• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi penelitian ini menggunakan mixed method dengan cara menggabungkan metode penelitian kuantitatif dengan metode penelitian kualitatif. Menurut Jick dan Creswell, (2010) mixed method adalah suatu metode dalam mencari konvergensi antara metode kualitatif dan metode kuantitatif. Creswell dan Palno Clark (2007) dalam Creswell (2010) mengatakan bahwa data kualitatif

20

dan data kuantitatif dapat disatukan menjadi satu database besar yang bisa digunakan secara berdampingan untuk memperkuat satu sama lain.

Creswell (2010) mengatakan bahwa peneliti dengan metode campuran ini melakukan suatu penelitian dengan asumsi bahwa mengumpulkan berbagai jenis data yang dianggap terbaik dapat memberikan pemahaman yang menyeluruh tentang masalah yang diteliti. Penelitian ini dimulai dengan menemui informan kunci yang mengetahui tentang pokok permasalahan penelitian. Tahap selanjutnya, dilakukan wawancara kualitatif secara terbuka agar dapat mengumpulkan pandangan-pandangan dari informan.

Secara khusus, strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode campuran konkuren/satu waktu (concurrent mixed method), yakni prosedur- prosedur di mana di dalamnya peneliti mempertemukan atau menyatukan data kuantitatif dan kualitatif untuk memperoleh analisis komprehensif atas masalah penelitian (Creswell 2010). Lebih lanjut Creswell (2010) menyatakan bahwa dalam strategi ini, peneliti mengumpulkan dua jenis data tersebut pada satu waktu, kemudian menggabungkannya menjadi satu informasi dalam interpretasi hasil keseluruhan.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Kota Sukabumi Provinsi Jawa Barat dengan luas wilayah 4.846,993 ha (empat ribu delapan ratus empat puluh enam koma sembilan ratus sembilan puluh tiga hektar) yang terletak pada koordinat 106°52 12,23 BT-106°57 36,32 BT dan 6°53 32,69 LS-6°58 44,32 LS.

21

Penelitian ini dilaksanakan selama 9 bulan, yaitu dari bulan April sampai dengan bulan Oktober 2014. Dalam kurun waktu ini penelitian dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama pendahuluan dan persiapan, yang berlangsung pada bulan Februari-April 2014. Tahap ini digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan fokus penelitian. Tahap kedua dilakukan pada Mei sampai dengan Juli 2014, kegiatan terfokus untuk pengambilan data

primer dan sekunder yang secara tidak “terstruktur” melakukan pengolahan data

baik data kualitatif maupun data kuantitatif. Tahap ketiga dilakukan berlangsung dari Juli sampai dengan Oktober 2014. Tahap ini digunakan untuk finalisasi hasil penelitian dan penajaman dengan arahan pembimbing hingga penyusunan pelaporan.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah Citra Quickbird pada dua titik tahun yaitu tahun 2002 dan tahun 2012, Peta RTRW Kota Sukabumi, Peta Administrasi, dan Peta Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Alat yang digunakan adalah kamera digital dan seperangkat komputer yang dilengkapi dengan software ArcGIS 10.1, Statistica 7, Expert Choice 2000, PASWStatistics 18 dan Microsoft Excel.

Jenis Data

1. Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan secara langsung dari sumber datanya. Data primer disebut juga sebagai data asli atau data baru yang memiliki sifat up to date. Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data primer antara lain observasi, dan wawancara.

Data Primer diperoleh melalui kuesioner, dan wawancara dengan para informan, partisipan dan stakeholders.

2. Data Sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan dari berbagai sumber yang telah ada. Data sekunder dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti Biro Pusat Statistik (BPS), buku, laporan, jurnal, dan lain- lain.

3. Data yang digunakan berupa data kualitatif dan data kuantitatif.

Teknik Pengumpulan Data

1. Observasi Kualitatif dan Kuantitatif, peneliti langsung turun ke lapangan untuk mengamati perilaku dan aktivitas individu di lokasi penelitian. Dalam pengamatan ini dilakukan baik secara terstruktur dengan menggunakan alat observasi berupa angket/kuesioner atau semiterstruktur dengan mengajukan sejumlah pertanyaan.

