Wilayah Kota Sukabumi terletak pada bagian selatan tengah Jawa Barat pada titik koordinat 6⁰53 32.69 LS - 6⁰58 44.32 LS dan 106⁰52 12.23 BT - 106⁰57 36.32 BT, terletak di selatan kaki Gunung Gede Pangrango dengan ketinggian pada 344 - 657 meter di atas permukaan laut.
Kota Sukabumi dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai
Burgerlijk Bestuur pada tahun 1914 dengan status Gemeenteraad Van Sukabumi
dengan tujuan untuk memberikan pelayanan kepada orang Belanda dan Eropa sebagai pengelola perkebunan di wilayah Kabupaten Sukabumi. Sejak ditetapkannya Sukabumi menjadi daerah otonom pada bulan Mei 1926 maka
resmi diangkat “Burgemeester” sebagai walikota pertama yang bernama Mr. GF.
Rambonnet. Pada masa inilah Sukabumi mulai berkembang. Infrastruktur perkotaan mulai dibangun antara lain stasiun kereta api, mesjid agung, gereja, jaringan telepon dan pembangkit listrik. Gemeenteraad Van Sukabumi pada masa pemerintahan Hindia Belanda dipimpin oleh 4 orang Belanda yaitu Mr. GF. Rambonnet, Mr. W M Ouwekerk, Mr. A L A Van Unen dan Mr. W J Ph Van Waning. Pasca kemerdekaan tahun 1945, Kota Sukabumi dipimpin oleh walikota pertama dari orang Indonesia bernama Mr. Syamsudin. Pascakemerdekaan Republik Indonesia, Kota Sukabumi termasuk daerah swatantra dengan kategori kota kecil yang berubah menjadi Kotapraja Sukabumi. Seiring dengan perkembangan peraturan perundang-undangan tentang pemerintahan daerah, Kotapraja Sukabumi menjadi Kotamadya Sukabumi, selanjutnya menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Sukabumi dengan luas wilayah 1,215 ha yang terdiri dari 2 (dua) kecamatan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 1995 tentang Perubahan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Sukabumi dan Kabupaten Daerah Tingkat II Sukabumi, Kota Sukabumi mendapatkan perluasan 18 desa dan saat ini telah berubah menjadi kelurahan. Namun demikian, ciri pedesaan masih melekat, tidak kurang dari 69.66% dari luas sawah di Kota Sukabumi berada pada kawasan ini
28
Administrasi
Secara administratif, Kota Sukabumi terdiri dari 7 kecamatan, yaitu Kecamatan Cikole, Cibeureum, Citamiang, Lembursitu, Warudoyong, Baros dan Gunungpuyuh yang terdiri dari 33 kelurahan dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:
a. sebelah utara dengan Kecamatan Sukabumi Kabupaten Sukabumi. b. sebelah selatan dengan Kecamatan Nyalindung Kabupaten Sukabumi. c. sebelah barat dengan Kecamatan Cisaat dan Kecamatan Gunungguruh
Kabupaten Sukabumi.
d. sebelah timur dengan Kecamatan Sukaraja dan Kecamatan Cireunghas Kabupaten Sukabumi.
