 ). Nilai ini menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara ketiga sedian dalam mengurangi volume adhesi.

Selanjutnya, dilakukan perbandingan ketiga kelompok perlakuan terhadap kontrol dengan Wilcoxon Mann-Whitney test, dimana pada perbandingan antara kontrol dan kelompok methylen blue diperoleh Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,034 ( p < 0,05 ), artinya ada perbedaan yang bermakna antara kontrol dengan methylen blue. Perbandingan antara kontrol dengan kelompok dextran diperoleh hasil Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,167 ( p > 0,05 ), artinya tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kontrol dengan dextran 70. Begitu juga pada perbandingan antara kontrol dan kelompok ORC diperoleh Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,085 ( p > 0,05 ), berarti juga tidak terdapat perbedaan yang bermakna.

4.4. Derajat adhesi intraperitoneum

Derajat adhesi intraperitoneum berdasarkan skor adhesi menurut Zuhike dan kawan-kawan terdiri dari total 24 skor yang terdiri dari 6 lokasi dimana masing-masing lokasi memiliki skor terendah adalah 0 ( tidak ter-bentuk adhesi ) sampai skor tertinggi adalah 4( severe adhesi ) dengan kriteria penilaian memperhitungkan jumlah, volume, kuatnya perlekatan adhesi, seperti pada table I. Apabila kejadian adhesi hanya setempat pada 1 lokasi saja maka nilai skor terendah adalah 0 dan skor tertinggi adalah 4. Hasil pengamatan terlihat pada tabel 6, tabel 7 dan diagram 2 dan 3, serta pada lampiran 1.

Table 7. skor adhesi Zuhike et al pada masing-masing sampel dalam kelompok perlakuan.

Nomor Kelinci Skor adhesi menurut Zuhike et al

Kontrol Methylen Blue Dextran ORC

1 4 0 2 0 2 2 0 4 0 3 4 0 0 0 4 3 0 0 1 5 0 2 3 3 Rata-rata 2,60 0,04 1,80 0,80 Min 0 0 0 0 Max 4 2 4 3 Mean Rank Kruskal wallis 14,50 7,00 11,80 8,70 Kererangan ;  Kruskal-Wallis Test :

- Chi-squere = 5,468 df = 3. Asymp sig = 0,141 ( p > 0,05 )

 Wilcoxon-Mann Whitney test:

- Kontrol >< Methylen blue :Asymp.Sig.

(2-tailed)= 0,043( p < 0,05 )

- Kontrol >< Dextran 70 :Asymp.Sig.

(2-tailed)= 0,451( p > 0,05 )

- Kontrol >< ORC :Asymp.Sig.

kelompok perlakuan.

Dari data dan perhitungan di atas di ketahui nilai mean rangking masing-masing kelompok, nilai terendah adalah pada kelompok methylen blue = 7,00, nilai tertinggi pada kelompok kontrol = 14,50, diikuti dextran 11,80 dan ORC 8,70. Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam pencegahan adhesi methylen blue lebih efektif diikuti ORC, lalu dextran. Untuk menge-tahui apakah perbedaan efektifitas ini bermakna dilakukan uji statistik.

Nilai Kruskal-Wallis chi-squere yang diperoleh dari hasil perhitun-gan adalah 5,468, denperhitun-gan df = 3 dan Asymp sig = 0,141 ( p > 0,05 ), hasil ini menunjukkan Ho diterima yaitu : Tidak ada perbedaan bermakna antara methylen blue, dextran 70 dan oxidized regenerated cellulose dalam pencegahan terjadinya adhesi intraperitoneal pascaoperasi laparo-tomi pada hewan percobaan kelinci berdasarkan skor adhesive menurut Zuhike et al.

Perbandingan antara ketiga kelompok perlakuan dengan kontrol, dengan menggunakan Wilcoxon Mann Whitney test, hasilnya sebagai berikut;

Perbandingan antara kontrol dengan methylen blue diperoleh Asymp sig = 0,043 ( p < 0,05 ). Hasil ini menunjukkan perbedaan yang bermakna. Perbandingan antara kontrol dan dextran 70 diperoleh Asymp sig = 0,451 ( p > 0,05 ), berarti tidak bermakna. Sedangkan perbandingan antara kontrol kelompok ORC, diperoleh hasil Asymp sig = 0,104 ( p >

0,05 ), juga tidak bermakna. Dari ketiga perbandingan disimpulkan methylen blue memiliki efek anti andhesi yang bermakna.

. D

ERAJAT 

V

ASKULERISASI  ADHESI  MENURUT  

H

ULKA  MODIFIKASI

Derajat vaskulerisasi menurut Hulka modifikasi Omran dan Berger dinilai dengan menggabungkan penilaian makroskopis yaitu jumlah dan kekuatan perlekatan dengan penilaian mikroskopis dengan melihat vas-kulerisasinya ( Tabel 2 ). Nilai tertinggi 3 sedangkan nilai terendah 0. Setelah dilakukan penilaian terhadap adhesi yang terjadi pada ke 20 ekor kelinci maka diperoleh hasil seperti terlihat pada tabel 8 dan diagram 4.

Pada tabel 8 terlihat bahwa frkuensi derajat adhesi pada semua sampel yang terbanyak adalah derajat 0 berjumlah 10 ekor, derajat 1 em-pat ekor, derajat 2 emem-pat ekor dan derajat 3 dua ekor.

Table 8. Derajat vaskulerisasi menurut Hulka modifikasi Omran dan Ber-ger pada masing-masing sampel dalam setiap kelompok perla-kuan.

Nomor Kelinci Skor vascularisasi menurut Hulka modifikasi Omran dan

Berger

Kontrol Methylen Blue Dextran ORC

1 3 0 1 0 2 1 0 3 0 3 3 0 0 0 4 3 0 0 1 5 0 1 1 2 Rata-rata 2,00 0,20 1,00 0,60 Min 0 0 0 0 Max 3 1 3 2 Mean Rank K-Wallis 14,80 7,00 11,10 9,10 Kererangan ;  Kruskal-Wallis Test :

 Wilcoxon-Mann Whitney test:

- Kontrol >< Methylen blue :Asymp.Sig.

(2-tailed)= 0,041( p < 0,05 )

- Kontrol >< Dextran 70 :Asymp.Sig.

(2-tailed)= 0,268( p > 0,05 )

- Kontrol >< ORC :Asymp.Sig.

(2-tailed)= 0,100( p > 0,05 )

Diagram 4. Frekuensi derajat vaskulerisasi menurut Hulka modifikasi Om-ran dan Berger.

Dari analisa data derajat vaskulerisasi Hulka di atas diperoleh nilai mean rangking dari masing masing kelompok yaitu : mean rangking kelompok kontrol 14,80, dextran 11,10, ORC 9,10 dan nilai terkecil pada kelompok methylen blue = 7,00. Hal ini menunjukan methylen blue lebih efektif mencegah adhesi dibandingkan kelompok lain, sedangkan ORC lebih efektif dibandingkan kelompok dextran dan control, dan dextran lebih

Dokumen terkait