2. Wawancara, peneliti melakukan dengan face to face interview dengan informan. Wawancara ini dilakukan secara semiterstruktur dan dilakukan pertanyaan bersifat terbuka untuk memunculkan persepsi, pengalaman, pandangan dan opini dari para informan berkenaan dengan tujuan penelitian. 3. Studi Dokumen, pengumpulan data melalui dokumen-dokumen berupa

dokumen publik (seperti koran, majalah, makalah, laporan-laporan) serta dokumen privat (buku harian, surat atau yang lainnya)

Proses pengumpulan data dilakukan dengan strategi triangulasi konkuren, yaitu pengumpulan data kuantitatif dan data kualitatif secara konkuren (dalam

22

satu waktu), kemudian membandingkan dua database ini untuk mengetahui apakah ada konvergensi, perbedaan-perbedaan atau beberapa kombinasi. Strategi ini untuk menyeimbangkan kekurangan satu metode dengan kelebihan metode lainnya dan dilakukan dalam satu tahap penelitian secara konkuren (bersamaan).

Informan Penelitian

Pemilihan informan dilakukan secara purposive snowball sampling yang melibatkan 20 orang. Kriteria dasar pemilihan informan adalah mereka yang mengetahui masalah yang diteliti. Informan yang terpilih mempunyai berbagai latar belakang (petani, petugas lapangan, pejabat pemerintahan, dan pengurus kelompok tani, kelompok wanita tani dan himpunan pengusaha).

Rincian informan sebagai berikut: (1) Petani.sebanyak tujuh orang dari tujuh kecamatan; (2) petugas lapangan sebanyak tiga orang; (3) pejabat pemerintahan sebanyak lima orang terdiri dari Wakil Walikota Sukabumi, unsur BPN Kota Sukabumi, Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan, Kepala Bidang pada BAPPEDA Kota Sukabumi dan Kepala Subbagian Perencanaan dan Program pada Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan; (4) pengurus kelompok tani sejumlah dua orang; (5) kelompok wanita tani sebanyak dua orang; dan (6) Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Sukabumi.

Bagan Alir Penelitian

Alur penelitian diawali dengan identifikasi permasalahan. Setelah mengidentifikasi permasalahan, langkah selanjutnya adalah pengumpulan data baik secara on the desk maupun di lapangan. Pengumpulan data ini melakukan metode campuran konkuren, artinya pengumpulkan data baik kualitatif maupun kuantitatif secara bersamaan, berdampingan dan saling mengisi terhadap 4 faktor SQ yaitu sosio-economic security, social cohesion, social inclution dan social empowerment. Langkah selanjutnya adalah melakukan pemilahan dan pemilihan data kuantitatif dan data kualitatif untuk dilakukan analisis dan interpretasi data. Data kuantitatif akan dianalisis dengan Cluster Analysis atau analisis gerombol untuk mengelompokkan obyek atau merupakan proses untuk meringkas sejumlah obyek menjadi beberapa klaster. Dasar pengelompokan yang digunakan dalam analisis klaster adalah kesamaan atau jarak ketidaksamaan. Untuk data kualitatif dilakukan analisis dan interpretasi data dengan mengukur realibitas, validasi dan generalisibilitas. Dalam tahap pencampurannya dilakukan metode triangulasi konkuren untuk mendampingkan, menyelaraskan hasil-hasil pengolahan data baik secara kualitatif dan kuantitatif. Jika sudah tidak terdapat perbedaan persepsi dan interpretasi antara hasil pengolahan data kualitatif dan data kuantitatif maka langkah selanjutnya adalah menampilkan secara spasial social quality di Kota Sukabumi. Data kualitatif menjadi informasi pendukung dalam menganalisis kondisi sosio-agraria. Analisis lainnya adalah dengan mengolah data citra satelit untuk memperoleh pola konversi lahan. Hasil dari kedua analisis tersebut dilakukan penyususnan strategi berdasarkan identifikasi social quality dan pola konversi lahan yang terjadi. Alur proses dan analisis yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 3.2.

23

Gambar 3.2 Bagan Alir Penelitian

Analisis dan Interpretasi Data Analisis Data Kuantitatif

Cluster Analysis

Dalam penelitian ini, analisis klaster bertujuan mengelompokan petani berdasarkan faktor-faktor utama yang mempengaruhi tingkat kualitas sosial. Pengelompokan petani menjadi beberapa kelompok didasarkan pada pengukuran variabel-variabel yang diamati, sehingga diperoleh kemiripan karakteristik dalam kelompok yang sama sebagai bahan untuk penyusunan strategi perlindungan lahan.

24

Metode pengelompokan yang digunakan yaitu metode tak berhirarki yang pengelompokannya sudah diketahui sebelumnya dengan metode K-Mean Cluster. Ukuran jarak yang digunakan adalah jarak eucledian (euclidean distance). Persamaan penghitungan jarak eucledian antara dua titik atau dua klaster atau gerombol adalah:

Nilai D merupakan jarak antara titik data/ gerombol X dan Y. Makin kecil nilai D makin besar kemiripan data X dan Y. Pada tahap selanjutnya, dalam teknik penggerombolan, dilakukan amalgamasi antar gerombol sesuai dengan kedekatan jaraknya. Dalam penelitian ini digunakan metode Ward‟s. Penggabungan antara dua klaster atau gerombol data berdasarkan metode Ward‟s dilakukan berdasarkan penghitungan jumlah kuadrat jarak dari kedua klaster hipotetis tersebut. Metode ini sangat efisien, namun demikian, umumnya metode ini cenderung membentuk ukuran gerombol yang kecil.