29
Dengan luas wilayah lebih kurang 4.846,993 ha, Kota Sukabumi memiliki jarak terjauh dari utara ke selatan lebih kurang 7,5 km dan dari barat ke timur lebih kurang 6 km. Rincian luas wilayah per-kelurahan sebagaimana tertera pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Luas Wilayah Kelurahan dan Kecamatan
Kecamatan Kelurahan Luas Wilayah (ha) Persentase (%)
Gunungpuyuh 514,479 10.61 1. Gunungpuyuh 76,208 1.57 2. Karamat 144,080 2.97 3. Sriwidari 78,216 1.61 4. Karangtengah 215,975 4.46 Cikole 624,528 12.88 1. Cikole 81,086 1.67 2. Selabatu 116,362 2.40 3. Kebonjati 46,926 0.97 4. Gunungparang 45,301 0.93 5. Cisarua 148,627 3.07 6. Subangjaya 186,226 3.84 Citamiang 400,739 8.27 1. Citamiang 77,207 1.59 2. Tipar 40,569 0.84 3. Nanggeleng 104,549 2.16 4. Gedongpanjang 113,328 2.34 5. Cikondang 65,087 1.34 Warudoyong 757,486 15.63 1. Warudoyong 45,640 0.94 2. Nyomplong 59,868 1.24 3. Dayeuhluhur 247,849 5.11 4. Sukakarya 282,322 5.82 5. Benteng 121,807 2.51 Baros 559,158 11.54 1. Baros 185,109 3.82 2. Jayaraksa 138,627 2.86 3. Jayamekar 127,554 2.63 4. Sudajayahilir 107,867 2.23 Lembursitu 1.076,196 22.20 1. Cipanengah 149,835 3.09 2. Situmekar 187,880 3.88 3. Lembursitu 380,918 7.86 4. Cikundul 233,738 4.82 5. Sindangsari 123,825 2.55 Cibeureum 914,407 18.87 1. Cibeureumhilir 249,332 5.14 2. Babakan 229,870 4.74 3. Sindangpalay 174,786 3.61 4. Limusnunggal 260,420 5.37 Kota Sukabumi 4.846,993 100
30
Kependudukan
Berdasarkan data jumlah penduduk dalam Kota Sukabumi dalam Angka Tahun 2013, jumlah penduduk Kota Sukabumi tercatat sebanyak 342,086 jiwa yang terdiri dari 173,112 penduduk laki-laki (50.60%) dan 168,974 penduduk perempuan (49.40%). (Tabel 4.2).
Tabel 4.2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun 2012 Kecamatan Laki-laki Perempuan Jumlah Kepadatan Penduduk per Ha Jumlah % Jumlah % Kecamatan Baros 17,923 50.70 17,428 49.30 35,351 63.22 Kecamatan Cibeureum 20,642 50.99 19,840 49.01 40,482 44.27 Kecamatan Cikole 32,382 49.91 32,500 50.09 64,882 103.89 Kecamatan Citamiang 27,199 50.42 26,743 49.58 53,942 134.61 Kecamatan Gunungpuyuh 24,483 50.86 23,659 49.14 48,142 93.57 Kecamatan Lembursitu 18,950 50.18 18,816 49.82 37,766 35.09 Kecamatan Warudoyong 31,533 51.26 29,988 48.74 61,521 81.22 Kota Sukabumi 173,112 50.60 168,974 49.40 342,086 70.58
Sumber: BPS Kota Sukabumi, (2013) (diolah)
Berdasarkan jumlah penduduk Kota Sukabumi pada tahun 2012 sejumlah 342,086 jiwa, rata-rata kepadatan penduduk di Kota Sukabumi mencapai 70.58 jiwa per ha. Kecamatan yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi adalah Kecamatan Citamiang dengan kepadatan penduduk 134.61 jiwa/ha. hal ini terjadi karena luas wilayah Kecamatan Citamiang paling kecil (400,739 ha) namun menjadi salah satu pusat pengembangan perkotaan yang cukup tinggi. Kecamatan yang memiliki kepadatan penduduk terendah adalah Kecamatan Lembursitu dengan kepadatan penduduk 35.09 jiwa/ha. Secara fisik, Kecamatan Lembursitu merupakan kecamatan yang masih memiliki hamparan lahan pertanian yang paling luas dengan jumlah penduduk yang paling kecil.
Ketenagakerjaan
Pertumbuhan suatu wilayah tidak akan terlepas dari aktivitas sumber daya manusia. Ketenagakerjaan yang menjadi salah satu faktor klasifikasi sosial di masyarakat akan mencerminkan kondisi dan tipologi komunitas masyarakat yang terbentuk. Kota Sukabumi berbatasan seluruh wilayahnya dengan Kabupaten Sukabumi sehingga Kota Sukabumi menjadi pusat (nodal) untuk wilayah Kabupaten Sukabumi (hinterland). Oleh karena itu, aktivitas di Kota Sukabumi lebih terfokus pada kegiatan perdagangan dan jasa dan menjadi pusat permukiman karena dekatnya dengan akses pelayanan publik lainnya.
Sesuai dengan ketetapan International Labour Organization (ILO), BPS mendefinisikan ketenagakerjaan berdasarkan the Labour Force Concept
mengklasifikasikan penduduk dari aspek ketenakerjaan menjadi penduduk usia kerja dan bukan usia kerja. Penduduk usia kerja adalah penduduk yang berumur 15 tahun ke atas yang terdiri atas penduduk usia kerja Angkatan Kerja dan usia kerja Bukan Angkatan Kerja.
Penduduk angkatan kerja yang berusia 15 tahun ke atas yang bekerja pada tahun 2012 mencapai 56.08 persen dengan penduduk yang bekerja 49.56
31
persen dan penduduk yang punya pekerjaan namun sementara tidak bekerja dan pengangguran atau penduduk yang sedang mempersiapkan usaha ataupun sedang mencari pekerjaan mencapai 6.52 persen. Sementara itu, penduduk yang bukan angkatan kerja, yaitu mereka yang berumur 15 tahun ke atas yang masih sekolah, mengurus rumah tangga atau melaksanakan kegiatan lainnya mencapai 43.92 persen. Proporsi penduduk yang berada pada kalsifikasi ini terdiri atas penduduk yang masih sekolah mencapai 10.89 persen, Mengurus rumah tangga mencapai 25.47 persen dan lainnya yang mencapai 7.56 persen. kondisi ketenagakerjaan di Kota Sukabumi dapat dilihat pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3 Persentase Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas menurut Kegiatan Utama dan Jenis Kelamin di Kota Sukabumi tahun 2012
Kegiatan Laki-laki (%) Perempuan (%) Laki-laki + Perempuan (%) Angkatan Kerja 75.93 35.64 56.08 Bekerja 67.75 30.82 49.56 Tidak bekerja 8.18 4.82 6.52
Bukan Angkatan Kerja 24.07 64.36 43.92
Sekolah 12.7 9.02 10.89
Mengurus RumahTangga 0.61 51.07 25.47
Lain-lain 10.76 4.27 7.56
Jumlah 100 100 100
Sumber: Bappeda dan BPS Kota Sukabumi, (2012)
Berdasarkan Tabel 4.3 dapat diperoleh informasi bahwa proporsi angkatan kerja di Kota Sukabumi pada tahun 2012 jika dilihat menurut gender, terdapat 75.94 persen dari total penduduk laki-laki termasuk angkatan kerja, sedangkan penduduk yang berjenis kelamin perempuan hanya sekitar 35.64 persen yang termasuk dalam kategori angkatan kerja. Sebaliknya, proporsi penduduk perempuan yang tergolong bukan angkatan kerja hampir tiga kali lipat penduduk laki-laki.
Penduduk yang berstatus angkatan kerja sendiri dibedakan menjadi mereka yang bekerja dan yang tidak bekerja. Sebanyak 49,56 persen dari total penduduk berstatus bekerja. Sementara itu, jika ditinjau berdasarkan jenis kelamin, sekitar 67.75 persen dari total penduduk laki-laki memiliki status bekerja sedangkan yang tidak bekerja sebanyak 8.18 persen. Untuk penduduk perempuan yang tergolong dalam kategori bekerja sebanyak 30.82 persen dan yang tidak bekerja sebesar 4.82 persen.