Untuk penormalan data, perlu dilakukan standarisasi variabel dengan persamaan sebagai berikut:

dimana Xij : nilai data ke-j di kecamatan ke-i, j: nilai rataan dan S:

simpangan baku.

Untuk mengetahui hasil analisis ragam setiap variabel, pada analisis ragam akan diperoleh informasi variabel yang signifikan berdasarkan hasil uji F. Variabel yang signifikan tersebut dapat diketahui dari nilai “p-value”. Jika

nilainya kurang dari 0,05 maka variabel tersebut nyata pada tingkat kepercayaan 95%.

Pemusatan dan Pergeseran Penggunaan Lahan

Pemusatan penggunaan lahan dilakukan dengan menggunakan analisis

Location Quotient (LQ), sedangkan pergeseran penggunaan lahan menggunakan alat analisis Shift Share Analysis (SSA). Kedua metode ini telah digunakan oleh Muiz (2009) dan Yulianty (2012) dengan memanfaatkan data atribut pada peta penggunaan lahan pada dua titik tahun.

Panuju dan Rustiadi (2012) menjelaskan bahwa LQ merupakan metode analisis yang digunakan untuk menunjukkan lokasi pemusatan/basis aktifitas. Dalam konteks penggunaan wilayah, maka analisis LQ dapat menjelaskan wilayah atau kecamatan yang menjadi pusat kegiatan atau pusat penggunaan lahan tertentu. Persamaan Analisis LQ adalah :

Dimana:

Xij : Pemusatan penggunaan lahan ke-j di kecamatan ke-i

25

X.j : total penggunaan lahan ke-j di semua wilayah

X.. : total luas perubahan penggunaan lahan di semua wilayah

Adapun penafsiran hasilnya adalah :

1. Nilai LQij > 1, menunjukkan terjadinya konsentrasi penggunaan lahan di

kecamatan ke-i secara relatif dibandingkan dengan total wilayah.

2. Nilai LQij = 1, kecamatan ke-i tersebut mempunyai penggunaan lahan

yang sama dengan rata-rata total wilayah.

3. Nilai LQij < 1, kecamatan ke-i tersebut mempunyai penggunaan lahan

yang lebih kecil dibandingkan dengan penggunaan lahan yang secara umum di seluruh wilayah.

Sementara itu, menurut Panuju dan Rustiadi (2012) metode SSA yang mendasarkan kepada tiga komponen, yaitu: (1) komponen laju pertumbuhan total (komponen share). (2) komponen pergeseran proporsional (komponen

proportional shift), (3) komponen pergeseran diferensial (komponen differential shift). Ruswandi et al. (2007) menyatakan bahwa dinamika perubahan penggunaan lahan dapat, diketahui melalui analisis Shift Share. Secara umum persamaan Shift-Share Analysis (SSA). Muiz (2009) berpendapat bahwa faktor

share menggambarkan laju perubahan penggunaan lahan rata-rata pada total wilayah (regional share). Faktor shift terdiri dua komponen yaitu proporsional shift yang menggambarkan laju penggunaan lahan tertentu pada total wilayah dan

diffrerential shift yang menggambarkan laju perubahan penggunaan lahan tertentu di suatu subwilayah tetentu secara relatif terhadap laju perubahan jenis penggunaan lahan tertentu pada total wilayah. Secara umum persamaan Shift- Share Analysis (SSA) dapat dituliskan sebagai berikut:

.

A B C

Keterangan :

A : Komponen share

B : Komponen proporsional shift

C : Komponen differential shift X .. : Luas lahan dalam total wilayah

Xi : Luas penggunaan lahan (kebun campuran, kolam lahan terbangun,

lahan terbuka sawah atau sungai) dalam total wilayah

Xij : Luas penggunaan lahan (kebun campuran, kolam lahan terbangun,

lahan terbuka sawah atau sungai ) dalam suatu kecamatan.

t0 : Tahun 2002

t1 : Tahun 2012

i : Jenis penggunaan lahan, yaitu: kebun campuran, kolam lahan terbangun, lahan terbuka sawah dan sungai

j- : kecamatan yang dianalisis, terdiri dari 7 kecamatan

Analisis Perubahan Penggunaan Lahan

Analisis perubahan penggunaan lahan menggunakan peta penggunaan lahan dua titik tahun, yaitu peta penggunaan lahan tahun 2002 dan 2012. Analisis