Penduduk Usia 15 tahun ke atas untuk kategori bukan angkatan kerja didominasi oleh penduduk berjenis kelamin perempuan yang mencapai 64.36 persen dengan proporsi terbesar 51.07 persen beraktivitas mengurus rumah tangga. Besarnya perbedaan proporsi angkatan kerja antara laki-laki dan perempuan, dengan banyaknya perempuan yang beraktivitas untuk mengurus rumah tangga setelah menikah sehingga mereka tidak termasuk angkatan kerja di usia produktifnya. Untuk penduduk bukan angkatan kerja yang berstatus sekolah, proporsi penduduk laki-laki sebesar 12.70 persen dan penduduk perempuan hanya mencapai 9.02 persen.
Meninjau lebih jauh tentang bukan angkatan kerja, sebanyak 10.76 persen penduduk laki-laki beraktivitas lain-lain sedangkan proporsi penduduk
32
perempuan yang berada dalam kategori ini adalah sebesar 4.27 persen. Berdasarkan penjelasan BPS bahwa penduduk yang berstatus lain-lain adalah penduduk usia 15 tahun ke atas yang tidak sedang mempunyai pekerjaan atau sudah mempunyai pekerjaan tetapi belum mulai bekerja, tidak sedang mempersiapkan usaha, tidak sedang mencari pekerjaan, tidak bersekolah serta tidak mengurus rumah tangga serta juga termasuk penduduk yang sudah tidak mampu melakukan pekerjaan. Berdasarkan Tabel 4.3 menunjukan bahwa di Kota Sukabumi keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi akan memberikan kontribusi dalam pembangunan perekonomian.
Tabel 4.4 Persentase Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama di Kota Sukabumi Tahun 2012
Lapangan Usaha Laki-laki
(%)
Perempuan (%)
Laki-laki + Perempuan (%)
1. Pertanian, Kehutanan, Perburuan 3.87 4.20 3.97 2. Industri Pengolahan 9.42 17.22 11.81 3. Perdagangan, Hotel dan
Restoran
34.19 44.84 37.45
4. Jasa-jasa 20.44 25.63 22.03
5. Lainnya 32.08 8.11 24.74
Jumlah 100 100 100
Sumber: Bappeda dan BPS Kota Sukabumi, (2012)
Berdasarkan Tabel 4.4 bahwa komposisi penduduk yang bekerja pada tahun 2012 menurut lapangan usaha pada sektor perdagangan, hotel dan restoran masih menjadi pilihan penduduk terbanyak dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 37.45 persen. Sementara itu, untuk sektor pertanian hanya mencapai 3.97 persen. Hal ini menandakan tren pekerjaan pada sektor pertanian di Kota Sukabumi cenderung menurun. Disorientasi pekerjaan pada sektor pertanian ke sektor nonpertanian merupakan fenomena peralihan desa-kota. Penduduk cenderung meninggalkan pertanian untuk bekerja pada sektor nonpertanian. Selain itu, orientasi kebijakan pemerintah daerah yang cenderung pada sektor jasa dan perdagangan menjadi turunnya minat penduduk dalam bekerja di sektor pertanian.
Tabel 4.5 Jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian menurut Kecamatan tahun 2003 dan 2013
Kecamatan 2003 2013 Pertumbuhan Absolut % Baros 1945 913 -1032 -53.06 Lembursitu 2450 1723 -727 -29.67 Cibeureum 1776 1199 -577 -32.49 Citamiang 855 323 -532 -62.22 Warudoyong 1890 690 -1200 -63.49 Gunungpuyuh 1200 383 -817 -68.08 Cikole 785 370 -415 -52.87 J u m l a h 10,901.00 5,601.00 -5,300.00 -48.62 Sumber: BPS Kota Sukabumi, (2014)
33
Tabel 4.5 merupakan hasil Sensus Pertanian tahun 2013 yang menunjukkan bahwa rumah tangga usaha pertanian di Kota Sukabumi Tahun 2013 tercatat sebanyak 5,601 rumah tangga yang mengalami penurunan sebesar 48.62 persen dari tahun 2003 yang tercatat sebanyak 10,901 rumah tangga. Kecamatan Lembursitu tercatat sebagai kecamatan dengan jumlah rumah tangga usaha pertanian terbanyak di tahun 2013, yaitu sebanyak 1,723 rumah tangga. Penurunan jumlah rumah tangga usaha pertanian terbesar terjadi di Kecamatan Gunungpuyuh, dengan penurunan jumlah rumah tangga usaha pertanian sebesar 68.08 persen.
Tabel 4.6 Jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Petani Utama
Kelompok Umur Petani Utama
Laki-laki Perempuan Jumlah
Absolut % Absolut % Absolut %
<15 1 0.02 2 0.41 3 0.05 15-24 16 0.31 0 0.00 16 0.29 25-34 200 3.91 4 0.81 204 3.64 35-44 755 14.78 34 6.91 789 14.09 45-54 1422 27.83 118 23.98 1540 27.50 55-64 1496 29.28 163 33.13 1659 29.62 ≥65 1219 23.86 171 34.76 1390 24.82 J u m l a h 5,109 91 492 9 5601 100.00 Sumber: BPS Kota Sukabumi, (2014)
Tabel 4.6 menunjukan bahwa dari 5,601 rumah tangga usaha pertanian, sebanyak 5,109 rumah tangga usaha pertanian memiliki petani utama berjenis kelamin laki-laki dan 492 rumah tangga memiliki petani utama berjenis kelamin perempuan. Kecenderungan bahwa petani utama laki-laki lebih tinggi jumlahnya jika dibandingkan dengan petani utama perempuan terjadi pada hampir semua kelompok umur kecuali pada kelompok umur kurang dari 15 tahun dengan petani utama laki-laki tercatat hanya 1 rumah tangga, sedangkan petani utama perempuan sebanyak 2 rumah tangga.
Apabila dirinci menurut kelompok umur petani utama, kelompok usia produktif (15–64 tahun) mendominasi jumlah rumah tangga usaha pertanian sebanyak 4,208 rumah tangga usaha pertanian. Jumlah rumah tangga usaha pertanian dengan kelompok umur petani utama kurang dari 15 tahun hanya sebanyak 3 rumah tangga, sedangkan jumlah rumah tangga usaha pertanian dengan kelompok umur petani utama di atas 64 tahun tercatat sebanyak 1.390 rumah tangga.
Perekonomian
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menggambarkan kemampuan suatu daerah dalam mengelola sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimilikinya. PDRB atas dasar harga berlaku di Kota Sukabumi pada tahun 2012 mencapai Rp 6,66 triliun mengalami pertumbuhan 12,45 persen dibanding tahun 2011 yang sebesar Rp 5,92 triliun. Nilai pertumbuhan yang dikandung oleh PDRB atas dasar harga berlaku masih dipengaruhi oleh faktor kenaikan harga selain peningkatan produksi. Sementara untuk PDRB atas dasar harga konstan (tahun dasar 2000) di Kota Sukabumi tahun 2012 mengalami pertumbuhan sebesar 5,29
34
persen, dari Rp 2,04 triliun di tahun 2011 menjadi Rp 2,15 triliun di tahun ini. Pertumbuhan ekonomi di Kota Sukabumi bergerak positif dalam kurun waktu 2010- 2012 atau dalam kata lain terjadi peningkatan perekonomian di Kota Sukabumi padaperiode tersebut. LPE tahun 2010-2011 berada di kisaran angka enam persen, namun di tahun 2012 sedikit melambat menjadi 5.29 persen. Kondisi perekonomian global yang mengalami kelesuan memberikan dampak yang cukup berarti pada LPE Kota Sukabumi tahun 2012. (Bappeda dan BPS Kota Sukabumi, 2012).