26

perubahan penggunaan lahan menghasilkan matriks perubahan luas tiap penggunaan lahan yang menunjukan pola tertentu pada penggunaan lahan. Mengidentifikasi faktor pendorong sawah berada dekat dengan jalan, jauh dari jaringan irigasi dan berada pada wilayah dengan kepadatan penduduk yang tinggi, maka sawah tersebut berpeluang terkonversi. Perubahan penggunaan lahan dianalisis dengan mengkombinasikan analisis spasial dan informasi secara deskriptif tentang perubahan penggunaan lahan. Dengan demikian, akan terungkap motif terjadinya perubahan penggunaan lahan baik secara spasial maupun secara sosial.

Analisis Data Kualitatif

Analisis data kualitatif dilakukan sejak peneliti berada di lapangan. Kegiatan yang dilakukan di antaranya melakukan reduksi data atau menelaah kelengkapan data yang dibutuhkan, memilih informasi yang relevan. Merujuk pada pendapat Hidayat (2011) bahwa analisis data kualitatif merupakan penelusuran terhadap pernyataan-pernyataan tentang hubungan antara berbagai kategori data untuk mengkonstruksi suatu fenomena sosial. Analisis data kualitatif merupakan proses mengatur urutan data dan pengorganisasikannya ke dalam suatu pola kategori dan satuan uraian dasar. Pengkategorian data disesuaikan dengan pertanyaan dan tujuan penelitian agar memudahkan seleksi, deskrispsi, interpretasi dan analitis sebagai bahan konseptualisasi, komparasi, narasi dan konstruksi. Dengan demikian, tahapan analisis data dalam penelitian ini sebagaimana pendapat Mathew dan Michael (1992) dalam Hidayat (2011) yang meliputi tiga tahapan: (1) membandingkan kejadian/fenomena yang cocok dengan kategorinya; (2) mengintegrasikan kategori dengan ciri-cirinya; (3) merumuskan dan mengkonstruksi konsep sesuai dengan teori yang relevan. Selanjutnya menyajikan data untuk ditarik sebuah benang merah yang berkaitan dengan data sosio-agraria, konversi lahan dan masukan langkah strategis untuk mempertahankan sawah di Kota Sukabumi.

Penyusunan Strategi Perlindungan Lahan Sawah dengan Pendekatan

Analytical Hierarchy Process (AHP)

Penerapan AHP pada penelitian ini untuk menyusun strategi perlindungan lahan sawah. Susunan level hirarki AHP yang terdiri dari empat aras yaitu tujuan, komponen, kriteria dan alternatif. Tujuan adalah menentukan prioritas langkah strategis perlindungan lahan sawah. Komponen yang digunakan adalah analisis faktor sosio-agraria dan upaya untuk menekan konversi lahan, sedangkan kriteria dan alternatif pilihan strategi merupakan strategi perlindungan lahan yang tertuang dalam peraturan perundang-undangan tentang perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan dan dikombinasikan dengan hasil temuan di lapangan berdasarkan hasil wawancara dengan partisipan/informan. Untuk mendapatkan scoring yang diperlukan, maka dilakukan penyebaran kuesioner dan wawancara dengan berbagai pemangku kepentingan (stakeholder) yang terdiri atas unsur akademisi, unsur dinas pertanian, unsur perencana, dan forum petani kota. Analisis AHP diproses dengan menggunakan program aplikasi Expert Choice 2000. Skala yang digunakan sebagaimana terlihat pada Tabel 3.1.

27

Tabel 3.1 Skala Kepentingan Secara Relatif Analytical Hierarchy Process (AHP)

Skala Makna

1 Sama pentingnya. Dua aktivitas memiliki kontribusi yang sama pada sasaran.

3 Suatu aktivitas memiliki kepentingan yang sedikit lebih kuat dibandingkan aktivitas yang lainnya dalam kerangka pencapaian sasaran.

5 Suatu aktivitas memiliki kepentingan yang lebih kuat dibandingkan aktivitas yang lainnya dalam kerangka pencapaian sasaran.

7 Suatu aktivitas memiliki kepentingan yang sangat lebih kuat dibandingkan aktivitas yang lainnya dalam kerangka pencapaian sasaran.

9 Suatu aktivitas memiliki kepentingan yang dominan dibandingkan aktivitas yang lainnya dalam kerangka pencapaian sasaran.

2,4,6,8 Nilai-nilai yang berada di antara nilai-nilai yang telah disebutkan sebelumnya.

Sumber : Saaty (1980) dalam Hartati dan Nugroho (2012)

Dokumen terkait