Pada periode tiga tahun terakhir sebagaimana tertera pada Tabel 4.7 bahwa gini ratio di Kota Sukabumi cenderung semakin meningkat. Pada tahun 2010 angka gini ratio sebesar 0.338 dan kemudian naik menjadi 0.341 pada tahun 2011. Sementara itu, pada tahun 2012 angka gini ratio sudah berada pada posisi 0.396. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat ketimpangan pendapatan di Kota Sukabumi meningkat dibanding tahun sebelumnya, sehingga termasuk pada kategori sedang. Adanya fenomena pola pendapatan masyarakat yang semakin timpang tersebut harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah. Peningkatan ekonomi Kota Sukabumi yang diiringi dengan semakin timpangnya pola pendapatan, mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang terjadi hanya dinikmati oleh sebagian penduduk Kota Sukabumi. Seyogyanya pembangunan yang dilakukan haruslah menyentuh seluruh lapisan masyarakat sehingga terjadi pertumbuhan ekonomi yang nyata. (Bappeda dan BPS Kota Sukabumi, 2012).
Pembangunan ekonomi sering dikaitkan dengan peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Salah satu indikator makro ekonomi yang digunakan untuk melihat keberhasilan suatu pembangunan ekonomi adalah Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE). LPE menggambarkan tingkat pertumbuhan ekonomi suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu, sehingga kinerja pelaksanaan pembangunan dapat dievaluasi serta menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan arah pembangunan di masa yang akan datang. (Bappeda dan BPS Kota Sukabumi, 2012).
Tabel 4.7 Laju Pertumbuhan Ekonomi Atas Konstan (2000) dan Gini Ratio Penduduk Kota Sukabumi Tahun 2010 – 2012
Indikator Tahun
2010 2011 2012
LPE Atas Harga Konstan 6.11 6.31*) 5.29**) Gini Ratio 0.338 0.341 0.396 *) Angka Sementara **) Angka Sangat Sementara
Sumber: Bappeda dan BPS Kota Sukabumi, (2012) Karakteristik Fisik Sumberdaya Lahan
Wilayah Kota Sukabumi berada di selatan kaki Gunung Gede Pangrango, yang berada pada ketinggian 344-657 meter di atas permukaan laut. Kota Sukabumi dominan berada pada ketinggian 500 – 600 mdpl seluas 2067.01 ha atau 42.63 persen dari luas wilayah Kota Sukabumi. Bentang alam Kota Sukabumi berupa perbukitan bergelombang dengan sudut lereng beragam. Wilayah Kota Sukabumi didominasi oleh kemiringan lereng 0-3% dengan luas
35
mencapai 3,718,84 ha atau sekitar 76.70 persen dari luas kota dan kemiringan lereng 3-8% mencapai 1,012.48 ha atau sekitar 20.88 persen dari luas kota. Selanjutnya, sekitar 2.10 persen dari luas Kota Sukabumi yang memiliki kelas lereng 8-15 persen, sedangkan sisanya yang memiliki kemiringan lereng lebih dari 15% hanya sekitar 0.32 persen dari luas wilayah Kota Sukabumi.
(a) (b)
(c)
Sumber: DPPKP dan PSP3 IPB, (2013)
Gambar 4.2 Peta Sumberdaya Lahan di Kota Sukabumi (a) Peta Topografi (b) Peta Kemiringan Lereng, dan (c) Peta Tanah
36
Berdasarkan sebaran spasial kelas lereng ini perlu menjadi perhatian bahwa kelas lereng 0 – 3% sebagian besar masih merupakan wilayah persawahan, dengan demikian akan sangat besar kemungkinan akan terjadi konversi lahan sawah pada kelas lereng ini. Jenis tanah di wilayah Kota Sukabumi terdiri dari beberapa jenis. Berdasarkan hasil kajian PSP3 LPPM IPB terdapat 21.33 persen jenis tanah Typic Dystrudepts, Typic Epiaquepts yang sangat cocok untuk lahan sawah. Sebesar 67.13 persen merupakan jenis Typic Hapludands, Typic Dystrudepts, Typic Hapludults, 6.55 persen merupakan jenis tanah Typic Dystrudepts, Typic Hapludults, Typic Epiaquepts dan 4.63 persen merupakan jenis tanah Typic Endoaquepts, Aquic Eutrudepts, Typic Udorthents. (DPPKP dan PSP3 IPB, 2013)
Kondisi Iklim
Kota Sukabumi terletak di kaki Gunung Gede sebelah selatan dengan suhu udara yang relatif sejuk berkisar antara 15° – 30° Celcius. Sepanjang tahun 2012 keadaan iklim di Kota Sukabumi cenderung basah. Berdasarkan hasil pemantauan dari empat stasiun pemantau, tiga diantaranya yakni Stasiun Cimandiri, Ciaul dan Cisalada mencatat bahwa setiap bulan di Kota Sukabumi terjadi hujan dengan intensitas tertentu. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember di Stasiun Cisalada yakni sebanyak 663 mm3 dengan jumlah hari hujan 25 hari. Sedangkan berdasarkan pemantauan pada Stasiun Situmekar, tercatat bahwa bulan Juni dan Juli tidak terjadi hujan (BPS Kota Sukabumi, 2012).
Sumber: BPS Kota Sukabumi, (2013)
Gambar 4.3 Jumlah Hari Hujan dan Curah Hujan per bulan di Kota Sukabumi Berdasarkan Pemantauan di Stasiun Cimandiri tahun 2012
Rencana Tata Ruang Wilayah
Perencanaan tata ruang merupakan suatu proses untuk menentukan struktur ruang dan pola ruang yang meliputi penyusunan dan penetapan rencana tata ruang. Dalam konteks perencanaan tata ruang Kota Sukabumi maka ditetapkan Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Sukabumi Tahun 2011 - 2031. Rencana Tata Ruang Wilayah Kota (RTRWK) menjadi arahan kebijakan dan strategi pemanfaatan ruang wilayah Kota Sukabumi. RTRWK bertujuan untuk mewujudkan Wilayah Kota sebagai pusat pelayanan bidang pendidikan, kesehatan, dan perdagangan yang aman,
37
nyaman, dan berkelanjutan pada wilayah pengembangan perkotaan. Dengan demikian, disusun sebuah kebijakan penataan ruang dilakukan melalui :
a. kebijakan dan strategi pengembangan Struktur Ruang; b. kebijakan dan strategi pengembangan Pola Ruang; dan c. kebijakan dan strategi pengembangan Kawasan Strategis.
RTRWK diturunkan dalam bentuk Rencana Pembagian Sub Wilayah Kota (SWK) yang terdiri atas :
a. SWK I dengan luas kurang lebih 626 ha yang mencakup sebagian Kelurahan Gunungparang, Kelurahan Selabatu, Kelurahan Gunungpuyuh, Kelurahan Karamat, sebagian Kelurahan Karangtengah, dan Kelurahan Sriwedari.
b. SWK II dengan luas kurang lebih 411 ha yang mencakup Kelurahan Cikole, sebagian Kelurahan Cisarua, sebagian Kelurahan Gunungparang, sebagian Kelurahan Kebonjati, dan sebagian Kelurahan Subangjaya. a. SWK III dengan luas kurang lebih 988 ha yang mencakup sebagian
Kelurahan Sindangsari, sebagian Kelurahan Jayamekar, sebagian Kelurahan Jayaraksa, sebagian Kelurahan Sudajayahilir, sebagian Kelurahan Babakan, sebagian Kelurahan Limusnunggal, sebagian Kelurahan Cibeureumhilir, sebagian Kelurahan Cisarua, sebagian Kelurahan Gunungparang, sebagian Kelurahan Subangjaya, sebagian Kelurahan Kebonjati, Kelurahan Cikondang, Kelurahan Citamiang, Kelurahan Gedong Panjang, Kelurahan Nanggeleng, dan Kelurahan Tipar. c. SWK IV dengan luas kurang lebih 755 ha yang mencakup sebagian
Kelurahan Karangtengah, sebagian Kelurahan Cipanengah, Kelurahan Dayeuhluhur, Kelurahan Nyomplong, Kelurahan Sukakarya, Kelurahan Warudoyong, dan Kelurahan Benteng.
d. SWK V dengan luas kurang lebih 623 ha yang mencakup sebagian Kelurahan Baros, sebagian Kelurahan Babakan, sebagian Kelurahan Cibeureumhilir, sebagian Kelurahan Limusnunggal, dan Kelurahan Sindangpalay.
e. SWK VI dengan luas kurang lebih 738 ha yang mencakup sebagian Kelurahan Baros, sebagian Kelurahan Jayamekar, sebagian Kelurahan Jayaraksa, sebagian Kelurahan Sudajayahilir, Kelurahan Cikundul, sebagian Kelurahan Cipanengah, dan sebagian Kelurahan Sindangsari. b. SWK VII dengan luas kurang lebih 656 ha yang mencakup sebagian
Kelurahan Cipanengah, Kelurahan Situmekar, dan Kelurahan Lembursitu. Rencana pengembangan fungsi utama pada masing-masing SWK, meliputi:
a. Perdagangan dan jasa di SWK I, II, III, IV dan VI. b. Pelayanan kesehatan skala regional di SWK II. c. Pendidikan kepolisian di SWK I.
d. Transportasi darat di SWK III. e. Industri di SWK IV.
f. Pendidikan tinggi di SWK V.
g. Perkantoran pemerintahan di SWK V.
38
(a)
(b)
Gambar 4.4 Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Sukabumi Tahun 2011 – 2031 (a) Peta Pola Ruang dan (b) Peta Struktur Ruang
Arahan RTRWK untuk kawasan pertanian tanaman pangan meliputi pengembangan kawasan pertanian tanaman pangan seluas kurang lebih 321 ha yang berada di Kecamatan Baros, Kecamatan Lembursitu, dan Kecamatan
39
Cibeureum yang selanjutnya akan ditetapkan menjadi lahan pertanian pangan berkelanjutan. Selain itu, diprioritaskan peningkatan rice proccesing complex di Kecamatan Cibeureum serta dilakukan pengembangan balai benih padi di Kecamatan Warudoyong. Dengan demikian, lahan potensial yang cenderung tetap bisa dipertahankan menjadi lahan pertanian berada di Kecamatan Lembursitu, Baros, Cibeureum dan Warudoyong.
Rencana pengembangan kawasan peruntukan pertanian tanaman pangan dilakukan melalui:
a. kawasan pertanian tanaman pangan diarahkan untuk budi daya tanaman pangan;
b. peningkatan sistem irigasi non teknis;
c. pengupayaan sumber air bagi lahan sawah yang rawan kekeringan pada saat kemarau melalui peningkatan saluran irigasi non teknis; dan
d. luas lahan pertanian pangan berkelanjutan penyediaannya menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah yang akan dilaksanakan secara bertahap per tahun sesuai prioritas.
Untuk mempertahankan lahan pertanian, RTRWK menetapkan peraturan zonasi meliputi:
a. Diarahkan untuk budi daya tanaman pangan.
b. Dilarang aktivitas budi daya yang mengurangi luas kawasan sawah irigasi. c. Dilarang aktivitas budi daya yang mengurangi atau merusak fungsi lahan
dan kualitas tanah.
d. Diizinkan aktivitas pendukung pertanian.
e. Diizinkan pemanfaatan ruang untuk permukiman petani. f. Diizinkan untuk budi daya peternakan dan perikanan. g. Dilarang mendirikan bangunan pada kawasan sawah irigasi.